Akhir pekan kemarin, sebelum suami berangkat tugas ke China, beliau mengajakku dan anak-anak jalan-jalan ke Rumah Perubahan Jakarta Escape by Rhenald Kasali. Rencana awalnya cuma makan siang di Breezy Cafe & Resto. Abis makan, anak-anak minta main di playground yang ada di sebelahnya.
Tapi yang namanya rencana, bisa aja ganti, ya kan? Anak gadis punya rencana sendiri rupanya. Dia nggak mau masuk playground dan malah minta ditemani jalan-jalan ke taman bunga yang nggak jauh dari sana. Ya sudah, mari kita ikuti aja keinginan Nona!
Kami pun masuk ke Elisa’s Garden. Awalnya kukira kami hanya akan berkeliling sebentar. Lihat-lihat bunga, foto sedikit, lalu kembali ke restoran. Ternyata, di tengah-tengah, aku ketemu ladang bunga cosmos yang malah bikin betah banget di sana.
Yes, cosmos! Bunga yang langsung mengingatkanku pada Stendhal Syndrome, video klip T.O.P.
Sebagai penggemar BIGBANG, aku punya alasan sendiri untuk senang menemukan bunga ini. Orang lain mungkin datang ke taman untuk melihat koleksi tanamannya. Aku malah teringat persahabatan 20 tahun grup ini. Begitulah kenapa ladang ini begitu istimewa rasanya.



Taman Bunga yang Punya Cerita Cinta
Elisa’s Garden, atau Taman Bunga Elisa, berbentuk seperti huruf L. Di dalamnya tumbuh beragam bunga dan tanaman hias, mulai dari lili Brazil, melati Irian, marigold, melati Costa, paku tanduk rusa, puring coin, pikok ungu, sikas bonsai, aglaonema, keladi tikus, palem kuning, sutra Bombay, sampai aneka anggrek.
Buat pencinta tanaman, pastilah nama-nama itu sudah akrab ya. Buatku sendiri, jalan-jalan di antara koleksi tanaman tersebut juga kesempatan untuk melihat lebih dekat bunga dan dedaunan yang selama ini mungkin hanya kulewati begitu saja.
Dari sekian banyak tanaman, beberapa menarik perhatian karena bunganya, ada juga yang unik dari bentuk daunnya. Kita bisa berjalan santai, berhenti untuk melihat tanaman yang disukai, lalu lanjut lagi. Tidak harus buru-buru menyelesaikan rute atau mengejar semua sudut untuk difoto.
Sampailah kami di tengah taman, ada kayak mini amfiteater gitu, bisa jadi tempat yoga, ngumpul, atau istirahat sejenak, aku menemukan sedikit profil tentang Elisa’s Garden ini.
Elisa’s Garden disebut sebagai taman doa dan kebahagiaan yang dipersembahkan seorang lelaki kepada pasangan hidupnya, Elisa. Jadi, taman ini selain ruang hijau juga bentuk cinta seorang suami kepada perempuan yang dicintainya.
Romantis juga, ya!
Kalau biasanya kita membayangkan hadiah untuk pasangan berupa bunga, perhiasan, makan malam, atau liburan, lelaki keren ini ternyata punya cara berbeda. Ia mempersembahkan sebuah taman untuk pujaan hatinya. Bunga-bunganya tumbuh, tanaman-tanamannya berkembang, dan orang lain pun bisa datang menikmatinya.
Aku langsung ingin tahu lebih banyak. Siapa Elisa ini sebenarnya? Siapa lelaki yang begitu romantis sampai mempersembahkan taman untuk pasangan hidupnya? Apakah Elisa memang pencinta bunga? Bagaimana awal mula taman ini dibangun?



Elisa Khasali, Sosok di Balik Taman Bunga Elisa
Barulah aku tahu kenapa ladang bunga ini dinamakan Elisa’s Garden. Rupanya, Elisa adalah nama dari istri Profesor Rhenald Kasali, pemilik tempat ini yang juga guru besar ekonomi Universitas Indonesia.
FYI, Elisa Khasali adalah seorang pemerhati dan aktivis pendidikan anak usia dini (PAUD) garis depan. Beliau adalah lulusan Universitas Illinois.
Salah satu fakta unik tentang Ibu Elisa adalah bagaimana Prof Rhenald mendukung penuh misi sosial istrinya. Saat Elisa mendirikan PAUD Kutilang dan Rumah Baca Manca bagi anak-anak dari keluarga kurang mampu, biaya operasional awalnya ditanggung langsung dari uang belanja rumah tangga yang disisihkan Elisa.
Prof Rhenald tidak pernah melarang, melainkan membiarkan sang istri mendedikasikan waktu, tenaga, dan dananya untuk masyarakat kecil. Atas dedikasi luar biasa ini, Elisa bahkan pernah diganjar penghargaan Anugerah Peduli Pendidikan dari Menteri Pendidikan.
Sebagai pendiri lembaga pendidikan, metode Elisa sangat tidak biasa. PAUD Kutilang yang dikelolanya tidak menggunakan papan tulis dan menolak sistem hafalan/berhitung kaku karena ia percaya anak-anak usia dini butuh ruang tumbuh yang organik.







Keunikan lainnya ada pada aturan untuk para orang tua. Elisa mendirikan Forum Orang Tua Membangun Anak (FOMA), di mana para orang tua wajib hadir sebulan sekali untuk belajar pola asuh (parenting). Jadi, bukan cuma anaknya yang “sekolah”, tapi orang tuanya pun ikut dididik agar pola asuh di rumah sejalan dengan di sekolah.
Melihat rekam jejak Elisa yang mendedikasikan hidupnya untuk merawat sesama, mendidik anak-anak, dan mengurus lingkungan, wajar jika Prof. Rhenald Kasali memilih Taman Bunga Elisa sebagai wujud cintanya untuk sang istri. Alih-alih hadiah material yang sifatnya konsumtif, sang profesor mempersembahkan sebuah ruang hijau yang hidup, tempat di mana tanaman-tanaman dirawat, bunga-bunga dibiarkan mekar, dan masyarakat luas bisa ikut menikmati keindahannya.
Filosofis banget kalau diingat-ingat, sebab merawat tanaman dan cinta kasih itu ya sama saja dengan memelihara pendidikan anak yang butuh kesabaran serta ketelatenan.

Ladang Cosmos di Stendhal Syndrome
Dari semua bunga di Elisa’s Garden, cosmos menjadi favoritku hari itu. Aku dan putriku menghabiskan waktu lebih lama di area ini dibandingkan bagian taman lainnya.
Senang sekali ketika menemukan sesuatu yang sudah kita kenal sebelumnya, tetapi kali ini bisa dilihat langsung. Apalagi, buatku cosmos punya hubungan kecil dengan T.O.P melalui video klip Stendhal Syndrome.
Kalau kamu bukan VIP, penggemar BIGBANG, mungkin bunga ini ya sekadar bunga. Cantik, menarik, lalu selesai. Beda cerita buat aku, melihat cosmos membuat ingatan melompat ke karya visual seorang musisi yang kusukai.
Cosmos merupakan tanaman berbunga yang bentuknya sekilas mirip bunga aster atau daisy. VIP pasti tahulah ya, bunga daisy, lambang G-Dragon. Kelopaknya tersusun melingkar mengelilingi bagian tengah bunga.
Penampilan bunga cosmos ini sederhana saja sebetulnya. Warnanya bisa beragam, mulai dari putih, merah muda, biru, dan merah keunguan, bergantung pada jenis atau varietasnya.
Salah satu jenis yang dikenal luas adalah Cosmos bipinnatus. Tanaman ini memiliki daun yang tampak halus dan terbelah-belah, sementara bunganya tumbuh di ujung batang yang relatif ramping.



Cosmos bukanlah bunga dengan kelopak berlapis-lapis sehingga menarik perhatian. Bentuknya simpel saja, setangkai demi setangkai, tetapi enak dipandang.
Tanaman ini juga dikenal menyukai sinar matahari dan tanah dengan drainase yang baik. Dalam kondisi yang sesuai, cosmos relatif mudah tumbuh. Bunganya bisa menarik serangga penyerbuk, termasuk lebah dan kupu-kupu, yang punya peran penting dalam ekosistem.
Di ladang cosmos ini, aku juga menemukan bunga matahari. Yes, that’s Taeyang. Duh, senang banget aku nemuin BIGBANG dalam bentuk bunga di sini.
Tentu, kalau ingin menanam cosmos sendiri, kita tetap perlu memperhatikan jenis, kondisi tanah, cuaca, dan perawatannya. Jangan asal menanam lalu berharap bunganya tumbuh subur tanpa mengenali kebutuhannya.
Healing Sambil Lihat Bunga
Kata “healing” sekarang sering dipakai untuk menggambarkan kegiatan menyegarkan pikiran. Kamu mungkin tim yang lebih suka pergi ke pantai, menginap di hotel, mendaki gunung, atau berlibur ke luar kota. Sah-sah saja. Setiap orang punya cara sendiri untuk menikmati waktu luang.
Sebagai ibu yang juga bekerja menulis, keseharian sering diisi banyak hal sekaligus. Urusan rumah, kebutuhan anak-anak, pekerjaan, dan deadline yang perlu diselesaikan. Bahkan ketika sedang tidak duduk di depan laptop pun, kadang pikiranku sudah sibuk memikirkan pekerjaan berikutnya.
Berjalan di taman, seperti di Elisa’s Garden ini, tentu tidak otomatis menyelesaikan semua urusan itu. Namun, ada bedanya ketika kita memberi diri sendiri waktu untuk melakukan sesuatu tanpa memikirkan target atau hasil akhir.
Jarak tempat ini dari rumahku relatif dekat, cuma 20 menit berkendaraan. Kalau kamu sedang mencari tempat untuk jalan santai bersama keluarga, Elisa’s Garden bisa menjadi salah satu pilihan. Apalagi, di kawasan Rumah Perubahan Jakarta Escape ini juga ada Breezy Cafe & Resto dan playground.
Ada Andaliman Resto juga kalau kamu butuh menu-menu yang berat. Jadi, agenda makan, bermain, dan berjalan-jalan bisa digabung dalam satu kunjungan.
Tentu saja, cocok atau tidaknya tempat ini tetap bergantung pada kebutuhanmu. Kalau anak-anak ingin berlarian dan bermain aktif, mereka mungkin lebih tertarik ke playground. Kalau kamu senang melihat tanaman, taman bunganya bisa menjadi bagian yang paling dinikmati.
Tidak perlu semua anggota keluarga menyukai hal yang sama. Asalkan ada ruang untuk menikmati kunjungan dengan cara masing-masing.





Sekalian Kasih Makan Ikan Koi
Selain melihat bunga dan tanaman hias, pengunjung Elisa’s Garden juga bisa memberi makan ikan koi di area taman. Saat kami datang, pakan ikan dijual seharga Rp5.000 per bungkus.
Untuk tiket masuk akhir pekan, kami membayar Rp25.000 per orang. Ini harga yang kami temui saat berkunjung, ya, bukan jaminan bahwa tarifnya masih sama ketika kamu datang nanti. Sebaiknya cek informasi terbaru dari pengelola sebelum berangkat.


Kalau datang bersama anak-anak, memberi makan ikan bisa menjadi kegiatan tambahan yang sederhana. Namun, pastikan menggunakan pakan yang disediakan dan mengikuti aturan di lokasi. Jangan memberi ikan makanan sembarangan hanya karena ingin melihat mereka mendekat.
Selain itu, tidak perlu memaksakan diri melakukan semua aktivitas yang tersedia. Kalau anak sudah puas melihat ikan dan kamu sudah cukup berkeliling, ya, bisa lanjut ke tempat lain. Jalan-jalan bukanlah lomba untuk menyelesaikan semua kegiatan dalam satu kunjungan. Happy weekend.

Leave a Comment