“The Spirealm” atau dikenal juga dengan judul “Kaleidoscope of Death” adalah drama China dengan jumlah 38 episode. Bukan main. Saking serunya serial genre misteri horor ini, aku sampai nggak sadar kelarin semua episodenya.
Jujur aja, alasan awalku kepo sama serial ini tuh receh, yaitu soundtrack-nya. Salah satu lagunya yang berjudul “I Know” yang dinyanyikan Gao Jiayi itu entah kenapa sopan banget masuk ke kuping. Tenang, melankolis, dan nagih. Sampai sekarang malah jadi salah satu playlist wajib pengantar tidur aku.
Terus pas tahun 2024 itu, aku malah lebih dulu nonton Xia Zhiguang di “Dashing Youth” bareng Neo Hou. Dan di situ aku langsung, “Oh, this guy can act perfectly.” Aktingnya hidup, nggak lebay, dan punya aura sendiri. Dari situ, rasa penasaran muncul. Oke, gue harus nonton drama dia yang lain.
Kebetulan banget, drama modern Xia Zhiguang yang paling sering dibicarakan saat itu ya, “The Spirealm” yang rilis pada tahun sama. Makin klop karena soundtrack-nya udah lebih dulu jadi lagu favoritku. Paket lengkap kan.
Setelah beres nonton Xia Zhiguang sebagai Ruan Lanzhu di “The Spirealm,” aku makin jatuh hati sama aktingnya. Alhasil, aku mundur sedikit ke belakang dan nonton drama lama yang dia bintangi sebagai pemeran utama, “Please Classmate” (2021). Dan yup, konsisten, aktingnya emang solid.
Padahal, pertama kali aku kenal Xia Zhiguang itu dari “Oh My Emperor,” drama yang dibintangi bareng semua member X-NINE, idol group yang salah satu anggotanya adalah Xiao Zhan. Tapi di serial itu, jujur aja, perannya belum terlalu menonjol karena masih sebatas support role.
Makanya sekarang aku berharap banget, semakin banyak drama yang menempatkan Xia Zhiguang sebagai pemeran utama. Secara kemampuan, dia sudah layak banget. Apalagi aku sempat baca kalau dia akan jadi male lead di serial “Shadows of Desire” yang sampai sekarang masih belum dirilis. Fingers crossed, semoga proyek ini jadi titik lompat kariernya.
Kita lanjut ke review lengkapnya ya…
Sinopsis The Spirealm
Di dunia nyata, Ling Jiushi (diperankan Huang Junjie) hidup biasa saja, sampai dia menyentuh versi beta game virtual reality (VR) yang lagi viral, bernama Ling Jing (The Spirealm). Hal yang tak disadarinya dari awal adalah ini bukan game seru-seruan biasa.
“The Spirealm” adalah game di mana kalau kamu mati di dalam permainan tersebut, berarti kamu juga mati di dunia nyata. Dan game ini punya 12 pintu yang berarti ada 12 level yang masing-masingnya memiliki dunia dengan aturan khusus, penuh hantu, puzzle, dan syarat-syarat yang kalau kamu langgar… ya tamat sudah riwayatmu.
Game yang dark ini awalnya dibuat oleh desainer game China. Ide dasar game-nya sih bagus. Namun setelah masuk modal asing, permainan dalam game ini dibikin “hardcore” alias diperkeras, ditambahin unsur gore/ violence sampai efeknya buruk ke mental pemain, bahkan ada yang depresi berat.

Baru sebentar saja memainkannya, Jiushi sudah mengetahui fakta tersebut. Oleh sebab itu, dia langsung berpikir bahwa permainan ini harus dihentikan. Sayangnya… di saat dia ingin berhenti main game tersebut, dia justru keseret masuk ke dunia di dalamnya.
Begitu tersedot ke dalam game ini, Jiushi mendarat di sebuan tempat dingin. Di sana dia bertemu hantu salju, serigala, kabut, dan vibe kayak horor survival. Dia nyaris mati kalau bukan ditolong oleh seorang laki-laki yang mengaku bernama Ruan “Baijie” (nama samaran dari Ruan Lanzhu, diperankan Xia Zhiguang).
Jiushi awalnya heran, kenapa Baijie ini terlalu tenang untuk ukuran pemain yang baru masuk dalam game neraka seperti “The Spirealm” ini.
Next, Baijie pun ngasih tahu Jiushi tentang aturan dasar permainan “The Spirealm.” Pertama, tiap pintu punya “ghost” alias monster utama dan aturan pemicu kematian pemain-pemain dalam game ini.
Kedua, cara keluar dari pintu itu ada dua, yaitu menemukan kunci dan menemukan pintu keluar. Ketiga, sering kali pintu keluar itu nggak akan bisa dibuka apabila urusan emosional atau konflik inti di level tersebut belum selesai. Jadi, pecahkan dulu misteri game-nya, baru pintu keluar terbuka.

Demi menjaga keamanan mereka, Jiusie dan Lanzhu tidak memakai nama aslinya di dalam pintu. Di pintu pertama, mereka satu tim dengan beberapa pemain lain. Ada yang newbie, ada yang udah berpengalaman. Dan seperti biasa, player yang sok pintar, serakah, egois… biasanya mulai mati satu per satu.
Di sinilah hubungan Jiusie dan Lanzhu terbangun. Awalnya satu sama lain saling beranggapan, “Gue butuh lo biar gue nggak mati.” Perlahan, anggapan tersebut berubah menjadi, “Gue percaya sama lo.” Dan ujung-ujungnya… “Gue nggak bisa kehilangan lo.”
FYI, “The Spirealm” secara sumber cerita aslinya adalah drama yang asalnya dari BL (Boys’ Love), tetapi adaptasi serialnya sendiri tidak diposisikan sebagai BL resmi dalam penyiaran di China.
Tidak ada label romance sesama jenis, dan tidak ada hubungan eksplisit “pasangan” antara dua karakter pria. Cuma penyajiannya saja yang secara naratif mungkin mengandung bromance-heavy alias BL-coded. Ini menyangkut larangan ketat di China.
Sama posisinya kayak serial sejenis, seperti “Psych Hunter” yang dibintangi Neo Hou dan Liu Dongqin, “The Untamed” (Xiao Zhan dan Wang Yibo), atau “Word of Honor” (Zhang Zhehan dan Gong Jun). YTTA.
Begitu Jiushi dan Baijie keluar dari pintu pertama itu, mereka mendapati bahwa waktu di dunia nyata ternyata cuma terlewat sebentar. Padahal, mereka di dalam permainan di balik pintu itu rasanya kayak berhari-hari.
Di dunia nyata, Jiushi mendapati fakta bahwa para pemain itu ternyata punya ekosistem sendiri. Ada organisasi seperti Obsidian, tim yang dipimpin oleh Baijie, atau Lanzhu (nama aslinya dalam “The Spirealm”).
Ada juga organisasi lain seperti White Deer, dan juga kelompok-kelompok yang lebih gelap juga kompetitif. Ada orang yang nggak cuma ingin selamat, tapi juga ingin memanfaatkan VR game ini untuk mencari keuntungan, rekrut pemain yang jago, bahkan menjadikan newbie sebagai tumbal.
Baijie alias Lanzhu kemudian ngajak Jiushi gabung ke Obsidian setelah mereka keluar dari pintu awal. Lanzhu merasa Jiushi ini punya “sesuatu” alias intuisi dan daya tahan mental yang beda. Dan jujur ya… Lanzhu itu tipe cowok yang kelihatan dingin, cool, tapi kalau udah sayang, udah peduli, dia bisa jadi nekat.
Selanjutnya, Jiushi yang sudah kadung terseret masuk ke dalam permainan ini harus bertualang dan bertahan melewati pintu demi pintu yang masing-masingnya menyimpan tragedi manusia.
Mereka membangun persahabatan dan menjadi soulmate. Siapa sangka menjelang akhir, Jiushi menemukan akar dari permainan game ini juga fakta bahwa Ruan Lanzhu ternyata bukan manusia biasa.
Review The Spirealm
Kalau kamu tanya aku, pintu mana yang paling favorit sepanjang aku nonton serial ini, aku bakal jawab pintu yang membawa mereka ke arc berupa hotel 14 lantai, misteri telur, dan the Master. Pintu ini tuh paling bikin aku merinding gila, sampai teriak-teriak sendiri.
Chemistry Lanzhu dan Jiushi
Jiushi dan Lanzhu terjebak di hotel bertingkat 14 dan ketemu figur “the Master” yang punya aturan telur. Tiap pemain harus menjaga telur, secara literal, dan telur itu jadi semacam “nyawa” mereka.
Kalau sampai telur itu pecah, pemain yang punya telur tersebut bakal mati. Arc ini tuh sadis banget dan tragis. Pelan-pelan Jiushi dan Lanzhu membuka misteri bahwa the Master ini punya trauma masa kecil, dan seluruh sistem telur itu datang dari memori kekerasan yang menempel di hidupnya.
Di sini juga ada momen yang nunjukin level “sayang”-nya Lanzhu ke Jiushi. Ketika telur Jiushi retak, tanpa sepengetahuan Jiushi, Lanzhu menukar telurnya yang masih bagus untuk dimiliki Jiushi.
Lanzhu ngambil risiko supaya target kematian Jiushi pindah ke dia. Iya, dia segila itu. Aku yang nonton aja makin geregetan sama Lanzhu. Geregetan dalam artian jadi simpati, kagum, malah ikutan sayang sama dia. Heuheu.
Aku ringkas ya, tapi benang merahnya tetap sama. Bahwa di setiap pintu, selalu ada aturan yang kesannya mistis, tetapi sesungguhnya amat logis selama Jiushi dan Lanzhu bisa menyelidiki sejarahnya.
Dari setiap pintu itu, mereka ada ketemu tragedi bullying yang bikin korban jadi hantu. Ada juga tragedi cinta obsesif, pengkhianatan, dan orang yang mati karena diperalat.
Ada juga tragedi institusi, berupa rumah sakit/ sekolah yang menutupi dosa. Kemudian, tradisi desa yang menormalisasi tumbal.
Dari semua itu, Jiushi makin berkembang, dari seorang player biasa, jadi player yang jenius. Dia bisa mikir dua langkah lebih jauh.

Rahasia Besar Terungkap
Semakin dekat ke pintu terakhir, Jiushi menemukan fakta yang makin aneh. Jiushi sering menemukan ruangan yang terasa terlalu familiar sama dia. Ada juga objek-objek yang memicu ingatan, serta beberapa petunjuk yang seolah dirancang khusus untuk dia.
Lalu, muncullah salah satu twist paling nyesek buat aku, juga semua penonton “The Spirealm,” bahwa Jiushi ternyata punya masa lalu yang terhubung dengan pencipta game ini.
Ada “teman lama” dalam hidupnya, yang namanya berkali-kali jadi kunci dalam misteri game, dan terkait dengan ide awal game ini sebelum dibuat menjadi brutal dan gore.
Pada beberapa rangkuman, nama yang disebut adalah Gao Dawei. Dialah sosok penting di balik asal usul game ini dalam bentuk paling “murni”-nya.
Dan ketika Jiushi menggali asal usul pembuat game itu, dia mendapatkan lagi rahasia penting lainnya… tentang siapa Ruan Lanzhu sebenarnya.

Twist Paling Gila
Ini dia rahasia yang mungkin kamu tanya, “Apa yang terungkap di akhir cerita?”
Pada bagian menjelang final, kebenaran yang menghantam Jiushi adalah fakta bahwa Ruan Lanzhu yang menemaninya sejak awal permainan ternyata adalah NPC (Non-Player Character). Ini adalah karakteryang “dibuat” oleh sistem game. Jadi, dia bukan pemain manusia biasa.
FYI, NPC itu adalah semua karakter game yang bisa bergerak, berbicara, dan bereaksi berdasarkan skrip, Ai, atau aturan tertentu. Jadi, dia bukan pemain sungguhan di dunia nyata, sebab punya kepribadian yang sangat meyakinkan.
Makanya, banyak player yang salah mengira NPC sebagai manusia sungguhan, bahkan terjebak karena terlalu percaya sama NPC.
Dan lebih sakitnya lagi, sejak awal Lanzhu sebagai NPC memang sudah diprogram sistem untuk memandu Jiushi sampai ujung, mencapai pintu terakhir. Setelah seluruh pintu terbuka, Lanzhu ditakdirkan menghilang. Hiks. Nangis bombay aku maaaaak.

Itulah kenapa dari awal pintu pertama, kita melihat Lanzhu itu terlalu “siap” sebagai pemain biasa. Dia seperti selalu punya cara, ya karena memang dia diciptakan untuk jadi sosok sempurna yang bisa menyelamatkan Jiushi… tapi sekaligus memikul takdir paling kejam, musnah di akhir.
Jiushi, setelah mengetahui fakta itu, marah, hancur, denial. Reaksinya manusiawi banget. Dia tuh kayak nggak peduli gitu. Intinya, mau Lanzhu itu NPC atau bukan, di mata Jiushi tetap saja Lanzhu itu nyata. Duh, nangis lagi.
Pertemuan Kembali 30 Tahun Kemudian
Di final, setelah semua pertempuran dan pintu diselesaikan, “The Spirealm” menutup permainan dengan bittersweet.
Jiushi kembali ke dunia nyata. Dia kemudian memutuskan belajar teknologi dengan serius, terutama soal VR.
Time flies, puluhan tahun kemudian, VR menjadi bagian dari hidup manusia. Dan ketika Jiushi sudah berumur, kurang lebih 30 tahun kemudian, dia akhirnya berhasil menyelesaikan eksperimen besarnya.
Apa itu? Ternyata dia membangun ulang sebuah dunia, “The Spirealm” baru. Saat dia menyalakan perangkat VR-nya, Jiushi bisa melihat lagi teman-teman lamanya… dan akhirnya dia juga bisa bertemu Lanzhu lagi.

Lanzhu digambarkan berjalan mendekat dan menyapa, “lama tak jumpa.” Ya ampun, sampai menuliskan ini pun aku deg-degan.
Jadi, begitulah ending-nya. Jiushi memilih menciptakan kembali dunia tempat Lanzhu bisa ada. Kalau Lanzhu adalah “takdir program” maka Jiushi menjawab takdir itu dengan “takdir manusia.” Dia bikin jalannya sendiri supaya bisa bertemu dengan sosok yang seharusnya tak bisa dia bawa pulang.
Buatku, “The Spirealm” adalah serial yang menakutkan sekaligus menghangatkan. Jalan ceritanya mengingatkan kita bahwa selama manusia masih mau bermimpi dan berusaha, tidak ada “akhir” yang benar-benar final. Bahkan untuk seseorang yang seharusnya hanya hidup di dalam program. Aku sangat merekomendasikan serial ini untuk kamu tonton. WAJIB! Silakan nonton di aplikasi VIU.

Leave a Comment