Metode Membaca tanpa Mengeja dengan Smart ABA

Metode membaca itu banyak banget ya. Ada metode abjad (alphabet), metode eja (spelling method), metode suku kata (syllabic method), metode kata (whole word method), metode global (syntaxis method), dan metode SAS (structural, analytic, syntatic).

Nah, kali ini saya mau sharing pengalaman mengajarkan putri saya, Maetami (5 tahun) belajar membaca huruf dengan metode membaca Smart ABA. Metode ini kebetulan di luar enam metode mainstream di atas ya.

Kenapa saya pilih metode membaca Smart ABA? Bukannya ini khusus diajarkan untuk penyandang autisme (autisi)?

Sebetulnya saya mikirnya spontan saja waktu itu, saat mendampingi putra saya, Rashif yang autisi menjalani terapi di KIDABA.

Saya mikirnya sederhana. Kalo anak autisi yang memiliki masalah kognitif saja bisa paham diajarkan membaca dengan Smart ABA, kenapa anak tipikal atau non-autisi seperti Maetami tidak bisa? Ya kan?

Perlu diketahui, terapi dan kurikulum untuk anak autisi dirancang sedemikian rupa secara sistematis dan terukur. Orang tua dengan anak autisi saya rasa mengerti lah bagaimana ‘teratur’ dan sakleknya anak-anak kita yang spesial ini dengan aktivitas sehari-hari. Makanya terapi dan kurikulum belajar mereka disusun sedemikian rupa.

Eh, beneran dong. Begitu saya praktikkan ke putri saya, Maetami langsung bisa baca buku cerita anak setelah menggunakan metode membaca Smart ABA selama lima bulan.

Saya ingat pertama kali mengenalkan cara ini ke Maetami Januari 2021. Belajarnya 20 menit saja sehari, Senin-Jumat. Sepanjang Maret, April, Mei Maetami belajarnya sering vakum karena saya sibuk mempersiapkan Rashif adaptasi dari awalnya terapi di The Center KIDABA Grand Wisata menjadi terapi di rumah (home-base). Maetami baru kembali belajar intensif Juni dan Juli. Alhamdulillah Agustus-nya dia udah lancar membaca.

Metode Membaca Smart ABA

Metode membaca Smart ABA (Applied Behavior Analysis) disusun oleh dua konsultan ahli autisme yang kebetulan suami istri, yaitu Dokter Rudy Sutadi dan Ibu Arneliza Anwar. Mereka telah mempraktikkan metode ini lebih dari tiga dekade.

Menurut Ibu Liza, sudah banyak autisi yang diterapi di KIDABA setelah verbal kemudian lancar membaca dengan cara ini. Insya Allah metode membaca Smart ABA jauh lebih mudah diterapkan pada anak normal yang tidak ada gangguan perkembangan.

Berikut saya coba paparkan praktik metode membaca Smart ABA.

1. Siapkan kartu

Hal pertama yang perlu kita siapkan adalah kartu belajar yang fun dan menyenangkan. Pada anak non-autisi, kartunya bisa dibuat warna-warni.

Khusus anak autisi, mereka belajar membaca huruf menggunakan kartu huruf dan suku kata yang dicetak menggunakan tinta hitam di atas kertas karton warna putih, kemudian dilaminating. Jangan ada embel-embel lain, seperti bunga-bunga, garis pinggir, dan sebagainya. Hanya cetak hurufnya saja.

Anak autisi berbeda dengan anak tanpa gangguan perkembangan. Terlalu banyak warna dan bentuk bisa mendistraksi mereka, sehingga susah fokus.

Apa saja huruf yang harus dicetak?

  • Huruf vokal menggunakan huruf kapital, masing-masingnya A, U, O, E, I.
  • Huruf vokal menggunakan huruf kecil, masing-masingnya a, u, o, e, i.
  • Huruf konsonan menggunakan huruf kapital, masing-masingnya B, C, D, F, G, H, J, K, L, M, N, P, Q, R, S, T, V, W, X, Y, Z.
  • Huruf konsonan menggunakan huruf kecil, masing-masingnya b, c, d, f, g, h, j, k, l, m, n, p, q, r, s, t, v, w, x, y, z.
  • Suku kata diawali huruf konsonan menggunakan huruf kapital, misalnya BA, BU, BO, BE, BI, lalu CA, CU, CO, CE, CI, dan seterusnya hingga ZA, ZU, ZO, ZE, ZI.
  • Suku kata diawali huruf konsonan menggunakan huruf kecil, misalnya ba, bu, bo, be, bi, lalu ca, cu, co, ce, ci, dan seterusnya hingga za, zu, zo, ze, zi.

2. Ajarkan huruf vokal A, U, O, E, I.

Tahap pertama yang kita gunakan dalam metode membaca permulaan adalah kartu huruf vokal yang dicetak menggunakan huruf kapital, bukan huruf kecil. Alasannya bentuk huruf kapital lebih tegas, tidak terlalu banyak lekukan, sehingga anak lebih cepat mengingat.

Caranya bagaimana?

  • Taruh kartu A, kemudian ibu beri anak contoh dengan mengatakan, “A.”
  • Setelah anak mengulang mengatakan, “A” lanjut kenalkan anak huruf kedua, yaitu U.
  • Simpan kartu A, keluarkan kartu U, kemudian ibu beri anak contoh dengan mengatakan, “U.”
  • Setelah anak mengulang mengatakan, “U” lakukan discrimination training (DT) untuk mengetahui apakah anak sudah mampu membedakan mana huruf A dan mana huruf U. Caranya, taruh huruf A berdampingan dengan U, lalu beri anak instruksi “Baca” sembari menunjuk salah satu huruf, misalnya A dulu, kemudian U.
  • Setelah anak bisa membedakan A dan U, kita perkenalkan huruf vokal berikutnya, yaitu O. Ulangi lagi dari step pertama, seperti kita mengenalkan A tadi.
  • Setelah anak mampu membaca O, kembali lakukan DT dengan meletakkan kartu A, U, dan O di atas meja dan minta anak membacanya secara acak. Ingat, harus acak ya. Jangan selalu dimulai dari A. Kita bisa tunjuk dulu huruf U, kemudian A, baru O.
  • Setelah anak mengenal huruf A, U, O, lanjutkan huruf I hingga E. Stepnya sama dengan di atas. Jangan lupa lakukan DT ya. Acak kelima kartunya dan minta anak membacanya.
  • Begitu anak menguasai huruf vokal, secara paralel minta anak menuliskan huruf-huruf tersebut di atas kertas. Ibu bisa memberi contoh cara menulisnya di papan tulis. Setelah anak menulis, instruksikan mereka membaca tulisannya, begitu juga tulisan ibu di papan tulis.

3. Ajarkan huruf konsonan

Huruf konsonan ada 21 ya, mulai dari B, C, D, F, G, H, J, K, L, M, N, P, Q, R, S, T, V, W, X, Y, Z. Kita akan mengajarkan anak secara berurutan, tapi ingat, tidak diajarkan semuanya dalam satu waktu.

Inilah yang membedakan metode membaca Smart ABA dengan metode lainnya. Huruf konsonan dikenalkan satu per satu, paralel dengan suku kata.

Metode membaca Smart ABA tidak pernah mengajarkan anak mengeja huruf, melainkan membaca suku kata.

Contohnya gimana?

  • Taruh kartu B, kemudian ibu beri anak contoh dengan mengatakan, “B.”
  • Ketika anak sudah mampu huruf B, secara paralel kenalkan anak dengan suku kata huruf B yang digabung dengan lima huruf vokal yang telah dikuasai anak sebelumnya, yaitu BA, BU, BO, BE, BI. Langsung baca “BA” ya, bukan dieja B-A = BA.
  • Setelah anak sudah bisa BA, paralelkan dengan lima huruf vokal yang sudah dikuasai anak sebelumnya. Misalnya, BA-A, kemudian switch posisi kartu menjadi A-BA. Lanjutkan dengan BA-O, kemudian switch posisi karty menjadi O-BA.
  • Setelah BA, kemudian lanjutkan dengan BU, kembali paralelkan dengan lima huruf vokal dan suku kata BA yang telah dikuasai anak. Misalnya BU-I, kemudian switch menjadi I-BU. Lanjut, BU-BA, kemudian switch menjadi BA-BU.
  • Kenapa di-switch sih? Kita ingin memastikan bahwa anak kita tidak menghapal, melainkan benar-benar paham sama konsep membaca.
  • Lanjutkan sampai anak lengkap memahami BA, BU, BO, BE, BI. Stepnya sama ya.
  • Lakukan hal sama pada huruf berikutnya, yaitu C bersamaan dengan CA, CU, CO, CE, CI. Nantinya semakin banyak suku kata yang bisa kita bentuk, seperti CU-CI, CO-BA, BA-CA, U-BI, CA-BE, dan sebagainya.
  • Lebih asik kan? Anak kita gak harus hapal dulu huruf A sampai Z, tapi dia sudah bisa membaca dengan huruf dan suku kata yang sudah dikuasainya. Lihat saja contoh di atas, hanya bermodal huruf A, U, O, E, I, B, dan C saja sudah banyak sekali kata bermakna yang bisa dibaca anak. Carilah kata yang dekat dengan keseharian anak.
  • Jangan lupa praktik menulis di atas kertas dan di papan tulis tetap disisipkan ya.
  • Lakukan sampai huruf terakhir, yaitu Z, dengan suku kata ZA, ZU, ZO, ZE, ZI. Ajarkan anak dengan sabar satu per satu huruf konsonannya. Anak jangan diburu-buru ya buk.

4. Ajarkan membaca kalimat pendek dengan 2-3 kata

Setelah anak paham membaca suku kata sampai huruf terakhir, yaitu Z, kita bisa lanjut mengajarkan anak membaca kalimat pendek dengan dua kata. Metode membaca permulaan ini kita mulai dengan dua huruf yang berdekatan, misalnya B dan C

Apa saja contoh kalimat pendek yang bisa kita buat dari lima huruf vokal plus B dan C?

  • I-BU BA-CA
  • CO-BA BA-CA
  • BA-BU I-BU
  • U-BI BI-BI

Kalo anak sudah lancar membuat kalimat dengan dua kata, lanjutkan dengan tiga kata, misalnya CO-BA U-BI I-BU dan seterusnya.

5. Ajarkan anak gabungan huruf konsonan

Setelah anak sudah lancar belajar membaca huruf dan sudah bisa membaca minimal tiga suku kata, barulah kita mengenalkan anak dengan gabungan huruf konsonan, seperti -ng, -ny, -sy, -kh.

Ajarkan anak bagaimana cara membacanya saat gabungan huruf konsonan itu berada di posisi awal, tengah, dan akhir, seperti contoh di bawah ini:

  • Ngarai, Bangun, Senang
  • Nyata, Banyak
  • Syarat, Musyawarah, Arasyi
  • Khusus, Akhir, Tarikh

6. Ajarkan anak berbagai bentuk huruf kecil

Nah, kalo anak udah jago membacanya sampai tahap lima, barulah kenalkan anak kita dengan bentuk huruf kecil. Ini lebih ke mengajari mereka cara menulis ya.

Syukurnya putri saya gak perlu saya ajarkan secara khusus. Dia cukup lihat saja di huruf-huruf tempelan kulkas yang kebetulan saya belikan untuk mempermudah latihannya, eh Maetami bisa sendiri dong. Alhamdulillah.

7. Ajarkan anak tanda baca

Kalo sudah sampai di tahap lima, kita sudah bisa kukuhkan anak kita pintar membaca. Langkah selanjutnya adalah mengenalkan anak tanda baca.

Berikut daftar tanda baca yang perlu diketahui anak.

  • Tanda titik (.)
  • Tanda koma (,)
  • Tanda titik koma (;)
  • Tanda titik dua (:)
  • Tanda hubung (-)
  • Tanda pisah (—)
  • Tanda tanya (?)
  • Tanda seru (!)
  • Tanda elipsis (…)
  • Tanda petik (“…”)
  • Tanda petik tunggal (‘…’)
  • Tanda kurung ((…))
  • Tanda kurung siku ([…])
  • Tanda garis miring (/)
  • Tanda penyingkat (”)

Kebetulan saya masih belum mengenalkan Maetami tanda baca. Aduh, ini mah biar ntar gurunya aja di sekolah. Dia udah bisa menjeda bacaan saat bertemu koma dan titik saja itu udah hebat menurut saya.

Buat yang masih bingung dengan pemaparan saya di atas, mungkin kalian bisa saksikan video pemaparan Ibu Arneliza Anwar berikut ini tentang metode membaca dengan Smart ABA. Semoga semakin paham ya.

Membaca itu membuka cakrawala dunia anak kita. Kognitif anak akan meningkat dan melesat berkali lipat setelah dia bisa membaca.

Tetap semangat ya ibu-ibu di rumah, khususnya ibu-ibu dengan anak istimewa seperti saya. Semoga postingan ini membantu kalian. Insya Allah.

4 thoughts

  1. Kakak Mae. Ternyata metode smart ABA yang diajarkan kepada kakak Mae. Kalau lagi scrolling hape dan liat gimana kakak mae belajar baca tu suka nongkrongin sampe kelar. Terus mikir, kok cepet bisa ya? Belajarnya gimana?

    Ternyata begitu.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.