Review Loves Ambition
Review Loves Ambition

Dear, all. Sebelum kalian baca review “Love’s Ambition” ini sampai selesai, aku mau bikin statement awal dulu ya. Aku nggak benci “Love’s Ambition.” Sama sekali tidak. Aku menontonnya sampai selesai.

Aku memahami niat ceritanya. Aku bisa melihat apa yang ingin disampaikan penulis dan sutradaranya. Dan aku respect dua pemeran utamanya, terutama Zhao Lusi, yang sudah mengerahkan kemampuan akting terbaik mereka.

Dan karena itu semua, aku merasa perlu jujur soal kesanku setelah merampungkan serial ini Oktober kemarin, bahwa “Love’s Ambition” bukanlah drama terbaik Zhao Lusi. Bahkan, untuk menuliskan review-nya pun aku baru ada mood sekarang. Hahahaha.

Aku mengatakan ini bukan sebagai penonton musiman ya. Bukan karena ikut-ikutan, bukan pula karena membandingkannya dengan drama lain secara dangkal. Aku mengatakan ini sebagai seseorang yang mengikuti Zhao Lusi sejak awal debutnya, menonton hampir semua dramanya, termasuk yang jarang dibahas orang, bahkan film lamanya, tanpa satu judul pun aku lewati.

Aku tahu betul seberapa luas spektrum akting Zhao Lusi. Aku tahu bagaimana dia bisa menyelamatkan naskah yang biasa saja. Dan aku tahu kapan sebuah drama berhasil karena ceritanya, dan kapan sebuah drama hidup karena aktornya.

Dalam kasus “Love’s Ambition,” menurutku jawabannya adalah serial ini mengglobal karena Zhao Lusi, bukan karena ceritanya. Kalau “Love’s Ambition” dibintangi aktris lain, yang tidak punya karisma Zhao Lusi, tidak punya basis penggemar internasional sebesar dia, aku berani bilang, rating dan hype-nya akan jauh lebih rendah.

Dan aku harap, statement yang aku tebalin di atas tidak dianggap sebagai serangan ya. Inilah observasiku.

Sinopsis Love’s Ambition

Love’s Ambition berkisah tentang Xu Yan (Zhao Lusi), seorang anchor berita glamor yang membangun hidup barunya dengan sangat hati-hati, dan Shen Haoming (William Chan), elite kota, pengusaha real estate dengan pengaruh besar, kecerdikan tinggi, dan… banyak rahasia.

Di depan kamera, mereka adalah pasangan ideal. Sudahlah sama-sama cantik dan ganteng, pasangan kaya, sukses, berkelas. Pokoknya tipe couple yang kalau muncul di acara sosial, bikin orang menjadikannya couple goals. Akan tetapi, seperti judulnya, fondasi hubungan mereka bukanlah cinta, melainkan ambisi, seperti judulnya.

Xu Yan memang mencintai Shen Haoming. Akan tetapi, dia menikahinya bukan hanya karena cinta, tapi juga karena identitas baru yang ingin ia lindungi. Masa lalunya kelam, keluarganya traumatis, dan hidup yang sekarang ia bangun berdiri di atas kebohongan yang disusun amat rapi.

Shen Haoming, di sisi lain, adalah pria yang terbiasa mengendalikan keadaan. Tipe alfa. Ia mencintai Xu Yan, iya. Tapi cintanya bercampur dengan manipulasi, pengujian, dan rasa superioritas. Ketika kebohongan terbongkar dan konflik meledak, Xu Yan memilih pergi.

Setelah Xu Yan pergi, barulah Shen Haoming sadar bahwa perempuan yang ia kira “miliknya” bagaikan “materi” itu ternyata adalah seseorang yang benar-benar ia cintai pakai hati.

Dari sini, “Love’s Ambition” berubah menjadi second-chance’s love yang penuh rekonsiliasi, dan upaya dua manusia yang harus meruntuhkan topeng masing-masing sebelum bisa saling mencintai dengan jujur.

Review Love’s Ambition

Secara konsep? Love’s Ambition sangatlah menarik. Tapi… secara eksekusi? Nah… di sinilah masalahnya.

Satu hal yang sebenarnya bekerja cukup baik di “Love’s Ambition” adalah struktur besarnya. Drama china ini seperti punya dua babak cinta.

Babak pertama, Xu Yan dan Shen Haoming jatuh cinta, menikah, lalu rumah tangga mereka hancur. Babak kedua, Xu Yan dan Shen Haoming merasa kehilangan, kemudian mereka refleksi diri, lalu mencoba kembali. Honestly ya, bagian ini seharusnya bisa sangat kuat.

Aku suka bagaimana drama china ini memperlihatkan apa yang hilang setelah mereka berpisah. Misalnya, Xu Yan kehilangan rasa aman, sementara Shen Haoming kehilangan kendali diri. Ada rasa kehilangan yang nyata di sana. Ada kesadaran bahwa cinta mereka, meski cacat, pernah sangat berarti.

Masalahnya, jalan dua karakter utama menuju “sadar” itu terlalu berantakan. Bangettt!!! Why oh why?

Banyak plot bisnis yang bertele-tele, belum lagi konflik yang terasa seperti materi edukasi korporat, dan karakter pendukung yang nyaris tidak punya kepribadian membuat emosi utama drama ini tercerai-berai.

Alih-alih memperdalam luka dan pertumbuhan karakter, aku sebagai penonton malah merasa diseret ke subplot yang nggak punya bobot emosional. Dan menurutku ya, ini fatal untuk drama yang seharusnya bertumpu pada psikologi karakter.

Aku sebenarnya mengapresiasi keberanian “Love’s Ambition” untuk nggak menjadikan karakter utamanya “green flag” sempurna. As we know, Xu Yan dan Shen Haoming ini lebih ke karakter abu-abu.

Mereka manipulatif. Mereka sama-sama menyimpan rahasia, bahkan setelah menikah. Mereka sama-sama membangun hidup dan pernikahan di atas kebohongan. Oke, that’s fine, ceritanya fresh dan unik!

Masalahnya, tidak semua karakter abu-abu otomatis menarik. Mereka harus ditulis dengan konsisten dan diberi ruang untuk berkembang secara organik.

Xu Yan, untungnya, lebih utuh sebagai karakter. Sejak awal kita tahu siapa dia, apa lukanya, dan mengapa ia melakukan apa yang ia lakukan. Kita mungkin tidak setuju dengan kebohongannya, tapi kita mengerti.

Nah, Shen Haoming… ini yang problematik. Di paruh pertama, ia digambarkan sebagai pria penuh cinta, bahkan nyaris green flag.

Lalu tiba-tiba berubah menjadi manipulator dingin. Lalu tiba-tiba lagi kita diminta percaya bahwa ia sebenarnya hanya “tidak tahu cara mencintai.”

Secara teori, ini bisa bekerja, tapi dalam praktiknya, transisinya tidak terasa earned. Bullshit banget, ya kan? Unreal! Terutama di episode krusial (sekitar episode 14), ketika pengkhianatan Shen Haoming terasa terlalu nyata, terlalu kejam, sampai titik di mana banyak penonton, termasuk aku, ngerasa “gila, jahat banget!”

Yang masalah di sini bukan aktingnya, menurutku ini murni masalah penulisan karakter.

1. Zhao Lusi sebagai Xu Yan

Apa pun kritikku terhadap “Love’s Ambition,” satu hal tidak bisa dibantah bahwa akting Zhao Lusi di drama china ini luar biasa. Xu Yan adalah karakter yang “selamat” karena diperankan oleh seorang Zhao Lusi. Tangisan Xu Yan bukan tangisan dramatis yang cantik. Itu tangisan yang mentah, pecah, dan tidak nyaman ditonton, in a good way.

Secara penulisan, Xu Yan dibangun di atas fondasi karakter yang sebenarnya rapuh. Rapuhnya di mana?

Dia perempuan dari layar belakang penuh trauma, kemudian membangun identitas palsu, lalu masuk ke dunia elite, menikah dengan pria kaya juga berkuasa, kemudian hancur ketika semua rahasianya terbongkar.

Kamu tidak bersimpati pada Xu Yan karena naskahnya. Kamu bersimpati karena Zhao Lusi membuatmu merasakannya. Zhao Lusi bisa menghidupkan celah-celah emosional dari cerita ini yang sebetulnya nggak ditulis dengan tuntas oleh tim produksi.

Zhao Lusi sebagai Xu Yan di Love's Ambition
Zhao Lusi sebagai Xu Yan di Love’s Ambition

Ada satu fase dalam drama ini, kalau nggak salah episode 14, di mana Xu Yan seharusnya berada di titik paling retak juga paling gelap dalam hidupnya. Secara naskah, fase ini sebetulnya terlampau disederhanakan. Banyak luka dilewati begitu saja. Banyak keputusan besar terjadi off-screen atau lewat dialog pendek saja, nggak diceritakan detail dalam episode khusus. Namun, Zhao Lusi mengisi kekosongan itu dengan bahasa tubuh.

Cara dia menangis tanpa suara. Ekspresi lelahnya yang bahkan muncul di scene yang seharusnya dia bahagia. Tatapan kosongnya atau bahunya yang turun saat dia sendirian. Ini adalah contoh-contoh akting melelahkan secara emosional yang membuat penonton seperti aku bisa merasakan betapa kasihannya Xu Yan.

Hal lain yang aku juga nggak suka adalah ketika Xu Yan segampang itu melupakan mimpi besarnya menjadi anchor berita. Why oh why?

Oke, Xu Yan tidak cinta profesi anchor karena jurnalisme. Dia pilih jadi anchor lantaran mau dihormati, punya kontrol, dan mau membangun identitas yang nggak lagi diinjak-injak masa lalunya.

Lalu, setelah kebohongan terbongkar, setelah citra runtuh, setelah dia “terlihat” dalam kondisi paling rapuh, ambisi itu kehilangan fungsinya. Padahal, dia nggak kalah. Dia cuma nggak butuh lagi pembenaran eksternal.

Menurutku, eksekusi untuk plot ini terlalu terburu-buru. Sebagai mantan jurnalis yang mungkin motivasi awal aku masuk ke dunia ini adalah pengen orang-orang membaca namaku di berbagai platform berita (cetak dan online), tapi kalau aku menjadi Xu Yan, perubahan sebesar ini seharusnya ditunjukkan lewat proses, bukan sekadar keputusan mentah lewat dialog singkat dong.

So, ketika cerita “Love’s Ambition” ini goyah, bahkan ketika motivasi karakter terasa dipaksakan, Zhao Lusi tetap konsisten. Ia tahu siapa Xu Yan. Ia tahu luka karakter itu. Dan ia membawanya dari awal sampai akhir tanpa kehilangan arah.

Kalau drama ini tetap ditonton, tetap dibicarakan, tetap viral secara internasional, menurutku, itu karena penonton jatuh cinta pada Zhao Lusi, bukan pada ceritanya. Dan itu nggak dosa juga, fakta!

2. William Chan sebagai Shen Haoming

William Chan punya tugas yang sulit di sini, yaitu memerankan karakter yang tidak selalu disukai, bahkan sering dibenci. Dan menurutku, ia melakukannya dengan cukup berani.

Shen Haoming adalah pria manipulatif, menyebalkan, menyedihkan, dan, pada beberapa part, he is pathetic. Dia bisa dibilang abusif secara emosional loh. Nah, aku angkat topi karena William Chan tidak mencoba “melunakkan” karakternya yang seperti itu dengan aktingnya.

Tapi… masalahnya, ketika naskahnya sendiri tidak konsisten, aktor sekuat apa pun akan kesulitan menyelamatkan karakter.

Aku paling kesal sebetulnya sama cerita di mana Xu Yan, lagi-lagi, harus ikut membantu Shen Haoming menyelesaikan urusan hidup dan bisnisnya. Ealah, abusif banget lo jadi laki! Emangnya penderitaan Xu Yan belum cukup buat lo, masih mau lo repotin lagi dia?

William Chan sebagai Shen Haoming di Love's Ambition
William Chan sebagai Shen Haoming di Love’s Ambition

Kesannya kok kayak semua rangkaian serial ini fokusnya adalah 80 persen Xu Yan “melayani” hidup Shen Haoming. Harusnya dibalik dong. Suami yang bahagiain istri, jadi figur suami yang baik, mau introspeksi diri dan sama-sama memperbaiki apa yang salah dengan pernikahan pertama mereka. Logikanya begitu kan?

Aku respect usaha William Chan. Aku respect dia berani mengambil peran ini. Tapi aku juga nggal bisa menutup mata bahwa chemistry pasangan utama terasa kurang hidup dibanding ekspektasi.

Produksi Mewah, tapi Kadang Nggak Masuk Akal!

Secara visual, drama china “Love’s Ambition” ini cantik. Wardrobe, set, sinematografi, semuanya kelas atas. Cuma…. Lusi, yang bikin aku agak janggal adalah…

Ketika dalam cerita, Xu Yan itu dibilang sedang bangkrut, berjuang dari nol, hidup susah, visualnya lah kok masih kayak editorial fashion sih? Ini bikin emosi sama apa yang dilihat penonton dengan mata kepala sendiri jatuhnya nggak sinkron. Di sini, penderitaan Xu Yan itu seakan cuma konsep doang, tapi nggak sampai ke “pengalaman” penonton.

Aku respect Zhao Lusi. Aku respect William Chan. Aku respect keberanian drama ini mencoba sesuatu yang lebih gelap dan dewasa. Akan tetapi… sejauh ini, “Hidden Love” dan “Dating in the Kitchen” masih bertahta sebagai drama modern terbaik Zhao Lusi. “Love’s Ambition” tidak masuk ke dalam list terbaik versi aku.

Apakah drama ini jelek? Tidak.

Apakah layak ditonton? Masih, terutama kalau kamu fans Zhao Lusi.

Apakah pantas dapat hype global? Dari sisi popularitas, iya.

Dari sisi kualitas cerita? Tidak sepenuhnya.

Dan kalau kamu menikmatinya, that’s okay. Kalau kamu nggak setuju denganku, juga ndak apa-apa. Review “Love’s Ambition” yang aku tulis karena ini bukan menentukan benar atau salah.

Ini cuma review jujur dari seorang fans yang sudah terlalu lama mengikuti perjalanan Zhao Lusi. So, aku nggak mau pura-pura bilang, “ini yang terbaik.” Karena bagiku, yang terbaiknya Zhao Lusi… masih ada di tempat lain. Next, semoga “Almost Lover” memberikanku harapan itu. Can’t wait!!!

Certified author (BNSP), eks-jurnalis ekonomi dan lingkungan. Kini menjadi full-time mom yang juga berkarya sebagai novelis, blogger, dan content writer. Founder Rimbawan Menulis (Rimbalis), komunitas yang aktif mengeksplorasi dunia literasi dan isu-isu lingkungan.

Share:

Leave a Comment