Review drama china Blossom of Power
Review drama china Blossom of Power

Drama China kostum memang tidak pernah jauh dari tiga hal, yaitu perebutan kekuasaan, keluarga bangsawan, dan intrik istana. Formula itu sudah dipakai berkali-kali. Pembedanya biasanya cuma satu, yaitu seberapa cerdas penulis mengolah cerita sehingga penonton lupa bahwa mereka sedang menyaksikan premis yang sebenarnya sudah sangat akrab.

Jujur saja, aku sempat mengira “Blossoms of Power” akan berjalan di jalur yang sama. Trailer-nya memang menggoda. Visualnya mewah, produksi terlihat serius, lalu ada Meng Ziyi dan He Yu sebagai pemeran utama. Sulit rasanya untuk tidak tergoda menekan tombol play.

Alasan terbesarku mulai menonton, jawabannya ya He Yu. Setelah melihat aktingnya di “Speed and Love” (2025), aku penasaran ingin melihatnya kembali, apalagi kali ini dalam drama kostum. Di sisi lain, Meng Ziyi juga termasuk aktris yang hampir tidak pernah mengecewakanku sejak “The Untamed” (2019). Wajar dong, ketika nama mereka dipasangkan dalam satu proyek, ekspektasiku otomatis ikut naik.

Surprise, sebab lima episode pertamanya benar-benar berhasil memenuhi ekspektasi itu. Akan tetapi, semakin jauh aku menonton, semakin sulit pula memberikan penilaian terhadap drama ini.

Sepuluh episode pertama nyaris membuatku yakin bahwa ini akan menjadi salah satu drama kostum terbaik tahun 2026. Lalu memasuki kisaran episode belasan hingga dua puluhan, antusiasmeku mulai turun. Ritmenya kok melambat banget, beberapa keputusan karakter mulai dipertanyakan, bahkan sempat aku mengira hype serial ini agak berlebihan.

Rupanya… aku terlalu cepat mengambil kesimpulan. Memasuki episode 29, cerita mulai membuka satu per satu potongan puzzle yang sebelumnya masih acak.

Benang merahnya perlahan tersambung, motif setiap karakter mulai masuk akal, dan baru di situlah aku menyadari betapa rapi penulis naskah dan sutradara menyembunyikan banyak petunjuk sejak awal. Beberapa adegan, yang tadinya aku anggap tidak penting dan tidak seharusnya ada, mendadak memiliki makna baru ketika dilihat dari sudut pandang yang berbeda.

Meski begitu, aku juga harus jujur. “Blossoms of Power” bukan tipe drama China yang langsung memuaskan semua penonton. Kalau kamu bukan penikmat serial kostum atau kurang sabar mengikuti cerita yang pace-nya lambat, besar kemungkinan kamu sudah menyerah di pertengahan jalan.

Karena itu, sebelum membaca ulasan ini lebih jauh, izinkan aku memberi satu saran buat kamu, PLEASE! Bertahanlah setidaknya sampai episode 26. Percayalah, mulai episode 29, cerita ini benar-benar meledak.

Sinopsis “Blossoms of Power”

Kalau dilihat dari judulnya sih puitis banget. Hehehe. Ternyata oh ternyata, cerita “Blossoms of Power” ini rupanya cukup kelam dan kompleks loh.

Gu Qingzhi, yang bergelar Ratu Xin, memilih mengakhiri hidupnya setelah seluruh keluarganya dieksekusi dengan tuduhan berkhianat kepada Kaisar Youning, ayah mertuanya sendiri. Ironisnya, tragedi itu semakin memilukan lantaran eksekusi tersebut berlangsung di bawah pengawasan suaminya sendiri, Raja Xin/ Xiao Chang Qing (diperankan Jeremy Xu), yang tak lain adalah Pangeran Kelima Kekaisaran Xing.

Raja Xin harus memilih antara bakti kepada ayahnya sebagai kaisar atau kesetiaan kepada perempuan yang dicintainya. Pilihan itu akhirnya berubah menjadi penyesalan ketika ia menemukan jasad Gu Qingzhi. Sejak hari itu, ia meninggalkan hiruk-pikuk istana, menarik diri dari urusan pemerintahan, dan menghabiskan bertahun-tahun di kuil, memanjatkan doa untuk mendiang istrinya.

Rupanya kematian bukanlah akhir bagi Gu Qingzhi. Ia justru memperoleh kesempatan kedua dari langit. Jiwanya melebur dan terbangun dalam tubuh Putri Zhaoning/ Shen Xihe (diperankan Meng Ziyi), Putri Wilayah Barat Laut yang memiliki posisi politik sangat penting di Kekaisaran Xing.

Kesempatan kedua itu tidak digunakan Gu Qingzhi hanya untuk bertahan hidup. Dalam identitas barunya sebagai Shen Xihe, ia menyusun rencana besar, yaitu mengubah takdirnya sendiri sekaligus mengungkap konspirasi yang pernah menghancurkan keluarganya.

Shen Xihe dan pangeran-pangeran tampannya
Shen Xihe dan pangeran-pangeran tampannya

Di sisi lain ada Putra Mahkota/ Xiao Huayong (diperankan He Yu), yang merupakan Pangeran Ketujuh, telah dinobatkan sebagai pengganti kaisar. Hanya saja, di balik statusnya sebagai pewaris takhta, ia dikenal sebagai sosok yang sakit-sakitan. Sejak kecil, tubuhnya digerogoti racun mematikan yang membuat hidupnya bisa berada di ujung tanduk sewaktu-waktu.

Kaisar Youning memiliki sembilan anak di mana enam di antaranya adalah laki-laki. Dari enam tersebut, empat di antaranya belum menikah.

Suatu hari, Shen Xihe diutus ke Kekaisaran Xing untuk dijodohkan dengan salah satu anak kaisar. Putra Mahkota pun jatuh hati sejak pandangan pertama. Akan tetapi, dia bukan satu-satunya yang terpikat. Saudara-saudaranya yang lain juga menyukai sang putri, bahkan juga Raja Xin, yang sejak awal merasa Shen Xihe begitu mirip dengan mendiang istrinya.

Chemistry He Yu dan Meng Ziyi di Blossom of Power
Chemistry He Yu dan Meng Ziyi di Blossom of Power

Sejak awal, Shen Xihe memang bertujuan menjadi Permaisuri. Karena itulah, di antara para pangeran yang memperebutkan hatinya, ia memilih Putra Mahkota sebagai pasangan sekaligus sekutu politiknya. Setelah menikah, pasangan ini pun menempati Istana Timur.

Hubungan mereka langsung menarik sejak awal. Shen Xihe dan Xiao Huayong sama-sama cerdas, piawai membaca situasi, serta terbiasa menyembunyikan niat di balik setiap langkah. Pertemuan mereka lebih kepada duel strategi antara dua orang yang saling menguji sekaligus saling mengagumi. Seiring waktu, hubungan yang semula dibangun atas kepentingan perlahan berubah menjadi rasa percaya, hingga akhirnya bersemi menjadi cinta.

Akan tetapi, Xiao Huayong mengetahui bahwa usianya tak akan panjang. Menyadari dirinya tak bisa mendampingi Shen Xihe hingga tua, ia melakukan satu hal terakhir sebagai suami, yaitu memastikan perempuan yang dicintainya tetap aman setelah ia tiada.

Menjelang ajalnya, Putra Mahkota menyusun setiap langkah dengan sangat matang. Ia menggalang dukungan dari orang-orang kepercayaannya, menyiapkan para guru terbaik untuk mendidik calon anak mereka kelak, bahkan rela mengorbankan nyawanya demi melindungi Shen Xihe.

Lalu, bagaimana akhir kisah mereka? Apakah semua pengorbanan Xiao Huayong berhasil menjaga Shen Xihe, atau justru takdir menuliskan akhir yang berbeda? Kalau kamu tidak ingin terkena spoiler, sebaiknya berhenti membaca sampai di sini. Mulai bagian berikutnya, kita akan membahas ending “Blossom of Power” secara penuh.

Pemeran Utama dan Pendukung “Blossoms of Power”

Salah satu yang paling membuatku kewalahan saat menonton “Blossoms of Power” adalah jumlah karakternya. Pangerannya banyak, keluarga bangsawannya lebih banyak lagi, sementara hampir semua orang punya agenda masing-masing.

Nah, supaya kamu tidak bingung mengikuti ulasan berikutnya, ada baiknya kita berkenalan dulu dengan tokoh-tokoh kunci dari seluruh cerita. Percayalah, hampir semua dari mereka akan menentukan bagaimana ending serial ini akhirnya terungkap.

1. Meng Ziyi sebagai Gu Qingzhi / Shen Xihe / Putri Zhaoning

Shen Xihe adalah Putri Daerah Barat Laut yang datang ke Kekaisaran Xing untuk menjalani pernikahan politik dengan salah seorang putra Kaisar Youning. Menariknya, sang kaisar tidak memaksakan pilihan.

Alih-alih menunjuk calon suami, ia justru memberi Shen Xihe kesempatan menentukan sendiri pangeran yang ingin dinikahinya. Baginya, kalau memang pernikahan politik tak bisa dihindari, setidaknya hubungan itu tetap diawali oleh ketertarikan dari kedua belah pihak.

Pilihan Shen Xihe pun langsung mengejutkan semua orang. Tanpa berusaha menyembunyikan niatnya, ia memilih Xiao Huayong, Putra Mahkota sekaligus pewaris takhta.

Alasannya terdengar begitu dingin dan penuh perhitungan. Sebagai calon kaisar, Xiao Huayong akan menempatkannya di posisi tertinggi sebagai ratu.

Terlebih lagi, sang Putra Mahkota mengidap penyakit kronis dan diyakini tak akan berumur panjang. Jika ramalan itu menjadi kenyataan, Shen Xihe akan menjadi Ibu Suri dengan kekuasaan yang jauh lebih besar.

Meng Ziyi sebagai Shen Xihe/ Gu Qing Zhi/ Putri Zhao Ning
Meng Ziyi sebagai Shen Xihe/ Gu Qing Zhi/ Putri Zhao Ning

Dalam lapisan cerita “Blossoms of Power,” Shen Xihe ternyata bukan satu-satunya identitas yang dimiliki tokoh ini. Meng Ziyi juga memerankan sosok Gu Qingzhi, identitas yang hampir tak diketahui siapa pun.

Hanya Raja Xin yang mengetahui masa lalunya, sementara Xiao Huayong baru menemukan rahasia itu seiring berkembangnya cerita.

Sebagai Gu Qingzhi, ia menyaksikan seluruh keluarganya, Keluarga Feng, mati dieksekusi atas perintah kaisar. Ironisnya, eksekusi itu terjadi di hadapan suaminya sendiri, Raja Xin atau Pangeran Kelima, yang tak mampu menyelamatkannya. Gu Qingzhi akhirnya bunuh diri, lalu jiwanya melebur ke dalam Shen Xihe.

Sementara itu, karakter Shen Xihe adalah putri Adipati Wei/ Shen Yueshan (diperankan Peter Ho), jenderal yang memimpin puluhan ribu pasukan di perbatasan dan menjadi salah satu pendukung paling setia Kaisar Youning.

Shen Xihe juga memiliki seorang kakak laki-laki, Shen Yunan (diperankan Zhao Zhiwei), yang tak kalah setia menjaga kehormatan keluarga Shen.

2. He Yu sebagai Xiao Huayong/ Putra Mahkota/ Pangeran Ketujuh

Sekilas, Putra Mahkota ini terlihat seperti bangsawan yang malang. Tubuhnya lemah karena diracuni sejak kecil. Kesehatannya terus memburuk, dan banyak orang di istana menganggap ia tak akan hidup cukup lama untuk naik takhta.

Hampir semua orang meremehkannya. Padahal, di balik wajah yang selalu tampak tenang itu, Xiao Huayong adalah pemain paling cerdik dalam perebutan kekuasaan.

Ia jarang bergerak terang-terangan, lebih suka menyusun langkah strategis di balik layar, membiarkan orang lain merasa menang sebelum akhirnya menyadari bahwa mereka hanya mengikuti permainan yang sudah ia rancang sejak awal.

Pertemuannya dengan Shen Xihe pun terjadi secara tidak terduga. Ia menemukan sang putri dalam keadaan sekarat setelah hanyut di sungai akibat ulah orang kepercayaannya sendiri.

Saat itu Xiao Huayong baru saja memperoleh bunga langka yang mampu menetralkan racun di tubuhnya, benda yang selama ini menjadi harapan terbesar untuk memperpanjang hidupnya. Alih-alih menyelamatkan dirinya sendiri, Xiao Huayong malah memberikan bunga itu kepada Shen Xihe.

He Yu sebagai Putra Mahkota/ Xiao Hua Yong
He Yu sebagai Putra Mahkota/ Xiao Huayong

Keputusan itu mengubah segalanya. Sejak mengetahui Shen Xihe datang ke ibu kota untuk dipersunting salah seorang putra kaisar, Xiao Huayong berjuang memenangkan hati gadis itu.

Ia tidak pernah memaksa, apalagi menggunakan statusnya sebagai Putra Mahkota. Xiao Huayong terus menunjukkan bahwa dirinya adalah orang yang paling bisa dipercaya Shen Xihe di tengah istana yang dipenuhi konflik kepentingan.

Setelah akhirnya menikah, hubungan mereka menjadi salah satu alasan terbesar aku betah mengikuti drama ini. Pernikahan mereka dibangun di atas rasa saling menghormati, bukan sekadar cinta yang menggebu-gebu.

Hal yang paling kusukai dari Xiao Huayong adalah caranya memperlakukan Shen Xihe. Meski berstatus Putra Mahkota, ia tidak pernah mengurung istrinya dalam aturan-aturan Istana Timur.

Shen Xihe tetap bebas mengambil keputusan, menjalankan rencananya sendiri, bahkan menetapkan batasan-batasan dalam pernikahan mereka, dan Xiao Huayong menghormati semuanya.

Di situlah pesona Xiao Huayong sebagai green flag benar-benar terlihat. Ia tidak berusaha memiliki Shen Xihe, melainkan memilih menjadi orang yang selalu berdiri di belakangnya, memberi ruang, mendukung setiap langkahnya, dan melindunginya tanpa pernah merenggut kebebasannya.

3. Jeremy Xu sebagai Xiao Changqing/ Raja Xin/ Pangeran Kelima

Sebagai Pangeran Kelima, Xiao Changqing dikenal cerdas, tenang, dan memiliki kemampuan politik yang membuat banyak pejabat istana menganggapnya sebagai sosok paling pantas menjadi Putra Mahkota.

Ironisnya, kesempatan itu tak pernah ia miliki. Jauh sebelum para pangeran tumbuh dewasa, Kaisar Youning sudah lebih dulu menetapkan Xiao Huayong sebagai Putra Mahkota saat masih bayi.

Keputusan itu terdengar janggal bagi banyak orang, dan alasan sebenarnya baru akan terungkap menjelang akhir cerita. Jadi, sabar dulu ya. HEHEHE.

Xiao Changqing memiliki seorang adik kandung bernama Xiao Changying atau Raja Lie (Pangeran Kesembilan). Keduanya merupakan putra Selir Rong.

Xiao Changqing/ Raja Xin/ Pangeran Kelima
Xiao Changqing/ Raja Xin/ Pangeran Kelima

Xiao Changqing menikahi Gu Qingzhi, putri dari Keluarga Feng. Namun kebahagiaan mereka tidak bertahan lama.

Suatu hari, Kaisar Youning memerintahkan agar seluruh anggota Keluarga Feng dieksekusi dengan tuduhan berkhianat kepada kekaisaran. Gu Qingzhi menjadi satu-satunya yang dibiarkan hidup.

Sayangnya, Gu Qingzhi memutuskan mengakhiri hidupnya, menyusul anggota Keluarga Feng lainnya. Xiao Changqing datang terlambat. Ia gagal melindungi perempuan yang paling dicintainya.

Sejak saat itu, rasa bersalah terus menghantuinya. Xiao Changqing meninggalkan hiruk-pikuk istana, menarik diri dari urusan pemerintahan, lalu menghabiskan lebih dari tiga tahun tinggal di kuil.

Hari demi hari diisinya dengan berdoa kepada Buddha, berharap suatu saat nanti bisa dipertemukan kembali dengan Gu Qingzhi di kehidupan berikutnya.

Xiao Changqing (kanan) dan adiknya, Xiao Changying (kiri)
Xiao Changqing (kanan) dan adiknya, Xiao Changying (kiri)

Doa itu seolah menemukan jawabannya ketika Shen Xihe muncul. Wajah Shen Xihe memang berbeda, tetapi semakin lama mengenalnya, Xiao Changqing melihat begitu banyak kemiripan dengan mendiang istrinya.

Cara berpikirnya, keteguhannya, kecerdasannya, bahkan keahliannya meracik weangian yang persis sama seperti Gu Qingzhi. Ini membuat Xiao Changqing yakin bahwa Gu Qingzhi telah kembali dalam wujud yang lain.

Keyakinan itulah yang mendorongnya meninggalkan kuil. Ia kembali ke istana bukan demi kekuasaan, melainkan demi menjadikan Shen Xihe sebagai istrinya. Sayangnya, Shen Xihe justru memilih Xiao Huayong, Putra Mahkota.

4. Lai Weiming sebagai Xiao Changying/ Raja Lie/ Pangeran Kesembilan

Sebagai putra bungsu kaisar, Xiao Changying lebih banyak menghabiskan hidup di medan perang daripada di balik tembok istana.

Xiao Changying merupakan jenderal yang menjaga wilayah perbatasan Kekaisaran Xing. Keberaniannya sudah dikenal luas, dan hampir setiap peperangan yang dipimpinnya berakhir dengan kemenangan.

Lantaran lama bertugas di perbatasan itulah ia mengenal Shen Xihe jauh sebelum Putra Mahkota maupun Xiao Changqing, kakak laki-lakinya mengenal gadis itu. Hubungan mereka pun terjalin cukup dekat, apalagi Shen Xihe pernah menyelamatkan nyawanya.

Xiao Changying/ Raja Lie/ Pangeran Kesembilan
Xiao Changying/ Raja Lie/ Pangeran Kesembilan

Utang nyawa dan rasa kagum Xiao Changying pada Shen Xihe perlahan berubah menjadi cinta. Laki-laki itu tidak pernah menyembunyikan perasaannya.

Ia beberapa kali mengutarakannya secara langsung kepada Shen Xihe. Namun, cintanya tak pernah benar-benar mendapat balasan.

Situasi makin rumit ketika Xiao Changying mengetahui bahwa Putra Mahkota bahkan kakak laki-laki yang sangat dihormati sekaligus paling ia sayangi, ternyata mencintai perempuan yang sama.

Sejak Shen Xihe menikah dengan Putra Mahkota, Xiao Changying sadar dirinya sudah tidak memiliki kesempatan. Meski begitu, ia tidak pernah membiarkan kecewa berubah menjadi iri atau dendam.

Bagiku, inilah pesona karakter ini. Sebagai penonton, aku benar-benar jatuh hati pada Xiao Changying. Selain parasnya tampan, aku kagum karena integritasnya. Di tengah perebutan takhta yang penuh tipu daya, ia tetap menjadi sosok yang lurus. Ia tahu kapan harus mengesampingkan perasaan pribadi demi kepentingan negara dan keluarganya.

Bahkan setelah gagal mendapatkan Shen Xihe, ia tidak pernah berusaha memaksakan takdir. Sang kaisar beberapa kali mencoba menjodohkannya dengan putri-putri dari berbagai wilayah, tetapi semuanya ia tolak.

Alasannya sederhana sekaligus menyakitkan, ia lebih memilih hidup sendiri daripada menghabiskan sisa hidup bersama perempuan yang tidak dicintainya.

Selir Rong, ibunda Xiao Changqing dan Xiao Changying
Selir Rong, ibunda Xiao Changqing dan Xiao Changying

Kesetiaan Xiao Changying juga tidak pernah berubah. Setelah Shen Xihe menjadi Ibu Suri, ia tetap mengabdi sebagai jenderal pelindung istana. Sampai akhir cerita, ia terus mempertaruhkan nyawanya demi menjaga Kekaisaran Xing.

Xiao Changying adalah definisi karakter yang mencintai dengan tulus tanpa harus memiliki. Ia menerima kenyataan dengan lapang dada, tetap setia pada orang-orang yang dicintainya, dan tidak pernah membiarkan cintanya berubah menjadi obsesi.

Di antara begitu banyak pangeran di “Blossom of Power,” dia menurutku pantas disebut seorang kesatria.

5. Johnny Zhang sebagai Xiao Changtai/ Raja Ding/ Pangeran Keempat

Di antara semua putra Kaisar Youning, Xiao Changtai mungkin adalah sosok yang paling menyimpan luka terhadap keluarganya sendiri.

Sejak lama ia merasa tidak pernah benar-benar dianggap sebagai anak oleh sang kaisar. Baginya, keputusan kaisar mengirimnya menikah ke negeri yang selama ini bermusuhan dengan Kekaisaran Xing adalah bukti bahwa dirinya tak lebih dari bidak politik yang mudah dikorbankan.

Perempuan yang dinikahinya adalah Li Yanhui (diperankan Snow Kong), seorang putri dari kerajaan rival. Menariknya, pernikahan yang awalnya dibangun demi kepentingan diplomasi justru berubah menjadi hubungan yang tulus.

Xiao Changtai benar-benar mencintai istrinya, sesuatu yang mungkin tidak pernah ia bayangkan sebelumnya. Ironisnya, kebahagiaan itu tak berlangsung lama.

Li Yanhui, istri Xiao Changtai
Li Yanhui, istri Xiao Changtai

Kaisar Youning tetap menuntut putranya mengutamakan kepentingan Kekaisaran Xing dan tidak larut dalam perasaannya kepada sang istri.
Bagi Xiao Changtai, tuntutan itu seperti luka lama yang kembali disayat. Setelah bertahun-tahun merasa dibuang, kini bahkan kehidupan yang berhasil ia bangun sendiri pun seolah ingin direnggut.

Sejak saat itulah kesetiaannya mulai bergeser. Xiao Changtai memilih berdiri di pihak kerajaan tempat istrinya berasal, lalu perlahan menyusun langkah untuk menantang ayahnya sendiri, salah satunya membentuk grup bandit yang terus meneror wilayah-wilayah kekuasaan Xing. Ambisinya adalah merebut takhta Kekaisaran Xing dan menjadi penguasa selanjutnya.

6. Ye Zuxin sebagai Xiao Changmin/ Raja Ning/ Pangeran Kedua

Xiao Changmin atau Raja Ning adalah putra sulung Kaisar yang dikenal sangat memahami hukum. Sayangnya, kecakapannya itu justru dipakai untuk memuluskan ambisinya merebut takhta.

Ia lihai memanipulasi keadaan, mengadu domba para pejabat, hingga memanfaatkan persaingan di antara para selir demi memperkuat posisinya di istana.

Xiao Changmin/ Raja Ning/ Pangeran Kedua
Xiao Changmin/ Raja Ning/ Pangeran Kedua

Di balik kepiawaiannya berpolitik, Xiao Changmin memiliki satu kelemahan besar, yaitu perempuan. Ia gemar berganti-ganti pasangan, sesuatu yang berkali-kali dimanfaatkan lawan maupun menjadi bumerang bagi dirinya sendiri.

Bersama istri dan haremnya itu, ia juga tak segan menyingkirkan orang-orang yang setia kepada Putra Mahkota. Shen Xihe pun beberapa kali menjadi sasaran intrik mereka.

Review “Blossoms of Power”

Seperti yang kutulis di awal tadi, alasan terbesarku mengikuti “Blossoms of Power” sampai sekarang karena dua karakter utamanya.

Aku cukup sering menemukan drama china yang terus-menerus mengatakan tokohnya jenius, tetapi penonton tidak pernah benar-benar melihat kecerdasan itu bekerja. Semua orang di sekitar mereka hanya sibuk memuji.

Beda sama “Blossoms of Power,” Shen Xihe dan Xiao Huayong memang sama-sama cerdas, dan itu benar-benar terlihat lewat cara mereka mengambil keputusan. Mereka jarang bereaksi spontan. Hampir setiap percakapan mereka memiliki lapisan makna lain, seolah masing-masing sedang menguji lawan bicaranya.

Kadang aku malah lebih menikmati dialog mereka daripada adegan aksinya. Cukup jarang terjadi di drama china berlatar sejarah yang kebanyakan kutonton.

Hubungan keduanya juga unik. Karakter He Yu dan Meng Ziyi di serial ini berada di level yang hampir setara. Persis seperti lagi nonton dua pemain catur yang sama-sama tahu langkah berikutnya, tetapi tetap berusaha menyembunyikan strategi masing-masing. Percayalah, interaksi seperti ini selalu menyenangkan untuk ditonton.

Male Lead dan Female Lead Setara

“Blossoms of Power” ini tidak perlu effort banyak untuk meyakinkan penonton bahwa Shen Xihe ini perempuan tangguh. Tanpa dialog berulang-ulang, atau adegan-adegan hebat, karakter tangguhnya itu muncul secara alami.

Contohnya, dia ini tenang banget, jarang kehilangan kendali. Bahkan ketika sedang menghadapi situasi genting, ekspresinya nyaris tidak berubah. Begitulah daya tariknya.

Shen Xihe tangguh bukan karena paling jago bertarung, melainkan karena tahu kapan harus bergerak dan kapan harus menunggu. Ia lebih sering menggunakan strategi daripada kekuatan fisik. Banyak keputusan yang diambilnya terkesan dingin, bahkan kadang kejam, tetapi masih masuk akal jika melihat latar belakang hidupnya.

Meng Ziyi menurutku cukup cocok memerankan karakter seperti ini. Ekspresinya memang tidak terlalu banyak berubah dari dulu ya, mau drama modern atau pun kostum. Hehehe. Kudengar, sebagian penonton bilang aktingnya kurang hidup. Tapi menurutku, untuk karakter yang selalu menahan emosi seperti Shen Xihe ini, Meng Ziyi pas memerankannya.

Meski begitu, aku juga mengerti kritik yang mengatakan bahwa penampilannya mulai terasa familiar. Kalau mengikuti drama-drama Meng Ziyi beberapa tahun terakhir, styling-nya memang tidak banyak berubah. Gaya rambut, riasan, bahkan aura karakternya masih mengingatkanku pada beberapa peran sebelumnya. Cantik, iya, tapi belum benar-benar memberi kejutan.

Kalau Meng Ziyi berhasil membuat Shen Xihe terkesan misterius, He Yu membuat Xiao Huayong nyaris mustahil untuk tidak disukai. Thanks God, serial ini benar-benar selamat karena He Yu.

Xiao Huayong bukan tipe putra mahkota yang selalu tampil berwibawa. Di depan orang lain ia santai, kadang usil, bahkan sering terlihat seperti masa bodoh sama urusan politik. Tapi… begitu situasinya berubah, wajah yang sama bisa langsung memancarkan kesan dingin dan penuh perhitungan. Perubahan itu dimainkan He Yu dengan sangat halus. 

Aku paling suka adegan-adegan romantisnya. He Yu kalo flirting ke Shen Xihe yang mukanya merah malah penonton. Meninggoyyyy……!!! Tatapan matanya lebih tajam ketimbang kata-katanya.

Harus diakui, faktor utama yang membuat “Blossoms of Power” tetap seru diikuti adalah chemistry pasangan utamanya. Shen Xihe dan Xiao Huayong ini kayak saling tarik ulur, saling menguji, saling menyembunyikan niat, kadang bekerja sama, kadang saling curiga.

Memang sih di awal agak gimanaaa gitu kesannya, sebab menurutku Xiao Huayong ini terlalu cepat bisa sebucin itu sama Shen Xihe. Bayangkan, dia rela ngasih satu-satunya harapan untuk menawar racunnya, berupa bunga sakti, untuk menyembuhkan Shen Xihe yang waktu itu terdampar di pinggir sungai.

Konsep cinta pada pandangan pertama sih tidak masalah sebenarnya. Cuma ya… menurutku kurang pas aja prosesnya. Baru episode pertama loh, penonton belum punya cukup riang untuk ikut memahami mengapa Xiao Huayong bisa begitu terikat pada Shen Xihe hanya dalam waktu singkat.

Untungnya chemistry He Yu dan Meng Ziyi di “Blossoms of Power” ini cukup kuat untuk menutupi kekurangan itu. Bisa dibilang, aku sangat menikmati interaksi mereka sebagai pasangan meski logika ceritanya sedang goyah.

Menurutku hubungan mereka pasti bakal jauh lebih kuat seandainya penulis memberi waktu lebih banyak untuk membangun fondasi emosional di awal cerita. Chemistry mereka sudah ada. Tinggal naskahnya saja yang seharusnya sedikit lebih sabar membiarkan hubungan itu tumbuh.

Putra Mahkota dan Putri Zhao Ning di Blossom of Power
Putra Mahkota dan Putri Zhao Ning di Blossom of Power

Chemistry He Yu dan Meng Ziyi

He Yu dan Meng Ziyi berhasil membangun chemistry. Hubungan mereka tumbuh lewat permainan strategi, saling membaca pikiran, dan kepercayaan yang perlahan dibangun.

Aku suka bagaimana mereka tidak pernah benar-benar menjadi pasangan yang “lengket.” Keduanya sama-sama cerdas, sama-sama keras kepala, dan sama-sama punya agenda masing-masing.

Tarik-ulur itulah yang membuat hubungan mereka makin bikin geretan. Setiap percakapan seperti permainan catur. Tidak ada kalimat yang benar-benar diucapkan tanpa maksud.

He Yu juga berhasil menghadirkan Xiao Huayong sebagai Putra Mahkota yang unik. Di depan orang lain, ia tampak lemah, sakit-sakitan, bahkan nyaris tidak berbahaya.

Namun begitu berhadapan dengan Shen Xihe, sisi lain dirinya perlahan muncul. Ia bisa jahil, posesif dalam kadar yang pas, kadang sengaja menggoda, tetapi tetap menghormati batas yang dibuat perempuan yang dicintainya.

Sementara Meng Ziyi membuat Shen Xihe tidak pernah menjadi perempuan yang hanya menunggu diselamatkan. Shen Xihe selalu punya rencana, berani mengambil keputusan sendiri, bahkan beberapa kali justru menjadi orang yang menyelamatkan Xiao Huayong.

Hubungan mereka benar-benar setara. Tidak ada yang terus-menerus menjadi penyelamat. Tidak ada pula yang hanya menjadi beban. Keduanya saling melengkapi.

Chemistry He Yu dan Meng Ziyi pas
Chemistry He Yu dan Meng Ziyi pas

Adegan-adegan Menarik

Adegan favoritku terjadi pada momen-momen sederhana yang diam-diam memperlihatkan bagaimana hubungan mereka berkembang.

Salah satunya tentu saja adegan setelah mereka menikah, ketika Shen Xihe memasang seutas tali kecil dengan lonceng sebagai pembatas di atas tempat tidur.

Aturannya adalah Xiao Huayong tidak boleh melewati garis itu. Kalau nekat, loncengnya akan berbunyi. Adegan ini lucu sekali.

Xiao Huayong yang selama ini begitu cerdas mendadak seperti anak kecil yang penasaran. Ekspresi He Yu benar-benar menggemaskan ketika ia berkali-kali melirik pembatas itu, seolah sedang memikirkan berbagai cara untuk “mencurangi” aturan sang istri.

Salah satu scene romantis "Blossom of Power"
Salah satu scene romantis “Blossom of Power”

Aku juga sangat menyukai adegan ketika Xiao Huayong diam-diam menghampiri Shen Xihe yang sedang berendam, juga adegan ketika Shen Xihe berusaha meringankan rasa sakit tubuh suaminya dengan berendam bersama.

Adegan itu sebenarnya bisa saja dibuat sangat dramatis dan romantis. Namun sutradara memilih tidak menonjolkan sensualitasnya, melainkan rasa malu, godaan kecil, dan dinamika pasangan yang mulai belajar hidup bersama.

He Yu dan Meng Ziyi memainkan adegan itu dengan sangat natural sehingga penonton ikut tersenyum, bukan merasa canggung.

Putra Mahkota dan Kaisar Youning
Putra Mahkota dan Kaisar Youning

Satu adegan yang paling membekas, buat aku, adalah detik-detik terakhir Xiao Huayong menjelang kematiannya. Dalam kondisi tubuh yang semakin melemah usai tertusuk pedang saat menyelamatkan sang ayah, ia berbicara kepada Kaisar Youning layaknya ayah dan anak.

Tidak ada permintaan agar takhta diberikan kepadanya. Tidak ada ambisi untuk dikenang sebagai penguasa terbesar.

Ia hanya memikirkan dua orang, yaitu istrinya, dan anak yang bahkan belum sempat ia besarkan. Semua permohonannya kepada sang kaisar hanya berkisar pada perlindungan keluarganya.

He Yu memberikan penampilan terbaiknya sepanjang drama. Emosinya menghantam. Kita melihat seorang Putra Mahkota yang sepanjang hidupnya sibuk memikirkan kerajaan, tetapi di akhir hayatnya hanya ingin memastikan istri dan anaknya bisa hidup dengan aman.

Inilah kenapa Shen Xihe akhirnya mencintai Xiao Huayong sepenuh hati. Xiao Huayong tetaplah seorang suami yang, sampai napas terakhirnya, lebih mengkhawatirkan keselamatan keluarganya daripada dirinya sendiri.

Politik Menarik, tapi Kebanyakan Drama Keluarga

Menurutku, konflik politik di Blossom of Power sebenarnya tidak terlalu luas. Musuh terbesar dalam cerita ini bukan kerajaan lain atau pemberontak dari luar, melainkan keluarga kekaisaran itu sendiri.

Semakin lama menonton, semua konflik bermuara pada hal yang sangat manusiawi, yaitu kesalahpahaman yang dibiarkan berlarut-larut. Akar persoalannya ada pada Kaisar Youning dan Ibu Suri Meng.

Banyak penonton mungkin mengira Kaisar Youning adalah penguasa sah Kekaisaran Xing sejak awal. Tidak demikian ya.

Takhta itu semula milik Kaisar Qian, putra kandung Ibu Suri Meng, yang gugur di medan perang ketika mempertahankan negeri.

Kaisar Qian, diperankan Gao Weiguang
Kaisar Qian, diperankan Gao Weiguang

Sepeninggal Kaisar Qian, Youning, yang merupakan putra dari seorang selir, naik menggantikannya. Di mata Ibu Suri, keputusan itu tidak pernah benar-benar bisa diterima.

Ia percaya putranya meninggal karena Youning tidak membuka gerbang ibu kota ketika pasukan Kaisar Qian terdesak musuh. Sejak saat itu, diam-diam hati Ibu Suri Meng dipenuhi kecurigaan serta kebencian yang tak pernah benar-benar selesai pada Youning.

Ia menyusun sejuta cara licik untuk membuat anak-anak Kaisar Youning bercerai-berai. Dan kalian tahu? Ibu Suri inilah sosok yang meracuni Putra Mahkota, tanpa benar-benar ia sadari bahwa Putra Mahkota itu benar-benar cucu kandungnya, anak dari Kaisar Qian.

Ibu Suri Meng
Ibu Suri Meng

Sejak awal, Kaisar Youning memilih memendam kebenaran. Ia tidak pernah menjelaskan bahwa keputusan menutup gerbang istana bukanlah inisiatifnya sendiri. Justru Kaisar Qian-lah yang memerintahkannya. Alasannya, apabila gerbang dibuka, musuh akan langsung memasuki ibu kota dan ribuan rakyat sipil menjadi korban.

Masih ada satu rahasia lain yang jauh lebih besar. Selama bertahun-tahun, Kaisar Youning menyembunyikan identitas asli Putra Mahkota.

Xiao Huayong ternyata bukan putra kandungnya, melainkan anak Kaisar Qian yang lahir di tengah peperangan. Rahasia itu sengaja disimpan demi melindungi sang keponakan dari perebutan kekuasaan yang bisa mengancam nyawanya.

Ironisnya, keputusan yang semula dimaksudkan untuk melindungi justru melahirkan kesalahpahaman baru. Ibu Suri menganggap Youning merebut takhta dan mengkhianati keluarga, sementara Youning memilih memikul semua tuduhan seorang diri daripada membocorkan rahasia yang dapat membahayakan Putra Mahkota.

Di balik semua intrik istana pada masa lalu, Kaisar Youning sebenarnya adalah sosok yang paling setia kepada mendiang kakaknya. Ia bahkan memperlakukan Xiao Huayong dengan kasih sayang yang jauh lebih besar dibanding putra-putra kandungnya sendiri.

Semua itu ia lakukan demi memenuhi janji yang pernah diucapkannya kepada Kaisar Qian sebelum sang kakak mengembuskan napas terakhir.

Serial Bertabur Visual

Harus diakui, “Blossoms of Power” benar-benar pesta visual. Deretan pangerannya bikin mata segar, apalagi masing-masing punya pesonanya sendiri.

Awalnya aku mengira mereka semua akan memainkan peran besar dalam perebutan takhta. Namun setelah masuk episode belasan, rasanya konflik politik mulai kehilangan taring. Akhirnya, hampir semua jalan cerita kembali mengarah pada hubungan Shen Xihe dan Xiao Huayong, sementara intrik istana lebih sering menjadi pelengkap daripada pusat cerita.

Blossom of Power bertabur visual
Blossom of Power bertabur visual

Makin lama menonton, aku malah jadi ketawa sendiri. Di Blossom of Power, hampir semua konspirasi terasa seperti punya tujuan yang sama. Pokoknya Shen Xihe dan Xiao Huayong harus ketemu lagi. HAHAHA.

Makanya menurutku drama ini jangan diperlakukan sebagai political thriller. Lebih tepat kalau disebut drama romansa yang kebetulan berlatar perebutan takhta.

Begitu ekspektasinya disetel seperti itu, ceritanya justru jauh lebih nikmat dinikmati. Politiknya cukup menarik untuk menggerakkan alur, sementara romansa kedua tokohnya tetap menjadi pusat perhatian.

Konsep Rebirth yang Disia-siakan

Konsep rebirth yang menjadi premis drama china ini keren loh sebenarnya. Siapa yang sudah pernah nonton “In Blossom” yang diperankan Ju Jingyi dan Liu Xueyi pasti tahu maksudku.

Gu Qingzhi terbangun dalam tubuh Shen Xihe. Premis seperti ini sebenarnya membuka banyak kemungkinan. Aku sempat berharap drama akan mengeksplorasi konflik identitasnya, misalnya gimana karakter perempuan hidup dengan wajah orang lain, beradaptasi dengan keluarga yang baru, atau menghadapi ingatan yang bukan sepenuhnya miliknya.

Sayangnya semua itu hanya disentuh sekilas. Begitu cerita berjalan, unsur rebirth cuma menjadi pintu masuk menuju konflik utama daripada tema yang benar-benar ingin dibahas. Shen Xihe menerima kehidupan barunya nyaris tanpa pergolakan batin yang berarti, sehingga lapisan emosional dari premis tersebut perlahan menghilang.

Bukan berarti konsepnya gagal. Hanya saja rasanya masih ada ruang yang bisa digali lebih dalam. Andai “Blossom of Power” ini memberi lebih banyak waktu untuk mengeksplorasi sisi psikologisnya, karakter Shen Xihe mungkin bakal lebih seru dan jauh lebih kompleks.

Cantiknya Meng Ziyi sebagai Putri Zhao Ning
Cantiknya Meng Ziyi sebagai Putri Zhao Ning

Banyak Karakter Perempuan Hebat

Di antara sekian kekurangan “Blossom of Power,” ada yang benar-benar layak diapresiasi, yaitu beberapa karakter perempuan hebat dalam serial ini.

Drama ini tidak memperlakukan karakter perempuan sebagai pelengkap cerita. Ada tabib perempuan yang juga mampu melindungi orang lain. Dia adalah Mo Yu (diperankan Jiang Yishuan).

Ada pewaris keluarga bangsawan yang aktif bermain dalam percaturan politik. Dia adalah Bu Shulin (diperankan Fan Shuaiqi) yang terpaksa menyamar sebagai laki-laki demi bisa berkelana kemana-mana dan memimpin ribua pasukan di wilayahnya.

Ada perempuan-perempuan di istana selir dengan ambisi, pendapat, dan tujuan hidupnya sendiri. Mereka memang tidak selalu berada di pihak Shen Xihe, tetapi keberadaan mereka tidak semata-mata untuk menjadi rival cinta.

Inilah yang kemudian membuat dunia “Blossom of Power” lebih hidup. Ya senang saja rasanya melihat banyak karakter perempuan di drama sejarah punya ruang untuk menjadi manusia yang utuh, bukan sebatas karakter pendukung bagi perjalanan sang pemeran utama.

Satu pesanku sebelum menutup review ini… Jangan drop di tengah jalan. Serius.

Aku tahu fase belasan sampai dua puluhan episode memang membuat kesabaranku ikut diuji. Tapi begitu masuk episode 29, aku langsung paham kenapa banyak hal sengaja ditahan sejak awal.

Jadi, tahan sedikit lagi. Enam atau tujuh episode terakhir benar-benar mengubah cara pandangku terhadap drama ini. Barangkali kamu juga.

Certified author (BNSP), eks-jurnalis ekonomi dan lingkungan. Kini menjadi full-time mom yang juga berkarya sebagai novelis, blogger, dan content writer. Founder Rimbawan Menulis (Rimbalis), komunitas yang aktif mengeksplorasi dunia literasi dan isu-isu lingkungan.

Share:

Leave a Comment