Keluar dari Kidaba, Babak Baru Terapi Rashif.


Agustus 2022, saya memutuskan keluar dari Kidaba Autism Center, tempat terapi yang membersamai Rashif selama dua tahun terakhir. Keputusan ini saya ambil dengan berbagai pertimbangan yang juga melibatkan keluarga besar.

Awalnya, saya berencana berhenti akhir September 2022, mengingat Rashif mulai masuk Kidaba pada 18 Agustus 2020. Namun, Allah SWT ternyata mempermudah jalan saya untuk undur diri dari sana lebih cepat, 9 Agustus 2022.

Sebab saya sudah merencanakan ini beberapa bulan sebelumnya, saya tentu sudah mempersiapkan diri jauh hari. Alhamdulillah, kurang dari 10 hari setelah itu, terapis baru Rashif langsung masuk dan terapi lanjut seperti biasa.

Karena dasar Rashif dari Kidaba sudah bagus, alhamdulillah Rashif hanya adaptasi dua hari saja. Setelah itu, dia sudah terbiasa dengan terapis barunya. FYI, Rashif tetap menjalankan terapi ABA dengan kurikulum hampir sama. Bedanya, kali ini Rashif mendapat jadwal outdoor class 1 sesi setiap Senin dan Kamis.

Banyak rekan-rekan online saya bertanya, bagaimana perkembangan Rashif sekarang? Alhamdulillah, Rashif sangat bagus perkembangannya. Bagaimana pun, Kidaba telah meletakkan terapi dasar yang membuka jalan bagi Rashif lebih mudah ke depannya.

Trus, kok keluar dari Kidaba?

Saya rasa jawaban saya ini sama dengan jawaban teman-teman para pendahulu saya. Ada alasan yang bisa kami ungkapkan, tetapi ada pula alasan yang cukup kami semua simpan dalam hati.

Alasan pertama tentu saja biaya. Semua orang tahu terapi di Kidaba sangat mahal. Bisa bertahan di sana selama 24 bulan dengan rata-rata pengeluaran Rp 20 juta per bulan, belum termasuk biaya perekrutan tiga orang terapis, itu sebuah keajaiban dari Allah yang Maha Kaya buat saya.

Susah untuk bertahan lama di sana dari sisi biaya ini. Kendati pihak Kidaba, saya yakin akan bermurah hati membantu pasien-pasiennya, tetapi bagi saya yang hanya mengandalkan gaji suami untuk menterapi anak ya tetap saja mahal.

Saya tahu Tuhan Maha Kaya, sebagaimana yang disampaikan beliau-beliau di sana. Saya sudah buktikan itu dengan bertahan selama dua tahun. Namun, ada yang bilang, dalam hidup, kita harus berani mengatakan CUKUP.

Kata ‘cukup’ di sini bukan berarti saya menyerah. Ya, mungkin saya menyerah menterapi Rashif di Kidaba, tetapi saya tentu pantang mundur dan mencari jalan alternatif bagi anak saya untuk terapi di tempat lain yang menurut orang-orang Kidaba mungkin saja ‘abal-abal’ karena di luar circle mereka. Hehehe. Whatever, I don’t care.

Sebagai ibu anak istimewa dengan diagnosis autism spectrum disorder (ASD) yang ‘kata banyak orang’ tidak bisa disembuhkan, saya selalu mengingatkan diri saya bahwa saya tidak membutuhkan apa pun selain sikap positif dan dukungan dari orang-orang terkasih.

Silakan mereka berdebat tentang defenisi anak normal dan tidak normal dengan bahasa mereka. Satu hal yang pasti, putra saya selalu menuju ke arah yang lebih baik.

Sering kali karena kita terlalu sibuk mengejar terapi ‘yang katanya’ terbaik di Indonesia, atau mungkin terbaik di dunia, kita kerap mengabaikan harga diri kita, melupakan siapa diri kita, bahkan menyiksa diri sendiri.

“I am enough” berarti saya berani mengatakan cukup. Saya sudah masa bodoh dengan label terapi ini paling baik, terapi itu paling baik, kualitas konsultan itu paling oke, kualitas konsultan ini abal-abal. Hey, siapa yang memberi label itu semua? MANUSIA kan?

Kita enggak boleh lupa. Allah memandang kita dari usaha kita. So, parents, selama kamu merasa sudah berusaha, enggak pernah jalan di tempat, enggak pernah menyerah, dan terus mengusahakan yang terbaik untuk putra-putri istimewamu, berarti kamu sudah berada di jalan yang benar. Remember that!

Tidak perlu minder karena hanya terapi di klinik yang biaya per bulannya murah, standar saja, sedangkan si ana atau si anu bisa terapi di klinik yang biaya per bulannya seharga satu buah motor. NO. Berdasarkan pengalaman saya, terapi di tempat termahal sekali pun tidak menjamin itu selamanya akan menjadi tempat terbaik untuk anak kita.

Alasan kedua saya memutuskan keluar adalah Rashif butuh fleksibilitas dan ruang untuk menjadi dirinya sendiri. Kidaba menurut saya sangat cocok untuk meletakkan dasar pertama kepatuhan dan membuka kunci awal untuk autisi yang baru pertama kali terapi. Berdasarkan pengalaman saya pribadi, kisaran waktunya 1,5 tahun sampai dua tahun. I thank you for that.

Setelah dua tahun, makin ke sini Rashif makin butuh fleksibilitas mengingat usianya pun sudah bertambah. Gaya belajarnya pun sudah berbeda dan inilah yang tidak mungkin dia dapatkan di tempat lama.

Reward hanya lima detik, itu sudah tidak mempan lagi untuk Rashif. Rashif butuh reward lebih lama, sementara dia diberondong kurikulum yang sangat padat. Kalau skema reward lima detik itu tetap dipertahankan, Rashif pasti tantrum di kelas.

Kalau dia tantrum, apa selalu harus dietnya yang disalahkan? Wah, ini nih yang kadang enggak masuk di akal saya. Hehehe. Karena tantrum sekali dua kali, diet yang udah dua tahun dijalani dianggap tidak diet.

Kalau dipikir-pikir lagi, sejak usia 18 bulan, Rashif sudah diterapi dari pagi sampai sore. Kakak perempuannya saja yang 6 tahun, sekolah dari pukul 07.15-14.00 WIB. Wajar jika Rashif yang saat ini berumur 3 tahun butuh reward lebih lama setelah dua tahun terapi intensif.

Sering saya bertanya, mungkin enggak sih Rashif ini bisa dapat “Kurikulum Merdeka” seperti mahasiswa-mahasiswa di “Kampus Merdeka” itu? Hehehe. Alhamdulillah saya mendapatkannya di tempat baru ini. Justru ketika Rashif diberikan sedikit ruang untuk ‘bernapas’ dan ‘bergerak’ menjadi dirinya sendiri, dia pada akhirnya patuh pada terapisnya.

Buktinya, sekarang dengan dua terapis saja Rashif cukup. Rashif tidak perlu tiga terapis, tidak perlu seat belt, dan tidak perlu correction no berkepanjangan.

Alasan ketiga, saya butuh konsultan yang lebih komunikatif dan penuh empati. Bukankah ngobrol sama dokter atau konsultan anak itu kata orang sama dengan separuh obat untuk pasien atau keluarga pasien?

Alhamdulillah, saat ini Rashif mendapat konsultan yang bisa saya temui sekali sebulan. Saya ngobrol tatap muka dengan beliau, juga ada sesi ngobrol bersama dengan terapis-terapisnya.

Bahasa chat di ponsel, tentu saja berbeda dengan bahasa tatap muka. Ini yang jarang saya dapatkan di tempat sebelumnya. Saya kerap merasa ada gap, ada dinding pembatas yang tidak bisa saya tembus. Ujung-ujungnya, saya hanya bisa menerima instruksi, telan, dan laksanakan.

Ini juga yang menurut saya menjadi kendala bagi orang tua yang beberapa di antaranya juga teman saya. Ujung-ujungnya mereka give up dan cari alternatif lain. Enggak masalah. Do it! Yang penting jangan pernah berhenti berusaha.

Kunci penanganan anak autisi bagi saya cuma dua, yaitu diet yang baik dan terapi secara kontiniu. Sisanya, it’s matter of time.

Tingkat kognitif anak autisi itu beda-beda. Biarkan anak kita menapaki jejaknya sendiri, bukan memaksakannya pada standar orang lain. Sebagaimana bayi yang belajar berjalan, ada yang 10 bulan sudah bisa jalan, ada yang 13 bulan baru bisa jalan, dan ada yang 2 tahun baru bisa jalan.

Kamu tidak perlu membuktikan apa pun kepada siapa pun. Berani mengatakan “I am enough, saya bisa, saya akan terus berusaha mengejar kesembuhan anak saya.”

Saat ini Rashif memiliki konsultan baru dan didampingi dua orang terapis setiap hari, Senin-Sabtu, pukul 07.00-15.30 WIB. Terapinya tetap 4 sesi per hari dengan durasi 90 menit, disela dengan istirahat 30 menit per sesi.

Masyaallah, masyaallah, masyaallah. Saat ini Rashif makin aktif komunikasi dua arah. Dia tidak pernah lagi menarik tangan saya jika menginginkan sesuatu.

Rashif sudah bilang “mimik” kalau dia mau minum. Bilang “maem” kalau dia mau makan. Bilang “eek” kalau dia mau buang air besar. Bilang “tambah” kalau dia mau nambah makan.

Bilang “sobek” kalau ada yang sobek. Bilang “jatuh” kalau ada yang jatuh. Bilang “naik” kalau dia ingin naik sepeda. Bilang “buah” kalau dia mau disuapin buah.

Bilang “mau” kalau dia ditawarin sesuatu dan dia mau. Bilang “udah” kalau dia sudah kenyang dan enggak mau lagi disuapin makan. Bilang “gunting” kalau dia mau main menggunting kertas.

Bilang “kelereng” kalau dia mau main kelereng. Bilang “jijik” kalau dia melihat sesuatu yang kotor. Bilang “kecoak” kalau dia lihat kecoak. Bilang “kucing” kalau dia lihat kucing.

Bilang “popok” kalau dia mau ganti popok. Bilang “sapu” kalau dia melihat orang menyapu. Bilang “main” kalau dia pengen ikut main sama kakak atau kembarannya. Bilang “tulis” kalau dia mau menulis.

Masyaallah, masyaallah, masyaallah. Sudah banyak perbendaharaan katanya, kendati dalam pengucapan Rashif masih banyak cadelnya. Namun, bagi saya tak masalah selama apa yang dia ucapkan sesuai dengan apa yang dia maksudkan. Toh, Rangin saja, saudara kembarnya sampai hari ini masih banyak yang cadel.

Tantangan yang sulit bagi anak autisi itu adalah mengucapkan kata-kata sesuai fungsinya. Kadang mereka hanya bisa membeo, ekolali, menceracau tanpa makna. Rashif sekarang mulai keluar dari itu. Masyaallah, masyaallah.

Jalan masih panjang. Doa saya, semoga awal 2023 Rashif sudah bisa generalisasi dan melaju ke tahap berikutnya. Mohon doanya ya.

Jangan menyerah dan tetap berjuang buat kita, para orang tua hebat! Ingat, Tuhan tidak mungkin menitipkan kita anak istimewa jika kita tak sanggup memikulnya. Sadari itu dan jadikan pemantik semangat untuk membesarkan mereka menjadi generasi terbaik.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: