Timbang-Timbang Ketika Berutang

Utang sering menjadi solusi kala kita terjepit. Apalagi di masa pandemi Covid-19 sekarang, banyak orang mengaku kehabisan uang. Mereka tak punya aset, sebagian tak punya pekerjaan tetap, parahnya ada yang baru saja dirumahkan alias di-PHK.

Haruskah berutang? Kepada siapa? Teman yang mau mengutangi mungkin lagi susah juga. Sebagian dari mereka semakin selektif meminjamkan uang kepada orang lain untuk menjaga kekuatan finansial karena kondisi ekonomi di ambang krisis.

Utang ke sanak saudara? Hmmm, biasanya ini menjadi masalah super sensitif. Kalo mendadak ditagih dan gak bisa bayar, kita bisa dimusuhi seumur hidup, bisa gak dianggap. Apalagi jika saudara yang mengutangi kita tidak begitu kuat secara finansial. Mereka tentu tak bisa disalahkan dong.

Minggu ini saya kembali mengikuti diskusi online bersama pakar keuangan sekaligus Founder Ngopi Pintar, Mas Agus Helly, dipandu sahabat saya Mas Feri Kristianto dari Bisnis Indonesia Bali. Kali ini beliau membahas topik menarik soal bijak berutang di kala pandemi.

utang

Sebelum membahas utang lebih jauh, Mas Agus mengajukan tiga pertanyaan dasar pada kita. Pertanyaan ini harus dijawab jujur oleh siapapun yang niat mau berutang.

  • Utang ini tujuannya untuk kebutuhan atau keinginan?
  • Kepada siapa kita mengajukan utang?
  • Mampu gak kita membayarnya?

Oke, sudah dijawab belum? Kalo sudah, kita lanjut nih.

Alasan utama orang berutang pasti karena defisit. Nah, defisit keuangan ini sebenarnya bisa diatasi dengan dua cara.

Pertama, mengambil aset yang kita punya, khususnya tabungan dan dana darurat. Makanya di tulisan saya sebelumnya ditekankan pentingnya kita mempunyai tabungan dan dana darurat.

Kedua, menjual aset yang kita punya dengan catatan aset yang dijual bukan aset produktif, yaitu aset yang menghasilkan atau mendatangkan uang. Contoh, motor atau mobil yang kita pakai untuk menjalankan usaha, apakah itu ojek online, driver online, atau mengantarkan barang jualan. Ini kurang bijak.

Utang ke Siapa?

Konsekuensi kita menarik utang kelihatannya simpel. Meski demikian, Mas Agus tidak merekomendasikannya di saat pandemi ini. Timbang-timbang lagi deh kalo mau berutang. Keputusannya balik lagi ke kita yang paling tahu kondisi keuangan kita.

Idealnya kita berutang kepada siapa sih?

1. Kerabat dekat, teman, atau sahabat

Utang ke kerabat dekat, teman, atau sahabat dalam ilmu perencanaan keuangan lebih bagus. Alasannya, tidak ada bunga, tidak perlu ada jaminan, dan proses screening-nya tak serumit di lembaga keuangan, seperti bank.

Sayangnya realitas berutang ke kerabat, teman, dan sahabat ini berisiko besar. Kita sering mendengar ungkapan utang dapat merusak hubungan persaudaraan dan persahabatan. Kadang teman yang diutangi galak banget saat ditagih.

Oleh sebab itu perlu itikad baik antara kedua belah pihak pada saat proses utang piutang berjalan di awal. Jaga attitude lah. Kita harus sadar diri kalo berutang.

Jangan mentang-mentang utang sama saudara atau sahabat, kita merasa tidak ada kewajiban melunasi tepat waktu. Salah kaprah itu. Justru perjanjian di awal harus jelas, kapan dilunasinya?

2. Lembaga keuangan

Ada lima sumber utang yang potensial melalui lembaga keuangan, yaitu kartu kredit, KPR, KTA, kartu kendaraan bermotor, dan pegadaian. Pada saat kita memutuskan berutang di lembaga keuangan, kita sudah memastikan ke depannya kita mau membayarnya dari mana. Kita harus punya income masuk untuk membiayai itu.

Dua hal perlu diperhatikan ketika berutang di bank, yaitu jangka waktu berutang berapa lama, dan berapa suku bunganya. Mas Agus bilang, suku bunga itu seperti biaya siluman.

Contoh paling simpel adalah bunga kartu kredit yang rata-rata 2,5-2,75 persen per bulan. Meski pemerintah berwacana akan menurunkan suku bunga kartu kredit, kisarannya diperkirakan masih tetap di range 2 persen per bulan.

Ini berarti bunga kartu kredit selama setahun setara 24-30 persen. Hal ini sering tidak kita sadari, sehingga menjadi biaya siluman.

Godaan bertransaksi dengan kartu kredit sungguh besar, terlebih ada embel-embel cukup bayar 10 persen di muka. Ketika kita membayar pembelian barang dengan kartu kredit dalam hitungan normal tanpa bunga, maka kita membutuhkan waktu 10 bulan untuk melunasinya. Itu baru biaya pokoknya saja loh.

Ingat, bunga kartu kredit selama setahun itu 24-30 persen. Kalikan saja sendiri, berapa sesungguhnya harga barang yang kita beli plus bunga. Belum lagi kalo kita kembali bertransaksi dengan kartu kredit di kesempatan berikutnya, padahal tunggakan lama masih belum lunas. Gesek lagi, gesek lagi.

utang

Bagaimana menarik utang di KPR? Sayangnya bank-bank saat ini sedang membatasi penambahan utang melalui skema ini.

Kita bisa mengambil opsi KPR jika utangnya berupa utang produktif untuk membantu usaha jangka pendek, misalnya berutang 1-2 bulan, bulan berikutnya lunas. Hindari menarik utang KPR untuk kebutuhan konsumtif.

Bijak Berutang

Berutang itu harus bijak. Kita perlu melihat ke depannya kita masih ada income atau tidak?

Konsekuensi berutang melalui lembaga keuangan itu besar. Pertama, kita harus membayarnya. Kedua, ada bunganya. Ketiga, jika kita tidak mampu membayar maka dihitung sebagai kredit macet, artinya nama kita akan diblack list. Dampaknya ke depan kita sulit mengajukan pinjaman ke bank mana pun.

Bijakkah jika kita berutang, kemudian dananya digunakan untuk kegiatan produktif, misalnya investasi?

Mas Agus bilang ini kurang bijak. Investasi sedianya berasal dari kelebihan dana atau kelebihan income, bukan dari berutang.

Kita berutang, kemudian uangnya kita masukkan ke reksa dana atau saham, ini kurang bijak. Ya kalo saya pikir jatuhnya kayak gali lubang tutup lubang.

utang

Setiap jenis investasi ada unsur risikonya. Kemampuan masing-masing orang mengelola risiko investasi itu berbeda. Jika kita merasa percaya diri dan yakin bisa mengelola risikonya, silakan go ahead. Kalo gak yakin, ya jangan.

Sekiranya saat ini kita masih ada utang ke bank, boleh tidak 50 persen penghasilan digunakan untuk bayar utang?

Aturan perencanaan keuangan menyebutkan kita sebaiknya mengalokasikan dana untuk membayar utang maksimal 35 persen dari penghasilan bulanan. Jika kita menggunakan 50 persen gaji untuk menyicil utang, kita bakal berada dalam tahap gawat.

Jangan sampai 50 persen income bulanan kita untuk membayar utang, kecuali kita masih numpang hidup sama orang tua, makan di rumah orang tua, belum berkeluarga.

Lebih baik kita memperbaiki gaya hidup kita. Misalnya, jika gaji kita Rp 10 juta per bulan, usahakan biaya kost atau kontrak rumahnya berada di kisaran Rp 1,5-2 juta per bulan atau maksimal 20 persen dari penghasilan.

Zaman sekarang kita masih menjumpai anak-anak muda bayar kosan bertarif di atas Rp 3 juta per bulan hanya karena alasannya sudah ada kasur, lemari, dan perlengkapan kamar lainnya.

Consume Only Basic Needs

Kita harus belajar merefleksi diri untuk lebih bijak mengatur pengeluaran di saat pandemi. Inilah pentingnya belajar perencanaan keuangan, misalnya nih ikut kelas-kelas online yang diselenggarakan Fin.E berkolaborasi dengan Kembali Hub. Gurunya kebetulan Mas Agus sendiri nih. Hehehe. Silakan intip langsung akun Instagram beliau di @agushelly.

Saat kita memutuskan berutang, lihat dulu apa tujuannya? Kalo utangnya buat beli keinginan, bukan kebutuhan, tanya diri kita, nanti kita mampu gak membayarnya? Kalo kita gak punya barang ini, kita merana gak? Kita kan sekarang bicara dalam kondisi menghadapi the New Normal akibat Covid-19.

Godaan belanja lewat mall online makin banyak. Gimana dong?

Selama kita punya bujetnya. Selama kita mampu. Selama dana untuk pos-pos lain, seperti tabungan, dana darurat, dana kebutuhan hidup, dan dana asuransi sudah ada, maka silakan saja berbelanja online.

Mall online merupakan strategi marketing. Perusahaan-perusahaan juga beradaptasi dengan situasi demi mempertahankan engagement baik ke customer. Hal terpenting adalah bagaimana kita meresponsnya.

Hidup kadang membuat kita terlampau terburu-buru. Kita menginginkan semua pada satu waktu. Pengen punya ini, pengen punya itu, pengen begini, pengen begitu. Udah kayak lagu Doraemon aja ya?

Kita harus sering bertanya pada diri, kita butuh gak sih barang sebanyak ini? Padahal, kalo kemarin-kemarin kita gak berutang, uang cicilannya kan bisa kita pakai untuk pos-pos lebih penting, seperti dana darurat. Nah, masalahnya kita baru nyadar begitu barangnya udah terbeli kan?

Jadi gaes, kurang-kurangi lah gengsi, perbaiki lah gaya hidup kita. Consume only basic-needs, pesan Mas Agus. Belajar nelongso. Kalo gak perlu-perlu amat, gak usah beli, gak usah berutang.

13 thoughts

  1. Bunga kartu kredit ini emang kayak biaya siluman ya… awal2 dulu punya cc karena pingin lebih praktis dan bs bayar perpanjangan domain blog juga kan ya, tetapi makin ke sini merasa gak perlu akhirnya gak makai lagi. Nice share ini, tentang utang di saat pandemi.

    Like

  2. menarik ini membahas masalah finansial apalagi tentang berutang. sebaiknya berutang juga kalo memang kepepet banget dan itu untuk need bukan want. Wajib juga nih jangan sampe terjebak bunga. Serem…

    Like

  3. Dari kecil mama selalu ngomong ke anaknya, jangan biasa berhutang. Alhamdulillah aku pun sebisa mungkin menghindari hutang.
    Takut kalo sampe mati bawa hutang, bisa terkatung-katung nanti di hari perhitungan ya kak Mutia.. serem ih

    Like

  4. Semampunya saya dan suami berprinsip untuk menjauhkan diri dari yang namanya utang bahkan untuk yang menjadi kebutuhan seperti rumah. Sampai saat ini kami masih ngontrak demi bisa menabung sedikit demi sedikit semoga bisa membeli rumah cash.

    Like

  5. Sekarang diusahakan jangan sampai berhutang. Dulu pernah punya kartu kredit duh ampun deh..ga bisa tidur. Emang mesti lebih bijak kalau berhutang sekarang yah. Timbang timbang dulu

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.