Akhirnya ada juga drama china terbaru 2026 yang berhasil menyeretku keluar dari fase c-drama slump. Sejak kelar nonton Pursuit of Jade, yang menurutku lebih unggul dari sisi visual ketimbang cerita, aku lumayan kesulitan menemukan drama baru yang benar-benar bikin penasaran. Bukannya nggak ada yang bagus, tapi ya entah kenapa lebih banyak yang gagal bikin aku bertahan sampai episode terakhir. Sampai akhirnya Mo Li (The First Jasmine) tayang.
Sebelumnya aku sudah memasang reminder di WeTV jauh-jauh hari. Jadi begitu episode pertamanya rilis, langsung deh aku tancap gas. Awalnya cuma berniat menonton satu episode sebelum tidur. Kalian pasti sudah tahu ke mana arah cerita ini.
Eh… tahu-tahunya, satu episode berubah jadi dua. Dua jadi empat. Lalu tahu-tahu aku rela keluar uang lagi buat membeli satu episode express. Lima episode habis dalam sekali duduk. Itu sudah cukup jadi pertanda kalau drama ini melakukan sesuatu dengan benar.

Beberapa bulan terakhir aku sering mengalami hal yang sama saat mencoba drama-drama baru. Visualnya cantik, kostumnya mewah, pemainnya menarik, tapi ceritanya banyak yang kosong alias bertabur plot hole.
Ada juga yang premisnya menjanjikan, eh.. tahunya ritmenya berantakan. Terlalu sibuk mengejar adegan viral, terlalu banyak slow motion, terlalu fokus menciptakan momen, sampai lupa membangun cerita.
Karena itulah aku sengaja menurunkan ekspektasi saat mulai menonton Mo Li. Biar kalau ternyata biasa saja, aku nggak terlalu kecewa. Ternyata… malah kebalikannya.
Drama ini justru berhasil membuatku terus menekan tombol next episode. Luar biasa Cheng Lei dan Bai Lu.
Sembari nunggu kapan episode berikutnya tayang, aku mau cicil mengulas drama china satu ini. Nanti bakalan aku update setelah episode terakhir rampung ya.
Sinopsis Mo Li ‘The First Jasmine’
Mo Li merupakan adaptasi novel Golden Age Legitimate Consort karya Feng Qing. Judul internasionalnya adalah The First Jasmine, sementara judul Mandarin “Mo Li” tampaknya diambil dari nama dua tokoh utamanya, yaitu Mo Xiuyao dan Ye Li, yang diperankan Cheng Lei dan Bai Lu.
Kalau dilihat dari garis besar ceritanya, sebenarnya premis Mo Li tidak bisa dibilang baru. Pernikahan politik, rahasia keluarga bangsawan, perebutan kekuasaan, dendam masa lalu, dan dua tokoh utama yang memulai hubungan mereka dengan penuh kecurigaan.
Sekilas ya… kayak drama kostum yang pernah kita tonton berkali-kali. Saat episode awal dimulai, aku bahkan sempat teringat pada The Double dan Kill Me Love Me.
Barulah semakin jauh menonton, semakin kerasa bahwa kekuatan Mo Li bukan terletak pada apa yang diceritakan, melainkan bagaimana cerita itu disampaikan.
Ye Li adalah keturunan Li Shan yang selama delapan tahun terkurung setelah kawasan Akademi Li di Gunung Li ditutup. Kesempatan untuk keluar akhirnya datang lewat sebuah pernikahan yang diatur Ibu Suri.
Masalahnya, calon suaminya bukan pangeran sempurna seperti dalam cerita dongeng. Ia adalah Pangeran Ding alias Mo Xiuyao, seorang pangeran yang kehilangan kemampuan berjalan dan hidup dalam bayang-bayang tragedi keluarganya.
Ayah dan kakak laki-lakinya dituduh memberontak lalu dihukum mati. Sementara dirinya dibiarkan hidup, tetapi nyaris tanpa martabat. Ia dipaksa menjalani berbagai penghinaan, dikurung di kediamannya sendiri, hingga harus menjalani ritual penyucian karena keluarganya dianggap membawa kutukan bagi kerajaan.
Lalu datanglah Ye Li. Perempuan yang seharusnya menikah dengan Pangeran Mo Jingli, masih satu kerabat dengan Mo Xiuyao, tetapi justru dijadikan tumbal oleh keluarganya sendiri.
Ibunya sudah lama meninggal. Ayahnya lebih memihak istri barunya. Demi kepentingan mereka, pertunangan Ye Li dibatalkan dan diberikan kepada saudari tirinya, Ye Ying. Hasilnya, Ye Li menikah dengan pangeran yang dianggap sudah kehilangan masa depan.
Sayangnya bagi orang-orang yang meremehkan mereka, Ye Li dan Mo Xiuyao ternyata jauh lebih berbahaya daripada yang terlihat. Keduanya sama-sama menyimpan rahasia dan membawa luka. Mereka sama-sama punya alasan untuk membalas masa lalu.
Hubungan mereka pun dimulai bukan dengan cinta pada pandangan pertama, melainkan dengan kewaspadaan. Malam pertama saja sudah pisah ranjang. Jelas jauh dari kata romantis.
Buat aku, justru itu menariknya. Ada satu adegan, pas Mo Xiuyao mengatakan bahwa mereka akan bercerai setelah satu tahun menikah karena ia merasa tidak akan mampu membahagiakan Ye Li. Yang tidak ia tahu, Ye Li justru merasa kehidupan di Kediaman Pangeran Ding jauh lebih bebas dibanding hidupnya sebelumnya.
Dan tentu saja, ada plot twist lain yang perlahan mulai terungkap. Ternyata Mo Xiuyao pernah menyelamatkan nyawa Ye Li di masa lalu. Itu membuat Ye Li remaja jatuh cinta pada pandangan pertama pada Mo Xiuyao meski kemudian ia bertunangan dengan Mo Jingli.
Lucunya, mereka aslinya sama-sama mengenali satu sama lain, tapi memilih diam dan pura-pura baru kenal pertama.

Kenapa 5 Episode Pertama Menjanjikan?
Hal yang paling kusukai dari Mo Li sejauh ini adalah cara drama ini membangun hubungan kedua tokoh utamanya. Banyak drama kostum sekarang terlalu terburu-buru membuat pasangan utama jatuh cinta. Baru kenal beberapa hari, sudah rela mati demi satu sama lain.
Di Mo Li, prosesnya jauh lebih alami. Ye Li dan Mo Xiuyao saling mengamati, saling menguji, dan saling menyembunyikan sesuatu. Dari sana, perlahan muncul rasa hormat. Menurutku ya, rasa hormat itulah yang membuat chemistry mereka terasa lebih kuat.
Menariknya lagi, drama ini tidak terlalu lama menyembunyikan arah emosi kedua karakter utama. Di akhir episode empat, penonton sudah mulai diberi gambaran tentang apa yang sebenarnya mereka rasakan. Aku suka pendekatan kayak gini.
Terlalu sering kita menemukan karakter utama yang dibuat begitu misterius sampai penonton sendiri tidak tahu isi kepalanya. Akibatnya hubungan romantis terasa timpang karena kita hanya bisa memahami satu sisi cerita.
Mo Li menghindari jebakan itu. Karena itulah chemistry Bai Lu dan Cheng Lei terasa hidup sejak awal meski tanpa adegan romantis dan skin ship.
Lucunya, aku membaca dua jenis komentar yang bertolak belakang dari penonton. Sebagian orang bilang plotnya cepat. Sebagian lain merasa ritmenya justru lebih lambat dibanding drama-drama baru sekarang. Anehnya, aku setuju dengan keduanya.
Konflik utama memang bergerak cukup cepat. Lima episode pertama sudah memperkenalkan misteri besar, konflik politik, hubungan antar karakter, dan berbagai petunjuk penting. Tapi penyampaiannya santai banget loh.
Drama ini tidak menumpahkan semua jawaban sekaligus. Sebaliknya, setiap episode hanya membuka sedikit demi sedikit lapisan misterinya. Cukup untuk membuat penonton penasaran, tapi nggak cukup untuk bikin kita puas. Strategi yang efektif kan?

Visual Cantik tanpa Terlihat Berlebihan
Selain chemistry para pemainnya, hal lain yang langsung mencuri perhatianku adalah sinematografinya. Belakangan ini cukup banyak drama yang terlihat cantik, tetapi kecantikannya terasa terlalu dibuat-buat. Warna terlalu tajam. Kulit para pemain terlalu putih. Lighting-nya terlalu sempurna. Kayak semua karakter utama dan pendukung sedang menjalani sesi pemotretan majalah.
Mo Li beda. Lanskap pegunungan, kabut, cahaya matahari, warna kostum, hingga tata rias para pemainnya terlihat lebih natural di mataku. Hidup banget. Dan yang paling penting, wajah Cheng Lei masih terlihat seperti manusia sungguhan. Nggak putih kayak beruang kutub.
Aku juga senang karena drama ini tidak terlalu bergantung pada slow motion untuk menciptakan emosi. Kamera memberi ruang bagi cerita untuk bernapas dan membiarkan penonton menikmati visualnya secara alami.

Review dan Kesimpulan Sementara
Baru lima episode memang. Masih terlalu dini untuk ngasih skor atau menyebut Mo Li sebagai salah satu drama terbaik tahun ini. Tapi sejauh ini, semua elemennya terasa menjanjikan.
Chemistry kuat, misterinya menarik, konflik politiknya berbobot. Visualnya indah tapi nggak terlalu kerasa artifisial.
Sekarang, aku penasaran dengan beberapa pertanyaan yang pastinya bakal muncul jawabannya satu per satu.
- Apa sebenarnya yang terjadi di Akademi Li?
- Siapa penghuni makam yang muncul di episode lima?
- Apakah akademi itu benar-benar musnah setelah pembantaian, atau masih ada penyintas yang bertahan di Gunung Li?
Yah, sepertinya kita harus menunggu episode-episode berikutnya untuk mendapatkan jawabannya. Mari kita tunggu ya…

Leave a Comment