Review drama china Royal Betrothal
Review drama china Royal Betrothal

Halo semuanya! Kembali lagi di lapak ulasan jujur kita. Kali ini, aku mau ranting habis-habisan soal salah satu drama China yang paling bikin emosiku naik-turun, in a bad way, tahun ini sepanjang penayangannya. Judulnya Royal Betrothal (atau Yu Ting Yao), yang dibintangi oleh Chen Zheyuan dan Wu Jinyan.

Jujur aja ya, pas drama ini pertama kali rilis di VIU/ Mango TV Juli-Agustus 2026, aku antusias banget loh, bisa dibilang 1000 persen. Lihat siapa ML dan FL-nya, Chen Zheyuan dan Wu Jinyan. Dua nama besar itu dibungkus dengan produksi megah, dan ide cerita yang menurut aku di awal tuh rasanya fresh banget. 

Tapi makin ke sini? Aduh, rasanya kayak dibeliin paket hadiah ulang tahun dengan bungkus pita emas yang mewah banget, eh tahunya pas dibuka isinya cuma telor ayam. Bukan cuma ngebosenin,  Royal Betrothal ini benar-benar bikin aku masuk ke fase active anger, marah banget sama sutradara, penulis skenario, dan tim editing-nya! 

Kok bisa drama yang punya potensi sekelas masterpiece di 10 episode pertama malah berubah jadi bencana brutal di ending? Yoklah, aku mau yapping dulu sama kamu.

Sinopsis Royal Betrothal

Secara garis besar, drama ini mengambil latar belakang Dinasti Daning yang lagi karut-marut akibat korupsi internal dan ancaman eksternal kekaisaran.

Meng Tinghui (diperankan Wu Jinyan) adalah seorang anak yatim piatu dari padang gurun. Semasa kecil, ia sempat menjadi tawanan bandit padang pasir dan dilatih untuk menjadi pencopet.

Dia bikin sejarah besar sebagai perempuan pertama yang meraih gelar “Triple First” dalam ujian kekaisaran dan berhasil masuk ke Biro Pengawasan Kekaisaran Daning. 

Perjalanannya untuk sampai ke posisi ini jelas tidak mudah. Sebagai anak yatim piatu, ia harus tertatih menghadapi birokrasi kekaisaran yang sudah lama dipenuhi kepentingan orang-orang dekat kaisar yang menyeleweng.

Sejak Kaisar Ying Gua (diperanlan Chen Zheyuan) naik takhta, ia kembali membuka kesempatan bagi perempuan untuk masuk dan berkiprah di pemerintahan. Ia ingin membentuk Biro Pengawasan yang berdiri sendiri di luar enam kementerian dan dua perdana menteri di istana.

Anggota Biro Pengawasan ini bisa mengawasi seluruh pejabat, bisa memberantas kelompok kriminal, dan melapor langsung ke kaisar. Mirip Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) kalao di Indonesia ya.

Sayangnya, kebijakan ini rupanya tidak mendapat sambutan hangat dari dua perdana menterinya, baik dari kubu kanan maupun kiri. Bagi Perdana Menteri Kiri, misalnya, perempuan memegang kekuasaan sama saja dengan mengundang malapetaka bagi negeri.

Dalam pikirannya, bagaimana mungkin sebuah negara dibangun oleh perempuan yang, menurut pandangannya, tahunya hanya berdandan?

Ying Gua ingin mengembalikan kedamaian di negaranya. Ia ingin menggunakan perempuan sebagai pisau untuk menghancurkan tatanan usang, lebih banyak melibatkan rakyat jelata dalam kebijakan-kebijakannya, dan memperbaharui aturan-aturan yang hanya menguntungkan segelintir pejabat.

Kaisar Ying Gua ini unik. Di istana, dia harus main politik menyeimbangkan kekuatan dua perdana menteri, sayap kanan dan sayap kiri. Di luar istana, dia keluyuran di jalanan menyamar jadi pendekar pedang bernama He Du demi membasmi kejahatan. 

Meng Tinghui dan Ying Gua bertemu tanpa saling tahu identitas asli masing-masing di awal. Mereka kemudian kompak menyatukan kekuatan buat membongkar skandal korupsi, pejabat korup, hingga organisasi kriminal yang menggerogoti istana.  Dari Shazhou sampai ke ibu kota, mereka berdua ngelewatin skandal kecurangan ujian hingga pertarungan politik. 

Seiring berjalannya waktu, Meng Tinghui menemukan fakta kelam tentang identitas aslinya. Ternyata, dia adalah darah daging terakhir dari Kerajaan Zhongwan yang dibantai habis oleh ayah sang kaisar. Bagaimana dua orang yang saling mencintai ini menyikapi hubungan mereka?

Royal Betrothal tayang di VIU dan MangoTV
Royal Betrothal tayang di VIU dan MangoTV

Review Royal Betrothal

Premisnya keren kan? Keren bangettt. Sayang disayang, konflik cinta versus dendam kesumat bangsa yang harusnya bikin dada sesak malah dieksekusi dengan sangat aneh. Ditambah lagi, pada paruh kedua, bumbu politiknya berubah jadi grusa-grusu.

Plot kuat yang dibangun 10 episode pertama dengan berbagai plot twist, rahasia identitas, dan konflik kenegaraan tiba-tiba coba diselesaikan cuma dalam kurun waktu 11 menit terakhir di episode final.

Bayangin, cuma 11 menit penyelesaiannya. Semuanya diakhiri serba kilat, tanpa kejelasan, penuh flashback yang diulang-ulang, dan ditutup cuma dengan dua frame mereka naik kuda di padang pasir sambil si kaisar nanya, “Mau jalan bareng aku lagi?” Terus credits roll. 

Seriusan cuma gitu doang??? 

Bedah Akting dan Karakter

Soal jajaran pemain, jujur, nggak ada yang cacat. Akting mereka nggak jelek sama sekali. Tapi… masalah utamanya bukan pada kemampuan akting, tapi pada eksekusi karakter dari penulis skenario. 

1. Chen Zheyuan sebagai Kaisar Ying Gua / He Du

Bisa kubilang, Chen Zheyuan adalah penyelamat utama drama ini. Memerankan kaisar muda yang harus mikir keras menjaga stabilitas negara bukan tugas gampang. 

Zheyuan berhasil membawakan dua persona yang beda, sosok kaisar berwibawa di takhta dan pendekar tangguh di jalanan. 

Tatapan matanya, gesturnya yang tenang tapi dingin pas berhadapan sama musuh, sungguh ciamik. Semua mengingatkanku pada akting paripurnanya di Fated Heart.

Tapi sayang, karakter yang tadinya cerdas ini mendadak kehilangan IQ di paruh kedua cuma demi dorongan plot romansa yang dipaksakan.  

2. Wu Jinyan sebagai Meng Tinghui

Wu Jinyan sebenarnya berada di comfort zone-nya, tipikal female lead tangguh yang mau balas dendam kayak di Yanxi Palace, The Double, atau Kill Me Love Me. 

Pada 10 episode awal, karakter Meng Tinghui ini keren banget! Dia pinter, independent woman, dan sanggup menyelamatkan dirinya sendiri tanpa perlu terus-terusan ditolong cowok. 

Tapi begitu masuk ke lingkungan istana, karakternya malah diubah jadi kayak “anjing penyerang” yang cuma bisa marah-marah di depan pejabat tanpa strategi yang matang. 

Ditambah lagi, ekspresinya di beberapa adegan romantis terasa dingin dan kaku banget, kayak cuma sekadar menjalankan instruksi sutradara. Tatap-tatapan tiga detik, wall kiss, lalu pergi.

Banyak penonton, termasuk aku, merasa chemistry antara Chen Zheyuan dan Wu Jinyan di Royal Betrothal ini zero alias nggak ada sama sekali. 

Sebagian bilang, mungkin karena faktor perbedaan usia. Wu Jinyan 36 tahun, Chen Zheyuan 29 tahun. Ah, masa? Pas di The Double aja, itu couple-nya, Wang Xingyue bahkan 24 tahun loh umurnya, tapi chemistry-nya gila, keren banget.

Faktor riasan juga bisa jadi. Wu Jinyan di beberapa shot malah kelihatan kayak tantenya Chen Zheyuan, ketimbang kekasihnya. Hubungan mereka berdua berasa kayak dua partner kerja yang tiba-tiba disuruh adegan cinta-cintaan tanpa ada proses slow burn yang pas. 

Adegan pengakuan cinta di episode 24 aja lewat gitu aja tanpa emosi yang membekas di hatiku sebagai penonton. 

3. Second Lead dan Supporting Roles

Anehnya, pasangan pendukung atau second lead dan supporting roles justru tampil jauh lebih menarik. Ada dua pasangan di sini, yaitu Shen Zhishu (diperankan Yan Yuchen) dan Yan Fuzhi (diperankan Zhao Zhaoyi), dengan Di Nian (diperankan Huang Zhuxin) dan Shen Zhili (diperankan Zhang Nan).

Pasangan Shen Zhishu dan Yan Fuzhi
Pasangan Shen Zhishu dan Yan Fuzhi

Pertama, chemistry Shen Zhishu dan Yan Fuzhi. Mereka ini sangat hangat, dewasa, dan saling memahami. Setiap kali mereka muncul di layar, atmosfer drama langsung terasa jauh lebih hidup.  

Pasangan Di Nian dan Shen Zhili
Pasangan Di Nian dan Shen Zhili

Kedua, Di Nian dan Shen Zhili. Pasangan ini bikin hati patah berkeping-keping. Kematian Di Nian jelang episode terakhir begitu tragis dan menyakitkan, meskipun terasa agak berlebihan hanya demi menambah kesan kelam di akhir cerita.

Ada juga Dylan Kuo sebagai Guo Pingchao, Perdana Menteri Kanan. Aktor veteran ini bener-bener tampil fresh dan kelihatan bersenang-senang banget jadi antagonis. Pesonanya luar biasa untuk usianya.  

Guo Pingchao, Perdana Menteri Kanan
Guo Pingchao, Perdana Menteri Kanan

Kegagalan Royal Betrothal

Kalau kita bedah dari segi teknis dan eksekusi, ada beberapa alasan fatal kenapa Royal Betrothal gagal memenuhi ekspektasi.

1. Genre Nggak Jelas, Penulisan Berantakan

Sutradara dan penulis mencoba menggabungkan tiga genre sekaligus, yaitu sejarah, romance, misteri. Hasilnya? Tiga-tiganya hancur berantakan!  

Setiap kali alur politiknya lagi seru-serunya, drama China ini mendadak berhenti demi menyisipkan adegan romantis yang tidak pada tempatnya. 

Contoh paling kocak ada di episode 22–25. Ada adegan tragis di mana orang-orang dikendalikan racun sampai menyerupai zombi. 

Eh, scene berikutnya langsung ganti ke adegan Yan Fuzhi dan Song Zhili lagi pengakuan cinta sambil ciuman. Tone switch-nya ekstrem banget sampai bikin aku geleng-geleng kepala.

Di adegan lain, setelah adegan romantis Kaisar Ying Gua dan Meng Tinghui, scene langsung melompat ke musuh yang lagi nangis bombay di depan peti mati istrinya. Penulis dan editornya kayak bingung cara menyatukan potongan cerita. 

Royal Betrothal gagal di penulisan
Royal Betrothal gagal di penulisan

2. Kamera Close-Up Ekstrem

Satu hal yang paling bikin secondhand embarrassment alias malu sendiri pas nonton Royal Betrothal adalah penggunaan close-up shot yang lebay dari sutradara. Wajah-wajah pemain di-zoom sangat dekat ke kamera secara terus-menerus.

Bukannya kelihatan dramatis, adegan interogasi maupun adegan mesra malah kelihatan canggung dan aneh.

3. Wardrobe dan Kostum yang Mengganggu Visual

Biasanya c-drama kolosal dipuji karena kostumnya yang megah, tapi di sini kostum Kaisar Ying Gua malah bikin geleng-geleng kepala. 

Jubah naga yang dipakai Chen Zheyuan motifnya terlalu ramai dan potongan bahunya dibuat terlalu lebar dipadu pinggang yang sangat ramping. 

Bukannya bikin kelihatan gagah, Chen Zheyuan, kata beberapa netizen di forum online, malah kelihatan kayak bocah yang lagi minjem baju orang dewasa.

4. Penyelesaian Plot yang Aneh

Konflik latar belakang suku Zhongwan yang harusnya jadi dinamika emosional terbesar, yaitu bagaimana Meng Tinghui bisa mencintai anak dari orang yang membantai kaumnya, malah disapu bersih gitu aja. 

Adegan Meng Tinghui melihat totem burung di belakang bahu kirinya kan titik balik ingatannya balik dong. Eh, itu malah diselesaikan tanpa penjelasan yang memuaskan.

Meng Tinghui cuma keluar mandi lalu mendadak minta nikah ke Kaisar Ying Gua. Logikanya di mana? Hahaha.

Chemistry Chen Zheyuan dan Wu Jinyan gagal total
Chemistry Chen Zheyuan dan Wu Jinyan gagal total

5. Terlalu Banyak “Wajah Lama” The Double

Hal terakhir ini agak susah dijelaskan kalau kalian belum pernah menonton The Double. Masalahnya adalah terlalu banyak wajah yang pernah muncul di The Double, muncul lagi di Royal Betrothal sehingga otakku sebagai penonton berkali-kali gagal move on.

Begitu satu karakter muncul, bukannya langsung fokus ke cerita, aku malah refleks, “Lah, ini bukannya si…?”

Contoh paling kentara adalah Yin Qing yang diperankan Liang Yongqi. Di The Double, Liang Yongqi memerankan mantan suami Wu Jinyan yang jahat dan ambisius. 

Yin Qing yang diperankan Liang Yongqi
Yin Qing yang diperankan Liang Yongqi

Nah, ketika melihat dia kembali bermain bersama Wu Jinyan di Royal Betrothal, asosiasi itu otomatis muncul di kepalaku.

Padahal karakter mereka di sini jelas berbeda. Ceritanya juga beda. Dunia ceritanya beda. Tapi wajah aktor tetap wajah yang sama, dan memori penonton itu memang ngeselin karena bekerja sendiri. Hahaha.

Belum lagi Zhao Bin, yang berperan sebagai Guru Agung Shen Wuchen, di The Double dia kan ayah Wu Jinyan. “Pak, kok Bapak ada di sini lagi?” Hahahaha.

Guru Agung Shen Wuchen diperankan Zhao Bin
Guru Agung Shen Wuchen diperankan Zhao Bin

Bukan cuma dua orang itu aja. Ada beberapa supporting actor lain, termasuk pemain-pemain kecil yang wajahnya juga terasa familiar dari The Double. Akibatnya, aku jadi seperti sedang menonton reuni kecil pemain The Double, bukan memasuki dunia baru yang seharusnya punya identitas sendiri.

Sebenarnya, menggunakan aktor yang sama bukan masalah. Industri drama China memang sering begitu. Aktor pendukung juga bekerja di banyak produksi dan wajar kalau mereka muncul kembali bersama aktor yang sama. Yang menjadi masalah adalah kekhasan dan kedekatan perannya.

Ketika salah satunya pernah punya hubungan yang sangat kuat dengan karakter Wu Jinyan di The Double, efeknya jadi aneh. Secara casting, keputusan seperti ini bisa menciptakan bias tersendiri bagi penonton. 

Kita jadi membawa pengalaman dari drama sebelumnya ke dalam cerita yang baru. Terlebih lagi, The Double punya karakterisasi dan hubungan antartokoh yang jauh lebih membekas. 

Jadi, ketika Royal Betrothal menghadirkan kembali beberapa wajah yang sama, sementara eksekusi ceritanya sendiri sedang mulai kehilangan arah, perbandingannya semakin tidak terhindarkan.

Ironisnya, Wu Jinyan sendiri juga punya mimik wajah cenderung sama, setidaknya di otakku, dengan karakter-karakter dia di The Double dan Kill Me Love Me. Ada yang kayak aku nggak sih?

Great Actors Can’t Fix a Broken Story

Kali ini aku benar-benar kecewa sama Chen Zheyuan dan Wu Jinyan. Royal Betrothal adalah definisi nyata dari “good actors cannot save a broken story. 

Drama China ini punya modal awal yang sangat kuat, premis keren, jajaran pemain bintang, karakter awal yang menjanjikan, serta ide cerita politik kekaisaran yang unik.  

Sayang sekali, eksekusi dari sutradara debutan dan penulis skenario yang kehilangan arah di paruh kedua, episode 11 dan seterusnya, membuat drama ini meluncur bebas menjadi bencana. 

Menonton drachin ini tuh ibarat diberi janji manis pelangi di awal, tapi pada akhirnya kita dibiarkan berdiri kedinginan di tengah badai hujan lebat.

Kalau kamu belum nonton, saran terbaikku nggak usah nonton. Atau, kalau kamu maksain nonton lantaran nge-fans sama Chen Zheyuan atau Wu Jinyan, ya nikmati aja 10 episode pertamanya, lalu bayangkan sendiri ending bahagiamu. 

Karena serius loh, sisa episodenya cuma buang-buang waktu kamu. I am sorry.

Certified author (BNSP), eks-jurnalis ekonomi dan lingkungan. Kini menjadi full-time mom yang juga berkarya sebagai novelis, blogger, dan content writer. Founder Rimbawan Menulis (Rimbalis), komunitas yang aktif mengeksplorasi dunia literasi dan isu-isu lingkungan.

Share:

Leave a Comment