Judul WeTV Original Series yang satu ini mulai menarik perhatianku setelah selesai menonton drama China “Blossom of Power.” Sebagai mantan anak IPA, meski sekarang usiaku sudah masuk kepala empat, aku langsung penasaran. Mungkin karena baca judul juga premisnya yang menarik.
Dipikir-pikir, sudah cukup lama juga aku tidak mengikuti serial remaja Indonesia di platform streaming. Terakhir kali rasanya waktu menonton “Jingga dan Senja” serta “I Love You Silly.” Setelah itu, entah kenapa, banyak serial yang lewat di berandaku justru mengandalkan tema-tema yang menurutku terlalu menjual sensasi. Agak disayangkan, sih.
Padahal, saat platform streaming mulai berkembang di Indonesia lebih dari 10 tahun lalu, aku merasa banyak serial lokal yang justru menawarkan cerita segar. Aku bahkan sempat mengulas beberapa di antaranya, seperti Pulang, Married with Senior, Kupilih Cinta, Cinta Fitri, Live with My Ketos, My Lecturer My Husband, Kenapa Gue? dan masih banyak lagi.
Nah, balik lagi ke “12 IPA 4.”
Begitu episode pertamanya diputar, aku langsung paham sih kenapa serial ini ramai dibicarakan, selain karena alasan sudah lebih dulu ramai AU-nya di TikTok.
Baru sekitar lima belas menit berjalan, air mataku sudah tumpah. Penampilan Nayla sebagai Hana, atau Hanin, benar-benar mencuri perhatian.
Ini jujur pertama kalinya aku melihat akting Nayla. Setelah mencari tahu, ternyata ia sudah lebih dulu dikenal sebagai penyanyi, pernah menjadi bintang cilik, dan juga tampil di film horor “Vina: Sbeelum Tujuh Hari.” Dan yang paling bikin aku kaget adalah dia ternyata pernah main di series “Geez & Ann” yang dibintangi Junior Roberts tahun 2022 kemarin. Duh, aku baru sadar karena di sana Nayla masih imut-imut banget. Kalau sekarang kan sudah 19 tahun dia ya.
Eh… tapi nih, yang paling membekas justru kesan pertamaku saat melihatnya di serial ini. Nayla ini mengingatkanku pada Marshanda di era awal 2000-an, dan sedikit vibe Prilly Latuconsina.
Wajah mereka memang tidak mirip sama sekali, tapi cara mereka menghidupkan karakter. Ekspresi naturalnya, emosinya sampai ke penonton, Nayla melakukannya dengan sangat meyakinkan. Sudah lama juga aku tidak ketemu aktris muda dengan pesona seperti itu.
Oke, sebelum aku semakin panjang memuji para pemainnya, sekarang saatnya kita membahas “12 IPA 4” lebih jauh. Memang serial ini baru menayangkan tiga episode, jadi ulasan kali ini masih berupa first impression. Nanti setelah seluruh episodenya selesai tayang, baru kita bedah secara lebih lengkap ya
Sinopsis 12 IPA 4, WeTV Original Series.
WeTV Original Series “12 IPA 4” adalah drama remaja yang memadukan kisah keluarga, persahabatan, dan pencarian jati diri.
Ceritanya berpusat pada Hana dan Hanin, sepasang saudara kembar yang harus berpisah sejak kecil setelah kedua orang tuanya bercerai. Hana tinggal bersama sang mama, sementara Hanin diasuh oleh papanya.
Meski tumbuh di rumah yang berbeda, keduanya tidak pernah benar-benar kehilangan ikatan sebagai saudara. Mereka masih rutin bertemu, berkomunikasi, saling bertukar cerita, dan hadir dalam kehidupan masing-masing.
Sayangnya, kehidupan Hanin tidak semulus yang terlihat. Sejak kecil ia mengidap penyakit jantung yang kondisinya terus memburuk hingga menginjak usia SMA.
Hanin memilih menyembunyikan penyakitnya, bukan hanya dari Hana, tetapi juga dari sang mama. Bahkan ia meminta papanya untuk merahasiakan semuanya demi menjaga orang-orang yang dicintainya.
Hana bersekolah di SMA Angkasa, sedangkan Hanin menjadi siswa SMA Sirius. Hingga suatu hari, penyakit itu akhirnya merenggut nyawa Hanin.

Kepergian Hanin meninggalkan luka yang begitu dalam bagi orang tua dan saudara kembarnya. Saat membuka laptop dan ponsel milik Hanin, Hana menemukan satu impian terakhir yang belum sempat diwujudkan adik kembarnya, yaitu memenangkan kompetisi dance Hypemotion.
Hadiah utama lomba itu adalah liburan bersama tiga anggota keluarga, sesuatu yang sejak lama diimpikan Hanin agar bisa menyatukan kembali kedua orang tuanya. Supaya ia bisa menikmati lagi waktu bersama papa, mama, dan Hana, meski kedua orang tuanya telah berpisah.
Hana pun memutuskan melakukan sesuatu yang tak pernah terpikirkan sebelumnya. Tanpa sepengetahuan mama, ia meminta izin kepada papanya untuk menjalani hidup sebagai Hanin selama sepekan demi mewujudkan keinginan terakhir sang adik.

Keputusan itu membawanya masuk ke SMA Sirius sebagai Hanin. Namun, untuk mewujudkan impian terakhir sang adik, Hanin tidak bisa hanya berpura-pura menjadi Hana. Ia juga harus meneruskan langkah yang sempat berkali-kali gagal diwujudkan saudara kembarnya, yakni bergabung dengan Black Swan, kelompok dance kebanggaan SMA Sirius.
Black Swan beranggotakan Lana sebagai leader, bersama Nadya, Briel, Felicia, dan Chloe. Selama ini, Hana sudah dua kali mengikuti audisi, tetapi selalu gagal menembus tim tersebut. Karena itulah, bergabung dengan Black Swan menjadi langkah pertama yang harus ditempuh Hanin jika ingin meneruskan perjuangan adiknya sekaligus berlaga di kompetisi Hypemotion.
Di SMA Sirius, Hanin terkejut lantaran ditempatkan di kelas 12 IPA 4, kelas yang dijuluki “rebel class.” Isinya bukan murid-murid nakal dalam arti sebenarnya, melainkan siswa-siswi yang dianggap “berbeda.”
Sebagian murid dengan kemampuan belajar rata-rata, murid yang sangat pendiam, sulit bergaul, kerap disalahpahami, hingga memiliki bakat luar biasa di luar kemampuan akademik sehingga sulit menyesuaikan diri dengan sistem sekolah pada umumnya.
Awalnya Hanin merasa asing dengan teman-teman barunya. Namun, semakin lama mengenal mereka, ia menemukan sebuah kelas yang penuh solidaritas dan saling mendukung.
Di antara semua penghuni 12 IPA 4, dua sosok yang paling “mewarnai” hari-harinya di SMA Sirius adalah Jarvis dan Najoan, atau yang akrab disapa Jo.

Jarvis merupakan salah satu siswa paling populer di sekolah. Ia jago basket, berwajah tampan, dan diam-diam memiliki bakat sebagai desainer busana. Di balik sikapnya yang santai itu, Jarvis selalu hadir untuk melindungi Hanin (yang di matanya masih sebagai Hana). Sayangnya, perhatian itu justru membuat Hanin sempat kesal karena Jarvis dianggap terlalu obsesif dan terus memanggilnya dengan julukan “Slomo” alias Slow Motion.
Berbeda dengan Jarvis, Jo adalah pribadi yang jauh lebih pendiam. Ia sangat berbakat dalam bermusik dan lebih senang menghabiskan waktu sendirian di sebuah “secret room” tersembunyi di sekolah. Tempat itulah yang kemudian menjadi ruang aman bagi Hanin ketika harus menghindari para perundung yang dipimpin Nadya.

Seiring berjalannya waktu, Hanin mulai melihat sisi lain dari Jarvis dan Jo. Keduanya ternyata bukan hanya teman yang bisa diandalkan, tetapi juga orang-orang yang perlahan mengisi ruang di hatinya.
Lantas, siapakah yang akhirnya berhasil memenangkan hati Hanin? Mampukah ia mewujudkan impian terakhir mendiang Hana dengan bergabung dengan Black Swan, kemudian menjuarai kompetisi Hypemotion? Dan bagaimana nasib penyamarannya ketika semakin banyak rahasia yang mulai terungkap?
Cast 12 IPA 4
- Junior Roberts sebagai Jarvis
- Nayla D. Purnama sebagai Hana/ Hanin
- Sandy Pradana sebagai Najoan
- Catherine Alicia (Catheez) sebagai Arabella
- Sheryl Jesslyn sebagai Lana
- Febriant Teja sebagai Leon
- Jinan Safa sebagai Nadya
- Jeremias Grandy sebagai Niko
- Jessica Shaina sebagai Alea
- Ratu Aulia sebagai Jema
- Zidni Hakim sebagai Pak Arya, papa Hana/Hanin
- Nadila Ernesta sebagai Ibu Mutia, mama Hana/Hanin
- Djerry Dzaky sebagai Pak Yono
- Alfian Phang sebagai Pak Ridwan
Review 12 IPA 4
Baru tiga episode, tapi “12 IPA 4” sudah sukses bikin mataku sembap. Episode pertamanya benar-benar nyesek. Mungkin karena aku sendiri punya anak kembar, meski dua-duanya laki-laki. Jadi ketika melihat Hanin dan Hana harus menjalani hidup yang terpisah, aku langsung kepikiran, “Ya Allah, gimana ya rasanya?”
Yang satu tumbuh tanpa ayah, yang satunya lagi tanpa ibu. Bahkan membayangkannya saja sudah bikin sesak, disusul kepergian Hana. Buatku, itu sudah cukup untuk membuat episode pertama terasa sangat emosional.
Dari tiga episode awal ini, aku mulai punya gambaran ke mana arah ceritanya. Sejauh ini, ada beberapa hal yang menurutku menarik untuk dibahas.

1. Anak zaman sekarang tidak betah diperlakukan semena-mena
Begitu Hanin masuk ke kelas 12 IPA 4, kita langsung bisa melihat bagaimana kelas ini seperti dianaktirikan oleh sekolah.
Kelasnya ada di pojok, mepet toilet, AC-nya sering ngadat, sementara fasilitas kelas lain jauh lebih layak. Sekolah sepertinya sudah lebih dulu memberi cap kalau anak-anak 12 IPA 4 ini memang “kelas bermasalah.”
Lainnya yang bikin aku geleng-geleng kepala, syarat untuk mendapatkan AC baru juga tidak kalah ajaib. Sekolah meminta harus ada murid 12 IPA 4 yang berhasil mendapat nilai 100 di salah satu mata pelajaran.
Lah… apa hubungannya nilai ulangan sama AC? Wajar dong kalau anak-anak di kelas itu langsung pesimis. Mereka bahkan merasa target tersebut nyaris mustahil dicapai. Satu-satunya harapan mereka cuma Najoan, murid pindahan yang memang dikenal paling pintar.

Lucunya, mereka sama sekali tidak tahu kalau orang yang akhirnya berhasil mendapatkan nilai 100 justru Hanin, yang saat itu sedang menyamar menjadi Hana. Ya, masuk akal sih. Hana sebelumnya bersekolah di SMA Angkasa yang kualitas akademiknya memang digambarkan jauh lebih unggul dibanding SMA Sirius.
Scene yang menurutku lumayan menggelitik adalah ketika anak-anak 12 IPA 4 langsung kepikiran untuk demo supaya sekolah segera mengganti AC kelas mereka.
Kalau dipikir-pikir, adegan itu memang sangat Gen Z banget. Mereka mungkin belum punya kuasa mengubah aturan sekolah, tetapi mereka juga bukan tipe yang memilih diam ketika merasa diperlakukan tidak adil. Mereka protes, mempertanyakan kebijakan, lalu mencoba mencari jalan keluar bersama.
2. Perceraian selalu membawa konsekuensi
Pas awal cerita, aku sempat gemas melihat Pak Arya dan Bu Mutia ini. Dari sudut pandang saya sebagai orang tua, keduanya sama-sama punya andil hingga rumah tangga mereka berakhir.
Pak Arya belum mampu menjadi kepala keluarga yang benar-benar bisa diandalkan, sementara Bu Mutia begitu fokus mengejar kestabilan ekonomi sampai hubungan mereka perlahan kehilangan titik temu.
Tentu ini hanya penilaian pribadi aku ya. Sebab kalau dipikir-pikir, setelah bercerai dan anak-anak mereka tumbuh remaja, tidak ada satu pun dari mereka yang memilih menikah lagi.

Artinya, perceraian ini memang tidak dibumbui orang ketiga atau drama perselingkuhan. Penyebabnya sesederhana, sekaligus serumit, persoalan ekonomi yang sejak awal sudah mereka bicarakan.
Saya suka bagaimana serial ini menjelaskan perceraian kepada Hana dan Hanin lewat analogi sepotong kue. Kue yang tadinya utuh dibelah menjadi dua. Bentuknya memang berubah, tetapi rasanya tetap sama. Maksudnya jelas, meski tidak lagi tinggal serumah, mereka tetap ayah dan ibu bagi kedua anaknya.
Manis, ya?
Sayangnya, hidup tidak sesederhana membelah kue. Orang tua mungkin bisa sepakat tetap menyayangi anak dengan kadar yang sama. Namun bagi anak, yang berubah bukan cuma alamat rumah. Mereka kehilangan rutinitas yang selama ini dianggap biasa, harus membagi waktu antara ayah dan ibu, bahkan belajar menerima kenyataan bahwa keluarganya tidak lagi utuh seperti dulu.
Menurut saya, di situlah letak beratnya perceraian. Muncul konsekuensi yang ikut tumbuh bersama anak-anak, bahkan ketika kedua orang tuanya sudah sama-sama berdamai.
3. Bullying sekolah dan peran guru
Sekolah sering disebut sebagai rumah kedua bagi anak. Masuk akal sih, karena hampir separuh hari mereka habiskan di sana. Makanya, tidak heran kalau praktik perundungan juga paling sering terjadi di lingkungan sekolah.
Di awal serial, kita langsung diperlihatkan bagaimana Nadya, salah satu anggota Black Swan, dengan santainya merundung siswa lain, termasuk Hanin. Aku makin geregetan lantaran dia bahkan berani melawan guru.

Nah, di sinilah menurut saya serial “12 IPA 4” mencoba menunjukkan pesan penting. Bullying bukan cuma perkara anak yang nakal. Orang dewasa di sekolah juga punya andil besar menentukan apakah budaya seperti itu dibiarkan atau dihentikan.
Lihat saja Pak Ridwan. Harusnya sebagai guru BP, dialah orang pertama yang membuat murid merasa aman. Kenyataannya malah sebaliknya.
Barang hasil razia yang bagus disimpan sendiri. Murid yang melanggar aturan bisa “damai” asal mau transfer uang. Orang tua tidak perlu dipanggil, kasus dianggap selesai. Sebagai penonton, aku kesal banget melihat karakter Pak Ridwan daripada Nadya.
Kenapa?
Karena Nadya masih remaja. Kelakuannya memang salah, tetapi dia masih berada di usia ketika karakter dan cara berpikirnya sedang dibentuk. Sementara Pak Ridwan adalah orang dewasa. Guru pula. Orang yang seharusnya menjadi contoh.
Kalau gurunya sendiri tidak menghormati aturan, bagaimana murid akan percaya bahwa aturan memang pantas dihormati?
Menurutku, itu yang ingin disampaikan serial ini. Bullying memang dilakukan oleh murid, tetapi budaya yang membuat bullying terus hidup sering kali lahir karena orang-orang dewasa memilih tutup mata, pura-pura tidak tahu, atau bahkan ikut menyalahgunakan kewenangan yang mereka miliki.
Oke, segitu dulu ya cerita dariku. Karena “12 IPA 4” ini masih tayang, aku belum berani kasih verdict. Pengalaman nonton drama tentu saja harus lihat endingnya. Sebab ending itu bisa menyelamatkan sebuah serial… tapi juga bisa merusaknya. Jadi, aku mau lihat dulu mereka akan membawa cerita ini ke mana.
Kalau sudah tamat, kita lanjut ngobrol lagi. Sampai saat itu, aku sih tetap menyarankan kamu buat nonton. Siapa tahu nanti kita malah sama-sama geregetan di kolom komentar. HAHAHA.

Leave a Comment