Founder dan CEO Mangsi, Made Windu Segara Senet: Narasi dalam Secangkir Kopi

IMG-9926.jpg
Founder dan CEO Mangsi, Made Windu Segara Senet

Virus minum kopi meluas ke berbagai kalangan. Awalnya marak bermunculan kopi instan, kopi espresso,hingga obsesi menikmati secangkir kopi asli dengan teknik pembuatan terbaik yang disajikan lewat keramahtamahan kedai kopi atau restoran.

Pulau Dewata memiliki dua tempat penghasil kopi yang masuk ke dalam kategori 10 kopi terbaik dunia, yaitu Kopi Arabika Kintamani dan Kopi Robusta Tabanan. Salah satu pemain besar bisnis kopi dari hulu hingga hilir di Bali adalah Mangsi Coffee yang dikelola Windu Segara Senet.

Enterpreneur muda ini sukses karena mampu menarasikan bisnisnya secara kreatif dan inovatif. Windu bukan hanya pebinis, tapi juga dokter dan pelukis. Menjadi dokter baginya sebuah pengabdian. Melukis caranya menyempurnakan rasa, sementara berbisnis caranya meraih sukses di usia muda. 

Berikut wawancara khusus saya bersama beliau di Denpasar, Bali beberapa waktu lalu. Ini merupakan versi asli, sebelum disunting oleh tim redaksi Republika.

Apa arti Mangsi?

Mangsi adalah sebuah brand yang tergabung dalam PT Makna Gemilang Inovasi. Mangsi juga berarti debu-debu halus sisa pembakaran, dalam bahasa Bali disebut juga adeng. Adeng dipercaya mempunyai kekuatan pelindung, agar terhindar dari segala bentuk energi negatif.

Lini bisnisnya apa saja?

Lini bisnis Mangsi adalah kopi dalam kemasan dan restoran. Kami juga mulai terjun ke manufaktur dengan mengembangkan produk saus bernama Mangsi Grill Sauce.

Mangsi Factory ada di Ubung Kaja, Denpasar yang sudah berdiri sejak 2004 dengan kapasitas produksi 3,5 ton perbulan. Kebetulan ini koor bisnis orang tua saya.

Outlet restoran kami ada tiga,yaitu Mangsi Kuta di Jalan Raya Kuta Nomor 88 D, Mangsi Sanur di Jalan Bypass Ngurah Rai, dan Mangsi Merdeka di Jalan Merdeka Renon, Denpasar, Mangsi Tropical, dan beberapa bisnis kemitraan di Bali dan luar Bali.

Dimana outlet pertama Mangsi dibuka?

Outlet pertama kami pada 2013 berdiri di Jalan Hayam Wuruk Denpasar. Biaya sewa tanah di kawasan Renon dan Teuku Umar waktu itu sangat mahal, sehingga saya mencari peluang dengan melanjutkan over kontrak sebuah bangunan di Hayam Wuruk selama tiga tahun. Bangunan yang awalnya bengkel AC ini saya ubah menjadi kedai kopi.

Enam bulan saya coba memulai bisnis sendiri. Saya membeli mesin kopi, saya kumpulkan kayu-kayu bekas pembangunan jalan Tol Bali Mandara untuk bahan kursi dan mejanya, kemudian menyewa tukang. Waktu itu saya belum punya komputer, belum punya pegawai tetap. Kamibuka pukul 18.00-21.00 WITA.

Dari mana Anda belajar meracik kopi?

Saya belajar autodidak, dari Google dan YouTube. Pengetahuan saya tidak banyak tentang kopi, cuma modal lidah saja. Jika menurut saya enak, orang lain juga enak. Saya mencari banyak materi dan bereksperimen sendiri, seperti bagaimana membuat espresso, mengomposisikan kopi, air, gula. Benar-benar modal nekat.

Saya tak punya kemampuan memasak dan tak sempat belajar memasak. Makanan-makanan yang ditulis di buku menu sebatas yang bisa dibuat pacar saya saja, seperti pancake, pisang goreng, kentang goreng.

Pengalaman pahit ketika membesarkan usaha?

Saya pernah mengangkat empat pegawai, besoknya mereka kabur. Mangsi akhirnya hanya digawangi saya dan pacar yang sekarang menjadi istri.

Selama setahun saya bekerja tanpa standar operasional prosedur (SOP). Komputer tak ada, uang dan stok barang beberapa kali sempat dicuri, sistem kerja semua manual, kerja pegawai asal-asalan. Saya tak tahu apa itu inventory, apa itu manajemen finansial. Saya merasa untung karena uang di rekening bertambah, tapi saya tak tahu seberapa besar ruginya. Padahal, saya seharusnya bisa mengoptimasi keuntungan.

Lebih dari setahun grafik Mangsi fluktuatif karena persoalan sumber daya manusia (SDM). Karyawan saya merasa mereka tidak punya gengsi bekerja di Mangsi. Mereka merasa lebih baik bekerja di Kuta,Sanur, Jimbaran walau cuma menjadi tukang cuci piring. Bagi mereka yang penting label dan masyarakat memandang status sosial bagus karena bekerja di kawasan elite pariwisata.

Kapan titik balik itu terjadi, Mangsi bisa sebesar sekarang?

Selama enam bulan Mangsi sepi, tak ada tamu. Saya akhirnya belajar branding. Saya belajar tentang quality control, struktur kerja, lay out, dan sebagainya.

Orang-orang mencibir. Saya dianggap tidak mampu menjadi dokter, sehingga memutuskan jualan kopi. Yang terpikir oleh saya waktu itu adalah saya tak boleh gagal. Bagaimana pun caranya saya harus berhasil.

Saya pun menentukan positioning. Mangsi adalah produk Bali. Apa yang bisa saya jual? Saya akhirnya menciptakan narasi. Mulai dari itu, Mangsi semakin dikenal.

Narasi seperti apa yang Anda ciptakan?

Saya ini pelukis. Lukisan-lukisan saya tak berharga dan tak dikenal jika tak diberi narasi. Semua produk butuh narasi. Tanpa narasi, kopi hanya sebatas benda mati.

Apa yang membedakan produk saya dengan yang lain? Saya ciptakan narasi ‘Pengalaman Terbaik Minum Kopi Bali’atau ‘Bali Coffee Experience.’ Ini yang membuat Mangsi populer sampai sekarang.

Mengapa orang-orang harus ke Mangsi? Sebab pengalaman terbaik minum kopi Bali hanya didapatkan di sini. Saat itu saya melihat ada banyak coffee shop di Bali, tapi tak ada spesifikasi. Mereka rata-rata menjual kopi-kopi Nusantara. Tidak ada identifikasi jelas terhadap produknya. Di Mangsi, kami mantap hanya menjual kopi Bali.

Mangsi memiliki empat jenis Signature Coffee Special Spices Mix di mana kopi diracik dengan bahan tambahan aneka rempah asli Indonesia. Pertama, Mangsi Spirit yang merupakan gabungan darikopi, jahe, cengkeh, dan kayu manis.

Kedua, Mangsi Stamina yang diracik dari campuran kopi, kapulaga, cocoa, cengkeh, jahe, dan kayu manis. Ketiga, Mangsi Vitality yang terdiri dari kopi, ketumbar, cocoa, cengkeh, jahe, dankayu manis. Terakhir, Mangsi Curcuma yang diracik dari kopi, temulawak, dan cengkeh.

Pada 2013 sedang gencar gerakan’Bali Tolak Reklamasi.’ Ada orang yang turun ke jalan ikut berunjuk rasa. Saya memilih menyelamatkan Bali dengan cara sendiri, yaitu kopi Bali. Waktu itu idealisme saya bahkan lebih ekstrem dengan menerapkan aturan semua karyawan saya harus orang Bali.

Apakah idealisme itu bertahan sampai hari ini?

Teman saya, Niluh Djelantik suatu hari menasihati agar saya tak terlalu idealis pada hal seperti itu. Idealislah pada sifat bekerja keras. Setelah enam bulan aturan tersebut bertahan, saya menyadari kebenaran kata-katanya.m

Akhirnya saya berubah demi mendapatkan etos kerja yang baik. Saya menerima karyawan tanpa melihat latar belakang dia Bali atau bukan. Selama mereka mau bekerja keras, saya tak peduli siapa dan dari mana asalnya.

Kapan Mangsi berkembang dari kedai kopi menjadi restoran?

Konsep Mangsi Coffee bertahan 2013-2015, kemudian bertransformasi menjadi Mangsi Grill & Coffee mulai 2015 sampai hari ini. Saya menyadari pasar tak terlalu butuh kopi. Yang meramaikan kopi adalah obrolan orang-orang di tempat minum kopi.

Instagram dan media sosial punya andil besar membuat budaya ngopi dan nongkrong di warung kopi meluas. Jika wajah Mangsi tetap seperti ini, bisnis saya akan jalan di tempat, tak bisa dibanggakan. Lama-lama orang tak ada yang mau datang.

Kita misalkan lima orang sahabat, empat orang di antaranya penyuka kopi dan ingin datang ke Mangsi, sementara satu orang lagi tidak suka kopi dan menawarkan mencari restoran yang ada menu kopinya. Keputusan empat orang tadi bisa kalah dengan keputusan satu orang.

Setelah menyadari kesalahan itu, saya memindahkah menu-menu kopi ke halaman 9-11, sementara menu-menu makanan masuk ke halaman utama. Mangsi berkembang menjadi restoran yang menyajikan makanan berbasis grill atau panggang dengan produk kopi Bali. Pasar yang kami sasar adalah lokal perkotaan.

Bukahkan itu berarti kehilangan idealisme Anda?

Saya pernah dihujat habis para pemain kopi. Saya dianggap tidak bisa mempertahankan idealisme dan identitas kopi Mangsi. Tidak apa-apa mereka berpikiran seperti itu, sebab sampai hari ini terbukti tak sekali pun saya kehilangan idealisme saya.

Bali Coffee Experience tetap menjadi jati diri saya dan jati diri Mangsi. Mangsi dikenal karena kopinya, jadi saya tak pernah meninggalkan kopi.

Hari ini, dari 250-300 orang yang datang ke Mangsi Merdeka, 100 orang di antaranya tetap rutin membeli kopi. Penjualan kopi Mangsi masih yang tertinggi untuk kelas minuman.

Kopi penting bagi Mangsi, tapi tak harus menjadi frontline, tak harus menjadi produk utama. Kopi zaman sekarang tak hanya minuman. Kopi bisa menjadi apa saja, termasuk menjadi bahan makanan,seperti saus yang kami kembangkan.

Foto Sauce (1)
Mangsi Grill Sauce, terbuat dari kulit kopi

Saya berusaha membaca situasi. Orang bilang pebisnis harus bisa memilih antara konsisten atau berinovasi. Bagi saya, pebisnis perlu menjaga konsistensi sambil terus berinovasi. Dua hal tetap dijaga, yaitu konsisten beradaptasi, dan konsisten berinovasi.

Adakah sosok spesial yang berjasa bagi Anda?

Suatu hari saya bertemu Pak Hary Purwanto, pelanggan setia kopi Mangsi yang setiap datang selalu mengkritik. Pensiunan PT Japfa ini yang memberi saya pandangan pentingnya membangun pondasi binis terstruktur.

Dari beliau saya sadar pendidikan kedokteran yang saya jalani bisa dikorelasikan dalam berbisnis. Dunia kedokteran sangat disiplin soal struktur kerja. Struktur kerja ini yang seharusnya saya pakai untuk menerapkan bisnis di Mangsi.

Awalnya saya tak menyadari dan tak menerapkan itu karena jiwa seniman saya lebih dominan. Seniman itu tak suka dikotak-kotakkan, tidak suka serba terstruktur, jiwanya ingin bebas, melompat ke sana ke mari.

Akhirnya saya meminta beliau membantu saya merapikan puzzle-puzzle usaha yang saya bangun. Saya seorang pemburu, bukan pemotong kambing. Saya seorang pemikir, bukan eksekutor yang baik. Dia lah eksekutor Mangsi yang bisa menuangkan ide-ide saya. Dua tahun beliau bersama Mangsi hingga meninggal dunia pertengahan Agustus 2017.

Anda sempat limbung ditinggal Pak Hary?

Sempat. Tapi, selama dua tahun itu pula saya belajar penuh darinya. Selama beliau masih hidup, kami setiap harinya selalu bertukar pikiran. Mendiang Pak Hary membuat saya bertekad mencetak leader-leader baru di Mangsi.

Berapa total karyawan Mangsi?

Ada 90 orang untuk tiga outlet. Mangsi Merdeka gerai utama kami yang berdiri di atas areal seluas 1.600 meter per segi dan luas restoran 350 meter per segi. Kapasitasnya 100 kursi dengan rata-rata kunjungan 300-350 tamu per hari. Mangsi Sanur kapasitasnya 60 kursi, Kuta 45 kursi, dan nantinya Mangsi Tropical yang akan dilaunching berkapasitas 80 kursi.

Sekarang Anda masih bertugas penuh di Mangsi?

Semakin sering saya terlibat di Mangsi, berarti bisnis ini masih jelek. Bisnis dikatakan berhasil bukan setelah beromset besar, tapi saat bisnis itu sudah bisa ditinggalkan pemimpinnya.

Dulu saya menghabiskan 8-12 jam dioutlet-outlet Mangsi. Sekarang jarang, cukup 3-4 jam saja. Sisanya saya serahkan ke tim, yaitu manajer, kapten, dan admin saya. Tujuan kedatangan saya pun lebih kepada memberi spirit untuk karyawan. Mangsi tak akan pernah berkembang jika terus membutuhkan seorang Windu.

Visi misi Mangsi?

Visi kami pada 2019, Mangsi Grill & Coffee adalah restoran unggulan Bali yang tersebar di kota-kota besar seluruh Indonesia. Mangsi juga satu-satunya restoran yang memiliki saus unik terbuat dari kulit kopi.

Misi kami di antaranyamengembangkan usaha ke seluruh Indonesia, termasuk ke pasar internasional. Tak ketinggalan, Mangsi akan terus berinovasi demi kelangsungan dan ketahanan perusahaan didukung sistem manajemen baik dan SDM berdedikasi juga profesional.

Adakah rencana ekspansi?

Kami baru saja meluncurkan Mangsi Tropical di Renon, Denpasar. Konsepnya sedikit berbeda dari tiga outlet yang ada. Mangsi Tropical bisa digunakan sebagai venue kegiatan besar, seperti pesta pernikahan dan ulang tahun.

Desember 2018, Mangsi berencana membuka outlet di Trans Studio Denpasar. Kami tengah menjajaki kemitraan dengan investor.

Pada 2019, saya berencana membuka outlet luar Bali, dimulai dari Yogyakarta, Bandung, dan Jakarta. Masing-masing kota minimal memiliki tiga outlet. Rata-rata dana yang dibutuhkan per outletnyaRp 2,5 miliar. Berdasarkan rencana bisnis, ini rata-rata dalam kurun waktu dua tahun sudah menguntungkan dan balik modal.

Mangsi harus ke luar Bali. Ini bukan sekadar impian saya, tapi juga potensi dari riset yang kami lakukan. Selain itu, saya ingin mencoba kemampuan saya lebih jauh, tentunya dengan risiko terukur. Satu bisnis besar dan bagus, itu bisa dilakukan semua orang. Namun, bagi saya, kemampuan pebisnis justru diuji pada saat dia menduplikasi bisnisnya.

Sumber pendanaan?

Plafon pendanaan ekspansi ini berasal dari perusahaan dan beberapa mitra yang sedang kami jajaki. Kami lebih senang bermitra dengan investor ketimbang menerima pendanaan dari bank.

Apakah capaian hari ini sudah melebihi ekspektasi?

Sebagai pebisnis, saya mengatakan belum. Prinsip saya, jika saya punya target 10, namun yang tercapaibaru delapan, maka saya akan meningkatkan target berikutnya dua kali lipat menjadi 20.

Santai adalah alarm bahaya bagi seorang pebisnis. Tensi harus dijaga tetap hangat agar ambisi dan ego pebisnis tetap terkontrol. Optimisme akan tumbuh mana kala diimbangi pesimisme yang terkontrol. Pebisnis paling takut dengan fixed mindset.

Selain pengusaha, Anda dikenal sebagai dokter dan pelukis. Mana jiwa Anda?

Saya pada dasarnya dilahirkan sebagai seniman di keluarga besar. Sejak kecil saya suka melukis dan musik. Lulus SMA saya mendapat beasiswa dari Sampoerna Foundation untuk melanjutkan kuliah design ke Singapura atau Hong Kong. Saya bimbang memilih kuliah akademis atau menekuni seni kembali.

Saya sadar saya orangnya tidak suka diatur. Saya belajar seni secara natural dan ingin menemukan jati diri dengan berpengalaman di jalanan. Orang tua pun mengarahkan saya untuk berkuliah di teknik, arsitek, atau kedokteran, hingga saya diterima di Kedokteran Umum, UniversitasUdayana lewat jalur penelusuran minat dan bakat atau PMDK.

Anda tak menyesal?

Saya pikir bersekolah di manapun sama saja. Saya berdamai dengan keputusan itu dan berkomitmen. Jika saya berontak, saya hanya menunjukkan ketidakmampuan dalam menyelesaikan masalah, dicap lemah. Suka tak suka akhirnya saya telan.

Orang tua tak pernah menuntut saya harus punya nilai bagus, sebab mereka tahu seberapa besar kapasitas belajar saya. Syukurnya saya menemukan teman tempat belajar yang pas. Saya ini tak suka membaca. Saya lebih suka mendengar dan melihat.

Saya bilang dia, tak perlu jadikan saya pintar, tapi cukup ajarkan saya agar bisa menjawab soal ujian besok dan lulus. Yang penting orang tua tahu anaknya lulus.

Bagaimana rasanya menjadi dokter?

Pertama bertugas di RSUP Sanglah, saya bertemu situasi dan ritme kerja berat. Jam enam pagi harus di ruangan, evaluasi pasien, membuat laporan pagi, jaga di poliklinik, jaga di UGD hingga jam lima pagi keesokan harinya. Setiap tiga hari sekali demikian. Tidak ada kenikmatan yang saya rasakan.

Saya pernah bertanya pada profesor saya, tidak adakah pembaharuan pendidikan dalam dunia kesehatan? Bagaimana mungkin seorang dokter bisa melayani pasien sepenuh hati jika tubuhnya sendiri diporsir sedemikian rupa? Profesor saya menjawab sejak zaman dia aturannya sudah begitu.

Dokter muda jika buka praktik di Denpasar, jarang orang mau datang. Pasien rata-rata mencari dokter spesialis, itu pun yang sudah senior. Kualifikasi dokter seolah diukur dari berapa banyak jumlah pasien yang sudah ditangani, berapa lama pengalaman, bukan sekadar ilmunya saja. Ini berarti saya harus tua dulu baru sejahtera. Singkat kata saya berpikir ulang meneruskan profesi ini.

Apakah Anda ingin pebisnis pemula mengikuti kisah Anda?

Bisnis itu sama dengan jodoh, tergantung karakter. Saya tak meminta mereka mengikuti saya, namun saya ingin menanamkan pemikiran bahwa menumbuhkan keberanian diri untuk berbisnis yang utama. Tekad 70 persen, dan tetap diimbangi pengetahuan 20-30 persen.

Pengetahuan sangat penting dalam pengambilan keputusan. Kritik dan masukan saja tidak cukup, sebab sifatnya subyektif. Semua harus diterjemahkan seobyektif mungkin, sehingga data kuantitatif itu penting. Pebisnis harus bisa membuat angka kecenderungan, sebab itu dipakai dalam setiap pengambilan keputusan.

Kehancuran terjadi jika seorang pebisnis mengambil keputusan berdasarkan rasa, bukan data dan kajian. Ini karena setiap keputusan membutuhkan biaya dan risiko.

CYMERA_20180522_192015
Penulis bersama CEO Mangsi

Berhasil tak Harus Jadi Dokter

Lulus sebagai dokter dari Universitas Udayana, Made Windu Segara Senet menjalani magang (koas) di Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) Sanglah, kemudian bekerja di Rumah Sakit Umum (RSU) Tabanan setelahnya. Windu menandatangani kontrak kerja pertama sebagai dokter dengan upah Rp 1,25 juta per bulan yang dibayarkan setiap triwulan.

Itu berarti gajinya sebagai dokter yang lulus dengan prediket sangat memuaskan hanya Rp 3,75 juta untuk tiga bulan. Hati kecil anak bungsu dari dua bersaudara ini pun mulai berontak dan ingin pensiun dini, sebab impiannya sejak dulu adalah sukses di usia muda.

Windu satu dari sekian banyak pengusaha muda sukses dengan prinsip hidup menarik. Ketika orang masih merangkak, dia sudah ingin berjalan. Ketika orang berjalan, dia sudah berlari. Hingga orang-orang baru mulai berlari, dia sudah terbang tinggi.

“Saya tak ingin terus membohongi publik bahwa saya mandiri dan mampu karena saya dokter. Faktanya dengan gaji segitu hidup saya masih disubsidi orang tua. Dokter adalah profesi pengabdian. Jika kita berekspektasi lebih dari itu, kita harus berpikir ulang menjadi dokter,” katanya.

Bakti kepada orang tua membuat pria kelahiran Denpasar, 10 Maret 1989 ini tak ingin buru-buru mengutarakan niatnya. Dia berkeliling Denpasar untuk mencari peluang dan inspirasi dari orang-orang yang ditemuinya.

Perjalanan Windu pertama terhenti di Kompleks Pertokoan Gadjah Mada. Dokter dengan segudang prestasi melukis ini mengamati sederet pedagang yang kaya dengan berjualan popok bayi, plastik, kain, canang,hingga lauk pauk. Sesampainya di Ubung, ia bertemu juragan tempe yang memiliki mobil Fortuner, serta juragan kayu jati yang memiliki mobil Mercedes-Benz.

Pria kelahiran 1989 ini mencukupkan langkahnya mana kala bertemu seorang pedagang bakso di samping sebuah gereja katedral, Jalan Tukad Musi. Hanya dengan berkeliling empat jam setiap hari, pedagang bakso tersebut bisa menjual 50 mangkok per hari dan meraih penghasilan bersih Rp 7,5 juta per bulan tanpa gelar sekolah tinggi.

“Saya sudah terjebak dalam satu konsep bahwa berhasil itu adalah dengan menjadi dokter. Dari sana saya melihat bahwa pintu keberhasilan itu banyak. Masa depan tak hanya bisa diraih dengan menjadi dokter. Dokter hanya satu dari ribuan pilihan,” katanya.

Tiba saatnya Windu manyampaikan niatnya berwirausaha kepada bapak ibunya. Ia menerima penolakan, bahkan ditawari Rp 200 juta untuk kembali berkuliah menjadi dokter spesialis.

Windu tetap teguh pendirian. Uang orang tuanya ia pinjam untuk membangun usaha. Dia pun membuat daftar bisnis yang berpeluang dikembangkan.

Keputusannya mengerucut hendak membesarkan jantung bisnis keluarga yang masih belum dimanajemen dan dibranding dengan baik. Sang ayah merupakan pebisnis kopi skala rumah tangga yang menjual produk kopi dalam kemasan ke pusat oleh-oleh di Bali sejak 2004. Windu pun membuka outlet Mangsi Coffee pertamanya di Jalan Hayam Wuruk Denpasar.

Imajinasi dan jiwa seni yangmengalir di darahnya selama puluhan tahun dituangkan ke setiap kreasi dan inovasi Mangsi, mulai dari ide, desain, layout, produk, hingga promosi. Begitu seragam dokter dilepas, Windu bertekad harus berhasil dengan jalan hidup yang telah ia pilih.

Kebebasan selalu layak untuk dirayakan. Seperti peminum kopi yang bebas memilih kopi yang hendak diminum, Windu pun mantap memilih jalan hidupnya yang baru.

Di usia 30 tahun, putra Bali ini telah menjelma menjadi miliuner. Dia pun berhasil menyebarkan virus minum kopi Bali di Indonesia hingga dunia.

IMG_20180521_212256_755

Biodata

Nama                                     : Windu Segara Senet

Tempat Tanggal Lahir       : Denpasar, 10 Maret 1989

Pendidikan Terakhir          : Fakultas Kedokteran, Universitas Udayana(2007-2012)

Profesi                                   : Dokter umum dan pebisnis

Prestasi                                 :

Marketeers Of The Year, Markplus (2016)

The Rookie BPR Lestari Business Award (2014)

Solo Exhibtion of Paintings, Ganesha GalleryFour Season Resort (2011)

Alamat                                   : Jalan Kertanegara Nomor 76, BanjarAnyar-Anyar,

                                                 Ubung Kaja, Denpasar

Email                                      : windu.segara@gmail.com

Instagram                             : @windusenet

Windu Segara Senet, CEO Mangsi Coffee.jpeg
Bincang Bisnis Republika Edisi Senin, 9 Juli 2018
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s