Review Against the Current
Review Against the Current

Langsung saja! Against the Current adalah drama China costume terbaik tahun 2026 buatku. Sampai Oktober ini, belum ada yang mampu menandinginya. Bahkan mendekati separuh kualitasnya saja belum. Ini personal opinion ya.

Against the Current punya paket lengkap, mulai dari intrik keluarga bangsawan, perebutan pengaruh politik, pernikahan yang diatur, persaingan antarsesama perempuan, dan tentunya slow-burn romance antara dua karakter utama.

Kisahnya mengikuti perjalanan hidup Shen Jialan, yang selanjutnya kupanggil Xu Lanxiang, seorang perempuan bangsawan yang nasibnya berakhir tragis sebagai budak. Kisah ini mengikuti perjuangannya melepaskan diri dari sistem perbudakan dan jadi perempuan tangguh juga mandiri.

Sinopsis Against the Current

Against the Current mengambil latar Dinasti Ming. Shen Jialan/ Xu Lanxiang, gadis kaya dan terpelajar dari keturunesean bangsawan, berubah menjadi mimpi buruk.

Ayahnya dihukum mati karena menolak perintah untuk menuduh kaisar sebelumnya sebagai penguasa yang tidak sah.

Sampai akhir hayatnya, laki-laki itu tetap pada pendiriannya. Ia tak ingin tuduhan itu menjadi pembenaran bagi penguasa baru untuk melakukan hal serupa terhadap penguasa berikutnya.

Sayangnya, keteguhan ayah Shen Jialan membawa petaka bagi keluarganya. Dalam semalam, Keluarga Shen kehilangan segalanya. Para lelaki ditangkap dan dijadikan budak, sedangkan para perempuan dikirim untuk melayani di rumah bordil.

Di usia ketika anak-anak lain masih sibuk dengan sekolah dan teman sebaya, Shen Jialan harus berjuang menyelamatkan diri. Ia tak punya banyak pilihan.

Demi bertahan hidup, ia mengambil identitas seorang anak perempuan yang telah meninggal, Xu Lanxiang. Dengan nama baru itu, ia memulai hidup bersama keluarga angkatnya.

Hanya saja, identitas baru tak serta-merta menghapus masa lalu. Lanxiang harus menyimpan rapat-rapat siapa dirinya sebenarnya, bahkan ketika berusaha menjalani kehidupan seperti orang lain.

Enam tahun kemudian, takdir membawanya kembali ke rumah Keluarga Lin, kemudian bertemu mantan tunangannya, Lin Jinqi. Kali ini, ia datang bukan sebagai calon menantu, melainkan sebagai pelayan.

Lantas, bagaimana Lanxiang bisa keluar dari jerat perbudakan? Mampukah ia membebaskan dirinya sekaligus ayah dan ibu angkatnya?

Karakter Utama di Against the Current

Jangan bayangkan hubungan Lanxiang dan Jinqi langsung berjalan manis seperti romansa pada umumnya. Mereka dibayangi janji pernikahan dari masa lalu, keputusan keluarga, pengkhianatan, dan persoalan lama yang belum selesai.

Sebelum bisa bicara soal cinta, keduanya harus lebih dulu berhadapan dengan beban yang sudah telanjur melekat pada kehidupan masing-masing.

1. Tan Songyun sebagai Shen Jialan/ Xu Lanxiang

Bagai mendapat kehidupan kedua, Lanxiang menjalani hari-harinya sebagai rakyat jelata. Makan seadanya, melakukan segala hal mandiri, tanpa pelayan, juga berbakti pada orang tua angkatnya.

Ayahnya bekerja di toko kaligrafi dan lukisan, sementara ibunya membuat kantong wewangian. Meski bekerja sebagai pelayan tingkat tiga, Lanxiang paling cakap bekerja.

Penampilannya lembut, polos, tahan banting, pandai membaca keadaan, menahan diri, mencari celah, dan membangun kehidupan dari apa yang masih tersisa.

2. Lu Xueyi sebagai Lin Jingqi/ Fengtai

Ketika Lanxiang berumur 15 tahun, Jinqi 20 tahun. Mereka bertunangan, tapi belum pernah bertemu.

Begitu mendengar Keluarga Shen jatuh, Keluarga Lin langsung membatalkan perjodohan.

Jinqi kemudian menikah dengan Zhao Xingtang, putri Keluarga Zhao yang dekat dengan kaisar. Sejak itu, Keluarga Lin kian makmur dan sejahtera.

Meski karakternya abu-abu dan keras, Jinqi sesungguhnya memiliki aura yang tenang.

Pernikahannya dengan Zhao Xingtang tidak pernah bahagia lantaran sang istri berselingkuh dan menolak punya anak dengannya.

Jinqi kemudian jatuh cinta pada Linxiang karena kecakapannya. Dia bahkan bilang, “otak sepintar ini, sayang jadi pelayan.”

3. Li Meng sebagai Zhao Xingtang

Zhao Xingtang adalah karakter wanita paling kontroversial dan kompleks dalam cerita Against the Current. Ia digambarkan sebagai villain, dengan posisi istri Jinqi dalam pusaran konflik politik keluarga Lin dan Zhao.

Zhao Xingtang adalah korban dari sistem sosial yang patriarkis. Ia sangat cerdas, berpendidikan, dan memiliki ambisi besar, tapi tertahan dengan aturan zaman di mana perempuan tidak diizinkan menduduki posisi kekuasaan layaknya pria.

Karena tidak memiliki pilihan selain menikah demi kekuasaan, Zhao Xingtang menghalalkan segala cara, termasuk bertindak kejam juga manipulatif untuk mengumpulkan kekayaan dan mempertahankan posisinya.

Ia tidak mencintai Jinqi, tapi tetap menginginkan hartanya. Zhao Xingtang berselingkuh dengan sepupunya.

Meskipun vokal menyuarakan kritik yang tajam terhadap ketidakadilan sistem sosial terhadap perempuan, karakter Zhao Xingtang harus berhadapan dengan moralitas cerita. Ia mengalami berbagai bentuk kehancuran fisik dan mental.

Ia dipermalukan dengan perselingkuhannya. Pria yang dicintainya malah melempar semua kesalahan padanya. 

Setelah bercerai dengan Jinqi, Zhao Xingtang menikah lagi ke Keluarga Dai, tetapi mengalami kekerasan dalam rumah tangga. Akhirnya, ia menjadi gila dan menemui ajal secara tragis.

Review Against the Current

Drama China 47 episode ini punya benang merah cukup kentara. Betapa sempitnya ruang gerak perempuan saat hidup mereka sepenuhnya didefinisikan oleh nama keluarga, nasib pernikahan, dan kekuasaan laki-laki.

Hampir tidak ada tokoh perempuan di Against the Current yang benar-benar memegang kendali atas jalan hidupnya sendiri. Mau tidak mau, mereka terseret untuk mengabdi pada nama besar keluarga, menjaga gengsi, menerima nasib dijodohkan, atau sekadar melakoni peran yang sudah digariskan lingkungan sekitar. 

Perempuan yang masih bersuami saja menjalani hidup susah, apalagi janda. Pernikahan adalah transaksi untuk alat penjamin posisi sosial, pengikat aliansi politik, sekaligus bahan tawar-menawar antar-keluarga. 

Perempuan tak ubahnya komoditas di atas meja perundingan. Apa yang mereka inginkan atau rasakan paling-paling cuma jadi pertimbangan sekunder, kebanyakan diabaikan.

Menariknya, Against the Current memperlihatkan bahwa nasib tragis semacam itu tidak hanya dialami perempuan dari kelas bawah. Perempuan bangsawan pun tidak luput dari jerat yang sama.

Memang, mereka mengenakan gaun mewah, tinggal di kediaman megah, dan dilayani belasan pelayan. Namun, gelimang harta itu tidak serta-merta membeli kebebasan mereka. Ini terlihat jelas pada sosok Zhao Xingtang.

Dia bukan tipe karakter yang gampang ditaruh di kotak “baik” atau “jahat.” Dia berambisi besar pada harta, dahaga akan kebebasan, tapi pada saat bersamaan, tindakan-tindakannya kerap menyeberangi batas moral.

Kalau ditarik ke belakang, dia cuma seorang perempuan yang mencoba bernapas di dalam sangkar yang begitu sesak.

Keputusan penulis cerita untuk membuat Zhao Xingtang buta huruf adalah sebuah detail yang keren banget. Keterbatasan itu membuat kebebasannya butuh waktu lama.

Walaupun dia berhasil menggenggam kekayaan atau mengamankan posisi penting, dia tetap lumpuh tanpa bantuan orang lain tiap kali harus membaca dokumen atau mengurus laporan keuangan tertulis.

Zhao Xingtang ini terlihat berkuasa dari luar, padahal sebenarnya sama sekali tidak memegang kendali atas hidupnya sendiri.

Ia tidak dipenjara dalam jeruji besi. Kurungannya tak kasat mata, terbuat dari dogma sosial, ketergantungan finansial, dan ketertutupan akses terhadap ilmu pengetahuan. Detail-detail seperti inilah yang membuat Against the Current benar-benar serial ber-value tinggi ketimbang sekadar drachin full entertainment antara selir di rumah bangsawan.

Lan Xiang si Juru Selamat

Kalau kebanyakan lakon perempuan dalam drama China costume langsung tancap gas dengan amarah, gebrakan meja, atau debat sengit untuk membuktikan diri, Lan Xiang memilih jalur sebaliknya. 

Ia lebih suka berdiri agak di belakang, mengamati gerak-gerik orang sekampung, membaca pergeseran loyalitas di meja makan, lalu menimbang apa sebenarnya yang sedang dipertaruhkan.

Kecerdasannya tidak meledak-ledak. Ia jarang berpidato panjang lebar untuk mempermalukan lawan. Sering kali, keunggulannya terlihat dari hal-hal kecil.

Sikap ini membuat karakternya relate banget sama perempuan kelas bawah. Lan Xiang sadar ia tidak hidup sendirian di menara gading. Ia tahu betul cara membangun sekutu dan paham bahwa bertahan hidup di tengah pusaran konflik keluarga bangsawan tidak pernah bisa dikerjakan seorang diri. 

Mandiri bukan berarti menolak uluran tangan orang lain. Sesekali tahu siapa yang benar-benar bisa dipercaya saat ujian datang.

Nonton Lanxiang itu memuaskan banget. Walau pun kadang ya… menurutku, dia terlampau sering diposisikan sebagai juru selamat. Saat orang lain tersandung oleh ego atau kelicikan mereka sendiri, Lan Xiang selalu sukses merapikan kekacauan. Lama-kelamaan, ini bikin karakternya terasa steril. Ya nggak sih? Hehehe.

Logikanya kan, secerdas apa pun orang bisa baca situasi, yang namanya niat baik tidak selalu berbuah manis. Apalagi, Lanxiang itu kan beban traumanya berat loh.

Semua anggota keluarganya mati. Dia bertahun-tahun hidup dengan identitas palsu, terjebak dalam perkawinan politik yang asing, serta tekanan mengurus rumah tangga besar yang penuh intrik. 

Semua itu seharusnya menjadi ladang subur untuk menumbuhkan kerentanan dan pergulatan batin sehingga bikin dia salah langkah. Sayangnya, naskahnya selalu bikin Lanxiang berhasil terus menyelesaikan masalah.

Kita tahu Lan Xiang sudah berada di fase hidup yang baru, tetapi kita kehilangan kesempatan untuk merasuki proses emosional yang menyeretnya ke sana. Akibatnya, ia kadang lebih berfungsi sebagai mesin penyelesai masalah ketimbang manusia hidup yang sedang babak belur ditempa takdir.

Politik Keluarga dan Konsekuensi Dosa Masa Lalu

Intrik politik dalam Against the Current sebenarnya jarang bermain di panggung besar istana. Konfliknya kebanyakan merembet lewat lorong-lorong rumah tangga dan meja makan keluarga.

Satu saja keputusan keliru dari seorang pejabat bisa menyapu bersih nasib seluruh silsilah keluarganya. Perselisihan di tingkat atas bisa berujung pada pernikahan paksa, sementara ambisi untuk mengamankan trah keluarga sering kali menggilas orang-orang kecil yang bahkan tidak pernah diajak berdiskusi.

Against the Current fokus memperlihatkan bagaimana lemparan dadu para elit menghantam kehidupan perempuan, anak-anak, pelayan, dan mereka yang tak punya suara untuk membela diri.

Ditambah lagi, dosa atau keputusan generasi tetua tidak lantas menguap saat pelakunya tutup usia. Konsekuensinya terus membayangi anak-cucu mereka, menagih janji dan penderitaan dari orang-orang yang bahkan tidak paham kenapa beban itu ditumpahkan ke pundak mereka.

Tragedi yang menimpa keluarga Lanxiang dan manuver keluarga Lin menjadi jangkar bagi seluruh konflik setelahnya.

Kedua keluarga ini mengambil jalan yang berseberangan saat badai politik menerpa. Yang satu memilih memegang teguh prinsip meski harus hancur berkeping-keping. Satunya memilih pragmatis dengan mengorbankan kehormatan demi menyelamatkan leher anggota keluarga.

Kukuh pada pendirian memang terdengar mulia, tetapi harga yang harus dibayar sering kali ditanggung oleh orang-orang tak berdosa di sekitar kita. Sebaliknya, berkompromi mungkin bisa menyelamatkan nyawa, tapi ada harga diri yang harus ditanggalkan selamanya.

Pilihan hidup yang akhirnya diambil Lin Jinqi dan Cendikiawan Han memperlihatkan dua kutub berbeda dalam memandang benturan antara nurani pribadi dan beban nama keluarga.

Langkah mereka secara tak langsung memanggil kembali ingatan kita pada nasib kelam keluarga Shen dan keluarga Lin di masa lalu.

Sejarah mungkin tidak berulang secara persis, tetapi manusia selalu terjebak dalam pusaran dilema yang sama.

Apakah kita harus tetap berdiri tegak memegang prinsip meski keluarga kita hancur? Atau adakah saatnya keselamatan orang-orang tersayang jauh lebih berharga daripada sebuah kemenangan moral?

Proses Pendewasaan Ji’er

Dari sekian banyak karakter pendukung Against the Current, buat aku, Ji’er mungkin sosok yang paling membekas secara emosional.

Ia menarik karena tidak sempurna. Di awal cerita, Ji’er hanyalah gadis lugu dan impulsif. Ketika ada kesempatan mengubah nasib, ia tergiur tanpa sempat menimbang risikonya. 

Sebetulnya, ia bisa saja memikirkan dirinya sendiri dulu, tetapi itu bukan karena ia jahat, ia hanya belum cukup matang.

Kita cukup sering melihat orang mengambil keputusan salah karena belum paham dampaknya, bukan lantaran orang itu berniat buruk. Proses Ji’er mendewasa tidak lantas mengikis kepribadian unik yang membuatnya menarik sejak awal.

Perjalanan Ji’er tidak mulus. Semangatnya untuk memperbaiki hidup sering kali berbenturan dengan ketidakmampuannya membaca keadaan. Dunia lantas memberinya pelajaran keras dari yang sanggup ia bayangkan.

Ia menerima hukuman pukul sampai mati. Nyawanya kritis ketika Lanxiang berhasil menyelamatkannya. Ia kemudian berpindah majikan, dijual dari satu keluarga ke keluarga lain, dan puncaknya bekerja sebagai pekerja seks komersial.

Awalnya, Ji’er dan Lanxiang selalu berseberangan. Ia sangat bisa menunjuk Lanxiang sebagai dalang kemalangannya. 

Setelah saling mengenal, alih-alih menyalahkan keadaan, ia teringat bahwa Lan Xiang pernah mencoba memperingatkannya. Perlahan, Ji’er sadar bahwa badai yang menghantamnya adalah buah dari pilihannya sendiri.

Ji’er tidak mendadak berganti kulit menjadi sosok asing di pertengahan episode. Keberanian dan hasratnya untuk hidup mandiri tetap menyala. Bedanya, kini ia tahu ke mana harus mengarahkan energi itu. 

Ia mulai bisa membedakan mana peluang yang benar-benar baik dan mana tawaran yang semu. Ia pun paham, menolong orang lain tidak harus dilakukan dengan mengorbankan diri membabi buta.

Salah satu momen paling berkesan buat aku ketika Ji’er menggantikan Lanxiang di rumah bordil dengan risiko dirinya sendiri berada dalam bahaya besar. 

Sikap Ji’er pada Lanxiang tidak pernah berubah, baik saat mereka masih sama-sama pelayan, maupun ketika wanita itu sudah menjadi sosok terpandang di kediaman Lin Jinqi. 

Ji’er melihat manusianya, bukan gelar atau kedudukan, silsilah, dan derajatnya. So, menurutku, Ji’er adalah karakter yang ditulis dengan sangat bagus. 

Ia menjadi dewasa dan bertanggung jawab tanpa kehilangan ketusnya, cerianya, serta kepolosannya. Ia tumbuh, tanpa perlu berhenti menjadi dirinya sendiri.

Jejak Pelayanan Lin Xiuru dan Lin Xiuwan

Kehadiran Lin Xiuru dan Lin Xiuwan sebagai sahabat pelayan Lanxiang memberi warna baru di luar dinamika Lanxiang dan Ji’er. 

Karakter mereka dibentuk oleh latar yang berbeda, membawa kepribadian yang saling bertolak belakang sehingga perjalanan masing-masing.

Lin Xiuru sejak awal adalah sosok yang jeli dan cerdas, meski cenderung tertutup. Ia tahu cara membaca situasi, tetapi belum cukup berani memercayai instingnya sendiri. 

Proses pendewasaannya ya dengan belajar mengenali dan memakai kekuatan yang memang sudah ada dalam dirinya.

Sementara itu, Lin Xiuwan bergerak dari arah sebaliknya. Karakter ini lepas, impulsif, dan sering kali bertindak tanpa memikirkan dampak panjang. 

Proses belajarnya bagaimana menyeimbangkan kebebasan pribadinya dengan tanggung jawab terhadap orang-orang di sekitarnya.

Satu-satunya hal yang disayangkan adalah porsi adegan mereka agak terburu-buru dan time skip. Penonton tiba-tiba disuguhkan hasil akhir tanpa sempat menikmati proses transisinya.

Lin Xiuru dan Lin Xiuwan

Lin Jinqi yang tak Selalu Menyenangkan

Setelah mengupas sekian banyak karakter perempuan, mari beralih ke Lin Jinqi, sosok yang menjadi pusat dinamika asmara Lanxiang di drama ini.

Lin Jinqi jelas bukan pria sempurna. Dia bisa sangat impulsif, egois, dan cenderung bergerak terburu-buru mengejar apa yang dia inginkan tanpa sempat menimbang risikonya.

Celah-celah minus inilah yang sebenarnya berpotensi melahirkan perkembangan karakter yang menarik.

Dia bukan tipe male lad yang dari awal sudah bijak memahami segalanya. Dia berproses bahwa mendapatkan apa yang diinginkan tidak serta-merta berarti keputusannya benar. 

Sesekali dia mesti menahan diri, mengocok ulang prioritas, atau sekadar “ngeh” bahwa ambisi pribadinya bukanlah pusat dari dunia.

Hubungannya dengan Lanxiang pun rumit. Mereka bukan pasangan yang kenal dari halaman putih. Ada bayang-bayang sejarah keluarga, janji lama yang diingkari, luka politik, hingga saling curiga yang terlanjur mengendap.

Apalagi peristiwa masa lalu itu punya luka tersendiri bagi Lanxiang. Sayangnya, meski cerita terus mendesak mereka untuk makin dekat, perkembangan emosi Jinqi sendiri menurut aku masih kurang seimbang dibanding bobot konflik yang dia pikul.

Dia memang diperlihatkan punya cela, tetapi konsekuensi dari tindakan-tindakan salahnya jarang digali sampai tuntas. 

Kita sebagai penonton paham dia sudah berubah, tetapi kita tidak benar-benar diajak menyaksikan proses pergulatan batin saat perubahan itu terjadi.

Sosoknya pelan-pelan melunak ketika dia mulai belajar mendengarkan Lanxiang dan tidak lagi memaksakan kehendaknya sendiri. Melihat karakter pria belajar menjadi lebih sabar tanpa harus kehilangan sisi tegasnya selalu menyenangkan. Sepakat?

Chemistry Jinqi dan Lanxiang

Hubungan Lanxiang dan Jinqi sebetulnya tipe dinamika yang gampang bikin penonton terbelah. Pasti ada yang suka prosesnya slow-burn, tapi tidak sedikit juga yang merasa gregetan.

Sejak awal, fondasi mereka memang jauh dari kata romantis. Jadi, sangat masuk akal kalau Lanxiang tidak bisa begitu saja bersikap manis hanya karena Jinqi memperistrinya dan memperlakukannya dengan baik. 

Bahkan ketika rasa hormat dan percaya itu mulai tumbuh, itu tidak otomatis berubah jadi jatuh cinta yang meledak-ledak.

Ibaratnya, kamu bisa sangat menyayangi dan merasa aman di dekat seseorang tanpa harus merasakan percikan emosi dalam hati. 

Sayangnya, cara cerita menyampaikan hubungan mereka agak keputus. Bagaimana Lanxiang memproses pengakuan cinta setelah bertahun-tahun memelihara kecurigaan?

Seperti apa canggungnya belajar mempercayai pasangan saat tahu rahasia kelam keluarganya? Kapan tepatnya cinta mereka tak bertepuk sebelah tangan lagi?

Transisi-transisi kecil seperti inilah yang masih kurang. Pernikahan mereka pada akhirnya happy ending, tapi ikatan emosional mereka masih kurang menggigit karena ini total 47 episode loh.

Visual dan Penyajian Cerita

Secara visual, Against the Current punya pendekatan cukup konsisten menjaga atmosfer drama kostum klasik. Bagaimana tata ruang ikut bekerja membangun suasana emosional para tokohnya. 

Pilihan arsitektur, sudut tempat tinggal, hingga posisi karakter saat berdiri atau duduk dalam sebuah adegan bisa kasih kita, sebagai penonton, petunjuk implisit soal hirarki kekuasaan dan jarak antartokoh.

Seseorang yang berdiri di tengah balairung megah, misalnya, tidak serta-merta punya kendali atas hidupnya. Sebaliknya, karakter yang tersudut di kamar sempit justru bisa saja memegang kartu truf dalam konspirasi yang sedang berjalan. 

Saat bahasa visual semacam ini dieksekusi dengan rapi, penonton tak perlu lagi disuapi narasi panjang lebar untuk paham apa yang sedang terjadi.

Pendekatan penyuntingannya pun beberapa kali berhasil menangkap momen-momen yang kontras secara kontemplatif. Adegan pesta pernikahan yang penuh perayaan kemudian disandingkan langsung dengan ruang sunyi tempat karakter lain menanggung duka sendirian. 

Tabrakan dua realitas ini secara intuitif memaksa penonton merasakan betapa ironisnya penderitaan yang terjadi.

Against the Current tidak menjual kemewahan adegan aksi berbiaya besar, melainkan berfokus pada gesekan antarkarakter dan intrik domestik di sekitarnya.

Sayangnya, visual yang tertata rapi tetap punya batas. Ia tak sanggup menutupi bolong-bolong pada logika cerita.

Apakah Against the Current Layak Ditonton?

Singkat saja, layak. Apalagi kalau kamu memang menggemari costume drama yang female-centric, konflik keluarga, serta pergeseran moral. Catatannya satu saja, jangan berekspektasi romance-nya kental. Oke.

Banyak hal menarik selain romance yang membuat serial ini berdiri tegak. Seberapa mahal harga sebuah ambisi dan kebebasan bagi seorang perempuan?

Secara tematis, Against the Current juga cukup berani memperlihatkan bagaimana keputusan politik dan kesalahan generasi tua menyisakan beban tersendiri bagi anak-cucu mereka.

Hubungan Lanxiang dan Jinqi mungkin tidak selalu memuaskan dahaga penonton yang mencari adegan manis ala drama romantis ya. Namun, fondasi ikatan mereka justru terasa nyata. 

Pernikahan mereka dibungkus dengan kompromi, negosiasi kepercayaan, dan beban tanggung jawab yang mesti dipikul bersama. Visualnya memanjakan mata, dan akting para pemeran pendukungnya kerap kali mencuri panggung saat konflik emosional mulai memuncak.

Kurangnya ya cuma naskahnya kadang agak berat sebelah. Lanxiang terlalu sering diposisikan sebagai sosok flawless, sementara beberapa karakter perempuan yang berseberangan dengannya tidak diberi ruang untuk menjelaskan kompleksitas mereka. 

Karakter perempuan tidak harus sempurna untuk bisa kita kasih simpati. Mereka boleh saja berbuat salah, punya ambisi terpendam, merasa iri, atau mengambil keputusan bodoh lalu menanggung akibatnya.

Time-skip-nya perbaiki dong. Perubahan sikapnya ada yang terlalu dar der dor, tapi overal sih super worth it buat ditonton sampai habis.

Certified author (BNSP), eks-jurnalis ekonomi dan lingkungan. Kini menjadi full-time mom yang juga berkarya sebagai novelis, blogger, dan content writer. Founder Rimbawan Menulis (Rimbalis), komunitas yang aktif mengeksplorasi dunia literasi dan isu-isu lingkungan.

Share:

Leave a Comment