Ketika Rashif didiagnosis autisme, Agustus 2019, ada saja orang yang bertanya kepadaku setelahnya, “Nanti sekolahnya bagaimana?” Lucunya, pertanyaan itu selalu muncul jauh sebelum ada yang bertanya, “Sekarang terapinya bagaimana?”
Saat itu Rashif bahkan belum genap dua tahun. Usianya baru sekitar 18 bulan ketika kami mulai mengejar terapi. Bagiku, tentu saja sekolah masih sangat jauh. Satu-satunya yang kupikirkan adalah bagaimana caranya agar ia punya bekal untuk menjalani hidup sebaik mungkin.
Bertahun-tahun kemudian barulah kusadari, ternyata banyak orang tua justru memulai dari arah yang sebaliknya. Mereka sibuk memikirkan SD mana yang akan menerima anaknya, bagaimana supaya anak autisnya tidak masuk sekolah inklusi, atau bagaimana agar anak bisa masuk SD di usia tujuh tahun seperti anak-anak lain. Padahal sebetulnya jauh lebih penting pertanyaan, apakah anaknya sudah siap?
Lalu, tahun 2025 kemarin, pas hasil asesmen menunjukkan Rashif bisa masuk ke sekolah, ada lagi yang bilang, “Hebat ya Rashif, kok bisa ya masuk SD usia tujuh tahun?” (lebih tepatnya 6 tahun 8 bulan waktu itu umurnya).
Jawabanku ya bukan karena Rashif mengejar SD-nya, tapi justru karena bertahun-tahun kemarin kami mengejar terapinya. Empat tahun lebih terapi minimal 3 sesi, Senin-Jumat. Totalnya 35 jam sepekan. Ini bukan angka yang kecil, hampir setara dengan jam kerja PNS atau karyawan kantoran.
Sejak umur 18 bulan, hampir seluruh energi kami tercurah untuk membangun fondasinya terlebih dahulu. Selain terapi, rashif juga menjalani diet ketat dan konsumsi sejumlah obat-obatan.
Komunikasi, regulasi emosi, kemampuan mengikuti instruksi, motorik, kemandirian, semuanya dilatih sedikit demi sedikit menggunakan metode ABA (Applied Behavior Analysis). Barulah ketika fondasi itu mulai terbentuk, sekolah datang sebagai konsekuensi yang alami, bukan sebagai target yang dipaksakan.
5 Kekeliruan Orang Tua Anak Autis Terkait Pendidikan Anak
Sesungguhnya, pendidikan anak autis tidak dimulai ketika anak masuk sekolah. Pendidikan mereka itu dimulai ketika kita sebagai orang tua memutuskan apa yang menjadi prioritasnya.
Banyak orang tua menganggap pendidikan identik dengan sekolah. Padahal, bagi anak autis, pendidikan sudah dimulai sejak terapi pertama, sejak belajar kontak mata, sejak belajar menunjuk sesuatu yang diinginkan, sejak belajar memakai baju sendiri, hingga akhirnya siap duduk di kelas.
Apabila kita membangun fondasinya itu lebih dulu, proses pendidikan formal bakal berjalan lebih baik, meskipun tentu setiap anak autis memiliki kebutuhan, kemampuan, dan laju perkembangan yang berbeda.
Saya percaya, sebagian besar orang tua sebenarnya ingin memberikan yang terbaik. Tidak ada yang sengaja ingin mengambil keputusan yang salah. Namun, di tengah minimnya informasi, tekanan dari keluarga, tuntutan lingkungan, dan stigma yang masih melekat pada autisme, keputusan yang diambil terkadang justru kurang tepat.
Berikut lima hal yang paling sering kulihat terjadi.
1. Terlalu memaksakan sekolah reguler dan menghindari sekolah inklusi
Ini mungkin salah satu fenomena yang paling sering kutemui. Begitu banyak orang tua merasa sekolah reguler adalah satu-satunya pilihan terbaik. Alasannya bukan karena anaknya benar-benar siap, melainkan karena mereka takut mendengar kalimat seperti, “Kasihan ya, kok masuk sekolah inklusi?” atau “Nanti kalau di sekolah khusus, perkembangannya malah lambat.”
Belum lagi persoalan biaya. Tidak sedikit sekolah inklusi yang memang memiliki biaya lebih tinggi karena menyediakan guru pendamping, program individual, hingga fasilitas yang lebih sesuai dengan kebutuhan anak.
Lantaran punya anak kembar, saya bisa membandingkannya. Rangin masuk kelas reguler, uang SPP-nya hanya 20 juta per tahun, sementara Rashif? Bisa mencapai Rp35 juta per tahun. Hampir dua kali lipat anak sekolah reguler.
Inilah kenapa akhirnya, orang tua memilih sekolah reguler dengan harapan anak akan “mengikuti” teman-temannya yang neurotipikal.
Padahal, kenyataannya tidak selalu demikian. Anak autis bukan hanya belajar membaca, menulis, dan berhitung. Mereka juga sedang belajar memahami instruksi, mengelola emosi, mempertahankan perhatian, memahami aturan sosial, hingga beradaptasi dengan lingkungan yang penuh stimulasi.
Ketika semua tuntutan itu datang bersamaan tanpa dukungan yang memadai, sekolah justru bisa menjadi tempat yang sangat melelahkan bagi mereka.
Aku sering melihat anak yang pulang sekolah dalam kondisi emosinya sudah habis. Di kelas ia berusaha keras mengikuti pelajaran, menahan diri agar tidak tantrum, mencoba memahami guru, lalu masih harus mengerjakan PR di rumah. Energi yang dikeluarkan jauh lebih besar dibandingkan anak seusianya.
Sering kali kita lupa, tujuan sekolah bukan sekadar agar anak memiliki seragam yang sama dengan teman-temannya. Tujuan pendidikan adalah membuat anak berkembang.
Kalau perkembangan itu justru terhambat karena lingkungan belajarnya belum sesuai dengan kebutuhannya, bukankah kita perlu mengevaluasi kembali pilihan tersebut?
Sekolah inklusi bukanlah “sekolah kelas dua.” Justru di sanalah banyak anak mendapatkan dukungan yang mereka perlukan agar bisa berkembang sesuai potensinya. Tidak perlu cari sekolah yang paling bergengsi. Carilah sekolah yang paling memahami anak kita.

2. Lebih mengejar sekolah daripada mempertahankan terapi
Inilah hal pertama yang paling kusyukuri, yaitu keputusan kami (aku dan suami) memulai terapi sejak Rashif masih berusia sekitar 18 bulan.
Saat itu aku bahkan belum memikirkan SD mana yang akan ia masuki. Aku cuma berpikir, bagaimana mengejar periode golden age Rashif hingga kelak bisa membantu anakku belajar berkomunikasi, memahami dunia di sekitarnya, dan memiliki bekal untuk menjalani kehidupan sehari-hari.
Sayangnya, aku melihat banyak orang tua yang justru melakukan kebalikannya. Begitu anak memasuki usia sekolah, terapi mulai dikurangi. Jadwal terapi dipangkas agar tidak bentrok dengan jam belajar. Bahkan ada yang menghentikannya sama sekali karena merasa anak sudah bersekolah.
Padahal, sekolah dan terapi bukanlah dua hal yang saling menggantikan. Sekolah mengajarkan pengetahuan. Terapi membangun fondasi agar anak mampu menerima pengetahuan tersebut.
Bagaimana anak bisa mengikuti pelajaran jika masih kesulitan mempertahankan fokus selama 15 menit? Bagaimana ia memahami instruksi guru jika kemampuan reseptif bahasanya belum berkembang? Bagaimana ia bisa duduk tenang di kelas jika regulasi sensorinya masih menjadi tantangan?
Banyak kemampuan yang terlihat sederhana ternyata dibangun melalui proses terapi yang panjang. Kontak mata, kemampuan bergantian berbicara, duduk tenang, mengikuti instruksi, mengelola frustrasi, meminta bantuan.
Semua itu adalah modal utama sebelum anak benar-benar siap belajar di lingkungan sekolah. So, menurutku, terapi bukanlah lawan sekolah. Justru terapi adalah jembatan yang membantu anak menikmati sekolah.
3. Memaksa anak masuk SD pada usia “ideal” meskipun belum siap
Di Indonesia, masih ada anggapan bahwa anak yang belum masuk SD di usia enam atau tujuh tahun berarti “tertinggal.” Aku memahami kekhawatiran itu. Tidak ada orang tua yang ingin anaknya dianggap terlambat.
Namun, untuk anak autis, usia kronologis tidak selalu berjalan beriringan dengan kesiapan belajar.
Ada anak berusia tujuh tahun yang sudah mampu mengikuti instruksi kompleks, duduk selama satu jam, mengelola emosinya, dan mandiri menggunakan toilet.
Ada juga anak dengan usia yang sama yang masih membutuhkan bantuan untuk memahami instruksi sederhana atau berpindah aktivitas.
Keduanya sama-sama hebat. Hanya saja, keduanya berkembang dengan kecepatan yang berbeda. Masalahnya adalah ketika orang tua lebih mengejar angka usia daripada mengejar kesiapan anak.
Padahal, sekolah dasar bukan perlombaan siapa yang lebih cepat masuk. Jauh lebih penting memikirkan apakah anak mampu menikmati proses belajarnya?
Aku justru sering mendengar kisah anak yang akhirnya harus pindah sekolah atau mengalami stres berat karena dipaksa masuk SD sebelum benar-benar siap.
Menunda satu tahun bukan berarti gagal. Kadang, satu tahun tambahan justru menjadi investasi terbesar bagi masa depan anak.
4. Terlalu fokus pada nilai akademik, tetapi mengabaikan keterampilan hidup
Banyak orang tua merasa bangga ketika anak autisnya sudah bisa membaca di usia dini. Itu tentu pencapaian yang patut diapresiasi. Namun, ada pertanyaan yang menurutku jauh lebih penting.
- Apakah anak sudah bisa meminta tolong ketika kesulitan?
- Apakah ia bisa memakai bajunya sendiri?
- Apakah ia mampu makan tanpa harus disuapi?
- Apakah ia tahu bagaimana menenangkan dirinya ketika merasa kewalahan?
- Apakah dia sudah bisa toilet training mandiri?
Keterampilan-keterampilan seperti inilah yang sering kali luput dari perhatian. Padahal, bagi anak autis, kemampuan adaptif memiliki peran yang sangat besar dalam menentukan kualitas hidupnya di masa depan.
Aku pernah bertemu anak yang kemampuan akademiknya luar biasa. Ia mampu menghafal nama-nama planet, bahasa Inggrisnya juga cas cis cus, bisa menghitung dengan cepat, bahkan membaca buku yang cukup kompleks. Namun, ia belum mampu mengatakan kepada gurunya bahwa ia ingin ke toilet, bahkan masih popok usia 6 atau 7 tahun.
Sebaliknya, aku juga mengenal anak yang kemampuan akademiknya masih sederhana, tetapi sudah bisa mandi sendiri, membeli makanan di kantin, menyapa teman, dan meminta bantuan ketika kesulitan.
Menurutku, keduanya sama-sama berkembang. Hanya saja, kita sering kali lebih mudah melihat angka di rapor dibandingkan kemampuan hidup sehari-hari.
Padahal, pada akhirnya tujuan pendidikan bukan hanya menghasilkan anak yang pintar, tetapi juga anak yang mampu menjalani hidupnya dengan lebih mandiri.
5. Terus membandingkan perkembangan anak dengan anak lain
Mungkin ini adalah hal yang paling menyakitkan bagi orang tua seperti kita ya, buk ibuk. Media sosial membuat kita begitu mudah melihat pencapaian anak orang lain.
“Anak usia empat tahun sudah lancar membaca.”
“Anak autis itu sudah bisa pidato.”
“Anak ini sudah hafal perkalian.”
Tanpa sadar, kita mulai membandingkannya dengan anak sendiri. Kenapa anakku belum bisa? Padahal, autisme itu kan kumpulan dari banyak spektrum ya.
Dua anak dengan diagnosis yang sama bisa memiliki tantangan yang sangat berbeda. Ada yang kesulitan berbicara tetapi unggul secara akademik. Ada yang sangat komunikatif tetapi membutuhkan dukungan dalam regulasi emosi. Ada yang cepat belajar membaca tetapi lambat dalam keterampilan sosial.
Semuanya unik. Karena itu, membandingkan anak autis satu dengan yang lain sebenarnya tidak pernah benar-benar adil.
Aku lebih suka melihat perkembangan Rashif dengan cara simpel saja, yaitu membandingkan Rashif hari ini dengan Rashif enam bulan yang lalu.
Apakah sekarang ia lebih mandiri? Apakah ia lebih mampu mengungkapkan keinginannya? Apakah ia lebih tenang ketika menghadapi perubahan? Kalau jawabannya “ya” ya berarti ia sedang berkembang.
Mungkin saja perkembangan itu sepele bagi orang lain. Namun, sebagai orang tua, kita tahu betul betapa panjang perjalanan yang sudah ditempuh untuk mencapai satu langkah kecil tersebut. Itulah yang layak dirayakan.
Kemajuan bagi anak autis adalah ketika mereka terus bergerak maju, dengan kecepatan mereka sendiri, didampingi oleh orang-orang yang percaya bahwa setiap langkah kecil mereka memiliki arti yang besar.
Alasan Mengapa Aku Tidak Pernah Menghentikan Terapi Rashif Meski Dia Sudah Bersekolah
Kulihat banyak orang tua anak autis, begitu anak memasuki usia sekolah, terapi mulai dikurangi bahkan dihentikan. Padahal, sekolah dan terapi bukanlah dua hal yang saling menggantikan.
Sekolah mengajarkan pengetahuan, sedangkan terapi membangun fondasi agar anak mampu menerima pengetahuan tersebut. Coba bayangkan, bagaimana anak bisa mengikuti pelajaran jika ia masih kesulitan mempertahankan fokus selama lima belas menit?
Bagaimana ia memahami instruksi guru jika kemampuan memahami bahasa (reseptif) masih menjadi tantangan? Bagaimana ia bisa duduk tenang di kelas jika regulasi sensorinya belum benar-benar matang?
Kemampuan-kemampuan itu sesungguhnya dibangun melalui proses yang panjang. Tidak muncul begitu saja.
Selama mendampingi Rashif, barulah aku sadar sesadar-sadarnya bahwa grafik perkembangan anak autis sering kali berbeda dengan anak neurotipikal.
Kalau perkembangan anak pada umumnya sering digambarkan seperti garis yang terus menanjak perlahan, perkembangan anak autis lebih mirip anak tangga.
Ada masa ketika kemajuannya terlihat sangat pesat. Tiba-tiba ia bisa mengucapkan kata baru, mulai memahami instruksi, mampu duduk lebih lama, atau berhasil melakukan sesuatu yang selama ini terasa mustahil.
Namun setelah itu, grafiknya seolah berhenti. Berminggu-minggu, bahkan berbulan-bulan, kita seperti tidak melihat perubahan apa pun. Di titik inilah banyak orang tua mulai panik. Mereka mulai negative thinking.
- Kok terapi anak saya sudah lama, tapi tidak ada perkembangan?
- Sepertinya sudah cukup deh. Daripada terus terapi, lebih baik fokus sekolah saja.
Padahal, menurut penjelasan beberapa terapis yang pernah mendampingi anakku, masa-masa “datar” itu bukan berarti anak berhenti berkembang. Justru sering kali pada fase itulah otaknya sedang bekerja keras untuk menguatkan kemampuan yang baru saja dipelajari.
Anak sedang belajar mempertahankan keterampilan barunya agar menjadi bagian dari kebiasaan sehari-hari. Ia sedang berlatih menggunakan kemampuan itu dalam berbagai situasi, bukan hanya di ruang terapi.
Ibarat membangun rumah, kita mungkin tidak melihat dinding baru berdiri setiap hari. Ada masa ketika para pekerja di dinding rumah bagian dalam sibuk memperkuat pondasi, memasang instalasi, atau memastikan semuanya kokoh sebelum melanjutkan ke lantai berikutnya.
Dari luar rumah sih, kalau dilihat orang, seperti tidak ada tukang bekerja, tidak banyak perubahan, padahal proses penting sedang berlangsung di dalam rumah (otak) anak autis kita.

Begitulah grafik anak autis itu. Nah, setelah fase itu terlewati, sering kali kita kembali dibuat terkejut oleh lonjakan berikutnya. Tiba-tiba kemampuan yang sebelumnya sulit menjadi jauh lebih stabil, lalu muncul lagi keterampilan baru yang tidak kita duga.
Inilah alasan mengapa aku percaya terapi tidak seharusnya dihentikan hanya karena anak sudah mulai bersekolah.
Kalau pada fase “garis datar” itu stimulasi justru berkurang karena terapi dihentikan dan anak hanya mengandalkan sekolah, proses penguatan kemampuan tadi bisa berlangsung lebih lama. Anak mungkin tetap belajar di sekolah, tetapi ia kehilangan dukungan yang selama ini membantunya mengasah komunikasi, regulasi emosi, perhatian, motorik, atau keterampilan adaptif lainnya.
Bukan berarti sekolah tidak penting ya. Sekolah tetap memiliki peran yang sangat besar. Namun bagi banyak anak autis, sekolah dan terapi adalah dua jalur yang saling melengkapi. Satunya memberikan pengalaman belajar di lingkungan sosial, sementara satunya lagi membantu membangun keterampilan agar anak mampu menjalani pengalaman tersebut dengan lebih baik.
Karena itu, pesanku jangan buru-buru meninggalkan atau menghentikan terapi anak autis ketika anak mulai memakai seragam sekolah. Terapi adalah investasi jangka panjang. Hasilnya memang tidak selalu terlihat setiap minggu, tetapi sedikit demi sedikit ia sedang membangun fondasi yang kelak membuat anak mampu melangkah lebih tinggi pada “anak tangga” berikutnya.

Leave a Comment