Jujur, sempat aku merasa lucu sendiri melihat cara BIGBANG merayakan 20 tahun debut mereka lewat “BiiiG.” Harusnya mereka bisa aja bikin lagu yang penuh nostalgia, kan? Lagu yang ngajak kita balik ke masa lalu, ngingetin gimana gilanya era pas nama mereka ada di mana-mana, terus bikin agak mewek dikit gara-gara sadar waktu ternyata jalannya secepat itu.
Lucunya, BIGBANG malah nggak milih jalan itu. Mereka malah ngasih kita lirik, “Everything big, big, big, big.” Sesombong itu, gaes!
Rilis pas 19 Agustus 2026 kemarin sebagai digital single, “BiiiG” jadi rilisan perdana mereka setelah “Still Life” di 2022. Lagu ini sekaligus kasih tahu formasi terbaru mereka sekarang, terdiri dari G-Dragon, Taeyang, sama Daesung. Durasi lagunya emang tergolong singkat, cuma 2 menit 44 detik, dan dilepas pas banget di tengah perayaan 20 tahun debut plus rangkaian “BIGBANG 2026–2027 WORLD TOUR.”
Kali ini gaya mereka bener-bener beda lagi, sampai-sampai warna musiknya rame banget dibahas di medsos. Mereka tuh nggak kedengeran kayak lagi berusaha maksain vibes BIGBANG era 2007, 2012, atau 2015. Mereka malah lebih ke versi BIGBANG yang udah fully arrived di tahun 2026 dengan warna musik segar.
So, cara mereka ngerayain umur baru ini tuh tanpa perlu pura-pura seolah waktu nggak berjalan atau ngejogrok di tempat yang sama. Mereka nunjukin ke kita kalau mereka udah tumbuh, makin matang ngikutin zaman, tapi tetap paham betul siapa diri mereka.
BiiiG: Kenapa “Big”-nya Harus Dipanjangkan?
Lihat judulnya aja udah bikin penasaran. “BiiiG,” bukan cuma “Big.” Huruf “i”-nya sengaja dipanjangin jadi tiga, seolah ngasih sinyal kalau ada yang dibikin lebih gede dari biasanya. Tapi ya, bisa jadi itu juga kode halus kalau member mereka sekarang sisa bertiga.
Nyatanya, emang di situ mainan utama lagu ini. BIGBANG ngambil kata “big,” terus ditempel di mana-mana.
Mereka “big” karena kepopulerannya. “Big” karena egonya. “Big” karena panggung, ambisi, sama pencapaian mereka emang segede itu, bahkan sampai ke level kosmik.
Lagian, nama mereka kan BIGBANG. Kita semua juga tahu kalau “big bang” itu teori kosmologi soal awal mula terbentuknya alam semesta.
Makanya, pas mereka ngomongin hal-hal besar sambil nyelipin kata “universe” dan ngusung konsep “cosmos” di comeback ini, makin berasa banget kalau mereka lagi asyik “main-main” sama identitasnya sendiri.

Bukan Lagu Nostalgia
Hal pertama yang aku rasain pas pertama kali denger “BiiiG” tuh… ini jelas bukan lagu perayaan yang manis kaya “Happy Birthday” atau “Selamat Ulang Tahun.”
Kalau kita flashback sebentar, “Still Life” itu kan kerasa banget reflektifnya. Ada jarak, jeda waktu, pergantian musim, perpisahan, dan semua perjalanan panjang yang udah dilewati.
Nah, “BiiiG” ini beda cerita. Posisinya ada di ujung yang berseberangan. Mereka seakan ngajak kita buat melangkah lagi. “Yuk, terusin jalannya. Ayok VIP, move on. Kita jalan terus tanpa perlu tengok-tengok belakang lagi.”
YG sendiri secara resmi nyebut lagu ini sebagai hip-hop berenergi tinggi dengan beat yang perkasa dan produksi yang bertumpuk-tumpuk. Deretan nama di kredit produksinya juga rame banget, ada G-Dragon, KUSH, IDO, TARZZAN, lil aaron, Kaine, 24, sampai Teddy. Urusan aransemennya dipegang sama IDO dan BLOODY.
Hasil akhirnya emang kerasa padat dan agresif. Ritmenya malah kadang lebih deket sama energi musik kekinian ketimbang usaha ngulang formula lama BIGBANG satu dekade lalu. Malah, beberapa reactioner berlatar produser musik yang sempat kubuka di YouTube, langsung nangkep ada nuansa drum and bass (D&B), UK garage, sampai UK bass di dalamnya.
Memang “BiiiG” ini bukan lagu D&B murni, sebab akar BIGBANG kan tetep di hip-hop. Tapi kalau telinga kita nangkep sentuhan ritmis ala D&B, ya wajar banget.
Lagian, di situ letak konsistensi BIGBANG dari dulu. Mereka emang nggak pernah betah dikurung di satu kotak. Mau hip-hop, R&B, pop, elektronik, dance, rock, sampe ballad, mereka selalu bisa lompat sana-sini tanpa pernah kehilangan jati diri.
Jadi, hal paling “BIGBANG” dari “BiiiG” itu sebenernya bukan masalah genrenya. Tapi keberanian G-Dragon, Taeyang, dan Daesung buat nggak main aman dengan ngulang-ngulang formula lama, cuma demi ngeramut penggemar yang lagi mabuk kangen masa lalu.
“Been There, Done It”
Pas pertama kali “BiiiG” dirilis, satu baris liriknya langsung aku share di Threads dan menurutku baris itu yang jadi kunci buat ngebaca keseluruhan lagu ini.
“Yuhengiraji ma, been there, done it.”
Kurang lebih maknanya, jangan bilang ini cuma tren. Mereka udah pernah di sana, udah pernah ngejalanin itu semua. Inilah jawaban telak buat satu pertanyaan yang pasti muncul pas grup sebesar BIGBANG comeback setelah bertahun-tahun.
“Apakah mereka masih relevan?”
BIGBANG nggak menjawab itu dengan ngerilis lagu comeback yang ngikutin gaya musik K-pop yang lagi ngehits sekarang. Mereka justru ngambil posisi sebaliknya, merekalah tren itu sendiri.
Coba deh kita tunggu satu, dua, atau tiga tahun lagi. Nanti lagu-lagu bergenre kaya “BiiiG” ini pasti bakal rame dipake sama generasi K-pop terbaru, persis kaya fenomena “Bang Bang Bang” dulu.
Ibaratnya mereka mau bilang, “BIGBANG nggak perlu ngejar tren. Kita udah pernah ngelewatin itu semua.”
Tentu ini bukan berarti semua tren K-pop itu mulainya dari BIGBANG ya. Sejarah K-pop jelas jauh lebih kompleks dan melibatkan perjalanan panjang dari Gen-1 sampe sekarang.
Tapi ya jujur aja, pengaruh BIGBANG ke generasi setelahnya memang susah banget dipisahin, mulai dari perkembangan musik, fashion, konsep idol, persona panggung, proyek solo, sampe cara grup ngebangun hubungan sama fandom mereka.
Kerennya, di lagu “BiiiG” ini, fakta-fakta sejarah itu justru mereka jadiin bahan pamer. Savage banget nggak tuh?
“B-B, G, Tae, Daeseongi”
Inilah dia kalimat pembuka “BiiiG” yang terus menempel di kepalaku sejak pertama kali dirilis.
“B-B, G, Tae, Daeseongi.”
Beginilah cara paling simpel untuk memperkenalkan BIGBANG dalam bentuknya sekarang. Ya, kita sama-sama tahu lah sejarah grup ini.
BIGBANG debut pada 2006 sebagai grup beranggotakan lima orang. Seiring perjalanan waktu, formasinya berubah. Seungri meninggalkan grup pada 2019, sementara T.O.P kemudian berpisah dari BIGBANG pada 2023.
“BiiiG” tidak mengajak pendengar berhenti dan merenungkan semua perubahan itu. BIGBANG tidak mengajak penggemarnya berpura-pura semuanya masih sama seperti dulu.
Mereka cukup mengabsen nama-nama member yang ada sekarang. Inilah mereka, G-Dragon, Taeyang, dan Daesung, BIGBANG yang sekarang.
Tentu Saja, Ada Bang Bong
Buat VIP kaya aku, bagian “Fan zone ‘bang bong’” tuh jelas langsung bikin merinding. Buat yang belum tahu, Bang Bong itu sebutan buat light stick BIGBANG yang bentuknya mahkota. YG sendiri bahkan tegas memasukkannya sebagai simbol resmi VIP di lagu ini.
Tapi jujur, Bang Bong tuh lebih dari sekadar light stick. Berhubung fandom ini udah ada dari 2006, benda ini udah kaya artefak berharga yang penuh kenangan.
Coba deh bayangin pas konser BIGBANG dulu. Waktu lampu stadium dimatikan, ribuan mahkota warna kuning langsung menyala serentak. Dari atas panggung, lautan cahaya itu bener-bener kelihatan kaya langit penuh bintang.
Nah, serunya, hubungan BIGBANG dan VIP di lagu “BiiiG” ini digambarkan dengan manis banget. Biasanya kan artis disimbolkan sebagai bintang, sementara fans cuma jadi penonton di bawah. Tapi di lagu ini, fans semua diajak masuk ke dalam dunia “big” itu sendiri.
VIP dan Bang Bong yang memenuhi arena ikut dinilai sebagai bagian dari kebesaran mereka. Jadi di balik liriknya yang terkesan narsis, tetep ada sentuhan hangatnya.

“Everything Big” Pokoknya
Mari kita kaitkan dengan “XX : COSMOS” yang tak lain adalah konsep tur dunia 2026–2027 mereka. Tur tersebut menjadi tur dunia pertama BIGBANG dalam sekitar sembilan tahun, dengan konser pembuka di Goyang, Korea Selatan pada 21–23 Agustus 2026.
Lagu “BiiiG” itu beneran baru hidup pas dinyanyiin bareng-bareng sama ribuan orang. Sebagai penulis lirik sekaligus komposer, G-Dragon tuh pinter banget mainan bunyi, ejaan, bahasa Korea, bahasa Inggris, nama orang, sampai nama BIGBANG sendiri dilalap sama dia.
Salah satu yang paling bikin ngakak tuh bagian yang nempatin BIGBANG sebagai “universe ambassador.” HAHAHAHA! Kocak banget, asli.
Kalimat itu sebetulnya super duper sombong sih, kayak sengaja dibuat kelewat megah. Tapi ya emang leluconnya begitu. BIGBANG mah bebas, emang dari dulu suka main-main sendiri.
Mungkin GD sempet mikir gini kali ya. “Kalau nama grup kita aja udah BIGBANG, masa cuma mau jadi bintang di bumi? Naikkan lah levelnya dikit, sekalian jadi duta alam semesta!” WKWKWK!
Nah, pas kita inget lagi kalau tur 20 tahun mereka dikasih nama “XX : COSMOS,” makin jelas kan kalau kata “universe” di lagu itu bukan sekadar hiasan asal ceplos.
Benang merahnya dapet banget, mulai dari nama grup, tema kosmik, visual comeback, sampai konsep turnya, semuanya nempel rapi.
Salvador Dali dan Muhammad Ali
Dua nama besar muncul di lagu ini, yaitu Salvador Dalí dan Muhammad Ali. Kombinasi yang lumayan random, ya? Seorang seniman surealis disandingkan langsung sama petinju legendaris.
Tapi kalau dipikir-pikir lagi, fungsi simbolik mereka sebenarnya gampang banget dibaca.
Dali di sini jelas mewakili seni, imajinasi, absurditas, dan keberanian buat bikin karya yang nggak tunduk sama logika biasa. BIGBANG kan emang terkenal grup super absurd.
Makanya nggak heran kalau dulu T.O.P, yang karakternya juga sama absurdnya, selalu menempatkan Dali di urutan atas daftar seniman favoritnya.
Sementara Muhammad Ali membawa aura swagger, kemenangan, dan rasa percaya diri yang nggak pernah padam.
Singkatnya, BIGBANG memakai Dali sebagai simbol buat dunia seni yang mereka jelajahi, lalu menjadikan Ali sebagai cerminan attitude mereka. Dua-duanya pas banget menggambarkan identitas BIGBANG.
Lagipula, BIGBANG itu nggak cuma mewariskan lagu-lagu hits buat generasi setelahnya. Mereka juga membentuk standar persona baru, mulai dari fashion, visual, aksi panggung, sampai keberanian buat tampil beda tanpa perlu “main aman” kayak idol pada umumnya.
“Our Own Way, All the Way Up”
Pada lirik “Our own way, all the way up,” BIGBANG menegaskan bahwa mereka selalu punya jalannya sendiri, nggak ngikutin siapa-siapa, apalagi numpang di jalan orang. Di jalan yang sama itulah mereka terus melangkah ke depan.
Pada usianya yang menginjak 20 tahun, kalimat itu jelas lebih berbobot. K-pop itu kan industri yang larinya kencang banget.
Generasi baru bermunculan kayak jamur di musim hujan, sound musik cepat berganti, platform makin tak terhitung, sampai cara promosi, algoritma, dan gaya fandom menikmati idol pun ikut berubah total.
BIGBANG sendiri tumbuh di era yang beda. Mereka melewati masa-masa transisi besar, dari jualan CD fisik, digital download, lahirnya YouTube, streaming, hingga lanskap K-pop global yang rasanya sudah tak lagi sama.
Makanya pas mereka kembali, wajar kalau pertanyaan soal relevansi terus berdatangan. Tapi lewat “BiiiG,” jawaban mereka santai saja.
“Kami tidak mungkin muda lagi, dan tak perlu juga berpura-pura muda. Jauh lebih menarik mengembangkan diri ketimbang sibuk mengejar usia.”
Punchline-nya ada di angka 20 tahun itu sendiri. BIGBANG begitu percaya diri dengan senioritas mereka. Kalau sudah berhasil bertahan selama dua dekade, untuk apa masih bersikap malu-malu di depan penikmat musik masa kini?
Dua dekade karier menandakan mereka bukan lagi grup yang masih meraba-raba identitas. Mereka sudah menemukannya, sempat kehilangan beberapa bagian, merombak bagian lainnya, lalu tetap saja melangkah maju.
Di sini, konsep coming of age menjadi penanda babak baru. Jika grup lain biasa merayakan ulang tahun dengan pesta atau fan meeting, upacara kedewasaan BIGBANG di usia 20 tahun ini dirayakan langsung lewat tur dunia skala stadium.
Mereka kini resmi memasuki fase baru sebagai seniman legenda. Tak perlu lagi memaksakan diri tampil bak anak muda, cukup hadir sebagai versi diri mereka yang sekarang.
Ketiga anggotanya pun memainkan peran vital. G-Dragon, Taeyang, dan Daesung benar-benar merombak ulang performa lagu-lagu lama yang dulunya dibawakan berlima.
G-Dragon hadir dengan karakter rap tajam dan permainan kata khasnya sekaligus mengisi ruang yang ditinggalkan T.O.P. Sementara itu, Taeyang membawa vokal yang groovy dan halus, berdampingan dengan Daesung yang memberi suntikan tenaga vokal besar nan soulful untuk menutup posisi harmoni vokal Seungri.
Lewat kombinasi GD, Taeyang, dan Daesung inilah, warna musik mereka kembali menemukan ruhnya, kembali terasa utuh sebagai BIGBANG.
“After Party, No Sleep”
“We like to party, after party, no sleep.” YES, BIGBANG mengeluarkan kartu lamanya lagi!
VIP pasti paham banget kalau BIGBANG punya sejarah panjang sama lagu-lagu berenergi pesta. Sampai muncul ungkapan “No BIGBANG, No Party,” yang belakangan makin luas jadi “No YG, No Party.”
Tapi lucunya nih, lirik sok jagoan tadi keluar dari mulut tiga orang yang udah masuk usia 30-an, bahkan bentar lagi ada yang mau kepala empat! WKWKWK.
Kalau dulu, “after party, no sleep” itu murni gaya hidup anak muda. Nah kalau sekarang? VIP kalau mau usil pasti langsung ngelirik Daesung.
Emang masih kuat begadang? Mata emangnya bisa nggak merem seharian? Coba tolong tanyakan pada Kang Daesung.
Jadi kalau ditafsirkan ulang, makna “after party, no sleep” di lagu “BiiiG” versi sekarang tuh kira-kira begini.
“Oke, kami emang udah nggak muda lagi, tapi kalau panggung udah nyala, ya tetep kami hajar!”
Menari di Atas Kuburan Sendiri?
Duh, kalau ngebahas video musik BIGBANG tuh emang nggak bakal ada habisnya. Pas opening “BiiiG,” kita langsung disuguhi visual tiga peti mati yang terbang dari bumi ke luar angkasa.
Nah, yang namanya peti mati kan emang identik banget sama simbol kematian atau sesuatu yang udah selesai. Kalau simbol itu diartikan sebagai kuburan, rasanya pas banget sama narasi comeback mereka waktu itu.
Berapa tahun coba pertanyaan soal nasib grup ini muter terus? Nggak sedikit juga VIP yang udah pasrah dan mikir BIGBANG mustahil balik lagi. Udah hopeless.
Apakah BIGBANG masih bakal balik?
Masih bisa jalan sebagai grup nggak, sih?
Apa masa kejayaan mereka emang udah habis?
JENG JEEEEENG…!!!
Begitu petinya berhenti terbang, GD, Taeyang, sama Daesung ternyata bukannya tidur di dalem peti. Mereka malah santai dan menari di atasnya. SAVAGE BANGET!
Pesan tersiratnya dapet banget kan? BIGBANG seolah-olah lagi nyindir, “Kalian kira kita udah habis?” Ya belum lah!

Dari Kuburan ke Kosmos
Agak “nyess” di hatiku menuliskan bagian terakhir ini. Visual kosmik BIGBANG dari peti mati ke kosmos itu beneran kayak perjalanan panjang mereka, dari ruang tertutup menuju sesuatu yang jauh lebih luas.
Dari bumi ke langit, dari masa lalu ke masa depan, dari apa yang dikira mati menuju panggung yang kembali hidup.
Lagipula, BIGBANG emang udah di titik karier yang bikin mereka sah-sah aja mainin simbol sebesar itu. Mereka nggak perlu lagi repot-repot ngejelasin sejarah dari awal, penonton udah pada tahu.
“That everything big, it’s me.”
Kerennya, mereka bisa bertahan sejauh ini sebagai grup yang udah kehilangan banyak hal, berubah berkali-kali, ngelewati beberapa generasi, lalu balik ke panggung tanpa harus maksa jadi orang yang sama kayak 20 tahun lalu.
Mereka terus berevolusi. Rasanya kok kurang adil ya kalau setelah 20 tahun, kita sebagai VIP masih nuntut mereka buat dengar persis kayak pas pertama kali kita jatuh cinta?
Lagian, kawanku, yang namanya hidup kan pasti berubah. Selera muter, cara kita mandang sesuatu juga beda.
Hal yang dulu kita suka banget bisa aja sekarang biasa aja. Sebaliknya, yang dulu asing malah bisa jadi ramah banget di telinga sekarang.
Terus, kenapa kita masih menuntut BIGBANG harus terus ngurung diri di satu versi yang sama cuma demi kenangan penggemarnya?
Selama dua dekade, mereka udah berkali-kali bongkar pasang, mulai dari musik, fashion, gaya panggung, sampai cara mereka memandang diri sendiri sebagai seniman.
Mereka berani nyoba hal baru, bahkan pas tahu nggak semua orang bakal langsung suka. Dan “BiiiG” ini lahir dari BIGBANG yang hari ini, bukan BIGBANG yang lagi usaha keras mengulang masa lalu.
Kalau kamu ngebatin, “Kok BIGBANG sekarang rasanya beda ya?”
Ya… emang beda. Tapi coba deh dengerin lagi. Pas tiga suara itu masuk, kamu pasti langsung ngeh. Yang nyanyi itu tetap karakter-karakter yang sama kayak pertama kali kita denger. Itu masih suara Taeyang, GD, sama Daesung.
Kita sebagai fans juga bisa belajar banyak dari situ. Kalau BIGBANG aja berani keluar dari zona nyaman setelah 20 tahun, masa kita masih takut nyoba hal baru cuma gara-gara udah terlanjur nyaman sama versi lama?
Boleh kok kalau kamu kangen BIGBANG yang dulu. BIGBANG yang masih ada T.O.P atau Seungri. Boleh banget. Lagu-lagu lama mereka bakal selalu punya tempat khusus, dan kenangan itu nggak perlu dibuang cuma karena sekarang suara mereka berubah.
Tapi pesanku cuma satu, jangan sampai rasa rindu itu malah jadi tuntutan yang bikin mereka berhenti tumbuh.
“BiiiG” bukan diciptain buat narik BIGBANG balik ke masa lalu. Mereka memilih buat terus melangkah ke depan, dan kayaknya, mereka masih mau bikin suaranya kedengeran sampai jauh banget. Sejauh kosmos, kalau perlu.

Leave a Comment