Aku sengaja kasih jeda tiga hari setelah menonton “The Early Spring” sebelum lanjut merampungkan “Blossom Through The Cloud.” Alasannya ya takut masih kena sindrom Luke dan Flora.
Kalau langsung pindah drama, bisa-bisa semua drama China terasa kurang greget dan ujung-ujungnya aku kasih penilaian buruk cuma karena belum move on.
“Blossom Through The Cloud” ini sudah lama masuk radarku. Salah satu alasannya tentu saja Bapak Duda, Wei Zheming alias Miles Wei.
Di mataku, dia memang spesialis CEO soft spoken. Beda dengan Jing Boran yang auranya lebih ke CEO lantam internasional. HAHAHA.
Serial 24 episode ini tayang di iQIYI, MangoTV, dan VIU. Setelah selesai menonton, aku kasih rating 8/10. Nah, seperti apa ceritanya? Yuk, lanjut sampai akhir karena ini agak panjang, nih, say.

Sinopsis Blossom Through The Cloud
Ruan Sixian, diperankan Liu Xiening, awalnya hanyalah seorang pramugari yang sudah tiga tahun bekerja di Hengshi Airlines, salah satu maskapai terkemuka di Kota Jiang. Hidupnya sebenarnya sudah cukup nyaman. Sampai suatu hari, ada kesempatan seperti jalan pintas menuju cita-citanya.
Hengshi pernah membuka Program Feiyang, program internal yang memberi kesempatan kepada karyawan dari berbagai departemen untuk mengikuti pelatihan pilot binaan. Syaratnya cuma satu, lulus seleksi.
Sixian ikut. Dia tak sekadar lulus, melainkan keluar sebagai peserta dengan peringkat pertama. Sayangnya, kesempatan itu tidak berlangsung lama.

Begitu Fu Mingyu, diperankan Wei Zheming, putra Chairman Hengshi Airlines Fu Xinian, mengambil posisi Wakil CEO, Program Feiyang langsung dihentikan dengan alasan perusahaan sedang melakukan reformasi untuk mengatasi kerugian yang makin besar. Bagi perusahaan, mungkin ini keputusan bisnis. Bagi Sixian, ini berarti cita-citanya kembali ditarik dari depan mata.
Dia tidak terima begitu saja. Sixian berusaha menemui Mingyu untuk membicarakan program tersebut. Masalahnya, pertemuan mereka malah berujung salah paham yang cukup kocak.
Mingyu mengira Sixian sedang mengejar-ngejar dirinya. Padahal perempuan itu cuma mau membicarakan masa depannya.

Beberapa kali mereka bertemu, mulai dari di pesawat saat penerbangan, makan malam eksekutif, sampai tidak sengaja berpapasan di bandara. Setiap kali Sixian berusaha bicara soal Program Feiyang, situasinya malah makin kacau. Mingyu keburu mengira dirinya sedang disukai.
Sementara Sixian sudah sampai pada titik, kalau program itu memang tidak bisa dilanjutkan, dia siap mengundurkan diri dari Hengshi. Betul, akhirnya dia mengundurkan diri dari posisi pramugari.
Sixian menjual rumah warisannya dan menggunakan seluruh tabungannya untuk membiayai pendidikan pilot di Akademi Penerbangan Qindao di Kota Ba’ao. Keputusannya didukung penuh oleh Fan Lei, mentornya sekaligus salah satu kapten pilot perempuan di Hengshi Air.
Tiga tahun kemudian, Sixian lulus sebagai satu-satunya pilot perempuan di akademi tersebut. Bukan cuma itu, dia juga menduduki peringkat pertama dalam seluruh ujian.
Perempuan yang dulu dianggap sedang mengejar-ngejar bosnya itu akhirnya kembali sebagai seorang pilot. Dan kali ini, dia datang dengan prestasi.
Hengshi Cari Pilot Perempuan
Sementara Sixian sibuk mengejar mimpinya, Hengshi Airlines punya rencana besar. Mingyu ingin merekrut pilot perempuan untuk menjadi bagian dari gebrakan baru perusahaan. Hengshi sedang bersiap menjadi maskapai pertama yang menggunakan pesawat badan besar terbaru buatan dalam negeri.
Dari Yan An, sahabat sekaligus rivalnya yang diperankan Fei Qiming, Mingyu mendapat informasi tentang seorang pilot perempuan yang baru lulus dengan prestasi luar biasa. Namanya Ruan Sixian.
Mingyu tertarik. Masalahnya, dia tidak ingat bahwa Sixian adalah mantan pramugari yang pernah dia salah pahami tiga tahun sebelumnya.
Agaknya Mingyu memang benar-benar pangling. Sixian sudah memangkas rambut panjangnya dan sekarang tampil jauh lebih tomboy. Dengan seragam pilot dan riasan sederhana, penampilannya jelas berbeda dari perempuan yang dulu dia kenal.
Sixian sendiri sama sekali tidak tertarik kembali ke Hengshi selama Mingyu masih menjadi pemimpinnya. Tapi Mingyu rupanya belum menyerah.

Dia mengirim asistennya, Bai Yang, untuk meminta kesediaan Sixian bergabung sebagai pilot perempuan di Hengshi Airlines.
Bai Yang masih mengingat Sixian. Dia tahu perempuan itu pasti akan menolak kalau hanya diberi alasan bahwa Hengshi sedang membutuhkan pilot perempuan untuk kepentingan promosi.
Maka dia memakai kartu yang lebih kuat. Hengshi membutuhkan pilot untuk unit pesawat baru Z101, pesawat komersial terbaru yang dikembangkan secara mandiri oleh China. Pesawat tersebut sudah memasuki tahap akhir penyerahan dan disebut punya arti strategis bagi industri penerbangan dalam negeri.
Ternyata, penjelasan itu tepat sasaran. Sixian memang punya satu keinginan yang belum pernah benar-benar hilang, menerbangkan pesawat badan besar buatan dalam negeri.
Pada saat yang sama, dia juga mendapat tawaran dari Jiangbei Airlines yang dipimpin Yang An, sahabat Mingyu. Sixian pun menanyakan hal yang sama, apakah Jiangbei berencana menggunakan pesawat terbaru itu?

Jawaban Yang An tidak terlalu meyakinkan. Dia justru menawarkan pilihan lain. Kalau Sixian menginginkan pesawat impor dari Eropa atau Amerika, dia bersedia memenuhinya.
Di sinilah Sixian mulai galau. Dia ingin menerbangkan pesawat buatan dalam negeri yang selama ini diimpikannya. Tapi dia juga tidak mau kembali ke Hengshi dan berurusan dengan Mingyu.
Mingyu, tentu saja, tidak tinggal diam. Dia terus mendatangi Sixian dan mencoba membujuknya sampai perempuan itu akhirnya memberikan syarat yang terdengar mustahil.
Sixian baru mau kembali ke Hengshi kalau matahari terbit dari barat. Sixian mungkin mengira permainan sudah selesai. Ternyata dia salah pilih lawan.
Mingyu punya seribu akal. Dia naik jet pribadi dan terbang ke wilayah lain di bumi yang saat itu sedang mengalami matahari terbit, sementara di China hari sudah menjelang senja. Secara geografis, dia memanfaatkan perbedaan zona waktu 12 jam untuk mendapatkan momen yang diinginkan Sixian.
Lalu Mingyu melakukan video call. Di layar ponsel Sixian, matahari benar-benar sedang terbit. Dari barat.
Sixian tidak punya celah lagi untuk mengelak. Janji tetaplah janji. Akhirnya dia bersedia kembali ke Hengshi sebagai pilot.
Jadi Pilot tak Semudah Itu
Menjadi pilot junior ternyata bukan berarti setelah mengenakan seragam lalu langsung menerbangkan pesawat sendiri. Sixian harus menjalani latihan simulator setiap hari. Perjalanannya masih panjang sebelum dia bisa duduk sebagai kapten, seperti Fan Lei.
Pada tahap awal, dia sudah menyelesaikan pendidikan penerbangan di Akademi Penerbangan Qindao dan memenuhi standar jam terbang untuk memperoleh Commercial Pilot License atau CPL.
Setelah itu, seorang pilot masih harus menjalani tahap sebagai first officer atau kopilot. Tugasnya mendampingi kapten sekaligus terus mengumpulkan jam terbang dan pengalaman.
Untuk mencapai posisi kapten, dibutuhkan jam terbang yang jauh lebih banyak, lisensi tingkat lanjut seperti Airline Transport Pilot License (ATPL), pelatihan simulator khusus, serta serangkaian uji kelayakan dari maskapai.
Ketika kita melihat Sixian latihan setiap hari, dia sedang mengejar proses yang panjang itu. Dan Mingyu mulai memperhatikan kegigihannya.
Dia kagum melihat perempuan yang dulu dianggapnya hanya mengejar-ngejar dirinya ternyata bekerja sekeras itu demi sebuah cita-cita.

Tinggal Satu Gedung dengan Bos
Kehidupan Sixian di Hengshi semakin rumit karena tempat tinggalnya ternyata tidak jauh dari Mingyu. Sixian tinggal di Mingchen Tower, di lantai 28. Mingyu di lantai 30.
Cuma beda dua lantai. Artinya, kemungkinan bertemu di lift menjadi jauh lebih besar. Lama-kelamaan, Mingyu akhirnya sadar bahwa pilot baru di depannya adalah pramugari yang dulu pernah datang menemuinya. Dia langsung protes kepada Bai Yang. Kenapa dari awal tidak bilang?
Bai Yang membela diri. Sixian memang melarangnya memberitahu Mingyu tentang identitas masa lalunya. Perempuan itu bahkan berharap Mingyu tidak pernah ingat bahwa dirinya adalah pramugari yang dulu dia salah pahami.
Tapi rahasia akhirnya terbongkar juga. Mingyu kemudian meminta maaf. Untuk pertama kalinya, dia mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi tiga tahun lalu.
Barulah dia mengetahui kenyataan yang selama ini terlewat. Sixian bukan mengejarnya karena suka. Dia mendatanginya berkali-kali karena ingin membicarakan Program Feiyang dan menyerahkan surat pengunduran diri.
Surat itu dulu dikira Mingyu sebagai surat cinta. Ternyata sama itu sama sekali bukan surat cinta.
Mingyu juga baru tahu betapa berat perjuangan Sixian menjadi pilot. Perempuan itu menjual rumah keluarganya, tempat yang menyimpan banyak kenangan bersama ayahnya, demi membayar sekolah penerbangan.
Baru saat itulah Mingyu memahami betapa seriusnya cita-cita Sixian. Sejak kecil, Sixian memang ingin menjadi pilot perempuan.
Kehidupan keluarganya sendiri tidak mudah. Dia berasal dari keluarga broken home dan memilih tinggal bersama ayahnya, seorang guru, setelah mengetahui dugaan perselingkuhan ibunya, Dong Xian, yang merupakan seorang pelukis.
Ayahnya membesarkan Sixian seorang diri dan selalu mendukung impiannya.bBahkan setelah sang ayah meninggal, Sixian masih mengingat ayahnya selalu mendoakan agar putrinya bisa mencapai cita-cita.
Itulah sebabnya kesempatan sekecil apa pun untuk menjadi pilot, tidak pernah dia lewatkan.

Salah Paham Jadi Cinta
Hubungan Sixian dan Mingyu perlahan berubah. Sixian sempat ingin meninggalkan Hengshi lagi setelah tahu bahwa alasan awal Mingyu merekrutnya sebenarnya berkaitan dengan strategi promosi perusahaan.
Dia tidak mau diperlakukan hanya sebagai wajah pilot perempuan untuk kepentingan branding. Mereka sempat berselisih cukup keras. Namun, dari situ hubungan keduanya semakin dekat.
Mingyu mulai belajar mengikuti ritme Sixian. Salah satunya ketika dia mengubah rencana promosi perusahaan.
Awalnya, Sixian akan menjadi satu-satunya pilot perempuan yang ditampilkan. Mingyu kemudian mendatangkan dua pilot perempuan senior yang juga merupakan idola Sixian untuk ikut dalam kampanye tersebut.
Bagi Sixian, itu sebuah momen langka, mendapat kesempatan berdiri satu frame dengan dua pilot yang selama ini dia kagumi.
Di tengah kesibukan itu, Sixian bertemu Zheng Youan, fotografer cantik yang bekerja untuk Hengshi. Youan ternyata teman masa kecil Mingyu dan menyimpan perasaan kepada pria tersebut.
Belakangan, Sixian mengetahui hal lain bahwa Youan adalah putri tiri Dong Xian, ibu kandung Sixian. Situasi itu tentu saja membuat perasaan Sixian campur aduk. Dia melihat bagaimana ibunya begitu menyayangi Youan, sementara dirinya sendiri merasa seperti anak kandung yang ditinggalkan.
Ditambah lagi, Youan cukup dekat dengan Mingyu. Sixian mulai cemburu, meski mungkin saat itu dia sendiri belum mau mengakui perasaannya.
Sampai suatu malam, dia mabuk dan pulang ke apartemen dalam keadaan tidak sadar sepenuhnya. Mingyu menemukannya dan membawanya masuk. Dalam kondisi setengah sadar, Sixian mengigau tentang ibunya dan Youan.
Mingyu lalu meminta Bai Yang mencari tahu lebih banyak tentang keluarga Sixian. Dari situlah dia mengetahui bahwa Sixian ternyata adalah putri kandung Dong Xian.
Meski sudah mengetahui kenyataan tersebut, Mingyu memilih tidak langsung mengatakannya kepada Sixian.
Hubungan mereka akhirnya berkembang menjadi pacaran. Mingyu sendiri mungkin tidak pernah membayangkan akan punya kekasih seorang pilot. Apalagi dia memiliki trauma terhadap penerbangan setelah pernah belajar menerbangkan pesawat dan gagal.
Tapi dia juga tahu satu hal, bagi Sixian, pekerjaan pilot adalah bagian penting dari hidupnya. Kalau suatu hari mereka menikah, dia tidak akan meminta Sixian berhenti menerbangkan pesawat.
Mingyu sudah tahu konsekuensinya. Dia mencintai perempuan yang mencintai langit.
Ketika Lisensi Sixian Dibekukan
Hubungan mereka mulai diuji setelah Sixian resmi menjadi kopilot Hengshi Airlines. Dalam sebuah penerbangan menuju Ba’ao, situasi mendadak berubah menjadi darurat. Cuaca buruk. Kapten pilot Yue Yang mengalami serangan jantung.
Sixian terpaksa mengambil alih. Sebagai kopilot, dia harus membuat keputusan dalam hitungan detik. Pesawat menghadapi kondisi cuaca yang tidak bersahabat dan angin kencang. Peringatan MAYDAY pun dikeluarkan.
Mingyu yang mengetahui kekasihnya berada di dalam pesawat tentu panik. Sementara di udara, Sixian berusaha membawa pesawat mendarat dengan kondisi yang jauh dari kata ideal.
Pesawat akhirnya berhasil mendarat, tetapi situasinya tidak berakhir begitu saja. Kecepatan pesawat masih berada di atas normal dan pendaratan nyaris keluar dari landasan.
Sixian, seluruh awak pesawat, dan ratusan penumpang selamat. Namun, dia tetap harus menghadapi konsekuensi dari aturan penerbangan yang berlaku. Izin terbangnya dibekukan.
Bagi Sixian, hukuman tersebut sangatlah berat. Menerbangkan pesawat adalah impiannya sejak kecil.
Mingyu tentu ingin membantu kekasihnya. Sebagai CEO, dia tidak ingin Sixian menerima hukuman yang menurutnya terlalu berat. Tapi Sixian justru meminta Mingyu tetap profesional.
Hubungan mereka sudah diketahui banyak orang di perusahaan. Kalau Mingyu ikut campur, keputusan apa pun terhadap dirinya akan selalu dipertanyakan. Akhirnya, Sixian memilih pergi.
Ketika Mingyu dan Sixian jalan-jalan berdua sehari. Jelang malam hari, setelah matahari terbenam, Sixian mengakhiri hubungannya dengan Mingyu.
Setelah itu, Sixian kembali ke Kota Ba’ao untuk menjalani masa hukuman dengan mengajar di akademi penerbangan tempatnya dulu belajar.
Jarak membuat Mingyu punya banyak waktu untuk berpikir. Dia mulai mempertanyakan aturan-aturan lama di perusahaan, termasuk kebijakan yang memberikan sanksi berat kepada pilot atas kesalahan yang sebenarnya masih bisa dipahami dalam kondisi tertentu.
Kasus Sixian membuatnya sadar bahwa sistem pun perlu dievaluasi. Pada akhirnya, asosiasi penerbangan menerima usulan reformasi kebijakan standar kualitas penerbangan.
Pada 2025, rancangan reformasi tersebut diterbitkan dan praktik pengelolaan awak penerbangan dengan hukuman lama yang sudah berlangsung selama lebih dari dua dekade akhirnya berakhir. Sixian, juga pilot-pilot lain yang bernasib sama, mendapat keadilan dari sana.
Mingyu Merebut Hati Sixian Lagi
Mingyu kemudian menyusul Sixian ke Kota Ba’ao. Dan kalau sudah bicara soal pria yang satu ini, tentu saja dia tidak datang dengan tangan kosong.
Mingyu membawa Sixian ke sebuah apron, tempat pesawat-pesawat diparkir. Di sana, dia memberikan kejutan berupa sebuah pesawat latih yang bisa digunakan Sixian untuk terbang kapan saja.
Duh. Begini rupanya kalau punya pacar CEO. HAHAHA.
Hubungan mereka pun kembali, tapi Mingyu tidak berhenti sampai di situ. Dia juga membantu Sixian menghadapi persoalan yang selama ini masih mengganjal dalam hidupnya, yaitu hubungannya dengan ibu kandungnya.
Pada akhirnya, Sixian dan Dong Xian berhasil berdamai. Youan pun bahagia karena akhirnya mengetahui bahwa dirinya memiliki seorang kakak perempuan.
Dan kalau kamu sudah menebak siapa pasangan Youan, tebakanmu benar. Dia berakhir bersama Yang An, sahabat masa kecilnya.
Mingyu dan Sixian sempat menjalani hubungan jarak jauh selama setahun karena Mingyu harus pindah ke kota lain untuk mengurus bisnis landasan terbang atas tugas dari ayahnya.
Tapi setelah semua drama, salah paham, putus-nyambung, dan perjuangan panjang itu, keduanya akhirnya sampai juga di tujuan.
Mingyu dan Sixian menikah di landasan terbang dengan latar belakang Hengshi Air. Pengantin perempuan keluar dari pesawat. Mereka bertukar cincin, lalu berciuman.
Setelah perjalanan sepanjang itu, akhirnya Sixian mendapatkan dua hal yang sejak awal sama-sama dia perjuangkan, yaitu tetap bisa terbang sebagai pilot dan menemukan seorang laki-laki yang bersedia terbang bersamanya.

Review Blossom Through The Cloud
Hal pertama yang bikin aku suka “Blossom Through the Cloud” adalah cara serial ini menempatkan perempuan di tengah cerita. Bukan dalam arti semua tokoh perempuannya harus sempurna atau selalu menang. Justru menarik karena mereka punya ambisi, pekerjaan, masalah, ego, dan pilihan masing-masing.
Ada cukup banyak hal yang bisa dipetik dari perjalanan Ruan Sixian. Aku bahkan sampai mencatat beberapa kalimat dari serial ini. Tiga yang paling nempel buatku datang dari Sixian.
“Industri penerbangan menyangkut keselamatan, sehingga tidak boleh ada sedikit pun kesombongan.”
“Orang yang tepat dan hal yang tepat pasti akan menunggumu di garis akhir.”
“Kita boleh tidak memercayai siapa pun, tetapi kau harus memercayai dirimu sendiri.”
Mungkin karena itu juga aku menikmati serial ini. “Blossom Through the Clouds” tidak terasa seperti drama yang sengaja mencari cara supaya penonton stres setiap episode.
Tidak ada villain yang bikin aku mau lempar bantal ke TV. Tidak ada second male lead yang keberadaannya terus-menerus membuat hubungan tokoh utama berantakan. Sekitar 80 persennya justru bikin senyum.
Sisanya? Ya, namanya juga drama. Tetap ada turbulensi dong.
Tema dunia penerbangan cukup segar untuk ukuran drama China rom-com modern. Ruan Sixian juga bukan tipe female lead yang menunggu kesempatan datang. Dia punya tujuan jelas dari episode pertama diputar, yaitu menjadi pilot.
Pertemuan pertamanya dengan Fu Mingyu pun jauh dari romantis. Sixian sebenarnya sudah berusaha menghubungi Mingyu berkali-kali soal program pelatihan internal Feiyang.
Email-emailnya tidak mendapat respons. Karena itu, ia akhirnya memilih menyampaikan surat secara langsung ke bos-nya.
Masalahnya, Mingyu sudah punya prasangka lebih dulu. Sebagai wakil presiden Hengshi Airlines yang kaya, disiplin, dan terbiasa menghadapi orang-orang yang punya kepentingan terhadap dirinya, dia tidak langsung melihat Sixian sebagai seseorang yang sedang memperjuangkan karier. Apalagi sebelum itu sudah ada gosip di antara kru penerbangan.
Ketika Sixian mendekatinya di tengah situasi perusahaan yang sedang melakukan reformasi, Mingyu buru-buru menyimpulkan sendiri maksud kedatangannya.
Timing-nya juga apes. Sixian sebenarnya sempat menyebut Feiyang ketika berusaha menjelaskan maksudnya di pesawat. Namun saat itu pesawat mengalami turbulensi dan situasinya malah berubah menjadi momen yang sangat canggung.
Mingyu yang sudah salah paham sejak awal tentu saja menangkapnya dengan cara yang berbeda. Ketika mereka bertemu lagi malam harinya pas makan malam, Sixian bahkan tidak diberi kesempatan untuk menjelaskan.
Kalau cuma melihat adegannya sepintas, memang gampang kok berprasangka negatif kayak gitu. Tapi setelah melihat konteksnya, salah paham mereka sebenarnya cukup masuk akal.
Menariknya adalah loncatan waktu tiga tahun. Sebagai penonton, perubahan Sixian dari pramugari menjadi pilot maskapai dalam waktu tiga tahun ya… terlalu cepat sih. HEHEHE. Tapi serial ini memang menunjukkan bahwa dia menjalani pendidikan penerbangan secara intensif, bukan sambil lalu doang.
Sebelum masuk akademi penerbangan pun Sixian sudah punya pengalaman bertahun-tahun sebagai pramugari. Dia memahami lingkungan penerbangan, prosedur kerja, dinamika kru, dan situasi di dalam pesawat.
So, selama tiga tahun itu dia belajar habis-habisan di akademi penerbangan dan menjadi lulusan terbaik. Dia memang keras kepala kalau sudah menyangkut mimpinya.
Sementara itu, Fu Mingyu tentu sudah berkembang di jalurnya sendiri. Ketika perusahaan membutuhkan pilot perempuan untuk memperkenalkan pesawat baru Z101, nama Sixian muncul. Menariknya, Mingyu bahkan tidak langsung mengenalinya.
Rambut Sixian sudah berubah. Penampilannya juga berbeda. Tiga tahun memang cukup lama untuk membuat seseorang yang dulu kita kenal sekilas terlihat seperti orang lain.
Begitu tahu bahwa lulusan terbaik akademi itu adalah Sixian, Mingyu mulai berusaha merekrutnya. Tentu saja Sixian tidak langsung mau. Bagaimanapun juga, alasan dia meninggalkan Hengshi dulu adalah Mingyu.
Di saat yang sama, dia mendapat tawaran dari Jiangbei Airlines. CEO-nya, Yang An, bahkan menawarkan sesuatu yang lebih sesuai dengan preferensi Sixian soal pesawat impor.
Tapi ada satu hal yang membuat Sixian tetap tertarik pada Hengshi, yaitu Z101. Dia ingin menerbangkan pesawat itu.
Di titik ini, konfliknya lebih menarik karena pilihannya qda karier di satu sisi, ada luka lama di sisi lain. Dan Mingyu, dengan segala gaya sok tenangnya, harus mencari cara supaya Sixian bersedia kembali.
Sampai akhirnya dia melakukan aksi yang cukup absurd, terbang ke suatu tempat di bumi ketika matahari sedang terbit, sementara di China matahari hampir terbenam. Tujuannya cuma satu, menunjukkan sunrise kepada Sixian lewat video call karena Sixian pernah berkata dia akan bergabung jika matahari terbit dari barat.
Logika romantisnya mungkin agak gila. Tapi ya… namanya juga drama. Dan berhasil.
Melihat Sixian bekerja, cara dia belajar, bagaimana dia menghadapi tekanan, semua bikin Mingyu jadi jatuh hati sama Sixian. Semakin sering melihatnya, semakin sulit baginya mengabaikan perempuan itu.
Dia merasa bersalah karena masa lalu. Dia juga kagum terhadap kemampuan Sixian. Dia juga penasaran yang lama-lama berubah menjadi perasaan.
Perempuan-Perempuan di Sekitar Sixian
Hal lain yang kusukai dari Blossom Through The Cloud adalah perempuan-perempuan di sekitar Sixian. Pertama, tentu saja Kapten Fan yang menjadi mentor dan figur penting dalam perjalanan kariernya.
Dia tidak hadir sekadar sebagai karakter perempuan senior yang numpang lewat. Pengalaman dan keberadaannya benar-benar punya pengaruh terhadap perjalanan Sixian.
Kemudian ada generasi pilot perempuan lainnya yang akhirnya dipertemukan dalam peluncuran Z101.

Adegan tiga generasi pilot perempuan ini di sesi pemotretan menjadi salah satu momen yang menarik karena memperlihatkan bahwa karier Sixian tidak berdiri sendirian. Dia punya orang-orang yang membuka jalan sebelum dirinya.
Hal yang sama juga terlihat pada karakter perempuan lain seperti Si Xiaozhen, Bian Xuan, Jiang Yue, dan Ni Tong. Mereka tidak terus-menerus dijadikan saingan demi seorang pria.
Ada konflik, tentu saja. Tapi relasi antarkarakter perempuan di Blossom Through The Cloud ini lebih beragam daripada sekadar “perempuan satu harus menjatuhkan perempuan lain.”
Bahkan ketika terjadi keadaan darurat di udara, para perempuan di dalam cerita mampu mengambil peran masing-masing dan menyelesaikan situasi lewat kompetensi serta kerja sama. Ini keren banget sih buat aku.
Akting Wei Zheming dan Liu Xuening
Wei Zheming cocok memainkan Fu Mingyu. Di awal, karakternya memang kaku, tajam, dan kadang mulutnya kurang santai. Barulah semakin jauh ceritanya berjalan, kita melihat sisi lain dari dirinya.
Dia bukan tipe CEO yang cuma punya kekuasaan lalu menggunakan posisinya untuk melindungi perempuan yang dia cintai. Ketika Sixian menghadapi masalah profesional, dia justru berusaha memastikan prosesnya tetap berjalan secara adil.
Ini penting karena hubungan mereka tidak kemudian menghapus identitas Sixian sebagai seorang profesional. Sixian tetap harus membuktikan kemampuan sendiri.
Mingyu juga menghadapi masalahnya sendiri di perusahaan. Ada tekanan dari jajaran direksi, kepentingan internal, reformasi perusahaan, sampai urusan pengadaan pesawat baru. So, kehidupan mereka tidak berhenti di adegan tatap-tatapan di lift.
Walaupun, tentu saja, adegan lift tetap ada. Mereka tinggal di gedung yang sama. Bisa ditebak sendiri seberapa sering mereka “kebetulan” bertemu sampai bunga-bunga cinta keduanya bermekaran.


Cerita Keluarga Sixian Kurang Kuat
Bagian yang menurutku kurang kuat, salah satunya adalah cerita keluarga Sixian. Hubungannya dengan sang ibu akhirnya mendapat penyelesaian, tetapi proses rekonsiliasinya agak kurang lama dibereskan sebelum cerita selesai.
Ada juga subplot percintaan teman-teman mereka yang kesannya cuma pemanis doang. Jelang episode terakhir, cerita sempat masuk ke fase putus Mingu dan Sixian, tapi ya menurutku itu terlalu mendadak. Alasan mereka putus pun kurang kuat di mataku.
Motivasi Sixian sebenarnya masih bisa dipahami. Dia punya alasan profesional dan prinsip yang kuat. Tapi secara alur, kemunculannya terasa seperti turbulensi yang datang ketika pesawat sudah hampir mendarat.
Editing di beberapa bagian juga kurang mulus. Untungnya, “Blossom Through The Cloud” tidak sampai kehilangan arah.


Karier Tetap Jadi Bagian Penting
Aku apresiasi banget, “Blossom Through the Clouds” adalah serial yang tidak menjadikan karier karakter perempuan sekadar aksesori untuk cerita cinta.
Di serial ini, Sixian diperlihatkan bahwa dia benar-benar harus belajar. Mulai dari dia menghadapi ujian, evaluasi, simulator, tekanan kerja, sampai situasi penerbangan yang tidak mudah.
Scene yang ikut bikin aku jantungan, mungkin kamu juga, adalah kejadian ketika Kapten Yue Yang mengalami kondisi darurat di tengah penerbangan dan Sixian harus mengambil alih pesawat.
Situasinya jauh dari ideal dan keputusan yang dia ambil membawa konsekuensi terhadap kariernya. Lisensinya kemudian ditangguhkan.
Situasi panik dalam pesawat, belum lagi cuaca buruk, petir dan awan gelap di depan, duh bikin merinding. Aku rasanya kayak ikut dalam pesawat yang diterbangkan Sixian.
Romance-nya Enak
Setelah hubungan mereka berkembang, chemistry Wei Zheming dan Liu Xiening menjadi salah satu kekuatan serial ini.
Mingyu yang awalnya keras dan sok tahu perlahan berubah menjadi pria yang benar-benar menghargai kemampuan Sixian.
Sementara Sixian tidak kehilangan karakternya hanya karena jatuh cinta. Dia tetap ingin terbang, tetap serius sama pekerjaannya, dan tetap teguh pendirian.
Mingyu belajar menerima itu. Ini menarik banget, terutama ketika begitu banyak orang mempertanyakan apakah perempuan harus memilih antara karier dan cinta. Sixian dan Mingyu membuktikan bahwa keduanya bisa jalan beriringan.
Kekurangan “Blossom Through The Cloud” untuk romansa menurutku adalah terlampau banyak pasangan kedua di cerita. Aku sampai capek sendiri mengikuti kisah asmara kapten pilot dan pramugari, bos kafe dan karyawan, teman Sixian dan mendiang kekasihnya. Seharusnya cukup couple Yang An dan Youan saja di sini.




Apakah Blossom Through The Cloud Layak Ditonton?
Kalau kamu mencari C-drama dengan female lead yang punya tujuan hidup sendiri, dunia kerja yang cukup dominan, romance yang ringan, dan konflik yang tidak bikin kepala panas, “Blossom Through the Clouds” punya banyak hal untuk dinikmati.
Serial ini memang tidak sempurna. Beberapa bagian agak dipaksakan. Beberapa subplot sebenarnya bisa dipangkas. Ending menjelang akhir juga sempat kehilangan sedikit ritme. But, overall, aku suka arah ceritanya.
Aku suka Kapten Fan. Dia menunjukkan bahwa perempuan yang sudah lebih dulu sampai di satu tempat bisa membuka jalan bagi perempuan lain. Setelah dia menjadi kapten perempuan, muncul Sixian.
Aku suka Mingyu karena setelah salah menilai Sixian, dia akhirnya belajar melihatnya sebagai manusia dan profesional, bukan sekadar perempuan yang kebetulan menarik perhatiannya.
Aku suka Sixian sebab dia tidak pernah meninggalkan mimpinya hanya karena cinta. Dia tetap terbang.
Pasangan ini bisa mengambil jalan tengah. Bahkan sampai pernikahan mereka pun masih berhubungan dengan dunia penerbangan yang sejak awal menjadi bagian terbesar dari kisah mereka.
Sebagai drama China yang mengambil penerbangan sebagai dunia ceritanya, memang pas kalau kita tutup dengan seruan, “Happy landing!”

Leave a Comment