Project 17 Side by Side: Kisah Atlet Bulu Tangkis Profesional Pengidap Autisme

Project 17: Side by Side adalah drama Cina produksi 2019 yang merupakan remake dari serial televisi Thailand berjudul Project S. Versi Cina dinamai Project 17 karena mengangkat kisah kehidupan remaja-remaja kisaran usia 17 tahunan yang mengejar cita-cita menjadi atlet olah raga.

So, buat yang suka film or drama bergenre olah raga, silakan menonton. Bagus banget!

Sejatinya Project 17 terdiri dari tiga serial berbeda. Semua diramu dalam drama 36 episode. Kesannya kayak medley gitu ya.

project 17 side by side
Project 17 Series

Ketiga judul serial tersebut adalah:

  • Side by Side (Episode 1-12) bertema olah raga bulu tangkis.
  • SOS atau Skate Our Soul (Episode 13-24) bertema olah raga skateboard.
  • Spike bertema olah raga voli (Episode 25-36).

Setiap judul terdiri dari 12 episode di mana durasi per episodenya berkisar 30 menit. Makanya serial ini sangat ringan untuk diikuti, apalagi salah satunya mengangkat kisah tentang perjuangan atlet bulu tangkis profesional yang mengidap Autism Spectrum Disorder (ASD) atau Sindrom Autisme.

Kali ini saya tertarik nge-review judul pertama. Bukan berarti dua judul lainnya gak bagus ya. Mungkin saya akan ulas di segmen terpisah.

project 17 side by side
Foto: MyDramaList

Pemeran utama Project 17: Side by Side adalah Leon Leong yang sebelumnya memerankan Mei Zuo di remake serial Meteor Garden (2016). Di sana dia bermain bersama Dylan Wang (Dao Ming Si), Sheng Yue (Shan Cai), Darren Chen (Hua Ze Lei), dan Caesar Wu (Ximen). Pasti banyak nih yang udah nonton.

Kita kenalan dulu sama pemeran utama dan pendukung di Project 17: Side by Side.

  • Ping An, diperankan Leon Leong.
  • Zi Hao, diperankan Jackey Zhu.
  • Xiao Na, diperankan Yang Chao Yue.
  • Li Fang, ibu Ping An, diperankan Liu Lin.
  • Chen Lin, ibu Zi Hao, diperankan Yang Tong Shu.
  • Xiao Yu, terapis Ping An, diperankan Lai Mei Yun.
  • Kakek Xiao Na, pelatih bulu tangkis, diperankan Jianyi Liu.

Sinopsis Project 17: Side by Side

Ping An remaja 18 tahun yang sejak kecil divonis memiliki gangguan autisme. Dia tinggal bersama ibunya, adiknya, dan bibinya.

project 17 side by side
Li Fang, Ibu Ping An (Foto: MyDramaList)

Ping An dan Zi Hao (16 tahun) tumbuh bersama sejak kecil. Mereka punya impian jadi juara dunia bulu tangkis ganda.

Ping An dan Zi Hao kecil (Foto: MyDramaList)

Fakta menarik tentang Ping An:

  • Suka warna merah muda. Baju, sepatu, tas, raket, jaket, selimut, botol minum, handuk, semua berwarna merah muda. Ping An suka merah muda karena ibunya bilang suka warna tersebut. Ping An berharap setiap kali ibunya melihat warna merah muda selalu teringat dirinya.
  • Senang stimming dengan memainkan rambut Zi Hao atau bermain kalkulator.
  • Hidupnya sangat runut dan disiplin, mulai dari bangun tidur harus jam 5, lari pagi jam 6, sarapan jam 7, latihan kemampuan dasar jam 9, dan latihan pergerakan jam 10. Ketika aktivitas kesehariannya tidak sesuai jadwal dan tidak tepat waktu, Ping An bisa panik dan berujung tantrum.
  • Ping An harus makan menu berbeda setiap hari. Jika ada menu yang disajikan tidak pada harinya, dia tidak mau makan. Pernah pada Kamis ibunya tidak menyajikan kacang hijau dan jus buah, Ping An nekat masak sendiri dan membuat rumahnya hampir terbakar.
  • Setiap tantrum, Ping An pasti merusak raketnya.
  • Tontonan Ping An sama setiap hari, yaitu National Geographic episode khusus Dunia Burung.
  • Ping An sangat suka burung, khususnya kolibri. Dia bisa menghapal banyak jenis burung, lengkap dengan ciri fisik, perilaku, makanan, dan habitatnya.
  • Impian Ping An menjadi juara dunia badminton ganda bersama Zi Hao.

Zi Hao sangat menyayangi Ping An terlepas fakta bahwa Ping An anak istimewa. Setiap harinya Zi Hao membantu Ping An mencukur rambut di wajah, memakaikan tali sepatu, menemani lari pagi, berlatih bulu tangkis bersama. Pokoknya di mana ada Zi Hao di situ ada Ping An.

Setiap Ping An tantrum, Zi Hao membantu meredakan emosi kakaknya.

Langit penuh dengan bintang kecil yang bersinar terang.

Seperti mata yang tersenyum sedang menatap kita.

Jumlah bintang tidak terbatas melambangkan hatiku.

Bintang-bintang berkilauan, kuberikan cintaku seutuhnya untukmu.

Satu, dua, tiga, empat, lima, enam, tujuh.

Tujuh, enam, lima, empat, tiga, dua, satu.

Hatiku dan cintaku, semuanya milikmu.

Satu, dua, tiga, empat, lima, enam, tujuh.

Tujuh, enam, lima, empat, tiga, dua, satu.

Kalau bintang mendengarnya biarkan dia memberitahumu.

Aku cinta padamu.

Lagu bintang kecil ping an

Demikian penggalan lirik lagu yang senantiasa bisa meredakan emosi Ping An. Zi Hao selalu menyanyikan lagu ini untuk kakaknya.

Perjalanan Ping An sampai bisa menjadi atlet bulu tangkis profesional tidak instan. Toh, sampai dewasa pun Ping An masih bermasalah dengan emosinya.

side by side
Ping An (Foto: MyDramaList)

Zi Hao setia menemani Ping An bermain bulu tangkis sejak kecil, meski Ping An hanya mematung di hadapannya. Ping An baru bisa menyervis kok badminton setelah berlatih enam bulan. Dia baru bisa membalas pukulan kok lawan setelah berlatih tiga bulan.

side by side
Zi Hao (Foto: MyDramaList)

Yups, begitulah salah satu ciri anak autisi. Mereka butuh waktu lama untuk memahami instruksi, melakukan perintah, dan menguasai satu keterampilan.

Mengapa autisi disebut anak istimewa?

Ketika mereka sudah menguasai satu keterampilan yang disukai, mereka akan totalitas dan maksimal di dalamnya. Usaha dan semangat mereka bahkan melebihi manusia pada umumnya. Mereka bisa menjadi tak tertandingi.

Suatu hari Ping An dan Zi Hao memilih keluar dari klub. Pemicunya Ping An dinilai tidak kooperatif dan melanggar tata tertib permainan karena mengusik lawan.

Sebetulnya ini bukan salah Ping An sepenuhnya. Lawan yang mengetahui kondisi medis Ping An memanfaatkan situasi. Mereka memprovokasi Ping An supaya tantrum di tengah permainan.

Setiap kali temperamennya muncul, Ping An pasti merusak raketnya di tengah lapangan, membuatnya diganjar kartu kuning.

Ibu Ping An marah besar setiap kali Ping An merusak raket. Itu berarti dia harus membelikan Ping An raket baru yang harganya tidak murah. Apalagi mereka berasal dari keluarga sederhana. Li Fang hanya single parent yang bekerja sebagai agen properti dengan penghasilan pas-pasan.

project 17
Chen Lin, Ibu Zi Hao (Foto: MyDramaList)

Chen Lin, ibu Zi Hao kemudian minta bantuan ke mantan pelatihnya yang memiliki usaha persewaan lapangan badminton. Ping An dan Zi Hao akhirnya diizinkan berlatih gratis di sana.

project 17
Kakek Xiao Na (Foto: My DramaList)

Kebetulan kakek pelatih memiliki cucu perempuan bernama Xiao Na. Dia adalah teman masa kecil Zi Hao dan Ping An. Xiao Na sangat ahli memasang senar raket dan diam-diam jatuh cinta pada Zi Hao.

Xiao Na (Foto: MyDramaList)

Zi Hao dan Ping An akhirnya berhasil memenangkan pertandingan  ganda di sebuah bulu tangkis liga. Mereka bisa mengalahkan lawan yang selama ini tak henti-hentinya memprovokasi mereka. Itu adalah titik awal kemenangan adik beradik ini sebelum masuk ke pertandingan berikutnya yang lebih menantang.

Zi Hao dan Xiao Na (Foto: MyDramaList)

Sayang sekali kisah dari masa lalu merusak kebahagiaan Zi Hao dan Ping An. Apa itu? Baca kelanjutannya di review ya.

Review Project 17: Side by Side

Hubungan darah antara Ping An dan Zi Hao tidak diceritakan di awal episode. Semua orang pasti mengira Ping An dan Zi Hao kakak beradik kandung, padahal tidak. Ini baru terungkap di episode 4.

Ibu Zi Hao adalah sahabat ayah Ping An. Keduanya merupakan atlet nasional bulu tangkis Cina. Hanya saja mendadak ibu Zi Hao mengundurkan diri dari tim karena kedapatan hamil di luar nikah. Dia memutuskan melahirkan serta membesarkan Zi Hao seorang diri.

Selama ini Zi Hao tidak tahu bagaimana rupa ayah kandungnya. Chen Lin pasti beralasan semua foto dan dokumentasi ayah Zi Hao hilang ketika mereka pindah rumah.

Suatu hari Zi Hao ketika membantu Xiao Na beres-beres di tempat latihan menemukan satu album lawas berisi foto-foto lama ibunya yang sedang berkompetisi. Kakek Xiao Na adalah pelatih Tim Nasional Cina pada waktu itu.

Pada album itu terselip selembar foto bayi yang tak lain adalah Zi Hao kecil. Di belakangnya tertulis sebaris pesan dari ibu Zi Hao untuk pelatih.

Zi Hao akhirnya mengetahui kebenaran tentang dirinya dari kakek pelatih. Rupanya Zi Hao dan Ping An ada hubungan darah.

Ayah Zi Hao adalah ayah Ping An. Jadi, mereka aslinya se-ayah, tapi tidak se-ibu.

Ceritanya di masa lalu saat merayakan kemenangan tim nasional, ayah Ping An yang sudah menikah waktu itu dalam kondisi mabuk dan tanpa sengaja tidur bersama Ibu Zi Hao. Kejadian itu di luar kesadaran mereka.

Chen Lin harus memilih antara melahirkan Zi Hao atau menggugurkan kandungan karena kariernya sebagai pebulu tangkis nasional sedang berada di puncak. Chen Lin memilih hengkang dan membesarkan Zi Hao sebagai single parent.

Ibumu melakukan semuanya demi kamu. Sebab itu dia memilih meninggalkan Tim Nasional. Ini adalah pilihan yang sulit.

Kakek Pelatih

Suatu hari Li Fang mengetahui fakta bahwa mendiang suaminya pernah punya anak dari wanita lain. Tanpa sengaja takdir mempertemukan Li Fan dengan Chen Lin dan Zi Hao. Dia mengajak Chen Lin dan Zi Hao tinggal serumah.

Kedua ibu tangguh ini berbesar hati memaafkan kejadian di masa lalu. Sejak itu mereka bahu membahu membesarkan Zi Hao dan Ping An bersama.

Zi Hao mendadak membenci ibunya. Dia pikir ibunya selama ini ingin menebus dosa lama dengan terus menyokong Ping An. Namun, ketika bertemu dengan ibu Ping An, Zi Hao justru takjub dengan kebesaran hati bibi yang tak lain ibu tirinya itu.

Ping An dulu tidak bisa bersekolah. Semua orang tua murid mengatakan Ping An memengaruhi pembelajaran anak-anak lain. Mereka menyuruh Ping An belajar di rumah saja. Ping An lalu pindah ke sekolah lain, tapi guru-guru di sana kembali berkata nilai ujian Ping An memburuk. Dalam tiga tahun yang singkat, Ping An telah pindah ke empat sekolah berbeda. Semuanya tidak mau menerima Ping An.

Suatu hari kami naik bus. Entah kenapa bibi sangat ingin meninggalkan Ping An di bus. Bibi sudah tak menginginkannya lagi. Lalu tanpa sengaja bibi bertemu kamu dan ibumu. Singkat cerita yang kami pikirkan adalah bagaimana menjaga keluarga ini dengan baik.

Terima kasih kamu setiap hari mencukur kumisnya, membantunya berpakaian, mengikatkan tali sepatunya. Terima kasih karena kamu telah lahir ke dunia ini. Masa yang telah berlalu kita tidak bisa memutuskan. Namun, masa yang akan datang, kita bisa membuat pilihan.

Percakapan Ibu Ping An dan Zi Hao

Butuh waktu lama hingga Zi Hao bisa menerima keadaan dan memaafkan ibunya. Zi Hao memutuskan menjadi pemain tunggal dan mengubur sementara impian bermain ganda bersama Ping An. Apalagi Ping An baru saja diganjar pinalti, tidak boleh ikut kompetisi bulu tangkis selama setahun.

Zi Hao keluar dari rumah mengikuti kamp pelatihan tunggal putra sebulan penuh. Selama itu pula diam-diam Ling Fang dan Chen Lin mengirim Ping An ke sebuah asrama anak berkebutuhan khusus.

Tujuannya supaya Ping An bisa mandiri tanpa Zi Hao dan melupakan sejenak ketergantungannya pada bulu tangkis. Ping An tidak akan pernah bisa berkarier dengan baik di cabang olah raga ini jika tidak belajar mandiri dan mengendalikan emosinya.

side by side
Xiao Yu, Terapis Ping An (Foto: MyDramaList)

Di asrama itu Ping An berkenalan dengan Xiao Yu yang selanjutnya menjadi terapisnya. Ping An mula-mula sulit beradaptasi.

Dia yang awalnya tidak terbiasa tidur dengan kamar gelap harus belajar mematikan lampu sebelum tidur. Ping An yang awalnya tidak bisa merapikan tempat tidur, harus belajar melipat selimut dan Menyusun bantal.

Ping An yang awalnya gak bisa masak, harus bisa memasak dengan kompor. Ping An yang awalnya terbiasa dengan perlengkapan serba merah muda harus belajar menyukai warna-warna lain.

Ini juga ciri sebagian anak autisi yang punya kesukaan spesifik pada satu warna. Saya jadi teringat putra saya, Rashif yang spesial dan sangat menyukai warna biru.

Rashif senang pakai baju biru, main mobil-mobilan warna biru, bola warna biru, sandal warna biru. Beberapa kali di tempat terapi, Rashif mengambil dan menyembunyikan sandal-sandal ibu gurunya yang berwarna biru. Dia kerap mengambil mainan anak-anak lain yang berwarna biru. Pokoknya biru adalah dunianya.

Xiao Na sering mengunjungi Ping An di asrama. Dia menjadi bagian dari pendewasaan Ping An.

Xiao Na mengajarkan Ping An menganyam senar raket sampai Ping An bisa membuatkan Zi Hao raket hitam dengan senar warna merah muda. Xiao Na mendorong Ping An mengisi waktu pinalti dengan menjadi pelatih bulu tangkis anak-anak.

project 17
Ping An dan Xiao Na (Foto: MyDramaList)

Xiao Na juga yang membuat Ping An lebih memahami bahwa ada hal-hal yang tidak bisa dipaksakan. Bermain tunggal pada dasarnya impian Zi Hao.

Ping An akhirnya bisa menerima itu. Dia pun menggeber semangat dan menyusul Zi Hao menjadi atlet bulu tangkis tunggal putra.

Setahun berlalu, pinalti dari Komisi Olah Raga Bulu Tangkis Cina dicabut. Ping An bisa kembali bertanding. Siapa sangka dalam kompetisi tunggal putra Liga Super Cina, Ping An harus berhadapan dengan Zi Hao yang sudah berganti tim.

Foto: MyDramaList

Mereka membuat perjanjian. Jika Ping An menang, Zi Hao bersedia kembali bermain ganda dengan Ping An. Jika Zi Hao menang, Ping An sepenuhnya merelakan Zi Hao bermain tunggal dan menjalani kehidupan masing-masing.

side by side
Foto: MyDramaList

Duh, endingnya udah bisa ketebak ya. Permainan mereka imbang hingga babak ketiga, tepatnya skor terakhir sebagai penentu. Zi Hao menang, tapi dengan kebesaran hati Ping An dan sedikit pengorbanan kecil dari saudaranya yang istimewa itu.

Merembesssss air mata saya sepanjang menonton drama ini. Banyak scene-scene mengandung bawang. Betapa halusnya perasaan anak autis terhadap orang-orang dan dunia sekitarnya. Meski mereka kerap terhambat dalam berkomunikasi, tapi hati mereka sangat sensitif dan peka.

Anak autis tahu ketika dunia tak menerima kondisi mereka. Sedih mereka 10 kali lipat lebih sedih dari kita yang normal. Senang mereka 10 kali lipat lebih senang dari kita yang normal. Sekecil apapun dukungan dan penerimaan yang kita beri untuk mereka, itu sangat berarti.

Atlet Olah Raga dengan Gangguan Autisme

Olah raga merupakan aktivitas yang membutuhkan keterampilan motorik, fokus, dan interaksi sosial. Wajar saja jika anak atau remaja yang didiagnosis autisme jarang dijumpai di berbagai cabang olah raga. Namun, bukan berarti mereka tidak ada.

Anak autis yang rajin melakukan aktivitas fisik, seperti olah raga cenderung mengalami peningkatan fungsi kognitif, motorik, dan sosial. Ada banyak bukti menunjukkan bahwa anak autis bisa menjadi atlet profesional dan mereka bisa sukses di bidangnya.

Berikut adalah lima atlet profesional yang terlahir dengan gangguan spektrum autisme.

1. Clay Marzo, peselancar.

Clay Marzo adalah peselancar (surfer) kelahiran California, Amerika Serikat (AS). Atlet berusia 31 tahun ini didiagnosis ASD ketika remaja, tepatnya 18 tahun. Dia bukan cuma autis, tapi juga attention deficit hyperactivity disorder (ADHD) dan disleksia.

Secara sosial Marzo sangat canggung dengan orang lain, tapi dia sangat ahli dengan papan selancarnya.

Marzo pernah muncul di sebuah film dokumenter berdurasi 48 menit yang menceritakan tentang dirinya. Film epik tentang kehidupan salah satu peselancar terbaik di dunia ini tergambar di sana.

Kisah hidup Marzo menginspirasi banyak orang, bahkan diliput langsung oleh laman berita ESPN dan Majalah Rolling Stone. Adapun tujuannya berselancar bukan lah untuk populer atau demi uang. Marzo merasa tenang dan betah ketika bersentuhan langsung dengan ombak dan laut.

Marzo mengaku sulit berkomunikasi dengan orang lain, sulit melakukan kontak mata, dan bersosialisasi. Dia terobsesi dengan air sejak kecil. Ibunya, Jill Marzo mengatakan Marzo kecil merasa air bagaikan daratan baginya. Justru ketika Marzo berada di daratan, dia bisa menjadi sesak napas dan resah gelisah, tidak seperti ketika dia berada dalam air. Air adalah kedamaian baginya.

2. Tommy Des Brisay, pelari.

Tommy Des Brisay adalah pelari dan para-athlete asal Ottawa, Kanada. Pria kelahiran 1991 ini didiagnosis autis ketika berusia 2,5 tahun. Brisay nonverbal hingga tujuh tahun, tapi dia bisa membaca dan menulis kata-kata sebelum bisa verbal atau berbicara.

Konon katanya Brisay bisa membaca dan berbicara karena rajin melihat subtitle film-film Disney. Anjingnya, Adel sangat berjasa menenangkan Brisay setiap kali tantrum.

Brisay senang berbagi cerita, traveling, bermain musik, memasak, dan melakukan apa saja yang menyenangkan. Dia membagikan itu semua di saluran YouTube pribadinya, Lookyus.

Brisay memiliki dua film dokumentar yang bercerita tentang dirinya, yaitu First Fastest Runner dan I See a Des Brisay Fly.

Brisay pernah divonis tidak akan pernah bisa bicara saat berumur lima tahun. Orang tuanya mengusahakan serangkaian pengobatan dan berkomitmen untuk kesembuhan putra mereka.

Ayah Brisay, Peter adalah atlet lari. Dia terus mendorong Brisay berani turun ke jalan, jogging bareng, hingga akhirnya menyukai lari. Brisay berlari setiap hari, setiap minggu, setiap bulan, dan setiap tahun.

Bagi Brisay, lari adalah caranya menyalurkan emosi positif. Selain itu dia juga suka olah raga ski. Brisay menjadi bagian dari Komunitas Pelari Ottawa.

Salah satu kebiasaan unik Brisay adalah menyanyikan lagu-lagu Disney dan melafalkan beberapa baris dialog film Disney ketika berlari. Brisay melakukannya untuk memusatkan pikiran, tidak mudah terpengaruh dengan kerumunan orang banyak, dan suara-suara bising di sekitar.

Lari membuat tantrumnya berkurang, mendorongnya lebih banyak bersosialisasi, dan mengurangi ketergantungan pada obat-obatan.

3. Jim Eisenreich, pemain MLB.

Jim Eisenreich adalah mantan pemain Major League Baseball (MLB). Dia berkarier di cabang olah raga tersebut selama 15 tahun, sejak 1982-1984 dan 1987-1998. Dia pernah mendukung Tim Minnesota Twins dan Kansas City Royals di Liga Amerika.

Eisenreich mengidap Sindrom Tourette, salah satu bentuk autisme. Dia sering melakukan gerakan involunter dan berulang-ulang di luar kendali. Dia juga didioagnosis asperger, sehingga membuatnya harus mengundurkan diri dari tim pada 1984.

Selama vakum Eisenreich menjalani serangkaian pengobatan, belajar mengendalikan perilaku, dan emosi. Akhirnya dia bisa kembali ke lapangan pada 1986.

Pada 1989, Eisenreich memenangkan penghargaan Kansas City Royals Player of The Year. Ini adalah puncak kariernya selama 15 tahun terakhir.

4. Jessica-Jane Applegate, perenang.

Perenang Inggris Jessica-Jane Applegate mengantongi lebih dari 24 medali emas di ajang Paralimpiade. Dia memegang 11 rekor di Inggris dan dunia untuk cabang renang gaya kupu-kupu 100 meter.

Jessica memiliki kelainan asperger, bentuk paling ringan dari autisme. Namun, ini tak menyurutkan rasa cintanya akan renang. Dia berhasil meraih prestasi regional ketika masih 13 tahun. Dia juga mencatat rekor dunia untuk renang gaya bebas 200 meter.

Jessica adalah atlet berkebutuhan khusus asal Inggris pertama yang memenangkan Paralimpiade 2012. Pada 2013 dia didapuk secara terhormat menjadi Member of the Order of the British Empire (MBE) karena keberhasilannya di bidang renang.

5. David Campion, snowboarder.

David adalah atlet snowboarder Australia yang mewakili Negara Kangguru ke berbagai kompetisi snowboarding dunia. Pertama kali David jatuh cinta pada olah raga ini di Perisher Blue, ketika melihat banyak orang terjun bebas berselancar di atas papan snowboard.

Butuh waktu lama sekali hingga David bisa menyeimbangkan tubuh di atas papan snowboardnya sendiri. Ibunya terus menyemangatinya sampai bisa meluncur di atas salju.

Berbagai ajang dia ikuti, hingga Asian Pacific Games di mana dia menempati posisi keempat klasemen.

Jangan pernah melabeli para autisi dengan kata TIDAK BISA. Jangan pernah menghancurkan kepercayaan diri mereka dengan kalimat berupa sindiran tentang kekurangan mereka. Ketahuilah, mereka bisa merasakannya. Berikan dorongan dan motivasi agar anak-anak spesial ini bisa berkarya di bidang yang mereka sukai.

17 thoughts

  1. DraChin makin ke sini baguuuusss2 banget dan banyak elemen yg bikin ‘maknyess’ di hati.
    keren ini mba
    kapan2 aku juga mau nonton
    butuh asupan tayangan kayak gini

    Like

  2. bagus jalan ceritanya. terharu karena mengangkat kisah inspiratif perjuangan seorang disabilitas dalam menggapai impiannya. bakal jadi waiting list molzania nih. tapi agak panjang juga ya filmnya

    Like

  3. Para penderita autisi juga punya rasa dan harapan. Mereka memiliki itu bukan kehendak mereka. Dan kita harus yakin Tuhan memberikan kepada mereka kelebihan memang karena mereka adalah orang-orang terpilih orang-orang istimewa.

    Banyak pelajaran hidup yang bisa kita ambil ya dari kisah ini. Terimakasih untuk review nya

    Like

  4. Setiap anak adalah anak istimewa yah. Sekarang banyak film yang mengangkat kisah anak istimewa ini. Bbrp kali nonton Mercury Rising, blm nonton kalo drakor ini. Bagus kisahnya, u memotivasi anak-anak istimewa lainnya.

    Like

  5. Bacanya jadi mengharu biru saya. Tema yang jarang banget diangkat menjadi sebuah cerita drama atau film. Kebayang gimana “kayanya” interaksi antara Zi Hao dan Ping An. Pasti menyentuh banget ya. Judul SIDE BY SIDE sepertinya cocok banget untuk menggambarkan keterlibatan perasaan dan kontak brotherhood diantaranya keduanya.

    Like

  6. Badminton hobi saya banget…hehe… wah dulu punya pengalaman mengajar anak-anak autisme di salah satu sekolah khusus di Lampung. Luar biasa mereka itu, namun setahu saya ada banyak anak autis yang sebenarnya pintar2, namun sering linglung/lupa pelajaran beberapa detik, lalu ingat kembali. Hipersensitif, terlalu aktif juga ciri anak autisme.

    Btw, baru tahu nih kak kalo ada atlet bulutangkis yang autis, namun hebat ya di tengah kekurangan dirinya masih bisa berkarya. Keren nih Ping An berprestasi walau autisme…contoh bagi kita semua yang masih sehat dan tentu harus lebih prestatif dan semangat menjalani hidup.

    Like

    1. Mas Wahid kudu wajib nonton. Soalnya ini banyak atlet bulu tangkis profesional Asia yang ikutan nongol di sini. Salah satunya dari Thailand. Hihihi. Keren mas lihat mereka tanding di lapangan.

      Like

  7. aku baru tahu ada film drama ini, dari cara kamu jelasin tentang fakta karakter itu bikin aku ada gambaran gimana alur dan si tokoh. menarik.

    sepertinya nonton drama ini dari WeTV ya mbak?

    Like

    1. Iya Mas Deddy, saya nontonnya di WeTV. Masih lanjut nih kisah yang atlet voli dan atlet skateboardnya.

      Kalo gak salah di YouTube juga udah muncul beberapa episodenya. Hanya saja subtittlenya bahasa inggris. Buat yg ngerti mah asik-asik aja nonton di YT.

      Like

  8. Bagus banget ceritanya. Saya jadi lebih mengerti juga tentang anak autis.
    Tak menyalahkan masa lalu, mantap menata masa depan. Pengorbanan dan cinta seorang ibu.

    Banyak banget dari drama ini yang bisa diambil pelajarannya

    Like

  9. Penggambaran Ping An dan kedua temannya mendalam kak. Melalui film ini nggak hanya tayangan olahraga yang bisa kita simak, tetapi juga pesan moral untuk mendukung dan luaskan pikiran bahwa autisi punya kemampuan yang baik dan keterampilan mumpuni juga.

    Like

    1. Udah ambuuu. Good Doctor yg Joo Won kan? Itu saya malah nontonnya jauh sebelum Abang Rashif lahir, sebelum si abang didiagnosis autisme oleh dokter. Terharu nontonnya ambu 😭

      Like

  10. Masya Allah tulisannya panjang banget tapi saya baca sampai kalimat terakhir. Inspiratif sekali. Peluk cium untuk abang Rashif, semoga sehat selalu ya nak

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.