Tak Perlu Takut Investasi Saham

Investasi saham, investasi properti, investasi reksa dana, investasi emas, apapun bentuknya pada prinsipnya sama. Ketika sebuah instrumen investasi mengalami koreksi terhadap kondisi apakah berupa berita, isu, atau kejadian, seperti pandemi Covid-19 saat ini, maka itulah saat paling tepat kita berinvestasi.

Kalimat terakhir di atas ditegaskan langsung oleh Kepala Kantor Perwakilan Bursa Efek Indonesia (BEI) Provinsi Bali, Mas Agus Andiyasa saat memulai diskusi via IG Live dipandu Mas Feri Kristianto, Kepala Perwakilan Bisnis Indonesia Bali beberapa waktu lalu. Diskusinya menarik banget, sekaligus kembali me-refresh otak saya soal investasi saham sejak absen tiga tahun lalu.

Investasi saham itu dalam contoh kasus ya sama saja seperti kita mau beli mobil tipe-A seharga Rp 100 juta. Tiba-tiba ada kawan kita datang, dia lagi butuh uang cepat, kemudian menawarkan mobil tipe sama, tapi harganya Rp 50 juta.

Kira-kira gimana respons kita? Saya yakin kita yang tadinya gak pengen beli mobil jadi pengen beli mobil. Minimal kalo gak dipakai sendiri, ya dijual lagi. Untung gede kan?

beli saham

Nah, investasi saham sama seperti itu. Sayangnya kok masih banyak yang takut beli saham ya? Padahal Mas Agus bilang, harga saham (IHSG) per Maret 2020 itu minus hingga 30 persen.

Kondisi seperti ini sangat jarang terjadi. Langka banget, bahkan dalam satu dekade terakhir.

Penurunan IHSG paling parah terjadi 2008, pas krisis ekonomi global. Pernah juga nih 2015, tapi cuma terkoreksi 15 persen. Jadi kalo masih ada yang ragu buat investasi saham di masa pandemi sekarang ini, kebangetan banget. Hehehe.

Prinsip berinvestasi di pasar modal itu sebetulnya simpel. Kita beli saham pas harga murah, dan kita jual lagi sahamnya pas harga mahal.

Wajar jika sepanjang Maret-Mei 2020 Mas Agus mencatat pertumbuhan investor di Bali meningkat luar biasa, yaitu 13 persen dibanding 2019. Itu artinya selama pandemi Covid-19 banyak masyarakat Bali yang nabung saham.

Tips Berani Investasi Saham

Saya gak memungkiri, krisis ekonomi 2008 bikin kita generasi milenial jadi takut berinvestasi saham. Ya gimana gak ngeri? Waktu itu anjloknya nyaris 50 persen.

Bayangkan, kita beli saham Rp 20 juta, tapi uang kita yang selamat cuma Rp 10 juta. Rugi besar. Sejak itu anak-anak muda milenial di seluruh dunia, termasuk Amerika sekali pun jadi punya mindset, ‘Jangan berinvestasi di pasar modal.’

Sayangnya kalo dibawa ke zaman sekarang, kita gak bisa lagi punya mindset sama seperti 12 tahun lalu. Tanpa pijakan di pasar modal, para profesional muda yang sudah bekerja sekarang justru menempatkan dirinya ke dalam kondisi berisiko finansial.

Kalo kita cuma berinvestasi as usual, dalam bentuk tabungan, uang tunai, deposito, maka hari tua kita ya biasa aja. Hidup kita gak bakal bisa mengikuti inflasi.

Nilai uang yang kita banggakan hari ini, yang kita nilai banyak hari ini, itu gak akan berharga di masa depan. Hari ini kita menabung Rp 10 juta, di masa depan jumlah yang sama hanya setara Rp 5 juta. Mau ngandalin tabungan doang? Siap-siap miskin di hari tua.

Sekitar 83 juta milenial di seluruh dunia pernah terdampak krisis pasar modal 2008. Jika kita termasuk salah satunya, saatnya sekarang kita memerangi rasa takut itu dan kembali berinvestasi di pasar modal.

Gimana caranya? Baca terus pemaparan berikut. Ini yang saya mulai lakukan beberapa waktu lalu.

1. Cari banyak informasi

Kita gak bakal tahu kalo kita gak mau tahu. Edukasi soal pasar modal, literasi keuangan, literasi pasar modal, dan sebagainya bisa kita dapatkan dari mana saja. Saya gak terlalu merekomendasikan berita online, sebab itu cenderung kondisi jangka pendek.

Banyak berita online juga membuat sensasi soal investasi pasar modal. Saya gak bilang semua loh, tapi dari pada kita bingung menyaring portal media online mana yang layak dibaca, mending berita online di-skip saja.

Saya lebih merekomendasikan kita banyak baca dari koran, atau e-paper koran. Biasanya berita cetak itu koreksinya berlapis-lapis. Gak asal cetak, gak asal publish, gak asal comot narasumber sembarangan. Baca berita ekonomi di Harian Bisnis Indonesia, Republika, atau Kompas misalnya.

Kita bisa juga mengunjungi laman resmi BEI, perusahaan sekuritas tertentu, atau laman OJK (Otoritas Jasa Keuangan). Di sana kita bisa mendapat banyak informasi soal pasar modal. Baca buku-buku keuangan yang ditulis para ahli juga boleh kok.

2. Tentukan tujuan investasi, jangka pendek atau jangka panjang?

Kita mau jadi investor jangka pendek atau jangka panjang? Gak masalah kita mau pilih yang mana, sebab investasi saham itu kita sendiri yang menjalankan.

Kita yang beli saham, kita yang jual, atau kita titipkan ke perusahaan sekuritas, tapi semua transaksi berjalannya tetap direkam dan dipantau oleh kita.

Setelah menikah, awal 2014 saya dan suami pertama kalinya mencoba berinvestasi saham dengan pertolongan perusahaan sekuritas. Waktu itu kami pilih BNI Sekuritas berhubung kami sama-sama nasabah BNI.

Saya sedikit banyaknya tahu saham karena enam bulan pernah ditugaskan media tempat saya bekerja untuk meliput berita pasar modal di BEI, Kawasan SCBD. Meski sudah belajar saham pun, saya dan suami tetap saja ketakutan begitu 2015 IHSG semi terkoreksi hingga 15 persen.

Keuntungan yang kami kumpulkan setahun terakhir langsung hilang, bahkan minus dari modal awal kami Rp 20 juta.

Untungnya kami gak panic selling, jualin saham kami tanpa mempertimbangkan kondisi fundamental dan teknikal waktu itu. Sejak awal kami memang sudah komitmen bahwa saham ini untuk jangka panjang, ya minimal tiga tahun atau lebih deh.

Kalo investor luar negeri, investasi jangka panjang itu biasanya dihitung di atas lima tahun. Kalo di Indonesia, investasi saham setahun aja itu kayaknya secara psikologis udah dianggap jangka panjang deh. Hehehe. Gak salah juga sih, semua bergantung ke pemahaman masing-masing.

Ternyata benar, pelan-pelan kondisi pasar modal kembali membaik. Sekitar tiga tahun kemudian kami memutuskan menjual saham kami untuk tambahan membeli rumah, alhamdulillah kami untung sekitar Rp 8 juta.

Jika dirata-ratakan itu profitnya 10 persen per tahun. Keuntungan saham ini jelas di atas deposito yang biasanya hanya berkisar 5-6 persen saja. Sekiranya kami tidak terdesak, mungkin saham kami sudah jauh lebih profit kemarin.

Buat saya, sangat penting mengetahui tipe investor saham seperti apa kita? Kalo kita sudah tahu karakter kita, maka kita bisa menentukan pola trading saham yang pas untuk kita.

nabung saham

Setidaknya ada investor saham tipe scalper, day trader, dan swinger.

Scalper itu tipe yang selalu melototin sahamnya setiap detik, menit, sepanjang hari. Detik ini dia beli saham A, kemudian tiga jam kemudian begitu saham A naik, dia langsung jual. Hasil penjualan saham A dia belikan lagi untuk saham B. Begitu seterusnya. Saya gak cocok kayaknya nih jadi investor saham tipe ini.

Ada juga yang day trader, memantau pergerakan saham harian. Dia membuka dan menutup transaksi sahamnya pada hari yang sama. Nah, tipe ini punya target keuntungan tersendiri. Kalo menurutnya hari ini keuntungan sahamnya belum tercapai, dia lanjutkan besok atau lusa, dan biasanya gak lebih dari seminggu. Rata-rata 1-4 hari doang.

Terakhir, tipe swinger atau investor jangka panjang. Biasanya investor yang ini gak punya waktu lama duduk di depan komputer melototin pergerakan sahamnya. Makanya dia sering melakukan set forget. Pokoknya saham ini dianggap ‘uang lupa.’ Hari ini dia investasi, tujuannya supaya bisa mendapat profit setahun, dua tahun, atau lebih dari tiga tahun kemudian.

3. Mulai dari yang kecil

Mas Agus menyarankan investor pemula untuk mulai berinvestasi saham dari jumlah yang kecil-kecil. Sekarang ini kita sudah bisa berinvestasi saham hanya dengan modal Rp 100 ribu loh. Pokoknya zaman sekarang tuh udah enak banget deh, beneran, gak kayak 5-10 tahun lalu.

Walaupun kita punya banyak uang, tapi yang namanya investor pemula, sebut Mas Agus tetap lebih baik memulai beli saham dari jumlah kecil. Tujuannya supaya kita belajar dulu, melatih psikologi dan mental kita soal saham.

Kalo kita sudah tahan banting, gak panikan lihat berita saham turun, gak langsung panic buying begitu ada rekomendasi dari pakar saham bahwa saham A, B, C ini bagus buat dibeli, gak langsung mengiyakan, berarti mental kita sudah terlatih.

Selayaknya sebagai investor saham kita melihat sendiri, cek sendiri, bagaimana kondisi perusahaan yang menjadi emiten saham pilihan kita, bagaimana pertumbuhannya. Pokoknya kita jangan sampai langsung mengikuti arus.

Seiring kita belajar dari yang kecil-kecil, kita pelan-pelan tambah nabung sahamnya.

Kalo kita punya duit lebih, kita gak harus langsung beli saham kok. Simpan saja dulu uangnya dengan cara disetor ke rekening dana nasabah. Nah, sementara uangnya diparkir di sana, kita amati pergerakan saham yang ada. Kalau ada harga saham pilihan kita turun, cocok, kita baru beli.

Percayalah, beli saham Rp 100 ribu, Rp 500 ribu, atau Rp 1 juta sekali pun buat kita yang termasuk generasi milenial berpenghasilan tetap, insya Allah gak akan merugi. Justru pengalaman berinvestasi saham ini melatih mental kita menjadi pengusaha dan meningkatkan kepercayaan diri.

Saya jadi teringat nasihat Lao Tzu, ahli filsafat pendiri Taoisme. Beliau bilang, ‘Perjalanan seribu mil selalu dimulai dengan satu langkah.’ Kita mulai hari ini dengan satu langkah kecil, demi seribu langkah besar kita di masa depan.

4. Diversifikasi investasi

Kita harus mengembangkan strategi alokasi aset kita. Artinya, kita berani berinvestasi di saham, tapi juga menjajal bentuk investasi lain. Intinya jangan menaruh telur-telur kita dalam satu keranjang.

Berdasarkan pengalaman saya pribadi, reksa dana dan obligasi adalah strategi investasi lain yang layak dicoba. Reksa dana misalnya, bisa menjadi cara paling mudah agar kita mendapat eksposur ke pasar modal lebih luas.

Kalo kita masih bingung, berapa sih porsi yang pas buat kita berinvestasi di saham, reksa dana, obligasi, dan sebagainya? Pertimbangkan untuk mendapat rekomendasi dari robo-investing.

Kemarin saya iseng install aplikasi Bibit di ponsel saya. Saya pengen tahu tipe investor reksa dana seperti apa saya. Jadinya saya iseng isi kuisioner online dan menjawab beberapa pertanyaan dari robo-nya Bibit.

Hasil akhirnya, saya direkomendasikan untuk membeli tiga reksa dana sesuai profil risiko saya, yaitu reksa dana pasar uang (10 persen), reksa dana obligasi (65 persen), dan reksa dana saham (24 persen).

investasi saham

Jangan takut berinvestasi. Investasi saham itu gak menakutkan dan gak ada alasan kita buat khawatir. Justru kesalahan terbesar kita dalam berinvestasi adalah tidak berani memulainya.

Kita bisa mulai berinvestasi hari ini, gak peduli seberapa banyak kita tahu soal saham. Saya tertarik dengan pengalaman Mas Agus saat mendampingi Bali United (kode saham: BOLA) melantai di bursa.

Beliau bertanya kepada salah satu investor saham Bali United yang masih muda. Ketika si investor ditanya apa alasannya beli saham Bali United, dia menjawab sederhana, sebab dia cinta dengan Bali United.

Kita sebagai investor lokal harus menjadi raja di negara sendiri. Ini eranya pasar bebas. Sampai kapan kita cuek membiarkan investor asing menguasai saham-saham perusahaan di negara kita hanya karena kita yang jelas-jelas anak Indonesia takut dan gak berani memulai berinvestasi seperti mereka?

Setiap hari kita pakai pasta gigi, sabun, sampo dari Unilever (UNVR). Kita juga makan mie instan Indomie berbagai rasa yang diproduksi Indofood (INDF). Kita bawa motor atau nyetir mobil keluaran Astra (ASII).

Sampai kapan saham-saham perusahaan yang kita bayarin produknya setiap hari itu bisa menjadi milik kita? Apa kita gak mikir setiap tahun keuntungan atau devidennya lebih banyak dinikmati investor asing? Sadar gak sih? Jawab sendiri ya.

bundalogy

14 thoughts

  1. Aku belum pernah nih invest saham kak. Baca ini jadi pengen coba investasi ke saham deng…kalau ada langkah2 cara mau invest ke saham mau dong baca kak.

    Like

  2. Saat ini investasi saham dan reksadana sendiri sudah menjangkau nominal nominal kecil, bahkan beberapa teman sudah menjajal investasi melalui aplikasi… tapi saya sendiri masih belum berani, masih memilih yang jadul seperti deposito dan tabungan dengan tingkat keuntungan yang minim…

    Like

  3. Dapat referensi tambahan nih untuk investasi.

    Semenjak pandemi sy juga belajar investasi di Bibit. Sebagai pemula aplikasi kayak bibit lumayan membantu karena investasinya sudah dapat saran dari manager investasi disesuaikan dengan risk profile.
    Makin ke sini ngerasa seru juga belajar investasi, seneng aja ngeliat pergerakan pasar yg naik turun setiap hari.

    Like

  4. Aku lumayan tertarik tuk nanam saham tetapi belum tahu bagaimana caranya dan prosedur nya gimana, atau harus dengar langsung dari orang yang berpengalaman yang kita kenal

    Like

  5. Dahulu orang tak berani investasi saham karena nilainya besar. Sekarang makin banyak kesempatan investasi saham karena lebih ramah pada kantong dan dompet

    Like

  6. Teman-teman saya pun sedang meracuni saya untuk mencari keuntungan dengan saham, tetapi saya masih ragu. Bagaimana bisa meyakinkan jika ini benar-benar aman?

    Like

  7. Waktu masih kerja berani tuh main saham tapi sebatas reksa dana haha. Tapi sekarang udah gak lagi, hehe. Tapi sekarang mah banyak jg ya yg saham syariah jadi perputaran uangnya jg bukan untuk beli yg haram2 gitu. Makasih mba pencerahannya.

    Like

  8. Setuju banget jangan takut investasi saham. Tapi lebih baik lagi kalo sambil jalan selalu belajar terus. Mulai kecil, dicicil terus. Literasi keuangan kita harus makin bagus.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.