Siapa yang habis nonton The Early Spring terus lanjut ke Irreplaceable? Aku baru sempat nulis review-nya sekarang, nih. Hehehe. Jujur, habis dibuat susah move on sama Flora dan Luke, rasanya agak susah nggak membandingkan drama ini dengan kisah Xu Chi dan Xinzhi.
Sama-sama drama modern dengan sub-genre office romance, tapi fokusnya beda. Kalau The Early Spring bikin aku betah karena chemistry pemainnya, Irreplaceable justru lebih sibuk mengajak kita menyelami dunia kerja.
Apalagi, chemistry Jing Boran dan Sun Qian di The Early Spring masih kebayang-bayang. Jadi, pas mulai nonton Zhao Jinmai dan Wei Daxun di Irreplaceable, aku sudah punya ekspektasi sendiri.
Ternyata, drama Irreplaceable ini punya urusan yang lebih serius daripada sekadar tarik-ulur perasaan. Terus, apakah aku suka? Suka, kok, meski ada beberapa hal yang bikin aku geregetan.
Nah, daripada cuma bilang bagus atau kurang cocok, mending kita bahas apa saja yang bikin serial 20 episode berjudul Irreplaceable layak ditonton, dan bagian mana yang kurang berkenan di hatiku.

Sinopsis Drama China Irreplaceable
Xu Chi, diperankan Zhao Jinmai, punya satu prinsip yang ia pegang sejak masih remaja, bahwa ia harus bekerja cukup keras agar tak mudah digantikan orang lain.
Bukan semata-mata karena ingin sukses, masa kecilnya penuh kehilangan. Itulah yang membuatnya terbiasa mengandalkan diri sendiri, termasuk ketika harus mencari uang untuk bertahan hidup.
Prinsip itu membawanya masuk ke dunia konsultasi bisnis. Namun, di tempat kerja, kemampuan saja tak selalu cukup.
Beberapa rekannya merasa tersaingi, mentornya malah insecure sampai menghambat kariernya, kliennya punya kebutuhan berbeda-beda, dan hubungan asmaranya pun bisa ikut memengaruhi keputusan profesional.
Di tengah semua itu, Xu Chi bertemu Ye Xinzhi alias Richard, diperankan Wei Daxun, konsultan senior yang tak segan mengkritik cara berpikirnya. Hubungan mereka tumbuh perlahan, beriringan dengan karier yang makin rumit.
Pada saat Xu Chi berusaha membuktikan dirinya, Xinzhi juga harus menghadapi luka lama yang selama ini ia pendam.
Masa Lalu Xu Chi
Kehidupan Xu Chi berubah setelah ayahnya meninggalkan keluarga. Ibunya menghadapi masa-masa sulit hingga akhirnya meninggal dunia.
Sejak itu, Xu Chi tumbuh dengan tekad untuk tidak berada dalam posisi yang membuatnya mudah disingkirkan. Bahkan sejak SMA, ia sudah harus menghidupi dirinya sendiri.
Seorang guru pernah meminjamkan uang untuk membantunya memenuhi kebutuhan hidup Xu Chi. Bantuan itu tak pernah ia lupakan. Suatu hari nanti, Xu Chi ingin membalas kebaikan orang yang pernah menolongnya ketika ia sedang kesulitan.
Hal lain yang terus Xu Chi kejar adalah rumah lama keluarganya di Beijing. Dahulu, ibunya menjual rumah tersebut untuk membantu usaha sang ayah. Setelah pernikahan mereka berakhir, ibunya menyesali keputusan itu dan merindukan kehidupan yang pernah mereka miliki.
Bagi Xu Chi, rumah itu menyimpan lebih dari sekadar kenangan masa kecil. Ia juga ingin mengembalikan sesuatu yang pernah hilang dari kehidupan ibunya.
Demi mewujudkannya, Xu Chi membutuhkan pekerjaan dengan penghasilan yang cukup. Ia pun mencoba mengikuti seleksi magang di P&J setahun lebih awal daripada jadwal biasanya.
Dalam sesi wawancara, Xu Chi mengatakan bahwa ia ingin bekerja keras agar tak ada orang yang bisa menggantikannya. Jawaban itu menarik perhatian Xinzhi yang menjabat sebagai Direktur Operasional P&J. Xinzhi penasaran, apa yang sebenarnya membuat perempuan muda itu begitu takut tergantikan?
Ketika ditanya mengapa ingin bekerja di perusahaan konsultan ternama, Xu Chi sempat memberikan jawaban ala hafalan. Text book banget pokoknya. Akan tetapi, Xinzhi terus mendesaknya sampai ia mengakui alasan sebenarnya, bahwa ia membutuhkan uang.
Xinzhi tak menganggap alasan itu sebagai sesuatu yang memalukan. Namun, ia juga tahu bahwa masuk ke perusahaan konsultan papan atas bukan perkara mudah.
Banyak pegawai baru bahkan tak bertahan sampai setahun. Xinzhi pun menyarankan Xu Chi mempertimbangkan Beisen, perusahaan yang lebih terbuka terhadap lulusan dari beragam universitas.
Xinzhi juga mendorongnya mengikuti kompetisi Yangfan Cup. Xu Chi menerima saran itu dan bekerja keras bersama tim kampusnya. Mereka berhasil meraih juara pertama, dan Xu Chi mendapat tawaran dari Beisen.
Sayangnya, kantor pusat perusahaan tersebut sudah pindah ke Shenzhen, sedangkan Xu Chi ingin membangun karier di Beijing. Mr. Pi, salah satu juri kompetisi yang mengetahui kemampuannya, kemudian merekomendasikannya ke Maxmise. Dari sanalah perjalanan Xu Chi sebagai konsultan bisnis dimulai.
Dunia Kerja tak Semudah Bayangan
Hari-hari pertama Xu Chi di Maxmise diwarnai perlakuan tak menyenangkan. Latar belakang pendidikannya menjadi bahan ejekan seorang pegawai baru.
Zhao Heng, diperankan Zhou Qi, sempat membelanya, tetapi Xu Chi sadar bahwa ia perlu membuktikan kemampuannya sendiri. Ia kemudian ditempatkan di bawah bimbingan Lin Long, diperankan Michelle Bai, konsultan senior yang sedang hamil.
Lin Long mulai memikirkan nasib proyek-proyeknya menjelang cuti melahirkan. Ia tahu Bu Tianna, diperankan Hu Yixuan, punya kualifikasi bagus, tetapi latar belakang Tianna yang berasal dari keluarga berpengaruh membuatnya khawatir akan kehadiran pesaing baru.
Karena itulah, Lin Long lebih memilih Xu Chi, yang menurutnya lebih mudah diarahkan. Perkiraan Lin Long rupanya meleset.
Saat mendapat tugas menganalisis Bolo Culture, Xu Chi mengumpulkan data sendiri. Ia bahkan mengeluarkan uang pribadinya untuk membeli data penelitian.
Cara kerja Xu Chi mula-mula membuat Lin Long terkesan dan memberinya tanggung jawab tambahan dalam proyek Yuanming. Di sana, Xu Chi juga menemukan kesalahan data yang luput dari perhatian tim Yang Rui, diperankan Wang Qiang.
Seiring berjalan waktu, Xu Chi terbiasa datang pagi dan menyiapkan bahan presentasi tanpa harus menunggu perintah. Samantha, salah satu pimpinan Maxmise, sampai mengajaknya menghadiri pertemuan klien, meski kesempatan semacam itu belum lazim diberikan kepada pegawai magang.
Alhasil, semakin sering Xu Chi mendapat kepercayaan, semakin tak nyaman Lin Long dibuatnya.

Ketika Xu Chi mengatur pertemuan dengan sejumlah pejabat untuk membahas kebijakan terkait proyek logistik drone Yuanming, Lin Long mempertanyakan tindakannya.
Xu Chi menjelaskan bahwa ia mengenal salah satu peserta dari pengalaman magang sebelumnya. Ia juga sudah membagikan laporan Maxmise untuk membuka diskusi.
Penjelasan itu tak mengubah sikap Lin Long. Ia mencoret Xu Chi dari pertemuan Bolo Culture dan memindahkannya ke tim acara konferensi industri.
Mr. Pi melihat Xu Chi mengerjakan tugas-tugas tersebut dan mulai mempertanyakan keputusan Lin Long. Setelah mengetahui bahwa anak baru itu justru disisihkan oleh mentornya sendiri, ia turun tangan.
Xu Chi pun mulai melihat sisi lain dunia kerja. Hasil bagus memang bisa membuka pintu, tetapi tak semua orang akan senang melihat kita melangkah maju. Ia perlu memahami situasi kantor tanpa kehilangan fokus pada pekerjaannya.
Kehadiran Xinzhi bagi Xu Chi
Setelah pertemuan pertama mereka di P&J, Xinzhi kembali hadir dalam kehidupan Xu Chi. Pengalamannya sebagai konsultan senior membuat Xu Chi menghormati pendapatnya, meski Xinzhi bukan tipe mentor yang selalu menyampaikan nasihat dengan lembut.
Suatu kali, Xu Chi salah menjemput tamu di bandara. Orang yang dibawanya ternyata Xinzhi. Alih-alih mencari-cari alasan, Xu Chi mengakui kesalahannya dan segera menawarkan solusi.
Xinzhi memperhatikan cara Xu Chi menangani kekeliruan tersebut. Menurutnya, Xu Chi mulai berpikir seperti konsultan sungguhan.
Keduanya makin sering berbincang, biasanya seputar pekerjaan. Ada pula kejadian yang membuat Xu Chi melihat betapa rumit hubungannya dengan Lin Long.
Dalam jamuan bersama Mr. Yan, Lin Long memaksa Xu Chi minum alkohol meskipun tahu perempuan itu alergi. Xu Chi akhirnya minum terlalu banyak. Keadaan semakin kacau ketika suami Lin Long datang dan marah di hadapan para tamu.
Setelah kejadian itu, Xu Chi bertemu Xinzhi dan menceritakan perlakuan Lin Long. Xinzhi menduga Lin Long merasa tersaingi oleh kemampuan anak bimbingannya sendiri.
Xu Chi sulit menerima kemungkinan tersebut. Baginya, seorang mentor seharusnya membantu junior berkembang, bukan malah menghalangi.
Xinzhi juga mengingatkannya agar berhati-hati dalam menunjukkan keberhasilan. Dunia konsultasi cukup kecil, dan perusahaan tempat mereka bekerja saling bersaing. Kedekatan pribadi bisa menimbulkan salah paham jika mereka lupa menjaga batas profesional.
Di tengah persoalan itu, Xu Chi mendapat kesempatan membuktikan kemampuannya lewat proyek Bolo Culture. Perusahaan tersebut baru saja mengakuisisi Qingyi Literature.
CEO Shen Jin, diperankan Yang Le, membutuhkan solusi untuk mengintegrasikan kedua perusahaan, bukan presentasi yang dipenuhi istilah konsultasi. Xu Chi menangkap kebutuhan itu dan menawarkan langkah yang lebih praktis dengan mempertahankan pimpinan senior Qingyi untuk sementara, memberikan pesangon yang layak kepada pegawai lain, lalu merekrut tenaga baru sesuai kebutuhan.
Xinzhi juga mengembangkan gagasan untuk membentuk unit bisnis di Singapura yang bisa menampung para eksekutif Qingyi.
CEO Shen tertarik pada usulan tersebut. Xu Chi pun mendapat kesempatan menangani proyek yang lebih besar dan mulai memperoleh pengakuan dari pimpinan Maxmise.
Xinzhi ikut memperhatikan kemajuannya. Ia memberi masukan tentang cara menghadapi klien, mempersiapkan perjalanan bisnis, dan memahami kebutuhan klien sebelum sibuk menunjukkan kepintaran sendiri.
Kedekatan mereka tak hanya terjadi di ruang kerja. Ketika Xinzhi mabuk, Xu Chi membantunya pulang. Ia bahkan menyelesaikan pekerjaan di apartemen Xinzhi setelah menerima permintaan mendadak dari Mr. Pi. Pagi berikutnya, Ye meminta maaf dan menawarkan sarapan.
Di balik sikapnya yang serius, Xu Chi mulai melihat sisi Xinzhi yang lebih santai. Namun, keduanya belum membicarakan perasaan mereka secara terbuka.
Ambisi Tianna serta Hubungan Xu Chi & Yang Rui
Xu Chi bukan satu-satunya orang di Maxmise yang ingin melangkah lebih jauh. Tianna juga berambisi menjadi partner. Masalahnya, keluarganya sendiri justru berusaha menariknya keluar dari jalur karier yang sudah ia bangun.
Ayah Tianna ingin putrinya kembali ke Siwei Group, perusahaan keluarga, untuk membantu adik laki-lakinya. Ia diam-diam memanfaatkan koneksi untuk menggagalkan peluang karier Tianna. Dengan begitu, ia berharap putrinya menyerah setelah berulang kali mengalami kegagalan.
Tianna terpukul ketika mengetahui bahwa hambatan yang ia hadapi ternyata datang dari keluarganya sendiri. Ia merasa orang tuanya tak pernah sungguh-sungguh menghargai pilihan hidupnya.
Xu Chi bisa memahami perasaan itu. Mereka datang dari latar belakang yang sangat berbeda, tetapi sama-sama punya alasan pribadi untuk terus mengejar karier.



Sementara itu, hubungan Xu Chi dengan rekannya, Yang Rui yang semula terasa spesial mulai menghadapi masalah. Dalam proyek Celestial Insurance, Yang Rui mengabaikan saran Xu Chi dan mengambil keputusan tanpa cukup mempertimbangkan dampaknya terhadap tim.
Ketika presentasi mereka gagal, Xu Chi ikut menanggung akibatnya. Situasi itu membuat Xu Chi serba salah. Ia tahu ada keputusan yang perlu dikritik, tetapi Yang Rui lebih dari sekadar rekan kerja baginya. Zhao Heng mengingatkannya agar tidak terus menanggung kesalahan orang lain hanya karena hubungan pribadi.
Persoalan Celestial kemudian berlanjut ke penyelidikan internal. Pengelolaan proyek, keputusan teknis, dan pertanggungjawaban tim diperiksa.
Peng Yuan diberhentikan dan kasusnya dirujuk kepada penyelidik kejahatan ekonomi. Ma Ke tidak dikenai tindakan lebih lanjut setelah pengunduran dirinya diterima, sedangkan Yang Rui tetap bekerja, tetapi dipindahkan ke tim lain.
Xu Chi harus menghadapi kenyataan bahwa hubungan asmara tak bisa dijadikan alasan untuk mengabaikan persoalan profesional. Ia tidak bisa terus melindungi pasangan jika keputusan pasangannya justru merugikan tim.
Di sisi lain, hubungan Tianna dan Zhao Heng berkembang dengan cara yang tak kalah berliku. Zhao Heng menyukai Tianna, tetapi awalnya perempuan itu menolak karena ingin fokus membangun karier.
Zhao Heng tetap menunjukkan perhatian, termasuk ketika Tianna menghadapi masalah keluarga. Ia bahkan pernah datang mengenakan kostum maskot untuk menghiburnya saat Tianna terpuruk.
Hubungan mereka kembali diuji ketika Zhao Heng harus pergi ke Venezuela untuk menjalankan proyek. Tianna menganggap kepergian itu sebagai pertanda bahwa hubungan mereka mungkin akan berakhir.
Xu Chi kemudian menegur Zhao Heng karena menggunakan ancaman putus untuk membuat Tianna takut kehilangan dirinya. Zhao Heng akhirnya meminta maaf dan mengungkapkan perasaannya lebih jujur.
Tianna menerima permintaan maaf itu. Mereka sepakat mempertahankan hubungan meskipun harus menjalani hubungan jarak jauh.
Pernikahan Lin Long dan Perhatian Shen Jin
Lin Long juga harus menghadapi persoalan yang tak bisa diselesaikan dengan kemampuan konsultasi. Pernikahannya dengan Jiang Zhiwen, diperankan Li Zifeng, memburuk setelah ia mengetahui bahwa suaminya meminjamkan uang dalam jumlah besar kepada orang tuanya tanpa sepengetahuannya.
Lin Long sedang memikirkan kebutuhan keluarga dan masa depan anak mereka. Keputusan Jiang Zhiwen membuatnya merasa tidak dilibatkan dalam urusan yang semestinya menjadi tanggung jawab bersama.
Pada saat bersamaan, Shen Jin semakin sering mendekatinya. Shen Jin tertarik kepada Lin Long, tetapi sikapnya membingungkan.
Ia pernah menyangkal perasaannya, lalu kembali menunjukkan perhatian. Lin Long menyukai perhatian tersebut, tetapi juga khawatir dirinya hanya menjadi objek rasa penasaran atau cara Shen Jin memuaskan harga dirinya sendiri.
Setelah bercerai, Lin Long berusaha mempertahankan harga diri dan kebebasannya. Ia tak ingin kembali berada dalam hubungan yang membuatnya merasa kecil, apalagi jika pasangan mulai mengatur karier dan kehidupannya.
Shen Jin perlu memahami bahwa menunjukkan perhatian saja tidak cukup. Ia harus mengakui kesalahannya, menghormati keputusan Lin Long, dan berhenti memandang pekerjaan perempuan itu sebagai sesuatu yang bisa dikesampingkan demi hubungan mereka.



Rumah Lama yang Ingin Dibeli Xu Chi
Di tengah semua persoalan pekerjaan dan hubungan, Xu Chi masih berusaha mewujudkan keinginannya membeli rumah lama keluarganya di Beijing.
Transaksi itu sempat terhambat ketika pemilik rumah membatalkan kesepakatan. Namun, Xu Chi akhirnya mendapat kesempatan untuk membelinya kembali dengan harga yang telah disepakati.
Xinzhi menawarkan bantuan keuangan agar Xu Chi bisa menyelesaikan pembelian tersebut. Xu Chi pun akhirnya memiliki cukup uang untuk membeli kembali rumah lama ibunya. Namun, saat mengetahui betapa besar keinginan Xu Chi memiliki rumah itu, pemiliknya justru meminta tambahan 100.000 yuan.
Xu Chi menolak. Harga yang mereka sepakati sudah mencapai 3,98 juta yuan, dan ia tak mau memberi ruang bagi pemilik rumah untuk terus menaikkan harga.
Di tengah negosiasi tersebut, sejumlah platform koleksi digital, termasuk Yuanzhou, mendadak ambruk. Ratusan pembeli melapor ke polisi, sementara pihak berwenang mulai menyelidiki kasus itu.
Xu Chi menghubungi Xinzhi untuk menanyakan rencananya bersama Du Wen dalam menghadapi Wen Ruosen. Xinzhi menjelaskan bahwa kejatuhan platform-platform tersebut terjadi secara terpisah, bahkan beberapa bulan sebelum mereka bergerak. Ekspansi Wen yang terlalu agresif memang membuat masalah semacam ini sulit dihindari.
Xu Chi ingin membantu, tetapi Xinzhi memintanya fokus pada proyek dan urusan rumah. Ia hanya berpesan agar Xu Chi beristirahat dan mengabarinya begitu tiba di Shenzhen.
Sementara itu, hubungan Lin Long dan Shen Jin mulai berubah. Shen Jin akhirnya membuka sisi kehidupannya yang selama ini tersembunyi di balik kesuksesan. Ia bercerita tentang perusahaan yang nyaris kehabisan uang, masalah kesehatan, keluarga yang berantakan, dan rumah yang masih menjadi jaminan utang untuk menopang bisnis Bolo.
Lin Long baru memahami bahwa kehidupan Shen Jin tak semapan yang selama ini ia bayangkan. Ketika Shen Jin mengakui kekagumannya terhadap keteguhan Lin menghadapi berbagai kesulitan, Lin Long menerima perasaannya.
Hubungan Tianna dan Zhao Heng kembali memanas. Zhao Heng mengetahui Tianna pernah menjalani kencan buta dengan Shen Jin, tetapi Tianna menganggap pertemuan itu sekadar kewajiban sosial keluarga.
Zhao Heng merasa Tianna tak pernah benar-benar mengakui hubungan mereka di hadapan orang lain. Pertengkaran pun pecah, dan Tianna belum siap mengalah.
Di tengah kesibukan proyek Celestial, Xu Chi terus berusaha menyeimbangkan pekerjaan dan urusan rumah. Ia hanya tidur sekitar enam jam dalam dua hari, berpindah dari satu kota ke kota lain, dan masih harus menyiapkan penerbangan berikutnya.

Xinzhi khawatir melihat kondisinya. Ia mengatur mobil nyaman menuju bandara, lengkap dengan bunga dan cokelat panas agar Xu Chi sempat menikmati sedikit kebahagiaan di tengah jadwal yang padat. Namun, Xu Chi terlalu sibuk untuk memperhatikan pesan Zhu, agen properti yang mengurus pembelian rumah. Ia mengira Zhu hanya ingin membicarakan negosiasi harga dan menunda meneleponnya kembali.
Kabar yang datang kemudian jauh lebih buruk daripada yang ia bayangkan. Penggalian basement ilegal di sebuah bangunan di Jalan Yong’an menyebabkan air sungai masuk dan memicu keruntuhan yang berdampak pada hampir sepuluh bangunan di sekitarnya. Rumah nomor 92, yang ingin dibeli Xu Chi, dinyatakan tidak aman. Para penghuni harus dievakuasi.
Begitu tiba, Xu Chi bergegas ke lokasi. Xinzhi yang tak berhasil menghubunginya meninggalkan rapat penting dan menyusul. Ia menemukan Xu Chi berdiri terpaku di tengah warga yang kehilangan tempat tinggal. Saat Xinzhi mencoba mengajaknya pergi, Xu Chi berkata bahwa ia tak bisa mendengar. Tak lama kemudian, ia jatuh pingsan.
Di rumah sakit, Xu Chi dirawat karena barotrauma telinga. Pendengarannya belum pulih, tetapi yang pertama ia pikirkan justru berkas pekerjaan yang harus disiapkan untuk esok hari.
Xinzhi menemaninya dan menuliskan pesan agar ia tenang. Ketika kesedihan tentang rumah itu akhirnya meluap, Xinzhi memasang penyumbat telinga supaya Xu Chi bisa menangis tanpa perlu khawatir terdengar orang lain.
Rumah itu bukan sekadar target finansial bagi Xu Chi. Ia telah menjadikannya alasan untuk terus bekerja keras. Ketika rumah tersebut tak lagi bisa dibeli, ia merasa kehilangan arah. Xinzhi mengingatkannya bahwa ibunya tak pernah meminta Xu Chi mengorbankan seluruh hidupnya demi rumah itu. Keinginan terakhir sang ibu hanya agar Xu Chi hidup dengan baik.
Xinzhi kemudian mengajaknya melihat hal-hal sederhana di sekitar rumahnya, mulai dari pohon berbunga, tempat pangkas rambut favoritnya, hingga toko bakpao yang ia sukai. Xu Chi mulai menyadari bahwa selama ini hidupnya berputar di antara kantor, hotel, dan bandara. Ia hampir tak punya waktu menikmati hal-hal kecil.
Xinzhi lalu mengeluarkan cincin yang dibelinya di dekat tempat mereka pertama kali bertemu dan melamarnya. Xu Chi bahagia, tetapi belum siap menikah. Xinzhi sudah menduga jawabannya. Ia memasangkan cincin itu pada sebuah kalung agar Xu Chi bisa memakainya sampai benar-benar siap.

Dari Maxmise ke Hezong
Setelah pulih, Xu Chi kembali bekerja dan berhasil menyelesaikan presentasi pelatihan di empat cabang Celestial. Klien memuji hasilnya dan meminta Tianna memastikan pekerjaan berikutnya berjalan sama baiknya.
Hubungan Tianna dan Zhao Heng masih belum beres. Xu Chi menyadarkan Tianna bahwa sikapnya yang selalu ingin mengendalikan keadaan justru membuatnya takut mengakui perasaan sendiri.
Tianna akhirnya menemui Zhao Heng di sebuah acara berkuda dan memperkenalkannya kepada ayah serta teman-teman ayahnya sebagai pacar sekaligus rekan kerjanya di Maxmise. Zhao Heng terharu karena Tianna akhirnya mengakui hubungan mereka secara terbuka.
Meski begitu, konflik dengan keluarga Tianna belum selesai. Saat ayahnya merendahkan Zhao Heng, Tianna bahkan berpura-pura mengumumkan bahwa dirinya hamil tiga bulan. Zhao Heng menenangkannya, lalu menjelaskan kepada ayah Tianna bahwa ia bersedia menandatangani perjanjian untuk melepaskan hak atas saham maupun kewenangan manajemen Siwei Group jika hubungan mereka berakhir. Ayah Tianna mulai melihat keseriusannya.
Di sisi lain, rencana Xinzhi dan Du Wen terhadap Wen Ruosen mencapai tahap akhir. Ketika Wen kehilangan dukungan bank dan terancam harus menjual seluruh sahamnya, ia memohon bantuan Xinzhi.
Xinzhi akhirnya menawarkan penyelesaian yang tidak sepenuhnya menghancurkan Wen Ruosen. Sebagian besar hasil penjualan saham digunakan untuk mengganti kerugian para korban kasus Jingshang Department Store, sedangkan sisanya untuk menutup denda dan kerugian karyawan serta investor. Xinzhi tak lagi merasa puas dengan balas dendam yang dikejarnya selama sepuluh tahun.
Xu Chi kemudian meninggalkan Maxmise dan bergabung dengan Hezong sebagai konsultan. Ia ingin mendapat kebebasan memilih proyek dan memperluas pengalaman, bukan terus bekerja sampai kelelahan demi mengejar promosi.
Ia juga meminta agar hubungannya dengan Xinzhi dirahasiakan sementara waktu, supaya rekan-rekannya menilai kemampuan profesionalnya sendiri. Mereka kemudian menangani proyek All Buy, perusahaan yang ingin memperluas bisnis ke luar negeri.
Xu Chi menggunakan pengalaman di bidang ritel dan pemahamannya tentang operasional untuk menjelaskan persoalan nyata yang harus dihadapi perusahaan, mulai dari penyimpanan barang, pengiriman, pembayaran pemasok, hingga kerusakan produk. Pendekatan itu membuat klien tertarik dan proyek pun berhasil mereka dapatkan.
Krisis All Buy dan Perpisahan Sementara
Proyek All Buy berubah menjadi krisis ketika Liu, pengawas inspeksi kualitas, merasa sistem berbasis kecerdasan buatan akan mengancam pekerjaannya. Setelah meninggalkan pesan yang menyalahkan All Buy dan Hezong, Liu melompat dari gedung, tetapi berhasil selamat.
Peristiwa itu mengguncang Xinzhi karena ia pernah menjamin bahwa perubahan proses kerja tidak akan merugikan pekerja. Trauma lama Xinzhi kembali muncul.
Ayahnya dahulu bekerja sebagai pemeriksa kualitas, kehilangan pekerjaan saat gelombang PHK pada 1990-an, lalu meninggal setelah melompat dari atap bangunan. Xinzhi merasa bertanggung jawab atas nasib Liu dan tak sanggup menghadapi sorotan publik.
Xu Chi akhirnya mengambil alih proyek. Ia menyusun langkah penanganan krisis bersama All Buy, termasuk mengakui buruknya komunikasi, menanggung biaya perawatan dan rehabilitasi Liu, memberikan tunjangan harian selama masa pemulihan, serta berjanji tidak memberhentikan pekerja garis depan akibat insiden serupa selama tiga tahun.
All Buy dan Hezong juga membentuk dana adaptasi digital senilai 10 juta yuan bagi pekerja berusia di atas 40 tahun. Konferensi pers berjalan baik, tetapi Xu Chi harus tampil sebagai pemimpin proyek dan tidak mengungkap peran Xinzhi.
Ketika mengetahui hal itu, Xinzhi merasa tersisih. Ia memahami alasan Xu Chi, tetapi tetap membutuhkan waktu untuk memikirkan karier dan hubungan mereka.
Xinzhi pergi ke Irak untuk mengunjungi Menara Babel, tempat yang ingin dikunjungi Xu Chi. Di sana, temannya mengingatkan bahwa kisah Menara Babel adalah tentang orang-orang yang kehilangan kemampuan untuk saling memahami. Xinzhi pun menyadari bahwa ia tak bisa terus menghindari percakapan sulit.
Sementara itu, Xu Chi mendapat kesempatan terakhir mengunjungi rumah lama keluarganya. Ia mengambil foto-foto dan akhirnya menerima bahwa rumah itu tak bisa mengembalikan masa lalu. Ia kemudian berangkat ke Dahab, Mesir, tempat Xinzhi ingin mengunjungi Blue Hole.
Penerbangan Xu Chi tertunda. Saat menunggu di bandara, ia melihat Xinzhi berdiri di dekat iklan Blue Hole. Xu Chi langsung berlari memeluknya. Mereka akhirnya bertemu kembali setelah menyadari bahwa cinta saja tidak cukup jika keduanya terus memendam ketakutan dan menghindari percakapan penting.
Irreplaceable menutup kisah Xu Chi dan Xinzhi dengan sebuah perubahan besar, bahwa mereka tak lagi harus membuktikan diri setiap saat atau memikul semua masalah sendirian. Karier tetap penting, tetapi hidup juga membutuhkan ruang untuk beristirahat, mengakui kelemahan, dan membiarkan orang lain hadir saat keadaan tak berjalan sesuai rencana.
Review Lengkap Irreplaceable
Xu Chi tahu apa yang ingin ia capai. Dia mau karier bagus, penghasilan besar, dan cukup uang untuk membeli kembali rumah lama keluarganya di Beijing. Ia bekerja keras untuk semua itu. Kalau pun harus pulang malam, menghadapi rekan kerja yang menyulitkan, atau mengambil proyek yang membuat kepalanya penuh, ia akan menjalaninya.
Masalahnya, Xu Chi bukan cuma ingin sukses. Ia juga takut kehilangan apa yang sudah berhasil ia bangun.
Ketakutan itulah yang membuat tokoh utama drama China Irreplaceable ini menarik diikuti. Kita bahas tokoh per tokohnya ya.
Zhao Jinmai sebagai Xu Chi
Xu Chi adalah perempuan muda yang serius membangun karier di dunia konsultasi bisnis. Ia cerdas dan ambisius, tetapi bukan tipe karyawan yang selalu disukai semua orang.
Ia bisa keras kepala, terlalu percaya diri, dan kadang sulit menerima bahwa ada hal-hal yang tidak bisa ia kendalikan.
Nah, Irreplaceable ini menempatkannya di tengah persaingan kantor, politik internal perusahaan, persoalan klien, dan hubungan personal yang ikut memengaruhi pekerjaannya.
Kisah cintanya dengan Xinzhi memang menjadi bagian cerita, tetapi jangan berharap romansa mendominasi setiap episode. Pekerjaan Xu Chi justru mendapat porsi yang jauh lebih besar.
Buat penonton yang suka drama modern tentang perempuan karier, premis ini cukup menjanjikan. Sayangnya, Irreplaceable kurang berhasil mengembangkan semua potensinya. Padahal, ada konflik yang relate sama real life kita tetapi kurang detail digalinya. Hubungan antarkarakter yang sebetulnya bisa digali lebih dalam tidak semua dilakukan.
Kerja keras itu tidak serta-merta membuat semua orang mendukungnya. Lin Long, mentor yang seharusnya membimbing Xu Chi, malah merasa posisinya terancam ketika sang junior mulai mendapat perhatian.
Situasi seperti ini cukup akrab bagi siapa pun yang pernah bekerja di kantor. Hasil kerja bagus belum tentu membuat seseorang mendapat tempat.
Kita sama-sama tahu, yang namanya kantor, pastilah ada senioritas, kepentingan pribadi, perebutan pengaruh, dan orang-orang yang merasa keberhasilan orang lain adalah ancaman bagi dirinya.
Xu Chi pun harus belajar bahwa menyelesaikan pekerjaan dengan baik saja tidak cukup. Ia perlu memahami orang-orang di sekitarnya, bernegosiasi, dan tahu kapan harus berhenti menanggung akibat keputusan orang lain.
Zhao Jinmai cukup meyakinkan membawakan karakter ini. Xu Chi terlihat percaya diri ketika membahas pekerjaan, tetapi tidak selalu punya jawaban saat hidupnya bergerak di luar rencana. Ia bisa sangat yakin dengan langkah yang diambil, lalu goyah ketika sesuatu yang selama ini menjadi pegangan tiba-tiba lepas.
Aku malah suka loh sama sisi Xu Chi yang “belum selesai” ini. Dia tuh bukan perempuan yang sejak awal sudah tahu cara menjalani hidup. Dia hanya tahu apa yang ingin dicapai, lalu berlari mengejarnya. Untuk urusan yang lebih rumit daripada target pekerjaan, ia masih harus banyak belajar.

Wei Daxun sebagai Ye Xinzhi/ Richard
Hubungan Xu Chi dan Ye Xinzhi tumbuh dari dunia kerja. Xinzhi melihat kemampuan Xu Chi, tetapi tidak sekadar memuji atau memudahkannya mendapatkan kesempatan. Ia mengajukan pertanyaan, mengoreksi cara berpikirnya, dan mendorongnya melihat persoalan dari sudut pandang yang lebih luas.
Xu Chi pun bukan junior yang selalu mengangguk. Ia punya pendapat sendiri dan terkadang mampu melihat sesuatu yang luput dari perhatian Xinzhi.
Aku suka dinamika mereka ketika hubungan itu masih bertumpu pada pekerjaan. Ketertarikan tumbuh karena keduanya saling menghargai kemampuan masing-masing. Xu Chi mengakui pengalaman Xinzhi, sementara Xinzhi melihat potensi besar dalam diri perempuan muda yang sedang membangun reputasinya.
Xinzhi juga tidak meminta Xu Chi mengecilkan ambisinya agar hubungan mereka berjalan nyaman. Ia tidak merasa harus selalu menjadi orang paling hebat di antara mereka. Ketika Xu Chi berkembang, ia pun ikut bangga.
Sayangnya, hubungan mereka belum selalu mendapat pengembangan yang sepadan dengan waktu yang diberikan kepada konflik pekerjaan.
Sebagai sosok senior yang punya pengaruh di industri, Xinzhi berada dalam posisi berbeda dari Xu Chi yang masih berjuang membangun nama. Ketika keduanya mulai dekat, di sana ada persoalan batas profesional dan kemandirian yang sebenarnya menarik untuk dibahas lebih jauh. Niat baik tidak otomatis menghapus ketimpangan posisi.
Romansa mereka juga lebih kuat dalam percakapan dan rasa saling menghormati daripada dalam perkembangan perasaan yang terasa mendalam. Iya sih, mereka tuh dekat as couple, tetapi beberapa kali cerita seperti buru-buru beralih ke urusan berikutnya. Ada yang relate sama apa yang aku rasain pas menontonnya?

Urusan Kantor Dominan, Romance Kurang
Dalam banyak drama China romantis berlatar kantor, pekerjaan sering kali hanya menjadi alasan dua tokoh utama bertemu. Kita lihat sajalah The Early Spring, antara Flora dan Luke. Hehehe. Tapi kan… TES emang dibikin buat entertaining, masuk kategori drama ringan yang “menang banyak” lantaran akting Jing Boran dan Sun Qian yang “kawin” banget chemistry-nya.
Nah, serial-serial office romance ini biasanya menjadikan rapat sebagai tempat bertukar pandang ML & FL, lembur membuka jalan menuju kedekatan ML & FL, dan konflik perusahaan berakhir sebagai penghalang hubungan ML & FL.
Irreplaceable ternyata beda banget. Serial ini punya perhatian lebih besar terhadap pekerjaan Xu Chi. Ia menangani beragam persoalan, mulai dari akuisisi perusahaan hingga pengembangan bisnis dan efisiensi operasional.
Kita melihat Xu Chi benar-benar memahami kebutuhan klien, memeriksa data, menyusun presentasi, lalu mencari jalan keluar yang bisa diterapkan.
Contohnya terlihat dalam proyek Bolo Culture. CEO Shen Jin tidak membutuhkan presentasi yang penuh istilah canggih. Ia ingin tahu bagaimana perusahaan yang baru diakuisisi bisa diintegrasikan tanpa membuat operasional berantakan.
Xu Chi menangkap kebutuhan itu dan mengajukan langkah yang mempertimbangkan posisi manajemen, kepentingan karyawan, serta pembentukan unit bisnis baru.
Adegan seperti ini membuat kemampuan Xu Chi terasa nyata banget. Aku salut sama akting Zhao Jinmai ini. Risetnya keren. Dia tidak hanya disebut pintar oleh karakter lain, penonton kayak aku pun bisa melihat bagaimana dia bekerja.
Persoalan di Celestial Insurance juga menarik karena Xu Chi tidak bisa sepenuhnya memisahkan urusan kantor dari kehidupan pribadinya. Hubungannya dengan Yang Rui membuatnya sulit mengambil jarak ketika keputusan laki-laki itu menimbulkan masalah bagi tim.
Pada akhirnya, Xu Chi harus menghadapi kenyataan bahwa perasaan pribadi tidak bisa terus dijadikan alasan untuk membenarkan kesalahan seseorang.
Akan tetapi, di sisi lain, detail pekerjaan yang cukup banyak kadang menjadi masalah tersendiri. Ini dia plus minusnya.
Strategi perusahaan, struktur tim, istilah bisnis, dan pembahasan proyek memang membantu membangun suasana profesional. Namun, tidak semua percakapan teknis otomatis membuat cerita lebih menarik.
Pada beberapa bagian, penonton bisa memahami apa yang sedang dikerjakan Xu Chi, tetapi kurang merasakan dampaknya terhadap dirinya. Persoalan bisnisnya berjalan, sementara perkembangan emosional karakternya seperti menunggu giliran.
Akibatnya, beberapa adegan terasa lebih sibuk menjelaskan strategi daripada memperlihatkan orang-orang yang harus menjalankannya. Padahal, drama ini justru paling menarik ketika keputusan profesional bersinggungan langsung dengan kehidupan pribadi.



Masalah Karakter Pendukung Terlampau Rumit
Sebelumnya aku udah jelasin, kalau di Irreplaceable ini, urusan kantor lebih dominan daripada romance. It’s okay. Tapi… kenapa urusan para karakter pendukung malah makin rumit dari yang seharusnya? Penonton kan pada satu titik agak “capek” nontonnya ya, disuruh mikir terus kita. Hehehe.
Kita bahas beberapa masalah yang terlampau rumit itu ya.
Pertama, Lin Long.
Karakter ini menarik karena ia tidak hanya berfungsi sebagai senior yang menghambat Xu Chi. Ia juga perempuan yang menghadapi kehamilan, tekanan pekerjaan, dan persoalan rumah tangga.
Rasa tidak amannya membuat ia bersikap buruk kepada juniornya, tetapi konflik pribadinya memberi gambaran mengapa ia begitu takut kehilangan kendali.
Pernikahannya dengan Jiang Zhiwen memperlihatkan masalah lain. Ia harus berhadapan dengan pasangan yang mengambil keputusan besar tanpa melibatkannya.
Hubungannya dengan Shen Jin pun tidak sederhana. Shen Jin menyukainya, tetapi perhatian yang diberikan kadang datang bersama sikap meremehkan pekerjaan Lin Long dan keinginan mengarahkan hidupnya ke jalur yang menurut Shen Jin lebih nyaman.

Lin Long tidak mau kembali menjadi orang yang keputusan hidupnya ditentukan pasangan. Sikap itu terasa masuk akal, meskipun cara ia memperlakukan Xu Chi tetap sulit dibenarkan.
Actually, aku sama sekali tidak masalah sama problem untuk karakter Lin Long. She deserves it.
Kedua, Bu Tianna dan Zhao Heng.
Second couple ini menghadapi persoalan serupa dalam bentuk berbeda. Tianna berasal dari keluarga kaya, tetapi status itu justru membatasi kebebasannya. Ayahnya ingin ia kembali ke Siwei Group demi kepentingan keluarga, bahkan ketika Tianna punya rencana karier sendiri.
Zhao Heng ingin membantu, tetapi niat baiknya beberapa kali berubah menjadi keputusan sepihak. Ketika ia menyusun rencana masa depan Tianna tanpa benar-benar meminta persetujuannya, hubungan mereka malah memanas.
Kisah kedua pasangan ini punya benang merah dengan Xu Chi dan Xinzhi, yaitu mencintai atau mendukung seseorang bukan berarti kita berhak menentukan apa yang terbaik baginya. Kadang-kadang, orang yang merasa sedang membantu justru lupa memberi ruang kepada orang lain untuk memilih.

Sayangnya, menjelang akhir, cerita harus membereskan begitu banyak urusan sekaligus. Hubungan Lin dan Shen, persoalan Tianna dan Zhao Heng, serta konflik Xu Chi dan Xinzhi sama-sama membutuhkan penyelesaian. Tidak semuanya memperoleh ruang yang cukup.
Beberapa karakter pendukung terasa kuat ketika persoalan mereka berkaitan dengan tema utama. Namun, ketika cerita berpindah ke masalah masing-masing, perkembangannya tidak selalu seimbang. Satu dua kisah yang semula menjanjikan, tetapi akhirnya seperti harus segera ditutup agar semua tokoh mendapat akhir.
Ending Menarik tapi Terburu-buru
Krisis All Buy menjadi titik balik bagi Xu Chi dan Xinzhi. Xu Chi mengambil alih proyek ketika Xinzhi sedang kesulitan menghadapi tekanan. Ia ingin melindungi Xinzhi, tetapi keputusan itu juga berarti mengambil alih tanggung jawab yang sebelumnya berada di tangan sang senior.
Di satu sisi, Xu Chi membuktikan bahwa ia mampu. Di sisi lain, situasi tersebut membuat Xinzhi berhadapan dengan kenyataan bahwa ia tidak selalu harus menjadi orang yang menyelesaikan semuanya.
Ironinya cukup kuat. Xu Chi selama ini berusaha menjadi sosok yang tidak bisa disingkirkan. Ketika ia akhirnya mengambil posisi Xinzhi, muncul pertanyaan baru, apakah menjadi orang yang mampu menggantikan seseorang berarti kita sudah memahami apa yang sedang dialaminya?
Xinzhi perlu belajar menerima bahwa nilai dirinya tidak ditentukan oleh kemampuannya mengatasi setiap masalah. Xu Chi pun perlu menyadari bahwa melindungi seseorang tidak selalu berarti mengambil keputusan untuknya.
Sayangnya, drama Irreplaceable ini tidak memberi cukup waktu untuk mengolah konflik tersebut. Persoalan profesional yang sebelumnya dibangun dengan teliti terasa relatif cepat selesai, sementara perasaan Xinzhi dan Xu Chi belum sepenuhnya terurai.
Perjalanan Xinzhi ke Irak dan kisah Menara Babel yang ia temui di sana membawa gagasan tentang manusia yang kehilangan kemampuan untuk saling memahami. Simbolnya cocok dengan hubungan mereka, tetapi penyelesaian emosionalnya terasa singkat banget dibandingkan persoalan yang sudah menumpuk sejak awal.
Aku lebih suka part ketika Xu Chi kembali mengunjungi rumah lama keluarganya. Selama ini, rumah itu menjadi tujuan yang terus ia kejar, seolah-olah kepemilikannya akan mengembalikan sesuatu yang hilang dari masa kecilnya.
Pada akhirnya, ia harus menerima bahwa membeli bangunan tersebut tidak akan membuat masa lalu berubah.
Xu Chi tidak bisa mengatur ulang hidupnya seperti menyusun strategi untuk klien. Ada hal-hal yang bisa ia usahakan, tetapi ada pula yang memang harus ia lepaskan.
Setelah itu, ia pergi ke Dahab, tempat yang ingin dikunjungi Xinzhi. Keduanya akhirnya bertemu kembali di bandara.
Pertemuan tersebut memberi ruang untuk memulai lagi, meskipun bukan berarti semua masalah langsung beres. Setidaknya, mereka punya kesempatan untuk membicarakan hal-hal yang sebelumnya dibiarkan menggantung.
Aku bisa menerima arah ending seperti ini. Buatku yang kurang adalah waktu untuk sampai ke sana. Irrepalaceable ini beberapa bagiannya kayak seperti buru-buru menuju garis finis.



Apakah Irreplaceable Layak Ditonton?
Menurutku, layak, tapi cuma buat sekali tonton, tidak untuk di-rewatch. Buat penonton yang suka drama modern dengan tokoh perempuan yang serius membangun karier, ini buat kamu banget.
Akan tetapi, Irreplaceable bukan drama yang sempurna. Percakapan bisnis kadang mengambil terlalu banyak ruang, hubungan Xu Chi dan Xinzhi belum sepenuhnya berkembang, dan sejumlah konflik pendukung harusnya lebih sederhana sehingga penyelesaiannya tidak perlu rumit.
Kalau kamu menonton serial ini demi romansa dengan chemistry yang kuat, hasilnya mungkin terasa kurang memuaskan buat kamu. Bahkan, Shine a Light jauh lebih romantis dari ini. Apalagi kalau kamu bandingin sama The Early Spring, duh… kalah jauh.
Kalau disuruh menilai, aku kasih nilai 8/10. So so saja. Terima kasih sudah berkunjung dan selamat menonton ya! Buat kamu yang udah nonton, boleh dong kasih pendapat kamu di kolom komentar. Aku tunggu ya.

Leave a Comment