Sejak T.O.P Pre-Studio Jakarta dibatalkan sepekan lebih sebelum acara, aku mendadak merasa seperti cenayang. Entah karena kelewat yakin, kebanyakan mikir, atau memang aku saja yang lebay, beberapa hal yang cuma sempat melintas di kepala malah kejadian beneran. Ada yang langsung terbukti dalam hitungan hari, ada juga yang baru terjadi beberapa waktu kemudian,
Aku tahu babak baru karier T.O.P tak akan mudah. Tapi sebagai orang yang mengikuti perjalanannya selama 19 tahun, dan karena aku sayang dengan teman-temanku di TOPSX Indonesia, aku memilih menepis pikiran-pikiran buruk itu. Aku tak ingin prasangka buruk merusak caraku menikmati langkah barunya.
Seorang temanku, Zoalatte, pernah cerita soal kekuatan afirmasi positif. Katanya, berkat afirmasi itulah dia bisa ketemu GD di Jakarta, nonton fan meeting T.O.P di Jepang, sampai dapat tiket konser BIGBANG di Malaysia dan Jakarta. Padahal waktu BIGBANG lagi padat-padatnya tur berlima dulu, keberuntungan seolah tak sekali pun berpihak padanya. Dia selalu terpaksa absen.
Mendengar ceritanya, aku coba pakai sudut pandang yang sama. Daripada capek cemas memikirkan hal yang belum pasti, lebih baik nikmati yang ada sekarang sambil berharap yang terbaik. Ya, minimal itu caraku untuk menyemangati teman-teman di grup.
Sampai akhirnya, salah satu fansite T.O.P di Korea mengumumkan pembatalan acara ulang tahunnya. Tak lama setelah itu, mereka memutuskan pensiun.
Sebenarnya ini bukan yang pertama. Akhir Desember 2025 lalu, ada fansite lain yang juga tutup karena alasan pribadi, soal kesehatan. Itu terjadi sebelum T.O.P merilis ANOTHER DIMENSION. Bedanya, waktu itu situasinya tenang-tenang saja, tak seramai sekarang.
Aku tak berniat menghakimi keputusan kedua fansite ini. Itu sepenuhnya hak mereka dan aku menghormatinya. Di internal TOPSX Indonesia sendiri, sudut pandangnya beragam. Malah belakangan aku merasa caraku memandang situasi ini mulai berseberangan dengan beberapa teman yang dulu sepemikiran.
But it’s okay. Keputusanku begitu, keputusan mereka begini.
Aku bertahan di komunitas ini sebab aku sudah berjanji akan terus mendampingi teman-temanku di Indonesia. Bagiku, janji itu wajar dipegang selama aku masih sanggup dan tak perlu mengorbankan prinsip pribadi. Tentu batas toleransi tiap orang beda-beda, dan aku tak punya hak mengatur batas itu untuk orang lain.
Cuma, di balik semua yang terjadi belakangan ini, masih saja satu hal yang sama terus mengganjal di kepalaku.
Pada dasarnya tak ada yang salah dari cara seseorang mendukung idolanya. Ada yang senang mengawal update terbaru, nungguin live, datang ke fan meeting, mengoleksi merch, atau berburu kesempatan ketemu langsung.
Ada juga yang sudah cukup puas cuma dengan mendengarkan musiknya, beli album, lalu menikmati karyanya dari jauh. Tidak ada cara yang lebih superior dari yang lain.
Hanya saja khusus untuk T.O.P, aku makin ke sini makin lebih nyaman menyebutnya sebagai musisi, bukan idol.
Bukan berarti aku melupakan sosok T.O.P yang bertahun-tahun jadi bagian dari BIGBANG. Justru karena aku menyimak perjalanannya sedari awal. Aku tahu betul sejak wawancaranya dengan Prestige di Maret 2022 lalu, dia sudah terbuka bilang ingin lepas dari sistem K-pop idol yang membesarkan namanya.
Dia ingin ruang bernapas untuk bereksplorasi sebagai seniman, bikin musik dengan caranya sendiri, dan memulai babak baru.
Empat tahun sudah lewat sejak wawancara itu. Kita tentu punya ekspektasi masing-masing soal bakal seperti apa perjalanannya. Kita boleh berharap, boleh kecewa, bahkan boleh mempertanyakan cara T.O.P mengelola kariernya. Tapi, mungkinkah kita juga perlu pelan-pelan mengubah cara kita memandangnya?
Bisakah kita tetap support T.O.P tanpa terus-menerus menuntut kehadirannya?
Bisakah kita menikmati musiknya tanpa menjadikan intensitas unggahan, kemunculannya di publik, atau kesempatan temu muka sebagai tolok ukur seberapa besar dia menghargai fansnya?
Bisakah kita mendukungnya penuh sebagai seorang musisi, bukan lagi sebagai idol yang dulu kita kenal?
Aku yakin, jawaban kita tak akan sama. Tapi setelah 19 tahun berjalan bersamanya, aku merasa pertanyaan-pertanyaan ini penting untuk kita tanyakan ke diri kita masing-masing.
T.O.P is Not an Idol Anymore
Aku sangat berhati-hati saat memutuskan menulis artikel ini. Aku bahkan membaca lagi berulang-ulang wawancara T.O.P bersama Prestige Magazine edisi Maret 2022 lalu di Singapura.
Kesimpulanku tetap sama, kalau kita mau tetap mendampingi T.O.P di babak baru hidupnya, kita perlu menggeser cara pandang ini bersama.
Dalam hal ini, bukan berarti kita harus membela semua tindakannya tanpa cela, atau menganggap dia anti-kritik. Kita hanya perlu berusaha memahaminya, Choi Seunghyun, dari kacamata seorang seniman.
1. T.O.P Sudah Lama Ingin Keluar dari Cetakan Sistem Idol
Dalam wawancara tersebut, T.O.P blak-blakan mengkritik sistem K-pop yang menurutnya menggembleng para trainee seperti robot. Mereka dilatih untuk patuh pada instruksi, memenuhi ekspektasi pasar, dan menyesuaikan diri dengan sistem yang perlahan mengikis karakter serta keunikan diri masing-masing.
“This is a time to leap to the next stage of my career and life”
T.O.P: A Star Reborn, PRESTIGE (2022)
Dia bahkan sempat berucap tegas, “I don’t want to be a robot maker.” Dia punya impian membangun label yang membebaskan para artis untuk mengekspresikan diri secara utuh sebagai individu, bukan sekadar memproduksi figur yang pasrah dibentuk oleh cetakan industri.
Buatku, ucapan itu krusial. Kebebasan berekspresi ternyata bukan cuma ambisi pribadi T.O.P, tapi juga bayangan idealnya soal bagaimana sebuah ekosistem musik seharusnya memperlakukan seniman.
Begitu kita balik melihat T.O.P hari ini, wajar banget kalau dia memang tak ingin selamanya menjalani karier dengan pola dan aturan main yang sama seperti saat dia masih aktif menjadi seorang idol.
2. Dia Sudah Membayangkan Jalur Karier yang Berbeda Sejak 2022
Masih dalam wawancara yang sama, T.O.P terang-terangan menyebut bahwa arah musik BIGBANG dan musik T.O.P sudah berjalan ke persimpangan yang berbeda. Dia butuh tantangan baru, dorongan kreatif yang berbeda, serta sebuah transisi besar dalam kehidupan dan kariernya.
Dia bahkan memberi peringatan halus, mungkin bakal butuh waktu yang sangat lama sampai dia kembali sebagai T.O.P dari BIGBANG.
“Being super honest with the fans, I really don’t want to say this is my last. But even more frankly, it might be a long while until I come back as T.O.P of BIGBANG. Over those five years, our music tastes and activities probably differed a lot, and now BIGBANG music and T.O.P’s music are quite different. I’m at the stage in my life where I want to awaken to fresh new challenges, stimuli and transition.”
T.O.P: A Star Reborn, PRESTIGE (2022)
Jadi, wacana seperti ini bukan baru kita dengar kemarin sore. T.O.P sudah memaparkannya secara terbuka empat tahun lalu.
Merindukan BIGBANG itu hal yang sangat wajar. Berharap mereka berkumpul lagi atau bernostalgia dengan masa-masa kejayaan mereka adalah hal yang sangat manusiawi.
Aku tahu betul betapa berharganya momen-momen itu bagi para VIP yang sudah bertahan bertahun-tahun, sebab sebelum menjadi TOPSX, aku adalah seorang VIP. Namun, rasanya kurang adil kalau kenangan indah masa lalu kita jadikan tolok ukur tunggal untuk menilai seluruh langkah T.O.P ke depan.
T.O.P yang sekarang punya jalan profesionalnya sendiri. Dan berproses ke arah baru tidak otomatis berarti dia melupakan sejarahnya atau tak lagi menghargai orang-orang yang pernah tumbuh bersamanya.
3. T.O.P Ingin Memiliki Kendali Lebih Besar atas Narasi Hidup dan Kariernya Sendiri
Dalam wawancara itu, T.O.P banyak menyentil soal pentingnya memiliki kendali atas narasi hidup sendiri dan bertanggung jawab penuh atas apa yang dia katakan maupun lakukan.
Bagi seorang seniman, ini adalah prinsip mendasar, yaitu hak untuk menentukan arah hidup, memilih karya yang ingin dibuat, dan memutuskan bagaimana ia ingin berinteraksi dengan dunia luar.
“Since I was young I’ve suffered from depression, but by looking at beautiful things, especially art, I feel relaxed, I feel relieved.”
T.O.P: A Star Reborn, PRESTIGE (2022)
“I was born to be sad. I’ve felt extra sensitive compared to other kids since I was young. I knew it and felt it, and spent more time and more effort to get over it by spending time with art.”
Tentu kebebasan seperti ini datang satu paket dengan tanggung jawab. Menjadi independen tak membuat seseorang otomatis kebal dari kesalahan, atau membuat setiap keputusan profesionalnya pasti benar.
Namun, kebebasan seorang seniman bakal terasa semu kalau dia cuma lepas dari cetakan industri, tapi malah dipaksa masuk ke cetakan baru yang dibentuk oleh ekspektasi penggemarnya sendiri.
Kalau kita ingin T.O.P jadi dirinya sendiri, kita juga harus siap memberi dia ruang untuk mendefinisikan ulang siapa sosok T.O.P sebagai seorang musisi.
4. T.O.P Ingin Membalas Dukungan Penggemar Melalui Karya, Bukan Semata-mata Lewat Kehadiran Fisik
Nah, bagian ini yang menurutku paling esensial. Dalam wawancara tersebut, T.O.P bercerita panjang lebar tentang keinginannya membalas semua kebaikan yang pernah dia terima.
Dia menceritakan bagaimana musik menyelamatkan dia di masa-masa terpuruk, bagaimana dia terus menulis lagu selama masa hiatus, dan betapa dia ingin membagikan hasil proses kreatif itu kepada orang-orang yang setia mendukungnya.
Ada banyak sekali proyek yang ingin dia garap, mulai dari album solo hingga kolaborasi yang menghubungkan musik, seni, dan kreativitas.
Artinya, dalam benak T.O.P, bentuk kasih sayang dan apresiasi kepada penggemar tidak melulu diukur dari seberapa sering dia muncul di layar, menyapa penggemar di media sosial, atau hadir di acara fan meeting. Sebab karya dan proyek kreatif itu sendiri adalah caranya memberikan sesuatu kembali untuk kita, penggemarnya.
Tentu saja, niat baik ini tidak otomatis menyelesaikan masalah teknis. Kita tetap boleh bersuara kalau komunikasi timnya buruk atau ada janji profesional yang tidak berjalan sesuai harapan. Tapi ada perbedaan mendasar antara mengatakan “manajemen komunikasinya perlu dibenahi” dengan menyimpulkan “minimnya kehadiran fisik berarti artisnya tidak peduli lagi pada fans.” Dua hal itu berbeda jauh.
“Since I was five, I started dreaming about music and being a musician. That dream never changed.”
T.O.P: A Star Reborn, PRESTIGE (2022)
Coba kita refleksi sebentar, sebenarnya apa sih yang bikin kita jatuh cinta sama seorang musisi dari awal?
Apakah karena musiknya? Liriknya? Cara dia menyalurkan emosi lewat vokal? Keberanian artistiknya? Atau jangan-jangan, kita cuma terbiasa dengan kenyamanan akses interaksi yang biasa ditawarkan oleh industri idol? Lebih gila lagi, nge-fans sama T.O.P karena ganteng? Oh, come on.
Sama sekali tidak ada yang salah dari menikmati interaksi idol-fans. Update medsos, live streaming, acara fan meeting, semua itu menyenangkan. Penggemar juga sangat berhak kecewa kalau ada layanan profesional yang tak sesuai kesepakatan.
Tapi ya… kalau hal-hal seperti itu mulai dijadikan ukuran utama untuk menilai kepedulian seorang musisi, mungkin kita perlu bertanya lagi ke diri kita, kita ini sedang menikmati karya seorang seniman, atau sedang menuntut pola hubungan ala industri idol?
Aku ngomong begini bukan untuk menghakimi. Aku juga penggemarnya. Aku tahu rasanya menginginkan lebih banyak kabar dan kehadiran dari artis favoritku. Tapi pengalaman pribadiku sebagai anak 90-an bikin aku punya cara pandang yang agak beda soal ini.
Sejak tahun 1999, aku menggilai Sheila on 7. Aku beli kasetnya dan daftar jadi anggota/ membership Sheila Gank. Tapi aku tidak pernah bertatap muka langsung dengan mereka, apalagi menonton konsernya di kotaku.
Apakah itu membuat rasa sukaku berkurang? Tidak sama sekali. Apakah musik mereka jadi kurang bermakna cuma karena aku tidak pernah melihat mereka dari dekat? Jelas tidak.
Aku menikmati karyanya, menyimpan memori bersama lagu-lagunya, dan itu sudah lebih dari cukup. Aku tidak butuh interaksi personal cuma untuk membuktikan bahwa aku menyukai mereka.
Kita bisa menjadi penggemar tanpa harus selalu menuntut akses tanpa batas kepada orang yang kita kagumi. Cara pandang ini terasa makin relevan saat kita mengawal T.O.P hari ini.
Kalau yang kita suka adalah musiknya, mari nantikan musiknya. Kalau kita menghargai proses kreatifnya, mari apresiasi karyanya. Kita bisa mendukungnya tanpa harus tahu apa yang dia lakukan setiap hari. Kita bisa merayakan rilisan barunya tanpa menuntut update personal secara berkala.
Di sinilah tantangan terbesar buat kita yang mengenal T.O.P dari era BIGBANG. Kita sudah terbiasa dengan ekosistem yang menjadikan interaksi intens sebagai pilar utama fandom. Lihat dia di BIGBANG TV, variety show, reality show, V-Live, fan meeting, world tour.
Sekarang, ketika dia memilih jalan yang berseberangan, ada rasa kehilangan yang sangat wajar muncul. Tapi kita perlu membedakan, apakah kita kehilangan karya yang membuat kita jatuh cinta padanya sejak awal, atau kita cuma kehilangan pola interaksi yang biasa kita nikmati?
Kalau kamu masih menuntut T.O.P untuk terus hadir dengan pola yang sama seperti idol K-pop kebanyakan, kamu bakal terus-terusan merasa kecewa. PERCAYALAH! KAMU AKAN KECEWA SELAMANYA.
Perasaanmu itu tidak salah, tapi karena kamu memakai tolok ukur yang sudah tidak lagi ingin dia gunakan, itulah sebab kamu kecewa. Menghargai kebebasan artistiknya berarti siap menerima konsekuensi bahwa bentuk hubungan kita dengannya pun bakal ikut berubah.
5. Kebebasan Artistik Bukan Berarti Bebas dari Tanggung Jawab Profesional
Memahami keputusan T.O.P untuk menempuh jalan yang berbeda bukan berarti kita harus menutup mata dan menganggap semua hal sudah sempurna.
Kalau ada masalah komunikasi, informasi yang simpang siur, atau pengelolaan proyek yang mengecewakan, semua itu tetap sah untuk dibicarakan. Kita bisa menghormati privasinya sekaligus mengharapkan tim profesional yang mengelola kariernya bekerja dengan benar.
Penting untuk membedakan antara tanggung jawab manajemen dalam menyampaikan informasi publik dengan tuntutan agar sang artis selalu hadir secara personal untuk memenuhi ekspektasi penggemar.
Kita tak perlu terjebak dalam dikotomi ekstrem, yang hanya memilih satu di antara dua, mau membela secara buta atau menyerang secara brutal.
Menghormati T.O.P dan mengakui adanya kekecewaan penggemar adalah dua hal yang bisa berjalan berdampingan. Mendukung seorang seniman justru paling dewasa dilakukan dengan tetap berpikir kritis.
“I feel like I’m just a beginner right now, and I’m about to start the real thing as an artist.”
T.O.P: A Star Reborn, PRESTIGE (2022)
Aku cuma ingin melihat T.O.P punya kesempatan melahirkan karya yang benar-benar mencerminkan dirinya. Aku ingin musiknya dinilai berdasarkan apa yang dia ciptakan, bukan semata-mata dari seberapa sering mukanya muncul atau seberapa dekat dia terasa dengan penggemarnya.
Aku ingin melihat dia bebas berkembang sebagai seniman, walau itu artinya dia tak lagi sama dengan sosok yang pertama kali kukenal belasan tahun lalu. Dan aku berharap kita, sebagai penggemar, juga bisa berkembang bersamanya.
Refleksi untuk Diri Sendiri
Kurasa kalian yang membaca tulisanku ini juga setuju, bahwa salah satu bentuk dukungan paling dewasa adalah memahami bahwa kita boleh mencintai karya seseorang tanpa harus mengatur bagaimana orang itu menjalani hidup dan kariernya.
Kita boleh merindukan kehadirannya. Kita boleh berharap dapat kabar terbaru. Kita boleh kecewa kalau janji profesional tidak terpenuhi. Tetapi kita juga bisa belajar menunggu karya tanpa menuntut akses personal, menikmati musik tanpa harus merasa ‘memiliki,’ dan tetap menjadi penggemar tanpa menjadikan kehadiran fisik sebagai ukuran utama dari kepedulian seorang artis.
Kalau yang membuat kita jatuh cinta sejak awal adalah karya seorang musisi, bukankah karya itulah yang seharusnya tetap menjadi pusat dari dukungan kita?
Sebelum aku tutup tulisanku ini, aku mau bilang, pilihan ada di tangan kita masing-masing. Mau tetap memeluk ekspektasi lama dan terus-terusan merasa kecewa, atau mulai belajar menikmati karyanya dengan cara yang lebih tenang dan dewasa.
T.O.P mungkin tak lagi menjadi idol yang selalu siap menyapa di layar kaca. Tapi selama dia masih menciptakan musik dari dalam jiwanya, bagiku, itu sudah lebih dari cukup untuk tetap ada di sini, mendampingi perjalanannya sebagai seorang seniman.
Jadi, untuk teman-teman TOPSX dan siapapun kalian yang pernah atau masih mencintai karyanya, mari bertumbuh bareng. Biarkan musiknya hidup dan bermakna dalam perjalanan kita sendiri.

Leave a Comment