Repotnya Membiasakan Anak Autisi Beralas Kaki

Anak tidak mau pakai sandal dan sepatu. Ini terjadi setiap hari selama 2,5 tahun pertama Rashif, putra saya yang didiagnosis autism spectrum disorder (ASD) menjalani kesehariannya.

Rashif gak pernah betah pakai sandal dan sepatu ketika bepergian keluar rumah. Dia lebih senang bertelanjang kaki, atau memakai kaos kaki saja.

Kadang dia mau pakai sandal dan sepatu, tetapi sayangnya sandal dan sepatu yang bukan miliknya. Kadang dia tiba-tiba mengenakan sepatu pantofel kakeknya atau sandal selop neneknya yang kalo dibawa jalan menghasilkan bunyi pletak pletok pletak pletok.

Ketahuan deh, Rashif bukannya suka dengan sepatu atau sandalnya, tetapi suka mendengar bunyi langkah kakinya ketika berjalan.

Suruh Rashif pakai sandal jepit? Jangan harap dia mau memakainya.

Saya bahkan sering sedikit memaksa memasangkan sandal jepit ke kakinya, tetap tak kuasa. Setelah terpasang, baru jalan dua langkah Rashif langsung membuang sandal jepitnya, atau parahnya tantrum karena dipaksa beralas kaki.

Masalah Sensorik pada Anak Autisi

Anak-anak autisi berjuang dengan masalah sensorik pada sebagian besar hidup mereka. Ini gak cuma berlaku pada alas kaki, tetapi juga pakaian, seperti anak tidak mau pakai celana saat tidur.

Kesannya kalo kita maksa anak spesial kita beralas kaki, itu membuatnya kesakitan dan menderita.

Anak autisi sangat rigit, saklek, dan pakem. Mereka gak suka dengan perubahan. Hidupnya statis.

Begitu kakinya gak pernah pakai sandal dan sepatu, trus tiba-tiba dipakaikan sandal dan sepatu, mereka tidak senang dengan sensasi baru di kakinya. Mereka mungkin juga gak senang dengan jari-jari kakinya yang tertutup, bisa juga ‘dianggap’ berubah warna sesuai warna sepatunya.

Kondisi ini makin parah lagi pada anak autisi yang terbiasa berjalan jinjit atau berjalan dengan jari-jari kakinya. Setelah dipakaikan sandal atau sepatu, mereka kurang nyaman saat berjalan jinjit. Nah, anak kita tidak mau pakai sandal dan sepatu ya karena masalah pemrosesan sensorik ini.

Tips Membiasakan Anak Autisi yang tidak Mau Pakai Sandal dan Sepatu

Autisme adalah gangguan perkembangan yang dapat memengaruhi kemampuan motorik halus dan kasar seseorang, serta cara berkomunikasi.

Studi menunjukkan setidaknya 75 persen orang dengan gangguan autisme memiliki gangguan pemrosesan sensorik. Itu berarti mereka mungkin hipersensitif terhadap elemen tertentu di sekitar mereka, termasuk anak tidak mau pakai sandal dan sepatu, sangat pemilih pakaian yang mereka kenakan.

Berikut adalah tips dari saya untuk membiasakan anak autisi yang tidak mau pakai sandal dan sepatu.

1. Lakukan diet komprehensif

Diet, bagaimanapun selalu menjadi syarat utama dan mutlak yang saya sampaikan kepada seluruh orang tua dengan anak spesial seperti Rashif. So, kalo yang baca tulisan saya ini gak prodiet, ya percuma saja melanjutkan artikel ini sampai habis.

Jadi, syarat pertamanya tetap saja DIET. Kenapa?

Autisme memang bukan penyakit akibat kekurangan gizi atau malnutrisi. Namun, bukan berarti autisme dan makanan gak ada hubungan sama sekali. Berbagai penelitian di dalam dan luar negeri menunjukkan makanan berdampak signifikan pada orang-orang dengan spektrum ini.

Anak autis umumnya bermasalah dengan saluran pencernaan. Gampangnya lihat saja bau kotoran anak kita yang khas, bahkan tak jarang anak autisi mengalami konstipasi atau susah buang air besar.

Kita ambil contoh, Si A gak suka makan nasi, gak suka makan sayuran, gak suka makan sop ayam. Si A sukanya cuma makan keripik dan ayam goreng.

Dalam kasus ini, A menghindari makanan lembek, benyek, dan berkuah. Dia lebih suka makanan kering dan renyah. Makanan tertentu memiliki bau dan rasa lebih kuat, sementara makanan lain memiliki tekstur khusus yang lebih menarik bagi anak autisi.

Anak-anak autisi bisa sangat defensif sensoriknya. Akibatnya ketika mereka tidak dibiasakan menerima berbagai macam sensorik, maka anak lebih mudah emosi, marah, tantrum karena berkutat di zona nyaman.

Terkait perilaku makan, jika anak autisi terus menerus cuma dikasih ayam goreng misalnya, anak akan kekurangan nutrisi. Tubuh anak kita yang istimewa ini membutuhkan berbagai asupan makanan untuk regenerasi sel-sel otak dalam proses penyembuhan mereka.

Inilah kenapa diet komprehensif anak autisi dalam sehari dianjurkan makan satu jenis daging, satu jenis ikan, satu jenis sayuran, dan satu jenis buah, yang kemudian diamati, kemudian dilakukan rotasi dan eliminasi.

Ketika anak kita menjadi lebih sadar akan beragam tekstur makanan, artinya dia menjadi lebih akrab dengan berbagai sensorik dan pencernaannya kian membaik. Kuncinya sih kita harus sabar, sebab bagaimanapun langkah-langkah kecil itu butuh waktu.

2. Kenalkan dulu dengan kaos kaki

Kalo anak tidak mau pakai sandal dan sepatu langsung, langkah pertama coba membiasakan anak berkaos kaki. Carilah kaos kaki lembut dan antislip, bila perlu pilih warna, gambar, atau karakter yang disukai anak.

Hindari kaos kaki berbahan kasar, sebab biasanya anak autisi tidak menyukainya. Apalagi jika kaos kakinya terlalu banyak benang jahitan.

Biarkan anak keluar rumah, menginjak tanah, halaman, atau teras mengenakan kaos kaki, sampai mereka terbiasa. Mereka mau tidur pakai kaos kaki pun ya biarkan saja.

Kita cukup menyediakan beberapa lembar kaos kaki di rumah untuk digunakan anak bergantian setiap harinya.

3. Beli sandal dan sepatu yang sulit dilepaskan anak

Sandal bertali seperti sandal gunung sangat membantu saya membiasakan Rashif beralas kaki. Sandal bertali cocok dikenakan pada anak autisi yang masih batita sampai mereka terbiasa, baru dikenalkan sepatu, kemudian sandal selop, dan terakhir sandal jepit.

Saya pernah mendahulukan sandal jepit saat mengajarkan Rashif beralas kaki di usia 2,5 tahun. Hasilnya gagal maning. Sandal jepit bukan ide bagus untuk mengajarkan anak autisi beralas kaki pertama kali.

Setelah saya pakaikan Rashif sandal bertali selama seminggu pertama, alhamdulillah sekarang putra saya sudah terbiasa bersandal di luar rumah. Ya walaupun kadang pakai sandalnya maksimal cuma 30-40 menit, tetapi ini termasuk kemajuan loh.

Selain sandal bertali, kita juga bisa memasangkan anak sepatu bot, sepatu kets bertali, atau menggunakan Velcro. Sepatu Velcro lebih memudahkan anak saat belajar memakai sepatunya sendiri.

Sepatu inklusif Vans (Foto: Vans)

Beberapa brand sepatu telah mengembangkan sepatu inklusif untuk anak berkebutuhan khusus, di antaranya Vans, Freshly Picked, New Balance, Tommy Hilfiger, dan Stride Rite.

Sepatu inklusif Tommy Hilfiger (Foto: Tommy Hilfiger)

Pada 2016 Tommy Hilfiger menjadi brand sepatu pertama di dunia yang meluncurkan sepatu inklusif untuk anak-anak autisi. Hal ini didorong pendirinya, Thomas Jacob Hilfiger yang memiliki tiga anak dengan gangguan autisme.

4. Pilih alas kaki dengan warna-warna kalem

Sebagian anak autis yang tidak mau pakai sandal dan sepatu mengalami kelebihan visual (visual overstimulation). Artinya, mereka bisa bereaksi berlebihan dengan warna-warna tertentu, biasanya warna-warna terang dan cerah.

Respons terhadap warna ini bersifat fisiologis dan psikologis. Efek fisiologis warna bisa memengaruhi sensitivitas sensorik, tekanan darah, detak jantung, dan perkembangan otak anak autisi. Efek psikologisnya memengaruhi perubahan emosi, rentang fokus, dan kemampuan berkomunikasi secara efektif.

Makanya saya gak heran pada salah satu aktivitas menggunakan balok warna di kelas, Rashif kerap bereaksi berlebihan ketika diperintah menyusun atau memindahkan balok merah dan kuning. Sebaliknya Rashif lebih senang merespons perintah menyusun atau memindahkan balok biru dan hijau.

Sebuah studi menunjukkan 85 persen anak-anak dengan spektrum autisme bereaksi berlebihan terhadap warna dibanding anak-anak normal. Penelitian ini membandingkan reaksi 29 anak laki-laki autisi dengan 38 anak laki-laki normal berusia 4-17 tahun terhadap enam jenis warna, yaitu merah, merah muda, kuning, coklat, hijau, dan biru.

Penelitian ilmiah berjudul Atypical Color Preference in Children with Autism Spectrum Disorder ini dilakukan Marine Grandgeorge dan Nobuo Masataka. Masing-masingnya merupakan peneliti dari Université de Rennes (Prancis) dan Kyoto University (Jepang).

Hasil penelitian menunjukkan kelompok anak laki-laki autisi cenderung memilih warna-warna lembut, seperti hijau dan coklat. Mereka mengalami hipersensasi dan menganggap warna-warna terang, seperti merah dan kuning sebagai beban sensorik.

Setiap anak autisi memiliki preferensi warna sendiri. Contohnya Rashif, anak saya sangat menyukai warna biru, hijau, dan hitam. Kadang dia juga suka merah muda.

Identifikasi preferensi warna kesukaan anak kita, kemudian berikan mereka sepatu, sandal, kaos kaki, hingga pakaian sesuai warna-warna kesukaannya.

5. Ajak anak berjalan kaki di luar rumah

Dulu saat membiasakan Rashif memakai alas kaki, saya selalu menjadwalkan minimal 30 menit Rashif berada di luar rumah. Biasanya setelah Rashif selesai terapi pukul 15.30 WIB, usai mandi sore, pukul 17.00-17.30 WIB saya mengajaknya berjalan kaki keliling kompleks rumah.

Saya menyugesti Rashif secara positif supaya mau memakai sandal bertalinya. Saya sengaja membiarkan Rashif melihat saudara kembarnya, Rangin memakai sandal atau sepatu.

Awalnya cukup berat, karena baru berjalan beberapa langkah, Rashif langsung duduk bersimpuh di tanah dan berusaha melepaskan sandalnya. Namun, sekali lagi, saya gak nyerah begitu aja.

Untungnya saya pilihkan Rashif sandal bertali, tipe sandal gunung berbahan gabus yang pas dan nyaman di kaki, sehingga cukup sulit dia lepaskan sendiri.

Saya juga tak serta merta mendekati Rashif ketika bersimpuh di tanah dan memaksanya berjalan, malahan saya memperlebar jarak kami, sehingga Rashif takut saya makin menjauh dan akhirnya bangkit kemudian setengah berlari menyusul saya di depan.

Kadang saya mangajak Rashif lomba lari dengan kakak dan saudara kembarnya. Ya pokoknya sampai Rashif terbiasa dengan alas kakinya.

6. Siapkan beberapa pasang sepatu dan sandal di rumah

Suatu hari jika anak kita menemukan sandal atau sepatu kesukaannya, tugas kita selanjutnya adalah menyiapkan beberapa pasang sandal dan sepatu serupa dan lebih dari satu ukuran. Tujuannya untuk mengantisipasi ukuran kaki anak bertambah besar.

Kita bisa juga membeli beberapa pasang sandal dan sepatu dari brand sama, warna berbeda, tetapi bedanya tidak begitu mencolok dari warna sandal dan sepatu yang disukai anak.

Hal yang gak kalah penting adalah jangan gampang menyerah. Terus berusaha membiasakan anak istimewa kita memakai alas kaki. Suatu hari mereka pasti bisa dan terbiasa.

11 thoughts

  1. Saya jadi teringat pernah mendampingi anak-anak autis di salah satu komunitas, mereka ada yang hipersensitif dengan tekstur dan bereaksi berlebihan. Akhirnya komunitas membuka kelas Pra karya dgn berbagai macam teknik seperti memilin, menganyam, dsb. Ternyata sangat membantu melatih otot-otot tangannya.
    Artikel ini juga jadi membuka wawasan saya terkait hipersensitif thd warna. Jadi lebih aware kalo ada anak ASD yg kurang nyaman kalo dihadapkan dgn warna ngejreng.. Thanks mba infonya 😕

    Like

  2. Butuh usaha yang maksimal untuk mendidik anak autis, makanya ada lembaga khusus seperti sekolah untuk anak berkebutuhan khusus seperti ini. Salut untuk kesabarannya.

    Like

  3. Banyak tahu tentang dunia Autis pada anak. Rupanya autis itu punya pemikiran sendiri ya terhadap sesuatu. Dan agak trickimy cara mengatasinya. Kayaknya orangtua harus double sabar nya menghadapi anak dengan kondisi special begini.

    Like

  4. Tapi sebenernya kan emang anak-anak suka banget barefoot yah mba alias nyeker. Heheh. Aku pernah baca juga kalau anak suka pakai sandal kebolak balik tuh salah satu tanda awal gejala disleksia. Benarkah?

    Like

  5. Aihh aku jg suka nyekerrr dulu nih sama kayak Abang hehehe.. Anakku nih sekarang yg susah nyeker haha dia dikit2 minta pakai sandal atau sepatu. MAsyaAllah, lihat warna2nya jadi kepikiran mau beli jg nih kak

    Like

  6. Ngerawat ABK emang fak mudah ya kak. Selain harus dibanyakin stok sabarnya, juga harus pinter “ngakali” supaya kebiasaan buruk pada anak gak dilakukan terus menerus

    Like

  7. Saya punya sepupu yang autis jg bunda… jadi saya juga sempet nulis di blog saya tentang gangguan tumbuh kembang autis dari kecil , jd sbnrna autis sudah terilahat dari bayi bunda… yg pasti di balik kekurangan ada kelebihan bunda jd hrs semngtt bunda perhatikan bakatnya bunda

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.