Penonton yang dulu ikut heboh gara-gara Love O2O alias One Smile Is Very Alluring, pasti masih ingat bagaimana drama ini membuat dunia game online jadi tempat paling romantis untuk menemukan jodoh. Hehehe. Gara-gara film dan serial ini juga, bermunculan judul-judul lain yang nggak kalah menarik dunia per-drachin-an, seperti Gank Your Heart dan Falling into Your Smile.
Love O2O The Movie ini dibintangi Jing Boran dan Angela Baby, sementara versi drama dibintangi Yang Yang dan Zheng Shuang. Dua-duanya melibatkan avatar, quest, pernikahan virtual, lalu tiba-tiba pasangan di dalam game ternyata senior ganteng di kampus. Paket lengkap banget, kan?
Cerita karya Gu Man ini juga diadaptasi menjadi film layar lebar dengan durasi jauh lebih pendek. Tentu saja banyak hal yang berubah. Nah, mari kita bahas versi filmnya.
Sinopsis Love O2O The Movie
Bei Weiwei, diperankan Angela Baby, mahasiswi cantik dan pintar dari tingkat dua Jurusan Komputer yang ternyata juga jago banget main game online. Game favoritnya bernama Mengyou Jianghu (A Dream of Jianghu), dan di sana dia dikenal dengan nama karakter Luwei Weiwei.
Weiwei bukan pemain sembarangan. Dia bergabung dengan Klan Gelombang Laut Biru dan bahkan menjadi istri Zhenshui Wuxiang, salah satu karakter terkuat di klan. Kemampuan bermainnya juga bikin banyak pemain melongo.


Luwei Weiwei merupakan satu-satunya karakter perempuan yang masuk 10 besar pemain terbaik dan duduk di peringkat tujuh PvP. Saking jagonya, banyak pemain justru mengira Luwei Weiwei sebenarnya laki-laki. Mereka nggak menyangka kalau di balik karakter tersebut ada seorang mahasiswi cantik yang kehidupan nyatanya jauh dari kesan gamer misterius.
Nah, kalau Weiwei adalah jagoan nomor tujuh, ada lagi satu pemain yang levelnya jauh di atas dia. Namanya Yixiao Naihe, alias The Master, pemain nomor satu di Mengyou Jianghu.


Di dunia nyata, The Master adalah Xiao Nai, diperankan Jing Boran. Dia senior Weiwei di kampus, mahasiswa jenius, jago basket, jago berenang, sekaligus salah satu pendiri perusahaan game startup bersama teman-temannya.
Xiao Nai sebenarnya sudah mengetahui identitas Weiwei ketika mereka bermain di warnet game yang sama. Dari situlah dia tahu kalau Luwei Weiwei ternyata juniornya sendiri di kampus.
Menariknya, Xiao Nai nggak jatuh hati pada Weiwei cuma karena wajahnya cantik. Justru kemampuan bermain game Weiwei yang lebih dulu menarik perhatiannya.
Dia suka melihat bagaimana jari-jari Weiwei lincah memainkan karakter, sekaligus bagaimana Weiwei nggak segan membantu pemain lain yang kesulitan. Jadi, ya, cinta mereka dimulai dari skill gaming. Hehehe.
Kesempatan Xiao Nai mendekati Weiwei muncul ketika Zhenshui Wuxiang tiba-tiba menceraikan Luwei Weiwei di dalam game. Alasannya? Dia tertarik pada karakter perempuan yang dianggap paling cantik di server, Xiaoyu Yaoyao alias Xiao Ling di dunianyata.
Daripada berlarut-larut, Xiao Nai langsung mengajak Weiwei menikah di dalam game. Katanya supaya mereka bisa menyatukan kekuatan dan lebih mudah menyelesaikan quest.
Weiwei setuju. Jadilah mereka suami istri game online. Pernikahan mereka di Kuil Jodoh bahkan menjadi salah satu pernikahan paling heboh yang disaksikan pemain satu server.
Sementara itu, Zhenshui Wuxiang juga menikah dengan Xiao Ling yang kebetulan masih anggota Klan Gelombang Laut Biru.
Karena sekarang menjadi istri The Master, Weiwei pun mulai sering bermain bersama kelompok Xiao Nai. Ada Yonghou, Mozhata, dan Houzijiu yang diperankan Li Jiuxiao, Wang Zijie, dan Li Xian.

Kehidupan Weiwei di dalam game nggak selalu mulus. Suatu ketika dia dituduh berkhianat karena dianggap membiarkan Bos, pertahanan puncak dalam game yang juga musuh level terakhir semua pemain, diculik. Akibatnya, tim mereka kalah.
Weiwei yang merasa difitnah akhirnya memilih keluar dari Klan Gelombang Laut Biru dan bermain sepenuhnya bersama Xiao Nai dan kelompoknya.

Sementara itu, di dunia nyata, Weiwei masih belum tahu kalau Xiao Nai sebenarnya sudah mengetahui identitasnya.
Dia malah harus berhadapan dengan Chao Guang, mahasiswa Jurusan Jurnalistik yang pernah menjadikan Weiwei bahan reportase kampus. Masalahnya, hasil reportase itu bercanda kelewatan. Chao Guang sampai menyebarkan tuduhan bahwa Weiwei sering naik mobil mewah dan diduga punya sugar daddy.

Weiwei tentu saja ngamuk. Dia langsung mendamprat Chao Guang di kampus dan nge-hack laptop Chao Guang, mempermalukan Chao Guang di depan banyak mahasiswa. Anehnya, bukannya kapok, Chao Guang malah jatuh hati dan terus mengejar Weiwei.
Karena ingin menghindar, Weiwei mengatakan bahwa dia hanya mau pacaran dengan sesama mahasiswa Jurusan Komputer. Ketika Chao Guang masih ngeyel, Weiwei akhirnya asal menyebut nama Xiao Nai sebagai pacarnya.
Tanpa sengaja, Xiao Nai mendengar pengakuan tersebut. Weiwei malu, Xiao Nai diam-diam malah senang banget.
Xiao Nai pun mulai mendekati Weiwei di dunia nyata. Sebagai pangeran kampus, Xiao Nai sendiri juga punya banyak penggemar. Salah satunya Meng Yiran, mahasiswi Jurusan Bahasa Asing yang diperankan Li Qin. Yiran mengagumi Xiao Nai karena dia populer, jago basket, dan pandai berenang.

Lalu tibalah momen yang ditunggu-tunggu. Xiao Nai mengajak Weiwei bertemu di dunia nyata alias… ngedate.
Weiwei tentu saja heboh. Dia dandan cantik, memilih pakaian terbaik, lalu datang dengan penuh ekspektasi. Dan begitu melihat Xiao Nai?
Barulah dia sadar bahwa Yixiao Naihe, suaminya di dunia game, ternyata adalah senior kampusnya sendiri.

Kaget dong, pastinya. Tapi yang lebih bikin senang, perasaan Weiwei ternyata juga nggak bertepuk sebelah tangan. Dia memang sudah kagum pada Xiao Nai sejak di kampus karena kepintaran dan kemampuan seniornya itu.
Di hari yang sama, Xiao Nai harus mengikuti pertandingan basket. Dia mengajak Weiwei menonton. Nah, di sinilah Xiao Nai seperti sengaja memberi pengumuman tidak resmi kepada seluruh kampus, “Ini lho, cewek gue.”
Dia mendekati Weiwei di tribun penonton. Di depan para mahasiswa, termasuk Meng Yiran, tanpa perlu pidato panjang, gesturnya saja sudah cukup bikin semua orang paham.
Uhuy.
Beberapa hari kemudian, para pemain Mengyou Jianghu berkumpul di dunia nyata. Mereka sekaligus merayakan dua pemain yang bertunangan dan akan melanjutkan kuliah bersama ke luar negeri.
Di acara itu, Weiwei akhirnya mengetahui fakta mengejutkan. Chao Guang ternyata adalah Zhenshui Wuxiang, mantan suaminya di game. Dan ternyata Chao Guang sekarang juga berpacaran dengan Xiao Ling, istrinya dalam game.
Ketika acara selesai dan hujan turun deras, Chao Guang sempat menawarkan diri mengantar Weiwei pulang. Xiao Ling tentu saja cemburu. Untungnya, Xiao Nai datang membawa payung.

Masalah selesai?
Belum.
Xiao Ling yang iri kemudian memberi tahu Xiao Nai bahwa Weiwei sebenarnya sudah menikah dengan The Master di dunia game. Tapi Xiao Nai yang tahu fakta sebenarnya, “Iya, The Master itu gue,” tetap bergeming dan masa bodoh. Dia nggak terganggu karena memang The Master itu dirinya sendiri.
Sementara kisah cinta mereka semakin manis, urusan perusahaan Xiao Nai justru memasuki babak pahit. Startup mereka sedang mencari pendanaan untuk proyek game Smart City. Mereka bertemu perusahaan yang menjanjikan modal dan kerja sama.
Ternyata perusahaan itu malah mencuri konsep mereka. Proyek Smart City diduplikasi dan diganti nama menjadi Dreamland Space II.
Xiao Nai dan teman-temannya menolak bekerja sama dengan perusahaan tersebut. Mereka pulang tanpa membawa kemenangan.
Di masa paling sulit itulah Weiwei tetap mendampingi Xiao Nai. Mereka kemudian mengembangkan proyek game baru yang lebih interaktif bernama Young Game. Dan kali ini, keberuntungan berpihak kepada mereka.
Young Game viral. Banyak kelompok game tertarik memainkannya. Popularitas tersebut akhirnya membuka jalan bagi tim Xiao Nai untuk mendapatkan pendanaan besar dari bank sekaligus bekerja sama dengan perusahaan pengembang yang memang sudah menjadi penggemar game mereka. Happy ending untuk Weiwei dan Xiao Nai.
FYI, filmnya sendiri sudah bisa diakses bebas. Kamu bisa nonton di Netflix atau di YouTube.
Review Love O2O The Movie
Kalau kamu sudah pernah nonton Love O2O versi drama, lalu lanjut ke versi filmnya, kemungkinan besar reaksi pertama yang muncul adalah, “Lho, kok cepat banget?” Wkwkwk.
Maklum, sih. Cerita yang di versi drama punya banyak ruang, mulai dari kehidupan kampus, persahabatan, dunia game, pekerjaan, sampai kisah cinta Xiao Nai dan Bei Wei Wei, di film harus dijejalkan ke dalam durasi sekitar dua jam. Jadi jangan kaget kalau beberapa bagian pace-nya cepat banget.
Aku sendiri belum membaca novel karya Gu Man, jadi kali ini aku nggak bisa membandingkan filmnya dengan versi novel. Aku cuma bisa melihatnya dari sudut pandang penonton yang sudah lebih dulu mengenal Love O2O lewat drama.
Dan ternyata, dulu, pas aku nonton film ini tahun 2019, setelah selesai menonton, aku justru menemukan beberapa hal yang cukup menarik dari versi filmnya.
Aku nggak klaim filmnya lebih bagus daripada drama ya. Dua-duanya punya rasa yang berbeda.
Salah satu perubahan yang paling terasa ada pada karakter Chao Guang.
Di film, dia dibuat menjadi sosok yang sama dengan Zhen Shui Wuxiang, mantan suami Weiwei di dalam game. Buatku, perubahan ini cukup masuk akal karena film memang harus menyederhanakan hubungan antarkarakter.
Kalau semua tokoh dan konflik dari versi drama dimasukkan, mungkin filmnya malah penuh banget.
Dari semua perubahan yang ada, karakter yang paling menarik perhatianku adalah Bei Wei Wei. Jujur, aku lebih suka Weiwei versi Angela Baby.
Di drama, Zheng Shuang membawakan Weiwei dengan karakter yang lebih kalem dan pemalu. Sisi lembutnya cukup kuat.
Sementara itu, Angela Baby memberikan warna yang berbeda. Wei Wei-nya lebih ekspresif, ceria, percaya diri, dan nggak terlalu ragu menunjukkan apa yang dia pikirkan, terutama ketika sudah masuk dunia game.
Makanya aku merasa Weiwei versi film benar-benar menyenangkan. Dia nggak cuma cantik dan kebetulan jago komputer. Begitu masuk ke dalam game, kelihatan banget kok kalau dia memang seorang gamer yang tahu apa yang sedang dilakukan.
Angela Baby sebagai Weiwei di film pede banget menghadapi permainan, menyelesaikan quest, atau berinteraksi dengan pemain lain. Aku suka banget lihat dia kalau lagi main.
Versi film juga cukup pintar dalam memperlihatkan apa yang sedang dipikirkan Weiwei. Gestur malunya Angela Baby, bingungnya, senangnya, kesalnya, termasuk ketika mulai jatuh cinta kepada Xiao Nai. Nggak banyak dialog, sudah kelihatan lewat ekspresinya.
Jadi meskipun durasi film terbatas, kita tetap bisa mengikuti perubahan perasaan Weiwei.
Nah, kalau ngomongin Xiao Nai nih, ini emang agak susah buatku. Karena maaf ya, tapi setelah menonton versi drama dulu, bayangan Xiao Nai-ku masih Yang Yang. Hahaha.

Anehnya, pas nulis review ini, karena aku baru kelar nonton The Early Spring, aku gantian malah lebih suka Xiao Nai versi Jing Boran. Kayaknya, aku masih kena Luan Nian syndrome.
Jujur ya, Yang Yang memang punya aura Xiao Nai yang susah dilupakan. Wajahnya, tatapannya, cara dia membawa karakter yang pintar, dingin, populer, tapi diam-diam perhatian… semuanya seperti sudah menyatu dengan karakter tersebut.
Tapi aku tetap bisa kok menikmati pendekatan Jing Boran. Xiao Nai versi dia lebih real aja rasanya. Dia lebih banyak bicara, lebih sering tersenyum, dan nggak sepanjang waktu memasang wajah cool seolah hidupnya nggak pernah punya masalah.
Jing Boran punya sisi santai dan playful yang membuat hubungan Xiao Nai dengan Weiwei actually ya kayak hubungan dua anak muda yang memang sedang jatuh cinta.
Chemistry mereka? Jangan ditanya. Aku suka bangettt.
Chemistry mereka itu langsung kelihatan setelah Xiao Nai dan Wei Wei mulai bertemu di dunia nyata. Pas mereka saling tatap, langsung kelihatan mereka nyaman satu sama lain. Itu yang aku suka.
Adegan romantisnya juga menurutku cukup manis. Apalagi pas kiss scene Jing Boran dan Angela Baby di lift. Ups..

Meski nggak pernah main game online, aku bisa loh menikmati dunia gamenya. Game adalah tempat pertama Xiao Nai dan Weiwei saling mengenal.
Mereka bertemu di sana. Mereka bekerja sama di sana. Bahkan hubungan mereka berkembang dari interaksi antarpemain sebelum akhirnya berlanjut ke dunia nyata.
Jadi menurutku, dunia virtual memang harus tetap punya ruang dalam cerita. Love O2O versi film, menurutku cukup berhasil mempertahankan elemen tersebut.
Visual gamenya juga menyenangkan. Aku sangat menikmati adegan ketika mereka menghadapi Bos. Sensasinya kayak lihat gameplay, tapi sinematiknya jauh lebih cantik.
Aku juga suka transisi antara dunia nyata dan dunia virtual Love O2O The Movie. Nggak kaku, sehingga kita bisa mengikuti kapan karakter sedang menjadi dirinya sendiri dan kapan mereka sedang menjalani kehidupan sebagai avatar di dalam game.
Buatku, ini salah satu kekuatan filmnya. Selain itu, vibe filmnya memang lebih ringan dan youthful. Kehidupan kampusnya, ruang komputer, kantor, tempat nongkrong, sampai interaksi antarkarakter modern banget, padahal ini film 2016.
Kesannya kita sedang melihat kehidupan anak muda kampus yang kebetulan ketemu jodohnya dan jatuh cinta lewat game.
Musiknya juga membantu membangun suasana. Ada beberapa adegan yang sebenarnya simpel banget, tetapi kesannya lebih romantis karena musiknya masuk di waktu yang tepat.
Tentu saja, film ini bukan tanpa kekurangan. Masalah terbesarnya ya itu tadi, durasi. Cerita Love O2O sebenarnya cukup luas. Kisah persahabatan, kehidupan kampus, game, pekerjaan, keluarga, konflik perusahaan, sampai perkembangan hubungan Xiao Nai dan Weiwei.
Sementara film cuma punya waktu terbatas. Akibatnya, beberapa karakter pendukung tidak mendapatkan ruang sebanyak di drama. Persahabatan dan bromance yang di versi drama terasa lebih panjang juga otomatis menjadi lebih tipis.
Perkembangan hubungan beberapa karakter kecepatan. Kalau kamu belum pernah menonton dramanya atau membaca novelnya, mungkin ada beberapa bagian yang kurang dijelaskan.
Tapi kalau kamu sudah tahu ceritanya, film ini bisa dinikmati sebagai versi Love O2O yang lebih ringkas.
Kalau ditanya aku lebih suka drama atau filmnya, jawabannya tetap drama. Hehehe. Meski begitu, aku nggak bisa memungkiri kalau Angela Baby dan Jing Boran sukses bikin versi filmnya lebih ringan dan mudah diikuti. Bagaimana denganmu?

Leave a Comment