Janggan, Layangan Unik dari Bali

Hari masih pagi ketika saya bertemu dengan Bli Kadek Suprapta Meranggi di kediamannya, Sukun Bali Cottage, Sanur. Sesampainya di pintu masuk penginapan yang hanya berjarak 400 meter (m) dari Pantai Sanur itu, saya disambut dengan tapel – kepala hiasan layang-layang tradisional Bali – yang amat besar dan megah.

Beberapa detik saya terkesima dengan pesonanya. Belakangan saya mengetahui itu adalah tapel dari Naga Raja, raja layangan janggan yang baru saja dicatat di Museum Rekor Indonesia (MURI) sebagai layangan tradisional terbesar dan terpanjang. 

layangan janggan
Foto: Deck Sotto

Kadek yang merupakan undagi – arsitek tradisional Bali – yang menciptakan maha karya tersebut menyambut saya ramah. Kami pun berbincang sambil menikmati teh pagi di salah satu sudut taman tropis nan rimbun. Sesekali beliau menyapa tamu-tamu asing yang melintas. “Good morning,”  katanya tersenyum ramah pada mereka, kemudian kembali larut dalam perbincangan kami seputar janggan, layangan ikonik dari Bali.

layangan unik
Kadek Suprapta Meranggi bersama tapel Naga Raja (Foto: Deck Sotto)

Pria 41 tahun itu berasal dari Banjar Dangin Peken, Sanur, Denpasar yang disebut juga ‘Rumah Layangan’ di Bali. Janggan mula-mula berasal dari sini, puluhan tahun silam ketika dibuat pertama kali oleh seorang bernama Kakek Rengkuh.

“Layang-layang adalah jiwanya masyarakat Bali,” kata Kadek.

Layang-layang tradisional Bali amat lekat dengan budaya pesisir dan agraris. Masyarakat Bali, kata Kadek memainkan layang-layang setelah musim panen sebagai ungkapan rasa syukur kepada dewa dewi yang mereka sebut Rare Angon yang telah memberikan hasil bumi dan tanah subur.

Budaya tersebut tercermin dari tiga bentuk layangan tradisional Bali, yaitu bebean yang bentuknya ikan, pecukan yang bentuknya daun, dan janggan yang merupakan asosiasi dari pecukan berekor seperti naga. Janggan merupakan jenis paling terkenal.

layangan janggan
Foto: Deck Sotto

Juni – Agustus setiap tahunnya merupakan waktu terbaik bermain layang-layang di Bali. Ini merupakan musim kering, selesai panen, di mana langit cerah dan angin bertiup sangat kencang.

layangan janggan
Foto: Deck Sotto

Deck Sotto, sapaan akrab Kadek menceritakan pengalamannya selama 1,5 bulan membuat Naga Raja bersama sejumlah undagi Bali. Mula-mula mereka mencari 14 batang bambu betung kualitas A yang menjadi kerangka dasar dengan ukuran panjang di atas 12 meter.

Undagi-undagi pun dibagi ke dalam beberapa tim, di antaranya mereka yang mengerjakan tapel, kerangka dasar layangan, ekor, juga guangan atau bilah bambu yang ujung-ujungnya ditarik menyerupai busur panah, menghasilkan bunyi mengikuti gerakan layangan ketika tertiup angin. Hasil akhirnya adalah Janggan Naga Raja dengan spesifikasi berat 707 kilogram (kg), panjang tubuh 15,5 m,  lebar tubuh 11,30 m, panjang ekor 250 m, dan lebar ekor 12 m.

Naga Raja sempat diragukan dan dicap tidak layak terbang oleh banyak orang. Komentar miring pun pernah diterima Kadek dari seorang maestro layangan luar negeri yang menyebut Naga Raja hanya sebatas layangan show case alias pajangan.

“Saya katakan padanya Naga Raja adalah layangan janggan yang dibuat dengan penuh perhitungan aerodinamika, baik itu pengukuran berat, dimensi, dan skalanya,” ujar Kadek.

Ribuan orang, khususnya masyarakat Dangin Peken berkumpul di Pantai Mertasari, Sanur Juli 2016. Mereka seakan tak mau melewatkan momen berharga tersebut, bahkan saling berebut menyentuh bagian layangan.

Layangan yang didominasi warna tri datu, merah, hitam, dan putih itu memang belum bisa terbang maksimal pada hari pencatatan sebab terkendala cuaca kurang bersahabat. Ini karena Naga Raja didesain terbang pada skala kecepatan angin mencapai 20 knot.

layangan janggan
Naga Raja (Foto: ST Dhananjaya Dangin Peken)
layangan janggan
Foto: Deck Sotto

Pada kesempatan kedua ketika diadakan Lomba Layang-Layang Piala Dhananjaya Juli 2017, Kadek dan lebih dari dua ratus pemuda mencoba kembali menerbangan Naga Raja dan hasilnya lebih sukses dari sebelumnya. Sang Naga mengudara lepas ketika kecepatan angin waktu itu hanya 17 knot.

“Secara logika seharusnya tidak bisa terbang dengan angin segitu, tapi ternyata bisa. Inilah yang namanya taksu (daya magis),” kata Mantan Ketua Seni Layangan Banjar Dangin Peken ini.

Kadek berharap pada kesempatan berikutnya Naga Raja bisa lebih lama menari di langit Bali. Ini merupakan bentuk persembahan dari Banjar Dangin Peken untuk Bali dan Indonesia.

layangan janggan
Foto: Deck Sotto
layangan janggan
Foto: Deck Sotto

Putra Bali yang aktif di kepengurusan Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Denpasar ini sangat handal mendesain layangan janggan. Kadek tak segan merogoh kocek belasan juta hingga ratusan juta rupiah hanya demi menciptakan layangan megah yang tak terhitung jumlahnya, seperti Naga Raja, Naga Banda, Srikandi, dan Ahok yang digantung di sudut kiri pintu masuk cottage.

layangan unik
Tapel Srikandi
layangan unik
layangan unik
layangan unik

Naga Raja menghabiskan biaya hingga Rp 120 juta, sementara Srikandi dan Ahok masing-masingnya Rp 18 juta. Jika Naga Raja dan Srikandi kental dengan desain Bali khususnya di bagian gelungan (mahkota), berbeda dengan Layangan Ahok yang mengombinasikan desain Bali dan Cina.

layangan unik
Tapel Janggan Ahok
layangan unik
Foto: Deck Sotto
layangan unik
layangan unik

Tapel naga pada Janggan Ahok didominasi warna hitam, serta menggunakan ornamen khas Cina, seperti kepala naga dengan tanduk emas, rambut naga putih terbuat dari ekor kuda kontras dengan leher naga yang hitam. Badong atau aksesoris seperti kalung emas di leher naga dihiasi ukiran Cina, sementara prada gede yang menyerupai daun emas (gold leaf) di bagian kepala terbuat dari emas 24 karat. Mahkotanya bahkan dihiasi kristal swarovski.

Bisa Dibongkar Pasang

Janggan merupakan layangan khas yang ukurannya diklasifikan menjadi kecil (2,5-3 m), medium (4-5 m), dan besar (di atas 5 m). Pulau Bali yang kini menjadi destinasi pariwisata dunia tak dimungkiri membuat jalanan semakin sibuk, banyak pusat kemacetan, sehingga semakin sulit membawa layangan berukuran besar di tengah padatnya lalu lintas perkotaan.

Para undagi mulai merancang pembuatan layangan dengan sistem bongkar pasang atau knock down. Salah seorang paling berjasa menemukan teknik perakitan ini adalah I Made Satra atau lebih dikenal dengan panggilan Pak De Dodot (53).

Pak De Dodot ‘memutilasi’ layangan menjadi beberapa bagian, kemudian memasangnya kembali pada saat akan diterbangkan. Ia memperkenalkan layangan bongkar pasang pertama kali sekitar 2006. Lebih dari satu dekade konsepnya dipakai di seluruh Bali bahkan Indonesia.

“Sistem knock down ini lebih praktis dan tidak susah memobilisasinya di jalan. Saya sadar kelestarian budaya layangan di Bali juga harus diikuti perkembangan teknologi perakitan,” kata Pak De Dodot.

Ayah tiga anak ini merupakan ‘otak utama’ di balik suksesnya pembuatan Naga Raja. Pengalaman singkatnya kuliah arsitektur di salah satu kampus swasta tertua di Bali turut mendatangkan ide untuk mendesain Naga Raja.

Disakralkan

Janggan adalah layangan yang disakralkan. Para penerbang biasanya menggelar ritual doa bersama sebelum layang-layang diterbangkan. Aneka sesajen disajikan supaya janggan bisa mengudara dengan mudah, serta menghindari kejadian-kejadian berbau mistis yang tak diinginkan.

layangan unik
Foto: Deck Sotto

Suara guangan janggan dipercaya memberi efek kesuburan bagi tanah-tanah pertanian di sekitar. Baik Kadek maupun Pak De Dodot pernah menyaksikan hal mistis ketika Janggan Panji Sakti milik Banjar Dangin Peken diterbangkan beberapa waktu lalu di Sanur. Panji Sakti merupakan layangan suci dan tertua yang usia tapelnya lebih dari setengah abad.

Ketika sedang asik menari di udara, layangan yang dipercaya berisi Ratu Gede Panji Sakti itu tanpa sengaja tersenggol janggan lainnya dan terjatuh. Hal di luar nalar pun terjadi.

Semua layangan janggan yang terbang di Lapangan Padang Galak satu demi satu berjatuhan ke bumi, seakan-akan mengikuti ratunya. Para penerbangnya pun secara serentak mengalami kesurupan. Kejadian tersebut sempat diabadikan seorang warganet di YouTube.

Bermain layangan atau melayangan adalah warisan leluhur Bali untuk mempersatukan pemudanya supaya lebih kreatif dalam berkarya. Hal ini dirasakan I Putu Agus Sumerta (25), pemuda dari Banjar Abian Tegal, Pulau Batanta.

layangan janggan
Foto: Deck Sotto

Pria yang juga calon ayah ini senang mengikuti berbagai festival dan lomba layangan bersama teman-temannya yang tergabung dalam Seka Layangan Senyum Santai. Jenis layangan paling digemarinya adalah bebean dan janggan.

“Saya pernah asik melayangan dari pagi sampai malam hari,” katanya.

Sumerta dan teman-temannya pernah menjadi juara satu dalam festival layangan di Sanur 2014 untuk kategori medium. Hal tersedih dalam hidupnya adalah layangan yang mereka banggakan mengalami kecelakaan, sehingga rusak dan hancur saat mengikuti lomba layang-layang setahun kemudian.

Bagi masyarakat Bali, layangan tak sekadar benda mati tanpa nilai. Mereka percaya layangan juga memiliki tubuh, tulang, dan taksu atau roh penunggu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.