When We Were Young Drama China tentang Nostalgia SMA 90-an

When We Were Young drama China pertama yang bikin saya ngebet banget pengen nonton sampai selesai. Saking addicted-nya, ke kamar mandi pun saya bawa HP beberapa kali.

Dari sekian banyak saya nge-review dracin, ini serial pertama yang bikin hati saya begitu hangat saat menontonnya, juga begitu bersemangat saat mengulasnya.

When We Were Young drama China yang mengajak kita mengenang masa keemasan dalam hidup kita, ketika kita beranjak dewasa pada usia 18 tahun, saat duduk di bangku III SMA.

when we were young drama china

Drama ini mengajak kita kembali ke masa nostalgia SMA, di mana kita bicara tentang mimpi, tentang persahabatan, tentang kepercayaan diri, tentang keluarga, dan tentunya tentang cinta. Jalan cerita dalam drama ini terasa bagai irisan kehidupan yang terus berulang dari generasi ke generasi.

Sinopsis When We Were Young

Kita semua berjuang untuk menjadi dewasa dalam berbagai cara. Namun, saat 18 tahun, kebanyakan dari kita percaya bahwa masalah yang kita hadapi lebih sulit, lebih rumit, bahkan lebih berat dari masalah orang lain. Naif banget ya?

When We Were Young mengangkat kisah kehidupan remaja sekolah tahun 1996. Generasi yang lahir akhir 70-an atau awal 80-an pasti merasa senyawa banget dengan drama ini. Latar belakangnya Kota Foshan, Provisi Guangdong, China.

Persahabatan Geng Sepeda

When We Were Young drama China bergenre persahabatan dan cinta. Tersebutlah kisah lima remaja tingkat akhir yang tergabung dalam Geng Sepeda SMA Yu Cai. Mereka adalah Hua Biao (diperankan Neo Hu), Yang Xi (diperankan Wan Peng), Li Yu (diperankan Gala Zhang), Yang Xiao He Mei (diperankan Pan Mei Ye), dan Si Tu Er Tiao (diperankan Marcus Li).

when we were young drama china

Biar gak bingung, kita kenalan dulu sama lima anggota Geng Sepeda SMA Yu Cai yuk. Mereka semua karakter utama dalam cerita ini.

1. Hua Biao

Dia adalah murid pindahan sekaligus juara kelas dari sekolah unggulan, SMA Hui Ying. Ganteng banget, apalagi kalo senyum. Duh, es Kutub Utara aja meleleh seketika.

Kepindahan Hua Biao ke SMA Yu Cai tentu saja menimbulkan tanda tanya semua murid. Apalagi dia masuk ke kelas yang bisa dibilang paling buruk, berisi murid-murid dengan kemampuan IQ sangat rata-rata, bahkan cenderung di bawah rata-rata.

Dalam waktu singkat Hua Biao menunjukkan jati dirinya di sekolah. Dia merebut posisi juara kelas, jadi anggota utama Klub Basket Yu Cai, mencatat nilai tertinggi hampir di seluruh mata pelajaran, khususnya Kimia, Fisika, dan Matematika.

when we were young drama china
Hua Biao

Hua Biao bahkan menggantikan Yang Xi sebagai ketua kelas. Pokoknya dia murid teladan banget. Namun, siapa sangka jika Hua Biao menyimpan kisah masa lalu menyedihkan.

Dia yatim piatu. Orang tuanya meninggal saat Hua Biao masih belum berumur tiga bulan.

Ceritanya ayah Hua Biao yang tentara membawa serta istrinya, ibu Hua Biao untuk menghadiri pesta pernikahan seorang teman di Xinjiang. Pulangnya mereka membawa sebuah kalung batu giok putih dan mengukir nama Hua Biao di atasnya.

Sayang bus yang mereka tumpangi mengalami kecelakaan di tengah jalan dan menewaskan keduanya. Sejak itu Hua Biao tinggal bersama neneknya yang sudah tua dan didiagnosis alzheimer.

Kesan pertama saya melihat Hua Biao, saya pikir dia murid pintar, tapi nakal dan suka berkelahi. Rupanya saya salah. Justru Hua Biao sosok yang perhatian sama sahabat-sahabatnya, bertanggung jawab sama semua teman sekelasnya, peduli sama orang-orang sekitarnya, sayang banget sama neneknya, murah hati, dan suka menolong.

when we were young drama china
Li Yu dan Hua Biao

Satu-satunya kekurangan Hua Biao adalah suka menyimpan dan menyelesaikan masalah sendiri. Padahal orang-orang di sekeliling begitu peduli padanya. Nah, perjalanan Hua Biao sampai mau membuka diri, menerima ketulusan orang lain terhadapnya begitu saya nikmati sepanjang menonton drama 24 episode ini.

2. Yang Xi

Gadis imut, tomboy abis, jago lari sehingga Hua Biao memanggilnya Pelari Yang. Hobinya baca novel, baca komik, dan nonton film cerita silat, seperti The Legend of Condor Heroes, Legendary Swordsman, dan Demi Gods & Semi Devils.

Sebetulnya Yang Xi pintar, tapi pemalas. Dia sangat tidak percaya diri kalo urusan belajar. Dia bilang, seberapa kuat pun dia mencoba, tetap saja nilai ujiannya jelek. Inilah yang membuat Yang Xi setiap hari terus berseteru dengan ibunya.

when we were young drama china
Yang Xi

Satu-satunya yang membuat Yang Xi bisa naik kelas dari tahun ke tahun karena dia suka nyontek teman pas ujian, plus juara lari, sehingga nilai ekstrakurikulernya bisa nombokin nilai mata pelajaran yang kurang.

Yang Xi sejak kecil bersahabat dengan Li Yu, tetangganya yang tinggal di lantai atas rumahnya. Orang tua Yang Xi dan orang tua Li Yu bersahabat dan bekerja di perusahaan sama. Ayah Li Yu direktur perusahaan, sedangkan ibu Yang Xi kepala departemen keuangan.

Yang Xi gadis ceria dan enerjik. Nenek Hua Biao memanggilnya Maruko-chan, tokoh kartun anak Jepang.

when we were young drama china
Yang Xi dan nenek Hua Biao

Meski bukan murid berprestasi, Yang Xi diangkat menjadi ketua kelas karena dianggap paling bisa menertibkan teman-temannya yang bandel.

3. Li Yu

Li Yu menganggap Yang Xi adalah kekasih masa kecilnya. Mereka tumbuh bersama, sekolah di tempat sama, bahkan berada di kelas sama mulai SD sampai SMA. Kalo punya barang, apa-apa pasti beli dua, untuknya dan Yang Xi.

Seiring bertambah usia, rasa cinta Li Yu untuk Yang Xi semakin kuat. Hanya saja Li Yu gak pernah mengungkap perasaannya karena takut Yang Xi berubah.

when we were young drama china
Li Yu

Li Yu gak pernah mencoba membuka diri untuk gadis lain. Padahal teman sekelasnya yang juga penari balet Hong Kong bernama Huang Deng Deng mencintainya dengan tulus.

Murid yang jago bahasa inggris ini bercita-cita kuliah di jurusan bahasa asing dan menjadi diplomat muda. Li Yu memiliki luka masa kecil atau inner child. Sejak orang tuanya bercerai, Li Yu tinggal bersama ayahnya, sedangkan ibunya pergi bekerja ke Jepang.

Kadang Li Yu seorang yang keras kepala. Kekeuh sama pemikirannya. Kalo dia sudah memutuskan sesuatu, gak seorang pun bisa mengubahnya.

Gak kayak second lead kebanyakan, saya malah simpati abis sama Li Yu. Dia tahu Yang Xi mencintai Hua Biao, tapi dia tetap menjaga hubungan baik dengan keduanya. Gak ada tuh main curang di belakang. Sportif, gentle banget.

when we were young drama china
Li Yu dan Yang Xi bersahabat sejak kecil

Keberanian Li Yu di akhir episode patut diacungi jempol. Dia tetap mengungkapkan cintanya pada Yang Xi, tapi tujuannya bukan berharap jawaban, melainkan lebih kepada memberi keadilan untuk hatinya. Setidaknya sekali dalam hidupnya Li Yu berani mengungkapkan perasaan pada orang yang dicintainya.

4. Yang Xiao He Mei

He Mei gadis pendiam. Dia salah satu gadis tercantik di SMA Yu Cai. Wajah manis, tubuh tinggi, rambut panjang, body-nya proporsional abis. Gak heran dia menerima banyak surat cinta di sekolah.

Kisah hidup He Mei gak kalah rumit. Orang tua, khususnya ibunya menuntut He Mei bisa berprestasi secara akademik. Pulang sekolah He Mei harus belajar privat dengan guru les mata pelajaran di rumah.

Setiap mau ulangan, mau ujian, He Mei dibayang-bayangi ancaman ibunya jika mendapat nilai kurang memuaskan. Hal ini membuat He Mei stres dan gugup di sekolah.

when we were young drama china
He Mei

Geng Sepeda Yu Cai adalah tempat di mana He Mei bisa menjadi diri sendiri. Keempat sahabatnya bagai cahaya menerangi lorongnya yang gelap.

Saya senang hingga episode terakhir He Mei gak berpikiran buruk, seperti berniat melukai diri karena tekanan orang tua. Semua karena kehadiran Yang Xi, Hua Biao, Ling Yu, dan Er Tiao yang menemani hari-hari He Mei dan mau mendengarkan keluh kesah He Mei.

Saya juga bersyukur dengan kehadiran Yang Chao, abang Yang Xi yang terus menyemangati He Mei. Yang Chao pernah menjadi guru les Fisika He Mei. Dia adalah mahasiswa berprestasi di Universitas Bei Qing, bahkan mengantongi beasiswa S2 di Massachusetts Institute of Technology (MIT) Amerika Serikat.

Diam-diam He Mei menyukai Yang Chao. Mereka gak sengaja berteman chatting dengan nama samaran masing-masing. Meski secara eksplisit dua sejoli ini gak meresmikan hubungan, tapi dari bahasa tubuh sudah ketahuan kalo mereka sama-sama suka.

5. Si Tu Er Tiao

Er Tiao bisa dibilang anggota periferal Geng Sepeda Yu Cai. Sebagian penonton mungkin menganggap perannya gak begitu penting, tapi menurut saya Er Tiao bagai pelangi yang mewarnai keseluruhan cerita.

When We Were Young menceritakan sisi lain kehidupan siswa dengan pemikiran sederhana seperti Er Tiao. Walau pun dia anak orang kaya se-SMA Yu Cai, Er Tiao gak berniat kuliah, mau sekeras apapun ayah ibunya memaksa.

when we were young drama china

Dia sadar dengan kemampuan akademiknya yang kurang. Cita-citanya adalah hidup sederhana, menjadi orang menyenangkan seperti ayahnya, dan bebas melakukan apapun yang dia suka.

Bakat dagang Er Tiao luar biasa. Dia suka banget jualan. Sejak SMA dia sudah bisa mencari uang sendiri dengan menjual barang-barang yang dibutuhkan remaja siswa sepertinya, mulai dari sepatu roda, ushanka atau topi bulu Rusia yang lagi ngetren di masa itu, sampai jualan tanda tangan artis. Saya bahkan sempat mikir keahlian Er Tiao ini mirip kayak Jack Ma, Bos Alibaba waktu muda.

Tuhan menciptakan orang tua untuk menjadi panduan bagi kita. Namun, ada satu aturan tidak boleh dilanggar, yaitu jangan melalui jalan sama seperti yang dilalui orang tua kita dulu, sebab jalan itu penuh dengan semua penyesalan mereka.

Si Tu Er Tiao

Saya tersentuh dengan nasihat ayah Er Tiao ketika mendengar putra semata wayangnya gak mau melanjutkan kuliah. Dia bilang, sebagai ayah, dia gak akan pernah lagi memaksa anaknya belajar dan kuliah. Namun, Er Tiao harus berjanji, bagaimana pun caranya harus sukses di masa depan.

Saya pikir kisah Er Tiao lempeng-lempeng aja, soalnya dia kan punya semuanya. Ternyata eh ternyata, ada juga bagian yang menguras air mata.

Er Tiao selalu ada ketika temannya kesulitan. Gak peduli hujan badai, gunung es runtuh, halilintar, banjir bandang sekali pun, Er Tiao gak akan ragu keluar dan menemukan jalan membantu teman-temannya.

Jika kamu adalah teman Er Tiao, dia pasti tahu semua masalahmu. Begitu dia mengetahuinya, masalahmu bukan lagi sekadar masalahmu, tapi akan menjadi urusannya.

Li Yu

Sungguh, Er Tiao adalah sahabat yang mampu menggetarkan hati kita. Sahabat seperti Er Tiao mungkin sudah jarang kita jumpai di kehidupan sekarang.

Saya benar-benar menikmati perjalanan lima karakter utama drama ini. Persahabatan mereka adalah persahabatan yang selalu ingin saya miliki sepanjang hidup saya.

Saat berumur 18 tahun, persahabatan adalah hal terbaik yang kita miliki dalam hidup ini. Sehebat apapun masalah yang kita hadapi di rumah, persahabatan memberi kita begitu banyak kebahagiaan dan dukungan.

Kisah Kasih di Sekolah

Duh, jadi ingat lagunya Almarhum Chrisye. Eh, kalian pernah nonton serial Jepang Itazura na Kiss, atau versi drakor-nya berjudul Playfull Kiss gak? Keduanya sama-sama mengangkat kisah cinta antara si pintar dan si bodoh.

When We Were Young drama China yang punya line cerita sama antara dua tokoh utama, Hua Biao dan Yang Xi. Cerita bermula saat Yang Xi mengejar seseorang yang mencuri sepedanya. Pencuri itu masuk ke lingkungan sekolah SMA Hui Ying.

Hua Biao yang hendak mengikuti Olimpiade Kimia tengah belajar di salah satu laboratorium di gedung bertingkat itu. Perhatiannya teralihkan karena melihat Yang Xi begitu gigih menguber pencuri sepeda, hingga tanpa sadar Hua Biao membuat kesalahan.

Dia meledakkan laboratorium hingga kaca jendela gedung pecah, kemudian serpihannya jatuh dan melukai kaki kiri Yang Xi yang berada di luar gedung. Dokter meminta Yang Xi istirahat, gak boleh lari setidaknya dua pekan.

Yang Xi terpaksa absen dari kompetisi olah raga dan dikeluarkan dari regu lari SMA Yu Cai. Itu membuatnya sedih sekaligus kesal. Pasalnya dia butuh 10 poin tambahan dari lomba lari untuk nombokin nilai mata pelajaran yang anjlok.

Kebajikan, kecerdasan, kesehatan, dan kinerja adalah empat sikap yang harus dimiliki siswa-siswa SMA Yu Cai. Yang Xi bilang dia memiliki semuanya, kecuali kecerdasan. Ngakak banget pas saya dengar ini keluar dari mulut Yang Xi.

when we were young drama china

Sekarang mau gak mau Yang Xi mengandalkan diri sendiri. Dia harus giat belajar demi mendapat nilai minimal sebagai syarat kelulusan.

Secara terpisah Hua Biao dianggap melanggar peraturan SMA Hui Ying, karena masuk gedung tanpa izin ketika libur. Sanksinya dia dikeluarkan dan pindah ke SMA Yu Cai, bahkan jadi teman sekelas Yang Xi.

Awalnya Yang Xi gak tahu Hua Biao adalah orang yang membuatnya cedera. Yang Xi bahkan terpesona dan jatuh cinta pada pandangan pertama saat melihat Hua Biao.

when we were young drama china
Yang Xi

Hua Biao mengetahui kesedihan Yang Xi dan merasa bersalah. Dia bertekad menjadi kaki pengganti untuk Yang Xi selama masa penyembuhan, menggendong Yang Xi kesana kemari.

Dalam dua minggu Hua Biao berusaha agar Yang Xi bisa paham dan mendapat nilai tinggi di beberapa mata pelajaran yang dia benci, khususnya Fisika dan Matematika.

when we were young drama china

Hua Biao buatkan rumus yang gampang dihapal Yang Xi. Dia memotivasi Yang Xi belajar dengan cara menyenangkan.

Siang dan malam Hua Biao menemani Yang Xi, meski tensi darahnya terus naik dan kepalanya acap panas mengulang materi untuk Yang Xi yang otaknya bebal.

when we were young drama china

Demi menyelamatkan nilai Yang Xi dan teman-teman sekelasnya, Hua Biao memikirkan cara curang supaya semua bisa berbagi contekan. Dia pakai taktik delapan diagram standar sebagai strategi mengatur tempat duduk seisi kelas saat ujian.

Saya tahu perilaku mereka gak baik dicontoh anak-anak kita sekarang. Namun, begitulah realita kehidupan kita di SMA tahun 90-an. Baik buruknya layak untuk dikenang.

Saya percaya gak ada yang namanya orang bodoh, yang ada orang pemalas. Buktinya Yang Xi bisa mengantongi nilai 70 di ulangan Matematika. Yah, walau pun hari ini dia mengerti materi, dan dua menit kemudian udah lupa lagi. Begitulah Yang Xi.

Hua Biao gak bisa lagi menyembunyikan perasaannya pada Yang Xi. Li Yu orang pertama yang menyadari, juga orang pertama yang mendengar pengakuan Hua Biao bahwa dirinya menyukai Yang Xi.

Kejujuran Hua Biao pada Li Yu sempat memendarkan api cemburu di hati Li Yu. Namun, dua remaja laki-laki itu sama-sama bisa menahan diri demi persahabatan. Ini pula yang membuat Hua Biao gak kunjung bilang cinta ke Yang Xi hingga semua terungkap di episode ke-22, tepatnya tiga episode terakhir. Whattt?

when we were young drama china

Sebagai penonton saya tentu gak sabar pengen lihat Hua Biao dan Yang Xi jadian. Dalam hati saya sempat jengkel, ini anak berdua kapan jadiannya sih? Rasanya saya seperti kembali ikutan bernostalgia ke zaman putih abu-abu.

Hingga tanpa sadar saya terhanyut dalam cerita mereka dan ujug-ujug udah episode terakhir aja. Kisah cinta tanpa acara tembak menembak ala Hua Biao dan Yang Xi ini terlalu manis untuk dilupakan. Mereka gak pernah mengungkap cinta secara langsung, tapi bagaimana keduanya bersikap satu sama lain menunjukkannya.

Pandangan mata Yang Xi pada Hua Biao, hingga kecupan manis Hua Biao di kening Yang Xi pada episode 22 bagi saya cukup untuk melukiskan betapa mereka saling jatuh hati dan mencintai satu sama lain.

Anak 90-an mah gaya pacarannya gak sesadis anak-anak zaman sekarang. Boro-boro ciuman mulut, pegangan tangan aja udah berasa kesetrum listrik tegangan tinggi saking malunya, dan saking takutnya dilihat orang. Ya gak?

When We Were Young drama China yang menyisipkan beberapa kisah kasih di dalamnya. Cerita gak kalah menarik adalah kegigihan Huang Deng Deng mendapatkan perhatian dan cinta Li Yu.

Huang Deng Deng kesannya emang kelewat agresif terhadap Li Yu. Beberapa kali dia memakai cara licik untuk memisahkan Li Yu dengan Yang Xi.

Penonton awalnya mungkin benci dengan gadis berambut panjang penyuka warna kuning ini. Namun, lama kelamaan saya sendiri jadi suka sama Huang Deng Deng.

Huang Deng Deng jatuh cinta pada pandangan pertama saat melihat Li Yu berpidato dalam bahasa inggris di sekolah. Menurutnya Li Yu adalah laki-laki jujur.

when we were young drama china
Huang Deng Deng

Tahun 90-an pemandangan cewek nguber-nguber cowok kayak Huang Deng Deng ini terbilang langka. Zaman dulu mah cewek kalo nembak cowok kesannya murahan.

Nah, Huang Deng Deng sama sekali gak peduli sama anggapan itu. Dia berani mendekati Li Yu lebih dulu, gak pernah takut mengambil inisiatif pertama.

Setiap hari Huang Deng Deng rela naik bus dua jam untuk menjumpai Li Yu di rumah, sekadar menyapa atau mengirim makanan dan minuman, meski lima menit kemudian Li Yu langsung mengusirnya.

when we were young drama china
Huang Deng Deng

Saya salut pada ketulusan Huang Deng Deng. Dia setia meski hatinya hancur karena cintanya bertepuk sebelah tangan. Dia tetap tersenyum manis meski tahu di hati Li Yu cuma ada Yang Xi.

Meski pun proses oksidasi besi berlangsung perlahan, tapi masih ada reaksi di dalamnya. Selama aku masih berada di sekitarmu, sebagai oksigenmu, kamu akan menjadi oksida besiku. Bagaimana jika kita pemanasan? Kita dapat mencapai oksida ferroferik kita.

Ungkapan cinta ala anak IPA oleh Huang Deng Deng

Harapan itu muncul di episode 23 saat Huang Deng Deng menemani Li Yu menjenguk ayahnya yang bekerja di luar kota. Li Yu membeli dua tiket kereta ke Guangzhou. Dia meminta Yang Xi menemaninya, tapi Yang Xi diam-diam menghubungi Huang Deng Deng untuk menggantikannya menemani Li Yu.

Sepanjang perjalanan itu lah Li Yu dan Huang Deng Deng bisa bicara dari hati ke hati. Li Yu baru sadar, meski Yang Xi adalah gadis yang selalu bersamanya sejak kecil, tapi Huang Deng Deng yang paling mengerti dirinya.

Orang-orang dewasa berkata, di usia 18, kita tidak tahu apa itu cinta. Namun, karena kita menyukai seseorang atau disukai seseorang, kita jadi tahu siapa dia, siapa aku, dan siapa kita.

Huang Deng Deng

Contoh sederhana, cuma Huang Deng Deng yang tahu basket bukan lah olah raga favorit Li Yu, melainkan sepak bola. Li Yu bermain basket karena waktu kecil Yang Xi pernah bilang dia hanya akan menikah dengan pria yang jago main basket.

Bisa jadi Li Yu tidak sepenuhnya menjadi diri sendiri saat bersama Yang Xi. Sesekali dia menjadi orang lain demi menyenangkan hati Yang Xi. Jika bersama Huang Deng Deng, Li Yu gak perlu hidup dalam kepura-puraaan. Kalo marah ya marah aja, kalo benci ya benci aja.

Saat keduanya main ke pantai, Li Yu memberikan Huang Deng Deng sepasang sepatu balet warna merah yang dia beli waktu menjenguk ibunya ke Jepang.

Li Yu menyemangati Huang Deng Deng untuk meneruskan kuliah di Hong Kong Ballet Academy. Senyum cerah keduanya sudah cukup memberi signal ada harapan hubungan Li Yu dan Huang Deng Deng berlanjut di masa depan.

Kisah kasih ketiga antara He Mei dan Yang Chao. Sebagian kita mungkin pernah mengalami cerita cinta seperti ini. Saking seringnya main ke rumah Yang Xi, He Mei jadi suka sama kakak sahabatnya.

when we were young drama china
He Mei

He Mei kayaknya tipikal cewek yang disukai sama cowok-cowok lebih dewasa. Secara penampilan dia cantik dan lebih menawan dari usianya. Kalem lagi.

Pada episode terakhir, He Mei berhasil mengatasi rasa takut dan khawatir berlebihan menghadapi ujian kelulusan dan ujian tes masuk perguruan tinggi. Namun, dia tahu sampai mana kemampuan dirinya.

He Mei sadar bahwa dia tak bisa seperti ibunya yang dulu dikenal sebagai siswi cerdas, berprestasi, masuk universitas bergengsi. He Mei percaya di luar sana ada tempat untuknya yang bisa memunculkan versi terbaik dari dirinya.

Saat keluar ruang ujian, seorang pramugari menghampiri He Mei di gerbang sekolah. Pramugari itu memberikan selebaran yang kalo zaman kita itu dikenal sebagai Akademi Penerbangan, sekolahnya pilot dan pramugari. Banyak cewek lulusan SMA yang cakeup-cakeup akhirnya jadi pramugari.

Wah, dalam hati saya, He Mei cocok nih jadi pramugari. Bukan cuma karena dia tinggi dan cantik, tapi siapa tahu kalo dia jadi pramugari nanti bisa sering-sering ketemu Yang Chao yang lagi kuliah S2 di Amerika. Ya kan? Sebuah ending yang adil untuk semua.

Keluarga Harta Paling Berharga

Hari terus berganti, Geng Sepeda SMA Yu Cai semakin kompak di sekolah. Bersama mereka bahu membahu, belajar, berbagi keluh kesah, membantu teman yang sedang kesulitan, mencarikan solusi di setiap masalah, melalui pasang surut kehidupan dalam hubungan pertemanan, persahabatan, percintaan, juga keluarga.

Masing-masing anggota Geng Sepeda punya konflik keluarga sendiri-sendiri. Mulai dari Li Yu yang gak bisa menerima ayahnya punya kekasih baru. Li Yu marah mengetahui ibunya akan menikah lagi di Jepang. Harapan Li Yu adalah orang tuanya yang sudah bercerai sejak dia masih kecil bisa rujuk kembali.

Pada usia 18, kita bingung mengapa orang tua kita bertengkar satu sama lain. Mengapa mereka menyebut-nyebut perceraian, tapi sebenarnya tidak pernah melakukannya. Mengapa ibuku pergi, siapa sebenarnya yang dibutuhkan ayahku, saat ini tidak mengubah apapun.

Li Yu

When We Were Young mengajarkan kita bahwa hidup ini gak sempurna. Kita harus belajar menerima ketidakadilannya, supaya lebih bisa menghargai keindahannya.

Si Tu Er Tiao bisa jadi contoh bagi keluarga zaman sekarang. Mereka baik secara finansial, tapi tidak utuh secara keluarga.

Keluarga Si Tu Er Tiao tidak lengkap bukan karena orang tuanya bercerai, melainkan karena ayah ibunya terlalu sibuk bekerja di luar negeri demi mencari uang. Er Tiao berontak karena itu.

Pertengkaran tanpa akhir antara Yang Xi dan ibunya memberikan kita pelajaran berharga. Sekeras apapun aturan orang tua, sepedas apapun kata-kata yang keluar dari mulut mereka, yang namanya orang tua selalu berusaha memberi terbaik untuk anak-anaknya.

Di generasi kami, orang tua tidak mengatakan maaf atau cintanya pada kami. Ini adalah cinta yang dalam yang hampir tidak bisa diungkapkan, serta cinta yang tidak pernah hilang, tidak peduli bagaimana kamu memperlakukannya.

Li Yu

Saya tersentuh ketika ayah Yang Xi berkata pada Yang Chao, begitu abang Yang Xi ini diterima kuliah S2 di MIT. Sang ayah bilang, tidak peduli berapapun uang yang dibutuhkan, ayah akan mengirimmu ke Amerika Serikat.

When We Were Young mengajarkan kita bahwa harta yang paling berharga adalah keluarga. Kita bisa belajar dari hubungan Hua Biao dan neneknya.

when we were young drama china

Sang nenek yang sudah tua renta masih bersikeras berjualan pangsit setiap hari demi menyekolahkan cucunya. Nenek adalah keluarga Hua Biao satu-satunya.

Pelan tapi pasti penyakit alzheimer nenek Hua Biao semakin parah. Setelah kehilangan pendengaran, nenek Hua Biao mulai lupa dengan cucunya. Hal itu justru terjadi ketika perasaan Hua Biao kepada Yang Xi semakin kuat satu sama lain.

Hua Biao memutuskan gak lanjut kuliah demi menemani nenek sampai akhir hayatnya. Dia mengajak nenek pulang ke kampung halaman dan liburan berkeliling dunia.

Review When We Were Young

Kalo diingat-ingat, pribadi kita semua bisa jadi campuran dari lima karakter utama dalam cerita When We Were Young. Saat berumur 18 tahun, kita pernah malas belajar seperti Er Tiao atau gugup dan takut seperti He Mei.

Kadang kita bisa berubah jadi sosok pendiam, serius menyukai seseorang meski orang yang kita suka gak menyambut cinta kita seperti Li Yu dan Huang Deng Deng. Kita setia kawan seperti Hua Biao, atau bisa ujian dapat nilai bagus kalo fokus belajar seperti Yang Xi.

when we were young drama china

Banyak scene dalam drama ini mengingatkan saya pada kehidupan sekolah zaman 90-an, di antaranya:

  • Pergi sekolah naik sepeda.
  • Nyontek PR ke teman atau tukar-tukaran jawaban saat ujian.
  • Anak yang jago bahasa inggris dan sejarah biasanya kurang minat di Matematika atau Fisika, demikian pula sebaliknya. Jarang ada siswa yang bisa menguasai semua seperti Hua Biao. Kalau pun ada, dia sudah pasti jadi siswa teladan.
  • Sekolah kita dibanding-bandingkan dengan sekolah lain. Sama seperti siswa-siswa SMA Yu Cai yang stres karena terus dibandingkan dengan siswa-siswa SMA Hui Ying yang merupakan sekolah unggulan.
  • Dengerin musik dari Walkman.
  • Baca majalah remaja, ngisi kuis dan ramalan receh, seperti Hua Biao yang mengisi ramalan cinta dengan mencocokkan namanya dengan nama Yang Xi.
  • Titip salam atau bacain surat cinta lewat radio, seperti yang dilakukan Yang Xi saat mengungkapkan cinta pada Hua Biao.
  • Baca novel, komik, dan nonton film kartun Jepang di televisi.
  • Nempelin poster artis-artis favorit di pintu atau dinding kamar.
  • Pergi ke Pizza Hut atau restoran cepat saji kalo nilai ujian bagus.
  • Minum limun atau soda botol.
  • Permainan ‘Jadi Patung’ di mana kita bisa membuat teman kita membatu tak bergerak dan kita bisa melakukan apapun terhadapnya.
  • Remaja laki-laki ngumpul ngomongin peringkat cewek cantik di sekolah atau membicarakan guru-guru cantik.
  • Pinjam meminjam kaset pita dan mencatat lirik lagu di buku.
  • Naik bus rame-rame bareng teman-teman sekelas.
  • Belajar di sekolah sampai sore. Bahas soal-soal ujian dari tahun-tahun sebelumnya bersama teman sekelas.
  • Pertunjukan akhir tahun diisi penampilan kreatif seluruh kelas, digelar di dalam gedung di mana semua anak duduk tertib. Gak kayak sekarang mayoritas bertema Prom Night, mengadopsi budaya Barat.
  • Lihat orang tua bertengkar udah biasa.
  • Gunting rambut mirip artis.
  • Saling menjambak rambut, gaya berkelahi remaja cewek 90-an di sekolah.
  • Bla bla bla, banyak lagi pokoknya.
when we were young drama china

When We Were Young drama China bertema 90-an yang menurut saya tanpa cacat. Saya berharap drama ini ada sekuelnya karena masih banyak yang bikin saya penasaran.

Bagaimana nasib hubungan Hua Biao dan Yang Xi setelah keduanya berpisah?

Yang Xi kuliah di Universitas Bei Qing, sementara Hua Biao menunda kuliah demi pulang kampung, menciptakan lebih banyak kenangan bersama neneknya yang alzheimer.

Surat yang dikirim Hua Biao untuk Yang Xi juga bikin penasaran. Di sana tertulis kalimat, jika kita bertemu satu sama lain di Bei Qing setelah perkuliahan dimulai, panggil aku Jinx Biao seperti dulu.

when we were young drama china

Apakah ini berarti Tuhan memanggil nenek Hua Biao lebih cepat? Apakah ini berarti Hua Biao bisa melanjutkan kuliah di Bei Qing, seperti janjinya pada Yang Xi sebelumnya? Ditambah lagi Si Tu Er Tiao diam-diam membeli rumah Hua Biao melalui ayahnya, sehingga Hua Biao punya banyak uang yang mungkin saja bisa digunakannya untuk membayar uang kuliah. Duh, penasaran banget.

Bagaimana masa depan Li Yu?

Kita belum tahu dia lanjut kuliah di mana. Apakah dia diterima di Jurusan Bahasa Asing Universitas Bei Qing, atau lanjut tinggal bersama ibunya di Jepang?

Hubungan Li Yu dan Huang Deng Deng gimana?

Huang Deng Deng pernah bilang, Li Yu harus menonton pertunjukan baletnya di Hong Kong. Dia pernah bilang bahasa inggrisnya suatu hari akan jauh lebih baik dari Li Yu. Apakah mereka akhirnya jadian?

Li Yu dan Huang Deng Deng

Si Tu Er Tiao pindah ke Rusia, menyusul ibunya dan ikut beberapa kursus di lembaga pendidikan non-formal di sana. Bagaimana nasibnya? Apakah dia berhasil jadi pengusaha sukses?

Banyak lagi pertanyaan lain berputar di kepala saya, termasuk hubungan He Mei dan Yang Chao, serta Guru Kong dengan guru bahasa inggris SMA Hui Ying. Waaah, please, semoga ada kelanjutannya.

Selalu ada beberapa orang menyanyikan lagu yang kami nyanyikan di usia 18 berulang-ulang. Selalu ada beberapa orang yang mengulangi kisah kami di usia 18.

Mereka bilang tidak ada penyesalan di masa muda, termasuk hubungan persahabatan yang kami genggam seumur hidup. Mereka bilang yang namanya sahabat akan selalu dekat selamanya.

Masa muda kami sama seperti masa mudamu. Tidak ada penyesalan di masa muda. Setelah bertahun-tahun, semoga kami tetap bisa mengenang semuanya, saat kami masih muda.

Yang Xi

Secara keseluruhan saya masih belum puas dengan drama ini, sebab banyak pertanyaan belum terjawab. Rasanya kok 24 episode terlalu singkat, padahal durasinya udah 45 menit per episode. Saking terhipnotisnya saya dengan drama ini.

Namun, kalo saya ingat-ingat lagi, When We Were Young dibiarkan menggantung seperti ini, meski kurang memberi keadilan bagi Hua Biao dan Yang Xi, sesungguhnya semua sudah berada di tempat yang semestinya.

Mungkin inilah ending terbaik untuk kisah masa muda, masa-masa penuh perjuangan. Happy ending layak diberikan untuk mereka yang berjuang sekian lama. Setiap karakter di When We Were Young masih bertumbuh di jalannya.

Jelang paragraf terakhir tulisan ini, saya mau bilang terima kasih untuk Guru Kong yang begitu sabar menghadapi murid-muridnya. Guru Kong mengingatkan saya pada bapak ibu guru yang menjadi wali kelas saya semasa SMA dulu.

when we were young drama china
Guru Kong

Saya jadi tahu betapa sulitnya menjadi seorang guru. Betapa sabar mereka menghadapi watak murid-muridnya yang tak sedikit. Betapa tulusnya mereka mengabdi demi mengantar kami ke gerbang kesuksesan. Terima kasih, guruku.

Drama produksi 2018 ini mendapat rating 8.3/10 di IMDb. Keren banget. Susah move oooooon, perasaan sama yang saya rasakan ketika menonton Scarlet Heart Ryeo. Sekuelnya layak ditunggu.

when we were young drama china

When We Were Young mungkin tak lebih dari kisah usang bagi generasi zaman sekarang. Namun, bagi kami eks-remaja 90-an, kisah ini akan selalu abadi di hati.

Buat kalian yang suka sama akting Neo Hou, jangan lupa tonton juga perannya yang gak kalah menarik di serial Psych Hunter.

Terima kasih ya sudah membaca sampai di sini. Ceritain dong, kenangan masa SMA apa yang paling membekas di ingatanmu? Saya tunggu di kolom komentar ya.

10 thoughts

  1. Ya Tuhan, mendengarkan musik dari walkman, duh anak jaman sekarang mungkin pada ga tahu itu walkman bentuknya kaya apa, hehehe…

    Overall, banyak pelajaran baik yg bisa jadi contoh dalam drama ini. Gak kata cerita anak sekolahan jaman now yang banyak adegan gak pantas.

    Like

  2. Duh gak nahan, bayangin gantengnya Huai Biao sampai bikin es Kutub Utara meleleh seketika mbak😆
    Baca ulasan ini sukses bikin bayangan masuk kembali ke masa-masa putih abu.
    Kenangan tak terlupakan di SMA tentu saja kisah kasih di sekolah, ketika pacar yang kemudian menjadi suami sehidup semati❤️

    Like

  3. Cerita cinta jaman 90-an emang bikin kangen, keinget banget dulu tuh suka kirim2 salam lewat radio buat gebetan pas smp, trus baca2 ramalan cinta di majalah remaja cocok2in sama si doi, jadi senyum2 sendiri ingetnya

    Like

  4. Di aku, tokoh Er Tiao itu mengingatkanku sama mail di ipin upin de mba…
    Pinter cari peluang. apa yang bisa dijual, ya dijual kwkwkwkwk…
    Btw mba, warna seragam olahraga mereka bagus ya… putih marun..

    Like

  5. Kalau umuran saya masih pakai surat menyurat tuh. Hahaha… Tidak banyak komunikasi dan interaksi. Akhirnya, berpapasan dan bertemu di satu ruangan atau acara saja sudah bahagia. wkwk

    Like

  6. Baru dengar aku drama ini kak, sepertinya besok langsung search buat nonton deh. Ini pas banget ini jaman aku juga, aihhh jadi ingat walkman aku kemana ya dia waktu itu padahal gak rusak lho

    Like

  7. Selalu suka cerita drama remaja yang begini kak. Gak over dan lebay. Masih relate dengan kisah zaman SMA kita dulu.
    Nonton ini pasti berasa balik ke zaman SMA nih.. sambil inget dulu pas remaja kita ngapain aja.. hehehe..

    Like

  8. Suka banget deh ama review nya, bener² dihayati banget tiap episodenya ya,, utk dicuplik bagian² yg berkesan dan punya pesan moral, two thumbs ah buat Mutia nihh

    Like

  9. ya ampun ini nostalgia anak 90-an beneran…jadi ingat jaman (((mudaa))).
    Aku related sama ini: “Tuhan menciptakan orang tua untuk menjadi panduan bagi kita. Namun, ada satu aturan tidak boleh dilanggar, yaitu jangan melalui jalan sama seperti yang dilalui orang tua kita dulu, sebab jalan itu penuh dengan semua penyesalan mereka.” pesan si Ayah Er Tiao.
    Ini aku ulang-ulang terus kalau lagi nasihati anakku yang kelas XI SMA.
    Dulu Ibu gamau denger waktu Mbah Putri bilang begini…bilang begitu, baru sadar pas jadi Ibu huhuhu
    Dengan harapan dia ga ikuti kesalahan ibunya
    Ya ampun drama ini banyak lesson learned-nya. Mesti ditonton nih

    Like

  10. Drama anak 90 an versi jepanb itu kah? Ehhmm sejujurnya belum pernah nonton sekule drama jepang gitu, berhubung ceritanya erat kaitannya anak sekolahan jadi penasaran ekeh pengen nonton sendiri. Tayang di we tv kan? Asik nih bisa di download

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.