Tips menyiapkan biaya pendidikan anak kembar
Tips menyiapkan biaya pendidikan anak kembar

Aku melahirkan anak kembar pada tahun 2019. Pikiranku waktu itu mungkin belum sejauh ini, terlebih mikirin biaya pendidikan mereka. Yang ada di kepala cuma anak sehat dulu, tumbuh dulu, yang lain belakangan.

Time flies. Tahu-tahu, sekarang sudah 2026. Anak-anak itu sudah duduk di bangku kelas 1 SD. Dan di titik inilah, aku mulai benar-benar merasa bahwa menyekolahkan anak kembar itu bukan cuma soal siap mental, tapi juga siap finansial. Biaya pendidikan jadi dua kali lipat.

Bukan buat mengeluh, ya. Ini lebih ke kesadaran saja. Mau tidak mau, banyak keputusan hidup yang mulai kita ambil bukan lagi untuknanti, tapi untuk hari ini dan bertahun-tahun ke depan.

Pilihan Orang Tua tidak Pernah Sederhana

Secara hitung-hitungan, sekolah negeri jelas jauh lebih terjangkau. Biaya masuknya minim, cenderung gratis. Iuran bulanan relatif kecil. Komponen biaya juga tidak terlalu banyak.

Secara logika keuangan, ini pilihan yang rasional, apalagi untuk orang tua dengan anak kembar sepertiku. Dua anak berarti dua seragam, dua buku, dua tas, dua sepatu, dua biaya ini-itu. Sekolah negeri memang “menolong” di sisi itu.

Tapi… hidup sebagai orang tua kan nggak selalu soal angka. Ada orang tua yang memilih SD negeri karena faktor jarak, kualitas guru, dan lingkungan sosial yang beragam.

Ada juga yang memilih SD Islam Terpadu (SDIT) karena ingin kurikulum agama lebih kuat dan terintegrasi. Ada yang memilih sekolah swasta nasional karena pendekatan belajar, bahasa pengantar, atau metode yang lebih sesuai dengan karakter anak.

Semua pilihan itu valid. Tidak ada yang lebih benar, tidak ada yang lebih salah. Hanya saja, PR-nya adalah bagaimana menyiapkan biaya pendidikan anak, menyiapkan uangnya, apalagi kalau anaknya kembar?

Dua Timeline Pendidikan yang Sama

Ini hal pertama yang menurutku perlu disadari oleh orang tua anak kembar. Anak kembar bukan seperti kakak-adik beda usia, di mana pengeluaran untuk biaya pendidikan bisa “dicicil waktu.”

Anak kembar masuk sekolah bersamaan, naik kelas bersamaan, lulus bersamaan, dan kalau tidak ada perubahan besar, mereka akan masuk SMP, SMA, bahkan kuliah bersamaan.

Artinya, uang masuk sekolah dobel, uang tahunan dobel, kenaikan biaya dobel, kebutuhan tambahan dobel. Biaya pendidikan yang dobel ini bukan cuma setahun loh, tapi belasan tahun.

Makanya, menurutku, menyiapkan biaya pendidikan anak kembar itu memang perlu pendekatan yang lebih strategis, bukan sekadar, “Ya nanti juga jalan.” Kalau anaknya satu, mungkin masih bisa mengandalkan improvisasi. Tapi kalau anaknya dua, masuk sekolah di waktu yang sama, naik kelas barengan, dan lulus barengan, strategi itu jelas sebuah kebutuhan.

Yang sering terjadi, banyak orang tua terlalu fokus ke momen masuk sekolah. Padahal, masuk sekolah itu baru garis start. Perjalanan sesungguhnya justru ada setelahnya. Di situlah, kesiapan finansial akan diuji setiap tahun.

1. Sadari Kapasitas Finansial

Sebelum membahas jenis sekolah, fasilitas, kurikulum, atau gengsi sosial, ada baiknya kita coba jawab pertanyaan-pertanyaan ini:

  • Apakah penghasilan keluargaku stabil atau fluktuatif?
  • Apakah rumah tanggaku single income atau dual income?
  • Apakah saat ini ada cicilan besar seperti rumah atau kendaraan?
  • Apakah aku juga menanggung biaya orang tua atau keluarga lain?
  • Apakah ada rencana pengeluaran besar dalam 5–10 tahun ke depan, seperti renovasi rumah, pindah kota, atau biaya kesehatan?

Pertanyaan-pertanyaan ini bukan buat bikin minder. Sama sekali bukan. Tujuannya supaya keputusan yang kita ambil hari ini nggak bikin napas kita pendek besok.

Seringnya yang terjadi itu begini… orang tua sanggup membayar biaya masuk sekolah di awal. Rasanya masih aman, masih terkendali. Tapi begitu masuk tahun kedua, ketiga, keempat, baru terasa ngos-ngosan. Biaya naik, kebutuhan anak bertambah, pengeluaran lain ikut menumpuk.

Dan percaya deh, stres finansial itu jarang datang dalam bentuk ledakan besar. Dia datang pelan-pelan, mulai dari cemas tiap awal bulan, merasa bersalah setiap kali harus menolak kegiatan anak, hubungan suami-istri yang jadi gampang tegang hanya karena urusan uang.

Makanya, mengenali kapasitas finansial sejak awal itu bentuk tanggung jawab.

2. Petakan Komponen Biaya Sekolah

Bukan cuma SPP ya. Ini jebakan klasik yang hampir semua orang tua pernah alami. Kita sering merasa, “Ah, SPP-nya masih masuk akal.” Lalu merasa aman. Padahal, SPP itu cuma puncak gunung es. Yang besar justru tersembunyi di bawah permukaan.

Ini saya coba petakan kasarnya:

a. Biaya Awal Masuk

Pada tahun pertama, biasanya ada biaya-biaya yang terasa “sekali bayar” tapi nominalnya cukup besar, antara lain:

  • Uang pangkal atau uang gedung
  • Seragam awal (biasanya lebih dari satu set)
  • Buku paket atau modul
  • Tas, sepatu, alat tulis

Kalau anak satu, mungkin masih terasa bisa diakali. Kalau anak dua? Tinggal dikali dua. Dan sering kali, seragam atau buku tidak bisa diwariskan karena kebutuhan berbeda.

b. Biaya Rutin Bulanan

Ini yang kelihatannya kecil, tapi konsisten di bayar, antara lain:

  • SPP
  • Uang katering (kalau ada)
  • Transportasi (antar-jemput, bensin, atau uang jemputan)

Biaya rutin ini yang sering bikin kita lengah. Karena tiap bulan “rasanya cuma segitu” doang, tapi dikali dua anak, dan dikali 12 bulan, angkanya jadi serius.

c. Biaya Tahunan dan Insidental

Nah, ini yang sering bikin orang tua kaget karena datangnya tidak selalu bisa diprediksi:

  • Biaya kenaikan kelas
  • Buku baru setiap tahun ajaran
  • Kegiatan sekolah
  • Study tour atau field trip
  • Iuran wali murid

Masing-masing mungkin kelihatan wajar. Tapi ketika datang beruntun dalam satu tahun ajaran, dompet bisa megap-megap.

d. Biaya Tambahan di Luar Sekolah

Ini sangat bergantung pada kondisi anak dan pilihan orang tua:

  • Les tambahan
  • Ekstrakurikuler
  • Terapi (kalau anak inklusi atau punya kebutuhan khusus)
  • Kebutuhan penunjang belajar di rumah

Biaya ini sering tidak tercantum di brosur sekolah, tapi nyata adanya.

Sekarang coba bayangkan semua komponen ini berjalan dua kali lipat, dan bukan cuma satu tahun, tapi setiap tahun. Dari kelas 1 sampai kelas 6. Belum lagi lanjut ke SMP dan SMA.

Aku bukan menakut-nakuti, tapi mau berbagi pengalaman supaya kamu yang baca nggak kaget di tengah jalan. Sebab menyiapkan biaya pendidikan anak kembar harus bisa menyusun langkah dengan sadar, tenang, dan realistis.

Lebih baik memilih jalan yang mungkin terlihat biasa, tapi bisa kita jalani sampai akhir, daripada memilih jalan yang terlihat “wah” di awal, tapi membuat kita tersandung di tengah.

Anak-anak nggak akan ingat berapa mahal sekolahnya. Mereka akan ingat apakah orang tuanya hadir dengan kepala yang cukup tenang dan hati yang tidak terus-menerus cemas.

Strategi Menghadapi “Double Cost” Anak Kembar

Punya anak kembar itu sudahlah pasti dobel cinta, dobel ribet, juga dobel biaya. Jadi, mau ndak mau, strategi menghadapi “double cost” ini harus disusun dengan kepala dingin, bukan pakai emosi atau gengsi. Berikut beberapa strategi yang menurutku realistis dan bisa dipertimbangkan.

1. Pilih Sekolah yang Masuk Akal untuk Jangka Panjang

Kita kadang terlalu terpukau oleh sekolah yang kelihatannya “paling bagus” di brosur. Gedungnya mewah, kurikulumnya keren, testimoni orang tuanya glowing semua. Tapi… kalau biaya sekolah naik 10–15% per tahun, apakah masih sanggup membayar untuk dua anak?

Kalau jawabannya bikin ragu, bahkan sebelum anak masuk, itu sudah jadi alarm halus bahwa sekolah itu mungkin nggak cocok buat anak kembarmu.

Lebih baik memilih sekolah yang biayanya stabil, transparan, dan minim “biaya kejutan” daripada sekolah mahal yang tiap awal tahun ajaran bikin jantung deg-degan. 

2. Jangan Takut Kombinasi Sekolah dan Rumah

Ini penting banget, terutama untuk orang tua anak kembar. Sekolah tidak harus memenuhi semua aspek perkembangan anak. 

Kalau sekolahnya fokus akademik biasa, orang tua masih bisa menambahkan banyak hal di rumah. Misalnya, pendidikan agama lewat rutinitas harian, literasi lewat kebiasaan membaca bareng, atau bahasa asing lewat percakapan ringan dan tontonan yang tepat.

Pendekatan kombinasi seperti ini jauh lebih fleksibel, biayanya lebih terkendali, dan sering kali justru lebih personal untuk anak. Kita nggak perlu membebankan semua harapan ke sekolah.

3. Manfaatkan Diskon Sibling

Banyak sekolah swasta sebenarnya punya kebijakan diskon sibling. Hanya saja, sering kali tidak ditawarkan secara aktif. Jadi ya… orang tua memang harus bertanya.

Tanya saja dengan sopan, nggak ada ruginya. Potongan 5–10% untuk dua anak itu kelihatannya kecil, tapi kalau dihitung tahunan dan dikali beberapa tahun, dampaknya terasa banget.

4. Buat Pos Khusus Pendidikan, Jangan Dicampur

Kalau memungkinkan, pisahkan antara dana hidup sehari-hari dan dana pendidikan anak. Ini membantu kita melihat berapa sebenarnya yang kita sanggupi? Apakah biaya pendidikan sudah mulai “menggerogoti” pos kebutuhan lain? Anak kembar itu butuh disiplin ekstra dalam pencatatan keuangan supaya kita nggak kelelahan di tengah jalan.

Sekolah Negeri, SDIT, atau Swasta Nasional

Jawabannya klise, cocokkan dengan kondisi keluarga dan kebutuhan anak. Sekolah negeri unggul di biaya dan keberagaman sosial.

SDIT unggul di nilai agama, struktur, dan komunitas. Swasta nasional unggul di metode belajar, fasilitas, dan bahasa.

Nggak ada yang superior secara mutlak. Yang terpenting, jangan sampai pilihan sekolah membuat keluarga terus hidup di mode bertahan. 

Sebagai orang tua anak kembar, aku sadar kalau pendidikan itu perjalanan panjang. Kita harus konsisten, tenang, dan tetap waras sampai garis akhir.

Certified author (BNSP), eks-jurnalis ekonomi dan lingkungan. Kini menjadi full-time mom yang juga berkarya sebagai novelis, blogger, dan content writer. Founder Rimbawan Menulis (Rimbalis), komunitas yang aktif mengeksplorasi dunia literasi dan isu-isu lingkungan.

Share:

Leave a Comment