Menjaga Pernikahan Setelah Memiliki Anak Kembar

Punya anak kembar, terutama satu tahun pertama itu beban stresnya luar biasa. Masalahnya bisa karena pengeluaran berlipat ganda, kurang tidur, lelah fisik dan mental, hingga gairah seksual menurun drastis. Masuk akal jika berbagai penelitian di luar negeri menunjukkan banyak pasangan menikah bercerai setelah memiliki anak kembar.

Saya sempat menyinggung hasil penelitian ini bersama suami, beberapa saat menjelang tidur. Itu terjadi di minggu-minggu di mana salah satu anak kembar kami, Rashif (1,5 tahun) sangat menyita waktu kami.

Kami berdua kelelahan menghadapi Rashif. Dia mogok makan nyaris dua minggu, tidur maunya digendong terus, bangun malam setiap dua jam, belum lagi mengasuhnya di siang hari dengan kondisi work from home.

Kami bukan hanya punya bayi kembar laki-laki, tapi juga balita perempuan, Maetami (4 tahun). Kami sadar butuh usaha keras untuk menjadi orang tua yang selalu waras. Butuh kesadaran dan kesungguhan untuk menjaga pernikahan kami tetap stabil dengan menghindari hal-hal yang membuat semua terasa memburuk.

Apakah itu mudah?

tidak selalu

Apakah kami masih mengalami kesulitan setelah si kembar menjelang 2 tahun?

Duh, jangan ditanya. Masalah lama selesai, masalah baru pasti akan datang.

Kehidupan Seksual Setelah Melahirkan Anak Kembar

Adakah ibu yang merasa gairah seksual menurun setelah melahirkan anak kembar? Kamu tidak sendiri.

Jangankan anak kembar, ibu yang melahirkan satu anak saja bisa mengalaminya. Kehilangan gairah seksual dalam istilah medis disebut hypoactive sexual desire disorder (HSDD). Ini istilah umum untuk pria dan wanita segala usia, tua atau pun muda.

Gairah seksual menurun setelah melahirkan anak tidak sama kondisinya dengan disfungsi ereksi yang dialami pria. Masalah seksual terbesar wanita disebabkan gabungan antara faktor mental dan fisik.

Perempuan itu rumit, bukan cuma tampilan fisiknya saja, tapi juga hasrat seksualnya. Saya tertarik dengan hasil survei yang dilakukan Twiniversity, global support network untuk orang tua kembar di berbagai negara di dunia terkait Twin Parent Sex Drive Survey.

Survei ini diikuti 1.000 partisipan yang memiliki anak kembar. Sebanyak 35 persen peserta memiliki anak kembar berusia 0-11 bulan, 28 persen peserta memiliki anak kembar berusia 12-24 bulan, dan 17 persen peserta memiliki anak kembar berusia di atas dua tahun.

Apa yang membuat wanita berpikir gairah seksualnya berkurang setelah melahirkan anak kembar?

17 persen peserta menjawab karena perubahan mental.
9 persen peserta menjawab karena perubahan fisik.
74 persen peserta menjawab karena kombinasi perubahan mental dan fisik.
85 persen peserta menyatakan mereka terlalu lelah, sehingga tidak bisa menikmati seks.

Stres dan kekhawatiran wanita setelah melahirkan anak kembar tidak boleh diabaikan. Wanita rentan mengalami cemas setelah melahirkan atau postpartum anxiety (PPA), depresi setelah melahirkan atau postpartum depression (PPA), dan gangguan suasana hati lainnya.

Saya mungkin termasuk ke dalam golongan 74 persen wanita yang menjadi obyek penelitian. Selain lelah mengurus si kembar tanpa ART, saya sedih melihat perubahan fisik saya, khususnya bagian perut ke bawah.

Perut yang dulunya langsing kini bergelambir. Lemak perut bekas luka sesar persalinan pertama belum sepenuhnya hilang, saya sudah mengandung anak kembar. Kerenggangan otot perut saya melebihi tiga jari dan ini masuk kategori cukup besar.

Saya benci berkaca setelah mandi. Meski pun suami tak pernah komplain soal ini, tetap saja saya merasa tak nyaman. Benar kata orang, sometimes, we are our own worst enemy.

Saya butuh waktu untuk bisa mencintai versi baru dari tubuh saya setelah melahirkan si kembar. Ibu-ibu lain di luar sana mungkin juga merasakan hal sama.

Jadi, jangan sekali pun menyepelekan perasaan perempuan yang satu ini. Apalagi saya sering mendapati orang-orang mengomentari fisik ibu setelah melahirkan. Dibilang gajah lah, gembrot lah, gendut lah, chubby banget lah, disuruh diet lah. Ya gak perlu lu bilangin dia juga udah merasa gendut, Bambang! Maemunah!

Baca Juga: Imperfect: Tertohok Kisah Mamak Meira

Gairah seksual menurun setelah melahirkan anak kembar juga disebabkan fluktuasi hormon. Seperti kita ketahui, estrogen adalah hormon penting yang memengaruhi jaringan vital perempuan. Kekurangan hormon estrogen membuat Miss-V cenderung kering, sehingga tidak nyaman saat berhubungan seksual.

Tips Menjaga Pernikahan Setelah Memiliki Anak Kembar

Hal ini harus kita lakukan sebab pernikahan adalah komitmen seumur hidup. Tidak ada pernikahan yang sempurna, pasti ada masalah. Suami dan istri harus bisa melepaskan masalah pribadi dengan menyelesaikannya berdua. Jangan sendirian, melainkan bersama pasangan.

Apa saja yang bisa kita lakukan untuk menjaga pernikahan setelah memiliki anak kembar?

1. Menyadari satu tahun pertama adalah perjuangan terberat

Setahun pertama membesarkan bayi kembar, saya dan suami ada dalam mode survival, bertahan. Jangan pernah deh berharap lebih adegan-adegan romantis sebagai suami istri seperti pasangan baru menikah.

Hibur diri, akan tiba waktunya kita sebagai pasangan benar-benar bisa fokus satu sama lain tanpa terganjal anak. Oleh karena itu, JANGAN PERNAH berpikir yang aneh-aneh tentang mengakhiri hubungan pernikahan setahun pertama memiliki anak.

pernikahan

Sekarang saya dan suami sudah keluar dari mode survival. Kami terus berusaha saling mengerti beban satu sama lain.

2. Adu argumen boleh, tapi harus ada yang meminta maaf.

Pertengkaran pasti terjadi pada pasangan suami istri, mau itu yang anaknya tunggal atau kembar. Saya akui saya termasuk golongan istri yang blak-blakan sama suami. Saya ini istri yang keras kepala.

Jika saya marah, suami saya tak pernah membalas. Saya bersyukur memiliki figur mas yang bisa menyeimbangkan emosi saya. Sikapnya itu pada gilirannya membuat saya tak segan meminta maaf duluan.

Pernah saya minta tolong suami membuang sampah yang sudah menumpuk, atau memasukkan sisa bubur bayi ke dalam kulkas. Suami bukannya segera membantu, malah tertidur nyenyak di sofa depan TV.

Bukannya mengomeli suami karena malas, saya membiarkannya beristirahat. Ketika suami bangun, dia minta maaf dan memastikan bisa membantu pekerjaan saya lainnya.

3. Mengenal bahasa cinta

Mengenal bahasa cinta sebagai pasangan sangat penting mempertahankan pernikahan. Mari kita pikir sejenak, istri seminggu terakhir sibuk mengurusi anak kembar yang sedang demam setelah imunisasi, sedang tumbuh gigi, atau baru saja growth spurt.

Suami saya tahu saya pasti sama sekali tak ingin ‘disentuh’ karena kelelahan. Namun, suami saya tahu bahwa memegang tangan saya, memeluk saya, atau bahkan mencium pipi saya saat saya sedang bekerja bisa membuat saya merasa selalu dicintai.

Apa saja bentuk aktivitas yang bisa membuat pasangan tetap mesra?

  • Berciuman dan berpelukan. Luangkan waktu beberapa menit saja untuk berciuman dan berpelukan sebelum tidur di malam hari.
  • Berbaring bersama di tempat tidur. Saling menyentuh satu sama lain, tanpa berujung aktivitas seksual. Ini juga mengurangi stres kita.
  • Saat istri siap berhubungan seksual kembali setelah melahirkan anak kembar, penting untuk menggunakan bantuan pelumas (lubricant) pada Miss V. Ini bisa melindungi jaringan Miss V dan mengurangi ketidaknyaman atau rasa sakit saat berhubungan seksual.

Beberapa artikel yang saya baca menyebutkan hubungan seksual sudah bisa dilakukan enam minggu setelah si kembar lahir, tapi saya pribadi membutuhkan waktu lebih lama dari itu, mungkin mencapai 12 minggu alias tiga bulan.

4. Komunikasikan harapan kita pada pasangan

Solusi dari semua masalah pernikahan adalah komunikasi terbuka suami istri. Sebelum melahirkan si kembar, saya terang-terangan minta tolong suami untuk menghandle segala urusan tentang Maetami, puteri kami.

Tugas suami saya memandikan si kakak, memakaikan bajunya, mengajaknya bermain, dan menemani tidur malam. Apapun keluhan kakak, orang pertama yang cepat tanggap adalah suami.

anak kembar

Saya juga mengomunikasikan bahwa ibu akan tinggal bersama kami setidaknya tiga bulan pertama usia si kembar. Kami juga sempat mengomunikasikan rencana menggunakan jasa asisten rumah tangga (ART) jika ada yang cocok.

Berhubung kami tetap tak menemukan ART yang cocok, saya minta tolong suami menangani pekerjaan membersihkan rumah, khususnya menyapu dan mengepel. Saya akan memasak di hari kerja, sementara weekend kami akan menyelingi dengan membeli makan di luar.

Saya terang-terangan pada suami bahwa setelah resmi resign usai melahirkan, semua kebutuhan saya akan menjadi tanggung jawab suami sepenuhnya. Jadi ya mohon pengertiannya jika mungkin istri minta uang belanja lebih, tidak seperti sebelumnya. Hal-hal sedetail ini pun harus dibicarakan loh.

Komunikasi terbuka antara suami istri itu emang gampang secara teori, apalagi cuma modal baca doang di blog saya. Namun, dalam praktiknya ternyata sulit loh. Buktinya, tidak semua pasangan mengomunikasikan harapannya satu sama lain setelah memiliki anak.

5. Luangkan waktu untuk family time

Awal-awal memiliki anak kembar, apalagi masih cuti melahirkan dan cuti paternal, saya dan suami banyak menghabiskan waktu bersama dengan anak-anak kami sebagai keluarga. Tidak ada beban kerja. Ibu masih membantu kami mengurusi anak-anak.

Setelah cuti habis, suami kembali ngantor, kemudian setelah tiga bulan ibu saya kembali pulang kampung, baru lah terasa betapa beratnya tugas kami sebagai orang tua. Saya sempat mengalami baby blues gara-gara ini. Ditambah lagi saya baru saja resign dari kantor tempat saya bekerja sembilan tahun terakhir. Perasaan saya campur sari jadinya.

Kami mencari tahu tanggal berapa jadwal imunisasi anak ke rumah sakit, tanggal berapa saya periksa jahitan sesar ke dokter, dan apa rencana kami sebagai keluarga.

Akhir pekan besok mau kemana? Pas ada kalender merah, asiknya staycation di mana? Nyepi di mana? Berhubung kami tinggal di Bali. Pokoknya rencana beberapa bulan ke depan untuk family time sudah disiapkan.

6. Luangkan waktu untuk diri sendiri

Duh, poin ini lagi-lagi jauh lebih mudah diucapkan ketimbang dilakukan. Sampai sekarang pun saya masih belum bisa menghabiskan waktu cukup lama untuk diri sendiri. Bayangkan, sejak si kembar lahir sampai sekarang berumur 1,5 tahun, belum sekali pun saya bisa ke salon, sekadar facial atau motong rambut.

Akhirnya saya memilih menghabiskan waktu sendiri di rumah. Itu pun baru saya dapatkan jika suami sudah melihat saya tertekan mengurus anak.

Pernah suatu hari saya lelah, sementara anak-anak ketiganya kompak menangis, saya meninggalkan mereka semua dan memilih menyendiri di kamar mandi, di teras rumah, atau saya tinggal tidur.

Suami langsung mengambil alih peran saya mengurusi anak. Berapa lama ya? Mungkin waktunya cuma 15-30 menit saja, tapi rasanya sangat melegakan. Setelah itu saya bisa kembali mengurusi anak-anak saya dengan lebih waras.

7. Kunjungi terapis seks, dokter, atau psikolog.

Saat semua terasa benar-benar berat, bagi istri atau pun suami, minta lah bantuan profesional. Kita bisa mengunjungi terapis seks, dokter, atau psikolog, sesuai keluhan yang dirasakan dan mendapat nasihat terbaik. Jika malas minta bantuan profesional, setidaknya kita bisa curhat sama orang yang bisa dipercaya, apakah itu sahabat, kakak perempuan, ibu, atau ibu mertua.

pernikahan

Sungguh, memiliki tiga bayi di rumah benar-benar menguji pernikahan saya. Pernikahan itu saja sudah ujian sulit, apalagi punya tiga anak di mana dua di antaranya adalah kembar.

Terus terang saja, saya pernah sampai pada titik saya TIDAK MENYUKAI suami saya sendiri. Semua yang dia katakan dan lakukan seperti membuat saya jengkel.

Ada hari-hari sangat berat bagi kami. Biasanya shalat berjamaah, tapi masing-masing kami sungguh cantik bersandiwara supaya bisa shalat masing-masing. Bagaimana rasanya menghindari suami sendiri sementara kalian tinggal seatap? Sungguh berat.

Saya yakin suami saya pada satu titik pernah merasakan hal sama seperti yang saya rasakan. Saya tahu kadang saya menjadi istri yang demanding, banyak tuntutan, khususnya memintanya lebih sabar menghadapi anak-anak kami yang masih kecil.

Merasa akrab dengan cerita di atas?

Sekali lagi, ketahuilah bahwa kamu tidak sendiri. Keadaan ini sangat umum dialami semua pasangan di dunia, khususnya mereka yang memiliki anak kembar.

Tenanglah, kita baru saja memiliki bayi kembar yang lucu. Pasangan dengan satu anak saja mengalami kesulitan yang sama, apalagi pasangan dengan dua anak kembar.

Allah SWT tidak akan menitipkan anak kembar pada ibu dan ayah yang lemah. Kita adalah orang tua pilihan. Kita kuat. Yakini itu.

bundalogy

14 thoughts

  1. Mbak Mut aku baca cerita ini kok merinding ya..tmnku ada yg give up setelah lahirkan anak kembar.saking ga bisa klop lagi komunikasi dng suaminya..masalah kecil jd besar….tapi bener sih semua yg ditulis di artikel ini intinya dlm pernikahan hrs lbh bnyk berkomunikasi dng pasangan mengenai masalah apapun itu pasti ada jln keluar terbaik semangat ya..salam buat ketiga ananda kecil tersayang..

    Like

  2. Kak mutia aku ngebayangin trus bilang iya, pernikahan saja sudah banyak masalah di dalamnya dan kak mutia bisa lolos di tahap ini selamat kakak, hebat banget. Semoga terus samawa ya kak

    Like

  3. bener juga ya mba, abis melahirkan dan punya anak itu pasti berat ya. apalagi kembar. duh bawannya pengen cepet bobo aja pasti. tipsnya bener banget nih, kita harus bisa saling memahami ya, biar enggak suami juga paham apa yang dirasakan istri. makasih mba reviewnya.

    Like

  4. Memang hidup berumah tangga itu tidak mudah ya Uni, akan selalu ada masalah yang menghampiri dan harus dihadapi dengan bijak. Jangankan setelah memiliki anak kembar, belum punya anak pun banyak masalahnya, hehe

    Like

  5. Jelang 16 tahun married aja saya dan suami masih suka misunderstanding ttg bahasa cinta tp akhirnya sama2 mengedepankan saling memahami dan saling minta maaf, ujung2nya malah jadi makin mesra kl udah berselisih, hihi

    Like

  6. Saya yang baru punya anak 1 juga ngerasa gitu kok mbak. Kadang ngerasa mellow kondisi fisik nggak kayak dulu. Pertemanan mengecil karena kesibukan masing-masing. Tp saya berusaha untuk cari celah kebahagiaan di antara semua itu.

    Like

  7. Duh, ini tulisannya bener-bener pernah aku alamin banget. Rasanya tuh enggak pede parah, gara-gara punya guratan yang enggak bisa ilang. Akhirnya jadi bikin insecure sama diri sendiri, huhuhu. Tapi, emang bener, semua itu harus diusahakan dan dicari jalan keluarnya ya, kak. Biar engga insecure mulu. Sekarang udah lumayan pede, padahal bekas cacar yang baru banget aku dapet di usia setua ini, tetep enggak bikin sampe seteres kaya dulu. Alhamdulillah.

    Like

  8. Bener kak, kelelahan fisik dan mental emang bisa bikin HSDD, dan dalam kondisi ini suami harus peka biar gak berujung pertengkaran

    Like

  9. Thanks for the sharing sista, baik anak kembar atau tidak dalam hubungan rumah tangga informasi yang sista share ini patut diterapkan biar hubungan awet sampai kakek-nenek

    Like

  10. 6 bulan setelah melahirkan pun masih lebih enak istirahat dibanding seks ya kak Mutia. Haha.
    Aku kalo gak ingat ini kewajiban istri, udah pengen bilang jangan dulu ke suami. Hihi

    Kalo aku lebih karena estrogen lagi tinggi ya kan kak. Jadinya pun secara biologis cairan pelumas juga belum maksimal. Jadinya ada kecenderungan tidak menikmati.

    Like

  11. Saya mengalami ini pasca melahirkan anak kedua. Rasanya enggan banget karena kelelahan dan banyak yang saya pikirkan saat itu. Alhamdulillah suami bisa memahami dan ga banyak protes. Berkaca dari kondiai ini, satu saya garis bawahi tentang pernikahan adalah menikahlah dengan orang yang bisa mengendalikan diri dan mau bekerja sama menjalani apa pun dalam kesibukan pernikahan

    Like

  12. semoga setelah baca ini ada ilmu yang bisa aku ambil setelah aku menikah nanti. untuk saat ini aku belum tau sama sekali kehidupan setelah memiliki anak apalagi anak kembar.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.