Rabu sore sepulang sekolah, aku merasa Kakak Mae agak berbeda. Putriku yang biasanya punya saja bahan untuk berdebat, hari itu anteng banget. Emosinya stabil. Apa-apa nggak protes, nggak ada drama kecil, bahkan semua permintaan ibunnya dikerjakan tanpa perlu diulang berkali-kali.
Eh, disclaimer dulu. Jangan bayangkan anakku segalak pit bull atau doberman, ya. Wkwkwk. Galaknya masih sebatas anak perempuan sulung yang kadang merasa pendapatnya paling benar.
Sampai di rumah, Kakak Mae langsung cuci piring. Main catur sama adiknya juga mau. Ketika adiknya minta remot TV, dia kasih tanpa banyak komentar. Makin heranlah aku. Setiap ada kejadian kecil yang menimpa ibunnya, Kakak langsung sigap bertanya.
Tangan ibun kena percikan minyak panas sedikit. “Ibun, Ibun nggak papa?”
Air keran tiba-tiba mengalir kecil. “Ibun, kenapa airnya?”
Air minum ibun tumpah sedikit. “Ibun, nggak papa?”
Masyaallah. Ada apa ini dengan anakku? Kok mendadak perhatian sekali? Sempat aku berpikir, mungkin dia sedang dalam suasana hati yang bagus. Ternyata, jawabannya baru ketahuan keesokan harinya.
Subuh-subuh, saat di hari yang sama aku menulis tulisan ini, Kakak Mae tiba-tiba bertanya, “Ibun, kapan lagi aku dapat jajan bulanan?”
Aku jawab, “Nanti setelah tanggal 25 setiap bulan, ya, Kak.”
Lalu dia membuka dompetnya dan mengeluarkan beberapa lembar uang. Totalnya Rp75 ribu. “Ibun, sekarang baru tanggal 5, tapi uangku tinggal segini.”
Oalah. Jadi, selama ini ada sesuatu yang sedang dipikirkan Kakak Mae. Uang jajannya ternyata sudah menipis, padahal masih ada sekitar 14 hari aktif sekolah yang harus dia jalani sebelum mendapat jatah bulan berikutnya.
Aku tanya, “Memangnya Kakak nggak hitung belanja Kakak sehari-hari di sekolah?”
“Hitung, tapi kadang aku nggak sadar, Bun, belanjanya.”
Nah, ketemu juga masalahnya. Mungkin saat pertama kali menerima uang jajan dalam jumlah yang cukup banyak, Kakak Mae merasa punya banyak uang. Ada uang di dompet, jadi rasanya masih aman untuk membeli ini dan itu. Sampai suatu hari dia membuka dompet lagi, lalu baru sadar kalau uangnya tinggal sedikit.
Percobaan Pertama Mengatur Uang Jajan Bulanan
Tanggal 25 Oktober lalu, aku memang mulai melatih Kakak Mae mengatur uang jajannya sendiri. Usianya sekarang 10 tahun, kelas 5 SD. Menurutku, sudah waktunya dia belajar mengelola uang yang biasa dipakai untuk jajan di sekolah dan tempat les.
Sebelumnya, uang jajan diberikan harian. Kali ini aku ingin mencoba cara berbeda, yaitu uangnya diberikan dalam jatah bulanan, lalu Kakak Mae belajar mengatur sendiri supaya cukup sampai waktunya menerima uang lagi.
Untuk jajan sekolah, aku membekalinya Rp15 ribu per hari. Jumlah ini batasan maksimal dari sekolahnya. So, udah masuk peraturan sekolah ya. Makan siangnya sudah tersedia dari catering.
Kalau dalam sebulan ada sekitar 20 hari aktif sekolah, berarti total jajan Kakak adalah Rp300 ribu. Selain itu, Kakak juga mendapat jatah jajan les. Dia les dua kali seminggu, jadi kira-kira ada delapan kali les dalam sebulan. Dengan jatah Rp20 ribu setiap kali les, total uang jajan lesnya Rp160 ribu.
Jadi total uang yang perlu dikelola Kakak Mae sekitar Rp460 ribu sebulan, dengan catatan jumlah hari sekolah dan les bisa berubah.
Untuk uang jajan les, aku memang memberi kebebasan. Mau dipakai semua, disimpan, atau ditabung dulu, terserah Kakak. Aku ingin dia punya ruang untuk menentukan pilihan sendiri.
Sayangnya, latihan pertama ini belum berjalan sesuai harapan. Uang yang seharusnya cukup untuk sebulan ternyata sudah banyak terpakai dalam waktu kurang dari dua minggu. Tanggal 5, dompetnya tinggal Rp75 ribu.
Kalau mau disebut gagal, ya, bisa dibilang begitu. Tapi aku juga merasa ini bagian dari proses belajar. Kakak Mae baru pertama kali mencoba mengatur uang dalam jumlah yang lebih besar dan untuk jangka waktu yang lebih panjang.
Yang penting, dia akhirnya menyadari bahwa uang di dompetnya tidak akan bertambah sendiri.
Tips Melatih Anak Mengatur Uang Jajan Bulanan
Apakah aku marah ketika Kakak Mae cerita uang jajannya tinggal sedikit? Tentu tidak.
Aku malah tersenyum. Dia sudah cukup berani untuk jujur dan menunjukkan sisa uangnya. Bagiku, itu hal penting. Aku tidak ingin dia merasa harus menyembunyikan kesalahan hanya karena takut dimarahi.
Aku bilang, “Nggak apa-apa, Kak. Bulan depan kita coba lagi. Tapi Kakak janji harus lebih disiplin mengatur uangnya, ya.” Kakak Mae mengangguk dan berjanji akan berusaha lebih baik.
Sejujurnya, aku juga sadar kok, memberikan uang bulanan saja belum cukup. Anak usia 10 tahun masih perlu dibimbing untuk memahami cara membagi uang, membedakan kebutuhan dan keinginan, serta memperkirakan berapa banyak yang bisa dipakai setiap hari.
Jadi, bulan depan kami akan mencoba lagi. Berikut beberapa tips melatih anak mengatur uang jajan bulanan.
1. Mulai dari jumlah yang sesuai dengan kebutuhan anak
Sebelum memberikan uang bulanan, hitung dulu kebutuhan hariannya. Misalnya, uang jajan sekolah Rp15 ribu per hari dengan 20 hari aktif sekolah, berarti sekitar Rp300 ribu sebulan.
Jangan lupa, jumlah hari sekolah bisa berbeda setiap bulan. Ada libur nasional, kegiatan sekolah, atau anak yang tidak masuk. Jadi, lebih baik hitung berdasarkan kalender sekolah daripada sekadar mengalikan dengan angka rata-rata.
2. Bantu anak membagi uang ke dalam beberapa pos
Anak mungkin belum terbiasa melihat uang sebagai sesuatu yang harus bertahan selama sebulan. Karena itu, uang bisa dibagi menjadi beberapa bagian, misalnya uang jajan sekolah, uang jajan les, uang tabungan, uang cadangan.
Mungkin bisa step by step ya. Mulai dari uang jajan sekolah saja dulu, baru lanjut tambahkan uang les, uang tabungan, hingga uang cadangan.
Kalau anak masih kesulitan mengatur uang dalam satu dompet, bisa gunakan amplop atau beberapa kantong kecil. Beri label supaya dia tahu uang itu untuk apa.
3. Jangan langsung menyerahkan seluruh uang tanpa membuat kesepakatan
Sebelum uang diberikan, ajak anak duduk sebentar dan bicarakan aturan mainnya. Berapa jatah harian? Apa yang boleh dibeli? Apakah boleh menggunakan uang jajan sekolah untuk membeli sesuatu di luar sekolah?
Bukan berarti semua pengeluaran harus dikontrol orang tua ya. Kita kan mau mengajarkan anak supaya mereka belajar membuat keputusan sendiri, tetapi tetap memahami batas dan tujuan dari uang yang diberikan.
4. Ajarkan cara menghitung sisa uang
Setiap hari, anak bisa mencatat uang yang dipakai dan berapa sisanya. Tidak perlu rumit. Cukup tulis saja, misalnya uang awal, pengeluaran hari itu, sisa uang.
Kalau anak tidak suka menulis, bisa memakai tabel sederhana atau mencatat di buku kecil. Dari situ, dia akan melihat sendiri kebiasaan belanjanya.
5. Bedakan kebutuhan dan keinginan dengan contoh sehari-hari
Anak perlu tahu bahwa membeli makanan karena lapar berbeda dengan membeli jajanan hanya karena teman-temannya membeli.
Bukan berarti jajanan yang disukai harus dilarang. Anak tetap boleh menikmati uangnya. Anak perlu memahami, kalau uang dipakai untuk membeli sesuatu sekarang, mungkin ada hal lain yang tidak bisa dibeli nanti.
6. Beri kesempatan anak membuat kesalahan dalam batas aman
Ini mungkin bagian yang paling sulit bagi orang tua. Saat melihat uang anak cepat habis, rasanya ingin langsung menambah atau mengambil alih pengaturannya.
Tapi kalau setiap kali uang habis lalu orang tua selalu menambal, anak bisa saja tidak merasakan konsekuensi dari keputusan belanjanya.
Tentu saja, kebutuhan makan dan hal penting lainnya tetap harus dipenuhi. Namun untuk uang jajan tambahan, anak bisa diajak memahami bahwa uang yang sudah habis tidak otomatis mendapat pengganti.
7. Evaluasi tanpa menghakimi
Di akhir minggu atau bulan, ajak anak ngobrol. Bukan untuk menginterogasi, melainkan melihat apa yang berhasil dan apa yang perlu diperbaiki.
Tanyakan, “Kakak merasa uangnya paling banyak habis untuk apa?” atau “Bulan depan Kakak mau coba cara apa supaya uangnya cukup?”
Biarkan anak ikut menemukan solusinya. Dengan begitu, dia tidak hanya mengikuti aturan ibun, tetapi juga belajar bertanggung jawab atas pilihannya.
8. Beri apresiasi pada proses, bukan hanya hasil
Kalau anak berhasil menyisakan uang, tentu boleh dipuji. Tapi kalau uangnya masih habis, jangan langsung dianggap tidak disiplin.
Apresiasi ketika dia mulai mencatat pengeluaran, berpikir sebelum membeli, atau jujur saat uangnya menipis. Kebiasaan mengelola uang tidak terbentuk dalam satu bulan.
Percobaan pertama Kakak Mae memang belum berhasil. Uang jajan yang seharusnya cukup sampai akhir bulan ternyata sudah menipis pada tanggal 5.
Tapi setidaknya, sekarang dia mulai tahu rasanya ketika uang yang dimiliki harus cukup untuk banyak hari ke depan.
Aku pun belajar bahwa melatih anak mandiri tidak hanya memberikan mereka tanggung jawab, lalu membiarkannya berjuang sendirian. Aku harus menemaninya, mengingatkannya, dan memberinya kesempatan untuk mencoba lagi.
Bulan depan, kami akan mulai dari awal. Semoga kali ini Kakak Mae lebih bisa mengatur uangnya. Kalau belum berhasil juga, ya, kita evaluasi lagi.

Leave a Comment