Aku baru ngeh satu hal penting setelah menamatkan “Sunshine by My Side” tahun 2023 kemarin. Ternyata drama ini adalah versi remake dari T-drama “My Dear Boy” (2017), yang dulu dibintangi Ruby Lin dan Derek Chang.
Pantes aja… selama nonton tuh ada rasa agak familiar. Perasaan, “kok kayak pernah ngerasain vibe ini ya?” nggak asing, tapi karena udah lama juga, aku nggak terlalu ambil pusing.
Waktu itu aku mikirnyar, “Oh, mungkin karena ceritanya slice of life dan realistis.” Tapi begitu mulai baca ulasan penonton lain, baru deh kepingan itu nyambung semua. Oke… masuk akal sekarang.
Meski statusnya remake, “Sunshine by My Side” tetap punya rasa sendiri. Sentuhannya lebih dewasa, lebih dekat sama realita hubungan orang-orang yang sudah capek sama hidup, tapi masih pengen percaya sama cinta.
Nah, pertanyaannya, “Apakah versi Mainland ini berhasil berdiri di atas kakinya sendiri? Atau justru cuma mengandalkan nama besar pemeran aslinya versi Taiwan?”
Kalau kamu penasaran sama jawabanku, dengan opini jujur, sedikit subjektif, dan tentu saja penuh bumbu perasaan, yuk, silakan lanjut baca review lengkap “Sunshine by My Side” versi aku.
Sinopsis Sunshine by My Side
Cerita dimulai dengan Jian Bing (diperankan Bai Baihe), seorang sutradara iklan papan atas. Dari luar, hidupnya terlihat rapi banget. Karier mapan, reputasi bagus, jaringan luas. Di dalam, pernikahannya sedang runtuh. Suaminya, Xue Yiming (diperankan Tian Yu), telah berselingkuh.
Jian Bing memilih mengakhiri hubungan pernikahannya tanpa drama ini itu. Dia terlalu lelah untuk bertengkar dan memilih mengikhlaskan begitu saja.

Di sisi lain ada Sheng Yang (diperankan Xiao Zhan), seorang pemuda idealis yang baru masuk dunia periklanan. Sheng Yang masih punya semangat khas anak muda yang pekerja keras, suka begadang demi desain terbaik, percaya bahwa usaha akan selalu dibalas setimpal.

Hanya saja, yang namanya industri kreatif tidak selalu adil. Sheng Yang sering dimanfaatkan, disuruh-suruh, bahkan jadi korban konflik internal di kantornya.
Sheng Yang dan Jian Bing bertemu secara kebetulan di sebuah restoran. Jian Bing kondisinya sedang mabuk, lelah, dan hancur dalam proses perceraian.
Sheng Yang cuma kebetulan ada di sana dan dia tahu Jian Bing itu siapa. Sebuah steak yang tak tersentuh, percakapan canggung, dan perpisahan singkat, momen kecil yang seharusnya berlalu begitu saja, tapi entah kenapa, momen itu menempel di ingatan mereka.
Sheng Yang mengejar Jian Bing yang hampir jatuh di jalan. Awalnya, dia hanya menolong, layaknya manusia melihat manusia lain hampir terluka. Dari situ, hubungan mereka perlahan terjalin.
Awalnya, hubungan ini lebih seperti dua orang asing yang saling melihat luka satu sama lain, tanpa berusaha mengobatinya terlalu cepat.
Sheng Yang hadir sebagai teman ngobrol Jian Bing. Dia setia mendengarkan Jian Bing tanpa mencoba “memperbaiki” hidupnya. Di sisi lain, Jian Bing menjadi figur yang menenangkan sekaligus menginspirasi bagi Sheng Yang. Ya jelas dong, sutradara iklan terkenal gitu loh.
Dengan pengalamannya yang luas, Jian Bing kerap membantu Sheng Yang memahami dunia kerja advertising. Dia mengajarkan Shen Yang bahwa idealisme penting, tapi batas diri lebih penting.

Hubungan Tanpa Status
Seiring waktu, mereka semakin sering berinteraksi lewat pekerjaan. Jian Bing masuk ke perusahaan Sheng Yang sebagai klien proyek iklan. Dinamika mereka berubah, dari dua orang asing menjadi rekan profesional. Dari rekan profesional menjadi seseorang yang saling peduli.
Dari sinilah drama ini berkembang, bahwa tidak ada cinta instan, terlebih pada pasangan dengan gap usia cukup jauh. Ya, Jian Bing 10 tahun lebih tua dari Sheng Yang. Persis banget bedanya kayak Luna Maya dan Maxime Bouttier ya.
Jian Bing sadar betul jarak usia dan posisi mereka. Ia baru saja keluar dari konflik pernikahan, sementara Sheng Yang masih di fase awal hidup dewasa. Sheng Yang, di sisi lain, mulai menyadari perasaannya, tapi ia sendiri belum yakin apakah itu cinta, kagum, atau sekadar ketergantungan emosional pada Jian Bing.
Konflik mulai datang dari berbagai arah. Di kantor, Sheng Yang terjebak dalam konflik internal yang membuatnya menjadi kambing hitam. Kesalahan sistem dilemparkan padanya. Ia akhirnya dipecat, meski memilih menanggung semua tanggung jawab sendiri demi melindungi rekan-rekannya.
Di rumah, hubungan orang tua Sheng Yang juga tidak harmonis. Ibunya protektif dan penuh ekspektasi, sedangkan ayahnya kaku dan dingin. Sheng Yang berada di tengah-tengah, dipaksa dewasa sebelum waktunya, tapi tetap ingin membuktikan diri.
Sementara itu, Jian Bing juga tidak benar-benar bebas. Mantan suaminya masih muncul dalam hidupnya, baik secara emosional maupun profesional. Lingkaran sosial dan industri tempatnya bekerja juga penuh gosip. Hubungannya dengan Sheng Yang mulai jadi bahan “bisik-bisik tetangga.”
Ketika Sheng Yang kehilangan pekerjaannya, Jian Bing mencoba membantu dengan memberinya ruang kerja, proyek, bahkan menawarkan posisi. Tapi justru di sinilah Jian Bing mulai ragu. Ia takut kehadirannya justru menghambat pertumbuhan Sheng Yang. Takut Sheng Yang dikenal bukan karena kemampuannya, tapi karena “hubungannya dengan Jian Bing.”
Akhirnya, Jian Bing memilih mundur. Dia menjauhi Sheng Yang bukan karena tidak cinta, justru karena terlalu cinta. Sheng Yang percaya, jika Sheng Yang memang ditakdirkan untuknya, mereka harus bertumbuh dulu secara terpisah, kemudian bersatu kembali.
Perpisahan mereka terjadi baik-baik, tidak ada pertengkaran besar. Tidak ada kata “putus” yang diucapkan dengan jelas, karena memang tidak ada yang mengawalinya. Mereka hanya terikat perasaan satu sama lain, menyimpannya dalam hati, hingga akhirnya jarak pelan-pelan tercipta.
Cinta Harus Diperjuangkan
Waktu pun berlalu. Tiga tahun kemudian, kita melihat versi baru dari mereka.
Sheng Yang kini lebih matang. Bersama Song Chen dan Pan Rou, ia membangun studio kreatif kecil dari nol. Istilahnya, dia jadi CEO kecil-kecilan. Mereka pernah mengalami kegagalan, kehabisan uang, bekerja di kafe internet demi bertahan hidup. Tapi Sheng Yang belajar percaya pada dirinya sendiri, sebagaimana yang diajarkan Jian Bing.
Jian Bing juga berubah. Ia menjadi perempuan yang lebih tenang, lebih berdamai dengan masa lalunya. Ayahnya sakit dan tinggal bersamanya, memaksa Jian Bing menghadapi sisi kehidupan yang lebih personal, bukan sebagai sutradara iklan, tapi sebagai anak perempuan.
Takdir mempertemukan mereka kembali di tengah kesibukan masing-masing. Tatapan pertama setelah bertahun-tahun terasa canggung, hangat, dan penuh emosi yang belum selesai.
Kali ini, dinamika mereka berbeda. Sheng Yang tidak lagi merasa inferior. Jian Bing tidak lagi merasa harus melindungi. Mereka bertemu sebagai dua individu dewasa yang setara.
Meski begitu, ujian cinta Sheng Yang dan Jian Bing belum selesai. Keluarga Sheng Yang akhirnya mengetahui hubungan mereka dan menolak keras. Perbedaan usia, status, dan masa lalu Jian Bing menjadi alasan utama.
Jian Bing kembali memilih menjauh, kali ini untuk melindungi Sheng Yang dari konflik keluarga. Tapi Sheng Yang yang kini bukan lagi anak muda yang mudah menyerah. Ia memilih memperjuangkan hubungannya, mengejar cintanya, berbicara jujur pada orang tuanya, dan berdiri di samping Jian Bing. Yups, ia kini menjadi pria dewasa yang berhak memilih.
“Sunshine by My Side” menutup ceritanya dengan manis dan realistis. Cinta Sheng Yang dan Jian Bing tidak menjanjikan hidup sempurna, tidak menjual akhir bahagia ala kisah dongeng. Mereka memilih tumbuh bersama dan hidup bahagia dengan cara mereka.

Review Sunshine by My Side
“Sunshine by My Side” bukan drama yang langsung “nendang” di episode pertama dengan konflik besar atau romansa kilat. Kalau kamu nggak cukup sabar, kamu pasti sudah skip dari episode satu. Tapi begitu kamu memutuskan tetap lanjut, drama ini pelan-pelan merebut hatimu karena jalan ceritanya terasa terlampau nyata dan relate.
Kisahnya tentang dua orang dewasa yang bertemu di waktu yang salah, tapi justru belajar bertumbuh bersama di waktu yang tepat.
Premisnya “noona romance” tapi nggak murahan loh. Kita punya dua tokoh utama. Jian Bing, sutradara iklan umur 36 tahun yang baru aja bercerai. Kemudian, ada Sheng Yang, desainer muda umur 26 tahun, idealis, pekerja keras, dan sejak lama menjadikan Jian Bing sebagai “crush”-nya.
Cinta mereka berdua nggak jatuh dari langit begitu saja. Cintanya tumbuh dari rasa kagum, respek, lalu berubah jadi motivasi bahwa mereka sama-sama pengen jadi versi terbaik diri mereka karena satu sama lain.
Kenapa Jian Bing bisa jadi “Crush” Sheng Yang?
Ceritanya, 10 tahun sebelum mereka bertemu, Jian Bing pernah bikin iklan yang menampilkan ayah Sheng Yang, yang pekerjaannya sering dipandang remeh masyarakat, kurang lebih kuli proyek.
Dari situ, Sheng Yang seperti dapat validasi dan semacam arah hidup, bahwa kerja keras orang biasa itu pantas dihormati, dan dunia iklan atau advertising itu bisa jadi alat untuk memuliakan kerja-kerja yang selama ini dianggap nggak keren.
Fondasi simp-nya Sheng Yang itu bukan cuma melihat Jian Bing “kakaknya cantik,” tapi lebih ke “dia adalah orang yang bikin aku menghargai ayahku dan diriku sendiri.” Inilah yang membuat romansa beda usia ini lebih matang.

Pacing Slow Burn yang Manis
Aku paham kenapa banyak orang bilang drama ini “flow like water”. Emang begitu.
Konfliknya bukan konflik meledak-ledak, tapi dibangun dari gesekan realita.
Setelah bercerai, Jian Bing belum tentu siap membuka hati. Sheng Yang masih membangun karier, dan secara sosial, kelas mereka jelas berbeda. Jian Bing sudah sukses besar, sementara Sheng Yang masih merintis.
Otomatis ketika mereka memutuskan bersama, keluarga pasti komentar, orang-orang kantor pasti bergosip, dan mantan suami biasanya nyebelin.
Perbedaan umur mereka bukan cuma angka, tapi emang beda fase hidup, beda pengalaman, dan beda cara mengambil keputusan.
“Sunshine by My Side” ini nggak memaksa hubungan ini jadi epic romance. Tapi emang harus diakui, sebagian penonton rada frustasi lantaran serial ini ditayangkan dalam 36 episode, padahal drama modern.
Jumlah tersebut terbilang panjang, dari standar 24-26 episode. Ada yang merasa banyak adegan nggak penting, banyak adegan cuma filler biar episodenya panjang.
Aku melihatnya lebih kepada energi drama ini tuh banyakan kepake bukan untuk memperdalam relasi Jian Bing dengan Sheng yang, tapi buat menampung sub-plot yang nggak semua orang peduli.

Xiao Zhan sebagai Sheng Yang
Sheng Yang adalah tipe karakter yang gampang bikin penonton sayang sama dia. Dia tuh hangat, sopan, lucu, punya sense or humour, tapi nggak kelihatan bego.
Dia bukan anak kecil yang bucin abis. Dia tuh anak muda yang tahu apa yang dia mau, tapi dia sendiri masih belajar caranya menghormati batas.
Sheng Yang nggak perfect. Dia bisa emosian loh. Dia juga bisa ngerasa insecure, bisa salah sambil keputusan. Tapi… dia orangnya konsisten.
Dan Xiao Zhan? Ya jelas lah, semua orang tahu kelebihannya ada di natural acting. Dia bisa mainin karakter yang baik tanpa jadi karakter poster motivasi.
Ekspresi dia pas kerja, nggak perlu dialog panjang, kadang cuma lihat dia menghela napas atau bola matanya yang berubah begitu mendengar sesuatu.
Perkembangan karakter Xiao Zhan sebagai Sheng Yang nggak berubah total. Dia menunjukkan pelan-pelan, dari awalnya idealis yang bucin-an, berubah menjadi idealis yang lebih dewasa, tetapi tetap hangat.

Bai Baihe sebagai Jian Bing
“Sunshine by My Side” punya value besar gara-gara karakter female-lead ini. Jian Bing bukan tipe female-lead modern yang childish, terlalu imut, atau hidupnya cuma berputar di siapa cowoknya.
Jian Bing punya karier, punya luka, punya trauma masa kecil, yaitu sang ayah scumbag, ibunya terluka, kemudian ada rasa bersalah yang ikut membentuk cara dia memandang sebuah hubungan. Jian Bing ini bukan korban pasif. Dia bisa tenang, bisa logis, bisa profesional.
Bai Baihe mainnya enak banget lantaran dia bisa bikin karakter ini terasa real. Strong woman ala dia tuh bukan slogan doang, tapi emang dia sekuat itu menghadapi kehidupan.
Dia bahkan bisa memisahkan antara profesional dan personal. Terlihat kok karena dia sama suaminya kan sekantor.
Bagi Jian Bing, mantan suaminya boleh menyebalkan, tapi kerjaan ya tetap kerjaan. Ini realistis banget untuk orang yang sudah lama hidup di industri keras.
Minusnya? Kadang aku pengen Jian Bing ini lebih nge-gas dalam membela dirinya. Ada beberapa momen di mana dia terlalu banyak menerima omongan orang, entah itu keluarga, rekan kerja, atau pihak yang meremehkan hubungannya dengan mantan suami atau pun dengan Sheng Yang.
Tapi ya… mungkin itu juga bagian dari karakter dia di “Sunshine by My Side” ini. Karakternya sudah terbiasa menahan diri, karena hidup mengajarkannya bahwa konflik terbuka itu cuma buang-buang tenaga. Amat melelahkan.

Chemistry Tipis
Ini bagian yang bisa memecah penonton menjadi dua kubu. Ada yang merasa chemistry Jian Bing dan Sheng Yang teramat kurang. Ada juga yang merasa hubungan mereka tuh bukan kayak pasangan kekasih, tapi lebih ke mentor-mentee.
Menurutku sih, chemistry mereka ada, tapi kurang meledak. Romance-nya lebih banyak pakai perhatian-perhatian kecil, tatapan mata, momen berdua yang nyaman.
Skinship mereka sedikit banget. Aku nggak tahu, apa itu demi melindungi Jian Bing? I know, fanbase Xiao Zhan ini nomor satu di China dan kita sama-sama tahu lah banyak fans-nya yang toxic juga.
Balik lagi ke ulasan “Sunshine by My Side,” serial ini emang nggak menjual fantasi pacaran. Mereka menjual hubungan yang growing together, yang buat sebagian penonton justru lebih romantis.
Kekuatan drama “Sunshine by My Side” adalah memperlihatkan cara berkomunikasi yang sehat. Misalnya, cara menahan emosi sebelum ngomong, cara mengklarifikasi tanpa menyerang, cara mengakui salah tanpa drama, dan cara memilih diam bukan karena kalah, tapi karena menghargai situasi.
Makanya banyak yang bilang drama ini down to earth banget. Karena konflik-konfliknya itu yang biasa kejadian di sekitar kita, seperti bullying di kantor, senioritas, gosip, stigma perempuan bercerai, ageism, kelas sosial, dan keluarga yang sok tahu. Dan drama ini punya humor yang cukup untuk bikin semuanya nggak terasa berat terus.

Karakter Pendukung
Oke, ini bagian yang sering banget jadi keluhan penonton. Karakter pendukung yang works menurutku ada tiga, yaitu orang tua Sheng Yang. Karena dia seru, berisik, realistis, dan emang figurnya kayak orang tua beneran.
Kedua dan ketiga adalah pasangan couple, Song Chen dan Pan Rou. Meski sampingan, kisah cinta mereka lumayan satisfying buat aku.
Nah, karakter yang menurutku perlu di-fast-forward adalah plot hockey couple itu, Hao Junjie dan Jian Shuang. Ini mah nggak penting banget, ya elah!
Kalau kamu tipe yang nggak bisa nonton drachin dengan subplot random, “Sunshine by My Side” sepertinya kurang cocok buat kamu. Fokusnya kadang terlalu banyak kebagi. Akibatnya, momentum hubungan dua karakter utama jadi keburu dingin lantaran kita sebagai penonton kebanyakan mampir ke cerita-cerita karakter pendukung yang lain.

Visual dan Sinematografi
Modern urban drama ini, pengambilan gambarnya cukup niat. Banyak shot yang bikin kota terasa punya karakter sendiri. Ada vibe film, nggak sekadar drama televisi.
Wardrobe dan styling? Ini juga 50:50. Ada yang bilang Jian Bing harusnya lebih classy sebagai sutradara terkenal. Ada yang terganggu karena Sheng Yang pakai outfit yang itu-itu aja.
Menurutku itu detail yang bisa mengganggu kalau kamu tipe penonton yang peka, kayak aku. Hahaha. Tapi kalau kamu fokusnya cuma ke cerita, ya… masih bisa ditoleransi lah.
Worth It Ditonton atau Nggak?
Menurutku, “Sunshine by My Side” itu drama yang bukan buat semua orang. Kamu akan suka kalau kamu menikmati slow-burn yang dewasa, suka healing-romance, suka karakter female-lead yang matang dan berkarier.
Apabila kamu suka Xiao Zhan, sudah pasti kamu nggak bakal skip “Sunshine by My Side.” Terakhir, kalau kamu suka drama yang banyak ngomongin hidup juga kerjaan, ini pasti menarik.
NEXT, “Sunshine by My Side” kurang cocok kalau kamu tipe penonton yang suka pacing cepat dan konflik besar. Kalau kamu gampang kesal sama sub-plot yang nggak penting, kamu juga nggak cocok sama serial ini.
Kalau kamu butuh chemistry berapi-api, “Sunshine by My Side” nggak aku rekomendasikan. Sekian ulasan dari aku. Selamat menonton! Intip ceritanya di iQIYI atau Netflix.

Leave a Comment