Internetnya Indonesia Buka Surga Penulis Buku

Internet mentransformasi dan menginovasi seluruh profesi, tak terkecuali penulis buku. Dahulu penulis membawa imajinasinya dengan pena dan kertas. Kini mereka menuangkannya dengan mengandalkan keyboard komputer, laptop, atau ponsel.

Sesaat penulis membiarkan dirinya larut dalam naskah dan ide cerita yang muncul di kepala. Halaman demi halaman pun selesai, dan proses berikutnya dimulai. Penulis seakan menyerahkan naskahnya yang berharga untuk tunduk pada aturan dan kritik penerbit. Bagi penulis baru yang lemah hati, kritik bisa menjadi pengalaman menakutkan, bahkan tak jarang membuat kepercayaan diri mereka terjun bebas ke dasar jurang terdalam.

Tidak semua penulis beruntung menerbitkan buku di penerbit besar. Inilah yang saya alami 2012 ketika novel saya hanya bisa lulus seleksi 20 naskah terbaik, lalu gagal di penyaringan final oleh salah satu penerbit mayor di Jakarta Selatan.

Delapan tahun berikutnya, saya seperti mengalami imposter syndrome. Ini adalah kondisi di mana seseorang merasa dirinya tidak layak menjadi sesuatu. Saya merasa tak pantas menjadi penulis buku. Rasanya saya tidak dilahirkan untuk itu, meski telah menyusun lebih dari 200 halaman cerita. Saya pun tak berminat menghasilkan karya baru.

Ketika potensi penulis produktif tadi terhambat hanya karena satu penerbit mayor menolak karyanya, atau mereka tak menemukan mentor yang tepat karena tak ada relasi dengan penulis profesional, kemana kira-kira mereka menggantungkan mimpinya?

Jawabannya mereka beralih ke internet.

Akhir 2015, saya fokus menjadi bloger. Tiga tahun kemudian, tepatnya 2018, saya bergabung dengan sejumlah komunitas bloger di dunia maya. Rasanya senang menemukan sekelompok orang yang terikat bersama dalam dunia kepenulisan. Ada yang part-time bloger, full-time bloger, bloger merangkap kreator konten, atau bloger merangkap penulis. Kami disatukan oleh webblog/ website, media sosial, grup chat, monitor, ponsel, yang semuanya tentu tak ada guna tanpa sambungan internet.

internetnya indonesia

Internet mengantar saya menemukan surga penulis. Bloger, SEO specialist, influencer, editor, kreator konten, penyair, jurnalis, dan tentunya penulis buku. Manfaat internet adalah menciptakan ruang yang menyatukan semua terlepas status masing-masing profesional atau amatir.

Saya pun makin sering menerima umpan balik atas tulisan-tulisan saya di dunia maya. Tak jarang secara personal saya berdiskusi dengan kawan-kawan yang sudah pernah menerbitkan buku. Mereka adalah tempat saya mengajukan pertanyaan, berbagi informasi, menjalin jejaring, pertemanan, hingga mengenalkan saya ke penerbit yang bersedia mendampingi penulis-penulis baru.

internetnya indonesia

Covid-19 sejak 2020 memberi saya lebih banyak waktu luang di rumah. Saya tak ingin pandemi global ini menghambat produktivitas. Saya ingin membuktikan diri saya layak menjadi penulis. Saya pun memutuskan bergabung dengan sejumlah komunitas menulis untuk menghasilkan beberapa antologi.

Kami intensif berkomunikasi lewat Zoom, Google Met, WhatsApp Video, dan grup chat. Saya bersyukur profesi penulis baru seperti saya didukung jaringan internet cepat IndiHome, mengingat hampir 100 persen kegiatan saya selama pandemi terpusat di rumah.

Waktu menulis saya pun lebih fleksibel. Saya bisa menyicil naskah kapan saja, entah setelah putri sulung saya sekolah, usai pekerjaan rumah selesai, atau malam hari begitu suami dan anak sudah tidur.

Saya bersama 20 bloger Indonesia pertama kali menerbitkan buku antologi Blog at First Sight. Siapa sangka sampai hari ini saya bisa melahirkan tujuh antologi bersama teman-teman saya yang tergabung dalam komunitas menulis. Lima judul di antaranya telah diterbitkan, yaitu:

  • Blog at First Sight bersama Komunitas Bloger.
  • Patah untuk Tumbuh bersama Komunitas Penulis Tembikar.
  • Educate Your Son, Protect Your Daughter bersama Komunitas Penulis All Zone
  • Rindu Kampung Halaman bersama Komunitas Penulis Dandelion
  • Emak Rimbawan (Kumpulan Cerita Konservasionis IPB) bersama Komunitas Rimbawan Menulis.
  • Sang Giri (Kumpulan Kisah Pendakian Rimbawan Petualang) bersama Komunitas Rimbawan Menulis.
  • Rimbawan dalam Dasarupa (Kisah Inspirasi Sarjana Kehutanan Multiprofesi) bersama Komunitas Rimbawan Menulis (dalam proses)
internetnya indonesia

Pandemi juga memberi saya lebih banyak waktu untuk mengemas ulang novel saya yang sudah lama ‘dimuseumkan’ di dokumen laptop. Insya Allah dalam waktu dekat saya juga akan meluncurkan buku solo perdana saya, Sialang & Tualang.

internetnya indonesia

Saya ingin menularkan semangat sama untuk teman-teman  yang lain. Semangat itu mendorong saya mendirikan grup penulis bernama Komunitas Rimbawan Menulis (Rimbalis) Maret 2022 dan melahirkan buku perdana kami, Emak Rimbawan.

Rimbalis adalah komunitas penulis yang seluruh anggotanya lulusan Fakultas Kehutanan IPB. Sampai hari ini Rimbalis beranggotakan hampir 100 anggota. Ke depannya kami tidak membatasi diri dengan anggota bergelar sarjana kehutanan. Kami terbuka untuk teman-teman baru yang ingin bergabung, selama mereka memiliki semangat sama, yaitu literasi dan cinta lingkungan.

Internet juga memungkinkan saya sharing pengalaman dan ilmu pengetahuan lebih luas, misalnya dengan menjadi pembicara di sejumlah pelatihan, bahkan juri lomba.

internetnya indonesia

Laporan Profil Internet Indonesia 2022 oleh Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) menyebutkan penetrasi internet di Indonesia sudah mencapai 77,02 persen pada 2021-2022. Dilansir dari Katadata, trennya meningkat terus dari tahun ke tahun.

Penggunaan internet masih terpusat di Pulau Jawa dengan persentase 43,92 persen. Selanjutnya adalah Sumatra (16,63 persen), Sulawesi (5,53 persen), Kalimantan (4,88 persen), Nusa Tenggara (2,71 persen), Papua (1,38 persen), Bali (1,17 persen), dan Maluku (0,81 persen).

Manfaat internet yang saya rasakan sebagai penulis buku adalah membantu promosi lebih luas. Hari ini ada banyak sekali penerbit mandiri (self-publishing) yang mewadahi penulis-penulis baru menerbitkan karya. Beberapa perusahaan penerbitan indie ini membantu penulis melakukan promosi dan pemasaran secara offline dan online.

Sayangnya, lautan penerbit mandiri ini bisa menjadi ‘tempat berbahaya’ bagi penulis yang tidak menyadarinya. Tak heran jika banyak buku-buku terbaik kesannya tenggelam saking banyaknya buku-buku baru bermunculan.

Saya tak ingin buku-buku saya juga buku-buku Komunitas Rimbalis menjadi karya yang sehari dua hari langsung dilupakan pembaca. Untuk memastikan karya kami tidak menjadi korban berikutnya, kami memanfaatkan internet untuk melakukan promosi buku dengan cara lebih mendekatkan diri ke pembaca.

Bagaimana penulis memanfaatkan internet untuk aktivitas tanpa batas tersebut?

1. Aktif di berbagai platform penjualan online

Banyak platform bisa digunakan untuk mempromosikan buku secara online. Penulis juga bisa menjual karyanya lewat berbagai platform e-commerce, seperti Tokopedia dan Shopee. Mereka juga bisa menjual karyanya dalam bentuk e-book berbayar di Google Play dan Google Book.

Media sosial juga tak ketinggalan. Kami memiliki akun Instagram, seperti @blogatfirstsight dan @rimbawanmenulis untuk mendekatkan diri dengan pembaca. Kami menjual buku di sana dengan menyusun format pre-order dan pemesanan buku setelah lewat masa pre-order.

Berkat internet yang andal, sebagian besar buku antologi kami dilabeli BEST SELLER. Dua di antaranya adalah Blog at First Sight yang terjual di atas 278 eksemplar, Emak Rimbawan dengan penjualan lebih dari 340 eksemplar, dan Sang Giri dengan penjualan di atas 350 eksemplar.

2. Kampanye media sosial

Penulis yang baik tak hanya menjual buku ke pembaca, kemudian menganggap tugasnya selesai. Penulis yang baik tak henti meliterasi pembaca lewat berbagai cara.

Saya dan teman-teman yang tergabung dalam Komunitas Rimbawan Menulis tidak hanya menulis buku, tetapi juga aktif melakukan kampanye di media sosial. Ini sesuai dengan semangat kami untuk menarik lebih banyak orang, khususnya anak muda agar cinta lingkungan.

Saat merilis buku Emak Rimbawan misalnya, saya dan teman-teman menggelar serangkaian Instagram LIVE dengan berbagai topik selama masa promosi. Topik-topik ini tentunya kami kuasai karena kami seluruhnya berlatar belakang sarjana kehutanan.

Beberapa topik yang kami bahas dalam bentuk Instagram Live, antara lain:

  • Decluttering dan pilah sampah dari rumah
  • Mengasihi satwa dan tumbuhan
  • Wisata alam bersama anak di tengah kota
  • Hiking bersama ibu hamil dan anak-anak
  • Edukasi lingkungan di tengah kesibukan ibu rumah tangga
  • Serunya pengamatan satwa (animal watching) bersama anak
  • Anak perempuan dan lingkungan

Kampanye di media sosial sangat membantu penulis menemukan followers dan pembaca baru. Kami bahkan terhubung dengan sejumlah organisasi lingkungan dan penggiat lingkungan yang tertarik dengan buku ini.

Sebagian besar situs media sosial, seperti Facebook dan Instagram menyediakan opsi yang menarget audiens tertentu lewat iklan berbayar. Internet adalah kemewahan yang membuat semua tampak lebih berharga dibanding penulis sekadar memasang iklan promosi di surat kabar, membagikan flyer, atau menempel poster-poster bukunya di tempat umum.

3. Terhubung dengan influencer online

Salah satu cara terbaik membangun jaringan pembaca adalah memanfaatkan pengikut atau followers orang lain. Hari ini banyak sekali influencer online yang bisa membantu penulis untuk memperkenalkan karyanya lebih luas.

Bloger seperti saya misalnya, tentu saja memanfaatkan blog sebagai sarana untuk menarik lebih banyak pembaca. Beberapa kawan bloger dengan senang hati mengulas buku-buku antologi saya di website mereka.

Blog salah satu pusat konten dan informasi yang berpotensi mendongkrak penjualan buku. Kemunculan blog awal 2000-an meningkatkan berbagai ulasan dari pembaca.

Bisa dikatakan bloger adalah pembaca buku yang baik. Banyak dari mereka ahli di bidang sastra tertentu. Mereka bisa dianggap influencer yang baik karena memiliki pembaca setia.

Selain bloger, saya bersama Komunitas Rimbawan Menulis menggandeng akademisi, tokoh pendidikan, hingga public figure untuk meninggalkan kesan baik mereka tentang buku kami. Semangat literasi kami juga diapresiasi langsung Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK), Ibu Siti Nurbaya Bakar.

4. Mengadakan book review contest dan give away

Internet mendukung penulis menggelar book review contest atau lomba resensi buku secara online. Kegiatan ini bermanfaat meningkatkan minat baca, mengembangkan keterampilan menulis, memperluas wawasan pemustaka, dan tentu saja meningkatkan penjualan buku.

Banyak penulis mengadakan give away untuk meningkatkan engagement media sosial. Ini sangat penting, terutama penulis yang hendak menerbitkan karya berikutnya. Biasanya penulis mengadakan give away berhadiah buku, bisa juga ditambah hadiah lainnya, seperti voucher. Mereka umumnya melakukannya di akun media sosial, khususnya Instagram.

5. Branding lewat website sendiri

Seorang penulis perlu memiliki rumah untuk produknya. Rumah di sini bisa berupa website pribadi untuk branding dan membangun reputasi.

Penulis bisa mendapat hosting sendiri atau meminta bantuan profesional menyiapkannya. Hari ini internet mempermudah penulis mendapatkan hosting dan domain dengan biaya jauh lebih murah.

internetnya indonesia

Manfaat internet tentu saja memberi pengaruh besar pada industri penerbitan buku tradisional. Munculnya e-book dengan harga lebih murah dibanding buku cetak, belum lagi menjamurnya e-book ilegal menjadi ancaman nyata bagi penerbit dan penjual buku.

Akan tetapi terlepas dari itu semua, bukankah buku cetak masih bertahan sampai hari ini? Internet dan teknologi digital di sisi lain membantu penerbit dan penjual buku menjangkau pelanggan baru.

Setelah sebuah buku dijual, di toko buku atau di platform online, buku jadi memiliki banyak nyawa. Dia bisa dibeli untuk pribadi, disewakan, dipinjamkan, diberikan sebagai hadiah untuk orang lain, dijual dalam bentuk buku bekas, atau disumbangkan ke perpustakaan. Inilah sirkulasi buku yang berkelanjutan.

Profesi penulis buku tidak pernah mati, entah itu penulis novel, manga, komik, buku edukasi, dan sebagainya, berupa cetak atau e-book. Internet justru membantunya berkembang melampaui batas-batas fisiknya.

Kita bisa lihat saat ini internet menghidupkan diskusi-diskusi tentang buku di berbagai forum online. Banyak pembaca merekomendasikan buku tertentu, memberi peringkat atau rating, mengadakan seminar online dengan penulisnya, bahkan bermunculan fanfiction. Komunikasi ini tentu saja berbentuk digital dan berjalan dinamis berkat internet sampai hari ini.

Internet dan pekerja WFH

Kerja jarak jauh (remote working) atau kerja dari rumah (working from home) bukanlah fenomena baru. Istilah ini pertama kali muncul dalam buku the Human Use of Human Beings Cybernetics and Society yang ditulis Norbert Wiener pada 1950. Wiener menggunakan istilah telework dan secara bertahap populer di Eropa.

Orang Amerika baru menerapkan istilah ini setelah tragedi 911 pada 2011, yaitu saat teroris menyerang Pentagon dan Gedung World Trade Center (WTC). Pemerintah Federal Amerika Serikat saat itu membuka pilihan bekerja jarak jauh untuk sebagian besar karyawannya.

Hasil penelitian International Telework Association and Council (ITAC) menunjukkan pekerja jarak jauh di Amerika berjumlah satu berbanding lima. Setidaknya mereka bekerja dari rumah sekali seminggu. Saya yakin jumlahnya saat ini setelah gelombang pandemi sangat drastis.

Karyawan, pekerja kantoran, pegawai pemerintah, dan sebagainya menghadapi sejumlah tantangan bekerja jarak jauh dilihat dari faktor koneksi internet.

Pertama, kekuatan sinyal WiFi yang rendah dan tidak dapat diandalkan menyebabkan produktivitas karyawan menurun. Dengan demikian performa perusahaan bisa ikut terpengaruh.

Kedua, sistem kolaborasi jaringan internet abal-abal sangat lambat. Salah satunya bisa menyebabkan tarik menarik antara perangkat gawai keluarga di rumah, seperti televisi dan ponsel. Ini bisa membuat panggilan video misalnya terputus tiba-tiba.

Ketiga, keamanan jaringan internet rumahan diperlukan. Jaringan internet tepercaya akan melindungi dari serangan terhadap sistem dan data.

Kita membutuhkan sistem WiFi yang mendukung pekerjaan kita dengan baik. Hasil studi Pew Research Center di Amerika Serikat menunjukkan lebih dari 71 persen pekerja kantoran bekerja dari rumah sepanjang pandemi Covid-19 pada 2020.

Selain itu hampir 93 persen pelajar dan mahasiswa melakukan pembelajaran jarak jauh pada tahun sama. Ini adalah jumlah besar yang perlu kita garis bawahi, di mana kita harus beradaptasi dengan teknologi ketika kondisi dunia di sekitar kita berubah.

Pekerja jarak jauh sangat bergantung pada layanan video conference untuk tetap terhubung dengan rekan kerja. Sekitar 81 persen pekerja yang bekerja dari rumah mengatakan mereka menggunakan panggilan video dan layanan konferensi online, seperti Zoom. Secara umum video conference dan platform chat dianggap sebagai pengganti kontak langsung.

Akses internet selama pandemi berperan besar menjaga produktivitas pekerja dan pelajar. Meski gelombang pandemi menuju titik normal, faktanya makin ke sini orang-orang makin menginginkan fleksibilitas untuk bekerja dari rumah. Mereka akan datang ke kantor sesuai kebutuhan, hanya untuk pertemuan dan interaksi tatap muka yang penting.

Tidak diragukan lagi bahwa sistem kerja jarak jauh ini meningkatkan penggunaan internet sehari-hari. Memang benar bahwa jumlah keluarga di Indonesia yang terhubung dengan jaringan internet rumah terus meningkat. Namun, kita tak bisa memungkiri bahwa jumlah keluaga yang belum terhubung dengan jaringan internet rumah jauh lebih banyak. Mereka hanya mengandalkan akses internet dari pulsa data di ponsel atau tablet.

Di Indonesia, imbauan bekerja dari rumah sebagian telah dicabut. Namun, faktanya masih banyak pekerja bekerja dari rumah di hari kerja. Banyak dari mereka menerima tren ini sepenuh hati. Internet aman, berkualitas tinggi, dan andal sangat penting, terutama jika ingin model kerja hybrid seperti ini berhasil.

IndiHome sebagai salah satu produk layanan Telkom Indonesia menggunakan jaringan fiber optik yang tersebar di seluruh Indonesia. Kecepatan internetnya hingga 300 Mbps.

Internet IndiHome tak hanya cepat, tetapi juga stabil dan tahan terhadap segala cuaca. Aktivitas tanpa batas kita dari rumah jauh lebih praktis dan nyaman dari sebelumnya.

Internetnya Indonesia ini tak hanya menghadirkan sambungan internet, tetapi juga film dan tayangan unggulan lewat IndiHome TV. Kita bisa menontonnya secara premium melalui aplikasi UseeTV GO.

Selain itu ada juga Telepon Rumah dari IndiHome. Kualitas suaranya jernih dengan harga lebih hemat.

Dunia bisnis dan dunia kerja sedang berubah. Kita memerlukan jaringan internet cepat untuk aktivitas tanpa batas. Apalagi tahun ajaran baru sudah masuk. Selama kita tetap terkoneksi dengan baik, kita dapat terus menavigasi perubahan bersama.

56 thoughts

  1. Wah, hebat kak sudah punya tujuh antologi bersama teman-teman dalam komunitas menulis. Semoga saya juga bisa join hehe
    Saya udah lama mau pasang IndiHome TV, tp blm kesampaian, moga dalam waktu dekat. Biar bisa nonton n pakai secara premium melalui aplikasi UseeTV GO, makasih sharingnya

    Like

  2. Begitu besar manfaat internet untuk perkembangan karir kepenulisan seseorang. Maka pantaslah bahwa internet merupakan penemuan terbaik sepanjang massa.

    Like

  3. Menulis sepertinya ada yang memang sudah ada potensi, lainnya ada perlu bimbingan dari penulis berkompeten.

    Like

  4. Apalah artinya kita hidup tanpa internet sekarang ya kak, sangat terbantu apalagi profesi kita sebagai penulis dan blogger. Hebat nih kakak aktif di banyak komunitas jadi jalan menuju impian memiliki buku. Semoga kedepannya bisa menghasilkan karya lebih banyak lagi ya kak

    Like

  5. Masyaallaaah, udah 7 aja bukunya ya mbk. Semangatnya patut ditiru dan diduplikasi nih…

    Duluuu sebelum internet sperti sekarang, saya sempet juga nulis novel di buku tulis yang isi 100 lembar sampe full.

    Sekarang fasilitas smakin lengkap knp semangat semakin kendor, hiks ..

    Like

  6. Barakallah mba.
    Mimpi menulisnya tetap menapak kembali berkat internet yan lancar dan terhubung dengan lingkungan dan orang-orang yang tepat. Keren, buku antologinya terus bertambah.
    Semangat mba Mutia harus jadi contoh, termasuk untuk saya yg semangat nulisnya malah nyungsep, hiks.

    Like

    1. Editing di editor insya Allah selesai Agustus mas. Tapi saya minta ke penerbit launching 1 Januari 2023. Saya ingin buku ini jadi persembahan Tahun Baru untuk keluarga saya dan ini juga resolusi saya 2022 bahwa saya akan menyelesaikan buku solo saya tahun ini. Mohon doanya Mas Wahid.

      Like

  7. Sebagai rekan dengan profesi yang sama (blogger and author), saya paham sekali bagaimana internet telah sangat banyak membantu pekerjaan kita. Internetlah yang turut membesarkan kita, mulai dari 0 hingga beberapa pencapaian saat ini. Internet jugalah yang mengajak kita para penulis untuk rajin membaca, serta menggugah informasi bermanfaat via daring, dan menjadikan semua data tersebut sebagai tambahan pengetahuan bagi kita.

    Selamat untuk pencapaian-pencapaiannya Mutia. Semoga semua yang sudah diraih menjadikan diri Mutia lebih bermanfaat bagi orang lain. Tentu saja sekaligus membanggakan pribadi yang membanggakan keluarga.

    Like

    1. Terima kasih juga buat Mba Annie yang telah mengajak saya bergabung di Pondok Antologi Penulis Indonesia (PAPI). Semoga IndiHome kelak bisa menggandeng PAPI di event-event kepenulisan kita mba. Amiiin.

      Like

  8. Menulis sepertinya ada yang memang sudah ada potensi, lainnya ada perlu bimbingan dari penulis berkompeten.

    Like

  9. MasyaAllah keren sekali kak. Dalam waktu yang singkat sudah bisa ikutan menerbitkan 7 antologi. Salut kak, tapi memang Iya ya berkomunitas begini membuat kita ikutan produktif ya

    Like

  10. Keren, Mbak Mut. Produktif dan kreatif. Jadi makin termotivasi juga buat nulis. Nggak ada alasan lagi susah nulis sekarang ini, buat nyari bahan referensi dan riset aja udah dipermudah dengan adanya internet.

    Alhamdulillah, ya Mbak, saya juga bersyukur sekarang ada internet internet yang mewujudkan mimpi saya jadi penulis meski dulu nggak kebayang jadi penulis blog. Hehe…

    Like

  11. Keren banget kamu, kak! Meski sempat down akibat tulisan pernah di tolak penerbit mayor, namun bisa bangkit kembali menulis berbagai buku antologi dan bakalam terbit buku Solo Sialang dan Tualang. Moga lancar prosesnya Ya Kak. Aku jadi penasaran mau baca buku ini juga. Hehee .
    Belum lagi perjalanan menjadi blogger dan mendirikan Rimbalis. Sukses selalu pokoknya. Terus menebar manfaat.

    Like

  12. Selamat dulu untuk semua karya dan bukunya ya…
    Dengan adanya internet promosi buku jadi semakin luas jangkauannya, ini pasti memperbesar peluang kita untuk terus mendapatkan apresiasi.
    Internet sudah bikin banyak perubahan positif

    Like

  13. Masya Allah .. seperti biasa … apiiik tulisan Mbak Muthi. Salut buat Komunitas Rimbawan Menulis … semoga semangatnya bisa memotivasi dan mengedukasi banyak orang agar semakin peduli pada lingkungan.

    Like

  14. Internet memang seperti sebuah keajaiban kak Mutia.. Saya sendiri merasakan gimana dalam satu buku ontologi kami bisa bertemu dalam berbagai latar belakang yang berbeda namun satu passion menulis saat itu
    Aahh apalagi IndiHome ini memang mensupport banget dengan teknologi Internet cepatnya yang bikin semua kerjaan online terasa menyenangkan.

    Like

  15. Era digital ini semua sudah serba go online pastinya butuh jaringan internet ya kan,Mba. Mau promosi apapun makin mudah apalagi untuk mempromosikan karya sendiri tentu cocok banget lah biar makin luas pasarnya ke berbagai daerah bahkan mancanegara.

    Like

  16. mbak Muthe ini memang keran buangettt! karya2nya banyak banget tp tetap bisa punya waktu untuk kakak mae dan sikembar. Bener2 management waktunya mantap nih. btw, aku sepakat kl internet ini penting banget apalagi buat pekerja kaya kita. aku nggak bisa membayangkan kl nggak ada internet karena ya kerjaan serba online.

    Like

  17. MasyaAllah…pernah patah aral enggak berarti terus berhenti ya mba. Tetep berkarya terus apalagi sekarang dunia digital berkembang pesat. Menulis adalah salah satu cara untuk bertumbuh dan memberi manfaat untuk banyak orang

    Like

  18. IndiHome ini banyak sekali membantu para penulis termasuk saya juga yang suka menulis di blog, kehadirannya membuat kerja saya jadi lebih cepat selesai dan pastinya menghasilkan karya dan manfaat bagi orang lain

    Like

  19. Peluk kakakku. Membaca pengalaman kak muthe tentang menulis, membuatku mendapatkan pengetahuan lagi. Diriku kalau semisal ikutan lomba terus belum menang, kadang rasa begitu juga tuh, merasa tak bisa menjadi apa-apa. Cuma memang akhirnya bergabung dengan komunitas yang positif, bisa mengembalikan pikiran-pikiran positif. Semoga kak muthe semakin sukses dan terus mengeluarkan karya-karya buku lainnya

    Like

  20. Tia keren banget sihh, makin ngefans deh ama Mutia dan Muthebogara nya. Abis baca ini langsung nonton IG Video nya di IG, kereen para bloger produktif yg inspiratif. Saya udah punya dong buku antologi Blog at First Sight. Mantuul!
    Semuanya butuh internet dong ya,, IndiHome mendukung semaraknya literasi di Indonesia.

    Like

  21. Sebagai rekan dengan profesi yang sama (blogger and author), saya paham sekali bagaimana internet telah sangat banyak membantu pekerjaan kita. Internetlah yang turut membesarkan kita, mulai dari 0 hingga beberapa pencapaian saat ini. Mari gunakan teknologi untuk kebaikan bangsa dan kemajuan negara.

    Like

  22. Saya sudah baca nih bukunya mbak Muthe yang Blog at the first sight, bagus dan menginspirasi perjalanan Ngeblognya mbak. Memang dengan kualitas internet yang memadai menjadikan kegiatan ngeblog lebih nyaman ya mbak. Apalagi ketika pandemi tahun 2020 lalu otomatis 80% kita berada di rumah saja

    Like

  23. MasyaAllah kak Mutiaa, bener bangett ini berkat internetnya Indonesia juga saya bisa akses buku yang udah ngga pernah dicetak lagi untungnya ada versi digitalnya huhu

    Like

  24. Banyak banget manfaat Internet ya mbak. Saya pun takjub semenjak ada internet, segala kebutuhan hidup lebih mudah dicari. Dan peluang usaha pun lebih lebar di saat kita memanfaatkan internet

    Like

  25. Wah aku jadi pengen juga nulis buku. Dulu yang blog at first sight ditawarin kolab juga tak aku gak mau huhu. Padahal keren bukunya, aku dah baca. Kalau dulu aku ikut, pasti nama dan foto ilustrasiku muncul ada di situ.

    Like

  26. Baca portofolio Mbak Mutia jadi merinding sendiri. Keren banget jejak prestasi digitalnya. Benar-benar yang muda yang berprestasi. Dan masa dikungkung oleh pandemi membuka lebih banyak kesempatan baru karena internet membuka jutaan pintu.

    Like

  27. Penulis ketemu internet ibarat pepatah Jawa tumbu ketemu tutup. Hehe… Pas banget

    Jadi mendukung banget nih ketersediaan internet dengan aktivitas penulis.

    Bangga pernah Sebuku. Hehe .. sukses terus mbak ..

    Like

  28. Seperti pengalamanku di tahun 2013-2014 nih mbak. Awal-awal terjun di dunia literasi dan kenal sama proyek-proyek antologi. Semua berkat internet tentu saja. Kalau nggak ada internet, manalah aku tahu bahwa dunia karya begitu luasnya.

    Like

  29. ma syaa Allah keren Mbak perjalanan menulisnya, sukses terus ya Mbak. Seneng pernah nulis bareng di salah satu buku 🙂
    Ah, iya dan memang internet itu membantu banget ya, termasuk untuk penulis mempromosikan karyanya, terus tumbuh dan sukses meraih mimpi.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.