Kalau melihat daftar genrenya, The Road to Splendor punya hampir semua bahan menarik dari sebuah drama China sejarah. Di sana ada romance, intrik keluarga, politik istana, perdagangan garam, adegan laga, sampai perjalanan panjang dari kehidupan rakyat biasa menuju pusat kekuasaan.
Tapi menurutku, menontonnya hanya sebagai kisah cinta antara Zhao Ling dan Fu Tingyun malah rugi, tahu! Soalnya itu berarti kamu “mengabaikan” bagian paling menariknya.
Drama We TV yang dibintangi Ding Yuxi sebagai Zhao Ling dan Deng Enxi sebagai Fu Tingyun ini sebenarnya bercerita tentang dua orang yang sama-sama berusaha mengambil kembali kendali atas hidup mereka. Masalahnya, mereka hidup di zaman ketika pilihan hidup seseorang bisa dengan mudah ditentukan keluarga, status sosial, uang, bahkan politik.
Jadi, jalan yang harus mereka tempuh memang panjang. Makanya judul series-nya tuh The Road to Splendor.
Sinopsis The Road to Splendor
Drama China ini terdiri dari 36 episode dan diadaptasi dari novel karya Zhi Zhi. Ceritanya mempertemukan Zhao Ling, seorang pedagang garam ilegal dari kalangan bawah, dengan Fu Tingyun, nona muda keluarga terpandang yang hidupnya berantakan setelah dijebak dalam sebuah skandal.
Deng Enxi sebagai Fu Tingyun
Fu Tingyun adalah nona muda kesembilan keluarga Fu di Kota Huaying. Ia tumbuh di keluarga terpandang yang sangat menjaga nama baik, tata krama, dan kedudukan sosial mereka.
Suatu hari, Tingyun dijodohkan dengan Yu Jingxiu, putra Nyonya Yu dari keluarga bangsawan. Akan tetapi, Nyonya Yu sempat berubah pikiran dan lebih tertarik putranya menikah dengan Fan Yake, diperankan Fan Shiran, yang tak lain adalah sahabat Tingyun.

Tingyun menerima keputusan Nyonya Fu. Di matanya, melihat sahabatnya bahagia, juga merupakan kebahagiaan lain. Sang nenek, yaitu Nyonya Besar Fu, diperankan Chi Peng, berjanji akan mencarikan laki-laki terbaik untuk Tingyun.

Tiba-tiba di tengah jalan, Nyonya Yu berubah pikiran. Ia malah ingin menikahkan kembali putranya dengan Tingyun, lantaran melihat Tingyun hendak dilamar oleh Zhao Ling, diperankan Ding Yuxi, yang kala itu menyamar sebagai putra dari Inspektur Pengawas Garam dari Kota Liangzhe.
Sikap Nyonya Yu tentu saja membuat sedih Fan Yake. Ia pun sakit hati dan menaruh dendam pada Tingyun.
Keluarga Fu menggunakan perempuan sebagai alat tawar menawar supaya dekat dengan penguasa. Selama nama keluarga tetap bersih, siapa pun bisa menjadi alat juga korban tanpa pandang bulu.
Tingyun merasakan sendiri akibatnya. Belum lagi menikah ke Keluarga Yu, ia dijebak dan dituduh berzina dan memiliki hubungan tidak pantas dengan kakak sepupunya. Tuduhan itu cukup untuk menghancurkan reputasinya.
Sebab reputasi perempuan pada masa tersebut berkaitan erat dengan kehormatan keluarga, posisi Tingyun menjadi sangat berbahaya. Situasinya semakin pahit lantaran Fan Yake, sahabat yang seharusnya berdiri di sisinya tidak membelanya, bahkan turut memfitnahnya sebagai sumber masalah.
Tingyun tidak diberi banyak ruang untuk membela diri. Masa depannya dikorbankan dan sebagai hukuman, dia dikirim ke Kuil Biyun untuk diasingkan seumur hidupnya.
Keluarga Fu memiliki gapura kehormatan, yang menjadi simbol status dan “kebajikan” perempuan-perempuan dalam keluarga tersebut. Itu berarti ada harga yang harus dibayar untuk mempertahankan simbol itu, dan sering kali yang membayarnya adalah perempuan.
Tingyun akhirnya berada dalam keadaan di mana kematian dirinya dianggap sebagai jalan keluar yang paling masuk akal bagi keluarga. Nyonya Tua Keluarga Fu, menginginkan kematian Tingyun di Kuil Biyun demi menjaga maruah keluarga.
Tingyun “dipaksa” minum racun. Untungnya, upaya mereka gagal. Orang yang muncul sebagai dewa pelindung dalam hidupnya adalah Zhao Ling.

Ding Yuxi sebagai Zhao Ling
Zhao Ling adalah seorang pedagang garam ilegal yang ternyata tidak puas hidup di bawah. Ia jelas bukan tipe pria yang biasanya ditempatkan sebagai pasangan nona bangsawan.
Ia bukan pangeran, bukan putra pejabat, apalagi pewaris keluarga besar. Hidupnya dibangun dari keberanian, akal cepat, koneksi, dan kemampuan membaca keadaan.
Zhao Ling tahu bagaimana caranya bertahan ketika aturan resmi justru tidak memberi banyak ruang untuk orang seperti dirinya.
Mula-mula ia memang mau masuk ke keluarga Fu dan bersanding dengan salah satu putri di sana sehingga statusnya bisa lebih aman.
Ia menyamar sebagai utusan kekaisaran untuk menyelidiki sindikat Naga Air Ekor Sembilan, penyelundup garam ilegal yang terkenal. Padahal, Naga Air Ekor Sembilan itu adalah dirinya sendiri.
Zhao Ling mengaku putra dari seorang Inspektur Pengawas Garam dari Kota Liangzhe yang juga duda yang istri serta anaknya sudah meninggal dunia.
Ia berkenalan dengan Fu Tingzhuo (diperankan Li Xinze), kakak laki-laki Tingyuan, dan dari sanalah ia masuk ke Keluarga Fu. Nyonya Besar Fu pun berniat menjodohkan Tingyun dengan Zhao Ling. Namun, niat tersebut batal lantaran tawaran dari putra Nyonya Yu lebih menarik.
Setelah mengetahui bahwa Tinyun diracuni oleh neneknya sendiri, Zhao Ling tidak tinggal diam. Ia menyelamatkan nyawa gadis itu, bahkan bersedia menikahi Tingyun demi mengembalikan nama baiknya di Keluarga Fu. Dinamika hubungan mereka pun dimulai sejak itu.
Zhao Ling punya karakter yang sangat berbeda dari Tingyun. Tingyun dibesarkan di rumah besar, dengan tata krama, pendidikan, dan berbagai aturan yang mengatur hampir setiap geraknya.
Zhao Ling belajar tentang dunia dari jalanan. Ia terbiasa menghadapi risiko dan tahu bahwa salah mengambil keputusan bisa berakibat fatal.
Ketika keduanya bertemu, Zhao Ling dan Tingyun mulai menyadari bahwa mereka punya sesuatu yang bisa ditawarkan satu sama lain.
Tingyun punya pengetahuan dan kemampuan membaca permainan sosial. Zhao Ling punya keberanian dan pengalaman menghadapi dunia nyata.
Tingyun lebih suka menghitung beberapa langkah ke depan, sedangkan Zhao Ling terbiasa bergerak cepat ketika kesempatan muncul. Keduanya pun belajar bekerja sama.
Menariknya, kerja sama ini tidak langsung mengubah perbedaan itu menjadi chemistry romantis. Zhao Ling dan Tingyun mula-mula bepergian bersama, menyusun rencana, menghadapi ancaman, dan beberapa kali harus mempercayakan keselamatan masing-masing kepada orang yang awalnya sama sekali tidak mereka kenal.
Jadi, sebelum ada cinta, mereka terlebih dahulu menemukan kepercayaan. Pernikahan mereka awalnya hanya dimulai dari kebutuhan, bagian dari strategi mereka untuk bertahan hidup. Barulah hubungan setelah itu semakin masuk akal.

Menikah bukan karena Cinta
Pernikahan Zhao Ling dan Fu Tingyun tidak langsung menjadikan mereka pasangan romantis. Bagaimana pun, keduanya menikah dalam situasi terpaksa. Mereka tidak punya alasan untuk saling menyukai sejak awal.
Tingyun membutuhkan seseorang yang bisa membantunya bertahan hidup, sementara Zhao Ling melihat bahwa perempuan yang ada di hadapannya punya kemampuan dan pengetahuan untuk membantunya menghadapi dunia.
Bayangkan dua orang asing dari dunia yang sama sekali berbeda tiba-tiba harus hidup berdampingan dalam situasi yang tidak aman.
Mereka harus membuat keputusan bersama, menyusun rencana, mengatur kebutuhan sehari-hari, menghadapi ancaman, dan perlahan-lahan belajar bahwa orang di sebelah mereka mungkin memang bisa dipercaya.
Cinta pun tumbuh dari pengalaman semacam itu. Zhao Ling mulai melihat bahwa Tingyun bukan perempuan manja yang hanya bisa hidup nyaman di rumah keluarganya.
Di luar lingkungan tersebut, Tingyun justru menunjukkan kecerdasan dan daya tahan yang tidak ia sangka.
Begitu juga Tingyun. Ia akhirnya memahami bahwa Zhao Ling bukanlah laki-laki kasar yang hidup dari berdagang garam ilegal. Di balik caranya yang spontan, ada perhitungan, ambisi, dan prinsip yang membuatnya jauh lebih kompleks.
Mereka sama-sama keras kepala dan sama-sama punya keinginan sendiri. Semakin lama bersama, semakin jelas bahwa keduanya memang saling melengkapi.
Dunia Tingyun menjadi jauh lebih besar setelah ia meninggalkan keluarga Fu. Perjalanan Tingyun bersama Zhao Ling juga menjadi semacam proses membuka mata.
Sebelumnya, dunia Tingyun sangat teratur. Ikut agenda keluarga, bergaul berdasarkan kelas sosial, menjaga reputasi, pernikahan yang diatur, dan lengkap dengan segudang aturan tentang bagaimana seorang perempuan seharusnya bersikap.
Begitu semuanya runtuh, ia dipaksa melihat kehidupan dari sisi yang berbeda. Ia bertemu orang biasa, mengenal dunia perdagangan, memahami risiko yang sebelumnya tidak pernah perlu ia pikirkan.
Perlahan menyadari bahwa banyak persoalan di luar sana tidak bisa diselesaikan hanya dengan mengikuti aturan yang sudah ditentukan.
Zhao Ling pun mengalami perkembangan karakter. Sejak awal, ia memang punya ambisi untuk naik kelas.
Ia tidak ingin selamanya menjadi pedagang garam ilegal yang hidup di pinggir sistem. Namun ketika langkahnya mulai membawanya ke lingkungan militer, pemerintahan, hingga istana, taruhannya ikut berubah.
Ini yang membuat perjalanan Zhao Ling menarik. Kenaikan statusnya tidak terasa seperti hadiah untuk seorang tokoh utama. Semakin tinggi posisinya, semakin banyak hal yang harus ia pertimbangkan.
Ketika masih hidup di bawah, ia bisa mengambil keputusan lebih bebas. Setelah masuk ke dunia kekuasaan, satu keputusan bisa berdampak pada banyak orang. Ia harus belajar menghadapi orang-orang yang memiliki pengaruh jauh lebih besar daripada dirinya.

Kenapa Harus Garam?
The Road to Splendor berlatar zaman Dinasti Ming. Pada era ini, garam merupakan sumber pemasukan negara paling penting.
Pada masa Ming, negara mengatur penuh produksi, izin, distribusi, dan wilayah penjualan garam lantaran merupakan kebutuhan sehari-hari sekaligus sumber pemasukan sangat penting bagi pemerintah.
Sistem ini bahkan pernah dipakai untuk mendorong pedagang mengirimkan gandum ke garnisun perbatasan dengan imbalan hak mengambil garam. Karena itu, penyelundupan garam sebenarnya berarti melewati salah satu jalur pemasukan negara.
Zhao Ling, sebagai penyelundup garam, berada dalam lingkaran setan ini. Sementara itu, Tingyun dari Keluarga Fu, salah satu keluarga bangsawan yang merupakan salah satu penguasa jalur perdagangan garam dalam cerita.
Logikanya, semakin besar jaringan penyelundupan garam ilegal, semakin besar pula uang yang berputar di luar pengawasan pemerintah. Ujung-ujungnya, kepentingan politik bermain di sini.
Itulah sebabnya posisi Zhao Ling sebagai pedagang garam ilegal sebenarnya menempatkannya di tengah jaringan kepentingan yang jauh lebih besar.
Di belakang perdagangan tersebut ada banyak orang yang punya kepentingan masing-masing. Ada pejabat yang ingin mempertahankan posisi, pedagang yang ingin memperbesar keuntungan, kelompok-kelompok yang ingin menguasai jalur perdagangan.
Tak kalah penting, ada pula orang-orang yang melihat kekacauan sebagai kesempatan untuk memperbesar kekuasaan.
Kenapa negara begitu ngotot menguasai garam?
Alasan pertama, tentu saja uang. Monopoli garam pada dasarnya adalah cara negara mendapatkan pemasukan tanpa harus memungut pajak langsung dari setiap orang.
Negara mengendalikan harga atau distribusinya, lalu mengambil selisih atau pungutan dari sistem tersebut. Semacam quasi-tax, atau pajak tidak langsung.
Negara mengendalikan harga atau distribusinya, lalu mengambil selisih atau pungutan dari sistem tersebut. Jadi, rakyat membeli garam dari pemerintah. Di luar itu, dianggap membangkang.
Kedua, garam dikonsumsi semua lapisan masyarakat. Mulai dari petani, pedagang, tentara, orang dewasa, orang miskin, sampai orang kaya, pasti makan garam.
Karena konsumsi dasarnya relatif dapat diperkirakan, pemerintah bisa memperkirakan pemasukan dari sektor tersebut lebih mudah dibandingkan komoditas yang sangat tergantung tren.
Ketiga, negara membutuhkan uang untuk mempertahankan negara. Dalam cerita The Road to Splendor, garam masuk ke wilayah logistik, persenjataan, pembangunan pertahanan, hingga bikrokrasi kerajaan. Itulah mengapa penyelundupan garam bisa dianggap bukan sekadar kejahatan ekonomi. Dalam konteks tertentu, ia menyentuh kepentingan negara secara langsung.
Dari sinilah cerita The Road to Splendor perlahan melebar. Apa yang awalnya terlihat seperti urusan perdagangan garam ternyata berhubungan dengan korupsi dan politik.

Review The Road to Splendor
Ini salah satu hal yang menurutku membuat The Road to Splendor menarik. Drama ini tidak perlu berkhotbah panjang tentang betapa buruknya sistem feodal masa itu. Kita cukup melihat bagaimana orang-orang di dalam sistem tersebut bertindak.
Mereka bahkan tidak merasa sedang melakukan sesuatu yang kejam terhadap perempuan. Bagi mereka, begitulah seharusnya dunia berjalan.
Aku suka karena konflik politiknya juga punya konsekuensi terhadap kehidupan karakter. Satu keputusan pejabat bisa mengubah nasib sebuah keluarga. Satu tuduhan bisa menghancurkan seseorang. Satu koneksi politik bisa mengangkat orang dari bawah.
Sebaliknya, satu kesalahan saja bisa membuat posisi yang dibangun bertahun-tahun berada di ujung tanduk.
Akting Ding Yuxi sebagai Zhao Ling
Ding Yuxi sebagai Zhao Ling cukup bikin aku penasaran awalnya. Karakter ini punya energi yang berbeda dari karakter pria tenang dan reserved yang sering kita lihat dalam drama romantis.
Sebagai c-drama lovers yang cukup sering ngikutin serial-serialnya Ding Yuxi, aku sama sekali enggak ragu sama aktingnya. Apalagi ini bukan kali pertama dia couple-an sama Deng Enxi.
Zhao Ling ini lebih kasar, spontan, dan berani mengambil risiko. Ia terbiasa hidup tanpa jaring pengaman, tetapi ia bukan orang yang asal nekat.
Kecerdasannya terlihat dari caranya membaca keadaan. Ia tahu kapan harus mundur, kapan harus berbohong, dan kapan harus mengambil kesempatan.
Perubahan Zhao Ling sepanjang cerita sangat menarik. Ketika ia masih menjadi pedagang garam ilegal, cara bergeraknya lebih bebas. Setelah masuk ke dunia kekuasaan, semuanya berubah. Ia harus belajar mengendalikan ekspresi, memilih kata, dan mempertimbangkan akibat dari setiap keputusan.
Menurutku, bagian inilah yang menjadi tantangan terbesar Ding Yuxi. Beberapa momen bikin aku masih bisa merasakan “Ding Yuxi”-nya. Gesture tertentu, cara berdiri, atau ekspresi tertentu kadang kesannya terlalu polished untuk seseorang yang seharusnya tumbuh dari lingkungan keras.
Kadang aku merasa sedang melihat aktor tampan yang sedang berusaha terlihat kasar, bukan karakter kasar yang kebetulan diperankan aktor tampan. Ini mungkin cuma kritik kecil dariku sebagai penonton di beberapa episode pertama, sebab semakin cerita berjalan dan episodenya bertambah, Ding Yuxi makin berhasil menangkap perubahan Zhao Ling.
Terutama ketika Zhao Ling mulai menyadari bahwa mendapatkan kekuasaan tidak berarti ia otomatis mendapatkan kebebasan. Malah sebaliknya. Semakin tinggi posisinya, semakin banyak hal yang harus ia pikirkan sebelum bergerak.
Ketika karakter mulai kehilangan sebagian dirinya yang dulu, permainan Ding Yuxi lebih menarik.

Akting Deng Enxi sebagai Fu Tingyun
Kalau perjalanan Zhao Ling lebih terlihat dari perubahan statusnya, perubahan Tingyun dominan tentang caranya memandang dunia.
Pada awal cerita, ia adalah nona bangsawan yang memahami aturan di dalam lingkungan keluarganya. Setelah semuanya direnggut, ia harus belajar bertahan di luar lingkungan tersebut.
Kemampuan Tingyun benar-benar terlihat. Ia tetap punya sisi lembut. Ia juga bisa takut dan rapuh. Tetapi pengalaman membuatnya semakin pandai membaca keadaan.
Deng Enxi memainkan perubahan ini dengan cukup halus. Tingyun tidak mendadak berubah menjadi perempuan yang selalu punya jawaban untuk segala sesuatu.
Ia belajar sedikit demi sedikit. Kadang salah, sesekali terlambat menyadari sesuatu, tetapi ia terus berkembang.
Aku juga suka bagaimana Deng Enxi menggunakan ekspresi kecil untuk menunjukkan kecerdasan Tingyun, entah itu lewat tatapannya, kasih jeda sebelum menjawab pertanyaan, atau caranya memperhatikan orang lain.
Reaksi ketika mendengar informasi yang tidak sesuai dengan dugaannya juga bagus. Hal-hal kecil seperti itu membuat kita memahami bahwa Tingyun sedang berpikir, bahkan ketika ia tidak mengatakannya.
Satu adegan ketika Tingyun berada dalam kondisi sangat buruk setelah diracun dan berusaha memuntahkan racun dari tubuhnya. Cukup brutal adegannya, karena tidak dibuat seperti adegan penderitaan yang sengaja dipercantik.
Kita melihat seseorang yang benar-benar sedang berusaha bertahan. Menurutku, adegan-adegan seperti inilah yang membuat Tingyun terasa sebagai manusia, bukan sekadar karakter perempuan pintar yang ditulis untuk mengimbangi tokoh utama laki-laki.
Chemistry Ding Yuxi dan Deng Enxi
Chemistry mereka tidak meledak-ledak, malah lebih meledak pas mereka jadi couple di Melody of Golden Age. Hehehe.
Ding Yuxi dan Deng Enxi punya chemistry yang menurutku cukup menarik karena kedekatan Zhao Ling dan Tingyun lebih banyak dibangun lewat kebiasaan daripada adegan romantis besar.
Mereka belajar membaca satu sama lain. Belajar mempercayai keputusan masing-masing. Belajar kapan harus bicara dan kapan lebih baik diam.
Zhao Ling cenderung pragmatis. Ia terbiasa mengambil keputusan cepat karena kehidupannya memang menuntut begitu.
Tingyun lebih berhati-hati. Ia sering melihat akibat yang mungkin baru terasa beberapa langkah kemudian.
Perbedaan itu membuat mereka bisa berdebat tanpa harus membuat salah satunya terlihat bodoh. Menurutku, ini penting.
Tingyun tidak ditulis hanya sebagai perempuan yang selalu membutuhkan Zhao Ling. Sebaliknya, Zhao Ling lah yang berkali-kali membutuhkan kemampuan Tingyun untuk melihat persoalan dari sisi yang berbeda. Mereka saling mengisi.
Aspek Perempuan dalam The Road to Splendor
Perempuan-perempuan dalam serial The Road to Splendor ini punya permainan mereka sendiri Memang, karakter perempuan dalam dunia cerita drama China terbilang jarang punya akses politik yang sama dengan laki-laki sebab zaman itu ya kondisinya begitu.
Kendati demikian, bukan berarti mereka tidak punya pengaruh ya. Mereka menggunakan ruang yang tersedia.
Pertemuan keluarga, acara minum teh, hubungan antaristri pejabat, pernikahan, percakapan sosial, semuanya bisa menjadi tempat bertukar informasi dan membangun aliansi.
Kadang perempuan mengetahui sesuatu yang bahkan tidak diketahui suaminya. Mereka bisa mendorong keputusan tertentu, melindungi keluarga, membangun hubungan, atau menjatuhkan orang lain.
Jadi, karakter-karakter perempuan di drama China kolosal memang beda dari cara berbicara dan bertindaknya, tidak seperti perempuan abad ke-21.
Tingyun menarik karena ia tetap hidup di dalam sistem patriarki yang membatasi dirinya. Ia belajar memahami sistem tersebut, lalu mencari ruang untuk bergerak. Ini jauh lebih sulit loh.
Antagonis The Road to Splendor juga tidak semuanya sekadar jahat. Aku cukup menikmati bagaimana beberapa antagonis di drama ini diberi latar belakang dan kepentingan sendiri.
Ada yang mengejar uang. Ada yang mengejar kekuasaan. Ada yang terjebak dalam ambisi keluarga. Ada yang memang iblis banget jahatnya dan bikin kita geram.
Yu Jingxiu, diperankan Dong Zifan, termasuk karakter yang cukup sulit dimaafkan karena berbagai tindakannya terhadap Tingyun. Namun drama juga memperlihatkan bahwa kehidupannya sendiri banyak dikendalikan oleh keluarganya.

Ayahnya menggunakan dia, dan ibunya mengontrolnya. Bahkan keputusan yang menyangkut hidupnya sendiri sering kali bukan benar-benar miliknya.
Tentu saja, latar belakang seperti itu tidak otomatis membuat tindakannya menjadi benar. Tapi setidaknya kita bisa memahami kenapa ia tumbuh menjadi seperti itu.
Lalu ada Nyonya Yu, diperankan Wen Zhengrong. Menurutku, dia salah satu karakter perempuan yang paling menarik sekaligus paling menyebalkan.

Ia pintar, punya insting politik, dan tahu bagaimana memainkan situasi. Masalahnya, semua kemampuan itu digunakan untuk mempertahankan kekuasaan dengan cara yang kejam.
Di satu sisi, ia adalah perempuan yang berhasil menemukan posisi dalam dunia patriarki. Di sisi lain, ia juga ikut menjalankan sistem yang sama terhadap perempuan lain.
Kontradiksi seperti ini yang membuat karakternya menarik. Visualnya bukan cuma cantik, tetapi ikut bercerita
Sinematik dalam The Road to Splendor
The Road to Splendor menggunakan sejumlah lokasi nyata di China, termasuk kawasan Shanxi, Dunhuang di Gansu, dan Zhejiang. Lanskap gurun, jalan tua, pegunungan, serta kawasan bersejarah memberi perjalanan Zhao Ling dan Tingyun cukup kuat.
Dunia Zhao Ling dan Tingyun pun terasa berbeda. Lingkungan Zhao Ling lebih kasar dan terbuka. Dunia Tingyun pada awal cerita terasa lebih tertata, penuh aturan, dan memiliki batas yang jelas.
Kamera sering ikut membantu memperlihatkan perbedaan tersebut. Framing, posisi karakter, tangga, ruang yang luas atau sempit, memperlihatkan siapa yang sedang punya kuasa dan siapa yang berada di posisi lebih rendah. Jadi, gambar saja sudah cukup menjelaskan.
Menjelang akhir, ada pula framing yang menurutku menarik ketika Kaisar turun berlutut untuk menyamai posisi Zhao Ling.
Setelah sepanjang cerita kita melihat bagaimana Zhao Ling berasal dari lapisan bawah, visual semacam itu seperti pembalikan hierarki yang sengaja dipertontonkan kepada penonton. Ini contoh ketika sinematografi ikut menyampaikan cerita, bukan hiasan doang.
Untuk ukuran drama costume, The Road to Splendor ini menurutku pacing-nya cepat, meski beberapa bagian ada yang terlalu lompat.
So, bisa dipahami kenapa drama ini mendapat respons positif dari penonton drachin, terutama yang baru nyemplung, yang tidak suka cerita bertele-tele.
Beberapa episode awal saja sudah membawa kita melewati konflik keluarga, fitnah, racun, pelarian, pernikahan, perdagangan garam, sampai perjalanan keluar dari lingkungan awal mereka.
Pada drama China konvensional, biasanya butuh belasan episode hanya untuk membawa pasangan utama keluar dari rumah keluarganya.
Meski sudah terbiasa menonton drachin, aku pribadi suka pacing seperti ini karena serialnya terasa menghargai waktu penonton. Hampir selalu ada perkembangan baru.
Meski begitu, harus diakui, beberapa transisi terasa terlalu terburu-buru. Setelah time skip, Zhao Ling sudah menjadi orang yang berbeda
Ketika Zhao Ling dan Tingyun bertemu kembali setelah bertahun-tahun, jelas sekali bahwa kehidupan sudah mengubah mereka. Zhao Ling bukan lagi pria yang bebas bergerak sesuka hati.
Ia sudah memahami bahasa kekuasaan. Ia tahu cara menghadapi pejabat, membaca situasi politik, dan menyembunyikan apa yang sebenarnya ia pikirkan.
Ding Yuxi mendapat ruang yang cukup besar untuk memperlihatkan perubahan ini. Zhao Ling memang mendapatkan apa yang dulu ia keja, status, kekuasaan, dan pengaruh. Akan tetapi, ada harga yang harus ia bayar.
Ia harus mengambil keputusan yang mungkin tidak akan pernah ia ambil ketika masih menjadi pedagang garam ilegal. Ia juga harus berhadapan dengan kenyataan bahwa idealisme saja tidak selalu cukup untuk bertahan di dunia politik.
Tingyun tentu melihat perubahan itu. Karena itu, hubungan mereka setelah bertemu kembali tidak otomatis menjadi mudah. Mereka sudah berubah. Cara mereka melihat dunia juga berubah.
Happy Ending atau Sad Ending?
Lalu, apa sebenarnya “splendor” yang mereka cari? Setelah 36 episode, kita bisa melihat bahwa judul The Road to Splendor sebenarnya tidak sesederhana perjalanan menuju kemegahan.
Zhao Ling memang naik dari bawah. Ia masuk ke dunia militer, pemerintahan, dan akhirnya berada dekat dengan pusat kekuasaan.
Tingyun pun berhasil keluar dari posisi sebagai perempuan yang seluruh hidupnya ditentukan keluarga.
Mereka sampai ke ibu kota. Melihat dunia politik dari dekat. Berhadapan dengan orang-orang yang selama ini hanya bisa mereka lihat dari jauh.
Kalau dilihat dari luar, inilah kemegahan yang mereka kejar. Tapi ketika mereka sudah sampai di sana, apa yang sebenarnya mereka inginkan? Hakikatnya mereka tetap saja menginginkan kehidupan yang lebih sederhana, berupa tempat untuk pulang, yaitu keluarga dan kesempatan untuk menentukan hidup mereka masing-masing.
Itulah “splendor” sejati mereka yang sesungguhnya. Zhao Ling tidak membutuhkan istana untuk merasa berhasil. Tingyun juga tidak lagi membutuhkan pengakuan keluarganya untuk merasa berharga.
Secara umum, The Road to Splendor memberikan ending bahagia untuk Zhao Ling dan Tingyun. Mereka akhirnya menetap di Kota Ganlin, serta mendapatkan kehidupan yang mereka inginkan.
Sayangnya, beberapa karakter yang melakukan kejahatan besar mendapatkan akhir yang menurutku kurang setimpal. Ada pula keputusan politik di bagian akhir yang terasa agak mengganjal dan mungkin membuat sebagian penonton bertanya-tanya.
Terutama ketika kita melihat bagaimana hukuman diberikan kepada beberapa tokoh, sementara tokoh lain yang terlibat dalam persoalan besar justru kesannya lolos begitu saja.
Aku sebenarnya bisa menerima kalau sebuah drama tidak memberikan hukuman yang sepenuhnya memuaskan kepada setiap penjahat. Toh, di dunia nyata juga begitu kok, yang jahat sering kali lolos. Tapi sebagai penonton, tentu kita tetap punya ekspektasi tertentu ketika itu berada di sebuah film atau drama.
So, happy ending-nya aku terima, tapi penyelesaian seluruh konfliknya masih ada sedikit “hmm.”
Apakah The Road to Splendor Masuk Rekomendasi?
Kalau kamu mencari drama romance, The Road to Splendor jelas tidak mengecewakan. Hanya saja, kalian perlu tahu jenis romance seperti apa yang ditawarkan.
Kalau kamu menonton drama ini dengan harapan melihat Zhao Ling dan Tingyun flirting setiap beberapa episode, mungkin kalian tak akan menemukannya.
Iya, ada, tapi romance-nya lebih banyak muncul lewat tindakan. Misalnya, ketika Zhao Ling mempertaruhkan keselamatannya untuk Tingyun. Ketika Tingyun membantu Zhao Ling mengambil keputusan. Ketika mereka tetap memilih satu sama lain meskipun pilihan lain mungkin lebih menguntungkan secara politik.
Hal-hal seperti itu adalah bahasa cinta mereka. Mereka jatuh cinta sambil berusaha bertahan di tengah masalah yang semakin besar.
So, kusimpulkan, The Road to Splendor salah satu drama sejarah yang layak masuk watchlist. Jelas, responsnya juga positif banget. Apakah kamu sudah menonton?

Leave a Comment