Persiapan Anak TK di Hari Pertama Masuk Sekolah

Sebagian besar orang tua, terutama ibu mengingat hari pertama anak mereka masuk sekolah. Pandangan mata saya berkaca-kaca, kerongkongan saya kering melihat Kakak Mae melangkah masuk kelas sebagai murid taman kanak-kanak.

Bangga, bahagia, sekaligus haru. Saya yakin orang tua yang pembawaannya paling santai sekalipun emosinya bisa campur aduk di momen itu. Anak yang biasanya bersama kita 24 jam, kini mulai menyisihkan sebagian waktunya di luar rumah lima kali seminggu.

Sepekan lalu, tepatnya Kamis, 11 November 2021, Kakak Mae menjadi murid salah satu TK Islam Terpadu (TKIT) di Jatimulya, Bekasi Timur. Lebih dari 1,5 tahun saya menunda menyekolahkannya karena situasi pandemi.

Jujur, saya gak mau kesan hari pertama masuk sekolah yang dirasakan Maetami adalah belajar online. Mungkin karena usia Maetami belum begitu ‘kebelet’ sekolah, saya masih bisa tunda. Saya bahkan sempat bersiap diri untuk langsung saja memasukkan Maetami ke sekolah dasar swasta nanti saat usianya 6 tahun.

Sebagai gantinya di rumah, dua tahun terakhir saya sendiri yang mengajarkan Maetami belajar membaca, mengaji, dan berhitung. Alhamdulillah Maetami kini menguasai semuanya.

Kesempatan itu datang mana kala mama mertua menyarankan Maetami masuk TKIT yang lokasinya tak jauh dari rumah. Kebetulan TK ini sudah aktif belajar tatap muka setiap hari. Ada juga TK alternatif kedua jaraknya hanya 500 meter dari rumah, tetapi masih belajar online, sedangkan pertemuan tatap mukanya sekali seminggu. Akhirnya saya pilih TK pertama.

Begitu saya memasukkan Maetami, gurunya sempat bilang Maetami sebaiknya digeneralisasi dulu satu semester di TK-A atau TK Kecil, sebab sudah ketinggalan pelajaran, mungkin kurang lebih 2-3 bulan. Namun, saya sampaikan ke gurunya bahwa Maetami sudah menguasai kemampuan dasar membaca, menulis, dan mengaji hingga Iqra-3.

Sang guru dapat menguji Maetami terlebih dahulu. Jika memang Maetami tidak bisa, silakan dimulai dari TK-A. Alhamdulillah hari kedua Maetami sudah bisa bergabung dengan kawan-kawannya di TK-B atau TK Besar.

No Drama, Langsung Mandiri.

Saya sudah membayangkan detail episode drama anak di hari pertama masuk sekolah. Saya sendiri dulu mengalaminya di mana kurang dari seminggu nenek harus menemani saya dari luar kelas. Saya pun siap jika Maetami berlaku sama.

Pas saya bilang, “Ibun pulang dulu lihat Adek Rashif boleh, nak? Nanti ibun jemput kakak lagi di sini.”  Alhamdulillah si kakak mengangguk, bonus kasih ibun senyum pula. Masya Allah.

Saya harus pulang sebelum 08.30 WIB karena sesi pertama terapi Rashif berakhir pada jam tersebut. Biasanya Rashif harus tidur 30 menit sampai sesi kedua dimulai pukul 09.00 WIB. Rashif kalo tidur masih harus dikelonin. Kalo gak sama ibunnya, dia gak bisa tidur, dan kalo dia gak tidur, ya siap-siap aja rewel di kelas.

Sepekan sudah kakak sekolah mandiri, tidak perlu ditunggui. No drama.

Tips Mempersiapkan Anak di Hari Pertama Masuk Sekolah

Taman kanak-kanak adalah langkah pertama sekaligus langkah besar bagi anak. Mungkin saja ini adalah hari menyenangkan bagi mereka, tetapi dari sana mereka sesungguhnya belajar untuk menghadapi hari-hari panjang berseragam, kurikulum pelajaran yang menantang, dan waktu yang dihabiskan jauh dari orang tua.

Beberapa masalah yang mungkin dihadapi anak di hari pertama masuk sekolah, antara lain anak bosan dengan jam sekolah yang lama, transisi dari satu aktivitas ke aktivitas lain, belajar fokus, serta duduk diam memerhatikan guru di kelas.

Berikut saya paparkan sejumlah tips mempersiapkan anak di hari pertama masuk sekolah.

1. Ajak anak mengunjungi sekolah sebelum hari pertama masuk sekolah

Kuncinya adalah membuat anak memahami seperti apa rasanya berada di sekolah. Sehari sebelum masuk sekolah, saya mengajak Maetami berkunjung ke sekolah barunya.

Syukurnya salah seorang ibu pengelola mengizinkan saya masuk ke lingkungan sekolah, sekalian mengantarkan dokumen administrasi yang diperlukan untuk pendaftaran Maetami. Saya biarkan Maetami bermain di halaman sekolah. Saya ajak dia melihat suasana kelas dari balik kaca jendela.

Intinya ajak anak kita melakukan tur singkat di sekolah baru. Saya tunjukkan di mana Maetami harus meletakkan sepatu atau sandal sebelum masuk kelas, di mana kelasnya nanti, bahkan posisi duduknya.

Jelaskan tentang gurunya, juga apa saja pelajarannya nanti. Ceritakan betapa bahagianya bersekolah, belajar di kelas, dan bermain bersama teman.

2. Latihan berangkat dan pulang sekolah

Beberapa anak khawatir bagaimana cara mereka pergi dan pulang sekolah. Saya sampaikan ke Maetami bahwa setiap harinya saya atau papanya akan mengantar ke sekolah, tetapi kelak Maetami akan dijemput oleh saya pada Senin, Rabu, dan Jumat, sedangkan Selasa dan Kamis dijemput emak, asisten rumah tangga (ART) kami.

Kebetulan kami mengajukan diri sebagai orang tua asuh dari anak emak yang usianya setahun di bawah Mae. Alifah masuk kelas TK-A, sedangkan Maetami TK-B. Tujuan kami selain membantu emak, juga tak lain supaya Maetami tidak terlalu ‘takut’ sendirian di sekolah karena dia sudah berteman dengan Alifah cukup lama.

Saya juga sampaikan Maetami, tidak boleh menerima ajakan siapapun yang ingin menjemputnya pulang sekolah kecuali orang tuanya dan si emak. Sekiranya kami terlambat menjemput, Kakak Mae harus menunggu di ruang ibu guru.

3. Pilih jadwal TK yang sesuai

Saya memilih TKIT untuk Maetami dengan dua pilihan jadwal berbeda, yaitu pagi (08.00-09.30 WIB) dan siang (14.00-15.30 WIB). Saya pilih jadwal pagi karena ingin Maetami terbiasa memulai rutinitas di pagi hari.

4. Bantu anak berteman

Hari pertama masuk sekolah saya sengaja datang 30 menit lebih cepat. Saya ingin bertemu orang tua murid yang pastinya akan mengantar anaknya sekolah, sekaligus mengenalkan Maetami pada anak-anak mereka.

Ini salah satu cara saya mendorong Maetami mau berteman. Anak saya termasuk tipe introvert yang terlalu malu untuk mengajak berkenalan lebih dulu, kecuali ada saya bersamanya.

Saya ajak Maetami beranjak ke sana kemari, berkenalan dengan teman-teman sebayanya, seperti Reihana, Ilham, Cessa, dan Umar. Setidaknya sekarang setiap berkumpul membuat lingkaran kecil dan lingkaran besar di pagi hari, saya bisa melihat Maetami kerap berpegangan tangan dengan Reihana.

Saya motivasi Maetami untuk menghapal nama guru dan beberapa nama temannya. Maetami akhirnya bisa tahu bahwa nama gurunya adalah Ibu Tuti.

5. Bantu anak menjaga rutinitas, khususnya ke toilet.

Anak kita sekarang tak bisa lagi bertindak sesuka hati karena mereka sudah mulai bersekolah. Bangun pagi sudah pasti, sarapan, berangkat sekolah, pulang sekolah, tidur siang, makan siang dan makan malam tepat waktu, kemudian masuk kamar tidur maksimal jam 9 malam.

Hal yang tak kalah penting adalah ajarkan anak untuk berani memberi tahu gurunya jika ingin buang air ke toilet. Sebagian besar anak TK belum terbiasa mandiri di toilet baru, selain di kamar mandi rumah.

Jangan sampai anak gak berani ngomong, trus nahan buang air kecil atau buang air besar, lalu akhirnya ‘hmmm’ aroma semerbak menyebar di kelas seketika.

Saya bahkan mengajarkan urutan kalimat yang harus disampaikan Maetami ke gurunya, seperti “Ibu guru, Mae mau ke toilet. Boleh minta tolong?”

6. Jangan lupa foto hari pertama

Harus diakui, saya adalah emak-emak yang senang banget ngambil foto anak dari berbagai angle. Saya gak bakalan lupa mengambil foto kakak hari pertama masuk sekolah.

Foto anak kita di hari pertama masuk sekolah buat saya sangat bersejarah, mulai dari foto anak berseragam, foto anak di depan rumah, di depan sekolah, foto anak saat bermain bersama teman-temannya. Semua saya berusaha abadikan.

Saya juga membagikannya di media sosial. Hehehe. Kelak enam tahun kemudian, sembilan tahun kemudian, atau 12 tahun kemudian saya akan melihatnya kembali. Itulah yang membuat hari pertama masuk sekolah amat berkesan tak hanya buat anak, tapi juga orang tua anak.

7. Sambut anak di rumah

Pokoknya hari pertama masuk sekolah, ibun mendadak jadi ibu peri sepanjang hari. Gak ada marah-marah, gak ada ngomel-ngomel, anak salah sedikit tetap senyum, anak salah banyak tetap sabar, pokoknya mendadak malaikat demi mendapatkan cerita-cerita seru dari si kakak.

Pahami kondisi anak lelah pulang sekolah. Jangan buru-buru menghujaninya dengan banyak pertanyaan. Tahan kepo-nya mak. Tanya anak pelan-pelan sambil makan dengan wajah sumringah, bagaimana kesannya hari pertama sekolah, dan berbagai pertanyaan lainnya.

Jaga kontak mata ya mak. Tatap mata anak kita dan beri tahu hal hebat apa yang dia lakukan hari itu. Katakan juga kita gak sabar melihatnya semangat bersekolah esok harinya.

Warning!

Bisa dimaklumi kok jika anak kita mengalami gangguan kecemasan di hari pertama masuk sekolah TK. Bayangkan saja, mereka harus meninggalkan kenyamanan yang biasa didapatkan di rumah secara tiba-tiba, kemudian masuk ke lingkungan baru di mana segala sesuatu dan setiap orang tampak berbeda.

Ada rutinitas baru, ada harapan baru. Kita sebagai orang tua tak perlu khawatir berlebihan. Tugas kita adalah membuat anak merasa lebih baik.

Kapan kita perlu khawatir? Berikut tanda-tanda anak tidak bisa menyesuaikan diri dengan baik di taman kanak-kanak.

  • Guru melaporkan anak mengalami kesulitan signifikan dalam hal mendengarkan dan mengikuti petunjuk guru di sekolah.
  • Anak menjadi agresif secara verbal dan fisik terhadap teman sebaya atau staf sekolah.
  • Anak sering tantrum di sekolah.
  • Anak semakin malas mempersiapkan diri untuk ke sekolah, bahkan mengatakan dirinya gak mau sekolah.
  • Sudah sebulan atau lebih sekolah, anak masih sering menangis dan tak ingin berpisah dengan orang tua di pagi hari.
  • Anak tampak sedih, khawatir, dan lebih sensitif sebelum sekolah dimulai.

Pada titik mana kita sebagai orang tua harus peka dan mencari bantuan profesional untuk anak?

  • Anak kerap terlibat dalam perilaku mengganggu di sekolah. Misalnya, anak sering menyerang atau agresif secara verbal atau fisik terhadap anak-anak lain, guru, dan staf sekolah. Anak sering merusak properti kelas, meninggalkan kelas tanpa izin, atau sering marah dan tantrum tanpa sebab.
  • Anak menunjukkan kecemasan berlebihan tentang sekolah. Bisa jadi dia terlampau khawatir dan takut saat bercerita tentang salah satu teman sebaya, guru, atau tugas-tugas sekolah, sehingga dia menghindar dari pergi sekolah.
  • Anak yang awalnya senang bersekolah menjadi lebih sering menangis, sedih, mudah tersinggung, dan tak tertarik lagi dengan aktivitas sama.
  • Anak sering mengalami insiden toilet, meskipun aslinya anak sudah lulus toilet training dan bisa ke toilet sendiri.

Tips terakhir dari saya adalah percaya pada guru. Anak kita bukan satu-satunya di kelas yang mengalami gangguan kecemasan di hari pertama masuk sekolah TK.

Anak kita juga tidak selalu menjadi anak pertama yang harus dihibur guru setelah ayah, ibu, atau pengasuhnya pergi. Guru berpengalaman pasti telah menyiapkan segala cara untuk menyenangkan hati murid-muridnya kembali. Pada akhirnya anak kita akan terbiasa dan beradaptasi dengan lingkungan barunya.

7 thoughts

  1. Aku lupa dulu pas masuk TK termasuk anak yang penakut atau berani haha. Hanya seingatku awal-awal aja ditungguin, udahnya ditinggal dan diantar jemput sama becak langganan. Beda sama adikku yang bungsu, 2 tahun sekolah, 2 tahun pula ibuku ikutan sekolah haha. Menarik baca pengalaman ini. Jadi punya gambaran kelak kalau punya anak 🙂

    Like

  2. Senangnya dapat sekolah yg udah bisa belajarnya tatap muka. Makasih sharingnya mba. Jadi tambahan catatan buat saya nanti kalau kaka’ masuk sekolah 🙂

    Like

  3. Kalau di lingkungan desa tempat saya tinggal, anak TK mah ditungguin emaknya. Mulai dari berangkat sampai pulang. Dulu saya sempat begitu pas adik dan keponakan saya. Rasanya nggak tega karena yang lain ditungguin emaknya semua.

    Tapi, harusnya diajarkan kemandirian sih ya. Ah, pengalaman kakak Mae ini benar-benar hebat.

    Like

  4. Selamat ya kakak mae. Udah mulai sekolah artinya udah makin gede. Sebentar lagi sd, harus makin pinter dan rajin belajarnya. Barakallah.. semoga ilmu yang didapat berkah aamiin yaa rabbal alamin

    Like

  5. Semangat adik Maetami.
    Kerennya berangkat sekolah hari pertama tanpa drama, mandiri dan main bareng sama teman-teman baru.
    Makin Semangat deh buat berangkat sekolah setiap hari.

    Like

  6. Aahh, aku insyaAllah tahun depan masukin anak-anakku. Satu di TKA satunya lagi di TK B. Kebayang sih besok terharunya bakal kayak apa karena tiga anakku udah sekolah semua. Mudah2an pandemi beneran berlalu ya, supaya anak2 bisa tatap muka dengan tenang

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.