Grup WhatsApp wali murid di sekolah
Grup WhatsApp wali murid di sekolah

Setiap kali anak masuk sekolah baru, entah itu TK, SD, atau naik jenjang, fenomena grup WhatsApp wali murid hampir pasti muncul, selain daftar buku dan seragam.

Biasanya, grup WhatsApp ini dibuat dengan niat baik. Supaya informasi cepat sampai, supaya orang tua saling kenal, supaya komunikasi dengan wali kelas lebih lancar. 

Dan di awal-awal, suasananya masih hangat. Isinya perkenalan, emoji senyum, “Salam kenal ya Bunda,” dan foto anak-anak pakai seragam baru. Kemudian… pelan-pelan berubah.

Mulai ada usulan membentuk struktur kepengurusan. Dipilihlah ketua, sekretaris, bendahara. Setelah itu, muncul pembahasan kas bulanan. Disusul iuran khusus. Lalu iuran lain. Dan yang lain lagi.

  • Kas bulanan.
  • Kas duka.
  • Ulang tahun anak.
  • Ulang tahun wali kelas.
  • Hari guru.
  • Parsel Lebaran.
  • Hadiah akhir tahun.
  • Acara ini, acara itu.

Tanpa sadar, grup WhatsApp yang awalnya hanya alat komunikasi, berubah jadi organisasi sosial mini dengan kewajiban finansial rutin. Kalau sudah begini, sering muncul rasa nggak enak, canggung, bahkan tertekan, terutama buat orang tua yang secara ekonomi harus berhitung ekstra.

Niat Baik Itu Harus Punya Rem

Aku pernah ada di posisi jadi orang dalam. Aku pernah jadi ketua grup wali murid waktu anak kembarku masih TK. Awalnya sama sekali nggak niat menjadi ketua. Akan tetapi, didorong oleh ibu gurunya, kemudian dipepetin terus sama ibu-ibu lain, akhirnya saya bersedia mengajukan diri. Nggak ada lawan, cuma saya sendiri. HAHAHA.

Jujur saja, itu pengalaman yang membuka mataku tentang fenomena grup WhatsApp wali murid selama ini.

Sejak awal, aku sudah punya satu prinsip, bahwa grup WhatsApp ini tidak boleh jadi beban. Karena aku tahu betul, kondisi ekonomi orang tua murid itu nggak seragam. 

Ada yang punya satu anak, ada yang tiga. Ada yang dua-duanya kerja, ada yang single income. Ada yang kelihatan oke saja di luar, tapi sebenarnya di dalamnya sedang menahan napas.

Jadi kami sepakati bersama, bahwa hanya ada kas bulanan. Tidak ada iuran-iuran lain tanpa tujuan jelas. Kondisi dipilih benar-benar yang penting saja untuk memungut iuran, misalnya anak sakit dan dirawat di rumah sakit, orang tua murid meninggal dunia atau dirawat di rumah sakit.

Akhirnya, dalam satu tahun ajaran, kami cuma mengadakan field trip anak sekali setahun, dan beberapa momen simbolik, seperti Hari Guru dan Hari Santri. Pada masa aku memimpin, aku meniadakan foto wisuda.

Acara perpisahan anak diadakan sesederhana mungkin di sekolah, tidak perlu sewa ruang graha apalagi di ballroom hotel. Hehehe. Itu pun biayanya ditekan seminimal mungkin.

Contohnya, kalau iuran acara perpisahan anak bisa Rp150.000 per anak, kenapa harus dipaksakan jadi Rp350.000 sih? Kalau hadiah guru bisa berupa kartu dan bunga kecil dari anak-anak, kenapa harus parsel mahal?

Kami lebih memilih makna daripada gengsi. Ya… walaupun setelah anak saya lulus TK B kemudian naik ke SD, konon katanya kebijakan-kebijakan saya jadi semacam “sindiran” di kalangan guru-guru di sana. Hehehe. Ini juga saya tahu dari seorang kawan, wali murid TK A yang naik ke TK B di sekolah sama. Wallahualam.

Hitung-Hitungan Sederhana yang Sering Terlupakan

Kita hitung saja lah bareng-bareng. Misalnya:

  • Kas bulanan Rp25.000
  • Kas duka Rp5.000

Total: Rp30.000/bulan

Kelihatannya kecil, ya?

Tapi:

Rp30.000 x 12 bulan = Rp360.000 per tahun.

Kalau masih ada:

  • Iuran Hari Guru: Rp50.000
  • Parsel Lebaran: Rp100.000
  • Ulang tahun wali kelas: Rp50.000
  • Acara perpisahan: Rp300.000

Total tambahan: Rp500.000

Artinya, dalam satu tahun ajaran, satu anak bisa “menghabiskan” Rp860.000 hanya untuk urusan grup wali murid.

Kalau orang tua punya dua anak di sekolah berbeda? Tinggal dikali dua. Kalau tiga anak? Tinggal kalikan tiga, dan seterusnya.

Ini tuh belum termasuk uang yang harus orang tua keluarkan untuk beli buku, seragam, uang les, ekskul, dan lainnya. 

Makanya, wajar kalau ada orang tua yang diam, bahkan tidak aktif di grup. Kalau ada imbauan untuk pungutan iuran, mereka cenderung diam. Aku rasa bukan karena dia pelit, tapi karena sedang memilih mana yang sanggup dan mana yang tidak.

Tekanan Sosial Grup WhatsApp Wali Murid

Menurutku, masalah terbesar dari grup WhatsApp wali murid itu bukan soal nominal iurannya. Bukan angka Rp10 ribu, Rp25 ribu, atau Rp100 ribu. Tekanan sosial yang mengikutinya itu loh, yang berat banget. 

Tekanan yang halus, tapi konsisten. Nggak teriak, tapi nyangkut di kepala. Kalimat-kalimatnya sering terdengar sepele:

“Ikut aja, nanti dibilang nggak kompak.”

“Ikut aja, nanti kalau nggak ikut, ditandai ibu guru.”

“Masa sih segitu aja keberatan?”

“Ini kan buat anak-anak.”

Kalimat-kalimat ini jarang diucapkan dengan niat jahat. Biasanya dibungkus dengan senyum, emoji, atau dalih kebersamaan. Tapi dampaknya nyata loh say.

Pelan-pelan, orang tua jadi merasa tidak enak untuk menolak, merasa bersalah kalau berbeda pendapat, atau akhirnya memilih diam meski sebenarnya berat.

Padahal, keberatan itu sah-sah saja. Kita hidup di negara demokrasi. Kita punya hak untuk setuju dan tidak setuju. Dan yang sering terlupakan, diam itu belum tentu setuju. Bisa jadi diam karena bingung, karena capek, atau karena sedang menghitung dalam kepala, “Kalau ikut ini, bulan ini masih bisa belanja apa, ya?”

Kemampuan finansial seseorang tidak bisa diukur dari satu iuran. Tidak ikut bukan berarti tidak peduli. Tidak menyumbang bukan berarti tidak sayang anak-anak. Bisa jadi, orang tua itu sedang memprioritaskan hal lain yang sama pentingnya, entah itu bayar SPP, biaya transport, kebutuhan rumah, atau bahkan sekadar bertahan hidup bulan ini.

Yang lebih tricky, tekanan sosial di grup WhatsApp wali murid sering bersifat kolektif dan implisit. Tidak ada yang menunjuk langsung, tapi atmosfernya kerasa banget.

Misalnya, saat satu orang bertanya soal nominal, lalu grup mendadak sepi. Atau saat ada yang tidak menyahut, lalu muncul pesan lanjutan seperti, “Yang lain sudah setuju ya, Bu.” Kalau udah baca chat kayak gitu, siapa yang nggak terpojok, ya kan?

Belum lagi fenomena lain yang sering muncul. Ada grup wali murid yang pelan-pelan bergeser fungsi. Dari ruang koordinasi jadi ajang pamer. 

Pamer hadiah, pamer konsep acara, pamer niat. Atau berubah jadi ruang gosip, tempat menafsir sikap guru, membahas keluarga murid lain, bahkan adu emosi soal hal-hal kecil.

Ada juga momen debat panjang yang nggak ke mana-mana. Topiknya bisa apa saja, dari warna seragam sampai konsep acara. Yang satu merasa ini penting, yang lain merasa berlebihan. Dan karena semua disampaikan lewat teks, nada bicara sering kebaca lebih tajam dari yang dimaksudkan.

Padahal, tujuan awal grup wali murid itu kan mendukung anak-anak di sekolah. Bukan untuk mengukur siapa paling kompak, siapa paling royal, atau siapa paling vokal.

Aku sering merasa, grup wali murid itu seperti cermin kecil masyarakat kita. Ada solidaritas, tapi juga ada hierarki tak terlihat. Ada niat baik, tapi juga ada tekanan. Tantangannya adalah bagaimana kita menjaga agar kebersamaan tidak berubah menjadi kewajiban sosial yang memberatkan.

Seperti Apa Grup WhatsApp Wali Murid yang Sehat?

Menurutku, grup wali murid yang sehat itu harus punya batas jelas. Batas soal fungsi, batas soal uang, dan batas soal emosi. Kebanyakan grup yang terlalu “niat” tanpa menerapkan batas sering kali malah jadi sumber lelah baru buat orang tua.

1. Tujuan Grup Harus Jelas

Sejak awal, penting banget menyepakati bahwa grup WhatsApp wali murid itu alat komunikasi, bukan organisasi sosial penuh agenda. Fungsinya untuk menyampaikan informasi sekolah, koordinasi kegiatan anak, dan hal-hal yang memang relevan dengan proses belajar.

Kalau obrolan mulai melebar ke urusan pribadi, gosip, debat nilai hidup, atau pamer ini-itu, penentuan dress-code baju, sebenarnya sah-sah saja… tapi sebaiknya bukan di ruang bersama. Tidak semua orang nyaman dan tidak semua orang punya energi yang sama untuk membaca terlalu banyak chat.

Intinya sih, semakin jelas tujuan grup, semakin kecil potensi salah paham.

2. Iuran Berdasarkan Acara, Bukan Rutin

Menurutku, sistem kas bulanan yang “jalan terus” tapi tidak jelas akan dipakai untuk apa, itu rawan bikin beban mental. Lebih sehat kalau pakai prinsip kalau ada acara baru bahas iurannya. Kalau nggak ada acara, ya nggak ada pungutan apa-apa.

Model ini lebih transparan dan terasa lebih adil. Orang tua tahu uangnya dipakai untuk apa, kapan, dan berapa lama. Tidak ada perasaan “kok tiap bulan bayar, tapi nggak tahu ini buat apa ya?”

Dan yang paling penting, sistem ini mengurangi tekanan sosial. Karena orang tua tidak merasa punya “utang moral” hanya karena tidak setor kas rutin.

3. Nominal Dibahas dengan Empati

Cara membahas nominal itu sama pentingnya dengan nominal itu sendiri. Perkataan nyelekit, seperti “Ah kecil kok segini.” Tanpa sadar ini tuh bisa melukai loh. Karena “kecil” itu relatif.

Akan jauh lebih sehat kalau diganti dengan, “Apakah nominal ini masih aman untuk semua?”

Kalimat ini sederhana, tapi nadanya berbeda karena mengandung empati, sadar bahwa kondisi orang tua tidak sama. Dan satu hal yang krusial, beri ruang untuk orang tua boleh tidak ikut tanpa harus menjelaskan alasan pribadi.

Tidak semua orang nyaman membuka kondisi finansialnya di grup. Dan itu tidak salah.

4. Jangan Semua Hal Dijadikan “Harus Ikut”

Tidak semua momen perlu dirayakan dengan iuran. Hadiah guru, misalnya, seharusnya simbolis. Bukan ajang adu niat antar kelas atau antar sekolah.

Kadang, kartu ucapan buatan anak, gambar sederhana, atau surat tulisan tangan justru jauh lebih bermakna daripada parsel mahal yang akhirnya jadi formalitas. Kebersamaan itu kan dilihat dari niat tulusnya, tidak memaksa.

5. Pengurus Itu Fasilitator, Bukan Penguasa

Ketua, sekretaris, bendahara di grup wali murid bukan big boss ya say. Mereka bukan penentu tunggal. Mereka adalah fasilitator.

Tugas utamanya bukan menekan keputusan, tapi menyaring ide yang masuk, menjaga diskusi tetap sehat, melindungi anggota dari tekanan berlebihan.

Kalau ada ide bagus tapi berpotensi memberatkan, tugas pengurus adalah mengajak mikir ulang, bukan langsung mengiyakan saja.

Grup wali murid yang sehat sejatinya adalah tempat aman untuk setuju, aman untuk tidak setuju, dan aman untuk diam tanpa dihakimi. Jauh lebih berharga daripada grup yang kelihatannya kompak, tapi diam-diam bikin banyak orang tertekan.

Grup WhatsApp wali murid bisa jadi ruang yang hangat dan suportif, tapi juga bisa jadi sumber stres yang nggak perlu kalau kita lupa bahwa tidak semua orang tua berada di garis start yang sama.

Maka, kalau kita bisa membuat grup WhatsApp wali murid yang lebih empatik dan manusiawi, ya itu sama artinya kita menjaga kesehatan mental kita sendiri. Karena mendidik anak itu sudah cukup berat. Jangan sampai grup WhatsApp-nya ikut menambah beban.

Certified author (BNSP), eks-jurnalis ekonomi dan lingkungan. Kini menjadi full-time mom yang juga berkarya sebagai novelis, blogger, dan content writer. Founder Rimbawan Menulis (Rimbalis), komunitas yang aktif mengeksplorasi dunia literasi dan isu-isu lingkungan.

Share:

Leave a Comment