Ya Tuhan, gimana caranya survive nonton drama China semester kedua tahun ini? Belum kelar nge-review Spring of Blade, Against the Current, dan A Prophet, sekarang sudah disambut The Lament of Autumn. Antreannya nggak ada habisnya!
Setelah menobatkan The Early Spring sebagai kandidat drama modern terbaik dan Against the Current sebagai drama costume terbaik, sekarang aku mulai melirik satu kandidat lagi, yaitu The Lament of Autumn untuk drama republik terbaik 2026. Iya, belum tamat saja aku sudah berani pasang kandidat. Wkwkwk.
Oke, daripada kebanyakan cuap-cuap, mending kita bahas langsung drama satu ini. Saat tulisan ini dibuat, The Lament of Autumn masih ongoing dengan 10 episode yang sudah tayang di Mango TV. Kamu juga bisa menontonnya lewat iQIYI dan Viki.
Sinopsis Lengkap The Lament of Autumn
The Lament of Autumn diadaptasi dari novel Yu Dian Qiu karya Ling Xi, penulis yang dikenal lewat kisah romansa berlatar era Minguo atau Republik Tiongkok.
Novel ini punya reputasi bikin pembacanya patah hati. Kisah cintanya penuh konflik, dan ending-nya terkenal tragis. Tak heran kalau banyak pembaca fiksi China penasaran saat ceritanya diangkat menjadi serial 40 episode.
Versi dramanya dibintangi Cheng Lei sebagai Yu Chanxuan dan Xu Ruohan sebagai Ye Pingjun.
Lalu, kenapa judulnya The Lament of Autumn?
Judul aslinya, Yu Dian Qiu, secara harfiah dapat dimaknai sebagai “Tikar Giok di Musim Gugur”. Kedengarannya indah, ya? Padahal, judulnya ini mengandung makna dingin, kesepian, dan kisah cinta yang menyisakan luka.
Ngomong-ngomong soal tikar, ternyata ada hal menyedihkan yang menarik untuk dibahas juga. Petunjuknya ada di bagian akhir tulisanku. Baca terus, ya!
Enam Karakter Kunci The Lament of Autumn
The Lament of Autumn berlatar di Kota Nanhuai, Tiongkok pada awal abad ke-20, ketika negeri itu masih dilanda perebutan kekuasaan antarpanglima perang atau warlord.
Di tengah situasi politik yang tidak stabil, ambisi, loyalitas, dan konflik keluarga ikut menentukan nasib para tokohnya.
1. Cheng Lei sebagai Yu Changxuan
Yu Changxuan adalah putra kelima keluarga Yu, salah satu keluarga militer paling berpengaruh dan disegani di Nanhuai. Ia memiliki seorang saudara laki-laki yang telah meninggal dunia, dua saudara perempuan kandung, dan seorang adik bungsu beda ibu dari hasil pernikahan kedua sang ayah.
Ayahnya, Yu Zongquan, dikenal dengan julukan Komandan Sembilan. Ia merupakan panglima tertinggi yang membawahi sejumlah panglima perang di Nanhuai.
Yu Changxuan punya modal untuk membuat orang terpikat sekaligus waspada. Wajahnya tampan, gayanya playboy, tetapi di balik sikap santainya, ia cerdas, dingin, dan manipulatif. Ia tahu cara membaca situasi dan orang-orang di sekitarnya. Soal kekuasaan, ia bukan orang yang bisa dianggap enteng.

Hal yang tidak banyak disadari tentang dia, ada sisi lain yang membentuk jati dirinya. Kematian sang kakak, Yu Mingxuan, di medan perang meninggalkan luka yang membekas. Setelah kepergian kakaknya, Changxuan menjadi satu-satunya putra dewasa yang tersisa untuk meneruskan kekuasaan sang ayah.
Ironisnya, posisi itu tidak lantas membuatnya mendapat kasih sayang yang ia harapkan. Yu Zongquan justru kerap kesal melihat tingkah putranya itu. Changxuan dianggap terlalu gemar bersenang-senang dan tidak cukup serius untuk memikul tanggung jawab keluarga, apalagi meneruskan tampuk pimpinan militernya.
Di balik sikapnya yang sulit ditebak, tersimpan persoalan yang lebih dalam. Changxuan hidup di bawah bayang-bayang harapan sang ayah, tetapi tidak pernah benar-benar merasa dihargai olehnya.
2. Xu Ruohan sebagai Ye Pingjun
Ye Pingjun berasal dari keluarga biasa. Ia dikenal cerdas, mandiri, dan punya harga diri yang kuat.
Selama bersekolah di Sekolah Putri Mingde, Pingjun memanfaatkan kepintarannya untuk menerima jasa mengerjakan PR teman-temannya. Uang yang ia dapatkan digunakan untuk membiayai pengobatan ibunya yang menderita penyakit paru-paru.

Di balik kehidupannya yang sederhana, Pingjun ternyata menyimpan rahasia keluarga. Ia adalah anak di luar nikah hasil hubungan sang ibu dengan Tao Sili, pemilik Bank Tonghui, bank terbesar di Kota Nanhuai.
3. Liu Dongqin sebagai Jiang Xueting
Jiang Xueting adalah sahabat sekaligus tunangan Pingjun. Keduanya telah dijodohkan sejak kecil, tetapi harus berpisah ketika Jiang Xueting melanjutkan pendidikan ke Jepang.
Empat tahun kemudian, Jiang Xueting kembali ke Nanhuai. Ia semestinya bekerja di kantor penerbitan sebagai jurnalis. Namun, pilihannya malah jatuh pada posisi penerjemah bahasa di Kantor Komandan Sembilan.

Awalnya, Pingjun keberatan Xueting bekerja di Markas Militer Komandan Sembilan karena khawatir dengan keberadaan Changxuan di sana. Ia tidak tahu bahwa keputusan itu bukan tanpa alasan.
Xueting memiliki misi rahasia untuk meruntuhkan kekuasaan Komandan Sembilan, termasuk Yu Changxuan dan ayahnya. Ia memandang Keluarga Yu sebagai pihak yang harus bertanggung jawab atas berbagai kejahatan dan ingin mengungkap semuanya.
Di hadapan Pingjun, Xueting adalah kekasih yang sopan dan penuh perhatian. Namun, di balik sikap tersebut, lelaki berkacamata itu ternyata menyimpan ambisi dan konflik batin yang tidak sederhana.
4. Guo Yuxin sebagai Tao Ziyi
Tao Ziyi merupakan putri tunggal Tao Zili, pemilik Bank Tonghui, bank terbesar di Kota Nanhuai. Tumbuh dalam kemewahan membuatnya terbiasa mendapatkan apa yang diinginkan.
Ia pun dikenal keras kepala dan kerap merundung teman-teman sekolahnya, terutama Ye Pingjun.

Tao Ziyi jatuh cinta kepada Yu Changxuan dan ingin menjadi istrinya. Masalahnya, ia tahu bahwa hati Changxuan sudah tertambat pada Pingjun.
Tak mau menyerah begitu saja, Tao Ziyi menggunakan pengaruh ayahnya untuk membuka jalan menuju keluarga Yu. Ia berharap bisa masuk ke keluarga tersebut melalui pernikahan, meski perasaannya kepada Changxuan tidak berbalas sepenuhnya.
5. Zhou Jieqiong sebagai Lan Qing
Lan Qing adalah seorang penyanyi opera yang dikenal anggun dan cantik. Namun, hidupnya tak mudah. Pada era Republik Tiongkok (Minguo), seniman opera memang bisa menjadi pusat perhatian, tetapi belum tentu mendapat tempat terhormat di kalangan militer dan keluarga elite.
Lan Qing memahami betul posisinya. Ia tahu perasaannya kepada Yu Mingxuan, kakak laki-laki Yu Changxuan, tak akan mudah berujung pada pernikahan. Status sosial dan aturan tak tertulis di lingkungan keluarga militer Yu menjadi penghalang yang sulit ditembus.

Meski mencintai Mingxuan, Lan Qing tak pernah menjadikan kekuasaan keluarga Yu sebagai alasan untuk bertahan. Perasaannya tulus, tetapi ia juga tahu hubungan mereka bisa membawa masalah bagi pria yang dicintainya.
Ia harus menghadapi pandangan sinis lingkungan elite, menahan kekecewaan, dan menerima kenyataan ketika Mingxuan dihadapkan pada tuntutan keluarga, termasuk rencana pernikahan dengan seorang perempuan bangsawan demi kepentingan politik.
Lan Qing bukan perempuan yang tak berdaya. Ia memahami risiko dari pilihannya dan berusaha menjaga Mingxuan tanpa mengabaikan kenyataan bahwa hubungan mereka punya batas. Di situlah letak getir kisah cintanya. Ia mencintai seseorang yang belum tentu bisa memilihnya.
6. Zhang Yunlong sebagai Yu Mingxuan
Yu Mingxuan merupakan putra keluarga Yu yang dipersiapkan untuk menggantikan Komandan Sembilan. Namun, nasibnya berakhir tragis ketika ia tewas dalam sebuah serangan.
Berbeda dari Yu Changxuan yang ambisius dan cenderung dingin, Mingxuan digambarkan lebih hangat dan berpegang pada prinsip. Meski begitu, sebagai anggota keluarga militer yang berpengaruh, ia tak bisa begitu saja melepaskan tanggung jawab dan tuntutan keluarganya.

Di tengah perebutan kekuasaan antarpanglima dan intrik di lingkungan militer, hubungannya dengan Lan Qing menjadi bagian penting dalam kehidupannya. Bersama perempuan itu, Mingxuan bisa menemukan kedekatan yang tak selalu ia dapatkan di tengah urusan keluarga dan politik.
Sayang sekali, perasaan saja tak cukup untuk membuat mereka hidup bersama. Mingxuan tetap terikat pada keputusan keluarga dan harus menghadapi tuntutan pernikahan dengan perempuan lain. Hubungannya dengan Lan Qing pun berada dalam posisi yang serba sulit.
Di satu sisi, cinta sejatinya hanya untuk Lan Qing. Di sisi lain, ia harus menjalankan peran yang telah ditentukan untuknya. Konflik antara keinginan pribadi dan kewajiban keluarga inilah yang membuat kisah Mingxuan juga terbilang tragis. Sebelum sempat menemukan jalan keluar, hidupnya lebih dahulu berakhir.
Alur Cerita The Lament of Autumn
Cerita berlatar di Nanhuai, tempat Yu Changxuan hidup di tengah intrik dunia militer. Keluarganya berkali-kali menjadi sasaran percobaan pembunuhan. Di sekelilingnya, sulit membedakan siapa kawan dan siapa lawan.
Suatu hari, Changxuan menjadi target pembunuhan di Hotel Xiangxi, milik pengusaha Jin Zhongfang (diperankan Jeremy Xu).
Di hotel itu, Ye Pingjun baru saja memulai hari pertamanya bekerja. Namun, sebuah pulpen yang tanpa sengaja terselip di seragamnya membuat ia dicurigai sebagai mata-mata musuh. Benda tersebut ternyata menjadi petunjuk yang menghubungkannya dengan pihak yang mengincar Changxuan.
Pingjun berusaha membuktikan bahwa dirinya tidak bersalah. Ia pun membuat kesepakatan dengan Changxuan, lengkap dengan batas waktu untuk menyelesaikan persoalan tersebut.
Sejak awal, Changxuan tertarik pada keteguhan dan kecerdasan Pingjun. Ia melihat perempuan itu sebagai sosok yang mandiri dan tidak mudah tunduk pada tekanan. Namun, ketertarikan tersebut tidak lantas membuat Changxuan bersikap lunak.
Ia justru memanfaatkan tuduhan yang menjerat Pingjun untuk menahannya tetap dekat, sekaligus perlahan menarik perempuan itu ke dalam kehidupannya yang penuh intrik dan bahaya.



Cinta Penuh Obsesi dan Posesif
Changxuan mulai mengejar Pingjun dengan segala cara. Ia bahkan memanfaatkan kontrak perbudakan yang mengharuskan Pingjun bekerja di Hotel Xiangxi selama setahun penuh untuk menahannya tetap berada dalam jangkauannya.
Agar bisa menebus kontrak itu, Pingjun harus berpura-pura menjadi kekasih Changxuan di pesta ulang tahunnya. Namun, ada kepentingan lain di balik sandiwara tersebut. Changxuan ingin membuat Tao Ziyi cemburu dan memanfaatkan situasi itu untuk membangun aliansi yang bisa memperkuat posisi Keluarga Yu.
Changxuan tumbuh di tengah perebutan kekuasaan yang kejam. Di keluarganya sendiri, orang-orang saling menjatuhkan demi mempertahankan kedudukan. Ia terbiasa curiga dan sulit memercayai siapa pun.
Di tengah kehidupan seperti itu, Pingjun menjadi sosok yang memberinya kehangatan. Masalahnya, Changxuan tidak cukup hanya memiliki perasaan terhadap Pingjun. Ia ingin menguasai hidup perempuan itu.
Bagi Pingjun, kedekatan mereka justru terasa seperti jebakan. Kehadiran Changxuan mengancam kebebasannya, sampai ia merasa sedikit lega ketika Jiang Xueting, kekasih masa kecilnya, kembali dari Jepang.
Sayangnya, Changxuan tidak berniat mundur. Ia terus membayangi Pingjun dan Xueting. Ia menerima Xueting bekerja sebagai penerjemah di markas militer, mengawasi mereka saat berkencan, diam-diam mengikuti Pingjun ke toko buku, bahkan mencari alasan untuk mengunjungi kelompok opera tempat Pingjun bekerja sebagai penulis naskah.
Situasi semakin panas ketika Xueting mengatakan bahwa ia dan Pingjun akan menikah setelah Pingjun lulus sekolah. Mendengar kabar itu, Changxuan murka. Ia memilih mengambil risiko besar dengan menolak rencana pernikahannya bersama Tao Ziyi dan menyatakan keinginannya menjadikan Pingjun sebagai pasangan.
Keputusan itu bukan perkara sepele. Changxuan dan Tao Ziyi sudah bertunangan. Dengan membatalkan pernikahan secara sepihak, ia kehilangan dukungan ekonomi dan perlindungan politik dari keluarga Tao. Akan tetapi, perasaannya terhadap Pingjun membuatnya rela mempertaruhkan kepentingan politiknya sendiri.
Rupanya alasan Changxuan bukan hanya itu. Ia menentang hubungan Pingjun dan Xueting lantaran sejak awal, ia mencurigai ada sesuatu yang disembunyikan Xueting. Di matanya, pria itu memiliki ambisi yang membuatnya bersedia melangkah ke wilayah abu-abu demi mencapai tujuannya.
Kecurigaan itu bukan tanpa alasan. Selama belajar di luar negeri, Xueting disebut pernah memanfaatkan hubungan asmara dengan putri pejabat Jepang atau konsul asing, untuk memperoleh data, informasi, dan koneksi politik yang berkaitan dengan intelijen.
Changxuan tak ingin Pingjun menghabiskan hidup bersama pria yang menurutnya menyimpan sisi berbahaya. Akan tetapi, niatnya melindungi Pingjun sulit dipisahkan dari hasrat untuk memilikinya. Ia ingin menjauhkan Pingjun dari Xueting, tetapi caranya justru merampas kebebasan perempuan itu.
Setiap kali Pingjun mencoba melarikan diri, Changxuan menggunakan kekuasaan militernya untuk menemukan dan membawanya kembali. Baginya, mempertahankan Pingjun seolah menjadi hal yang tak bisa ditawar. Bagi Pingjun, justru itulah yang membuat cinta Changxuan menjadikannya bagai burung dalam sangkar.


Perpisahan dan Perang Meletus
Nah, bagian ini belum sampai di serialnya. Jadi, aku ceritakan garis besar kelanjutan kisah mereka berdasarkan alur novel, ya.
Persaingan di antara saudara-saudara keluarga militer Yu makin memanas, termasuk pengkhianatan kakak ipar dan istri kedua ayahnya. Konflik tak lagi sebatas perebutan kekuasaan di dalam keluarga.
Perang antarpanglima pun pecah, membuat Changxuan harus mengerahkan pasukannya untuk mempertahankan wilayah kekuasaannya setelah menggantikan sang ayah sebagai Komandan Sembilan.
Di tengah perang, kehidupan Pingjun ikut porak-poranda. Ia kehilangan orang-orang terdekat dan harus melewati berbagai cobaan. Changxuan dan Pingjun pun berkali-kali terpisah, justru ketika keduanya paling membutuhkan satu sama lain.
Changxuan sebenarnya ingin melindungi Pingjun dari ancaman politik dan permainan musuh-musuhnya. Namun, caranya tak selalu bisa dipahami Pingjun. Suatu ketika, Changxuan memilih menyimpan rahasia atau menjauhkan Pingjun darinya, meski ia tahu keputusan itu bisa membuat perempuan tersebut salah paham dan membencinya.
Hubungan mereka pun diuji oleh kebohongan, rahasia militer, dan keadaan yang tak memberi banyak pilihan. Pingjun harus menghadapi kenyataan pahit tentang orang yang dicintainya, sementara Changxuan terus menanggung konsekuensi dari keputusan-keputusan yang ia ambil.
Setelah melewati berbagai konflik dan akhirnya memahami perasaan masing-masing, Pingjun dan Changxuan menyadari bahwa cinta mereka tak pernah benar-benar hilang. Keduanya pun menikah secara sah.


Balas Dendam Mantan
Bagi Tao Ziyi, pembatalan pernikahan sepihak oleh Yu Changxuan bukan sekadar akhir dari kisah cinta. Ia merasa dipermalukan di depan publik, terlebih di lingkungan elite yang selama ini menjadi bagian dari kehidupannya.
Kemarahan Ziyi makin menjadi setelah mengetahui bahwa Ye Pingjun adalah saudara tirinya, anak dari ayah mereka yang lahir dari ibu berbeda. Kenyataan itu membuat rasa iri dan kebenciannya terhadap Pingjun semakin sulit dibendung.
Ziyi pun mulai menyusun siasat untuk menghancurkan kehidupan perempuan yang dianggapnya sebagai saingan tersebut. Salah satu tindakannya adalah membocorkan keberadaan Pingjun kepada musuh-musuh politik Changxuan, sehingga keselamatan Pingjun ikut terancam.
Hanya saja, Ziyi tidak berhenti sampai di situ. Demi membalas dendam sekaligus mempertahankan pengaruh keluarganya, ia menikah dengan Jiang Xueting, mantan tunangan Ye Pingjun.
Pernikahan itu jauh dari kisah cinta. Bagi Ziyi dan Xueting, ikatan tersebut merupakan cara untuk memperkuat posisi politik masing-masing dan menghadapi Yu Changxuan.
Xueting sendiri memiliki ambisi besar. Berbekal pendidikan, koneksi, dan kemampuan diplomasi, ia berhasil membangun pengaruh di lingkaran militer dan politik pusat di tengah pergolakan perang antarkelompok panglima perang. Ia menjadi salah satu penantang kekuatan keluarga Yu di Nanhuai.
Pernikahannya dengan Ziyi memberinya akses ke kekayaan dan jaringan finansial keluarga Tao, termasuk dukungan modal untuk memperkuat faksinya. Dengan sumber daya tersebut, Xueting memiliki bekal untuk menandingi kekuatan militer keluarga Yu.
Di hadapan publik, Xueting tetap bersikap sopan dan memperlakukan Ziyi sebagai istrinya. Namun, kehidupan mereka di balik pintu rumah jauh dari kesan harmonis.
Ziyi tahu bahwa pria yang kini menjadi suaminya tidak mencintainya. Xueting menikahinya demi kepentingan politik dan kekayaan keluarganya. Bahkan setelah menjadi suami Ziyi, ia masih ingin merebut kembali Ye Pingjun.
Bagi Ziyi, pernikahan itu mungkin memberinya kedudukan sebagai istri Jiang Xueting. Namun, ia tetap harus menghadapi kenyataan pahit bahwa pria yang dinikahinya justru masih menginginkan perempuan yang selama ini ingin ia singkirkan.



Akhir Tragis di Novel
Obsesi Jiang Xueting untuk mendapatkan Ye Pingjun kembali membuatnya kehilangan batas. Ia menculik Pingjun, memisahkannya dari Changxuan, lalu mengurung perempuan itu. Pingjun tak lagi punya kebebasan, apalagi kesempatan untuk kembali ke kehidupan lamanya.
Kondisi Pingjun makin memburuk. Jiang Xueting menggunakan atau membiarkannya terpapar obat-obatan terlarang yang membuatnya semakin lemah dan sulit melepaskan diri. Setelah sekian lama terjebak dalam penderitaan, Pingjun akhirnya melawan.
Ia memakai pisau peninggalan Changxuan yang selama ini disimpannya untuk membunuh Jiang Xueting. Setelah terbebas dari cengkeramannya, Pingjun melarikan diri.
Namun, kebebasan itu datang ketika tubuh dan kondisi mentalnya sudah telanjur hancur. Dalam pelariannya, Pingjun melahirkan anaknya bersama Changxuan di reruntuhan sebuah kuil tua.
Tragisnya, ia kemudian meninggal di jalanan kumuh tanpa seorang pun mengetahui nasibnya. Bahkan, jenazahnya hanya dibungkus tikar dan selembar kain usang.
Akhir kisah Pingjun benar-benar memilukan. Setelah melewati begitu banyak penderitaan, ia tak sempat menikmati kehidupan baru bersama anaknya.
Sementara itu, Yu Changxuan akhirnya berhasil merebut kekuasaan militer dan menikmati kejayaan setelah perang. Setelah kehilangan Pingjun tanpa kabar, ia menikahi perempuan dari keluarga terpandang dan memiliki seorang putri. Namun, semua pencapaian itu tak mampu menghapus kehilangan Ye Pingjun dari hidupnya.
Belasan tahun kemudian, ketika usianya tak lagi muda, Changxuan bertemu bahkan berhadapan dengan seorang pemuda yang terseret dalam pusaran konflik politik. Changxuan tak pernah menyangka bahwa pemuda itu adalah anak kandungnya sendiri dari Ye Pingjun, yang selama ini ia kira telah hilang.
Kesalahpahaman dan amarah membuatnya mengambil keputusan yang tak bisa ditarik kembali. Dalam novel, Changxuan mengeksekusi mati putranya sendiri. Kebenaran baru terungkap setelah semuanya terlambat.
Changxuan pun harus menanggung kenyataan bahwa kekuasaan yang susah payah ia bangun tak mampu mengembalikan orang-orang yang telah hilang dari hidupnya, Ye Pingjun dan putra semata wayang mereka.


Benarkah Versi Drama Punya Happy Ending?
Nah, bagian ini yang bikin penasaran!
Beredar kabar bahwa adaptasi drama televisinya bakal mengubah jalan cerita novel yang gelap menjadi akhir yang lebih menjanjikan. Alih-alih berakhir tragis, Changxuan dan Pingjun konon mendapat kesempatan untuk melawan nasib dan berjuang bersama demi negara di medan perang.
Kalau benar, perubahan ini tentu bakal menjadi perombakan besar dari kisah aslinya. Dari cerita yang penuh penderitaan, penonton mungkin akan mendapat akhir yang memberi harapan bagi kedua tokoh tersebut.
Tapi, jangan buru-buru percaya dulu, ya! Sampai ada konfirmasi resmi atau episode terakhir tayang, kabar soal perubahan ending ini masih perlu dipastikan.
Jadi, apakah Changxuan dan Pingjun benar-benar mendapat kesempatan untuk bahagia, atau kita justru harus bersiap menghadapi akhir yang sama tragisnya dengan versi novel?
Kita tunggu saja sampai episode terakhir. Siapkan mental, ya!

Leave a Comment