Tetap Harmonis Meski Tinggal Bersama Mertua

Benar kata Pak Penghulu dulu, ketika kita menikah, kita tidak hanya menikahi pasangan kita, tapi seluruh keluarganya. Hidup kita seketika berubah setelah ijab kabul disahkan. Kita tak hanya harus menyesuaikan diri dengan pasangan, tapi juga orang tuanya supaya pernikahan langgeng sampai akhir hayat.

Hubungan menantu dan mertua selalu menjadi topik hangat untuk diperbincangkan, terlebih ketika si menantu tinggal bersama mertua. Apakah kondisi ini bisa memperkuat jalinan pernikahan atau justru memperburuk keadaan?

Tinggal Bersama Mertua, Kenapa Gak?

Sejak akhir Juli 2020 saya memutuskan pindah ke Bekasi dan tinggal serumah bersama mertua beberapa tahun ke depan. Langkah ini saya dan suami ambil demi kesembuhan salah satu anak kami yang memiliki autism spectrum disorder (ASD).

Kebetulan tempat praktik dokter dan klinik terapi untuk si abang hanya berjarak sekitar 8 km dari rumah mama papa mertua. Saya dan anak-anak tinggal di Bekasi, sementara suami masih bekerja di Surabaya. So, kita ceritanya long distance marriage gitu deh.

Saya bersyukur mertua saya, khususnya mama memperlakukan saya dan cucu-cucunya dengan sangat baik. Mama gak ada bedanya dengan ibu kandung saya sendiri. Super care, terbuka, dan helper banget. Masya Allah.

Gak enaknya ada gak? Ya pasti ada dong. Mana ada manusia yang sempurna kan? Namun, kembali lagi pada cara kita menyikapinya.

Itu pendapat saya. Nah, saya pernah iseng tanya pada beberapa kawan yang pernah tinggal bersama mertua. Berikut kira-kira beberapa tanggapan mereka tentang tinggal serumah dengan mertua.

Asik asik aja kok!

Gw nikah udah dua tahun lebih dan selama itu pula gw tinggal serumah dengan mertua. Gw ngerasa asik-asik aja kok. Malahan mertua maklum kalo gw emang gak bisa masak, masih harus belajar masakin suami.

Pas anak gw lahir, mama mertua gw sayang banget sama gw. Ya, kayak ibu kandung gitu deh ngerawat menantu sama cucunya. Alhamdulillah ya, gw dapat keluarga suami yang baik hati.

Ada asiknya, ada gak-nya.

Mama mertua gw kebetulan sejak nikah sama papa mertua gw udah jadi ibu rumah tangga. Kondisinya kan beda sama gw yang tetap bekerja setelah menikah. Jadinya ya gitu deh, gw ketar-ketir kalo udah jamnya gw berangkat kerja.

Gw kan kerja berangkat pagi, pulang sekitar jam lima sore. Paling gak enak itu kalo suami gw sampai rumah duluan, sementara gw masih di jalan, entah itu karena macet atau emang gw terpaksa pulang terlambat karena ada deadline tugas. Kesannya kayak gimanaaa gitu, suami yang nungguin istri di rumah. Hehehe.

tinggal bersama mertua

Asiknya serumah dengan mertua itu salah satunya gak perlu repot manage kerjaan rumah. Apalagi mama mertua gw suka masak. Gw sih udah tawarin mama buat nge-gaji pembantu, tapi ya gitu deh sayang uangnya katanya.

Pernah juga gw dibilang boros mau angkat pembantu. Padahal kan gw cuma pengen si mama gak perlu capek kerja di rumah selama gw gak di rumah. Jadinya ya gitu deh, mau ngontrak terpisah kami gak enak. Mau selamanya tinggal bersama mertua takutnya lama-lama gw ada masalah sama mertua gw.

Bikin kangen orang tua

Aku tahu banget, sebaik-baiknya mama mertua, tetap saja dia gak bisa sayang dan memperlakukan aku seperti dia sayang dan memperlakukan anak perempuannya, yaitu adik iparku. Ini yang sering bikin aku kangen orang tua, kangen ayah ibu di rumah.

Aku gak cuma serumah sama mertua, tapi juga sama dua adik ipar. Alhasil kadang aku ngerasa jadi asing gitu tinggal di sana. Apalagi pas lihatin mereka bertiga, yaitu mama sama dua adik iparku yang perempuan lagi ngobrol bareng.

Pernah entah setan apa yang merasukiku, hehehe, aku mikir jelek kalo mereka lagi ngomongin aku. Padahal mah belum tentu ya. Ya intinya aku tetap berpikir pindah dari rumah mertua dan ngontrak bareng suami jauh lebih baik untuk kami.

Sering salah tingkah

Anak perempuan itu kalo udah nikah rasanya asing di rumah mertua, dan kayak jadi tamu di rumah sendiri. Jadinya ya kayak banyak pro kontra gitu.

Contohnya nih, pas kita pengen makan bakso lewat go-food, pengen belanja online, tapi harus mikir dua kali karena takut dicap boros sama mama mertua. Kita juga harus minta izin mertua setiap pergi ke luar rumah, dan harus bilang juga keluar berapa lama, pulang sekitar jam berapa. Gak boleh meleset tuh jamnya kalo gak mau jadi bahan omongan. Hehehe.

Tips Harmonis Tinggal Bersama Mertua

Mertua bagaimana pun orang-orang penting dalam kehidupan pasangan kita. Setelah menikah, mertua juga menjadi bagian penting dalam hidup kita.

Memang benar, tidak mudah bagi pasangan yang baru membentuk keluarga menyesuaikan diri dengan mertua. Namanya juga manusia yang dibesarkan dengan pengasuhan berbeda. Ya kan?

Menjaga keharmonisan saat kita tinggal serumah dengan mertua sangat mungkin dilakukan.

Hasilnya ya sepadan dengan usaha yang kita tempuh. Kalo kita berusaha keras beradaptasi, hasilnya akan bagus. Kalo kita ogah-ogahan dan tetap egois, ya siap-siap saja bakal perang dingin bahkan perang terbuka setiap waktu.

Nah, kali ini saya mau sharing tips menciptakan keharmonisan saat kita tinggal serumah dengan mertua.

1. Kerja sama dengan pasangan

Ini adalah aturan pertama. Kalo kita mengabaikan aturan pertama ini, mending gak usah lanjut baca aturan kedua.

Kehidupan harmonis antara menantu dan mertua pasti tercipta ketika pasangan kita mau bekerja sama. Jangan pernah menempatkan pasangan dalam situasi di mana dia harus memilih antara kita atau orang tuanya

Kalo masih nekat menyuruh pasangan memilih, artinya kita ngasih racun ke pasangan kita. Sejahanam-jahanamnya bapak atau ibu mertua kita, dia tetap orang tua dari suami atau istri kita. Mereka adalah orang-orang yang melahirkan dan membesarkan pasangan kita. Pahamilah.

2. Tentukan batasan

Ini penting banget bagi pasangan yang sudah memiliki anak dan tinggal bersama mertua. Komunikasikan batasan-batasan pengasuhan anak oleh kakek neneknya. Contoh, kakek nenek dilarang ngasih permen, cokelat, atau es krim tanpa seizin ibu.

Kita juga perlu menentukan ruang privacy yang tidak boleh diakses mertua kecuali seizin kita. Kamar tidur contohnya, atau waktu kita sedang ngobrol serius bersama pasangan.

3. Hindari komunikasi melalui pihak ketiga

Usahakan kalo ada apa-apa kita ngomong langsung ke mertua. Cobalah untuk menghindari komunikasi dengan mertua melalui pihak ketiga, misalnya meminta pasangan kita atau adik ipar kita ngomong ke mertua apabila kita merasa tersakiti atau gak nyaman sama perlakuannya.

Segan? Gak enak? Atau malah takut? Buang semua perasaan itu. Ingat loh, kita tinggal serumah dengan mertua dalam waktu lama. Mau sampai kapan titip-titipan pesan?

Jika ada sesuatu yang rasanya gak enak di hati kita, udah gak bisa bersabar lagi, bahkan mengganggu pemikiran kita, omongin secepat mungkin ke mertua. Siapa tahu yang barusan terjadi itu cuma salah paham doang. Ya kan?

4. Jadilah diri sendiri

Ingat, jangan berubah demi mertua. Don’t try to remake yourself into the person your in-laws want. Ini bukan saya yang ngomong loh, tapi Shakespeare sejak ribuan tahun lalu.

Berusaha menjadi istri yang baik itu harus, tapi tidak serta merta kita berubah seperti baru disulap oleh ibu peri. Kalo kita gak bisa masak, ya jujur saja sama ibu mertua. Gak perlu belagak kita istri yang jago masak demi menyenangkan hati mereka.

tinggal serumah dengan mertua

Kalo kita tipe istri yang gak bisa membersihkan rumah, dan secara ekonomi suami kita mampu, ya gak apa-apa kita menggaji pembantu. Gak usah belagak seolah kita istri yang cekatan melakukan pekerjaan rumah tangga di depan mertua.

5. Kasih uang ke mertua

Ini bukan nyogok loh. Harus diakui, tinggal serumah dengan mertua itu gak sepenuhnya gratis. Biaya makan sehari-hari, kita butuh colokan listrik buat hp atau anak nonton TV, air PDAM, dan sebagainya.

Mungkin saja mertua kita tidak meminta langsung, apalagi menyebut jumlah spesifik, tapi kita harus peka dengan itu semua. Perkirakan, berapa uang yang kita berikan setiap bulannya kepada mertua. Bicarakan baik-baik dengan pasangan ya.

6. Belajar bersabar dengan keadaan

Bersikap baiklah dengan mertua. Jika ada perilaku kita yang membuatnya tak berkenan hingga marah, tahan emosi untuk membalas perkataannya. Waktu pasti menyembuhkan luka kita. Percayalah.

Jangan pernah membalas perkataan mertua dengan keluhan, hinaan, apalagi yang sifatnya menyerang karakter. Gigit lidah kita sebelum tersulut emosi.

Orang tua kandung kita akan selalu mencintai dan menyayangi kita. Bagaimana pun kontrak itu tertulis antara orang tua kita dengan Allah. Namun, hal sama tidak berlaku dengan mertua kita.

Mertua bukan lah orang tua kandung kita, sehingga wajar saja jika ada aturan di rumah kita yang berbeda dengan aturan di rumahnya. Cobalah belajar melihat situasi dari sudut pandang mertua kita. Kendati pun kita tidak sependapat dengan mereka, dewasalah menyikapinya.

7. Tingkatkan selera humor

Humor penting untuk menjaga kewarasan kita ketika tinggal bersama mertua. Humor bisa mendekatkan hubungan, mencairkan suasana, dan menciptakan senyum seisi rumah.

Cobalah mengatakan hal-hal menyenangkan di rumah. Jika kita tak bisa melakukannya, minimal tersenyumlah.

tinggal serumah dengan mertua

Kita berbagi pahit manis dengan keluarga pasangan kita. Mari saling berpegangan tangan dan saling mendengarkan satu sama lain. Tinggal bersama mertua tak selalu berarti neraka. Yuk, ciptakan surga di rumah mertua kita.

bundalogy

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.