Review Tigers Sniff the Rose
Review Tigers Sniff the Rose

Antusiasme terhadap drama China, Tigers Sniff the Rose memang besar. Alasan orang menunggu serial ini adalah reuni Li Yunrui dan Meng Ziyi.

Setelah penampilan mereka di Blossom, penggemar ingin melihat keduanya kembali berpasangan. Bahkan sebelum tayang, jumlah reservasi drama ini dilaporkan menembus 4,5 juta kali.

Sayangnya, begitu episode-episode awal dirilis sejak 23 Oktober 2026, respons penonton mulai terbelah. Sebagian menikmati pertemuan kembali dua aktor tersebut, memuji penampilan visual mereka, dan menyukai dinamika putri yang dominan dengan sarjana yang lebih kalem.

Di sisi lain, ada juga yang merasa reuni ini belum mampu mengulang daya tarik Blossom. Beberapa penonton mengkritik tempo cerita, tata rias, akting, hingga promosi pasangan utama yang dianggap terlalu mengandalkan popularitas CP mereka.

Inilah yang kemudian membuatku tertarik menuliskan ulasannya. Apakah semakin bertambahnya episode, kisahnya makin menarik untuk diikuti? Semoga setelah membaca ini, kamu bisa kasih komentar ya.

Pemeran Utama dan Pendukung Tigers Sniff the Rose

Meng Ziyi dan Li Yunrui memang menjadi daya tarik utama, apalagi setelah penonton kembali melihat keduanya berbagi layar sebagai pasangan utama. Namun, karakter pendukung juga punya peran penting dalam membentuk konflik.

Nah, supaya kami tidak bingung mengikuti begitu banyak nama dan hubungan antartokoh, yuk, kenalan dulu dengan tujuh karakter penting dalam Tigers Sniff the Rose beserta aktor yang memerankannya.

1. Meng Ziyi sebagai Mu Wanyao / Putri Danyang

Mu Wanyao adalah putri sah keluarga kekaisaran yang menyandang gelar Putri Danyang. Sekilas, ia terlihat sebagai perempuan bangsawan yang keras kepala, arogan, dan terbiasa mendapatkan apa pun yang diinginkannya.

Sikap tersebut sesungguhnya menyimpan pengalaman pahit yang membentuk cara pandangnya terhadap kehidupan. Pernikahan politik yang pernah dijalaninya di North Jing meninggalkan luka mendalam.

Ia belajar bahwa status sebagai putri kerajaan tidak otomatis membuatnya bebas menentukan nasib sendiri. Tanpa kekuasaan, dirinya hanya bisa menjadi alat kepentingan orang lain.

Meng Ziyi sebagai Mu Wanyao / Putri Danyang

2. Li Yunrui sebagai Yan Shang

Yan Shang adalah seorang sarjana muda dari keluarga sederhana di Lingnan.

Ia tidak memiliki nama keluarga besar, kekayaan, atau kedudukan yang bisa membantunya menembus lingkungan elite. Namun, Yan Shang punya kecerdasan, ingatan yang kuat, dan kemampuan membaca keadaan.

Ia bahkan mampu menyalin buku mengandalkan memori ingatan dan mencari penghasilan dengan membantu pekerjaan tulis-menulis orang lain. Pertemuannya dengan Mu Wanyao di tengah perjalanan pulang sang putri menjadi titik penting yang mengubah arah hidupnya.

Li Yunrui sebagai Yan Shang

3. Ken Wu (Wu Hankun) sebagai Yang Si

Yang Si merupakan teman masa kecil Mu Wanyao. Kedekatan mereka membuat namanya masuk dalam pembicaraan mengenai calon pasangan sang putri berikutnya.

Pangeran Mahkota bahkan menginginkan Wanyao menikah dengannya. Namun, hubungan masa lalu tidak otomatis membuat Wanyao menerima rencana tersebut.

Dalam perkembangan cerita, Yang Si mengajukan lamaran, tetapi Wanyao menolaknya. Sang putri tidak ingin kembali menjalani pernikahan hanya karena keputusan keluarga kerajaan atau kepentingan politik.

Ken Wu (Wu Hankun) sebagai Yang Si

4. Li Xiaoqian sebagai Wei Shu

Wei Shu adalah seorang sarjana muda dari keluarga Wei yang memiliki kemampuan akademis dan berasal dari lingkungan keluarga terpandang. Ia menjadi salah satu teman Yan Shang setelah keduanya berada di lingkungan Akademi Kekaisaran.

Bersama Liu Wenji dan Feng Xianyu, Wei Shu masuk dalam lingkaran anak muda yang berusaha membangun masa depan melalui pendidikan dan karier pemerintahan.

Namanya juga terseret dalam urusan politik pernikahan Mu Wanyao. Paman Wanyao, Li Zhi, mendorong agar Wei Shu menjadi pasangan sang putri. Namun, Wei Shu sendiri tidak menyukai rencana tersebut.

Ia tidak ingin dijadikan alat untuk memenuhi kepentingan politik keluarga kerajaan. Sikapnya ini memperlihatkan bahwa meskipun berasal dari keluarga berpengaruh, Wei Shu tetap memiliki kehendak dan pertimbangan pribadi.

Li Xiaoqian sebagai Wei Shu

5. Shen Jiayu sebagai Chun Hua

Chun Hua adalah pelayan pribadi sekaligus orang kepercayaan Mu Wanyao. Hubungan mereka jauh lebih dekat daripada hubungan antara seorang putri dan pelayannya.

Chun Hua telah mendampingi Wanyao melewati berbagai pengalaman sulit, termasuk masa kelam ketika mereka berada di North Jing. Ia mengetahui banyak hal tentang masa lalu sang putri dan menjadi salah satu orang yang paling memahami luka yang disimpannya.

Chun Hua juga memiliki kisah cinta sendiri dengan Liu Wenji. Awalnya, hubungan mereka berkembang dengan manis. Namun, perbedaan status sosial dan ambisi Liu Wenji perlahan menimbulkan masalah.

Liu Wenji lebih mementingkan masa depan dan kedudukan, bahkan sempat melukai perasaan Chun Hua dengan merendahkan statusnya.

Situasi semakin buruk ketika keluarga Chun Hua memaksanya menerima pernikahan dengan Pangeran Jin demi keuntungan mereka sendiri. Chun Hua mengalami kekerasan dan berusaha melarikan diri dari keadaan tersebut.

Shen Jiayu sebagai Chun Hua

6. Yu Ailei sebagai Yu Cheng’an

Yu Cheng’an adalah pejabat kasim yang memiliki pengaruh sangat besar di lingkungan istana. Ia bukan sekadar pelayan kaisar yang bertugas mengurus urusan dalam istana.

Yu Cheng’an mengendalikan jaringan kekuasaan dan memiliki pengaruh terhadap Shence Army, pasukan yang perannya sangat penting dalam menjaga keamanan serta kestabilan pemerintahan.

Dengan posisi tersebut, ia mampu menentukan nasib banyak orang, termasuk pejabat dan rakyat biasa. Yu Cheng’an merupakan salah satu tokoh yang harus dihadapi dalam upaya membongkar ketidakadilan di kerajaan.

Akan tetapi, menghadapi Yu Cheng’an tidak bisa dilakukan dengan tindakan gegabah. Ia terbiasa bermain melalui orang-orang kepercayaannya, memanfaatkan jabatan, serta mengatur situasi agar kepentingannya tetap terlindungi.

Yu Cheng’an juga menjadi ancaman bagi Mu Wanyao. Sang putri memahami bahwa kekuasaan yang dimilikinya tidak cukup untuk menghadapi seseorang yang menguasai begitu banyak jalur politik dan militer.

Karakter ini membuat konflik istana lebih rumit karena lawan yang dihadapi bukan hanya keluarga bangsawan, melainkan juga pejabat yang mampu menggerakkan kekuatan di balik layar.

Yu Ailei membawakan tokoh antagonis yang pengaruhnya terasa bahkan ketika ia tidak tampil langsung dalam setiap konflik.

Yu Ailei sebagai Yu Cheng’an

7. Tang Xiaotian sebagai Meng Zaishi

Meng Zaishi adalah keponakan Meng Baiyu, mantan suami Mu Wanyao ketika sang putri menjalani pernikahan politik di North Jing. Ia merupakan sosok yang memiliki ambisi besar dan melihat kekacauan politik sebagai kesempatan untuk memperluas kekuasaannya.

Setelah Meng Baiyu meninggal, Meng Zaishi berusaha mengambil alih posisi dan pengaruh yang sebelumnya berada di tangan pamannya. Namun, mendapatkan jabatan saja tidak cukup. Ia masih membutuhkan pengakuan kekaisaran dan dukungan militer untuk mengukuhkan kedudukannya.

Hubungan Meng Zaishi dengan Wanyao sangat rumit. Pada masa lalu, Wanyao pernah memanfaatkan ambisinya sebagai bagian dari rencana untuk melarikan diri dari North Jing.

Meng Zaishi kemudian datang ke Sheng’an dengan membawa persoalan lama itu. Ia ingin Wanyao memenuhi kesepakatan yang menurutnya pernah mereka buat, sekaligus berusaha menarik sang putri kembali ke dalam pelukannya. Namun, Wanyao menegaskan bahwa dirinya tidak pernah benar-benar mencintainya.

Kehadiran Meng Zaishi memperluas konflik cerita dari intrik istana menjadi persoalan hubungan politik antara Sheng’an dan North Jing. Ia juga menjadi ancaman karena memiliki kekuatan militer yang tidak bisa diabaikan.

Tang Xiaotian sebagai Meng Zaishi

Rekap Cerita Tigers Sniff the Rose

Mu Wanyao, Putri Danyang, sudah lama hidup di bawah kendali orang lain. Pernikahannya dengan Meng Baiyu, penguasa North Jing, merupakan keputusan politik yang harus ia jalani demi kepentingan kerajaan. 

Di sana, ia mengalami kekerasan dan penghinaan. Setelah Meng Baiyu meninggal, Wanyao akhirnya bisa kembali ke Sheng’an. Namun, kepulangannya bukan berarti hidupnya bebas dari ancaman. 

Yu Cheng’an, penguasa militer yang sangat berpengaruh di istana, masih memiliki banyak cara untuk mengendalikan keluarga kerajaan.

Dalam perjalanan pulang dari Lingnan, kereta Wanyao mengalami kerusakan di Caimei Ridge. Ia bertemu Yan Shang, seorang pemuda yang tinggal bersama ayah, kakak, dan adik perempuannya. 

Wanyao meminta Yan Shang membawa rombongannya ke rumahnya. Tanpa banyak pertimbangan, ia mengambil alih beberapa ruangan dan membuat keluarga Yan kerepotan melayani kebutuhan para tamu.

Yan Shang awalnya menganggap Wanyao sebagai perempuan kaya yang semena-mena. Ia belum tahu bahwa tamunya adalah Putri Danyang. Meski sering mendapat perlakuan kasar, Yan Shang tetap berusaha memenuhi permintaannya. 

Salah satu kejadian yang mengubah hubungan mereka adalah ketika kosmetik peninggalan ibu Wanyao rusak terkena hujan. Yan Shang mencari tahu warna rouge yang sama, belajar membuatnya, lalu memberikan kesempatan kepada Wanyao untuk meracik ulang sendiri. Benda itu ternyata satu-satunya kenangan yang masih ia miliki dari sang ibu.

Selama tinggal di rumah keluarga Yan, Wanyao mulai melihat sisi lain Yan Shang. Pemuda itu hidup sederhana, bekerja sambil belajar, dan punya kemampuan mengingat bacaan dengan sangat baik. Yan Shang juga mengetahui bahwa Wanyao menyimpan kesedihan yang tidak pernah ia ceritakan kepada orang lain. 

Ketika kereta sang putri jatuh ke sungai dan ia terpisah dari rombongan, Yan Shang ikut mencari sampai menemukannya di tengah hutan. Ia merawat luka Wanyao dan menemani perempuan itu melewati malam yang penuh hujan dan demam.

Kembali ke Sheng’an

Wanyao akhirnya menawarkan Yan Shang kesempatan untuk ikut ke Sheng’an. Ia tahu pemuda itu ingin mengikuti ujian kekaisaran, tetapi status keluarganya sebagai pengungsi membuatnya sulit memperoleh kesempatan. 

Sebelum berangkat, Yan Shang bercerita tentang keluarganya yang hancur akibat Pemberontakan Tujuh Gubernur Militer. Ibunya dan adik laki-lakinya tewas, kakaknya mengalami cedera berat hingga kemampuan mentalnya terganggu, sementara ayahnya, Yan Zhanzhi, kehilangan kemampuan untuk berjalan dan tenggelam dalam keputusasaan.

Di ibu kota, Wanyao kembali berhadapan dengan persoalan lama. Yu Cheng’an masih mengendalikan banyak keputusan istana. Ia juga harus menghadapi pamannya sendiri, Li Zhi, yang ingin mengatur pernikahannya demi memperkuat pengaruh keluarga Li. 

Li Zhi membawa Wei Shu, muridnya yang berasal dari keluarga Wei, sebagai calon suami Wanyao. Wei Shu sebenarnya tidak nyaman dengan rencana tersebut. Ia lebih tertarik pada alkimia dan belajar daripada memanfaatkan kedekatannya dengan sang putri.

Wanyao akhirnya membantu Wei Shu masuk ke Akademi Kerajaan. Di sana, ia bertemu lagi dengan Yan Shang, yang juga datang dengan harapan memperoleh tempat belajar. 

Karena salah paham mengenai siapa murid yang direkomendasikan sang putri, Yan Shang justru membantu Wei Shu diterima. Mereka kemudian berteman dengan Liu Wenji, sahabat lama Yan Shang, dan Feng Xianyu, seorang mahasiswa yang sudah berkali-kali gagal dalam ujian.

Yan Shang dan rekan-rekannya di Akademi Kekaisaran

Dendam Yan Shang

Tujuan Yan Shang datang ke Sheng’an bukan hanya mengejar gelar. Ia mengenali Zhang Renjing, seorang perwira Shence Army yang dulu membantai keluarganya. Zhang bahkan pernah mencambuk wajah Yan Shang saat mereka bertemu di Lingnan. 

Selama bertahun-tahun, Yan Shang menyimpan dendam terhadap orang yang membunuh ibu dan adiknya serta membuat kakaknya cacat.

Yan Shang menyusun rencana untuk membalas dendam. Ia memanfaatkan Xu Mianmian, seorang penyanyi yang selama bertahun-tahun menjadi korban Zhang Renjing, dan mengatur pertemuan di festival bunga peony. 

Zhang dibuat percaya bahwa Mianmian bersedia menemuinya. Dengan bantuan obat yang membuat Zhang kehilangan kendali, Yan Shang berhasil menjebaknya di sebuah paviliun. Setelah Zhang melarikan diri dalam keadaan terluka, Yan Shang membawanya ke sebuah gudang dan membunuhnya.

Wanyao menemukan Yan Shang dalam keadaan berlumuran darah. Alih-alih meninggalkannya, ia menyembunyikan pemuda itu di dalam keretanya dan membawanya keluar dari lokasi festival. 

Di perjalanan, Yan Shang menceritakan seluruh kejadian yang menimpa keluarganya. Setelah mendengar kisah itu, Wanyao memahami bahwa pembunuhan Zhang bukan sekadar urusan pribadi. 

Zhang bisa membantai warga sipil dan memperoleh kenaikan pangkat karena berada di bawah perlindungan Shence Army, pasukan yang dikendalikan Yu Cheng’an.

Orang Kepercayaan Putri Danyang

Kanselor Liu Huaiyan, mantan pejabat tinggi yang masih disegani, kemudian meminta Yan Shang mempertimbangkan kembali keputusannya untuk meninggalkan Sheng’an. 

Menurutnya, kematian Zhang tidak akan menyelesaikan persoalan. Selama Yu Cheng’an masih berkuasa, masih banyak keluarga lain yang bisa mengalami nasib serupa. 

Yan Shang akhirnya kembali menemui Wanyao dan menawarkan diri menjadi penasihatnya. Mereka sepakat bekerja sama untuk menjatuhkan Yu Cheng’an.

Agar Yan Shang bisa berada dekat dengannya tanpa menimbulkan kecurigaan, Wanyao mengangkatnya sebagai pria kesayangan sang putri. Hubungan mereka semakin dekat, meski keduanya belum sepenuhnya terbuka soal perasaan masing-masing. 

Yan Shang membantu Wanyao membaca peta kekuasaan di istana, sementara Wanyao memberinya akses untuk mengenal para pejabat dan orang-orang yang berpengaruh.

Intrik Ujian Kekaisaran

Masalah muncul ketika hasil ujian kekaisaran dimanipulasi. Wei Shu berhasil menempati peringkat pertama, sedangkan nama Yan Shang yang seharusnya berada di posisi ketiga diganti dengan nama Feng Xianyu. 

Grand Princess Luling, bibi Wanyao yang memiliki hubungan dekat dengan Yu Cheng’an, berada di balik perubahan tersebut. Feng Xianyu menerima tawaran itu karena ingin memperoleh jabatan dan pengakuan.

Yan Shang tidak langsung melawan. Ia mencari kelemahan Feng dengan mendekati putrinya, Guiniang, dan membuat Feng mengira bahwa anak itu berada dalam bahaya. 

Ancaman tersebut cukup untuk membuat Feng mengembalikan posisi Yan Shang. Pada akhirnya, Yan Shang tetap memperoleh peringkat ketiga.

Yan Shang sebagai orang kepercayaan Putri Danyang

Cinta, Pengkhianatan, dan Kekerasan

Sementara itu, hubungan Liu Wenji dan Chunhua, pelayan sekaligus sahabat Wanyao, semakin rumit. Liu mencintai Chunhua, tetapi ia juga ingin memenuhi harapan ayahnya dengan memperoleh jabatan tinggi. 

Setelah gagal dalam ujian, ia melampiaskan kekecewaannya kepada Chunhua dan Yan Shang. Ia bahkan merendahkan Chunhua karena statusnya sebagai pelayan. Liu kemudian meminta maaf, tetapi hubungan mereka telanjur berubah.

Persoalan Chunhua semakin berat ketika ia pulang ke rumah keluarganya. Keluarganya justru memanfaatkan kedekatannya dengan Pangeran Jin untuk memperoleh kekayaan dan kedudukan. 

Pangeran Jin melakukan kekerasan seksual terhadap Chunhua, sementara keluarganya meminta ia menerima keadaan tersebut demi masa depan mereka. 

Chunhua melarikan diri dan kembali ke kediaman Wanyao. Ia menyatakan bahwa rumahnya sekarang adalah tempat Wanyao tinggal.

Wanyao berusaha melindungi Chunhua dan menuntut pertanggungjawaban Pangeran Jin serta keluarganya. Dalam rangkaian konflik itu, Yan Shang membunuh Zheng Xing, orang kepercayaan Yu Cheng’an yang bertanggung jawab atas perampasan tanah dan kekerasan terhadap warga. 

Yan Shang Lawan Yu Cheng’an

Yan Shang kemudian mengaku sebagai pelaku. Ia sengaja membuat kasus tersebut menjadi perhatian publik agar Yu Cheng’an tidak bisa membunuhnya begitu saja tanpa menanggung kemarahan masyarakat.

Strategi itu berhasil. Para mahasiswa Akademi Kerajaan dan warga yang pernah dibantu Yan Shang mengumpulkan petisi agar ia dibebaskan. Yu Cheng’an akhirnya melepaskannya dan mengumumkan bahwa penyelidikan membuktikan kesalahan Zheng Xing. 

Sayangnya, persoalan belum selesai. Yu Cheng’an masih membutuhkan kambing hitam untuk menutupi tindakan anak buahnya. Ia bahkan berusaha menjadikan seorang pelayan sebagai korban berikutnya.

Di tengah situasi tersebut, Wanyao dan Yan Shang akhirnya mengakui perasaan mereka. Yan Shang menyatakan bahwa ia ingin tetap berada di sisi Wanyao, bukan hanya sebagai penasihat, tetapi juga sebagai orang yang mencintainya. 

Wanyao mulai percaya bahwa ada seseorang yang bersedia melindunginya tanpa mengharapkan keuntungan politik. Mereka pun menjalin hubungan.

Wanyao juga berusaha menyelamatkan Chunhua dari ancaman istana. Namun, keadaan memaksanya mengambil keputusan yang menyakitkan. Chunhua akhirnya dinikahkan dengan Pangeran Jin dan harus meninggalkan kediaman Wanyao. 

Liu Wenji berusaha mengejar kereta pengantin, tetapi para penjaga menghalanginya. Chunhua hanya bisa mengucapkan selamat tinggal dari balik tirai tandu.

Kehilangan Chunhua membuat Wanyao semakin bertekad menjatuhkan orang-orang yang selama ini menyakiti mereka. Ia kemudian membantu Yan Shang menghadapi Zhang Jun, putra Menteri Pendapatan Zhang Cheng. 

Zhang Jun dikenal kejam dan merasa kebal hukum karena keluarganya dekat dengan Yu Cheng’an. Ketika Yu Xianyao, putra angkat Yu Cheng’an, terluka dalam sebuah kejadian, Yan Shang memanfaatkan situasi itu untuk membuat Zhang Jun terseret masalah. Pada akhirnya, Zhang Jun dihukum mati dan ayahnya kehilangan jabatan.

Peristiwa tersebut mengubah cara pandang Liu Wenji. Ia menyadari bahwa orang-orang tanpa kekuasaan akan terus menjadi korban, bahkan ketika mereka tidak melakukan kesalahan. 

Liu kemudian meminta bantuan Wanyao untuk masuk ke istana sebagai kasim. Ia ingin memperoleh kedudukan dan pengaruh dengan jalannya sendiri. 

Meski Yan Shang dan Wanyao memperingatkan bahwa kehidupan istana sangat berbahaya, Liu tetap pada keputusannya. Ia mulai bekerja di Imperial Cuisine Service, lalu menunjukkan kemampuan menulis yang membuatnya mendapat kesempatan membantu para sarjana di Hongwen Hall.

Masa Lalu Wanyao 

Di sisi lain, Wanyao harus menghadapi masa lalunya di North Jing. Setelah kembali ke Sheng’an, ia masih menyimpan trauma akibat perlakuan Meng Baiyu. 

Kilas balik memperlihatkan bagaimana ia berusaha bertahan hidup bersama Chunhua. Meng Baiyu memperlakukannya dengan kasar, mempermalukannya di depan para jenderal, dan mengawasi setiap geraknya.

Wanyao kemudian mencoba memanfaatkan Meng Zaishi, keponakan sekaligus bawahan Meng Baiyu, untuk melarikan diri. Ia mengetahui bahwa Meng Zaishi memiliki pasukan rahasia dan ambisi untuk mengambil alih kekuasaan pamannya. 

Wanyao mendekatinya, memancing ambisinya, dan menawarkan kerja sama. Namun, saat mengetahui dirinya hamil akibat kekerasan Meng Baiyu, ia berusaha mengakhiri kehamilan itu dengan meminum ramuan berbahaya. Ia hampir kehilangan nyawa.

Setelah sadar, Wanyao kembali menghadapi Meng Baiyu yang murka karena kehilangan calon anaknya. Dalam perkelahian, Chunhua menyerang Meng Baiyu dengan sebuah wadah anggur, sementara Wanyao menusukkan tusuk rambut ke leher pria itu. 

Keduanya berhasil membunuh Meng Baiyu. Wanyao kemudian menemui Meng Zaishi dan memintanya mengambil alih jabatan gubernur militer serta menikahinya. Namun, itu hanya bagian dari rencananya. 

Begitu Meng Zaishi pergi mengamankan kekuasaan, Wanyao dan Chunhua menyamar sebagai kusir dan berhasil melarikan diri dari North Jing.

Meng Zaishi dan Ancaman dari Utara

Kembalinya Meng Zaishi ke Sheng’an menjadi ancaman baru. Ia datang menemui Wanyao dan mengingatkan bahwa mereka pernah membuat kesepakatan. 

Wanyao menolak kembali ke North Jing. Ia mengakui bahwa dirinya hanya pernah memanfaatkan Meng Zaishi untuk melawan Meng Baiyu, dan kini tuntutannya berubah. Jika Meng Zaishi ingin berurusan dengannya, ia harus terlebih dahulu membunuh Yu Cheng’an.

Sementara itu, persaingan di North Jing belum berakhir. Meng Zaishi kini menjadi gubernur militer setelah kematian pamannya, tetapi kedudukannya belum sepenuhnya diakui. 

Mu Xianqing, penguasa wilayah lain yang memiliki pasukan besar dan ambisi sendiri, juga datang ke Sheng’an untuk menghadiri perayaan ulang tahun kaisar. Keduanya saling mengukur kekuatan.

Pertarungan Dua Kekuatan

Perayaan ulang tahun kaisar pun menjadi panggung pertunjukan kekuasaan. Wanyao mempersembahkan batu ukiran dari Gunung Lufu, tempat ia berdoa untuk mendiang ibunya. 

Meng Zaishi membawa sebuah prasasti besar yang mengingatkan orang-orang pada monumen kemenangan Shence Army dalam pemberontakan bertahun-tahun sebelumnya. Ia juga mengungkapkan bahwa seratus ribu pasukannya telah ditempatkan di perbatasan wilayah kekuasaannya.

Di saat yang sama, Liu Wenji mulai menarik perhatian Yu Cheng’an karena kecerdasan dan kemampuan menulisnya. Ia melihat peluang untuk naik melalui jalur yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya. 

Yan Shang dan Wanyao pun harus menghadapi kenyataan bahwa lawan mereka bukan hanya satu orang, melainkan jaringan kekuasaan yang saling melindungi.

Rekap ini baru sampai episode 22. Cerita pada bagian akhir masih berlanjut ya…

Certified author (BNSP), eks-jurnalis ekonomi dan lingkungan. Kini menjadi full-time mom yang juga berkarya sebagai novelis, blogger, dan content writer. Founder Rimbawan Menulis (Rimbalis), komunitas yang aktif mengeksplorasi dunia literasi dan isu-isu lingkungan.

Share:

Leave a Comment