Review drama china Blossom of Power
Review drama china Blossom of Power

Drama china kostum agaknya tidak pernah jauh dari tiga hal, yaitu perebutan kekuasaan, keluarga bangsawan, dan intrik istana. Formula itu sudah dipakai berkali-kali. Tinggal bagaimana penulis skrip-nya mengolah supaya penonton tidak merasa sedang menonton cerita yang sama untuk kesekian kalinya.

Awalnya kukira “Blossom of Power” juga akan mengikuti pola itu. Trailer-nya memang menjanjikan banyak hal. Visualnya cantik, skala produksinya terlihat besar, lalu ada nama Meng Ziyi dan He Yu sebagai pemeran utama. Sulit rasanya untuk tidak penasaran.

Alasan utamaku sendiri menekan tombol play drama china WeTV ini adalah He Yu. Setelah melihat aktingnya di “Speed and Love” (2025), aku memang menunggu-nunggu kapan dia kembali bermain serial berbeda, dalam hal ini drama kostum. Sementara Meng Ziyi juga termasuk aktris yang selalu berhasil menarik perhatianku sejak “The Untamed” (2019). 

Wajar dong ketika mereka berdua dipasangkan dalam satu drama, ekspektasiku otomatis naik.

Untungnya, lima episode pertama benar-benar menyenangkan. Aku sempat berniat menonton satu atau dua episode saja malam itu. Eh, tahu-tahunya terus aja lanjut ke Next Episode. Sampai artikel ini kutulis, jumlah episode yang kutonton sudah mencapai 30.

Sinopsis “Blossom of Power”

Kalau dilihat dari judulnya sih puitis banget. Hehehe. Ternyata oh ternyata, cerita “Blossom of Power” ini rupanya cukup kelam loh.

Gu Qingzhi (diperankan Meng Ziyi) kehilangan hampir seluruh hidupnya akibat perebutan kekuasaan. Ketika kehidupannya berakhir tragis, ia justru memperoleh kesempatan kedua yang tidak pernah dibayangkan sebelumnya.

Ia hidup kembali dalam tubuh Shen Xihe, seorang putri daerah dari wilayah barat laut yang memiliki posisi politik sangat penting di kerajaan. Dipanggil juga Putri Zhao Ning.

Kesempatan kedua itu tidak ia gunakan untuk sekadar bertahan hidup. Gu Qingzhi yang kini menjadi Shen Xihe menyusun tujuan jauh lebih besar, yaitu mengubah takdirnya sendiri sekaligus membongkar konspirasi yang pernah menghancurkan hidupnya.

Di sisi lain ada Xiao Huayong (diperankan He Yu), Putra Mahkota yang selama ini dikenal lemah karena penyakitnya. Kendati putra kesayangan raja, banyak orang memandangnya sebelah mata. Padahal justru dialah salah satu pemain paling berbahaya di balik papan catur politik istana.

Dinamika hubungan Shen Xihe dan Putra Mahkota sudah menarik sejak awal. Keduanya sama-sama lihai membaca situasi, sama-sama pandai menyimpan niat sebenarnya, lalu perlahan mulai menyadari bahwa mereka saling membutuhkan satu sama lain.

Setidaknya, itulah arah yang ingin dibangun drama ini.

Chemistry He Yu dan Meng Ziyi di Blossom of Power
Chemistry He Yu dan Meng Ziyi di Blossom of Power

Review “Blossom of Power”

Seperti yang kutulis di awal tadi, alasan terbesarku mengikuti “Blossom of Power” sampai sekarang karena dua karakter utamanya.

Aku cukup sering menemukan drama china yang terus-menerus mengatakan tokohnya jenius, tetapi penonton tidak pernah benar-benar melihat kecerdasan itu bekerja. Semua orang di sekitar mereka hanya sibuk memuji.

Beda sama “Blossom of Power,” Shen Xihe dan Xiao Huayong memang sama-sama cerdas, dan itu benar-benar terlihat lewat cara mereka mengambil keputusan. Mereka jarang bereaksi spontan. Hampir setiap percakapan mereka memiliki lapisan makna lain, seolah masing-masing sedang menguji lawan bicaranya.

Kadang aku malah lebih menikmati dialog mereka daripada adegan aksinya. Cukup jarang terjadi di drama china berlatar sejarah yang kebanyakan kutonton.

Hubungan keduanya juga unik. Karakter He Yu dan Meng Ziyi di serial ini berada di level yang hampir setara. Persis seperti lagi nonton dua pemain catur yang sama-sama tahu langkah berikutnya, tetapi tetap berusaha menyembunyikan strategi masing-masing.

Percayalah, interaksi seperti ini selalu menyenangkan untuk ditonton.

Meng Ziyi sebagai Shen Xihe

“Blossom of Power” ini tidak perlu effort banyak untuk meyakinkan penonton bahwa Shen Xihe ini perempuan tangguh. Tanpa dialog berulang-ulang, atau adegan-adegan hebat, karakter tangguhnya itu muncul secara alami.

Contohnya, dia ini tenang banget, jarang kehilangan kendali. Bahkan ketika sedang menghadapi situasi genting, ekspresinya nyaris tidak berubah. Begitulah daya tariknya.

Shen Xihe tangguh bukan karena paling jago bertarung, melainkan karena tahu kapan harus bergerak dan kapan harus menunggu. Ia lebih sering menggunakan strategi daripada kekuatan fisik. Banyak keputusan yang diambilnya terkesan dingin, bahkan kadang kejam, tetapi masih masuk akal jika melihat latar belakang hidupnya.

Meng Ziyi sebagai Shen Xihe/ Gu Qing Zhi/ Putri Zhao Ning
Meng Ziyi sebagai Shen Xihe/ Gu Qing Zhi/ Putri Zhao Ning

Meng Ziyi menurutku cukup cocok memerankan karakter seperti ini. Ekspresinya memang tidak terlalu banyak berubah dari dulu ya, mau drama modern atau pun kostum. Hehehe. Kudengar, sebagian penonton bilang aktingnya kurang hidup. Tapi menurutku, untuk karakter yang selalu menahan emosi seperti Shen Xihe ini, Meng Ziyi pas memerankannya.

Meski begitu, aku juga mengerti kritik yang mengatakan bahwa penampilannya mulai terasa familiar. Kalau mengikuti drama-drama Meng Ziyi beberapa tahun terakhir, styling-nya memang tidak banyak berubah. Gaya rambut, riasan, bahkan aura karakternya masih mengingatkanku pada beberapa peran sebelumnya. Cantik, iya, tapi belum benar-benar memberi kejutan.

He Yu sebagai Xiao Huayong

Kalau Meng Ziyi berhasil membuat Shen Xihe terkesan misterius, He Yu membuat Xiao Huayong nyaris mustahil untuk tidak disukai. Thanks God, serial ini benar-benar selamat karena He Yu.

Xiao Huayong bukan tipe putra mahkota yang selalu tampil berwibawa. Di depan orang lain ia santai, kadang usil, bahkan sering terlihat seperti masa bodoh sama urusan politik. Tapi… begitu situasinya berubah, wajah yang sama bisa langsung memancarkan kesan dingin dan penuh perhitungan. Perubahan itu dimainkan He Yu dengan sangat halus. 

Aku paling suka adegan-adegan romantisnya. He Yu kalo flirting ke Shen Xihe yang mukanya merah malah penonton. Meninggoyyyy……!!! Tatapan matanya lebih tajam ketimbang kata-katanya.

He Yu sebagai Putra Mahkota/ Xiao Hua Yong
He Yu sebagai Putra Mahkota/ Xiao Hua Yong

Harus diakui, faktor utama yang membuat “Blossom of Power” tetap seru diikuti adalah chemistry pasangan utamanya. Shen Xihe dan Xiao Huayong ini kayak saling tarik ulur, saling menguji, saling menyembunyikan niat, kadang bekerja sama, kadang saling curiga.

Memang sih di awal agak gimanaaa gitu kesannya, sebab menurutku Xiao Huayong ini terlalu cepat bisa sebucin itu sama Shen Xihe. Bayangkan, dia rela ngasih satu-satunya harapan untuk menawar racunnya, berupa bunga sakti, untuk menyembuhkan Shen Xihe yang waktu itu terdampar di pinggir sungai.

Konsep cinta pada pandangan pertama sih tidak masalah sebenarnya. Cuma ya… menurutku kurang pas aja prosesnya. Baru episode pertama loh, penonton belum punya cukup riang untuk ikut memahami mengapa Xiao Huayong bisa begitu terikat pada Shen Xihe hanya dalam waktu singkat.

Untungnya chemistry He Yu dan Meng Ziyi di “Blossom of Power” ini cukup kuat untuk menutupi kekurangan itu. Bisa dibilang, aku sangat menikmati interaksi mereka sebagai pasangan meski logika ceritanya sedang goyah.

Menurutku hubungan mereka pasti bakal jauh lebih kuat seandainya penulis memberi waktu lebih banyak untuk membangun fondasi emosional di awal cerita. Chemistry mereka sudah ada. Tinggal naskahnya saja yang seharusnya sedikit lebih sabar membiarkan hubungan itu tumbuh.

Putra Mahkota dan Putri Zhao Ning di Blossom of Power
Putra Mahkota dan Putri Zhao Ning di Blossom of Power

Politik Menarik, tapi Kurang Menggigit

Angle politik di “Blossom of Power” ini menurutku salah satu kekurangan paling mencolok. Naskahnya itu loh, kurang greget. Padahal ya, modal drama ini cukup besar loh.

Kalian kalau lihat para pemain pendukungnya, beuh… keren semuanya. Visualnya pada cakeup dan cantik, kostumnya digarap serius, dan premisnya terdengar menjanjikan. Masalahnya mulai terasa ketika cerita bergerak lebih jauh. Di beberapa titik, aku sempat berpikir eksekusinya masih setengah jalan.

Sejak awal, “Blossom of Power” kan emang diposisikan sebagai drama politik. Istana dipenuhi intrik, para pangeran saling mengintai, sementara keluarga-keluarga besar memainkan kepentingannya masing-masing. Semua elemen itu ada.

Kalau di drama korea, ya persis seperti serial “Moon Lovers.” Bertabur pangeran ganteng. Ada sembilan anak raja kalau tidak salah. Empat di antaranya menjadi nyawa cerita bersama Putra Mahkota. Mereka adalah:

  • Pangeran Kedua (Raja Ning, diperankan Ye Zu Xin), dikenal sebagai pangeran terbaik yang sangat piawai di bidang hukum.
  • Pangeran Kelima (Raja Xin, diperankan Jeremy Xu), statusnya duda setelah istrinya meninggal dunia.
  • Pangeran Keenam (Raja Yu, diperankan Chen He Yi), punya tampang paling rupawan.
  • Pangeran Kesembilan (Raja Lie, diperankan Lai Wei Ming), adalah jenderal muda yang gagah berani.
Blossom of Power bertabur visual
Blossom of Power bertabur visual

Bertabur visual pangeran say. Ini potensial banget loh. Tapi sayangnya, setelah sampai di episode belasan, aku mulai merasa intrik politiknya lebih sering menjadi latar daripada penggerak cerita. Konflik yang muncul berkali-kali pada akhirnya kembali bermuara pada hubungan dua tokoh utama, dalam hal ini Shen Xihe dan Xiao Huayong.

Kalau dibandingkan dengan “Nirvana in Fire,” “Joy of Life,” atau “The Rise of Phoenixes,” jelas skalanya berbeda. Drama-drama itu membuat politiknya hidup karena setiap keputusan karakter utama pasti membawa konsekuensi yang memengaruhi banyak pihak. 

Nah, di “Blossom of Power,” konspirasi memang terus bermunculan, tetapi sering kali hanya menjadi jalan agar Shen Xihe dan Xiao Huayong kembali berada dalam satu adegan. HAHAHA.

Menurutku ini tidak salah juga. Hanya saja ekspektasi penonton perlu disesuaikan dong. Kalau ada penonton yang emang nonton serial ini berharap menyaksikan permainan strategi yang rumit, mungkin kurang memuaskan bagi mereka. Sebaliknya, kalau tujuanmu memang ingin pure romansa berlatar istana, pendekatan seperti ini justru membuat ceritanya asyik dan mudah diikuti.

Konsep Rebirth yang Disia-siakan

Konsep rebirth yang menjadi premis drama china ini keren loh sebenarnya. Siapa yang sudah pernah nonton “The Double” pasti tahu maksudku.

Gu Qingzhi terbangun dalam tubuh Shen Xihe. Premis seperti ini sebenarnya membuka banyak kemungkinan. Aku sempat berharap drama akan mengeksplorasi konflik identitasnya, misalnya gimana karakter perempuan hidup dengan wajah orang lain, beradaptasi dengan keluarga yang baru, atau menghadapi ingatan yang bukan sepenuhnya miliknya.

Sayangnya semua itu hanya disentuh sekilas. Begitu cerita berjalan, unsur rebirth cuma menjadi pintu masuk menuju konflik utama daripada tema yang benar-benar ingin dibahas. Shen Xihe menerima kehidupan barunya nyaris tanpa pergolakan batin yang berarti, sehingga lapisan emosional dari premis tersebut perlahan menghilang.

Bukan berarti konsepnya gagal. Hanya saja rasanya masih ada ruang yang bisa digali lebih dalam. Andai “Blossom of Power” ini memberi lebih banyak waktu untuk mengeksplorasi sisi psikologisnya, karakter Shen Xihe mungkin bakal lebih seru dan jauh lebih kompleks.

Cantiknya Meng Ziyi sebagai Putri Zhao Ning
Cantiknya Meng Ziyi sebagai Putri Zhao Ning

Banyak Karakter Perempuan Hebat

Di antara sekian kekurangan “Blossom of Power,” ada yang benar-benar layak diapresiasi, yaitu beberapa karakter perempuan hebat dalam serial ini.

Drama ini tidak memperlakukan karakter perempuan sebagai pelengkap cerita. Ada tabib perempuan yang juga mampu melindungi orang lain. Ada pewaris keluarga bangsawan yang aktif bermain dalam percaturan politik. 

Ada perempuan-perempuan dengan ambisi, pendapat, dan tujuan hidupnya sendiri. Mereka memang tidak selalu berada di pihak Shen Xihe, tetapi keberadaan mereka tidak semata-mata untuk menjadi rival cinta.

Inilah yang kemudian membuat dunia “Blossom of Power” lebih hidup. Ya senang saja rasanya melihat banyak karakter perempuan di drama sejarah punya ruang untuk menjadi manusia yang utuh, bukan sebatas karakter pendukung bagi perjalanan sang pemeran utama.

Sebagai catatan, ulasan ini dibuat setelah aku menonton hingga episode 30 dari total 36 episode. Artinya, masih ada enam episode yang berpotensi mengubah penilaianku terhadap keseluruhan cerita.

Kini, nasib “Blossom of Power” bergantung pada bagaimana enam episode terakhir menyelesaikan konflik yang sudah dibangun sejak awal. Kita lihat saja, apakah serial ini mampu menutup kisahnya dengan ending yang memuaskan ketika episode terakhir tayang pada akhir Juli nanti. Sabar ya…

Certified author (BNSP), eks-jurnalis ekonomi dan lingkungan. Kini menjadi full-time mom yang juga berkarya sebagai novelis, blogger, dan content writer. Founder Rimbawan Menulis (Rimbalis), komunitas yang aktif mengeksplorasi dunia literasi dan isu-isu lingkungan.

Share:

Leave a Comment