The Legend of Shen Li adalah salah satu drama China paling ditunggu sejuta umat sejak 2017. Bayangin aja, tujuh tahun penantian, dan akhirnya baru benar-benar terbayar lunas tahun 2024.
Penantian panjang ini berakar dari sad ending “Princess Agents” (2017) yang dulu sukses mengiris, meremukkan, sekaligus meninggalkan trauma kolektif bagi para penontonnya. Sutradaranya terlalu tega memisahkan dua karakter utama yang diperankan Zhao Liying dan Lin Gengxin pada episode terakhir. Sejak saat itu, rasa “belum selesai” terus menghantui.
Harapan pun menumpuk. Banyak penonton menggantungkan asa agar luka lama dari “Princess Agents” bisa terobati, bahkan terbayar LUNAS, di “The Legend of Shen Li.” Dan akhirnya… alhamdulillah. Untuk kedua kalinya, penonton tidak dipatahkan hatinya lagi.
Secara cerita, “The Legend of Shen Li” bukan kelanjutan atau perpanjangan dari “Princess Agents.” Ini bukan sekuel, bukan spin-off, apalagi satu universe yang sama. Tapi karena chemistry Zhao Liying dan Lin Gengxin sudah terlanjur melekat di hati penonton, wajar jika banyak yang berharap di semesta lain, di kehidupan lain, setidaknya kali ini mereka bisa bersatu sampai akhir.
Oke, kalau kamu sudah nggak sabar lagi baca ulasannya, silakan.

Sinopsis The Legend of Shen Li
Shen Li (diperankan Zhao Liying) adalah jenderal terkuat dari alam spiritual (spiritual realm), bergelar Ratu Bi Cang. Dia tipe jenderal perempuan yang kalau turun ke medan perang, musuh biasanya tinggal ngitung napas aja.
Sayangnya, hidup Shen Li mendadak ditarik ke jalur politik. Ia dipaksa menikah dengan cucu keturunan Dewa Langit di alam dewa (immortal realm), bernama Fu Rong (diperankan He Yu) yang reputasinya… ya gitu deh. Playboy, manja, dan bikin Shen Li pengen jungkir balik saking malasnya sama orang ini.
Pernikahan tersebut dibuat demi menjaga kedamaian Tiga Alam. Nah, karena Shen Li bukan ksatria perempuan yang pasrah begitu aja demi takdir, dia kabur dari pernikahan itu.
Di tengah pelarian, ia disergap, terluka parah, dan tubuhnya kembali lagi ke wujud spiritualnya, seekor phoenix. Nah, phoenix-nya ini dalam kondisi ringkih, jatuh ke alam manusia (mortal realm), dan malah disangka ayam (serius, disangka ayam). Akhirnya Shen Li dalam wujud “ayam” tadi dijual di pasar.

Di sinilah takdir ngeselin sekaligus manis itu mulai bekerja.
Ada seorang lelaki manusia bernama Xing Yun (diperankan Lin Gengxin) yang fisiknya tuh rapuh banget. Kayak sakit-sakitan, hidupnya terlihat sederhana, tapi anehnya dia punya aura yang beda. Kalem, nyinyir dikit, perhatian, dan ternyata pintar banget lantaran banyak tahunya. Dia kelihatan manusia biasa aja, eh ternyata menyimpan identitas rahasia.
Xing Yun membeli Shen Li (dalam bentuk “ayam”) dari pasar dan membawanya pulang. Di titik ini, Shen Li yang biasanya memerintah ribuan pasukan, mendadak harus menerima nasib, hidup numpang makan dari seorang manusia.

Lucunya, Shen Li itu gengsinya tinggi, tapi kondisinya nggak memungkinkan sok kuat. Dan Xing Yun… bukannya takut, dia malah santai, kadang ngegodain, kadang ngeyel, tapi tetap merawat Shen Li sepenuh hati.
Lama-lama, Shen Lin menaruh simpati sama Xing Yun. Soalnya, Xing Yun ini sangat membantu pemulihan Shen Li. Shen Li sadar, energi spiritualnya pulih lebih cepat setiap kali makan masakan Xing Yun yang ternyata jago masak. Dari sini, benih keterikatan tumbuh dan lama-lama Shen Lin jatuh hati pada Xing Yun.
Shen Li yang biasanya melihat dunia dengan logika perang, kini perlahan belajar dunia manusia. Dia sadar bahwa melindungi itu nggak harus pakai senjata, seperti tombak saktinya. Oleh sebab itu, ketika pasukan langit menangkap kembali Shen Li dan memaksanya kembali ke alam spiritual, Shen Li menyerahkan diri dengan sukarela. Hal itu dia lakukan asalkan pasukan langit tidak menyakiti Xing Yun.
Ketika Shen Li akhirnya dikembalikan ke alam spiritual, dia mendapat kabar bahwa Xing Yun, sebagai manusia yang berumur pendek, akhirnya meniggal dunia. Shen Li harus menelan fakta pahit bahwa orang yang dia cintai sudah tidak ada.
Ya, umur manusia dan umur makhluk spiritual seperti Shen Li tentulah berbeda. Manusia biasanya hanya berusia kurang dari 100 tahun, sementara makhluk spiritual dan dewa bisa berusia ribuan tahun.
Di alam spiritual, Shen Li kembali menjadi jenderal perang perempuan. Tapi masalah pernikahan politik belum selesai. Fu Rong dari alam dewa juga sebenarnya nggak antusias nikah sama Shen Li. Dia bahkan takut sama Shen Li karena reputasinya sebagai jenderal perang nggak pandang bulu.
Cerita “The Legend of Shen Li” makin serius saat muncul ancaman dari Xutian Abyss, semacam jurang/segel besar tempat energi jahat dan monster terkurung. Ada anomali terjadi, di mana segel melemah, dan monster mulai lolos.
Shen Li sebagai jenderal tentu turun tangan. Ada pertarungan besar, ada makhluk yang regenerasinya gila-gilaan, dan Shen Li harus bertarung dengan cara yang nekat demi menang.
Di tengah riunya peperangan di Xutian Abyss, dengan sisa kekuatan terakhirnya, Shen Li berhasil mengalahkan monster-monster di sana meski dibayar dengan kondisi tubuh babak belur. Lalu, hal yang tak dia sangka terjadi, , muncul sesosok makhluk abadi dari alam dewa bernama Xing Zhi.
Siapa sangka, Xing Zhi adalah seorang Dewa Kuno (Ancient God) yang posisinya paling maha, paling tinggi di atas kebanyakan dewa dan makhluk immortal lainnya. Anehnya… sosoknya sangatlah mirip dengan Xing Yun di alam manusia yang merupakan kekasih Shen Li.
Di titik ini, Xing Zhi juga “turun tangan” lantaran kekuatan Xutian Abyss benar-benar sudah tak bisa dikendalikan lagi. Sebelumnya, Xing Zhi adalah dewa yang menyegel tempat tersebut dengan cara mengunci Dewa Monster di sana, yang ternyata Dewa Monster tersebut adalah… (silakan nonton sendiri ya). Hehehe.
Benar rupanya. Xing Yun dan Xing Zhi terhubung. Xing Yun bukan kebetulan hadir di hidup Shen Li. Ada takdir lama, ada jejak ribuan tahun, dan ada “aturan besar” yang membuat hubungan mereka jadi tabu.
Di saat Shen Li masih mencoba menerima duka “kehilangan” Xing Yun, semesta justru seperti menertawakan dia dengan cara paling kejam, di mana orang yang paling ia rindukan… ternyata tidak benar-benar pergi.
Ternyata, Xing Yun yang dicintai adalah seorang dewa besar, sehingga untuk mereka bersama? TIDAK MUNGKIN. Ada harga mahal yang harus dibayar jika mereka memutuskan bersama, dan harga mahal itu menyangkut stabilitas Tiga Alam: alam manusia, alam roh, dan alam dewa.
Review The Legend of Shen Li
Konflik dalam “The Legend of Shen Li” ini intinya adalah tentang cinta, tapi bukan cuma “aku sayang kamu,” tapi “aku memilih kamu meski aku bisa kehilangan segalanya.”
Dan yes, chemistry Zhao Liying dan Lin Gengxin di serial ini tuh bukan chemistry yang imut-imut, tapi matang, tenang, dan kalau udah meledak, bisa bikin penonton kayak aku sesan napas.
Mari kita ulas satu-satu ya…
Romansa Terlarang Shen Li dan Xing Zhi
Drama China genre xianxia memang terkenal sering punya formula cinta terlarang. Entah itu karena beda alam, beda kasta, atau beda takdir. “The Legend of Shen Li” juga memakai formula itu.
Tapi yang bikin “The Legend of Shen Li” beda, menurutku, adalah cara dramanya menuliskan “tabu” itu sebagai konflik emosional, bukan sekadar aturan Tiga Alam doang.
Xing Zhi punya posisi sebagai Dewa Kuno terakhir, satu-satunya yang tersisa di Kerajaan Langit. Dialah yang menjaga tatanan Tiga Alam supaya tetap berjalan di garisnya.
Dialah simbol “Natural Law.” Maka, begitu dia memutuskan mencintai, dalam hal ini pilihannya jatuh pada Shen Li, ini bukan cuma berarti dia melanggar aturan “Dewa Kuno dilarang jatuh cinta,” tapi juga bakal merusak struktur alam semesta.

Ada banyak momen di mana Xing Zhi kelihatan santai bercanda, tapi di balik candanya itu aku sebagai penonton bisa merasakan kesedihan mendalam. Dia tahu dia nggak boleh punya “rasa cinta” karena dia Mahadewa, tapi dia pernah menjadi manusia yang juga punya hati.
Dan Shen Li di sini juga bukan tipe yang memaksa. Dia juga realistis. Dia tahu konsekuensinya ketika Dewa Kuno melanggar hakikatnya. Hanya saja, jauh dalam hati kecilnya, Shen Li juga punya sisi, “kalau aku mencintai, aku mau dia, aku mau semuanya.” Shen Li menuntun sesuatu yang paling sulit, yaitu cinta Xing Zhi seutuhnya.
Akting Zhao Liying dan Lin Gengxin
Zhao Liying sebagai Shen Li sangat cocok untuk peran perempuan kuat yang tidak kehilangan kelembutan sekaligus kekuatan. Matanya punya “api” yang khas, dan dia bisa membuat karakter keras kepala sekalipun tetap lovable.
Aku setuju dengan sebagian besar komentar penonton “The Legend of Shen Li” di forum-forum online, bahwa kekuatan Zhao Liying dalam berakting adalah konsistensi. Dalam hal perannya sebagai Shen Li, dia tidak berubah jadi orang lain karena cinta. Dia tetap menjadi Shen Li.
Lin Gengxin sebagai Xing Yun/ Xing Zhi, punya ruang lebih luas untuk mainin kontradiksi. Dia tua tapi childish, super kuat tapi rapuh, dingin tapi posesif, dan sakral karena dia mahadewa tapi kok “manusia banget” juga.
Ekspresi halus Lin Gengxin bagus banget, terutama saat Xing Zhi terlihat menahan sesuatu yang besar.
Kalau kamu pernah punya “residual feelings” dari kolaborasi Zhao Liying dan Lin Gengxin sebelumnya, yaitu Princess Agents, kamu pasti ikut terbawa perasaan alias baper menonton mereka berdua di “The Legend of Shen Li.”
Chemistry Zhao Liying dan Lin Gengxin ini bukan cuma bikin penggemar berat mereka, seperti aku, nostalgia doang. Mereka memang sangat cocok, dan aku bahkan selalu berharap mereka juga jadi pasangan di dunia nyata.
Ibaratnya, kalau lihat Zhao Liying, itu pasti couple-nya Lin Gengxin, demikian juga sebaliknya. Mau sebanyak apa pun dua aktor dan aktris ini bermain drama China, gak ada aura couple yang ngalahin mereka berdua.

Produksi Mahal, Drama Ini Emang Niat!
Secara visual, “The Legend of Shen Li” terasa mahal. Mulai dari pemandangan, lighting, set Tiga Alam, kostum-kostum Shen Li, sampai CGI phoenix dan makhluk-makhluk spiritual lainnya yang nggak kaleng-kaleng.
CGI-nya “The Legend of Shen Li” memang nggak selalu sempurna, karena sama-sama tahulah, xianxia jarang banget yang 100 persen mulus. Akan tetapi, harus diakui komposisi visualnya cantik sekali.
Musik-musiknya juga membantu banget membangun mood penonton. Saat lucu, musiknya nggak lebay. Saat sedih, musiknya nggak maksa kamu nangis tapi cukup menyentuh.
Pengkhianatan dan Akhir Bahagia
Ada karakter penting bernama Mo Fang (diperankan Xin Yunlai). Dia dekat dengan Shen Li, dan salah satu tangan kanannya yang setia. Namun ternyata, itu hanya di permukaan saja.
Mo Fang menyimpan banyak hal. Lalu terungkap sesuatu yang menyakitkan karena Mo Fang punya keterkaitan dengan rencana jahat lama yang berisiko menghancurkan kedamaian Tiga Alam. Mo Fang ternyata terikat dengan entitas makhluk spritual bernama Fu Sheng yang bisa mengendalikan dan memanfaatkan tubuh serta jiwanya.
Ada misteri tentang Shen Li, tepatnya sesuatu di dalam dirinya (sering disebut Blue Sea Pearl) dan kenapa banyak pihak, termasuk Fu Sheng mengincarnya. Ini bukan cuma soal senjata rahasia tapi kunci yang terkait dengan konflik besar dan segel-segel kuno.
Di sinilah drama “betrayal” “The Legend of Shen Li” muncul. Mo Fang mengkhianati Shen Li. Dan Shen Li? Shen Li itu tipe yang bisa memahami luka orang, tapi tetap punya prinsip tegas bahwa pengkhianatan tetap pengkhianatan.
Karena situasi makin kacau, Shen Li sempat berada di kondisi yang jatuh-bangun, terutama ketika dia tenggelam di Laut Selatan dan dinyatakan mati. Xing Zhi yang tidak terima dengan keputusan langit akhirnya melanggar takdirnya sendiri.
Xing Zhi memilih Shen Li dan selama berbulan-bulan mencari jasad Shen Li demi memberinya nyawa kembali. Ada fase di mana Shen Li perlu memulihkan diri jauh dari pusat konflik. Bersama Xing Zhi, mereka tinggal di sebuah desa nelayan.
Lalu cerita memberi jeda yang (buat banyak penonton) jadi salah satu bagian paling manis pada perkembangan hubungan mereka berdua. Shen Li dan Xing Zhi menjalani hidup yang lebih sederhana, meski jelas mereka bukan manusia biasa.
Ini bagian “The Legend of Shen Li” yang bikin penonton senyum-senyum sendiri karena hubungan mereka akhirnya terasa dewasa dan tenang, candanya tetap ada, tapi ada sedih tipis di bawahnya karena mereka sama-sama tahu, ini bisa saja hanya sementara sampai mereka “dipaksa” kembali menjalani takdir masing-masing, satunya dewa kuno dan satunya jenderal spiritual.
Konflik klimaksnya adalah kombinasi perang melawan kebangkitan kejahatan lama, konsekuensi segel yang runtuh, pengkhianatan dan penebusan dosa, dan pertanyaan paling kejam, “kalau kamu menyelamatkan semua orang, apakah kamu harus mengorbankan satu-satunya orang yang kamu mau selamatkan?”
Ending “The Legend of Shen Li” mengarah ke resolusi yang memberi “jawaban emosional” buat penonton, bukan sekadar menang-kalah. Ada rasa tuntas untuk perjalanan cinta mereka, meski tetap membawa nuansa xianxia yang pahit-manis ya.
Aku suka endingnya. Menurutku, “The Legend of Shen Li” cocok buat kamu yang mau xianxia romantis tapi nggak cengeng, suka female-lead yang beberan kuat (bukan cuma “dibilang kuat” doang), dan pengen nonton xianxia yang couple-nya punya chemistry matang. Silakan kamu nonton sendiri deh!

Leave a Comment