Review The Tale of Rose
Review The Tale of Rose

Nggak semua perempuan memulai hidup dari luka. Sebagian justru memulainya dengan cahaya. Seperti Huang Yimei dalam “The Tale of Rose.” Dia lahir dan tumbuh dalam keluarga yang mencintainya.

Ia dibesarkan tanpa rasa takut menjadi diri sendiri. Berani, bebas, dan percaya bahwa dunia selalu punya ruang untuk perempuan yang tahu apa yang dia mau.

Cantik? Iya. Pintar? Jelas. Namun yang paling menonjol dari Huang Yimei bukanlah wajahnya, melainkan caranya menjalani hidup. Dia dicintai banyak lelaki, tapi dia pada akhirnya memilih belajar mencintai hidupnya sendiri.

Sinopsis The Tale of Rose

Huang Yimei (diperankan Liu Yifei) adalah kembang kampus, mahasiswa Art History di Academy of Fine Arts. Dia bukan cuma cantik, tapi punya kecerdasan dan kepercayaan diri yang bikin orang gampang kagum sama dia. Sayangnya, kecantikan itu bukan privilage doang, tapi juga masalah untuknya.

Cerita bermula dari mentornya, Zhou Shihui, yang mulai kurang ajar dan melewati batas. Zhou Shihui ini bukan pemuda lajang ya, dia bertunangan. 

Entah karena Huang Yimei terlalu memikat atau Zhou Shihui yang terlalu obsesif, dia membatalkan tunangannya, dan si mantan tunangan menuduh Huang Yimei menggoda dan merebut kekasihnya.

Hebatnya, Huang Yimei nggak main drama cewek-cewek kebanyakan. Dia nggak ngerendahin si tunangan Zhou Shihui, nggak berantem ala sinetron. Huang Yimei malah menyadarkan perempuan ini bahwa Zhou Shihui nggak pantas jadi teman seumur hidup dengan sifat yang begitu.

Di sisi lain, Zhou Shihui masih ngeyel. Dia tetap mengejar Huang Yimei dan mendapat pengakuan cinta darinya.

Fase Bekerja dan Cinta Pertama, Zhuang Guodong

Setelah lulus, Huang Yimei diterima bekerja di Cyan Art, semacam tempat kerja yang nyambung dengan dunia kurasi, galeri, kolektor, dan event seni. Ini bukan pekerjaan yang “glamor doang” tapi menuntut keterampilan Huang Yimei agar bekerja lincah, peka, dan bisa membaca situasi.

Salah satu ujian awalnya adlaah menyusup ke sebuah banquet di China World Hotel untuk mengatur pertemuan antara bosnya, Tina, dengan seorang kolektor misterius bernama Mr. Teng.

Pada fase ini, Huang Yimei membuktikan bahwa dia bukan sekadar gadis cantik, tapi punya otak dan jago negosiasi. Dia bisa menahan grogi. Dan dia tahu cara “bermain” di lingkungan elite tanpa kehilangan martabat.

Pen Guanying sebagai Zhang Guodong
Pen Guanying sebagai Zhang Guodong

Pada momen inilah Huang Yimei bertemu orang yang kelak menjadi cinta pertamanya yang bener-bener mengubah arah hidupnya ke depan, yaitu Zhuang Guodong (diperankan Pen Guanying), yang tak lain adalah juru bicara Mr. Teng.

Sukses bernegosiasi dengan Mr. Teng, Huang Yimei dan Zhuang Guodong masuk tim proyek Sino-French Exchange Season, dan di situlah kedekatannya dengan Zhuang Guodong dimulai.

Zhuang Guodong ini tipe pria yang karismatik, ambisius, pintar, punya selera hidup kelas atas, dan punya aura mahal. Mereka saling jatuh cinta dalam waktu singkat.

Kakak Huang Yimei, Huang Zhenhua, langsung curiga sama adiknya. Dia menasihati Huang Yimei, jangan gampang percaya sama Zhuang Guodong, karena tipe cowok kayak gini biasanya “pandai mengatur jarak” dan bisa bikin Huang Yimei terluka.

Tapi Huang Yimei, ya Huang Yimei, dia jalan terus. Dia nggak suka hidup dengan rasa takut.

Kisah cinta Huang Yimei dan Zhuang Guodong masuk ke tahap manis-manisnya. Huang Yimei yang biasanya tenang jadi lebih impulsif. Zhuang Guodong yang dingin jadi terlihat punya sisi lembut. Mereka kayak pasangan yang sama-sama yakin bahwa hubungan mereka ini emang serius.

Sampai akhirnya konflik besar datang, yaitu Paris. Zhuang Guodong harus trip ke Paris, yang Huang Yimei kira liburan atau perjalanan kerja yang bisa mereka nikmati bareng. Tapi ternyata itu bagian dari rencana karier jangka menengah Zhuang Guodong di Prancis, dan dia menyembunyikan maksud sebenarnya dari sang pacar.

Huang Yimei marah besar. Dia nggak masalah Zhuang Guodong melanjutkan karier lama di Paris. Yang dia persoalkan adalah kenapa Zhuang Guodong ini selalu mengabari Huang Yimei belakangan?

Mereka bertengkar, keras. Pertengkaran dua orang dewasa yang punya cara pandang dan prinsip hidup berbeda. 

Setelah putus, dua keluarga “berusaha bantu” dengan cara masing-masing. Ayah Zhuang Guodong mengundang Huang Yimei makan hotpot, ngobrol dari hati ke hati. Kakak Huang Yimei, Huang Zhenhua ngajak Zhuang Guodong main basket, juga ngobrol serius.

Pertanyaannya sama, “Kalian tuh sebenarnya masih sama-sama suka nggak?”

Jawaban Zhuang Guodong dan Huang Yimei ternyata sama. YA, mereka masih saling suka, saling cinta. Akan tetapi, rasa suka dan cinta saja nggak cukup.

Mereka sempat coba lanjut lagi, tapi hubungan jadi sulit karena jarak dan temperamen. Ada momen Huang Yimei bahkan nekat, ingin resign atau ambil cuti panjang demi bisa ke Paris menyusul Zhuang Guodong.

Tina mengajak Huang Yimei ikut charity event (untuk anak autis bernama Hu Ke Jia) tapi Huang Yimei menolak karena pikirannya udah ke Paris. Ini nunjukin betapa Huang Yimei bisa sangat “all-in” kalau urusan cinta.

Akan tetapi, tamparan realitas paling keras datang saat Huang Yimei makan malam di rumah keluarga Zhuang Guodong, yang di-host ibu si laki-laki. Di situ Huang Yimei sadar bahwa mereka datang dari dua dunia berbeda.

Dunia Zhuang Guodong penuh ambisi karier, koneksi, status, kontrol, masa depan yang sudah dipetakan oleh ibunya. Sementara dunia Huang Yimei penuh kebebasan, penuh rasa, hidup yang mengalir. Akhirnya setelah pulang dari Paris, Huang Yimei yang memutuskan bahwa hubungannya dengan Zhuang Guodong SELESAI. Mereka putus baik-baik, bukan karena benci, tetapi karena sadar prinsip hidup mereka memang beda sejak awal, dan mereka pasti capek kalau terus begini.

Fase Kuliah S2 dan Bertemu Fang Xiewen

Tahun 2003, Huang Yimei masuk S2 Psikologi di Fudan University, Shanghai. Ini menarik ya. Dia nyeberang kuliah pascasarjana dari art history ke psikologi, seolah Huang Yimei mulai “mencari penjelasan tentang perasaan manusia” dan mungkin juga tentang dirinya sendiri.

Waktu masa orientasi kampus, Huang Yimei bertemu dengan seorang senior bernama Fang Xiewen (diperankan Lin Gengxin) yang ternyata suka sama dia. Huang Yimei melihat Fang Xiewen ini seperti tipe cowok yang selalu siap buat dia.

Fang Xiewen memperhatikan diam-diam Huang Yimei, cari tahu hal kecil tentang perempuan yang dia suka, juga hadir tanpa banyak gaya. 

Huang Yimei juga menemukan anak kucing, ia namai Diu Diu. Fang Xiewen memanfaatkan momen ini untuk makin dekat dengan Huang Yimei. Di sini Huang Yimei merasa lagi bahwa dia nggak sendirian.

Ada konflik kecil juga, perempuan bernama Hu Lin, yang sudah lama suka Fang Xiewen, dan merasa Huang Yimei merebutnya. Akan tetapi, Huang Yimei dan Fang Xiewen jalan terus.

Ibunya Huang Yimei datang ke Shanghai dan Fang Xiewen tampil super ideal. Dia sopan, suka membantu, perhatian. Ibunya sampai terkesan dan mengundang Fang Xiewen makan malam.

Lin Gengxin sebagai Fang Xiewen
Lin Gengxin sebagai Fang Xiewen

Hubungan Huang Yimei dan Fang Xiewen kemudian resmi setelah momen ulang tahun Fang Xiewen. Huang Yimei merayakannya, dan Fang Xiewen spontan mencium Huang Yimei. Sejak itu, mereka pacaran.

Setelah lulus, Huang Yimei kerja di penerbitan dan bahkan punya ide visioner dengan mengembangkan e-book. Ini menggambarkan Huang Yimei sebagai perempuan yang selalu ingin maju.

Di sisi lain, startup yang dibangun Fang Xiewen jatuh. Dia merasa kehilangan semuanya dan dalam kondisi rapuh. Huang Yimei melakukan hal yang besar, dia mengeluarkan semua tabungannya untuk mendukung Fang Xiewen membangun startup baru, sampai akhirnya berdiri Yifang Space di kantor sederhana.

Sampai di sini, Fang Xiewen dan Huang Yimei memang terkesan pasangan yang sehat. Mereka support satu sama lain dalam suka dan duka.

Tapi masalah datang dari sisi Fang Xiewen, bernama insecurity. Ketika Fang Xiewen tahu Huang Yimei makan malam dengan Zhuang Guodong, dia gelisah, curiga, dan takut kehilangan. Apalagi setelah dia tahu latar belakang Zhuang Guodong yang elite.

Secepat kilat, Fang Xiewen langsung mengumpulkan barang-barangnya dan… melamar Huang Yimei. Dia melakukannya tergesa-gesa karena ini selekasnya “memiliki” Huang Yimei agar merasa aman.

Huang Yimei bersedia menikah dengan Fang Xiewen. Dia terlebih dahulu jujur ke Fang Xiewen tentang kisah asmaranya di masa lalu, kemudian juga bilang ke Zhuang Guodong bahwa dia akan menikah dengan Fang Xiewen.

Zhuang Guodong berusaha menggagalkan pernikahan Huang Yimei. Dia mencari Huang Yimei sampai ke hotel. Dari sini, kamu bisa merasakan bahwa “cinta pertama” itu tidak pernah benar-benar hilang.

Fase Menikah, Bahagia Sebentar

Huang Yimei hamil. Mereka sempat bahagia sebagai suami istri. Huang Yimei tetap punya drive kerja dengan membangun departemen distribusi e-book dengan energi besar. Sayangnya, Fang Xiewen mulai berubah setelah bertemu Zhuang Guodong.

Dia ingin membeli rumah besar dan memaksa ibunya tinggal bersamanya. Bukan karena sepenuhnya ingin menjadi anak berbakti, melainkan menjadikan ibunya sebagai mata-mata yang mengawasi tindak-tanduk Huang Yimei. 

Huang Yimei mulai merasa suaminya terobsesi ingin membuktikan ia “lebih” dari Zhuang Guodong. Ibu Fang Xiewen mengawasi Huang Yimei seperti kriminal. Tiap gerak-gerik ditanya. Tiap keputusan diintervensi. Dan Fang Xiewen, alih-alih melindungi istrinya, malah terus-terusan berpihak ke ibunya.

Ada momen Huang Yimei merasakan gerakan janinnya dalam perut saat sedang dalam bus. Momen kecil tapi emosional seperti itu membuatnya mencoba memaafkan semuanya. 

Huang Yimei dan putrinya dalam "The Tale of Rose"
Huang Yimei dan putrinya dalam “The Tale of Rose”

Fang Xiewen terus minta maaf atas sikapnya yang obsesif. Huang Yimei pun berkali-kali memaafkan. Akan tetapi, luka-luka itu terus terkumpul.

Puncaknya adalah Fang Xiewen secara tidak sengaja menemukan email offer letter, kesempatan Huang Yimei bekerja di tempat yang lebih menjanjikan. Apa yang dilakukan Fang Xiewen? Dia menghapus email itu, bahkan menelepon si pengirim email bahwa Huang Yimei hamil, tidak bisa menerima pekerjaan itu.

Fang Xiewen bukan lagi sebatas insecure di sini. Dia sudah masuk ke ranah menghancurkan masa depan pasangan demi mengunci pasangan.

Huang Yimei langsung menggugat cerai Fang Xiewen. Gugatan pertama ditolak pengadilan, tapi dia tidak menyerah. Dia terus berjuang sampai berhasil. Dan akhirnya Huang Yimei beneran lepas dari pernikahan itu.

Fase Bangkit dan Bertemu Cinta Sejati Fu Jiaming

Huang Yimei kembali ke dunia seni. Di Manman Art Gallery, lukisannya dipasangkan dengan musik rock oleh seseorang bernama Fu Jiaming (diperankan Wallace Huo).

Huang Yimei datang ke Elephant Live House, dan begitu ia melihat Fu Jiaming, dia langsung tahu, “ini dia.” Hubungan mereka mirip ketika Huang Yimei bertemu cinta pertamanya dulu, tapi kali ini lebih sadar, lebih dewasa, bukan sekadar nafsu.

Mereka berdua tuh kayak dua jiwa yang nyambung di level yang nggak semua orang ngerti. Huang Yimei dan Fu Jiaming makin dekat lewat momen-momen ngobrol yang klik, petualangan kecil, makan hotpot pedas bareng, hiking bareng, sampai juga akrab dengan putrinya.

Sayangnya takdir tak mengizinkan cinta mereka berjalan sebagaimana mestinya. Fu Jiaming rupanya divonis kanker stadium akhir. Sudah tidak ada lagi cara menyelamatkannya.

Wallace Huo sebagai Fu Jiaming
Wallace Huo sebagai Fu Jiaming

Ada momen yang menggetarkan, ketika Fu Jiaming mengumumkan ia sudah mendaftar sebagai donor organ. Ini memicu emosi orang-orang, karena itu terdengar seperti dia sudah siap pergi.

Dua sejoli itu melakukan perjalanan naik gunung untuk terakhir kalinya. Meski hujan deras, dan situasi mendadak kacau, Huang Yimei tetap menemani Fu Jiaming sampai akhir hayatnya.

Setelah kepergian Fu Jiaming, Huang Yimei sempat bertemu lagi dengan Zhuang Guodong, dan akhirnya mereka makan hidangan yang dulu mereka sukai pada masa pacaran, mussels braised in white wine. 

Hidup mereka sudah jauh berjalan, tapi memori lama tetap bisa dikenang. Namun, Huang Yimei untuk kesekian kalinya tidak memberi kesempatan itu pada Zhuang Guodong dan tetap memilih dirinya sendiri.

Fase Terbang, He Xi Muncul

Masuklah He Xi (diperankan Lin Yi), seorang pilot muda yang awalnya cuma instruktur terbang putri Huang Yimei. Kepada He Xi, Huang Yimei bercerita bahwa ia trauma terkait penerbangan tapi tetap ingin ambil lisensi pilot. He Xi pun menawarkan diri jadi instrukturnya.

Hubungan mereka tidak diseret jadi romansa klise. Mereka sempat merasakan debar-debar cinta itu, tetapi Huang Yimei dan He Xi sama-sama memilih jalur lebih realistis. Ada ketertarikan, ada kedekatan, ada kemungkinan, tapi Huang Yimei sekarang berada di fase hidup yang berbeda.

Huang Yimei sudah tidak lagi hidup dalam pusaran orang-orang yang ingin “memiliki” dia. Dia hidup di pusaran yang lebih penting, yaitu memilih arah hidupnya sendiri.

Lin Yi sebagai He Xi
Lin Yi sebagai He Xi

Review The Tale of Rose

“The Tale of Rose” adalah drama tentang perempuan yang hidupnya tidak berhenti di satu cinta. Serial ini tayang 38 episode di CCTV dan WeTV, periode 8 Juni 2024 sampai 22 Juni 2024.

Dari awal, drama ini sudah menanamkan satu gagasan bahwa Huang Yimei (Rose) bukan tipe karakter yang ending-nya nanti bakal jelas dia akhirnya sama siapa. Dia didefinisikan sebagai female lead yang belajar mencintai, terluka, bangkit, memilih, salah lagi, lalu memilih ulang, sambil tetap berjalan di jalur hidupnya sendiri.

Buat yang suka drama modern dengan rasa yang hidup banget, “The Tale of Rose” layak menjadi tontonan kamu. Nonton ini tuh, buat aku pribadi, rasanya kayak ngikutin album foto 15 tahun hidup seorang Huang Yifei. Mulai dari fase culunnya, fase cantiknya, fase nekat, fase pengen stabil, fase “kok gue begini amat ya” sampai fase “oh ternyata gue bisa bangkit lagi.”

Huang Yimei dan empat lelaki dalam hidupnya
Huang Yimei dan empat lelaki dalam hidupnya

Cantik dan Bernilai

Semua juga tahu, Liu Yifei sebagai Huang Yimei punya aura yang memang susah ditandingi. Dan drama ini sadar betul dengan itu. Tapi yang bikin menarik, kecantikannya sebagai karakter utama nggak dipakai semata-mata jadi pemanis, melainkan jadi “variabel sosial” yang memengaruhi hidupnya.

Cantik bukan cuma privilege buat Huang Yimei. Orang-orang punya proyeksi terhadap dia. Orang-orang mengidealkan dia, menuntutnya punya figur baik sesuai bayangan mereka, bakan menganggap Huang Yimei pasti gampang dapat segalanya dengan wajahnya.

Huang Yimei juga tumbuh dalam keluarga yang suportif, membuat dia punya satu fondasi penting bernama self-worth. Bukan berarti dia nggak pernah goyah dalam hidupnya. Justru serunya di drama ini, Huang Yimei memang kuat, tapi dia nggak kebal dari kecewa dan sakit hati.

Kadang dia impulsif, kadang egonya tinggi, kadang terlalu ngandalin perasaan, kadang terlalu yakin “gue bisa benerin ini” yang, ya ampun, relatable banget.

Liu Yifei sebagai Huang Yimei
Liu Yifei sebagai Huang Yimei

Empat Bab Cinta Huang Yimei

“The Tale of Rose” ini enaknya dibaca sebagai empat fase besar, karena memang Huang Yimei memang punya beberapa love line yang berbeda. Mulai dari Zhuang Guodong sampai He Xi, masing-masing bukan sekadar “pacar baru” tapi semacam cermin yang memantulkan sisi tertentu dari Huang Yimei.

Sejak awal, Huang Yimei sudah dikelilingi banyak pengagum. Ini fase di mana dia seperti “mawar dalam kaca” yang hidupnya cukup terlindungi.

Masuklah bab pertamanya dengan Zhuang Guodong. Dinamika mereka itu… gimana ya… kayak dua orang yang sama-sama punya ego, sama-sama punya ambisi, sama-sama punya intensitas. Mereka bisa sangat romantis, tapi juga cepat meledak.

Yang aku suka dari fase ini, “The Tale of Rose” nggak mengglorifikasi toxic relationship. Momen antara Huang Yimei dan Zhuang Guodong ini kebanyakan menunjukkan mereka berdua memang saling suka, tapi mereka belum saling mengerti.

Sampai pada satu titik, Huang Yimei mulai sadar bahwa mereka berasal dari “dua dunia” yang berbeda. Bukan cuma soal kaya-miskin, tapi soal nilai hidup, ritme, dan cara memandang masa depan.

Fase Zhuang Guodong ini menurutku adalah fase di mana Huang Yimei belajar untuk berani jatuh cinta, tapi cinta itu juga bisa membuat kamu kehilangan kontrol diri. Dan yang paling nyesek, cinta nggak selalu cukup untuk menyatukan dua orang.

Liu Yifei dan Peng Guanying punya chemistry yang terasa dewasa, bukan puppy love. Mereka keliatan seperti dua orang yang sama-sama hidup di relasi itu. Huang Yimei-nya impulsif, Zhuang Guodong-nya punya karisma dan sisi manipulatif yang halus.

Chemistry mereka kuat karena adegan mereka banyak bertumpu pada tension (bukan sekadar dialog manis), ada tarik-ulur yang bikin penonton gemas, dan vibe “gue pengen lo, tapi gue gak mau kalah dari lo” itu dapet.

Huang Yimei dan Zhang Guodong
Huang Yimei dan Zhang Guodong

Kalau Zhuang Guodong adalah badai, maka Fang Xiewen datang seperti “rumah” untuk Huang Yimei. Tapi ternyata rumah ini… kamarnya sempit banget.

Bab kedua ini paling bikin penonton paling naik pitam. Banyak yang benci Fang Xiewen, lantaran melihat dia pada dasarnya nggak jahat, tapi manusia yang insecurity-nya nggak bisa diobatin. Dia berubah menjadi sosok diktator yang mengontrol istri.

Awalnya dia kelihatan seperti pilihan aman karena perhatian, konsisten, mau hadir. Ditambah lagi, Huang Yimei juga sedang berada di fase ingin menata hidupnya, dia mau kuliah lanjut, kerja, ingin stabil. Tapi begitu menikah, drama suaminya pelan-pelan terungkap.

Fang Xiewen menjelma menjadi pasangan yang merasa “memiliki” istri setelah menikah. Belum lagi ibu mertua yang masuk terlalu jauh ke dalam urusan rumah tangga. Ada juga standar ganda dan kontrol penuh berkedok “khawatir dan mau ngelindungin istri.” Bullshit!!!

Aku puas banget sama ending hubungan ini, sebab Huang Yimei tidak “diselamatkan” siapa pun. Dia menyelamatkan dirinya sendiri. Dia berani bercerai, berani menghadapi stigma, dan berani memperjuangkan haknya sebagai ibu.

Akting Lin Gengxin di sini gila sih! Lin Gengxin punya kemampuan membuat karakter yang menyebalkan tapi tetap manusiawi banget. Dia bisa mainin sayang, minder, posesif, defensif, lalu jadi controlling, tanpa terasa seperti melakukan switch karakter mendadak.

Dan Liu Yifei, di fase pernikahan ini, memerankan Huang Yimei yang menciut, mau ngalah demi pasangan, tapi pelan-pelan tetap lanjut menata hidup. Matanya tetap berbinar penuh semangat, meski tubuhnya seperti menahan beban tiap hari. Itu akting yang subtle dan menyakitkan.

Huang Yimei dan Fang Xiewen
Huang Yimei dan Fang Xiewen

Pas masuk babak ketiga, Fu Jiaming. Aduh, ini paling bikin aku nangis tiga hari tiga malam kayaknya. Huang Yimei ketemu soulmate, tapi hubungan mereka seperti komet. Singkat banget.

Fase ini terasa seperti Huang Yimei kembali jadi Huang Yimei yang dulu. Dia bukan istri siapa-siapa, bukan menantu siapa-siapa, bukan perempuan yang harus mengalah demi rumah tangganya damai. Ini benar-benar Huang Yimei yang punya ruang untuk bernapas lagi.

Fu Jiaming itu tipikal karakter yang seperti bebas, artistik, filosofis, dan punya cara melihat hidup yang bikin Huang Yimei merasa “akhirnya ada orang yang satu frekuensi” dengannya.

Ada energi jiwa ketemu jiwa, bukan cuma ketemu laki-laki baik, tapi orang yang mengerti isi kepalanya tanpa perlu dia ngomong. Dan ya… fase ini juga membawa kesedihan karena salah satu dari mereka harus meninggal dunia. Cinta yang indah, tetapi waktu tidak memihak.

Wallace Huo memancarkan aura aktor senior yang nggak kaleng-kaleng. Chemistry mereka lebih lembut daripada Huang Yimei dengan Zhuang Guodong, bahkan lebih dalam. Chemistry mereka bikin dada sesak.

Huang Yimei dan Fu Jiaming
Huang Yimei dan Fu Jiaming

Terakhir, bab empat, ada He Xi. Banyak orang merasa He Xi ini cuma sosok tempelan doang, tapi menurutku fungsinya menurutku bukan untuk jadi endgame Huang Yimei.

He Xi adalah simbol fase hidup ketika Huang Yimei sudah tidak lagi mengejar cinta untuk menambal luka. Di fase ini, Huang Yimei sudah punya segalanya, mulai dari pengalaman, kegagalan, kebebasan, dan pemahaman bahwa kebahagiaan itu bukan satu bentuk saja.

He Xi hadir seperti kemungkinan baru, bukan takdir yang harus dikejar. Aku suka banget open ending kayak gini. Sebab inti “The Tale of Rose” itu bukan soal Huang Yimei harus pilih siapa, tapi Huang Yimei pilih dirinya dulu, baru yang lain nyusul.

Huang Yimei dan He Xi
Huang Yimei dan He Xi

Chemistry Liu Yifei dengan Para Lawan Main

Ini salah satu kekuatan Liu Yifei yang bikin dia masuk jajaran top aktris China favoritku, bersamaan dengan Zhao Liying, Zhou Lusi, dan sekarang yang paling junior, Lu Yuxiao. Liu Yifei itu bisa bikin chemistry yang spesifik tergantung pasangannya siapa.

Dengan Peng Guanying (Zhuang Guodong), chemistry-nya panas, meledak, penuh ego, cinta pertama yang bikin kamu lupa diri.

Dengan Lin Gengxin (Fang Xiewen), chemistry-nya hangat di awal, lalu makin pengap, kamu bisa merasakan transisi dari dia ngerasa aman banget ke ngerasa terjebak.

Dengan Wallace Huo (Fu Jiaming), chemistry-nya tenang tapi magnetik, kayak dua orang yang tidak butuh banyak kata. Dan terakhir, dengan Lin Yi (He Xi), chemistry-nya fresh dan ringan, lembut dan penuh harapan.

Buatku ini pencapaian akting Liu Yifei, bisa memainkan spektrum Huang Yimei yang berubah-ubah.

Second Couple dan Karakter Pendukung

Second couple “The Tale of Rose” diam-diam jadi tulang punggung yang mendukung cerita ini. Selain Huang Yimei, serial ini hidup karena kisah cinta sang kakak, Huang Zhenhua (diperankan Tong Dawei). Abangnya Huang Yimei ini bukan cuma protektif sama adeknya, tapi dia juga pelindung, juga manusia yang juga punya luka serta cinta sendiri.

Akting Tong Dawei itu natural banget. Komedinya dapet, seriusnya dapet. Dia terasa seperti keluarga beneran buat Liu Yifei.

Tong Dangwei sebagai Huang Zhenhua, kakak Huang Yimei.
Tong Dangwei sebagai Huang Zhenhua, kakak Huang Yimei.

Su Gengsheng (diperankan Wan Qian) adalah tipe karakter yang kalau dipotong, “The Tale of Rose” bakal kehilangan kedalaman ceritanya. Dia membawa tema trauma, masa lalu, dan penyembuhan di sini.

Chemistry second couple, Zhenhua dan Gengsheng, sering disebut justru lebih “sehat” dibanding beberapa hubungan Huang Yimei. Aku rasa sangat masuk akal, mengingat hubungan mereka berdua dibangun dari proses dewasa.

Wan Qian sebagai Su Gengsheng
Wan Qian sebagai Su Gengsheng

“The Tale of Rose” sangat apik mengangkat kisah perempuan dewasa yang berani berganti jalur kehidupan berkali-kali. Sangat mature mengajarkan kita tentang perempuan yang berani memilih sebuah keputusan hidup, lalu berani menanggung konsekuensinya.

“The Tale of Rose” juga mengajarkan kita bahwa pernikahan bukan akhir cerita. Menikah bisa jadi awal neraka kecil kehidupan, dan keluar dari sana bukan berarti kegagalan.

Soal memilih karier atau cinta, nggak ada yang benar di sini. “The Tale of Rose” mengajarkan kita menjawab, “apa yang kamu korbankan? Apakah kamu siap?”

Punya keluarga suportif itu privilege besar. Drama ini jelas menunjukkan betapa Huang Yimei bisa bangkit karena keluarganya jadi jaring pengaman emosional, mulai dari ayahnya, ibunya, abangnya, sampai Gengsheng yang akhirnya menjadi kakak iparnya.

Kalau ditanya apa kurangnya serial ini? Nyaris nggak ada. Tapi memang aku sempat capek bagian pernikahan Huang Yimei dan Fang Xiewen, sebab menurutku konfliknya repetitif. Sayang, bertengkar, minta maaf, sayang lagi, lalu bertengkar lagi, gitu aja terus. Secara realistis masuk, tapi secara tontonan bisa melelahkan.

Kalau kamu suka drama modern yang mengangkat perjalanan hidup perempuan, romance yang tidak berhenti di tahap sekadar jadian, dan kamu juga cari serial yang karakternya belajar dari kesalahan, akting kuat (terutama Liu Yifei dan Lin Gengxin), maka “The Tale of Rose” itu layak kamu tonton.

Tapi kalau kamu maunya cuma cari romcom ringan, pasangan utamanya sama dari awal sampai akhir, konflik cepat selesai, kamu mungkin akan frustrasi nonton ini. Hehehe. Silakan memilih!

Certified author (BNSP), eks-jurnalis ekonomi dan lingkungan. Kini menjadi full-time mom yang juga berkarya sebagai novelis, blogger, dan content writer. Founder Rimbawan Menulis (Rimbalis), komunitas yang aktif mengeksplorasi dunia literasi dan isu-isu lingkungan.

Share:

Leave a Comment