Mental load ibu rumah tangga
Mental load ibu rumah tangga

One day in your life, para suami. Mungkin kalian pernah menjumpai hal ini yang mengindikasikan istri kalian sedang mengalami mental load. Dia sebenarnya lagi capek, tapi gak kelihatan capek sama sekali. 

Bisa jadi, istrimu lagi masak sambil cuci piring di rumah, tiba-tiba lampu galon sudah oranye. Trus, istrimu minta tolong kamu nih yang kebetulan lagi agak santai.

“Pa, tolong gantiin galon ya.”

Kamu ngejawab sih, “Iya, ntar.”

Nah, masalahnya, “ntar” para suami itu bisa jadi setengah jam lagi, bisa jadi dua jam lagi, atau bisa jadi suami lupa. Biasanya sih, istri yang kayak gini langsung otomatis ganti galon sendiri.

Relate gak sih?

Atau pernah juga, istrimu minta tolong masukin motor yang kebetulan parkir di luar pagar rumah. Minta tolongnya pagi, tapi kamu mungkin mikir masukinnya siang aja. 

Suami mikirnya, bisa saja nanti butuh motor dadakan ke mana… gitu kan. Jadi, gak perlu repot lagi ngeluarin motor dari dalam pagar.

Cuma kan istri mikirnya, “Maling kan gak kenal waktu. Mau pagi, siang, malam. Kalau ada kesempatan, ya mereka sikat.”

Akhirnya apa? Istri langsung ambil kunci motor dan masukin motor sendiri. 

Udah gitu, setelah istri inisiatif sendiri ganti galon dan masukin motor ke dalam pagar, suami malah nyeletuk, “Kok dikerjain sih? Kan aku udah bilang, ‘iya’. Artinya ya pasti aku kerjain.”

Bonusnya, suami bilang istrinya ini “gak sabaran” banget. Wkwkwk.

Beda cerita kalau mau jalan-jalan. Pastinya yang repot kan pasti istri. Suami mah tinggal mandi, trus ngeluarin mobil, langsung nyupir. Nah, istri?

Ngisi tumbler, nyiapin baju anak, belum lagi nyiapin barang bawaan, periksa dompet, charger, tisu basah, obat kalau sewaktu-waktu anak pusing, kantong plastik kalau ada yang muntah.

Istri juga memastikan pintu rumah sudah terkunci, kompor sudah mati, setrika sudah dicabut, lalu tak kalah penting adalah ya dia juga mau dandan dikit kali. Biar rapi. Biar gak dikira suami dan anak-anak jalan sama pembantu.

Perlakuan suami gimana?

Malah bilang, “Istri ribet.” Gantian, malah istri dibilang “kelamaan.” Dia hitungan menit udah ready. 

Ya iyalah, Bambang. Lo gak ngapa-ngapain. Wkwkwk.

Mental Load Para Istri

Kondisi semacam ini ternyata ada istilahnya. Namanya mental load, atau kalau mau diterjemahkan secara lebih akademis, ada yang menyebutnya cognitive labor, kerja kognitif dalam rumah tangga.

Ini adalah pekerjaan mengingat, mengantisipasi, memantau, merencanakan, memutuskan, dan memastikan semuanya berjalan. Nah. Ini yang sering bikin ribut.

Soalnya, pekerjaan fisik kan pasti kelihatan. Pekerjaan di kepala? Tidak.

Misalnya begini. Galon memang cuma perlu diangkat. Secara fisik, ya tinggal angkat, kelar. Akan tetapi, sebelum sampai ke tahap “angkat galon,” ada serangkaian proses yang mungkin terjadi di kepala seorang istri.

Air tinggal segini, kayaknya dua gelas lagi isinya habis. Kalau habis pas anak-anak sarapan gimana? Galon cadangan masih ada gak? Kalau kosong, siapa yang beli? Anak-anak lagi mandi, sebentar lagi mereka minta makan, wah berarti harus ganti galon sekarang. 

Dan akhirnya keluarlah kalimat, “Pa, tolong gantiin galon ya.”

Sementara suami mendengar kalimat itu sebagai pekerjaan sepele, cuma ganti galon. Padahal buat istri, itu mungkin adalah ujung dari rangkaian proses berpikir yang sudah berlangsung sejak beberapa waktu sebelumnya.

Penelitian tentang kerja rumah tangga memang menemukan bahwa pekerjaan domestik punya dimensi kognitif yang sering luput dihitung.

Salah satu penelitian yang cukup sering dirujuk adalah penelitian sosiolog Allison Daminger yang mewawancarai 35 pasangan untuk melihat sisi “tak kelihatan” dari pekerjaan rumah tangga. 

Ia menemukan bahwa kerja rumah tangga bukan hanya pekerjaan fisik, tetapi juga mencakup mengantisipasi kebutuhan, mencari pilihan, mengambil keputusan, dan memantau apakah pekerjaan tersebut benar-benar selesai.

Nah, bagian “memantau apakah pekerjaan benar-benar selesai” ini menarik banget. Sebab di sinilah cerita “iya, ntar” tadi mulai masuk akal.

Suami bilang, “iya” sebab dalam kepala mereka “tugas diterima.” Beda ceruta dalam kepala istri, “tugas belum selesai.” Wkwkwk.

Ada dua sistem operasi yang berbeda. Suami menganggap “iya” sebagai komitmen. Istri menganggap “iya” sebagai pekerjaan yang sekarang harus dimasukkan ke daftar tunggu. Nah, masalahnya, daftar tunggu itu gak kelihatan.

Jadi ketika 15 menit kemudian istri melihat galon masih di tempatnya, otaknya menangkap bahwa “tugas ini belum selesai.” Sementara suami mungkin sama sekali tidak sedang memikirkan galon. Dia sedang scrolling, nonton pertandingan, atau lagi balas WhatsApp temannya, atau bisa jadi emang sedang mikirin kerjaan kantor.

Otak manusia tidak suka pekerjaan yang belum selesai. Makanya ada sensasi aneh ketika kita udah masukin cucian ke mesin cuci, tapi belum menjemurnya. Kita udah masak, tapi dapur belum dibereskan. Kita udah belanja ke supermarket, tapi bahan makanan belum disusun ke dalam kulkas.

Secara fisik, kita mungkin sedang duduk, tapi otak belum benar-benar duduk. Ini yang menurutku sering tidak disadari suami terhadap istri mereka.

Perempuan bisa saja sedang rebahan sambil main HP, tetapi di kepalanya tetap ada semacam dashboard kecil yang membahas, misalnya besok anak olahraga, seragam belum dicuci, tumbler belum dicuci, beras tinggal sedikit, sabun cuci hampir habis, tagihan listrik tanggal sekian, ada undangan ulang tahun anak teman minggu depan.

Makanya, setiap suami mencari barang di rumah, entah itu kunci mobil atau kunci motornya, kemeja birunya, jaket hitamnya, itu istrinya pasti tahu. Ya karena istri ini sudah mengingat, memeriksa, memastikan semua jauh sebelum suaminya bertanya.

Itulah kenapa mental load istri sungguh melelahkan dibandingkan seberapa banyak pun jumlah pekerjaan fisik mereka.

Ibaratnya, istri itu asisten, suami itu bos. Namanya bos, kalau gak ada asisten, bisa apa dia? HAHAHA.

Bos tinggal mikir, kemudian kasih perintah. Nah, asisten? Dia yang bikin daftar tugas si bos, mengingatkan deadline, mengecek hasilnya, dan follow-up pekerjaannya.

Makanya dalam rumah tangga, pembagian tugas sebenarnya tidak cukup kalau cuma dihitung berdasarkan siapa melakukan apa. Mustinya ya ditambah, siapa yang memikirkan bahwa pekerjaan itu harus dilakukan?

Kalau di rumah, siapa yang sadar sabun habis? Siapa yang tahu anak harus membawa prakarya hari Jumat? Siapa yang ingat bahwa besok ada pembayaran les anak? Siapa yang tahu stok telur tinggal empat? 

Siapa yang sadar motor belum dimasukkan? Siapa yang tahu galon hampir habis? Nah, dari sinilah baru kelihatan betapa luasnya pekerjaan rumah tangga itu.

Menariknya, penelitian Daminger tadi menemukan bahwa perempuan dalam studi tersebut secara keseluruhan melakukan lebih banyak kerja kognitif, terutama pada bagian mengantisipasi kebutuhan dan memantau pekerjaan.

Mental load bukan berarti perempuan selalu punya keputusan yang paling benar. Perempuan itu sudah terbiasa memikirkan berbagai kemungkinan.

Kalau seseorang sudah terbiasa menjadi orang yang bertanggung jawab atas kemungkinan-kemungkinan tersebut, dia akan sulit benar-benar “mematikan” pikirannya.

Perempuan yang punya mental load sering kali hidup beberapa langkah di depan kondisi saat ini. Pengalaman membuatnya belajar bahwa banyak hal di rumah terjadi secara mendadak. So, ini bukan cenayang ya.

Prinsip perempuan itu, lebih baik siap ketimbang panik. Dari situlah lahir perempuan yang tasnya selalu berisi tisu, minyak kayu putih, charger, obat, plastik, camilan, dan entah apa lagi.

Pas awal, mungkin suami bilang, “Ngapain bawa sebanyak itu?” Eh… tahunya dua jam kemudian, “Sayang, ada tisu basah gak?” HAHAHAHA.

7 Tanda Istri Capek dengan Mental Load

Nah, sekarang coba kita cek. Buat istri, jangan-jangan selama ini kamu bukan sekadar capek fisik, tapi capek otak. 

Ini bisa dicek dari hal-hal yang kelihatannya sepele banget dalam kehidupan sehari-hari. Udah siap?

1. Kamu tahu barang apa yang hampir habis sebelum orang lain sadar

Sabun mandi tinggal seperempat? Kamu tahu. Minyak goreng tinggal sedikit? Kamu tahu.

Susu anak tinggal dua kotak? Kamu tahu. Tisu toilet tinggal satu gulung? Kamu TAHU.

Bahkan kamu bisa memperkirakan, “Kayaknya hari Sabtu habis deh.” Sementara anggota keluarga lain baru sadar ketika barangnya benar-benar habis.

Ini contoh sederhana dari anticipating needs, yaitu kemampuan mengantisipasi kebutuhan sebelum kebutuhan itu benar-benar menjadi masalah.

Kamu bukan cuma belanja, tapi udah mikir belanja sebelum waktunya belanja.

2. Kalau mau pergi, kepalamu langsung bikin checklist otomatis

Kalau misalnya suami bilang besok mau ke Bandung, otakmu langsung mikir, anak pakai baju apa? Bawa jaket gak? Tumbler, camilan, obat, payung, tisu, baju ganti berapa, nginap di mana.

Istri bahkan sudah memikirkan skenario, kalau anak muntah di mobil. Pengalaman hidup mengajarkan bahwa anak memang bisa muntah kapan saja. Wkwkwk.

3. Kamu susah santai kalau ada kerjaan menggantung

Ini yang agak bahaya. Kamu sedang duduk, tapi otakmu mikir soal jemuran belum diangkat. Lima menit kemudian, eh, besok anak ada tugas. Kemudian, stok beras kayaknya tinggal dua hari.

Secara fisik kamu duduk, tapi secara mental kamu sedang rapat koordinasi dan rapatnya gak pernah kelar.

4. Kamu yang paling sering jadi orang yang mengingatkan

Gak bisa digeneralisir, tapi ini fakta banget. Pasti deh istri yang sering ingetin suami buat bayar pajak mobil, anak-anak sikat gigi dulu sebelum tidur, anak besok bawa prakarya.

Kamu jadi reminder berjalan. Ini yang sering bikin istri akhirnya malas minta bantuan. Soalnya, buat minta bantuan pun dia harus ingetin lagi lebih dari sekali, jelasin, mantau. Akhirnya muncul kalimat klasik, udah lah, kerjain sendiri aja.

5. Kamu tahu detail kehidupan semua orang, tetapi orang lain tidak selalu tahu detail kehidupanmu

Kamu tahu anak pertama sukanya telur dadar tanpa daun bawang. Anak kedua gak mau minum kalau airnya terlalu dingin.

Suami gak suka cabe terlalu banyak. Ibu mertua suka makanan asin dan pedas.

Eh tapi… giliran ketika kamu sendiri ditanya, mau makan apa? Jawabanmu terserah.

Saking udah terlalu lama sibuk memikirkan kebutuhan semua orang sampai lupa menanyakan kebutuhan diri sendiri. Ini yang bikin mental load makin kerasa.

6. Ketika orang lain membantu, kamu tetap merasa harus mengecek

Ini yang sering bikin salah paham. Suami akhirnya mencuci piring, tapi setelah itu masih ada gelas di meja.

Anak akhirnya memasukkan pakaian kotor ke keranjang, tapi seragam sekolah besok ternyata masih di jemuran.

Suami udah bantu, istri masih ngecek. Lalu dibilang perfeksionis. Padahal bukan karena istri sok mau semourna, tapi dia antisipasi kalau ada yang belum benar-benar selesai.

Dalam konsep mental load, bagian monitoring memang termasuk pekerjaan kognitif, yaitu memastikan sesuatu sudah dilakukan dan berjalan sebagaimana mestinya.

Jadi, kalau mau benar-benar membagi beban, yang dibagi bukan cuma tangan, tapi isi kepala juga.

7. Kamu merasa kalau kamu berhenti, semuanya ikut berhenti

Nah, kalau sudah sampai sini, coba berhenti sebentar. Bayangkan kamu tidak mengingatkan apa pun selama seminggu.

Kamu gak ingetin jadwal anak, gak ngecek stok kulkas di rumah, gak ingetin suami, gak mikirin bekal anak, gak meriksa perlengkapan sekolah mereka.

Apa yang terjadi? Pastilah jawabannya, semua bakal berantakan.

Nah, mungkin selama ini kamu memang megang terlalu banyak tanggung jawab mental sendirian.

Menurutku, ini gak harus dijadikan kompetisi sama suami, bahwa aku lebih capek dari suamiku. Cukup sadari, kalau selama ini terlalu banyak hal yang aku pikirin sendirian.

Rumah tangga yang sehat bukan rumah tangga tanpa pekerjaan. Pastilah, yang namanya pekerjaan rumah akan selalu ada. Cuma… yoklah rasa kebersamaan itu dipupuk sama-sama, siapa yang merasa bertanggung jawab untuk memikirkannya. Jangan cuma istri saja.

Kalau ada satu beban kecil di kepala istri sudah pindah tangan, itu juga sudah dianggap cinta loh. Gak melulu istri minta dibeliin bunga or cokelat. Sesimpel gerak cepat gantiin galon atau cuci piring makanmu sendiri, itu udah ROMANTIS ABIS.

Certified author (BNSP), eks-jurnalis ekonomi dan lingkungan. Kini menjadi full-time mom yang juga berkarya sebagai novelis, blogger, dan content writer. Founder Rimbawan Menulis (Rimbalis), komunitas yang aktif mengeksplorasi dunia literasi dan isu-isu lingkungan.

Share:

Leave a Comment