Kajian Al Hijrah: Memperkuat Tauhid Lahir dan Batin

CYMERA_20181002_135421.jpg

Bulan ini kembali hadir di pengajian Al Hijrah bersama emak-emak setrong Periskasel Bali. Bertempat di rumah Mba Icha, Tukad Musi, Renon, teman-teman yang hadir kali ini lebih banyak dari bulan lalu. Alhamdulillah.

Jika sebelumnya kita membahas tentang fiqih wanita bersama Ustaz Nur Ansyur, kali ini kita lebih serius membahas tentang tauhid bersama Ustaz Zainuddin. Ustaz mengawali kajiannya dengan membacakan sebuah hadis yang diriwayatkan Bukhari dan Muslim.

“Barang siapa bersaksi bahwa tidak ada tuhan yang berhak disembah kecuali Allah saja, tidak ada sekutu bagi-Nya, dan bahwa Muhammad adalah hamba-Nya dan utusan-Nya, demikian pula bersaksi bahwa Isa adalah hamba Allah dan utusan-Nya, dan kalimat-Nya yang disampaikan kepada Maryam, dan dengan tiupan ruh dari-Nya, dan bersaksi bahwa surga adalah haq (benar) dan neraka adalah haq, maka Allah akan memasukkannya ke dalam surga bagaimana pun amal yang dikerjakannya.” 

CYMERA_20181002_135659.jpg

Tauhid adalah modal utama kita mendapatkan surga Allah. Surga adalah tempat abadi bagi manusia yang bertauhid, meski sebelum mencapai surga itu kita sebagai makhluk yang tak lepas dari dosa akan menebus kesalahan-kesalahan yang pernah kita perbuat di neraka. Rasulullah SAW dalam sabdanya di atas menekankan barang siapa yang bersaksi atas lima hal, yaitu keesaan Allah, Rasulullah Muhammad SAW, Nabi Isa, surga, dan neraka, maka Allah akan memasukkan dia ke dalam surga sesuai amalannya.

Lafaz tauhid ‘laa ilaaha illallah’

Ini namanya tauhid akidah di mana kita sebagai Muslim bersaksi bahwa tiada tuhan yang berhak disembah selain Allah, dilafazkan laa ilaaha illallah. Ini adalah kalimat persaksian yang berlaku dengan tiga syarat, yaitu diyakini dengan hati, diucapkan dengan bibir, dan dibuktikan dengan amalan dan perbuatan. Jika salah satunya hilang, maka kita tidak termasuk dalam golongan orang beriman.

Kafir itu jelas, munafik itu hanya Allah yang tahu sebab ada di hati masing-masing. Orang yang tidak bertauhid adalah golongan kafir. Orang munafik? Selama ini kita hanya mengetahui ciri-ciri tampaknya saja, yaitu berkata dia dusta, berjanji dia ingkar, dan dipercaya dia khianat. Pasal dia munafik sejati atau bukan, itu urusan Allah karena hanya Allah yang mengetahui isi hati manusia. So, pesan pak ustaz, jangan pernah memanggil seseorang dengan sebutan munafik.

Orang munafik kelak ditempatkan di kerak api neraka. Sesungguhnya golongan munafik lebih berbahaya dari golongan kafir. Ini berarti Muslim itu sendiri bisa masuk golongan munafik. Kalimat tauhid laa ilaaha illallah memang kunci surga. Namun, harus diingat bahwa setiap kunci baru bisa membuka pintu jika memiliki gigi-gigi. Nah, gigi-gigi inilah yang dimaksud bertauhid secara lahir dan batin, bukan hanya di mulut saja.

Apakah seseorang cukup mengucapkan kalimat laa ilaaha illallah, kemudian dia dijamin masuk surga? Tidak. Realisasi tauhid kita kepada Allah harus secara lahir dan batin. Jika tidak, orang tersebut masuk dalam golongan orang munafik.

Ustaz Zainuddin menggambarkannya dalam sebuah kasus, seorang pria mualaf yang menikahi perempuan Muslim. Pria tersebut bertauhid lantaran akan menikahi seorang Muslim. Secara lahir, pria tersebut adalah Muslim. Namun, bagaimana batinnya? Hanya pria tersebut yang mengetahui apakah kalimat tauhid yang diucapkannya sudah memenuhi tiga syarat kalimat persaksian.

Dalam kasus di atas, kata ustaz, kita sebagai sesama Muslim wajib memperlakukan mualaf tersebut sebagaimana lahirnya Muslim. Kelak dia akan dishalatkan ketika meninggal dunia, dikafani, dan dikuburkan berdasarkan ketentuan Islam. TAPI, kata ustaz, tidak satu pun dari kita yang berhak menilai dan menyebutnya seorang munafik.

Dalam Alquran, Allah juga menggunakan banyak kata untuk menyebut orang-orang ingkar, di antaranya syirik, kafir dan fasik. Namun, bagaimana perbedaan ketiganya?

Ini sering kita jumpai dalam kehidupan sehari-hari, mungkin anggota keluarga kita sendiri, atau mungkin diri kita sendiri pernah melakukannya, lalu bertaubat. Ustaz Zainuddin memisalkan, orang yang menyekutukan Allah, mempercayai bentuk-bentuk lain sebagai pelindung selain Allah, maka dia dijatuhi hukuman syirik. Orang yang tidak melaksanakan shalat dan mengingkari shalat, maka dia dijatuhi hukum kafir. Dia kafir karena mengingkari kewajiban shalat.

Ustaz Zainuddin mencontohkan kasus orang yang mengetahui perintah shalat itu ada, meyakini bahwa shalat itu wajib bagi setiap Muslim, namun dia malas dan meninggalkannya. Orang yang begini dikategorikan fasik. Yang berhak menghukumnya adalah pemerintah. Namun, karena Indonesia bukan berlandaskan hukum Islam, maka tidak dapat diterapkan. Dalam lingkup terkecil, Ustaz Zainuddin mengatakan orang tua sebagai pemimpin rumah tangga bisa menerapkan hukuman untuk anak-anaknya yang malas atau meninggalkan shalat.

Dalam Islam, anak-anak diajarkan dan diwajibkan shalat setelah berusia tujuh tahun. Anak-anak boleh dipukul jika meninggalkan shalat setelah berusia 10 tahun. Ini adalah usia di mana seorang anak sudah mampu menalar, membedakan yang haq dan bathil.

Dalam kajian kali ini, Ustaz Zainuddin menyelipkan sedikit pembahasan tentang hukum membawa anak-anak, khususnya balita ke masjid. Menurutnya, orang tua bertugas memberi teladan atau contoh yang baik, khususnya ibadah sejak dini kepada anak-anaknya. Namun, dalam kasus membawa balita ke masjid, itu ternyata ada rambu-rambunya loh.

Sejak zaman Rasulullah SAW, anak-anak berapapun usianya bebas keluar masuk masjid. Namun, ketika jamaah masjid tengah melaksanakan shalat fardhu atau shalat berjamaah lainnya, maka anak-anak balita atau yang belum mumayyiz tidak diperkenankan berada di dalam masjid. Ini karena mereka belum memiliki kemampuan menalar, sehingga bisa mengganggu ibadah jamaah lain, dan dosa jatuh pada orang tuanya.

Anak mumayyiz itu yang bagaimana sih? Ustaz Zainuddin menyebut anak yang sudah mampu berpikir, membedakan baik buruk, bisa diatur, dan mengerti bahasa orang tuanya. Ini berarti anak tidak harus baligh dulu atau berusia tujuh tahun, namun yang terpenting istilahnya ‘anaknya sudah bisa dibilangin’ atau ‘bisa disuruh tenang’ saat yang lain sedang mengerjakan ibadah.

Ustaz Zainuddin menyarankan keteladanan shalat untuk anak-anak yang belum mumayyiz sebaiknya diberikan di rumah, misalnya mengajak anak-anak shalat bersama, meski dalam praktik mereka lebih banyak bermain. Contoh lainnya, jika anak laki-laki yang belum mumayyiz ngotot ingin mengimami shalat orang tuanya, maka ibu bapaknya bisa mengabulkan, namun nanti kembali mengulang shalatnya. Ini salah satu cara mendidik anak supaya rajin beribadah.

Ibadah, khususnya shalat hendaknya menjadi wasiat terakhir orang tua kepada anak-anaknya sebelum meninggal. Teladan ini, kata ustaz dicontohkan oleh Nabi Ibrahim melalui doanya.

“Ya Tuhanku, jadikanlah aku dan anak cucuku orang-orang yang senantiasa mendirikan salat. Wahai Tuhan kami, perkenankanlah doaku.” (QS Ibrahim: 40)

Setiap orang tua harus memastikan anak-anaknya menjaga iman ketika mereka tidak ada lagi di dunia. Anak-anak harus ditinggalkan dalam keadaan kuat, secara akidah dan secara ekonomi atau materi.

Lucunya, kata Ustaz Zainuddin kebanyakan orang tua zaman sekarang lebih takut meninggalkan anak-anaknya tanpa warisan materi ketimbang warisan iman. Padahal, rizki anak itu diatur oleh Allah. Ini juga bisa menjadi tolak ukur ketauhidan seseorang.

“Jika waktu menjadi patokan rizki, maka yang kaya seharusnya adalah pengusaha warteg, sebab mereka buka 24 jam. Jika jabatan menjadi patokan rizki, maka yang kaya seharusnya adalah presiden, sebab merupakan jabatan tertinggi di sebuah negara. Namun, faktanya tidak demikian bukan?” gitu kurang lebih kata pak ustaz. Hihihi.

Muhammad dan Isa utusan Allah

Tauhid kepada Allah berarti tidak boleh mencintai sesuatu melebihi rasa cinta kepada Allah, tak terkecuali rasa cinta kepada nabi dan rasulnya. Cinta kepada Muhammad SAW tidak boleh melebihi cinta kepada Allah SWT. Kasih kepada Isa AS tidak boleh melebihi kasih kepada Allah SWT.

Rasulullah SAW berpesan kepada umatnya sebagaimana diriwayatkan Bukhari dan Ahmad, “Janganlah kalian memuji dan menyanjungku secara berlebihan, sebagaimana kaum Nasrani menyanjung Isa bin Maryam. Aku hanyalah hamba-Nya, maka katakanlah Abdullaah wa Rasuuluhu (hamba Allah dan Rasul-Nya)”

Saat Nabi Muhammad wafat, para sahabat, khususnya Umar tidak mempercayainya. Abu Bakar, sahabat Nabi mengatakan dengan jelas, “Ingatlah, barangsiapa menyembah Muhammad SAW maka Muhammad telah wafat, dan barangsiapa menyembah Allah maka Allah Maha Hidup dan tidak akan mati.”

Rasulullah SAW tidak suka disanjung dan dipuji berlebihan. Ini termasuk bersumpah atas namanya, menganggapnya mempunyai sifat ilahiyah atau ketuhanan, menganggapnya anak tuhan, meminta pertolongan kepadanya, berdoa berlebihan di makamnya.

CYMERA_20181002_135527.jpg

Pesan untuk diri sendiri, lebih berhati-hati dan terus memperkuat tauhid kepada Allah. Kadang tanpa kita sadari kita dapat terjerumus dalam perbuatan-perbuatan yang mengingkari keesaan Allah. Kita perlu membentengi diri kita dengan perisai ilmu agama, terus belajar, dan terus berdoa. Sampai jumpa di kajian Al Hijrah berikutnya ya 🙂

Advertisements

2 thoughts on “Kajian Al Hijrah: Memperkuat Tauhid Lahir dan Batin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s