Anak kecil sering kali terlihat dramatis, seperti menangis keras hanya karena tidak dibelikan balon, teriak saat sepatu tidak bisa dipasang, atau tiba-tiba melempar mainan hanya karena warna pensil tidak sesuai harapan. Bagi orang dewasa, perilaku anak ini tampak berlebihan, tidak masuk akal, dan bahkan “tidak nyambung” dengan situasi. Padahal, bagi anak, ekspresi itu adalah cara paling jujur untuk menyampaikan apa yang ia rasakan.
Orang tua tidak perlu cemas. Anak boleh saja mengekspresikan semua emosinya, entah itu marah, sedih, kecewa, takut, bosan, bersemangat, atau bahkan cemburu. Mereka masih belajar mengenal diri dan lingkungan. Yang sering keliru adalah ketika orang tua hanya fokus mendisiplinkan emosi, bukan perilaku anak.
Banyak orang tua meminta anak berhenti menangis, berhenti marah, atau berhenti cemberut, padahal yang perlu diperbaiki bukan emosinya, tetapi perilaku anak yang mungkin melanggar aturan.
Sebagai orang tua, tugas kita bukan mematikan rasa, tetapi mengajari anak mengelola emosinya sambil tetap menjaga perilaku anak agar tidak menyakiti diri sendiri maupun orang lain. Emosi itu wajar, tetapi perilaku tetap harus diarahkan. Lalu bagaimana caranya?
Mengapa Orang Tua Harus Membedakan Emosi Anak dan Perilaku Anak?
Banyak orang tua tanpa sadar mencampurkan keduanya. Mereka menganggap menangis adalah perilaku buruk, padahal menangis adalah emosi yang muncul karena ada rasa sakit atau kecewa. Yang menjadi masalah adalah ketika tangisan berubah menjadi perilaku seperti memukul, membanting barang, atau melukai orang lain.
Contoh perbedaannya dianalogikan sebagai berikut. Emosi adalah marah, sedih, kecewa, takut, kesal, sedangkan perilaku adalah memukul, menendang, berteriak, merusak barang, melempar mainan, berbohong.
Memahami perbedaan ini membuat orang tua lebih tenang dalam mendampingi anak. Ketika anak menangis kencang, fokus kita bukan “kenapa kamu menangis?” tetapi “apa yang sedang kamu rasakan?” dan “perilaku apa yang muncul dari rasa itu?”.
Ketika anak tahu emosi anak itu valid, ia lebih mudah belajar mengatur dirinya. Inilah fondasi penting dalam membentuk perilaku anak yang positif.
Cara Bijak Mengelola Emosi Anak Tanpa Menekan Perasaannya
Berikut penjelasan lengkap dan lebih mendalam tentang langkah-langkah mengelola emosi sekaligus memperbaiki perilaku anak, dilengkapi contoh situasi dan tips praktis.
1. Jangan Menyangkal Perasaan Anak
Kamu mungkin sering mendengar orang dewasa berkata:
“Ah, masa gitu aja sedih?”
“Kamu tuh lebay banget.”
“Udah, jangan marah. Gak penting.”
“Cowok kok nangis!”
Kalimat seperti ini tidak membantu anak belajar mengolah emosinya. Justru membuat anak percaya bahwa kesedihan itu salah, kemarahan itu buruk, dan takut itu memalukan. Akibatnya, anak tumbuh dengan kemampuan regulasi emosi yang lemah karena terbiasa memendam rasa.
Padahal, anak perlu tahu bahwa marah itu wajar, sedih itu sehat, takut itu normal, dan kecewa itu manusiawi. Mengakui perasaan anak tidak berarti membenarkan perilaku anak yang negatif. Marah adalah emosi, tetapi memukul adalah perilaku. Sedih adalah perasaan, tetapi berteriak atau merusak barang adalah perilaku.
Cara yang lebih baik:
“Kamu sedih ya karena mainannya rusak? Ibu mengerti kok.”
“Iya, itu bikin marah. Tapi kita tidak memukul. Kita bisa katakan ‘Aku marah’.”
Dengan begitu anak belajar dua hal, emosinya benar, tetapi perilaku anak tetap harus dijaga.
2. Bangun Keyakinan Anak Bahwa Ia Mampu Mengelola Emosinya
Banyak orang tua percaya bahwa anak yang kuat mental adalah anak yang tidak banyak drama, tidak cengeng, dan tidak emosional. Ini keliru. Anak yang kuat mental adalah anak yang mengenali emosinya, mengakui emosinya, lalu memilih cara sehat untuk meresponsnya.
Contoh keyakinan yang harus dibangun:
“Aku boleh takut, tapi aku tetap bisa mencoba.”
“Aku sedih, tapi aku bisa tenang lagi.”
“Aku marah, tapi aku tidak memukul.”
Ketika suatu hari anak takut tampil di lomba sekolah, ia tidak lari dari kesempatan itu. Mungkin tetap gemetar, tetap gugup, tetapi berani mencoba. Di sinilah akar pembentukan karakter.
Cara membangun keyakinan itu, antara lain ceritakan pengalaman kamu saat kecil, berikan contoh orang yang berani walau takut, dan beri pujian ketika anak berhasil mengatasi emosi, bukan hanya ketika ia berprestasi. Keyakinan inilah yang membantu mengarahkan perilaku anak kelak dalam menghadapi dunia nyata.
3. Ajari Anak Strategi Mengendalikan Emosi
Anak perlu tahu bahwa emosi tidak harus langsung berubah menjadi tindakan. Ia punya pilihan. Emosi datang seperti gelombang, tetapi perilaku bisa diatur.
Contoh kalimat yang bisa kamu gunakan:
“Kalau kamu marah, kamu mau diam di kamar dulu atau mau duduk sama Ibu?”
“Kalau kamu sedih, mau digendong atau mau gambar dulu?”
“Kalau kamu takut, mau peluk boneka atau tarik napas bareng?”
Pilihannya sederhana, tetapi sangat signifikan dalam membentuk perilaku anak yang positif.
Contoh strategi mengelola emosi:
- Time-in, bukan time-out: dampingi anak diam sejenak.
- Breathing technique: tarik napas 3 detik, tahan 2 detik, hembuskan 4 detik.
- Emotional labeling: ajak anak menyebut apa yang dirasakan.
- Activity shifting: gambar, mewarnai, membaca, bermain air.
Semua ini mengajarkan bahwa emosi bisa besar, tetapi perilaku anak tetap harus terkendali.
4. Disiplinkan Perilaku Tak Pantas, Bukan Emosinya
Ketika anak melakukan kesalahan seperti merusak mainan, memukul saudara, atau melempar barang, orang tua wajib memberi konsekuensi. Konsekuensi bukan hukuman. Konsekuensi adalah pembelajaran.
Misalnya, jka ia merusak mainan adiknya, maka ia bisa membantu memperbaiki, atau adiknya mendapat jatah mainan baru. Dengan demikian, anak akan belajar bahwa perilaku anak memiliki dampak nyata. Orang tua tidak perlu memarahi emosinya. Marah boleh, memukul tidak boleh.
Mengasuh anak memang penuh drama, tangis, teriakan, dan momen yang terasa “gak nyambung.” Namun di balik semua itu ada proses belajar yang indah. Anak tidak bermaksud membuat orang tua lelah. Mereka sedang belajar memahami dunia, memahami diri, dan memahami batasan.
Tugas kita bukan memaksa anak menjadi “tenang” setiap saat. Tugas kita adalah mendengar, memahami, membimbing, dan memberi batasan yang sehat.
Dengan membedakan emosi dan perilaku anak, kamu bisa membesarkan anak yang tidak hanya pintar, tetapi juga berkarakter kuat, empatik, dan mampu mengelola diri.

Leave a Comment