Review Spring of the Blade
Review Spring of the Blade

Spring of the Blade mengambil formula klasik sebuah drama China costume, yaitu dendam, perebutan kekuasaan di istana, dan romansa antara dua orang yang dipisahkan masa lalu. Fokus utamanya ada pada Shen Run/ Yan Rui, diperankan Xu Kai, seorang pemuda yang keluarganya hancur akibat konspirasi, serta Chen Yunya/ Xie Qingyuan, diperankan Zhou Ye, perempuan yang tumbuh bersama luka dan ambisi besar untuk membersihkan nama almarhum ibunya.

Masing-masing dari mereka punya agenda sendiri. Shen Run berusaha membuktikan bahwa ayahnya, Shen Zhibai, tidak bersalah sekaligus membongkar skandal korupsi yang menyengsarakan rakyat. Sementara itu, Yunya sibuk melacak siapa dalang di balik kematian ibunya, Jin Chunqing. Takdir akhirnya membawa mereka berdua ke Hengtang, sebuah wilayah yang dikuasai pejabat korup dan keluarga-keluarga elite berkuasa.

Di sana, musuh yang mereka hadapi bukan cuma lihai menyembunyikan kejahatan, tapi juga tidak segan-segan menjadikan cinta, keluarga, hingga kesetiaan sebagai alat tawar menawar politik.

Baca sampai habis ya, aku akan mengupasnya secara terperinci.

Spring of the Blade

Sinopsis dan Rekap Spring of the Blade

Sembilan tahun lalu, malam kelam menghancurkan hidup Shen Run seketika. Pembantaian massal merenggut 73 nyawa Keluarga Shen, buntut dari fitnah politik yang dijatuhkan pada ayahnya, Shen Zhibai. Shen Run menjadi satu dari segelintir penyintas yang berhasil lolos dari pertumpahan darah itu. 

Di tempat lain, nasib tak kalah tragis menimpa Chen Yunya kecil dan ibunya, Jin Chunqing. Pernah berstatus sebagai bagian dari keluarga bangsawan Xie yang terpandang, hidup Chunqing runtuh saat ia dituduh membunuh Selir Xia, ibu kandung Xie Qingrong. 

Setelah disiksa dan dibuang dari kediaman Xie, Chunqing terpaksa menata ulang hidupnya bersama Yunya.

Kendati hidup apa adanya, Yunya sempat mengecap kehangatan keluarga. Sang ibu merawat dan membesarkannya dengan kasih sayang melimpah, jauh dari iklim beracun keluarga Xie yang dulu menindas mereka.

Sayangnya, ketenangan itu tak lama. Api membakar habis tempat tinggal mereka dan merenggut nyawa Chunqing. Kehilangan pelindung satu-satunya di usia muda, Yunya bertahan hidup bersama kepedihan dan berjanji kelak membongkar dalang di balik fitnah yang menghancurkan hidup sang ibu.

Sebelum dunia mengambil alih kebahagiaan anak-anak ini, Yunya kecil pernah bersahabat dekat dengan Shen Run. Masa kecil mereka diwarnai kenangan polos, mulai dari bermain di tepian sungai, berburu ikan dan bebek liar, tanpa memikirkan urusan dunia. 

Saat takdir memisahkan mereka malam itu, Shen Run sempat menggenggamkan sebuah tanda pengenal ke jemari Yunya, berjanji bahwa mereka akan bersua kembali di Hengtang.

Tanpa mereka sadari, bertahun-tahun kemudian garis takdir memang mempertemukan mereka kembali. Hanya saja, kali ini Shen Run dan Yunya bukan lagi dua anak polos yang bermain di tepi air, melainkan dua orang dewasa yang saling menyembunyikan nama asli, sama-sama menyimpan dendam dan misi mematikan.

Rumah Penuh Dosa

Shen Run kini menyamar sebagai Yan Rui, seorang pejabat berpengaruh yang dikirim untuk mengusut korupsi di Hengtang. Di balik reputasinya yang dingin dan ditakuti, ia sebenarnya bergerilya mengumpulkan bukti demi membersihkan nama almarhum ayahnya sekaligus membongkar jaringan pejabat rakus yang memeras rakyat.

Pada saat bersamaan, Yunya melangkah kembali ke kediaman Keluarga Xie. Ia kini menyandang nama baru, Xie Qingyuan, putri keempat yang mendadak diakui dalam silsilah. 

Tentu bukan kemewahan bangsawan yang ia cari. Qingyuan sengaja masuk ke sarang serigala, rumah yang dulu menghancurkan hidup ibunya, demi mencari bukti dan menagih keadilan.

Kedatangan Qingyuan bertepatan dengan kekacauan yang mulai menggerogoti Keluarga Xie. Laporan buruk dari perbatasan terus berdatangan, disusul teror puisi berdarah di Danyue Pavilion yang meramalkan nasib sial. 

Begitu kediaman mereka benar-benar dilalap api, kepanikan pecah. Keluarga Xie mulai percaya bahwa kutukan kuno sedang mendatangi mereka.

Mereka tidak tahu bahwa sebagian besar teror itu adalah ulah Qingyuan sendiri. Bersama sahabatnya, Dong Fangchun, ia menyusun serangkaian tipu daya untuk menggoyang mental Keluarga Xie sekaligus membuka jalan bagi rencana besarnya.

Akan tetapi, pergerakan Qingyuan tak luput dari pengamatan Yan Rui. Pria itu cepat mencium keterlibatan Qingyuan dalam insiden kebakaran, bahkan berhasil membongkar trik permen berisi batu api yang menghanguskan kandang kuda. 

Bukannya gentar saat disudutkan, Qingyuan justru balik memojokkan Yan Rui. Ia mengingatkan bahwa karena Yan Rui sempat membiarkannya lolos, sang pejabat kini sudah terlanjur basah dan terikat dalam rahasia yang sama.

Saat Keluarga Xie akhirnya menyadari bahwa Qingyuan adalah putri dari Jin Chunqing, mereka makin mantap membawanya pulang. Mereka percaya kehadiran Qingyuan bisa dijadikan tameng untuk menangkal kutukan yang mereka takuti.

Qingyuan menerima tawaran itu. Di hadapan altar leluhur Keluarga Xie, ia resmi menyandang kembali nama Xie Qingyuan sebagai putri keempat. Padahal di dalam batinnya, janji itu tak bisa memengaruhi tekadnya. Ia akan tetap membersihkan nama ibunya dan memastikan siapa pun yang terlibat atas kematian tersebut membayar harganya sampai tuntas.

Adat dan Hitung-hitungan Keluarga Xie

Langkah kaki Qingyuan saat melewati ambang pintu keluarga Xie langsung disambut hawa dingin. Xie Qingrong, diperankan Estelle Chen, salah satu putri Keluarga Xie yakin ibu Qingyuan adalah dalang kematian ibu kandungnya. 

Dia bahkan tak berniat menyembunyikan rasa benci itu sedikit pun. Ejekan dan cemoohan untuk Qingyuan datang bertubi-tubi, tapi gadis itu memilih menutup mulut. 

Di rumah seluas dan seangker ini, ia tahu bahwa amarah yang meledak-ledak cuma akan jadi batu sandungan buat dirinya sendiri.

Qingyuan mulai mengamati. Ia pelajari watak orang-orang di sekitarnya, membaca celah kebiasaan mereka, dan mengumpulkan informasi tanpa ada yang sadar.

Saat dibuang ke Paviliun Danyue, sebuah bangunan tua yang terbengkalai dan berdebu, ia tidak meratap. Malah, situasi itu ia jadikan panggung. Qingyuan bersandiwara seolah-olah arwah ibunya merasukinya, lengkap dengan sisa-sisa kegaiban yang sengaja ia reka. 

Kepanikan pun melanda seisi kediaman Xie. Takut akan guna-guna dan kualat, mereka terpaksa merestorasi paviliun itu hingga kembali layak huni.

Dari sana, pijakan Qingyuan perlahan menguat. Keterampilannya tak lagi bisa disembunyikan. Ia paham urusan dagang, mengerti jenis-jenis tanaman obat, dan langsung membius mata ketika menemukan kejanggalan dalam pembukuan rumah tangga.

Pengasuh Rong menjadi sasaran empuk pertamanya. Pelayan senior ini sudah terlalu lama memakai posisinya untuk menindas sesama dan mengeruk keuntungan pribadi dari lahan pertanian milik keluarga.

Memanfaatkan keserakahan Pengasuh Rong yang tak ada habisnya, Qingyuan memasang perangkap. Ia bongkar praktik lintah darat yang selama ini menjerat para petani penggarap. 

Situasi sempat memanas ketika puluhan petani mendatangi kediaman Xie untuk menuntut upah mereka. Alih-alih bersembunyi, Qingyuan menghadapi massa secara langsung. Tanpa ragu, ia pasang badan dan berjanji melunasi seluruh utang atas nama keluarga dan mempertaruhkan jaminannya sendiri jika pembayaran itu meleset dari tenggat.

Dari jauh, Yan Rui memperhatikan setiap gerak-gerik itu. Di matanya, Qingyuan bukan lagi perempuan muda yang terobsesi balas dendam. Perempuan itu berani mengambil risiko, dan cerdik membaca situasi yang jarang ditemukan pada orang seusianya.

Jebakan Qingyuan akhirnya menyeret Pengasuh Rong ke jurang lebih dalam. Dari pemeriksaan itu, terkuak bahwa ia hanyalah perpanjangan tangan dari Selir Kedua, Mei Yinghua, diperankan Zhang Yao, sosok yang selama ini mengendalikan urusan domestik Keluarga Xie dari balik layar. 

Pengasuh Rong menerima hukumannya, sementara hak pengelolaan atas tanah keluarga jatuh ke tangan Qingyuan.

Keluarga Xie dalam Spring of the Blade

Yan Rui Selamatkan Hengtang

Lepas dari benang kusut urusan keluarga, Yan Rui dihadapkan pada krisis rakyat Hengtang dicekik kelaparan. Bantuan pangan yang seharusnya menyambung hidup warga justru ditilap lewat praktik korupsi yang rapi. 

Rakyat dipaksa menelan beras murah berbau basi, sementara para pejabat dan tuan tanah kaya justru menimbun beras kualitas terbaik di lumbung-lumbung rahasia mereka.

Penyelidikan Yan Rui mengarah pada Wei Changyan, diperankan He Ziming, pejabat transportasi berpengaruh yang memegang kendali atas jaringan distribusi di wilayah tersebut. 

Tak cuma itu, ia juga mencium keterlibatan Keluarga Xie. Dugaan skandal penggelapan beras ini makin menguat setelah seorang pengelola tanah, yang memegang buku catatan transaksi rahasia, mendadak tewas dibunuh.

Tahu kalau lawannya licin, Yan Rui memakai taktik kotor. Ia berpura-pura menjadi pejabat korup yang haus uang, sengaja memberi umpan agar Wei Changyan percaya mereka berada di kubu yang sama. 

Di balik sandiwara berbahaya ini, Yan Rui terus mengumpulkan bukti demi merebut kembali jatah pangan rakyat. Qingyuan tanpa sengaja ikut terseret dalam pusaran rencana ini. 

Bantuan Qingyuan sangat krusial saat Yan Rui harus berhadapan dengan intrik keluarga Xie. Sebagai imbalannya, Yan Rui membantu Qingyuan melacak keberadaan Cui’er, mantan pelayan yang memegang kunci rahasia di balik kematian misterius ibunya.

Interaksi di tengah bahaya itu perlahan mengikis tembok di antara mereka. Awalnya, murni hubungan saling memanfaatkan demi tujuan masing-masing. Namun, serangkaian ancaman nyawa memaksa mereka saling melihat sosok aslinya. 

Yan Rui mulai mengagumi keberanian dan kecerdikan Qingyuan. Di sisi lain, Qingyuan menyadari bahwa di balik sifat Yan Rui yang dingin dan manipulatif, dia peduli dan tulus pada nasib rakyat kecil.

Krisis pangan akhirnya pecah. Lewat gertakan dan siasat cerdas, Yan Rui berhasil menekan para pedagang untuk menurunkan harga dan membongkar lumbung beras mereka. Sayangnya, sudut sempit yang memojokkan Wei Changyan justru memicu nekatnya sang pejabat. Kerusuhan meletus, kelompok bandit menyerbu kota, dan keluarga Xie terperangkap di tengah kekacauan. Dalam situasi genting, Qingyuan diutus menerobos kepungan demi meminta bantuan pasukan dari Adipati Danyang. 

Di tengah jalan, ia dan kakaknya, Xie Zhenglun, diperankan Wang Zuyi, terhadang gerombolan bandit. Tanpa ragu, Zhenglun memilih pasang badan menahan serangan musuh sendirian agar adiknya punya waktu untuk lolos.

Pengorbanan itu menyentak nurani Qingyuan. Ia sadar, tidak semua orang di Keluarga Xie digerakkan oleh ketamakan. Masih ada nurani di diri sang kakak, dan ambisi dendam pribadi yang selama ini membakar dadanya berisiko menumbalkan orang-orang yang tak bersalah.

Cinta, Lamaran, dan Pilihan yang Dilematis

Di tengah kecamuk konflik yang makin memanas, urusan hati Qingyuan ikut membelit. Li Congxin, diperankan Xu Zhenxuan, putra Adipati Danyang, terang-terangan menaruh hati padanya. 

Niatnya ingin meminang Qingyuan dan berjanji tak akan pernah menduakan hatinya dengan selir, sebuah sumpah agar wanita yang dicintainya itu tidak bernasib malang seperti ibunya.

Bahkan, Congxin mengabaikan Xie Qingru, diperankan Ke Ying, lalu menawarkan pernikahan ini pada Qingyuan sebagai batu loncatan. Menurutnya, status sebagai menantu keluarga bangsawan akan memberi Qingyuan posisi tawar yang cukup kuat untuk membawa kasus hukum keluarganya langsung ke hadapan Kaisar.

Kendati begitu, Qingyuan tak bisa membohongi hatinya. Ia tahu Congxin merindukan kedamaian, sementara langkahnya sendiri masih tertambat pada misi yang membahayakan nyawa. Lebih dari itu, nuraninya menolak memanfaatkan ketulusan pria itu demi kepentingan pribadi.

Di sisi lain, Yan Rui mulai menunjukkan rasa cemburu. Pria itu menyodorkan tawaran kerja sama yang lebih erat, sembari mengakui bahwa Qingyuan bukanlah sosok wanita yang gampang ditundukkan. 

Meski begitu, ada tembok tebal yang membatasi mereka. Keduanya masih saling menyimpan rahasia besar, terutama soal identitas asli masing-masing.

Titik terang baru muncul saat Wei Changyan membongkar rahasia tersebut. Yan Rui tak lain adalah Shen Run, putra Shen Zhibai. Seketika Qingyuan tersadar bahwa sosok yang berdiri di hadapannya selama ini adalah sahabat masa kecil yang dulu berjanji akan kembali untuknya. 

Meski Shen Run berhasil menumpas Wei Changyan dan menyelamatkan nyawa Qingyuan, pria itu lagi-lagi memilih melangkah pergi demi menuntaskan misinya sendiri.

Di panggung politik, tensi di internal Keluarga Xie justru kian membara. Setelah mengungkap identitas aslinya ke publik, Shen Run mengantongi wewenang khusus untuk menindak tegas para pejabat yang terlibat dalam konspirasi pembunuhan ayahnya. 

Kaisar diam-diam memberinya titah rahasia, melindungi Xie Shu, diperankan Fu Dalong, yang tak lain adalah ayah kandung Qiongyuan. Kaisar rupanya masih membutuhkan pengaruh Xie Shu untuk membongkar jaringan korupsi yang jauh lebih berakar.

Keputusan inilah yang memicu retaknya hubungan Shen Run dan Qingyuan. Bagi Qingyuan, langkah itu adalah sebuah pengkhianatan. Pria yang selama ini ia anggap sebagai simpul keadilan justru berdiri melindungi ayahnya sendiri, sosok yang justru paling ia curigai sebagai dalang utama di balik kematian ibunya.

Kematian Zhenglun

Kematian Xie Zhenglun di perbatasan saat melindungi warga sipil membawa duka hitam bagi Keluarga Xie. Tak ada jasad yang kembali, hanya potongan baju zirah berlumuran darah yang tersisa. 

Peristiwa ini menghantam jiwa Mei Yinghua, ibu kandungnya, hingga hancur berkeping-keping. Qingyuan mulai mencium aroma pengkhianatan. Ia menduga Hu Wenzhuo, diperankan Miao Pu, istri utama Xie Shu, ikut bermain di balik deretan tragedi yang menimpa keluarganya. 

Kecurigaan itu kian terbukti saat Qingyuan menemukan sepucuk surat yang sengaja dipalsukan sebelum dikirim ke Zhenglun di garis depan. Surat garapan Pengasuh Liu dan Hu Wenzhuo itu dipelintir seolah-olah sang ibu tengah sakaratul maut akibat meratapi keputusan Zhenglun meninggalkan rumah. 

Isinya dibuat untuk mengguncang batin Zhenglun, meski Qingyuan sadar surat itu mungkin baru bagian kecil dari misteri kematian sepupunya.

Penyelidikan Qingyuan tak berhenti di situ. Tabir gelap di balik tewasnya Selir Xia bertahun-tahun lalu pun perlahan mulai terkuak.

Sebuah kesaksian menyebutkan racun mematikan dari tanaman euphorbia sebagai biang keladinya. Anehnya, temuan ini justru menyisakan teka-teki baru, bahwa gejala yang dialami Selir Xia sebelum mengembuskan napas terakhir sama sekali tidak cocok dengan efek racun tersebut.

Satu per satu kejanggalan itu menyadarkan Qingyuan bahwa narasi yang diyakini Keluarga Xie selama ini hanyalah kebohongan yang dirancang rapi. Hampir semua orang menyimpan bangkai di lemari masing-masing, mulai dari Mei Yinghua hingga Hu Wenzhuo. 

Ada yang benar-benar sebagai dalang, ada yang memilih bungkam karena ketakutan, dan ada pula yang memanfaatkan kekacauan ini demi mengamankan posisi mereka.

Di tempat terpisah, Shen Run tengah bertaruh nyawa membongkar gurita korupsi yang mencengkeram Hengtang. Rantai kejahatan para tuan tanah kaya, mulai dari peramposan lahan rakyat, penggelapan pajak, hingga kerja paksa, mulai terurai. 

Langkah ini melanjutkan perjuangan Shen Zhibai, sang ayah, yang dulu menuntut pendataan ulang tanah demi keadilan fiskal bagi rakyat kecil.

Sayangnya, niat mulia Shen Zhibai harus dibayar mahal. Posisinya yang mengancam pundi-pundi uang para penguasa membuatnya menjadi sasaran fitnah hingga keluarganya hancur tanpa sisa. 

Kematian tragis sang reformer justru dijadikan alat bagi para oligarki lokal untuk mengunci sistem, memastikan kekuasaan dan kekayaan mereka tetap aman tak tersentuh.

Muslihat Politik di Balik Pernikahan

Begitu tahu siapa Shen Run sebenarnya, Qingyuan makin kelimpungan memisahkan antara perasaan pribadi dan dendam masa lalu. Demi mendapatkan perlindungan politik, ia akhirnya menyetujui lamaran Li Congxin. Hanya saja, takdir dan intrik di balik layar memutarbalikkan rencana itu.

Bukan Li Congxin yang menemaninya di pelaminan, melainkan Shen Run. Pernikahan paksa ini menjadi babak baru yang rumit. Di atas kertas mereka resmi bersuami-istri, tetapi di dunia nyata, mereka dikepung rahasia kelam dan ancaman dari para penguasa yang haus jabatan.

Belum sempat luka lama sembuh, badai baru menerjang. Shen Run mendadak nyaris tewas dengan dada tertusuk. Feng En, orang kepercayaannya sendiri, langsung menuding Qingyuan sebagai pembunuh sekaligus bergerak cepat merebut posisi komandan. 

Tentu saja Qingyuan menolak dijadikan kambing hitam atas kematian suaminya. Ia bertahan gigih, menuntut agar kasus ini diusut secara adil dan transparan.

Ternyata, “kematian” Shen Run cuma panggung sandiwara. Luka tusuk itu disengaja, dirancang halus bersama Feng En dan Shen Che yang memberinya ramuan khusus, obat yang sanggup memperlambat denyut nadi hingga napasnya nyaris tak teraba. 

Muslihat nekat ini dibuat untuk memancing Hu Xing dan Xie Shu, ayah Qingyuan, agar keluar dari persembunyian dan memperlihatkan busuknya niat mereka.

Umpan itu dimakan bulat-bulat oleh keduanya. Begitu mengira Shen Run sudah tiada, Hu Xing bergerak cepat memegang kendali atas pasukan dan mulai membungkam siapa saja yang berani melawan praktik korupsinya. 

Saat Adipati Danyang menolak perintah Hu Xing untuk meredam aksi protes para pelajar, ia juga langsung dihabisi tanpa ampun.

Kematian sang ayah menjadi pukulan telak bagi Li Congxin. Semangatnya sempat padam total. Namun, ingatan akan wasiat ayahnya perlahan membakar kembali keberaniannya. Ia harus terus berdiri membela rakyat, peduli setan meski telah kehilangan keluarga, harta, maupun pasukannya.

Di momen krusial itulah Shen Run “bangkit dari kubur.” Bergandengan tangan dengan Li Congxin, para pelajar, pengawal istana, hingga rakyat jelata yang tanahnya dirampas, mereka menyatukan barisan. Perlawanan rakyat ini berhasil merobohkan cengkeraman kekuasaan kelompok Hu Xing yang berdarah-darah.

Di penghujung riwayatnya, Hu Xing akhirnya harus membayar mahal semua kejahatannya. Sebelum mengembuskan napas terakhir, ia membongkar kebenaran pahit, bahwa Shen Zhibai sama sekali tidak bersalah, dan Xie Shu-lah yang selama ini memalsukan bukti demi menghancurkan Keluarga Shen hanya agar posisi serta kekayaannya aman.

Rahasia Gelap Xie Shu dan Tragedi Kematian Jin Chunqing

Runtuhnya jaringan korupsi ternyata belum menyelesaikannya secara tuntas. Kunci misteri ini justru tersembunyi di balik cermin perunggu milik Jin Chunqing yang terukir nama Lu Lingshu. 

Lewat petunjuk inilah Qingyuan perlahan menelusuri akar sejarah keluarganya yang terputus. Dibalik identitasnya sebagai bangsawan, Xie Shu rupanya bukan darah daging Keluarga Xie. Ia hanyalah bayi laki-laki yang sengaja ditukar demi melanggengkan garis keturunan. 

Demi menjaga rahasia besar ini tetap terkubur, Xie Shu bahkan tega membunuh ayah kandungnya sendiri begitu sadar posisinya terancam. Shen Zhibai menyaksikan kekejaman itu dengan mata kepalanya sendiri, tapi memilih bungkam demi melindungi sang sahabat.

Tahun-tahun berlalu sampai akhirnya Shen Zhibai membuka rahasia kelam itu kepada Chunqing, ibu Qingyuan. Berharap masih ada nurani yang tersisa, Chunqing menyusun surat kepada Xie Shu untuk meminta suaminya itu menyelamatkan kawan lama mereka. 

Sayangnya, surat itu jatuh ke tangan Hu Xing. Berbekal dokumen tersebut, Hu Xing memeras Xie Shu dan menyudutkannya pada dua pilihan, antara  menyelamatkan istrinya Chunqing, atau kehilangan seluruh takhta dan kekayaan yang sudah ia bangun.

Xie Shu membuang nuraninya demi kekuasaan. Ia pun memilih membunuh istrinya sendiri.

Suatu malam, ia bertandang ke kediaman Chunqing. Tanpa curiga sedikit pun, Chunqing menyambutnya hangat, masih percaya bahwa pria yang pernah ia cintai itu tulus melindunginya. Ia bahkan sempat menceritakan betapa bahagianya membesarkan Qingyuan dan betapa ia mendambakan hidup baru di luar Hengtang.

Malam itu berakhir duka ketika Xie Shu menuangkan racun ke cangkir Chunqing. Qingyuan kecil menyaksikan sendiri detik-detik ibunya meregang nyawa dari tempat persembunyiannya, sebelum kobaran api membakar habis rumah itu dan menanamkan trauma mendalam yang kelak menjelma jadi dendam.

Berkat ingatan itu, Qingyuan dewasa akhirnya berdiri berhadapan langsung dengan Xie Shu. Dengan mengenakan gaun lama milik mendiang ibunya, ia memaksa sang ayah menatap masa lalu yang coba ia lupakan. 

Xie Shu sempat bergeming, beralasan bahwa ia sungguh-sungguh mencintai Chunqing sembari menawarkan seluruh harta warisannya kepada Qingyuan. Tapi iming-iming itu tak lagi mempan mendistorsi fakta bahwa ialah yang mencabut nyawa wanita tersebut.

Satu per satu dosa Xie Shu ditelanjangi. Nasib ayah kandungnya yang mati tragis, hancurnya keluarga Shen, hingga deretan nyawa yang ia tumbalkan demi ambisi pribadi. 

Saat isi surat Chunqing yang tersimpan selama sembilan tahun akhirnya dibacakan, benteng pertahanan Xie Shu runtuh. Ia tak bisa lagi mengelak dan mengakui bahwa dialah pembunuh istrinya.

Akhir Dendam dan Awal Baru

Di babak pamungkas, Shen Run berdiri di hadapan Kaisar yang menyuarakan bahwa reformasi tak bisa lagi ditunda hanya demi memelihara stabilitas politik yang semu. 

Kaisar lantas menunjuk Qingyuan sebagai satu-satunya keturunan sah yang tersisa untuk memimpin Keluarga Xie. 

Kaisar juga sepakat, kekayaan besar Keluarga Xie yang tersisa tak lagi ditimbun, melainkan dialirkan untuk menopang hidup para pengungsi dan rakyat miskin.

Bagi Xie Shu, keputusan ini menjadi pukulan mematikan. Ia tak sanggup menerima kenyataan bahwa kekuasaan yang ia bangun berdarah-darah justru jatuh ke tangan putrinya sendiri. 

Sementara Xie Shu memuja kekayaan dan nama besar keluarga sebagai warisan mutlak, Qingyuan memandangnya tak lebih dari bagian dari sistem korup yang menindas banyak jiwa.

Puncaknya terjadi ketika Qingyuan dan Shen Run membakar aula leluhur Keluarga Xie. Di balik kobaran api yang melahap bangunan tua itu, Xie Shu akhirnya sadar bahwa seluruh ambisinya cuma menyisakan kematian, pengkhianatan, dan puing-puing kehancuran. 

Dalam napas terakhirnya, ia memanggil nama Chunqing dan ibu angkatnya sebelum tewas dilalap api.

Usainya badai konflik membawa arah hidup baru bagi masing-masing tokoh. Qinghe meneruskan usaha kuliner herbal rintisan Qingyuan hingga sukses membuka cabang di ibu kota. 

Xie Qingrong pelan-pelan membuka hati untuk lembaran baru. Di tempat lain, Li Congxin akhirnya pulang melangkah menuju Qingru seusai menuntaskan tugas panjangnya, mencoba menata kembali hubungan mereka dari awal.

Shen Run sendiri memilih menepi dari hiruk-pikuk militer. Setelah mengantongi izin purna tugas, ia memutuskan menjalani hidup bersahaja di desa bersama Qingyuan. Hubungan yang tadinya sarat kecurigaan, intrik, dan keputusasaan misi balas dendam itu akhirnya menemukan ruang yang tenang untuk bertumbuh.

Spring of the Blade ditutup dengan sebuah kemenangan yang berbayar mahal. Shen Run berhasil membersihkan nama almarhum ayahnya sekaligus melicinkan jalan bagi reformasi, sedangkan Qingyuan menuntaskan keadilan bagi ibunya sembari merebut kembali kendali atas masa depan Keluarga Xie. 

Mereka menumbangkan musuh dan memutus rantai ketidakadilan yang sekian lama membelenggu Hengtang.

Review Spring of the Blade

Namanya juga review jujur ya, jadi tulisan ini 100 persen murni PoV aku. Kalau kalian keberatan, tidak masalah, itu hak kalian sebagai penonton.

Menurutku, Spring of the Blade ini keren banget premisnya. Jalan ceritanya aman sentosa sampai lebih dari separuh episode total.

Sayangnya, begitu lewat setengah jalan nih, ceritanya berantakan banget. Padahal aku berekspektasi tinggi sama serial ini sebagai comeback Xu Kai yang sudah lama kutunggu.

Formula ceritanya favoritku banget. Tapi faktanya, premisnya keren, FL/ML juga keren, tapi eksekusinya gagal. Ibarat kita lagi masak di dapur. Bahan masakannya kualitas bagus, jenis hidangan yang mau dibuat juga enak, eh tapi kokinya tidak pandai memasak, bahkan salah meracik bumbu.

Di mana saja letak gagalnya Spring of the Blade?

1. Luka yang Gagal Berdarah

Paruh awal cerita sebenarnya dibuka cukup rapi. Sudut pandang Xie Qingyuan membuat motif pembalasan dendamnya terasa intim. 

Kita melihat seorang perempuan muda yang menelan amarah mentah-mentah, menyusup ke sarang musuh, dan bersiap meruntuhkan dinding kekuasaan yang telah menghancurkan keluarganya.

Masalahnya, api itu tidak pernah benar-benar membakar penonton. Kita memang diberi tahu bahwa ibu Qingyuan tewas dengan mengenaskan dan seluruh klan Shen Run dibantai habis. Namun, kilas balik yang dihadirkan terlampau steril, hanya lewat begitu saja sebagai kliping informasi, bukan sebagai kobaran trauma yang bisa membakar penonton.

Alih-alih membuatku gemas dan ikut berapi-api menunggu dunia para penjahat juga koruptor itu hancur, adegan-adegan masa lalunya kok ya hambar banget ya?

Cerita balas dendam butuh emosi yang menohok ulu hati. Benar-benar mengiris-iris kalbu, bukan sekadar daftar penderitaan yang standar saja.

2. Pergerakan Qingyuan Lamban dan Pasif

Untuk ukuran cerita yang mengusung kata “dendam” sebagai bahan bakar utamanya, pergerakan Qingyuan di mataku sangat lamban dan pasif.

Dia memang masuk ke kediaman Keluarga Xie dengan niat merusaknya dari dalam, tapi strateginya seperti rencana kurang matang. Hari-harinya lebih banyak dihabiskan untuk menjalani rutinitas sebagai anggota keluarga, mengamati dari jauh, dan menunggu celah konflik antarsaudara muncul dengan sendirinya. 

Qingyuan ini lebih sering berfungsi sebagai penonton yang kebetulan lewat saat api pertengkaran menyala, alih-alih sosok dalang yang sengaja menyiramkan bensin ke sana.

Shen Run pun mengalami nasib serupa, meski tidak separah Qingyuan. Sebagai ujung tombak pembalasan dari sisi main lead pria, porsinya terlalu banyak dihabiskan untuk urusan birokrasi dan diskusi-diskusi rahasia yang panjang.

Alih-alih merasakan ketegangan yang konstan, penonton terus diuji kesabarannya menembus lapisan demi lapisan dialog formal yang kadang tidak ada gregetnya.

3. Asumsi Dibebankan pada Penonton

Ini yang paling aku tidak suka. Naskah Spring of the Blade ini terlampau “berserah diri” pada logika penonton. 

Cerita ini sangat mengandalkan petunjuk-petunjuk kecil (foreshadowing) dan sutradara serta penulis naskahnya seakan-akan berasumsi penonton pasti langsung paham apa yang dipikirkan karakter tanpa perlu penjelasan rinci.

Ya tidak bisa begitu dong. Teorinya bagus, tapi eksekusinya bikin capek yang nonton. Kalian sama kayak aku juga nggak? Capek banget loh nonton Spring of the Blade ini.

Kita diminta percaya begitu saja bahwa ikatan di antara Shen Run dan Qingyuan begitu kuat, tanpa pernah diberi cukup fondasi emosional untuk melihat mengapa mereka bisa saling mengerti sedemikian rupa di luar urusan asmara.

Ambil contoh properti koin sen yang sempat digembar-gemborkan sejak awal, disorot kamera dengan dramatis, dan dicantumkan ke dalam sinopsis resmi. Awalnya aku sempat mikir koin itu akan menjadi senjata rahasia atau bukti autentik di ujung cerita. 

Ternyata? Lewat begitu saja tanpa arti. Shen Run sudah tahu identitas Qingyuan sejak hari pertama tanpa proses investigasi yang jelas, dan koin tersebut sama sekali tidak memengaruhi arah plot. 

Hal-hal kecil yang menggantung seperti ini menunjukkan penulis naskah punya banyak angan-angan di kepalanya, tapi kesannya bingung merangkainya hingga episode terakhir.

4. Karakter ML Kurang Konsisten

Xie Qingyuan diperkenalkan sebagai sosok yang dingin, tangguh, dan tajam. Namun, seiring berjalannya episode, karakternya mengalami pergeseran yang cukup menjengkelkan. Ia kerap berubah menjadi gadis lemah yang butuh diselamatkan.

Sering kali Qingyuan ini sengaja melompat ke tengah bahaya, bertumpu pada keyakinan buta bahwa Shen Run pasti akan muncul di detik-detik terakhir untuk menyelamatkannya dan tebakannya tidak pernah meleset. 

Sekali dua kali sih oke ya, formula pahlawan menyelamatkan sang puan mungkin masih bisa ditoleransi. Tapi ya kalau diulang terus-menerus, citra wanita mandiri yang susah payah dibangun Qingyuan di awal babak langsung runtuh berkeping-keping. 

Aku pun sebagai perempuan “malas” sama karakter Qingyuan ini jadinya. Dia kok segitunya mengandalkan pangeran berkuda putih.

Performa Zhou Ye pun menghadirkan dilema tersendiri. Di satu sisi, ekspresi wajahnya yang datar dan sorot matanya yang dingin cocok untuk menggambarkan seseorang yang menutup rapat perasaannya. 

Tapi lama-kelamaan, dia kok kayak monoton. Duh, maaf Zhou Ye, sebab sebelumnya aku juga kritik karakter kamu di The Legend of Female General.

Di Spring of the Blade ini, alih-alih memancarkan aura ML yang batinnya terkoyak dendam, Zhou Ye ini lebih mirip remaja yang sedang merajuk di sudut ruangan sambil berimajinasi masuk ke dalam novel fiksi favoritnya.

Meskipun demikian, kesalahan tidak bisa ditimpakan sepenuhnya pada Zhou Ye. Pengambilan sudut kamera dan koreografi laga, khususnya saat adegan serangan bandit, memang menempatkannya dalam posisi tak berdaya. 

Alih-alih membiarkan Qingyuan melawan atau setidaknya menunjukkan naluri bertahan hidup, kamera lebih memilih menyorot punggung lelaki yang datang melerai dan menyelamatkannya.

5. Chemistry adalah Dewa Penyelamat

Jika bukan karena satu hal ini, chemistry Xu Kai dan Zhou Ye, aku mungkin sudah berhenti menonton sejak pertengahan episode.

Interaksi mereka di awal, ketika Shen Run masih mengenakan topeng penyamarannya sebagai Yan Rui, adalah denyut nadi terbaik Spring of the Blade ini. Dinamika keduanya menyerupai pertarungan lidah ala Elizabeth Bennet dan Mr. Darcy di Pride and Prejudice. Ada yang udah pernah nonton film klasik ini?

Tarik-ulurnya renyah, kalimat-kalimat sindiran bermakna ganda, serta ketegangan fisik yang membuat setiap adegan berdua terasa hidup banget. Juara deh, Xu Kai dan Zhou Ye.

Yan Rui yang slengean dan hobi mencari gara-gara diimbangi dengan sempurna oleh tembok pertahanan diri Qingyuan si Ratu Es. Ketika mereka berdiri terlalu dekat, saat saling bertatap mata, atau ketika jubah mereka tanpa sengaja bersentuhan, duh… penonton merinding.

Bahkan ketika kedok itu terbuka dan Shen Run kembali ke wujud aslinya yang penuh wibawa, transisi romansanya masih memuaskan. Adegan pernikahan mereka menjadi salah satu titik terang paling hangat di tengah muramnya cerita. 

Sayangnya, begitu urusan hati ini beres, naskah kembali blunder, melupakan dinamika hubungan mereka dan buru-buru membanting setir kembali ke urusan basmi-membasmi penjahat. HAHAHAHA.

6. Karakter ML Solid, eh Supporting Role-nya Jelek.

Xu Kai menyelamatkan Spring of the Blade ini dengan penampilannya yang solid. Ia piawai mengubah gestur dan warna suara, misalnya saat menjadi Yan Rui, ia menyebalkan tapi menggemaskan, tapi begitu beralih menjadi Shen Run, ia memancarkan wibawa seorang pria yang bisa diandalkan. 

Adegan ketika ia berjalan di depan Qingyuan dalam slow-motion, dan lewat sorot mata si FL, punggung lelaki itu tiba-tiba berubah menjadi tempat teraman di dunia. Eksekusi visual yang sederhana, tapi berhasil banget.

Sayangnya, hal serupa tidak terjadi pada para pemeran pendukung alias supporting role. Aku kasih beberapa contoh.

Pertama, Li Chongxin, hadir begitu menjengkelkan. Bagaimana ia bisa jatuh cinta setengah mati pada Qingyuan tidak pernah digambarkan lewat momen interaksi yang organik. Kehadirannya kayak dipaksakan, semata-mata untuk menunjukkan betapa diperebutkannya si Qingyuan ini, sekaligus memancing cemburu sang pemeran utama pria.

Kedua, Xie Shu, sebagai antagonis utama mengalami antiklimaks parah. Pas awal-awal, dia kan dibangun sebagai “mastermind” yang dingin dan penuh perhitungan. Namun menjelang ending, dia mendadak berubah menjadi orang tua histeris yang kehilangan kewarasannya. 

Alih-alih merasa puas melihat kejatuhannya, tingkahnya yang terlalu teatrikal justru mengundang tawa karena terlalu lebay menurutku.

7. Kiamat 6 Episode Terakhir

Jika paruh pertama berjalan lambat, enam episode terakhir adalah kiama yang bikin Spring of the Blade kehilangan kendali atas naskahnya sendiri.

Penyelesaian konflik diselesaikan lewat jalan pintas, “deus ex machina” alias berbasis titah kekaisaran. WKWKWKWK. Peran sang Kaisar direduksi menjadi tombol darurat ajaib. Kapan pun Shen Run butuh jalan keluar, tinggal tekan “tombol Kaisar” dan semua masalah beres seketika tanpa perlawanan berarti. 

Tokoh sekelas Komisioner Hu saja, yang digadang-gadang sebagai gembong kriminal paling berkuasa di Hengtang, ternyata bisa dilenyapkan semudah membalik telapak tangan.

Puncaknya pada konfrontasi akhir dengan Xie Shu. Alih-alih menyajikan perang urat saraf atau adu otak, klimaksnya justru ditutup dengan adegan melodramatis di tengah kobaran api yang klise banget. 

Bahkan momen saat Qingyuan dan Shen Run bersama-sama memegang alat penyala api untuk membakar markas musuh, menurutku terlalu lebay sinematiknya, malah merusak kesakralan emosi adegan tersebut.

Nasib para karakter di ujung cerita pun terlalu tergesa-gesa. Hubungan antara Xie Qingru dan Li Chongxin sangat aneh dan tidak masuk akal.

Logikanya, kok bisa penonton merestui akhir bahagia antara seorang pria dengan wanita yang keluarganya telah merusak masa lalunya, tanpa ada satu pun adegan “rekonsiliasi” yang tulus?

Apakah Spring of the Blade Layak Tonton?

Drama China Spring of the Blade jujurly bikin aku menyesal menontonnya. HAHAHA. Satu-satunya alasanku menontonnya sampai habis adalah demi menuliskan review ini di blog.

Sinematografi sudah cantik pada beberapa sekuens awal, sepasang pemeran utama dengan chemistry yang luar biasa, serta premis balas dendam yang selalu berhasil menarik perhatian penonton.

TAPIII….

Naskahnya kedodoran, logika plot-nya banyak bolong, serta babak akhir yang diselesaikan secara serampangan. Semua itu bikin Spring of the Blade tergelincir dari daftar tontonan wajib yang perlu direkomendasikan. Nilainya dari aku cuma 7.0/10. Maaf, kawan-kawan.

Bukan berarti Spring of the Blade ini tidak memiliki sisi yang bisa dinikmati. Interaksi awal antara Xu Kai dan Zhou Ye tetap layak dikenang. Tapi bagi mereka yang mendambakan kisah balas dendam yang tajam, utuh, dan tuntas secara emosional, Spring of the Blade ini gagal total, cuma bikin hampa di dada saja.

Demikian ulasan dariku, bagaimana denganmu? Silakan tulis di kolom komentar ya.

Certified author (BNSP), eks-jurnalis ekonomi dan lingkungan. Kini menjadi full-time mom yang juga berkarya sebagai novelis, blogger, dan content writer. Founder Rimbawan Menulis (Rimbalis), komunitas yang aktif mengeksplorasi dunia literasi dan isu-isu lingkungan.

Share:

Leave a Comment