Review buku "Sepuluh Perempuan Bercerita" karya Annie Nugraha
Review buku "Sepuluh Perempuan Bercerita" karya Annie Nugraha

Sepuluh Perempuan Bercerita, buku solo kedua Annie Nugraha. Awalnya, dari judulnya saja pembaca sudah bisa menebak, oh, ini pasti tentang perempuan dan isu-isu yang mengikutinya. 

Tapi… setelah aku baca buku ini, isinya bukan perempuan-perempuan yang dipoles jadi tokoh sempurna atau perempuan yang hanya jadi korban.

Buku fiksi berisi kumpulan cerita pendek (cerpen) ini berkisah tentang perempuan-perempuan yang hidup dengan luka, cinta, keras kepala, salah langkah, dan keputusan-keputusan yang kadang nggak populer dalam hidup tokoh-tokoh fiksi perempuan kebanyakan.

Ada sepuluh cerita, sepuluh tokoh perempuan, dengan latar dan persoalan yang beda-beda. Semuanya punya satu benang merah yang menurut aku empowering banget, yaitu ketangguhan.

Profil Buku dan Penulis

  • Judul buku: Sepuluh Perempuan Bercerita
  • Penulis: Annie Nugraha
  • Penerbit: Annie Nugraha Mediatama
  • Ukuran buku: 13×19 cm
  • Jumlah halaman: 205 halaman
  • Cetakan: 1 (Februari 2026)
  • Nomor ISBN: 978-623-10-9974-7
  • Genre: Fiksi – Kumpulan Cerita (Kumcer)
  • Harga: Rp 100.000
Cover buku "Sepuluh Perempuan Bercerita" karya Annie Nugraha
Cover buku “Sepuluh Perempuan Bercerita” karya Annie Nugraha

Blurb

Memulung banyak ide cerita fiksi dan memungut serta merangkainya menjadi 10 cerita dengan berbagai premis dan konsentrasi, menantang saya untuk melahirkan sebuah buku yang menceritakan tentang perempuan.

Mengapa perempuan? Karena merekalah sejatinya makhluk terkuat di muka bumi.  Mereka mampu bertahan di berbagai masalah sepele maupun berat yang harus ditanggung di balik semua kekurangan dan kelebihannya.  Setiap perempuan yang ada di buku ini berjuang lewat segala kekuatan dan caranya masing-masing.

Siapa Annie Nugraha?

Annie Nugraha adalah seorang blogger, wire jewelry designer, author, dan publisher. Istri dari seorang karyawan swasta dan ibu dari 2 orang anak yang sekarang tinggal di Kabupaten Bekasi, Jawa Barat.

Dia cukup sering melakukan banyak kegiatan perjalanan untuk memotret, bercerita, menulis, dan bergerak di ranah literasi lewat rangkaian jutaan diksi bergizi dan produk photography bernas di blog pribadinya www.annienugraha.com.

Dia juga adalah pemilik jenama perhiasan Annie Nugraha Handmade Jewelry, penggagas berdirinya komunitas penulis bernama Pondok Antologi Penulis Indonesia (PAPI), dan pemilik sebuah publishing company dengan nama Annie Nugraha Mediatama. 

Annie Nugraha telah menerbitkan buku solo berjudul “Tetangga kok Gitu” dan puluhan buku antologi bersama Pondok Antologi Penulis Indonesia (PAPI) serta berbagai komunitas menulis lainnya. 

Dia dapat dihubungi via beberapa lini komunikasi seperti annie.nugraha@gmail.com atau melalui pesan tertulis di WA +62-811-108-582. Profilnya juga dapat dilihat melalui platform IG, X, FB, dan Threads dengan nama Annie Nugraha.

Review Buku “Sepuluh Perempuan Bercerita”

Aku suka buku “Sepuluh Perempuan Bercerita” ini karena dialognya hidup dan yang paling penting ceritanya terasa dekat. Kayak kisah orang-orang yang mungkin pernah kita temui. Atau bahkan… mungkin kisah kita sendiri.

Tiga Cerita Favorit

Pertama, aku mau bahas tiga dari 10 cerita favoritku di buku ini. Sebetulnya, aku pengen nulis dan spoiler semuanya, tapi kan nggak seru. Kamu harus beli bukunya dan baca sendiri. Hehehe. So, selamat membaca ya.

1. Waktu yang Tak Tergantikan

Cerita ini tentang Kanisha (Kani), perempuan sukses, karier melejit, gaji puluhan juta, tinggal di penthouse, punya reputasi bekerja di perusahaan skala global. Semua centang biru kehidupan modern sudah dia miliki. Tapi ada satu yang kosong dalam hidupnya, yaitu relasi dengan orang tuanya.

Aku rasa ini cerita yang paling “menampar” pembaca yang sibuk, termasuk aku sendiri era 2011-2020 dulu. Kani adalah gambaran generasi yang kerja tanpa henti. Datang paling pagi, pulang paling malam. Dia bangga jadi “the most hardworker person at the universe.”

Pada satu sisi, kita mungkin bertepuk tangan dengan karakter Kani yang workaholic ini. Tapi pelan-pelan, seiring lembaran demi lembaran bukunya aku baca, aku diajak melihat harga yang dia bayar untuk itu.

Orang tuanya pindah ke Malang. Ibunya stroke. Ayahnya sakit. Dan dia… nggak tahu.

Ketika Om Prayoga memberitahu kondisi orang tuanya itu bikin dadaku yang membacanya ikut sesak. Realistis banget. Berapa banyak dari kita yang sering bilang, “Nanti ya, Yah/Bu, lagi sibuk,” sampai akhirnya waktunya benar-benar habis?

Judul pertama dalam buku “Sepuluh Perempuan Bercerita” ini aku rasa pilihan sempurna menjadi pembuka cerita. Mbak Annie best banget.

Lesson learned-nya, karier bisa dikejar. Uang bisa dicari. Tapi waktu bersama orang tua? Itu nggak bisa diulang.

Cerita ini nggak menghakimi perempuan karier sama sekali. Justru menariknya, Kani bukan tokoh jahat. Dia hanya… terlalu fokus dengan hidupnya saja. Dan hidup kadang nggak memberi notifikasi sebelum semuanya berubah.

2. Rahasia si Penjual Nasi Rames

Ini cerita favoritku secara emosional. Alasannya mungkin karena background-nya adalah Bali, tempat aku membangun fondasi keluargaku selama tujuh tahun pertama kehidupan berumah tangga.

Anita, perempuan muda yang kabur dari masa lalu kelam, bekerja di Bali. Hidupnya keras. Dia tinggal di kontrakan sederhana, bertetangga dengan Mak Beng, seorang penjual nasi rames di Pantai Sanur.

Mak Beng ini tokoh yang luar biasa kuat. Bangun jam 3 pagi. Masak, jualan, hidup sederhana. Tapi diam-diam punya kekayaan yang tak terduga.

Plot twist di bagian akhir, tentang aset-aset yang ternyata dimiliki Mak Beng, itu ternyata nggak cuma harta di Sanur, Denpasar doang. Mak Beng adalah perempuan yang begitu tangguh menyembunyikan daya juangnya di balik kesederhanaan.

Yang bikin cerita ini kuat adalah kontras antara Anita dan Mak Beng. Anita adalah korban ibunya sendiri. Mak Beng adalah ibu yang berkorban untuk “anak-anaknya” tanpa banyak bicara.

Ketika akhirnya terungkap bahwa anak Mak Beng bukan anak kandungnya, saya tersadar bahwa menjadi ibu nggak melulu soal ikatan darah, tapi pilihan.

Mak Beng adalah perempuan yang mungkin nggak sekolah tinggi, tapi cerdas mengelola hidup. Cerita kedua ini menunjukkan bagaimana kasih sayang bisa mengubah arah hidup seseorang. Kalau kamu pernah merasa hidupmu berat, cerita ini seperti pelukan hangat untukmu.

3. Luka yang Tak Terlihat

Ini cerita tentang Mariska, kasir di sebuah night club, yang dihakimi lingkungan sekitar. Kalau kamu pernah lihat perempuan kerja malam lalu langsung berasumsi buruk, cerita ini akan membuatmu berpikir ulang.

Mariska kerja keras menghidupi keluarga. Dia menahan pelecehan, menghadapi bos yang abusif. Di mata tetangga, dia hanya perempuan yang merusak marwah. Ironisnya, para lelaki yang menghakiminya justru diam-diam pelanggan night club itu sendiri.

Cerita ini kuat karena jujur, realistis, tidak mengglorifikasi pekerjaan malam, tapi juga tidak mengutukinya. Mbak Annie menghadirkan dilema sosial dengan apa adanya.

Menurut aku, keputusan Mariska di akhir cerita, untuk berhenti diam dan membiarkan kebenaran terungkap, seperti menyiratkan keberanian yang lama dipendam. Luka yang paling dalam tidak selalu dari kekerasan fisik, tapi bisa juga dari stigma sekitar.

Benang Merah Cerita

Apa sih yang sebenarnya menyatukan sepuluh cerita di “Sepuluh Perempuan Bercerita” ini? Selain tokoh perempuannya, selain karena semuanya punya masalah.

Menurutku, ada tiga hal besar yang jadi pengikatnya. Ketiga hal ini terasa banget kalau kamu sudah baca kesepuluh kisahnya.

1. Perempuan Tidak Hitam-Putih

Ini yang paling terasa. Di buku ini, nggak ada satu pun tokoh perempuan yang sepenuhnya “baik banget” atau “jahat banget.” Mereka adalah manusia, bukan simbol atau label apa pun.

Kani misalnya. Dia sukses, pintar, pekerja keras, tapi dia juga abai terhadap orang tuanya. Apakah dia anak durhaka? Nggak sesederhana itu. Dia cuma terlalu tenggelam dalam karier. Dan itu real banget kan? 

Banyak orang di kota besar yang hidupnya kayak gitu. Bukan karena nggak sayang sama ayah ibunya, tapi karena merasa “nanti masih ada waktu.”

Mak Beng? Dia cuma penjual nasi rames yang hidup sederhana, rajin, lembut. Tapi di balik itu, dia ternyata sangat tegas dalam mengatur hidupnya. Dia nggak bodoh dan nggak pasrah sama sekali dengan kehidupan. Dia cuma nggak banyak bicara aja.

Banyak perempuan seperti Mak Beng di dunia nyata. Mungkin ibu kita. Mungkin tetangga kita. Mungkin perempuan yang setiap hari kita lihat di pasar.

Mereka nggak bicara tentang empowerment atau pun gender equality. Mereka nggak posting quotes-quotes motivasi di medsos. Tapi… hidup mereka adalah bukti ketahanan itu sendiri. 

Sementara itu, Mariska bertahan di dunia yang penuh stigma. Dia bukan hanya bekerja, tapi juga menanggung beban pandangan orang. Kalau kamu pernah tinggal di lingkungan yang gampang menghakimi, kamu pasti paham rasanya.

Buku “Sepuluh Perempuan Bercerita” ini menunjukkan betapa kompleksnya perempuan. Bisa keras kepala tapi juga rapuh, bisa kuat tapi juga butuh dipeluk. Perempuan juga bisa salah tapi tetap layak dimengerti.

Menurutku, ini penting banget. Karena di kehidupan nyata, kita sering banget menghakimi perempuan terlalu cepat.

Kalau perempuan terlalu galak? Dibilang nggak feminin. Terlalu sabar? Dibilang lemah. Terlalu ambisius? Dibilang lupa kodrat. Terlalu memilih keluarga? Dibilang nggak berkembang. Maunya opo toh?

Nah, dalam buku Mbak Annie ini, perempuan dibiarkan jadi manusia, nggak dipaksa menjadi sosok sempurna layaknya seorang Wonder Woman.

2. Kuat Tidak Selalu Berisik

Ini juga menarik banget. Kalau kita bicara perempuan kuat, seringnya yang kebayang adalah sosok yang vokal, berani melawan, penuh perlawanan. Tapi di buku Mbak Annie ini, kekuatan ditampilkan dalam bentuk yang lebih kalem.

Mak Beng kuat, tapi dia nggak pernah pamer penderitaan. Dia tetap bangun jam tiga pagi. Tetap masak, tetap berbagi nasi rames ke tetangga kontrakan. Bahkan ketika dimanfaatkan keluarga, dia tetap memilih ikhlas.

Mariska kuat, tapi dia sering menangis sendirian. Dia menahan stigma, pelecehan, tekanan ekonomi. Dia bukan superhero yang langsung melawan. Dia perempuan biasa yang tetap berangkat kerja meski dihina tetangga. Di situlah letak kekuatannya.

Dalam kehidupan nyata, kebanyakan perempuan memang seperti itu. Kita bangun pagi, masak, kerja, mengatur uang, mikirin anak, menahan capek tanpa punggung untuk bersandar dan tanpa tepuk tangan dari sekeliling kita. Even itu suami sendiri mungkin jarang mengapresiasi kita. Daya tahan perempuan, itulah kekuatan buku ini. 

3. Isu Sosial yang Real

Hal lain yang bikin buku “Sepuluh Perempuan Bercerita” ini terasa relevan adalah isu-isu yang diangkat. Nggak jauh dari kehidupan kita.

Pertama, work-life imbalance. Kani adalah contoh paling jelas. Sukses secara profesional, tapi kehilangan kedekatan dengan orang tua. 

Ini problem generasi sekarang banget. Kita dikejar target, dikejar pencapaian, tapi sering lupa, hidup bukan cuma soal kerja buat update CV dan LinkedIn doang.

Kedua, hubungan anak dan orang tua. Hubungan orang tua dan anak muncul pada sejumlah cerita. Ada anak yang jauh dari orang tua. Ada orang tua yang berkorban diam-diam untuk anak. Ada juga anak yang menyesal terlambat sadar.

Ini bukan tema klise. Ini real. Ingat-ingat lagi deh, berapa kali kita menunda pulang menjenguk orang tua karena alasan kerja? Berapa kali kita merasa orang tua “masih sehat kok” padahal kita jarang benar-benar tahu kondisi mereka?

Ketiga, kekerasan dalam rumah tangga. Pada salah satu cerita dengan karakter Siska, aku melihat KDRT memiliki bentuk lain selain kekerasan fisik. Ada pengabaian, manipulasi, bahkan potensi ancaman ekonomi dari pasangan. Banyak perempuan hidup dalam situasi seperti itu, tapi nggak semua terlihat dari luar.

Keempat, stigma sosial. Mariska mengalami ini. Kerja malam langsung dicap negatif. Tanpa orang tahu apa yang dia tanggung. Dan ini sangat nyata di masyarakat kita. Perempuan sering jadi sasaran gosip paling cepat.

Kelima, eksploitasi ekonomi. Mak Beng dan Mariska sama-sama menggambarkan bagaimana perempuan sering jadi tulang punggung keluarga, tapi juga jadi pihak yang paling sering dimanfaatkan.

Keenam, identitas gender. Lewat cerita dengan karakter Mina, isu ambiguous genitalia diangkat dengan cara yang ringan tapi tetap serius. Ini topik yang jarang banget dibahas secara terbuka, tapi ada di sekitar kita.

Yang aku apresiasi, semua isu ini disampaikan dengan baik oleh Mbak Annie. Nggak ada paragraf panjang berisi ceramah moral. Konflik muncul dari ceritanya sendiri, bukan dari nasihat-nasihat penulis.

Menurut aku, sebagai pembaca, aku merasa sangat dihargai di sini, sebab aku diajak buat mikir sendiri dan menarik pelajaran darinya sendiri.

Kelebihan

Secara gaya bahasa, buku “Sepuluh Perempuan Bercerita” ini punya gaya yang lugas. Dialognya banyak. Kadang aku merasa kayak lagi baca naskah film. Hehehe.

Percakapannya hidup dan natural. Penulis nggak terlalu lama bermain di deskripsi yang bertele-tele. Jadi tanpa sadar, aku sat set, bacanya cepat. Nggak bikin capek..

Memang ada beberapa bagian yang dramatis, tapi masih dalam batas wajar. Nggak sampai terasa seperti sinetron sore.

Dan yang aku suka, penulis berani memberi ending yang nggak selalu bahagia. 

Ada cerita yang endingnya pahit. Ada yang endingnya menggantung. Ya karena memang hidup nggak selalu selesai dengan bahagia.

Kekurangan

Kalau jujur secara profesional, tentu ada. Karena ini cerpen, beberapa konflik dalam buku “Sepuluh Perempuan Bercerita” terasa terlampau cepat selesai. Pembaca yang sudah terlanjur terikat emosi kadang merasa, “Kok sudah selesai aja ceritanya?”

Ada beberapa bagian yang sebenarnya bisa digali lebih dalam secara psikologis. Misalnya konflik batin yang bisa diperpanjang sedikit supaya pembaca makin masuk ke dalam kisahnya. Tapi ya… itu memang risiko cerpen. Kita dikasih potongan hidup, bukan seluruh perjalanan.

Beberapa cerita di buku Mbak Annie ini, menurut aku, setidaknya bisa punya novela atau novel sendiri. Hehehe. Kalau versi cerpen begini, keindahannya adalah kita sebagai pembaca diberi ruang untuk membayangkan kelanjutannya sendiri.

Sepuluh Perempuan Bercerita, buku solo kedua penulis Annie Nugraha
Sepuluh Perempuan Bercerita, buku solo kedua penulis Annie Nugraha

Buku Ini Cocok untuk Siapa?

Kalau kamu suka cerita realistis, buku “Sepuluh Perempuan Bercerita” ini cocok buat jadi teman ngopi atau ngeteh kamu. Kalau kamu ingin membaca kisah perempuan tanpa bumbu berlebihan, ini juga pas.

Kalau kamu ingin buku refleksi tanpa merasa dihakimi, buku ini nyaman buat kamu. Dan kalau kamu sebagai perempuan sedang lelah, merasa sendirian, atau merasa kurang dihargai, buku ini seperti teman setia yang duduk di sampingmu dan menguatkanmu.

Buku “Sepuluh Perempuan Bercerita” ini seperti ngajak aku ngobrol dengan banyak perempuan berbeda usia. Ada karakter yang bikin aku simpati, bikin aku marah ada juga. Ada juga yang bikin aku pengen meluk mereka, sambil menghibur supaya mereka lebih sayang sama diri sendiri.

Terima kasih Mbak Annie, sebab buku ini bisa bikin aku menoleh ke kehidupanku sendiri dan merasa ada banyak hal yang harus aku perbaiki sebagai perempuan.

So… buat kamu… selamat membaca. Semoga kamu menemukan potongan cerita yang paling “kamu” banget di antara “Sepuluh Perempuan Bercerita” ini.

Certified author (BNSP), eks-jurnalis ekonomi dan lingkungan. Kini menjadi full-time mom yang juga berkarya sebagai novelis, blogger, dan content writer. Founder Rimbawan Menulis (Rimbalis), komunitas yang aktif mengeksplorasi dunia literasi dan isu-isu lingkungan.

Share:

One response to “Belajar Tangguh dari Buku ‘Sepuluh Perempuan Bercerita’ oleh Annie Nugraha”

  1. Annie Nugraha Avatar

    MasyaAllah. Terima kasih tak terhingga atas ulasannya yang begitu jujur dan bernas. Banyak sekali poin-poin yang Mutia sampaikan, yang tak sempat mampir di pikiran saya saat setiap kalimat dilahirkan. Keberagaman cerita sesungguhnya juga adalah tampilan dari keberagaman masalah hidup yang dialami oleh setiap perempuan. Apa pun profesinya, setangguh apa kedewasaannya, dan seteguh apa dia berpegang pada prinsipnya. Menjadi “keranjang sampah cerita” dari banyak teman, menjadi salah satu pendorong untuk melahirkan buku solo ke-2 ini. Merekalah yang sesungguh menjadi pemantik cerita yang patut saya bawakan bunga sebagai ucapan terima kasih yang paling mendalam.

    Sekali lagi thanks a bilion ya Mutia. Semoga ulasan ini menjadi obor penyemangat bagi saya untuk melahirkan buku ke-3, ke-4, dan seterusnya. Melahirkan karya literasi yang berkah dan menjadi manfaat bagi orang banyak.

Leave a Comment