Ingin Punya Anak Kembar, Mungkin Gak Sih?

Foto: Pixabay

BUNDALOGY — Anak kembar mampu mengalihkan perhatian seisi dunia sejak dulu kala. Duh, bahasa emak rada lebay ya. Tapi, faktanya memang demikian.

Contoh sederhana sewaktu kami sekeluarga mudik ke Jakarta lebaran tahun ini, sejak masuk bandara, di check in counter, boarding, duduk dalam pesawat, sampai landing selalu saja ada yang tertarik bertanya tentang Duo Mainaka, Rashif dan Rangin. Emak bapaknya serasa selebritis jawab pertanyaan kanan kiri.

Selama tiga dekade terakhir, kelahiran kembar melonjak lebih dari 75 persen. Contoh kasus, era 1980-an, hanya 18,9 persen bayi kembar lahir per 1.000 kelahiran di Amerika Serikat. Pada 2014, persentasenya meningkat menjadi 33,9 persen per 1.000 kelahiran. Wow, nyaris dua kali lipat ya.

Lebih luas lagi, Ginekolog di Lititz, Pennsylvania, Kate Shkodzik memaparkan data kelahiran dari 76 negara berkembang menunjukkan rata-rata 13,6 persen bayi kembar lahir per 1.000 kelahiran.

Melihat angka tersebut, sangat wajar jika ibu-ibu yang membaca tulisan ini berharap ingin mempunyai anak kembar. Peluangnya cukup besar.

Meski demikian, yang namanya rezeki, anak, jodoh, dan maut itu hanya Allah SWT yang menentukan. Setuju buk ibuk? Kita hanya bisa berikhtiar dan berdoa.

Peluang Hamil Anak Kembar

Ada dua jenis kembar di dunia ini, yaitu identik dan non-identik (fraternal). Kembar identik terbentuk ketika satu sel telur dibuahi satu sperma, kemudian membelah menjadi dua embrio terpisah.

Baca Juga: Pertama Kali Dikabari Hamil Kembar

Kembar identik bisa jadi hanya memiliki satu plasenta dan satu kantong ketuban, atau satu plasenta dan dua kantong ketuban.

Kembar non-identik terbentuk dari dua sel telur dibuahi dua sperma. Kembar non-identik memiliki plasenta sendiri-sendiri, juga komposisi genetik sendiri yang unik. Nah, Rashif dan Rangin masuk kategori kedua.

Baca Juga: Cerita Lahiran Kembar Mainaka

Faktor apa saja yang meningkatkan peluang bunda bisa hamil kembar?

1. Riwayat kembar

Jika ada keluarga pasangan memiliki riwayat keturunan kembar, peluang bunda hamil anak kembar lebih besar. Peluangnya lebih tinggi lagi jika keturunan tersebut datang dari keluarga bunda.

Keluarga suami mungkin memiliki banyak anak kembar, namun kondisi ini sama sekali tak akan meningkatkan peluang bunda memiliki anak kembar. Jadi, garis keturunannya dilihat dari perempuan rupanya.

2. Usia

Penelitian menunjukkan perempuan berusia di atas 30 tahun atau 35 tahun berpeluang lebih tinggi hamil kembar non-identik. Saya merasa saya masuk golongan kedua ini.

Usia saya saat hamil kembar adalah 32 tahun. Keluarga ibu saya memiliki riwayat kembar, tapi kedekatannya cukup jauh, yaitu anak dari adik nenek saya. Jauh banget kan? Hihihi. Dokter saya juga bilang, perempuan yang tidak ada riwayat kembar pun, jika hamil tua tetap bisa berpeluang hamil kembar.

Konon katanya, indung telur perempuan berusia di atas 30 tahun bisa melepas dua sel telur sekaligus setiap bulannya. Mereka juga memiliki kadar hormon follicle-stimulating hormone (FSH) tinggi.

FSH adalah hormon yang mendukung perkembangan sel telur di ovarium sebelum dilepaskan. Saat kadar FSH tinggi, ovarium dirangsang melepaskan lebih dari satu sel telur, sehingga menghasilkan kehamilan kembar.

3. Tinggi dan berat badan

Studi menemukan perempuan dengan tinggi rata-rata 164,8 cm cm lebih mungkin hamil kembar daripada perempuan dengan tinggi rata-rata 161,8 cm.

Alasan pastinya belum jelas. Namun, sebuah teori menyebutkan orang bertubuh tinggi biasanya menerima asupan nutrisi lebih baik.

Perempuan dengan indeks massa tubuh (BMI) di atas 30 cenderung mengandung anak kembar dibanding perempuan dengan BMI di bawah itu.

Kondisinya kok ironis ya? Bukankah BMI di atas 30 termasuk golongan obesitas?

Jawabannya, lemak ekstra dalam tubuh dapat meningkatkan kadar estrogen. Tingginya kadar estrogen akan menstimulasi ovarium sehingga melepas lebih dari satu indung telur.

4. Jumlah anak

Perempuan yang sering hamil, atau dengan kata lain telah memiliki beberapa anak berpeluang hamil kembar lebih besar di kehamilan berikutnya.

5. Aktivitas menyusui

Ibu hamil saat sedang menyusui cenderung mengandung anak kembar. Memang benar, menyusui akan menekan hormon kesuburan dan mencegah kehamilan, khususnya enam bulan pertama. Namun, jika si ibu tiba-tiba hamil, bisa mungkin memiliki anak kembar.

Peluang perempuan menyusui memiliki anak kembar mencapai 11,4 persen ketimbang perempuan tidak menyusui.

6. Diet

Perempuan yang rajin minum susu atau mengonsumsi produk susu lebih mungkin mengandung anak kembar. Ini karena hormon pertumbuhan yang terkandung dalam susu bisa memengaruhi hormon yang berperan untuk kehamilan.

Keenam faktor di atas berlaku untuk kondisi hamil kembar alami. Ada juga cara modern untuk memiliki anak kembar, yaitu dengan terapi kesuburan, seperti in vitro fertilisation (IVF) atau bayi tabung.

Siapa sih yang tidak tertarik mempunyai anak kembar? Apalagi pasangan yang mendamba anak sejak lama. Namun, pilihan terbaik adalah memiliki bayi sehat, tidak peduli itu hamil tunggal atau hamil kembar.

Hal yang perlu digarisbawahi adalah kehamilan kembar berisiko lebih tinggi dari kehamilan tunggal. Perawatan intensif selama kehamilan diperlukan untuk mengurangi risiko komplikasi. Ikuti saran dokter dan selalu berkonsultasi dengan ahli terkait kehamilan kembar.

Advertisements

One thought on “Ingin Punya Anak Kembar, Mungkin Gak Sih?

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.