Review film All These Years (2023)
Review film All These Years (2023)

Buat kamu yang masih belum move on dari serial The Early Spring, yuk merapat! Aku ingin mengajakmu menyelami sebuah film indah yang juga dibintangi oleh Flora alias Sun Qian. Judulnya All These Years (2023).

Jika sosok Luan Nian hadir bagaikan musim semi hangat yang menyembuhkan bagi Flora, maka Li Ran adalah musim dingin yang mendekap erat Chen Jianxia dalam All These Years (2023). 

Film ini mengisahkan cinta anak SMA yang begitu tulus, manis, merekam indahnya cinta monyet masa remaja dan perkembangan karakter begitu dewasa.

Walau kamu yang menonton film ini mungkin sudah kepala empat atau lima, All These Years bakal tetap sukses meremas emosi dan membuat air matamu menetes tanpa sadar. 

Karakter Chen Jianxia, diperankan Sun Qian, yang berjuang meloloskan diri dari keluarganya yang sangat patriarkal, dipadu dengan kehadiran Li Ran, diperankan Zhang Xinchen yang menjadi tempat bernaung paling aman baginya.

All These Years mungkin bisa mengobati sedikit “kecanduan” kamu pada The Early Spring. Penasaran bagaimana kisah Jianxia dan Li Ran? Baca terus sampai habis ya.

Sinopsis All These Years

Chen Jianxia bukanlah siapa-siapa saat pertama kali menginjakkan kaki di kota sebesar Harbin untuk masuk sekolah unggulan, SMA Zhenhua. Ia hanya murid baru yang datang dari kabupaten kecil Dunli, membawa beban berat berupa rasa rendah diri dan luka pengasuhan. 

Di rumahnya, ibunya terang-terangan lebih menyayangi dan memprioritaskan adik laki-lakinya, Chen Zhiwei. Sementara sang ayah sangat pasif. Satu-satunya cara Jianxia melarikan diri dari keluarganya yang masih patriarkal adalah mengubah nasib. Satu-satunya cara mewujudkan itu adalah lewat pendidikan, yaitu dengan menjadi yang terbaik di sekolah.

Akan tetapi, SMA Zhenhua yang megah justru menjadi tempat yang dingin dan penuh perundungan. Rekan-rekan sekelasnya yang mayoritas anak orang kaya memandangnya remeh. Di tengah kesendirian Jianxia, hadirlah Li Ran.

Li Ran adalah murid lokal dari Harbin yang datang dari keluarga kaya raya. Di mata guru, ia murid bermasalah. Namun di mata dunia, ia hanyalah anak yang kesepian setelah ditinggal wafat ibu kandungnya, diabaikan oleh sang ayah juga ibu tirinya. 

Awal pertemuan mereka sangat unik. Li Ran yang suka bolos masuk begitu saja ke asrama siswi dan sembarangan masuk ke ruang guru. Suatu hari, kepalanya berdarah, Jianxia memberinya tisu.

Sebagai balas budi, Li Ran meminjamkan Jianxia pemutar kaset (walkman) untuk belajar bahasa Inggris. Hari-hari berikutnya, Li Ran sering pasang badan ketika Chen Jianxia di-bully, salah satunya ketika dituduh mencuri pemutar CD milik murid kaya bernama Yu Sisi hingga dicemooh lantaran memberikan syal murah untuk kado ulang tahun teman sekelasnya.

Film China, All These Years (2023)
Film China, All These Years (2023)

Dua Jiwa Rapuh

Suatu malam, Li Ran membawa Jianxia ke sebuah gedung berusia hampir seratus tahun. Gedung itu adalah bekas sekolah seni dan museum yang sering ia kunjungi bersama kakeknya semasa kecil. 

Di sanalah, di bawah bayang-bayang arsitektur tua, Li Ran mengajari Jianxia cara bersembunyi dari kejamnya dunia.

Jianxia menangis sesenggukan. Ia menceritakan betapa ia lelah berjuang sendirian di SMA Zhenhua, betapa sakitnya merasa tidak diinginkan di rumahnya sendiri, dan betapa takutnya ia jika tidak pintar. Li Ran simpati dan ingini menyemangati Jianxia. Ia memandang gadis yang terluka itu dan bilang:

“Mereka adalah mereka, kamu adalah kamu. Kamu tidak perlu menjadi orang lain di hadapanku. Cukup jadi dirimu sendiri.”

Sejak itu, Jianxia merasa benar-benar dilihat dan dihargai bukan karena nilai atau prestasinya di sekolah, melainkan karena dirinya sendiri. Dua remaja itu saling berbagi mimpi-mimpi kecil. 

Jianxia ingin pergi ke Universitas Nanjing, sebuah kota romantis yang jauh dari belenggu rumahnya. Li Ran, yang sebenarnya tidak memiliki motivasi belajar, berjanji akan berusaha mati-matian agar bisa masuk universitas di kota yang sama demi terus menyokong impian Jianxia. Mereka pun saling mengikat janji.

Chen Jinxia (Sun Qian) dan Li Ran (Zhang Xinchen) di SMA Zhenhua
Chen Jinxia (Sun Qian) dan Li Ran (Zhang Xinchen) di SMA Zhenhua

Badai dan Sanksi Sekolah

Dunia orang dewasa tidak ramah terhadap cinta masa remaja mereka. Hubungan mereka tercium oleh pihak sekolah dan orang tua. 

Ibu Jianxia yang marah besar menyeret Jianxia keluar dari SMA Zhenhua, mengembalikannya ke sekolah biasa di kabupaten. Ibu tiri dan ayah Li Ran juga mengurung Li Ran di rumah supaya tidak kabur dan mencari kesempatan untuk melihat Jianxia.

Jianxia kembali ke kehidupan lamanya yang penuh tekanan orang tua patriarki. Meski begitu, ia masih berkeinginan untuk kembali ke SMA Zhenhua demi kelak bisa lulus kampus luar negeri, sebagaimana impiannya.

Jianxia sampai berlutut di depan ayah dan ibunya supaya mengizinkannya ikut tes lagi dan kembali ke SMA Zhenhua. Mula-mula, ibunya tak memberi restu.

Bagi sang ibu, Jianxia hanyalah “alat” untuk membantu adik laki-lakinya kelak, bukan seseorang yang berhak menentukan masa depannya sendiri.

Li Ran tidak tinggal diam. Nekat, ia memanjat pagar rumahnya dan menyewa mobil demi menemui Jianxia di Dunli. 

Ketika melihat Jianxia sedang berjuang keras mengerjakan soal-soal ujian dengan gigih di sekolah desanya demi bisa kembali ke SMA Zhenhua, Li Ran sadar betapa berharganya mimpi gadis itu.

Jianxia akhirnya kembali bersekolah di SMA Zhenhua. Akan tetapi, dia mendapat sanksi publik, yaitu dijadikan contoh siswa atas tuduhan “hubungan dekat yang melanggar aturan.”

Satu sekolah merendahkan Jianxia, tetapi Jianxia yang telah kembali ke SMA Zhenhua memilih berlapang dada. Ia kini lebih berani, bulan murid penakut lagi seperti sebelumnya. Ia tidak lagi peduli omongan orang lain demi terus melangkah.

Zhang Ruonan sebagai kameo di All These Years
Zhang Ruonan sebagai kameo di All These Years

Pengorbanan Terbesar

Tibalah saat mereka sampai di akhir pendidikan, kelas tiga SMA. Kehidupan membawa Jianxia pada persimpangan terberat. 

Sebuah kesempatan emas datang. National University of Singapore (NUS) membuka seleksi beasiswa penuh. Jianxia lulus, tapi ada syarat mutlak, ia harus lulus kuliah maksimal empat tahun, menetap dan bekerja di Singapura selama enam tahun setelah kelulusan.

Artinya, ia harus membuang mimpinya pergi ke Nanjing bersama Li Ran dan menghabiskan satu dekade di Singapura.

Konflik pecah di rumah Jianxia. Ibunya menentang keras keputusannya untuk pergi jauh ke luar negeri dan menuntutnya tetap di rumah. Jianxia pun meluapkan seluruh rasa sakit yang terpendam bertahun-tahun kepada ayah dan ibunya.

“Aku hanya ingin pergi ke luar negeri! Semakin jauh aku dari rumah ini, semakin jauh dari kalian, semakin baik!”

Sementara itu, dalam waktu berdekatan, Li Ran didera kabar duka. Kakek yang dia anggap satu-satunya sosok keluarga yang menyayanginya telah berpulang. 

Sebelum meninggal, sang kakek mewariskan sejumlah uang untuk Li Ran supaya kelak Li Ran bisa mandiri dan tidak harus selalu bergantung pada ayah dan ibu tirinya.

Jianxia tak tega mengabari rencana kepergiannya ke Singapura kepada Li Ran. Padahal, Li Ran sebenarnya sudah tahu kabar itu.

Melihat Jianxia yang didera dilema antara cinta dan kebebasannya, Li Ran mengambil keputusan paling dewasa sekaligus menyakitkan dalam hidupnya. Ia melepaskan Jianxia.

Li Ran menyadari, jika Jianxia tetap tinggal di China demi dirinya, gadis itu tidak akan pernah benar-benar bebas dari bayang-bayang keluarganya.

Di stasiun kereta, saat menukar tiket, dengan hati yang hancur berkeping-keping, Li Ran mendorong Jianxia untuk terbang tinggi mengejar masa depannya ke Singapura. 

Ia rela menjadi pihak yang ditinggalkan, menyembunyikan rasa sakitnya di balik senyuman, demi memastikan burung kecil yang pernah terluka itu akhirnya bisa mengepakkan sayapnya ke langit lepas.

Mereka berpisah dengan linangan air mata di tengah dinginnya Harbin dan kenangan masa remaja yang harus dikunci rapat.

Li Ran merelakan Chen Jianxia karena cinta
Li Ran merelakan Chen Jianxia karena cinta

Pertemuan Kembali

Sepuluh tahun berlalu. Jianxia telah menjelma menjadi wanita karier yang sukses, mandiri, dan berkelas setelah bertahun-tahun di Singapura. 

Sayangnya, kabar tentang ayahnya yang sakit keras memaksanya kembali ke kampung halaman dan berhadapan lagi dengan kenyataan pahit keluarganya.

Di tengah rasa lelah dan luka lama yang kembali terbuka itu, takdir mempertemukannya kembali dengan Li Ran.

Li Ran yang sekarang tampak lebih dewasa, tapi tatapan matanya saat melihat Jianxia masih sama seperti remaja laki-laki yang dulu memanjat dinding asrama putri di SMA Zhenhua. 

“Aku merasa kita tidak pernah benar-benar berpisah… Di suatu titik waktu, aku selalu kembali untukmu.”

Segala emosi yang dipendam selama bertahun-tahun, mulai dari rasa bersalah, kerinduan yang menyiksa, pengorbanan yang tak terucap, tumpah menjadi satu. 

Jianxia menyadari bahwa meski ia telah berhasil menaklukkan dunia dan melarikan diri jauh dari China, hati kecilnya selalu tertinggal pada sosok pemuda yang dulu pertama kali mengajarinya arti dicintai tanpa syarat.

Li Ran dan Jianxia bertemu lagi setelah 10 tahun
Li Ran dan Jianxia bertemu lagi setelah 10 tahun

Mencintai Apa Adanya

Ketika mereka dipertemukan kembali, roda kehidupan Li Ran telah berputar drastis. Ia bukan lagi anak dari keluarga kaya yang bisa bersikap ugal-ugalan atau bertindak sesuka hati dengan modal uang orang tuanya. 

Bisnis ayahnya bangkrut, meninggalkan setumpuk utang, dan sang ayah telah berpulang. Meski tidak jatuh semiskin itu, tetap saja, Li Ran kini harus berdiri di atas kakinya sendiri. Dia sekarang hanyalah pemuda biasa yang harus bekerja keras sembari menanggung beban finansial keluarga di pundaknya.

Di mata orang lain, Li Ran yang sekarang mungkin telah “jatuh” dan kehilangan segala daya tariknya sebagai mantan anak orang kaya. Hal tersebut tidak berlaku bagi Jianxia.

Jianxia yang kini telah menjadi wanita karier sukses, mandiri, dan mapan secara finansial pasca bertahun-tahun menetap di Singapura, melihat Li Ran masih dengan tatapan sama.

Ia tidak melihat Li Ran lemah. Sebaliknya, Jianxia melihat seorang pemuda yang sangat bertanggung jawab, dewasa, dan gigih berjuang tanpa pernah mengeluh. Benar-benar cinta yang tulus dan seimbang.

Dulu, saat Jianxia hanyalah seorang gadis desa yang miskin, minder, tertekan oleh ibunya, dan dipandang sebelah mata oleh teman-teman sekolahnya, Li Ran hadir tanpa peduli status sosialnya. 

Li Ran tidak pernah memandang Jianxia dari pakaian murah yang dikenakannya atau asal-usul keluarganya. Li Ran menerimanya apa adanya, memberinya rasa aman, dan membantunya percaya pada diri sendiri.

Kini, giliran Jianxia yang melakukan hal serupa. Jianxia menerima Li Ran yang sekarang, yang tidak lagi bergelimang harta dan dibayangi utang, dengan kehangatan dan rasa hormat seutuhnya.

Jianxia tidak kasihan dalam arti merendahkan, melainkan mengagumi keteguhan hati Li Ran. Bagi Jianxia, Li Ran yang berjuang dengan keringatnya sendiri, yang berani memikul beban utang ayahnya tanpa melarikan diri, adalah sosok yang jauh lebih gagah dan berani daripada Li Ran yang dulu.

Jianxia membalas syal pemberian Li Ran yang dulu pernah menghangatkannya dengan dekapan dan kehadiran yang tak berkurang sedikit pun. Ia menunjukkan bahwa cinta yang tumbuh di antara mereka bukanlah karena status, harta, atau latar belakang keluarga, melainkan karena jiwa mereka saling memahami luka masing-masing.

Cinta akan membawamu kembali
Cinta akan membawamu kembali

Review Film All These Years

Film All These Years (2023) disutradarai oleh Lay Han dan diadaptasi dari novel karya Bayue Changan. Film ini menghadirkan potret mendalam tentang bagaimana trauma pengasuhan, kelas sosial, dan pencarian identitas membentuk perjalanan dua anak manusia, Chen Jianxia (Sun Qian) dan Li Ran (Zhang Xincheng).

Kekuatan terbesar All These Years tentu saja bersandar pada akting Sun Qian dan Zhang Xincheng. Sun Qian berhasil membawakan karakter Chen Jianxia yang penuh luka batin.

Ia adalah gadis kikuk yang memendam kemarahan pada kedua orang tuanya, tetapi dalam waktu bersamaan memiliki tekad baja untuk mandiri.

Di sisi lain, Zhang Xincheng menampilkan Li Ran yang bertransisi dari pemuda kaya yang ugal-ugalan dan kesepian menjadi sosok pria dewasa yang bertanggung jawab dan tegar.

Chemistry mereka berdua sangatlah natural. Mulai dari tatapan mata, mikro ekspresi, gestur tubuh antara keduanya mampu menyampaikan kerinduan sekaligus sakit di hati penonton sepertiku.

All These Years juga evolusi hubungan sepasang kekasih. Di masa SMA, Li Ran adalah pelindung dan tempat berteduh bagi Jianxia yang miskin dan selalu dipandang sebelah mata. Li Ran tidak peduli pada status sosial Jianxia dan mengajarinya untuk mencintai diri sendiri.

Ketika masa dewasa tiba, roda kehidupan berputar. Li Ran tidak lagi kaya, melainkan pemuda biasa yang dibayangi utang besar mendiang ayahnya. Sebaliknya, Jianxia telah menjadi wanita karier yang sukses dan mapan.

Di sinilah letak keindahan hubungan mereka. Jianxia tidak memandang rendah Li Ran. Ia membalas ketulusan masa lalu Li Ran dengan menerima laki-laki itu seutuhnya.

Jinxia melihat keteguhan dan tanggung jawab Li Ran sekarang sebagai keberanian yang luar biasa. Hubungan mereka cermin dari cinta yang saling menyembuhkan dan saling menghormati.

Pewarnaan (color grading) dalam film ini sangat efektif mengekspresikan suasana batin karakternya. Nada warna dingin di lingkungan sekolah dan rumah kontras dengan kehangatan di sudut-sudut rahasia mereka (seperti gedung museum tua).

Begitu dewasa, sinematik mereka dibuat lebih matang dan realistis. Benar-benar sukses mencerminkan pendewasaan karakter mereka.

Ada banyak pelajaran hidup yang bisa dipetik dari film All These Years ini.

1. Cinta itu melepaskan, bukan mengekang.

Pelajaran paling utama dari hubungan Li Ran dan Jianxia adalah mereka tidak egois. Ketika Jianxia mendapatkan kesempatan beasiswa penuh ke Singapura (NUS), Li Ran paham bahwa ini adalah tiket kebebasan Jianxia dari belenggu keluarganya.

Meski hatinya hancur, Li Ran memilih melepaskan Jianxia agar gadis itu bisa terbang tinggi mengejar mimpinya. Cinta sejati tidak pernah memenjarakan seseorang dalam batas kenyamanan kita, melainkan memberinya dorongan untuk bertumbuh.

2. Menerima pasangan tanpa memandang status sosial

Nilai seorang manusia tidak diukur dari harta atau status sosial. Dulu, Li Ran menerima Jianxia apa adanya saat gadis itu tidak punya apa-apa.

Masa sekarang, Jianxia menerima Li Ran apa adanya saat pemuda itu berada di titik terendah secara finansial. 

Ketika dua orang saling mencintai karena jiwa dan karakternya, perubahan materi tidak akan pernah mampu menggoyahkan rasa hormat dan kasih sayang di antara mereka.

3. Pentingnya memutus rantai luka pengasuhan

Luka pengasuhan alias parenting wounds itu sungguh nyata. Karakter Jianxia memotret betapa dalamnya dampak perlakuan pilih kasih dalam keluarga (favoritisme gender).

Alih–alih menyerah atau menjadi korban selamanya, Jianxia menjadikan rasa sakit itu sebagai bahan bakar untuk belajar keras dan menjadi mandiri.

Kita mungkin tidak bisa memilih orang tua atau keluarga tempat kita dilahirkan, tetapi kita berhak dan mampu menentukan jalan hidup serta masa depan kita sendiri.

Memutus luka pengasuhan di All These Years
Memutus luka pengasuhan di All These Years

4. Harga diri dan tanggung jawab laki-laki

Perubahan nasib Li Ran dari anak orang kaya menjadi pemuda yang menanggung utang keluarga memberikan pelajaran berharga tentang kedewasaan.

Li Ran tidak melarikan diri dari kenyataan atau meratapi kemalangannya. Ia berdiri di atas kakinya sendiri dan bekerja keras.

Harga diri laki-laki itu bukan bergantung pada warisan orang tuanya. Harga diri sesungguhnya ada pada kemauan seorang laki-laki untuk bertanggung jawab atas hidupnya.

Jodoh pasti bertemu
Jodoh pasti bertemu

5. Kalau sudah jodoh, pasti bertemu.

Kayak nyanyi Afgan saja. Hehehe. Jarak ribuan kilometer dan waktu 10 tahun tidak membuat perasaan Li Ran dan Jianxia memudar.

Pertemuan mereka kembali membuktikan bahwa masa lalu yang diselesaikan dengan cara dewasa bisa melahirkan hubungan jauh lebih kokoh di masa depan.

Waktu dan jarak hanya menguji sejauh mana ketulusan itu tersimpan di dalam hati.

Kalau kamu mau nonton All These Years, ada banyak link gratisan di YouTube. Salah satunya berikut ini:

Aku juga suka banget sama soundtrack-nya. Pas banget sama suasana filmnya. FYI, lagunya juga dinyanyikan langsung oleh Zhang Xinchen.

Ini soundtrack All These Years yang paling aku suka sekalian ada deleted scene filmnya.
Zhang Xinchen suaranya benar-benar skor 10

Aku kasih skor 9/10 overall untuk film ini. Kamu yang sudah baca ulasanku ini, ayo, segera nonton All These Years.

Kalau kamu sudah nonton, jangan lupa tinggalin jejak kamu di kolom komentar ya. Terima kasih sudah membaca.

Certified author (BNSP), eks-jurnalis ekonomi dan lingkungan. Kini menjadi full-time mom yang juga berkarya sebagai novelis, blogger, dan content writer. Founder Rimbawan Menulis (Rimbalis), komunitas yang aktif mengeksplorasi dunia literasi dan isu-isu lingkungan.

Share:

Leave a Comment