Review film "Us and Them" Jing Boran
Review film "Us and Them" Jing Boran

We have everything in the end. Just not each other. Kalau dua kalimat dalam dialog film “Us and Them” itu saja sudah membuatmu curiga film ini bakal menyayat hati alias enggak happy ending, firasatmu kemungkinan besar benar.

“Us and Them” (后来的我们) adalah film drama romantis China garapan Rene Liu yang dirilis pada 2018. Dibintangi Jing Boran dan Zhou Dongyu, film ini berlatar Beijing medio 2007-2018.

Berkisah tentang Jianqing dan Fang Xiaoxiao, dua anak muda yang bertemu ketika sama-sama sedang berjuang mencari kehidupan yang lebih baik di Beijing. Mereka kemudian menjadi teman, jatuh cinta, tinggal bersama, berpisah, lalu bertemu lagi ketika sudah sama-sama dewasa.

Premisnya memang terdengar seperti kisah mantan kekasih pada umumnya. Bedanya, “Us and Them” tidak terlalu tertarik pada praduga penonton, tentang apakah mereka akan balikan?

Film ini, di mataku, lebih sibuk mengulik pertanyaan menyebalkan. Misalnya, bagaimana kalau orang yang paling kita cintai ternyata memang bukan orang yang akan bersama kita sampai tua?

Kalau semisal, kamu pernah punya mantan kekasih yang masih sesekali masih muncul di kepalamu, hati-hati. Film ini bisa terasa terlalu personal buat kamu tonton.

Sinopsis “Us and Them”

Jianqing (diperankan Jing Boran) dan Xiaoxiao (diperankan Zhou Dongyu), sama-sama berasal dari daerah dan datang ke Beijing membawa impian masing-masing.

Mereka bertemu dalam perjalanan pulang saat Tahun Baru Imlek. Saat itu, Jianqing masih mahasiswa, sementara keduanya sama-sama sedang mencari cara untuk bertahan hidup di kota besar.

Jianqing bercita-cita menjadi game developer alias pembuat game, sementara Xiaoxiao ingin punya kehidupan yang mapan di Beijing. Salah satu impiannya adalah mendapatkan “hukou” atau izin domisili yang sangat penting bagi banyak pendatang dari daerah karena berkaitan dengan akses terhadap berbagai layanan publik dan kesempatan untuk menetap di Beijing.

Keduanya tidak punya banyak uang. Mereka menjalani pekerjaan seadanya, bahkan sempat berjualan perangkat lunak (software) bajakan dan juga CD video-video dewasa Jepang. Tempat tinggal mereka pun jauh dari kata nyaman.

Akan tetapi, Beijing bagi mereka tetap punya daya tarik sendiri. Kota itu adalah tempat segala sesuatu terasa mungkin. Ya… mungkin mereka bisa sukses. Mungkin Jianqing bisa membuat game. Mungkin Xiaoxiao bisa mendapatkan kehidupan yang selama ini ia bayangkan. Dan mungkin saja, tanpa mereka sadari, mereka akan mendapatkan satu sama lain.

Masalahnya, hidup tidak pernah berhenti menagih. Begitu banyak tantangan dan ujian yang dihadapi Jianqing dan Xiaoxiao di ibu kota China tersebut.

Us and Them, film China dibintangi Jing Boran dan Zhou Dongyu
Us and Them, film China dibintangi Jing Boran dan Zhou Dongyu

Dua Anak Muda dan Beijing yang Keras

Cara film “Us and Them” ini menggambarkan kehidupan anak muda yang sedang merintis karier sangatlah unik. Apartemen mewah tidak ada. Mereka hanya tinggal di kamar sewa di tengah lingkungan padat penduduk ibu kota.

Tidak ada pekerjaan impian yang tiba-tiba datang. Tidak ada uang berlimpah setelah satu kali mencoba usaha.

Jianqing dan Xiaoxiao hidup di ruang yang sempit, mengerjakan pekerjaan yang jauh dari kata glamor, dan sesekali harus memikirkan hal-hal yang sangat sederhana seperti bagaimana mendapatkan uang untuk makan hari itu.

Dari sana hubungan mereka berkembang. Awalnya mereka teman. Mereka saling menggoda, bercanda, bertengkar kecil, saling membantu, dan perlahan menjadi orang yang paling nyaman satu sama lain.

Xiaoxiao bahkan beberapa kali mengenalkan laki-laki lain sebagai kekasihnya pada Jianqing, meski selalu berakhir putus. Jianqing dengan sabar menemani Xiaoxiao selama suka duka.

Xiaoxiao pun sering iseng, mengetes, Jianqing ini punya perasaan atau tidak sama dia?

Jawabannya kemudian menjadi jelas. Mereka pun jatuh cinta.

Jianqing dan Xiaoxiao di Us and Them
Jianqing dan Xiaoxiao di Us and Them

Teman Baik Jadi Kekasih

Setelah hubungan mereka berkembang, Xiaoxiao akhirnya tinggal bersama Jianqing. Kehidupan mereka sangat sederhana. Bahkan cenderung menyedihkan kalau dilihat dari standar kehidupan sekarang.

Meski begitu, Xiaoxiao tidak terlalu mempermasalahkannya. Ia bisa bahagia bersama Jianqing meskipun mereka tinggal di tempat yang sempit.

Buat Xiaoxiao, keberadaan Jianqing jauh lebih penting daripada ukuran kamar atau isi rekening.

Jianqing punya cara berpikir berbeda. Ia ingin memberikan lebih untuk Xiaoxiao. Ia ingin punya uang supaya bisa punya 10 rumah dan memberikannya untuk Xiaoxiao dan untuk ayahnya.

Ia ingin punya pekerjaan yang bagus. Ia ingin membuktikan bahwa dirinya mampu memberikan kehidupan yang layak kepada Xiaoxiao.

Sekilas, ini terdengar romantis ya. Masalahnya, Jianqing tidak pernah benar-benar bertanya apakah Xiaoxiao menginginkan semua itu. Ia terus saja berasumsi.

Nah, asumsi itulah yang menjadi salah satu sumber masalah terbesar dalam hubungan mereka.

Jianqing dan Obsesi untuk “Berhasil”

Menurutku, Jianqing adalah karakter yang paling menarik sekaligus paling bikin frustrasi di “Us and Them” ini.

Dia ini bukan pria brengsek, bukan pula kekasih yang tidak mencintai pasangannya. Dia sangat mencintai Xiaoxiao. Hanya saja, ia punya cara yang keliru dalam menunjukkan cinta.

Jianqing merasa dirinya harus menjadi sukses agar pantas bersama Xiaoxiao. Karena itu ia terus mengejar pekerjaan, uang, dan status. Ia ingin keluar dari kehidupan miskin yang mereka jalani.

Ia ingin membuktikan kepada dirinya sendiri, dan mungkin juga kepada orang-orang di sekitarnya, bahwa ia bisa berhasil.

Sayangnya, semakin ia mengejar semua itu, semakin sedikit waktu yang ia berikan kepada Xiaoxiao.

Jianqing dan Xiaoxiao sebenarnya menginginkan hal yang tidak terlalu berbeda, yaitu hidup yang lebih baik. Namun, definisi “lebih baik” mereka sudah tidak sama.

Bagi Jianqing, lebih baik berarti lebih kaya dan lebih mapan. Bagi Xiaoxiao, lebih baik mungkin cukup berarti hidup bersama orang yang ia cintai, orang yang sama-sama punya tujuan, dan mau berjuang. Lama kelamaan, mereka hanya tidak lagi berjalan ke arah yang sama.

Perpisahan tidak Terjadi Seketika

Aku suka cara “Us and Them” menggambarkan putusnya hubungan mereka. Menarik, sebab film ini sama sekali tidak ada tokoh antagonisnya.

Hubungan Jianqing dan Xiaoxiao juga jauh dari isu perselingkuhan melodramatis yang kerap dijadikan kambing hitam dalam cerita film.

Intinya, tidak ada satu pun kejadian besar yang bisa bikin aku sebagai penonton bisa bilang, “Nah, ini nih penyebab mereka putus.”

Serius. Enggak ada sama sekali. Hubungan mereka retak perlahan.

Masalah ekonomi ikut bermain di sini. Jianqing semakin tertekan. Komunikasi mereka semakin buruk. Harapan masing-masing tidak pernah benar-benar dibicarakan.

Keduanya mulai saling menyakiti, karena mereka sudah kelelahan. Akhirnya, mereka pun berpisah, tapi dalam kondisi masih saling mencintai. Hanya saja cinta itu tidak mampu menyelesaikan masalah yang mereka hadapi.

Setelah Putus, Jianqing Justru Sukses

Sakit banget nulis part ini. Hehehe. Setelah putus, Jianqing tidak tenggelam dalam kesedihan tanpa arah.

Ia bekerja, membangun bisnis, mengembangkan game yang terinspirasi oleh Xiaoxiao. Game itu memiliki karakter bernama Ian dan Kelly.

Inti permainannya adalah Ian mencari Kelly. Ian mengira Kelly diculik alien. Bagi Ian, dunia tanpa Kelly adalah dunia tanpa warna. Semua menjadi hitam putih, monokrom.

Sebagai penonton, aku tahu banget game tersebut sebenarnya merupakan bentuk lain dari pengakuan Jianqing. Ia tidak bisa mengatakan semuanya kepada Xiaoxiao secara langsung. Jadi ia memasukkan perasaannya ke dalam gim.

Ironisnya, kesedihan justru menjadi salah satu bahan bakar kesuksesannya. Jianqing akhirnya memiliki karier yang bagus. Banyak yang suka, bahkan meninggalkan pesan simpati untuk Ian, mencapai dua juta pesan.

Game-nya pun viral dan Jianqing bergabung ke sebuah perusahaan game besar di Beijing.

Ia menjadi sosok penting dalam industri game dan mencapai kehidupan yang secara material jauh lebih nyaman.

Akhirnya, Jianqing punya rumah di Beijing. Sekarang dia sudah bisa beli mobil, punya uang berlimpah, kariernya juga berkembang.

Dulu ia takut tidak mampu memberikan rumah kepada Xiaoxiao. Sekarang ia justru bisa membeli rumah. Sayangnya, perempuan yang dulu ingin ia bahagiakan sudah tidak berada di sana.

Ironi terbesar dalam kisah Jianqing adalah dia berhasil mendapatkan kehidupan yang selama ini ia kejar. Hanya saja, ketika akhirnya sampai, orang yang ingin ia ajak menikmati kehidupan tersebut sudah pergi.

Bertemu Lagi di Masa Kini

Cerita kembali ke masa sekarang. Jianqing dan Xiaoxiao bertemu secara tidak sengaja ketika perjalanan kereta menuju Beijing menjelang Tahun Baru terganggu. Pesawat mereka delay, jadi mau tidak mau naik kereta. Ironisnya, dahulu, mereka juga berpisah di kereta. Deja vu kan jadinya.

Xiaoxiao bertemu Jianqing di kereta
Xiaoxiao bertemu Jianqing di kereta

Keduanya kemudian menghabiskan waktu bersama di sepanjang perjalanan itu. Mereka bahkan sempat menginap di hotel yang sama. Di sinilah kita melihat dua versi mereka sekaligus.

Ada Jianqing dan Xiaoxiao yang dulu, dengan layar berwarna. Mereka yang masih muda, miskin, keras kepala, penuh mimpi.

Kemudian, ada Jianqing dan Xiaoxiao yang sekarang, dengan layar hitam putih. Mereka yang masing-masingnya sudah mapan, lebih dewasa, tetapi membawa luka masing-masing.

Kamu mungkin sudah bisa menebak, kenapa bagian masa kini ditampilkan dalam hitam-putih, sementara adegan masa lalu mereka menggunakan warna.

Ya, persis seperti ungkapan Jianqing pada Xiaoxiao sebelumnya, bahwa “jika Ian tak bisa bertemu lagi dengan Kelly, dunia akan kehilangan warna.”

Pertemuan kembali Jianqing dan Xiaoxiao
Pertemuan kembali Jianqing dan Xiaoxiao

Masa lalu adalah masa ketika hidup mereka masih penuh kemungkinan. Mereka belum tahu apa yang akan terjadi, masih bisa bermimpi, membayangkan masa depan.

Masa kini justru sebaliknya. Mereka sudah tahu bagaimana hidup berakhir. Jianqing sudah menikah dan memiliki seorang anak. Artinya, tidak ada lagi kata “mungkin” terkait hubungannya dengan Xiaoxiao. Apa yang tersisa hanya kenangan dalam ingatan.

“I Miss You” atau “I Missed You”?

Jelang mereka berpisah kembali setelah usai bernostalgia, adalah scene di dalam mobil, ketika Jianqing hendak mengantarkan Xiaoxiao pulang.

Xiaoxiao bilang, “I miss you” ke Jianqing. Lalu, ia mengoreksinya menjadi, “I missed you.”Jianqing mengatakan bahwa ia juga merindukan Xiaoxiao. Kelihatannya sepele ya. Satu perubahan kecil pada tense tersebut menjelaskan hubungan mereka dengan sangat baik.

“I miss you” berarti rasa cinta itu masih ada, masih berlangsung. Sementara “I missed you” menempatkannya sebagai sesuatu yang sudah terjadi di masa lalu.

Xiaoxiao bilang ke Jianqing, bahwa dia “pernah” sangat merindukan lelaki itu. Masa lalu mereka memang pernah berarti, tapi tak ada guna jika mereka harus menghidupkannya kembali.

"I missed you" dari Xiaoxiao untuk Jianqing
“I missed you” dari Xiaoxiao untuk Jianqing

Bagian Paling Menguras Air Mata: Ayah Jianqing

Kalau kamu menonton film ini hanya karena ingin melihat kisah cinta Jianqing dan Xiaoxiao, kamu salah besar. Kamu mungkin akan terkejut ketika bagian ayah Jianqing justru menjadi salah satu bagian yang paling emosional dalam film ini.

Ayah Jianqing adalah sosok sederhana. Hubungan ayah anak ini tidak selalu mudah.

Jianqing terlalu sibuk mengejar kesuksesan dan terlalu tenggelam dalam persoalannya sendiri sehingga tidak selalu memahami apa yang sebenarnya ingin disampaikan ayahnya.

Di akhir, ketika sang ayah sudah meninggal dunia, Jianqing menemukan amplop surat sang ayah yang ditujukan kepada Xiaoxiao. Surat itu tampaknya belum sempat terkirim.

Ketika Jianqing membacanya di masa kini, rasanya seperti ditampar. Aku pun sebagai penonton berderai air mata melihat Jianqing membaca surat terakhir dari ayahnya kepada Xiaoxiao, sosok perempuan yang diharapkan sang ayah untuk menemani Jianqing selamanya.

Jianqing, ayahnya, dan Xiaoxiao
Jianqing, ayahnya, dan Xiaoxiao

Tiba-tiba film “Us and Them” ini tidak lagi hanya membahas mantan kekasih. Ada kisah orang tua kesepian di sana. Ada anak yang terlalu sibuk mengejar masa depan sampai lupa melihat orang yang sudah berkorban untuknya.

Yah, ini adalah hal-hal yang sering kita jumpai in real life sekarang. Kita sering mengenyampingkan waktu untuk bersama atau berkomunikasi dengan orang tua karena menganggap kalau sama orang tua itu bisa dibicarakan nanti. Padahal “nanti” itu belum tentu datang.

Hubungan Jianqing dan sang ayah yang tak selalu ramah
Hubungan Jianqing dan sang ayah yang tak selalu ramah

Hubungan Jianqing dengan ayahnya juga menjadi cermin lain dari karakter Jianqing. Ia begitu sibuk memikirkan apa yang belum ia punya sampai tidak cukup peka terhadap apa yang sebenarnya sudah ada di hadapannya.

Akting Tian Zhuangzhuang sebagai ayah Jianqing memberikan lapisan emosional lain. Sangat menyentuh hati. Beberapa adegan bahkan bikin aku menangis.

Ayah Jianqing bukan manusia sempurna. Jianqing pun bukan anak yang buruk sebenarnya. Mereka hanya sering gagal memahami satu sama lain.

Kondisi seperti ini juga cukup dekat dengan kehidupan banyak keluarga. Kita mencintai seseorang tetapi tidak tahu bagaimana mengatakannya.

Kadang kita merasa sudah berbuat cukup, sementara orang lain tidak pernah tahu bahwa kita sedang berusaha.

Jing Boran dan Zhou Dongyu sebagai Pemeran Utama

Zhou Dongyu tampil sangat kuat sebagai Xiaoxiao. Karakter ini tidak dibuat sebagai perempuan sempurna.

Ia bisa keras kepala, emosional, impulsif, bahkan membuat keputusan yang mungkin tidak selalu kita setujui.

Perubahan karakter Xiaoxiao dari perempuan muda yang penuh keinginan menjadi perempuan dewasa yang lebih menerima hidup terlihat jelas dari awal sampai akhir.

Ekspresi, gestur, cara berbicara, bahkan cara ia memandang Jianqing sudah cukup menceritakan semuanya. Chemistry Zhou Dongyu dengan Jing Boran benar-benar natural. Mereka benar-benar terlihat seperti dua orang yang sudah mengenal satu sama lain selama bertahun-tahun.

Jing Boran di film “Us and Them” ini bukan “prince charming.” Beda banget dari serialnya yang lagi viral sekarang, “The Early Spring.”

Dalam “Us and Them,” Jing Boran itu karakter yang amat biasa, layaknya pemuda desa yang baru meniti karier di kota. 

Sifatnya kadang menyebalkan. Dia kadang egois, kadang terlalu keras kepala.

Akan tetapi, aku mau menggarisbawahi di sini, bahwa Jianqing tidak kehilangan Xiaoxiao karena tidak mencintainya.

Ia kehilangan Xiaoxiao karena tidak tahu bagaimana mencintai seseorang tanpa merasa harus mengendalikan hasil akhirnya.

Ia ingin membahagiakan Xiaoxiao, tetapi ia menentukan sendiri bentuk kebahagiaan itu. Dia bukan karakter pria romantis yang selalu tahu apa yang harus dilakukan.

Sinematografi yang Punya Fungsi

Aku suka banget keputusan sang sutradara, Rene Liu untuk menggunakan warna sebagai bagian dari struktur cerita.

Masa lalu tampil penuh warna. Masa kini hitam-putih. Kontrasnya langsung terasa.

Saat masih muda, Jianqing dan Xiaoxiao memang hidup susah. Namun mereka punya sesuatu yang sekarang tidak mereka miliki, yaitu satu sama lain.

Mereka dulu adalah sepasang kekasih, belum tahu bahwa mereka kelak akan berpisah. Mereka sama-sama belum tahu siapa yang akan sukses duluan, dan belum tahu siapa yang akan meninggalkan siapa duluan.

Jianqing dan Xiaoxiao belum tahu bahwa suatu hari mereka akan duduk bersama sebagai mantan, dua orang yang pernah menjadi segalanya bagi satu sama lain.

Begitu bertemu kembali, mereka sudah tahu jawabannya. Dunia mereka benar-benar terasa tanpa warna.

Film ini membawa gagasan tersebut ke arah yang lebih optimistis. Ketika mereka akhirnya menerima masa lalu dan melepaskan penyesalan, warna kembali mendapatkan makna.

Dunia mereka di masa kini berubah penuh warna lagi bukan karena mereka balikan, melainkan karena mereka memilih terus melanjutkan hidup meski di jalan berbeda.

Ending “Us and Them,” Apakah Jianqing dan Xiaoxiao Balikan?

TIDAK ya. Meski berderai air mata karena tidak happy ending, menurutku ini keputusan tepat penulis cerita.

“Us and Them” tidak mendapatkan akhir seperti film romance klasik. Tidak ada adegan pernikahan. Tidak ada pelukan lalu kembali menjadi pasangan. 

Endingnya adalah sebuah pengakuan. Mereka bisa mengakui bahwa apa yang mereka miliki dulu memang nyata.

Iya, mereka pernah bahagia, pernah saling mencintai, pernah berjuang bersama, dan hubungan itu tetap punya arti meskipun akhirnya berakhir.

Jianqing akhirnya harus menerima bahwa ia tidak bisa mengubah masa lalu. Xiaoxiao sudah lebih dulu memahami hal tersebut.

Mereka tidak perlu saling membenci agar bisa berpisah. Mereka hanya perlu menerima bahwa hidup sudah membawa mereka ke tempat yang berbeda.

Tak perlu mencari siapa yang salah. Jianqing jelas punya kesalahan. Ia terlalu terobsesi pada keberhasilan dan terlalu sering menganggap bahwa menyediakan kehidupan yang lebih baik adalah bentuk cinta yang paling penting.

Xiaoxiao juga bukan tanpa kesalahan. Ia punya ekspektasi sendiri, kadang menggunakan kecemburuan sebagai cara untuk menguji perasaan Jianqing, dan tidak selalu menyampaikan apa yang sebenarnya ia rasakan dengan jelas.

Tapi ya wajar sih. Kala itu, mereka masih sama-sama muda, sama-sama keras kepala, sama-sama sedang belajar.

So, buat aku pribadi, perpisahan mereka bukanlah kemenangan bagi salah satu pihak. Tidak ada yang benar-benar menang. Tidak ada pula yang sepenuhnya kalah.

Kita sering mengukur hubungan dari “akhirnya.” Kalau menikah, berarti berhasil. Kalau putus, berarti gagal.

Padahal dalam hidup, ada hubungan yang hanya berlangsung beberapa tahun tetapi mengubah seseorang seumur hidup.

Ada orang yang datang ketika kita sedang berada di titik paling sulit, menemani kita tumbuh, lalu pergi ketika perjalanan hidup membawa kita ke arah berbeda.

Bukan berarti cintanya palsu. Mungkin memang waktunya dan jodohnya selesainya sampai di situ. 

Kalau kamu menangis karena menonton film ini, sharing ceritamu di kolom komentra ya. Buat kamu yang belum nonton, film ini ada di Netflix. Kamu bisa nonton di sana.

Siapkan waktu dan siapkan hati. Pesanku, kalau kamu masih punya mantan yang masih tersimpan di kontak WhatsApp, tolong jangan langsung menghubunginya setelah film selesai. Hehehe.

Certified author (BNSP), eks-jurnalis ekonomi dan lingkungan. Kini menjadi full-time mom yang juga berkarya sebagai novelis, blogger, dan content writer. Founder Rimbawan Menulis (Rimbalis), komunitas yang aktif mengeksplorasi dunia literasi dan isu-isu lingkungan.

Share:

Leave a Comment