Review Best Choice Ever
Review Best Choice Ever

Tiba-tiba pengen nulis review “Best Choice Ever” setelah lega baca kabar Xu Kai akhirnya menang di kasus pencemaran nama baik yang sebelumnya membuatnya harus vakum dua tahun demi menyelesaikan kasus ini ke jalur hukum.

Jadi publik figur di China, harus diakui, sangat berat. Mereka bukan hanya siap dipuja, tapi juga siap jadi sasaran rumor yang kadang niatnya jahat. 

Menurut pemberitaan, ada dua perkara yang dimenangkan Xu Kai. Pihak yang melanggar diminta minta maaf secara terbuka dan ada kompensasi kerugian juga. Nah, di momen ini, aku mau merayakannya dengan cara mengulas karya dia.

“Best Choice Ever” bisa dibilang salah satu drama China modern terakhir yang dibintangi Xu Kai sebelum dihadang kasus pencemaran nama baik tahun 2024 kemarin.

Serial bergenre family-urban ini terdiri dari 37 episode dengan durasi rata-rata 45 menit. Tayang April 2024 di CCTV dan WeTV, dibintangi Xu Kai dan Yang Zi.

Sinopsis Best Choice Ever

Mai Chenghuan (diperankan Yang Zi) adalah perempuan dewasa yang sudah bekerja dan pacaran cukup lama dengan kekasihnya, Xin Jialiang (diperankan Niu Junfeng). Hubungan mereka sebetulnya tampak baik-baik saja sampai… ibu Chenghuan, Liu Wanyu (diperankan He Saifei), mulai nge-gas dan neror terus anaknya soal pernikahan.

Situasinya makin runyam lantaran pihak keluarga Xin Jialiang ini lebih berada. Begitu Liu Wanyu mencium aroma putrinya pacaran sama keluarga kaya, dia berubah jadi mak comblang tiap hari. Hubungan yang tadinya setara dan nyaman, pelan-pelan berubah jadi toxic dan penuh transaksi sosial, siapa keluarga lebih tinggi, siapa harus mengalah, dan sebagainya.

Di fase ini, Chenghuan mulai ngerasa kesal sama ibunya sendiri. Kesannya, “Kok aku yang mau nikah, tapi hidupku kayak bukan punyaku?”

He Saifei sebagai Liu Wanyu, ibu Mai Chenghuang
He Saifei sebagai Liu Wanyu, ibu Mai Chenghuang

Semakin dekat ke rencana pernikahan, makin kelihatan boroknya Xin Jialiang. Ternyata, dia bukan laki-laki yang beneran bisa diajak mikirin masa depan sama Chenghuan. Keluarganya condong merendahkan keluarga Chenghuan.

Jialiang cenderung menghindar, nge-iyain orang tua, dan membiarkan Chenghuan sendirian menghadapi tekanan. Dan yang paling menyakitkan, Chenghuan sadar, dia bisa berusaha sekeras apa pun, tapi kalau pasangan nggak jadi tim yang baik, ya kelak dia bakal tetap kalah.

Akhirnya hubungan itu retak. Chenghuan bukannya kurang cinta sama Jialiang, tapi karena dia capek jadi orang yang berjuang sendirian di dalam hubungan.

Saat hidup Chenghuan berantakan di rumah dan urusan asmara, kehidupan kantornya pun nggak kalah ribet. Masuklah atasannya yang baru, Yao Zhiming (diperankan Xu Kai), seorang eksekutif/pebisnis hotel yang kelihatannya dingin, rasional, mikirin uang dulu baru perasaan. 

Ziming adalah cucu dari Nenek Mai (diperankan Wu Yanshu), yang sejak lama ingin menjodohkan Ziming dan Chenghuan. Nenek Mai ini adalah nenek kaya. Pada usianya yang sudah senja, dia mau menggunakan hartanya, uang hingga properti, semacam “perangkap” agar orang-orang yang ia sayangi tetap saling terhubung, salah satunya menjodohkan kedua cucunya.

Nenek Mai (tengah) bersama Mai Chenghuan dan Yao Ziming
Nenek Mai (tengah) bersama Mai Chenghuan dan Yao Ziming

Ziming adalah cucu kandung Nenek Mai dari pernikahan pertamanya. Chenghuan adalah cucu Nenek Mai juga, tapi dari pernikahan keduanya dengan seorang pria yang sudah punya anak. Jadi, secara pertalian darah, status Ziming lebih kuat.

Ziming ini tipe orang yang memandang relasi seperti strategi. Money-oriented banget. Kalau bisa untung, jalan. Kalau berisiko, cut!

Dia datang ke hotel tempat Chenghuan bekerja sebetulnya punya maksud tersembunyi, yaitu merombak tatanan hotel tersebut supaya lebih modern dan profit, meski itu berarti harus memecat banyak karyawan setia yang sudah mengabdi di sana dalam waktu lama.

Sejatinya, Zhiming bukan bos yang menyebalkan. Pelan-pelan Chenghuan tahu, dia tumbuh dengan luka keluarga, dan itu bikin dia percaya satu hal bahwa yang paling bisa diandalkan cuma kekuasaan dan uang.

Dinamika hubungan Chenghuan dan Zhiming awalnya saling pakai, saling curiga, saling ngetes batas. Dari sana, perlahan tumbuh rasa hormat satu sama lain.

Titik baliknya adalah kematian Nenek Mai dan warisan yang mengubah arah hidup mereka bagaikan bom waktu. 

Review Best Choice Ever

Beberapa episode awal drama china ini, kamu pasti heran, kenapa Chenghuang bisa putus sama cowoknya yang baik-baik? Eh, ternyata pacarnya yang tampak bagus dari luar ternyata toxic dari dalam.

Ini semacam jebakan klasik ya. Cowoknya erlihat baik ketika situasi belum menuntut dia memilih. Begitu keluarga mulai mengatur, begitu gengsi sosial mulai main, di situ kelihatan apakah dia bisa berdiri sebagai pasangan atau cuma jadi anak mami doang.

Xin Jialiang itu bukan karakter “iblis,” tapi tipe yang pengen semuanya nyaman, pengen semua pihak senang, tapi takut ngambil keputusan tegas. Kalau kamu pernah pacaran sama orang tipe begini, kamu bakal capek sendiri. Mending kamu tinggalin aja deh!

Bagian berikutnya yang paling menguras emosi penonton tentu saja ibunya Chenghuan, Liu Wanyu. Dia ini tipe ibu yang merasa kalau anak harus patuh sama dia, ibu yang boleh ikut campur urusan anak sejauh-jauhnya, lalu menganggap pernikahan anak adalah “proyek keluarga.” Semua dibungkus dengan kata “demi kebahagiaan anak.” 

Ayah dan ibu Mai Chenghuan di Best Choice Ever
Ayah dan ibu Mai Chenghuan di Best Choice Ever

Yang Zi sebagai Mai Chenghuan

Hal yang aku suka dari akting Yang Zi sebagai Chenghuan di sini, dia bukan perempuan yang menang karena lucky doang. Dia menang karena dia bisa kerja, bisa menahan diri, bisa mikir, dan punya mental “gue harus survive.”

Ada bagian soal konflik kantor, politik internal, sampai momen Chenghuan “dijatuhkan” dan harus menelan rasa malu. Di drama lain, ini sering jadi melodrama lebay. Tapi di sini, ritmenya lebih slice-of-life. Chenghuan nggak meledak-ledak meresponsnya, tapi kita sebagai penonton bisa ngerasain capeknya dia. Chenghuan juga pelan-pelan lepas dari dominasi ibunya. 

Yang Zi punya kekuatan besar untuk drama-drama keluarga kayak gini. Dia bisa nangis yang bikin penonton bisa ikutan nangis. Rasanya real banget.

Yang Zi jago banget mainin dua lapis emosi ini. Di luar dia kuat, padahal di dalam dia capek banget jadi penengah untuk semua orang.

Kalau kamu tipe anak sulung, atau tipe anak yang selama ini jadi “penstabil keluarga,” yakin deh kamu bakal kebawa sama energi Chenghuan ini.

Yang Zi sebagai Mai Chenghuan di Best Choice Ever
Yang Zi sebagai Mai Chenghuan di Best Choice Ever

Xu Kai sebagai Yao Zhiming

Nah, karakter ini menarik. Xu Kai dalam kebanyakan drama modern sering diuji lantaran dia tu punya wajah “prince” yang gampang banget bikin karakter-karakter dia jatuh ke trope “cowok kaya dingin.”

Di “Best Choice Ever,” Xu Kai nggak berhenti di trope itu. Sebagai Zhiming, dia punya vibe rapi, tajam, terukur, tapi juga ada sisi kesepian yang nggak dia akui.

Xu Kai ini selalu bagus ketika dia mainin emosi yang ditahan. Bukan yang teriak atau nangis drama, tapi “diam” dan diamnya itu berat.

Aku juga suka ketika Zhiming mulai peduli lagi sama Chenghuan. Dia nggak lembek, tapi tetap logis dan strategis. Cuma sekarang dia makin mempertimbangkan sisi humanis di setiap pengambilan keputusan, bukan cuma hitung-hitungan angka untung rugi kayak sebelumnya.

Xu Kai sebagai Yao Zhiming di Best Choice Ever
Xu Kai sebagai Yao Zhiming di Best Choice Ever

He Saifei sebagai Liu Wanyu

Kalau kamu tanya aku siapa MVP dalam “Best Choice Ever,” tanpa ragu akan menyebutkan nama He Saifei yang memerankan Liu Wanyu, ibunya Chenghuan.

Sebagai penonton, aku benci dia karena dia terlalu ikut campur urusan anak, controlling tingkat tinggi, manipulatif, dan kadang memakai rasa bersalah sebagai senjata.

Kamu boleh kesal sama karakter ini, tapi di kehidupan nyata, karakter kayak dia ini realistis banget. Banyak orang tua generasi tertentu mengira cinta ke anak itu sama dengan kontrol.

Akting He Saifei bikin karakter ini beneran ada. Dan buat aku, itu pujian tertinggi sama dedikasi dia. Meskipun ya, sebagai penonton, aku sering pengen “mute” tiap kali dia muncul di layar. Hahahaha.

Mai Chenghuan berdamai dengan ibunya
Mai Chenghuan berdamai dengan ibunya

Ada bagian di mana ibu Chenghuan jatuh sakit dan menghilang. Nah ini bagian yang bikin drama keluarga ini terasa banget. Liu Wanyu, si ibu yang dominan itu, akhirnya kena konsekuensi hidupnya sendiri. Kondisi kesehatannya memburuk dan ia sempat menghilang, bikin satu keluarga panik.

Meski begitu, Chenghuan berusaha terus mencari ibunya. Dia ngajarin kita, bahwa kamu boleh marah sama orang tua, tapi ketika mereka rapuh, kamu juga tetap manusia, dan tetap anak.

Chenghuan dan Zhiming akhirnya menemukan jejak Liu Wanyu yang kembali ke tempat asal/masa kecilnya. Dari sini, kita melihat sisi Liu Wanyu yang lebih manusia. Ada cerita masa lalunya, alasan ia keras kepala, dan kenapa ia terobsesi “anakku harus hidup lebih enak dari aku.”

Chemistry Yang Zi dan Xu Kai

“Best Choice Ever” ini kayak arena uji kedewasaan bagi dua karakter utama. Apakah Chenghuan tetap jadi anak yang hidupnya diatur? Apakah Zhiming tetap jadi manusia yang cuma percaya uang? Apakah mereka bisa jadi pasangan yang nggak saling “memanfaatkan”?

Kalau kamu nunggu romance meledak-ledak antara Yang Zi dan Xu Kai, kamu nggak bakal menemukannya karena “Best Choice Ever” ini pelit sama itu. Hehehe. Mungkin karena emang dari awal genrenya family-urban

Meski begitu, hubungan Chenghuan dan Zhiming terasa matang karena dibangun dari proses yang ada step by step-nya. Mulai dari Zhiming inisiatif melakukan hal-hal kecil yang menunjukkan dia peduli sama Chenghuan, meski mulutnya tetap tajam.

Lanjut, Chenghuan mulai melihat Zhiming bukan monster korporat, tapi manusia yang juga kesepian. Dan akhirnya, mereka belajar bahwa keluarga itu bisa jadi tempat pulang, tapi juga bisa jadi sumber luka yang harus dibereskan.

Romansa Mai Chenghuan dan Yao Zhiming dalam Best Choice Ever
Romansa Mai Chenghuan dan Yao Zhiming dalam Best Choice Ever

Buat Zhiming, Chenghuan itu semacam “rumah” yang belum pernah ia punya. Buat Chenghuan, Zhiming itu “partner” yang akhirnya bisa berdiri sejajar bersamanya.

Menjelang ending, “Best Choice Ever” memperbaiki hubungan yang sempat retak. Ini poin yang menurutku paling penting dari ending drama ini. Chenghuan tidak berubah jadi anak penurut yang menyerah.

Dia menjadi anak yang lebih dewasa, tetap punya batas, tapi dia juga bisa berdamai dengan ibunya. Dia bisa memaafkan tanpa harus kembali dikekang.

Sementara Zhiming, yang tadinya hidupnya dingin dan terisolasi, mulai belajar konsep “keluarga” yang bukan cuma darah, tapi pilihan dan kehadiran.

Pada bagian akhir, kondisi Liu Wanyu membaik. Operasinya disebut berhasil, dan keluarga mulai bisa bernapas lagi.

Di ujung cerita, Chenghuan dan Zhiming tetap bersama, tapi belum resmi menikah. Bahkan ada dialog yang menyiratkan Zhiming sebenarnya sudah siap, tinggal Chenghuan yang masih sibuk dengan hidup/kerja dan urusan keluarga.

Jadi ending-nya itu bukan “wedding fireworks,” melainkan hidup mereka lanjut, hubungan mereka stabil, keluarga Chenghuan lebih membaik, Zhiming akhirnya menemukan rumahnya pada sosok Chenghuan. “Best Choice Ever” sengaja menutup ceritanya dengan nuansa realistis.

Certified author (BNSP), eks-jurnalis ekonomi dan lingkungan. Kini menjadi full-time mom yang juga berkarya sebagai novelis, blogger, dan content writer. Founder Rimbawan Menulis (Rimbalis), komunitas yang aktif mengeksplorasi dunia literasi dan isu-isu lingkungan.

Share:

Leave a Comment