Bloger Class: Riset Keyword dan Outline Artikel SEO

Hai hai, Assalamualaikum. Kali ini saya mau re-post lagi materi KULWA dari mentor saya, Mas Seno, founder Blogerclass yang juga suka ternak blog. Kekeke.

Materi perdananya bisa diintip lagi di sini, biar nyambung sama materi kedua. Semoga bisa sedekah ilmu buat siapa saja yang masih bingung soal dunia blogosphere.  Tapi sebelumnya mohon maaf ni, gambar-gambarnya udah kedelete dari file. Gak bisa diposting deh.Kita mulai ya…

Mungkin kita terbebani dengan kata “Riset” yang seolah-olah bikin ribet dan berat. Semacam kegiatan yang bakal menguras otak untuk mendapatkan satu data. Sehingga wajar kalau kita sendiri melewatkan proses ini dalam menulis di web/ blog.

Padahal untuk menghasilkan tulisan yang bagus, riset ini menjadi hal wajib yang harus dilakukan sebelum menyusun konsep. Menulis buku, skripsi, novel, cerpen, artikel, bahkan surat cinta pun menurut saya juga perlu riset untuk menulisnya.

Jadi, ketika tulisan kita dinilai kurang berbobot bisa jadi bukan karena kita gak bisa nulis. Mungkin saja karena kita kurang dalam ketika riset.

Sampai sekarang saya meyakini bahwa, kematangan sebuah tulisan itu juga bergantung dari proses riset.

Lalu bagaimana dengan tulisan di website atau blog?

Saya rasa enggak jauh beda. Kita butuh riset untuk membuat tulisan yang berkualitas.

Nah, masalahnya sekarang risetnya penulis konten agak berbeda dengan penulis buku. Selain meriset bahan tulisan, kita juga harus meriset kata kunci atau keyword yang sering dicari di search engine.

Karena apa? Salah satu pintu untuk membaca tulisan kita di web, ya melalui search engine. Meskipun bisa saja orang membaca tulisan kita melalui link di media sosial atau direct yang kita kirim langsung ke mereka.

Sejauh ini, formula yang saya pelajari dari para pegiat SEO ya dengan cara merangking keyword di search engine. Tentu diiringi juga dengan teknik-teknik lainnya.

Kalau istilah dalam dunia panggung, keyword ini sebagai artisnya. Para master SEO akan mati-matian mengerahkan cara-cara untuk membuat keyword target mereka populer, sehingga tampil di laman pertama mesin pencari.

Jadi, riset keyword ini menjadi hal dasar yang harus dikuasi oleh para penulis konten dan pegiat SEO. Mengenai bagaimana tekniknya, tentu masing-masing punya cara yang berbeda-beda.

Di sini saya akan coba sharing teknik riset keyword yang biasa saya lakukan. Biar enggak bikin bingung, saya juga akan tunjukkan beberapa cara riset yang paling mudah.

Riset Keyword dengan Google Suggest

Kapan saya harus menggunakan cara ini? Ketika saya males dan gak punya ide untuk nulis artikel. Iya, karena ini menurut saya cara yang paling mudah.

Bagaimana caranya?

Pertama buka browser dengan mode incognito. Kenapa incognito? Agar hasil risetnya nanti enggak dipengaruhi oleh riwayat aktivitas kita di mesin pencari. Karena google merekam semua aktivitas kita di browser, dan menggunakan data tersebut untuk merekomendasikan konten yang kita cari di search engine.

Kedua, klik tanda titik tiga di pojok kanan atas, pilih “New Incognito Window” atau “New Private Window.”

Ketiga, ketikkan kata atau frase yang ada di benak kita dan ingin kita tuliskan menjadi artikel, lalu tekan enter.

Keempat, scroll ke bawah dan perhatikan beberapa kata kunci yang direkomendasikan Google.

Kita bisa memilih salah satu atau beberapa kata kunci yang direkomendasikan Google tersebut.

Jika kita memilih lebih dari satu, maka gunakan kata kunci tersebut untuk menyusun outline artikel yang akan kita tulis.

Yang perlu diperhatikan di sini, kata kunci paling atas merupakan kata kunci dengan pencarian terbanyak dari beberapa kata kunci yang relevan dengan yang kita cari. Artinya, ketika kita memilih yang urutan teratas tingkat persaingannya juga lebih besar dibanding urutan dibawahnya.

Kalau kita yakin bisa menulis artikel lebih bagus, ya ambil saja keyword dengan pencarian paling banyak.

Kelemahan dari teknik adalah, kita gak tahu pasti berapa jumlah volume pencarian per bulan untuk keyword yang kita riset. Kita juga enggak tahu pasti tingkat persaingan masing-masing keyword.

Namun, minimal artikel yang kita tulis dengan keyword dari hasil riset ini punya nilai lebih dibanding artikel yang kita tulis tanpa riset. Setidaknya ketika orang mengetik kata kunci tersebut di Google, ada artikel kita sebagai salah satu konten yang masuk rombongan yang direkomendasikan Google.

Riset Keyword Menggunakan Ubersuggest

Cara kedua adalah dengan menggunakan tools dari Ubersuggest miliknya Neil Patel. Kapan saya pakai tools ini? Biasanya saat saya punya waktu luang dan pengin mapping keyword untuk beberapa artikel.

Misalnya gini, saya mau bikin konten website kesehatan. Niche spesifiknya yang membahas tentang khitan dan tema kesehatan pada umumnya.

Katakanlah di website tersebut saya bikin ada 3 menu konten: Khitan, Perawatan, dan Herbal. Maka yang pertama saya lakukan adalah mencari website pesaing dengan konten yang nichenya sama dengan website saya.

Caranya? Bisa dengan mengetikkan keyword yang saya jadikan menu tersebut di Google, atau di tools riset keyword lainnya.

Setelah dapat, bikin daftar website pesaing tersebut. kunjungi semua website tersebut dan amati judul-judul artikel yang mereka buat.

Nah, dari judul tersebut pilihlah yang relevan dengan konten di web kita. Amati judulnya dan cari tahu apa keyword target yang dipakai dalam artikel tersebut.

Buatlah daftar keyword dari cara tersebut. setelah itu pindah ke web pesaing lainnya. Lakukan hal yang sama.

Setelah punya daftar keyword yang banyak, selanjutnya kita buka Ubersuggest di website neilpatel.com. Silakan cari di Google dengan keyword “Ubersuggest neilpatel.”

Jika sudah masuk ke laman websitenya, silakan setting Bahasa dengan “Indonesia” jika kita menargetkan kata kunci berbahasa Indonesia.

Mulailah ketik kata kunci pada kolom pencarian. Kata kunci di sini adalah yang sudah kita buat daftarnya tadi.

Klik enter, dan amati hasil riset yang ditunjukkan oleh dashboard tersebut. terutama pada bagian search volume dan SEO difficulty.

Pilih yang volumenya tinggi, dan difficulty-nya easy. Atau pilih yang volume tinggi, difficulty average. Agar kita lebih mudah mengoptimasi artikelnya.

Selanjutnya scroll ke bawah untuk melihat tabel keyword lainnya yang relevan dengan keyword yang kita riset.

Pilih beberapa keyword turunan yang ada di tabel tersebut. Ini nanti akan kita pakai untuk membuat outline artikel kita.

Selanjutnya pindahkan keyword-keyword dari hasil riset tersebut ke dalam sebuah tabel. Saya menyebut tabel ini sebagai bank keyword.

Lakukan langkah-langkah tersebut untuk meriset keyword-keyword yang ada dalam daftar yang sudah kita buat. Hingga nantinya kita sudah punya bank keyword yang sewaktu-waktu tinggal eksekusi menjadi artikel SEO.

Sebenarnya masih banyak cara lain untuk riset keyword. Bahkan ada tools yang berbayar. Namun, untuk keperluan menulis artikel SEO cara di atas sudah cukuplah. Tapi ya tentu saja masing-masing orang punya kenyaman dan kepentingan masing-masing.

Sampai di sini sebenarnya kita sudah bisa megoptimalkan artikel yang akan kita tulis. Khusunya dalam hal penentuan target keyword untuk menduduki page one Google.

Namun, ada baiknya kalau kita juga mematangkan konsep artikel dalam sebuah outline. Hal ini akan lebih memudahkan kita untuk mengkonsep value artikel yang akan kita tulis.

Karena sudah banyak artikel bagus yang nangkring di page one. Oleh karena itu kita butuh konten artikel yang memiliki nilai lebih dari pada artikel yang sudah ada.

Jangan sampai kita menulis artikel yang isinya mirip, hanya berbeda komposisi judulnya saja.

Cara Bikin Outline Artikel SEO

Nah, ini punchline dari materi hari ini. Ingat, gaes. Keyword boleh sama, tapi artikel yang kita tulis harus punya nilai pembeda. Kunci biar mudah membuatnya, ya di outline. Matangkan konsep artikelnya di outline.

Kita boleh saja beda penafsiran soal artikel SEO, tapi jangan terjebak dengan perdebatan tentang itu. Karena ilmu SEO itu based on logika. Jadi, formula-formulanya ditemukan dari hasil riset dan trial.

Begitu juga dengan artikel, jangan sampai kita sebagai penulis konten terjebak menulis konten yag begitu-gitu saja, sehingga ada anggapan artikel SEO tuh gak enak dibaca. Justru sebenarnya kita bisa meramu formula yang lebih baik. Minimal kita bisa memberi penyegaran konten di internet.

Nah, kali ini saya share bagaimana cara saya membuat outline artikel SEO. Silakan diadopsi kalau memang cara ini bermanfaat buat teman-teman. Perhatikan outline artikel berikut:

Judul: Cara Mengecilkan Perut Buncit Secara Alami Tanpa Olahraga

Subbab 1: Beberapa Alasan Seseorang Ingin Mengecilkan Perut

–         Susah duduk di lantai

–         Takut dibully

–         Enggak mau diputusin

Subbab 2: Cara Mengecilkan Perut Buncit Tanpa Olahraga

–         Rutin pakai sauna

–         Alat pembakar lemak

Subbab 3: Cara Mengecilkan Perut Buncit Secara Alami

–         Jaga pola makan

–         Kurangi makanan berlemak

–         Rajin minum wedang jeruk nipis

–         Jalankan program diet sehat

Kalimat yang saya bold adalah keyword yang saya dapatkan dari riset. Poin-poin dalam subbab saya susun berdsar keilmuan saya dan berdasar hasil mempelajari artikel-artikel yang ada di page one.

Silakan coba teman-teman bandingkan dengan artikel-artikel yag ada di page one dengan keyword yang sama. Tandai pembahasan mana dari outline saya yang sama dengan isi di artikel pesaing? Kalau enggak ada waktu ya gak usah lah.

Jadi intinya, konten pembeda itu bisa kita bangun dengan memanfaatkan kondisi sekitar sebagai bahasan. Dari outline tersebut, saya tulis artikelnya jadi seperti ini.

Nah, semoga ilmu yang sedikit ini bisa bermanfaat buat teman-teman. Mari diskusi jika ada hal-hal yang pengin didalami.

Advertisements

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.