Antisipasi big sibling blues
Antisipasi big sibling blues

Maetami, putri pertama kami, resmi naik jabatan menjadi kakak di usia yang… jujur saja, masih terlalu kecil untuk mengerti apa pun. Di usia 2 tahun 7 bulan, dia harus menerima kenyataan bahwa akhir Januari 2019 ibunya pulang dari rumah sakit bukan cuma membawa satu bayi, tapi dua sekaligus. Kembar. Dan… ancaman big sibling blues pun muncul.

Enam bulan sudah berlalu sejak hari persalinan itu. Tapi jangan salah, meski waktu berjalan, rasa cemburu itu tidak langsung menguap begitu saja. Masih ada sisa-sisa iri yang kadang muncul diam-diam, kadang meledak tanpa aba-aba di hati Kakak Mae.

Dan jujur ya… aku paham.

Tak peduli seberapa besar atau kecil usia seorang anak, anak pertama pasti butuh waktu untuk menyesuaikan diri ketika dunia yang tadinya hanya milik dia, tiba-tiba harus dibagi. Bahkan sebelum adiknya lahir pun, komentar-komentar sudah berdatangan.

“Wah, nanti Mae pasti kena big-sibling blues.”
“Anak pertama biasanya cemburuan.”
“Siap-siap ya, Mbak.”

Ibuku bahkan setiap menelepon selalu mengingatkan hal yang sama, jangan pernah lepasin Mae dari pengawasan. Si nenek ini punya trauma masa lalu. Katanya, pas bayi kembar tidur, Mae bisa saja menutup wajah adiknya dengan bantal atau selimut.

Dan… ehem… ini memang pernah terjadi. Sekali dua kali.
Mae mencubit adik kembarnya? Pernah. Mae memukul diam-diam adik kembarnya? Pernah juga.

Kenapa ibuku tahu sedetail itu? Karena aku dulu, yang juga anak pertama, pernah menggigit tangan adikku yang masih bayi sampai merah dan berbekas.

Omaigat. Karma bekerja,

Cemburu Itu Normal, Tapi Cara Menanganinya yang Menentukan

Being jealous is normal for all firstborns. Ini bukan hal aneh, bukan tanda anak “nakal” atau “kurang ajar.” Hanya saja, sebagai ibu, aku pelan-pelan sadar bahwa caraku merespons kecemburuan itu akan menentukan bagaimana si kakak memandang adiknya kelak. Apakah sebagai teman? Atau sebagai saingan?

Sekarang Maetami sudah 3 tahun 2 bulan. Di usia ini, justru ada fase lucu sekaligus bikin hati campur aduk. Si kakak makin cengeng, makin nempel sama ibunya. Padahal ASI sudah lama disapih. Kadang dia masih melihat dirinya sebagai bayi.

She still sees herself as a baby sometimes. Dan aku cuma bisa ketawa kecil sambil mikir, ya Allah, sabar ya, Bun.

Syukurnya, big sibling blues Mae sudah jauh berkurang. Tapi perjalanan ke titik ini… tidak sebentar.

Awal Mula Cemburu Itu Datang

Hari kembar lahir, rumah penuh tamu. Hadiah berdatangan. Mae excited bukan main. Dengan penuh percaya diri, dia mengira semua hadiah yang dibawa tamu itu untuknya. Dia membuka satu per satu kado dengan wajah sumringah.

Sampai dia sadar… sebagian besar itu untuk adiknya. Baju bayi, set makan bayi, selimut bayi, bantal bayi.

Wajahnya langsung berubah. Dari senyum jadi bingung. Dari bingung jadi kecewa. Dari kecewa jadi murung. Di situlah big sibling blues Mae resmi dimulai.

Untungnya, suami cepat tanggap. Dia diam-diam menyiapkan kado khusus untuk Mae, yang tentunya kami beli sendiri. Begitu dibuka, matanya langsung berbinar. Lega rasanya.

Catatan kecil buat orang tua, kado untuk kakak itu bukan memanjakan, tapi validasi buat mereka.

Bulan-Bulan yang Melelahkan dan Menguras Emosi

Sebulan pertama adik kembar di rumah adalah fase terberat. Mae sering tantrum. Pernah satu malam dia demam karena menangis kejer. Dia tidak terima melihat aku tidur bersama dua adiknya, sementara dia tidur di kasur terpisah, meski dengan papanya.

Dia sering minta adiknya ditaruh di box bayi. Tanganku harus memeluk dia. Sekarang juga.

Belum sebulan operasi sesar, si kakak manja luar biasa. Minta digendong tiap mau mandi. Mulai bicara pakai bahasa bayi, padahal sebelumnya sudah lancar.

Ada fase regresi yang bikin aku bengong. Kakak Mae minta dipakaikan popok sambil tiduran seperti bayi, minta minum susu pakai dot lagi, minta pakai baju bayi yang sudah kekecilan, marah besar kalau adiknya pakai “baju bayi miliknya.”

Dalam tidurnya, Mae sering tersedu-sedu. Kadang marah sendiri dengan mata terpejam. Entah mimpi apa. Kalau adiknya menangis malam atau siang hari, Mae bisa langsung teriak, “Berisik!”

Miris, tapi aku juga lelah. Fisik dan mental. Kami sebenarnya sudah antisipasi… tapi realitanya tetap berat. 

Sejujurnya, big sibling blues ini sudah kami antisipasi sejak hamil. Mae rutin pegang perut aki, cium “adik di perut” pagi dan malam, ikut USG, dan pelan-pelan belajar tidur sama papanya (beda kasur, satu kamar)

Tapi teori tetap berbeda dengan praktik. Mengasuh tiga bayi tanpa ART, dengan tubuh belum pulih pasca operasi, nyeri punggung yang masih datang-pergi… itu bukan hal ringan. Tapi ini konsekuensi keputusanku resign dan mengasuh anak-anak sendiri.

In life, if you don’t risk anything, you risk everything. Iya kan, Rosalinda? Hehehe.

Saat Kakak Ingin Terlibat… Tapi Belum Tahu Caranya

Mae itu tipe kakak posesif. Dia ingin terlibat di semua hal. Milihin baju adik, menyelimuti adik, mencium, memeluk adik kembarnya. Dan dia marah besar kalau ada yang bercanda mau “meminjam” adiknya, bahkan kakek neneknya sendiri.

Masalahnya, dia masih batita. Bagi Mae, adik adalah teman bermain. Tapi dia belum paham batasan. Dan di sinilah aku sering salah langkah.

Pernah Mae melempar bola gabus ke arah Rashif. Aku langsung teriak. Pernah Mae main cilukba dengan selimut… menutup wajah adiknya sampai megap-megap. Aku panik dan bersuara tinggi.

Pernah Mae memeluk adiknya terlalu gemas sampai adiknya teriak. Lagi-lagi aku menegur keras. Dan Mae bingung.

Di kepalanya: “Tadi boleh, sekarang nggak boleh. Tadi ibu senyum, sekarang ibu marah.”

Ujungnya? Dia nangis. Atau malah makin agresif.

Ini tamparan buat aku bahwa tidak semua perilaku anak harus ditegur dengan suara keras. Kadang yang mereka butuhkan hanya pengalihan isu.

Kamu bisa melakukan lima hal berikut ini yang pelan-pelan membantu mengatasi big sibling blues pada anak.

1. Ajarkan sentuhan lembut

Kalau boleh jujur, ini PR paling berat. Sampai hari ini pun belum sepenuhnya kelar. Mae sering lupa. Baru beberapa detik mengelus punggung adiknya, tiba-tiba tangannya berubah jadi remasan pipi sambil teriak, “Iiii lucuuuu!” 

Ekspresinya gemas, tapi pipi adiknya langsung merah dan meringis. Aku pun harus menahan napas. Karena refleks pertama seorang ibu biasanya panik, lalu suara meninggi. Padahal, buat anak seusia Mae, dia nggak bermaksud menyakiti. Dia cuma belum paham batas kekuatan.

Jadi aku belajar mengulang… dan mengulang… dan mengulang lagi. Nggak pakai emosi, nggak pakai ceramah panjang. Cukup ngomong yang sama terus, “Pelan-pelan ya, Kak. Adik masih kecil.”

Dan satu hal penting yang sering luput. Ini juga PR buat kita sebagai orang tua. Jangan terlalu lebay menunjukkan kegemasan pada bayi di depan kakak. 

Cubitan gemas, ciuman bertubi-tubi, atau “adu pipi” versi orang dewasa itu kelihatannya lucu, tapi bagi kakak? Itu contoh. Bedanya, mereka meniru dengan tenaga kura-kura ninja. Hahaha.

2. Beri pujian sekecil apa pun

Aku baru sadar, Kakak Mae itu haus validasi. Di tengah dunia yang tiba-tiba terasa “direbut” adik, pujian kecil bisa jadi jangkar emosional.

Setiap Mae membelai kepala adiknya dengan lembut, aku langsung bereaksi. Pujian. Pelukan. Ciuman. “Ibun bangga sama kakak.”  Pujian itu kurasa nggak lebay. Itu penguatan buat dia. Pesan bahwa perilakunya benar, dihargai, dan diperhatikan.

3. Jangan pernah menyalahkan kakak karena adik

Ini bagian tersulit buatku. Dan aku masih sering kelepasan. “Tuh kan kakak berisik, adik jadi bangun.” Kalimat ini pendek, tapi dampaknya panjang buat si kakak.

Buat orang dewasa, ini cuma ekspresi lelah. Buat anak, ini pesan bahwa kehadiran dia bikin masalah buat adik-adiknya. Dan tanpa sadar, adik jadi simbol “penyebab ibu marah.”

Aku belajar mengganti kalimatnya. Lebih sering menjelaskan situasi, bukan menyalahkan si kakak. Walau kadang masih gagal juga. #akujugamanusia

4. Tambah bonus cinta non-fisik

Saat perhatian fisik ibu terbagi, cinta harus disalurkan lewat jalur lain. Kata-kata. Tatapan. Nada suara.

Aku sering bilang, “Ibun sayang kakak.” Berkali-kali. Sampai Mae bosan dengarnya. Karena di usia ini, cinta harus diulang-ulang agar terasa aman.

5. Libatkan kakak semampunya

Ini jurus pamungkas. Mae suka dilibatkan. Ngedotin adik, ambil popok, atau sekadar menemani. Bahkan kadang, dia justru menenangkan aku.

“Bun, jangan marah. Ibun sabar ya.”

Kalau dia udah bilang gitu… aku langsung meleleh. Karena ternyata, di balik kecemburuan dan tantrumnya, ada hati kecil yang ingin tetap dibutuhkan.

Sekarang Mae jarang iri. Mau berbagi mainan. Mau ganti channel TV. Mau menunggu.

Setiap anak berbeda. Ada yang big sibling blues-nya lama. Ada yang cepat reda. Mae butuh sekitar enam bulan.

Yang paling dibutuhkan kakak sebenarnya simpel. Orang tua yang tenang, hadir, dan pengertian. Menjadi kakak di usia dini adalah perubahan besar. Kita tidak bisa mempercepatnya.

Biarlah beberapa bulan rumah berisik. Biarlah emak capek. Biarlah rumah berantakan. Badai pasti berlalu, Mak. Pelan-pelan.

Certified author (BNSP), eks-jurnalis ekonomi dan lingkungan. Kini menjadi full-time mom yang juga berkarya sebagai novelis, blogger, dan content writer. Founder Rimbawan Menulis (Rimbalis), komunitas yang aktif mengeksplorasi dunia literasi dan isu-isu lingkungan.

Share:

17 responses to “Kakak Mae dan Big Sibling Blues”

  1. Selvijua Avatar

    Wah perjuangan banget ya mempunyai 2 bayi dan 1 balita, yang pertama menkadi kaka untuk 2 adik barunya, pasti belum ada rasa mengerti. Hebat menjadi mamanya yang selalu sabar menghadapi.

  2. Icha Marina Elliza Avatar

    Si sulung ku dulu saat punya adik di usia 20 bulan. Saat itu, dia sudah terbiasa dengan ayahnya. Kebetulan ia lebih cepat menyapih sendiri jadinya ketika minum susu ya sering kuanjurkan dekat ayahnya. Yes dia gak begitu kehilangan “emak” dan suka ketika kusuruh membantu ambil popok adeknya.

    Lalu punya adik kembali di usia 3 tahun 2 bulan. Saat itu, dia minta sekolah. Dan tidak ada tanda-tanda cemburu.

    Namun sekarang, di usia 8 dengan 4 adik, dia mulai terlihat tanda pra pubertas.

    Anak pra pubertas kadang sering ngeselin. Jadinya, aku berencana bikin playdate berdua dengannya.

    Sementara anak ke empat, ketika anak kelima hadir, aku selalu mendahulukan dia. Bahkan soal menyusu (kita tandem nursing).
    Namun kadang masih sering juga gigit adeknya.
    Saya pelajari ternyata dia cuma gemes. Tapi gak tau caranya..
    Akhirnya menggigit adalah ekspresi sayangnya..

  3. nurhilmiyah Avatar
    nurhilmiyah

    Wah, kakak Mae pinter ya… bisa jadi kakak yg baik buat kedua adik kembarnya. Salut deh liat Mbak Mutia bisa ngurusin 3 anak n ngeblognya kenceng pula. Bagi tipsnya Mbak gimana manajemen waktunya tuh. Sulungnya pas lahiran adek2nya itu samaan usianya ya sama bungsu kami sekarang, Ocean, 2,7 bulan, hehe. Salam dari Dede Ocean di Medan yaa

  4. Citra Avatar

    Ternyata hal-hal itu normalnya, mendadak si kakak jadi cemburu dan melakukan hal yang tak biasa seperti itu. Mungkin karena mereka masih belum tau ya…. Info menarik sekali pengalaman dalam mengasuh anak

  5. Nhasa Avatar

    Aku pengalaman nih mbak, waktu kecil cemburu sama adik. Mungkin karena selalu disalahin kalo adik terluka dsb.

  6. Susindra Avatar

    Wah, Mae cantik sedang merasa sedih, ya? Merasa ditinggalkan, ya…
    Anak cantik, semoga segera membaik ya.
    Memang butuh proses, dan kadang tak mudah. Yang penting SEMANGAT!

  7. rainsdea Avatar

    Saya juga merasakan hal itu mbak. Sampai sekarang masih “kumat” manja dan cemburu si kakak ke si adek. Tips di atas terbukti bermanfaat untuk pelan-pelan mengikis rasa cemburunya.

  8. vivi sylvia Avatar

    Semoga kakak Mae yang cantik tetap sayang sama adek-adek ya…
    Anak saya dulu jaraknya lumayan jauh, jadi gak terlalu jadi masalah soal kecemburuan ini.

  9. dapurhamsa Avatar

    Lucunyaaaa dedek kembar. Itulah sebabnya kalau ada temanku yang lahiran bukan anak pertama aku jarang bawa kado buat adeknya mbak,seringnya aku bawa kado buat kakaknya supaya kakaknya seneng. Kalau adek baby sih pastinya udah dapat banyak haha.
    Iya sih yg penting diberi pengertian aja. Dulu sblm lahir anak kedua jg kakaknta kusounding terus mbak

    -April-

  10. Ida Raihan Avatar

    Baru tau Mbak ada istilah Sibling blues. Kirain cuma baby blues aja. Ini PR besar buat aku lho, agar anak pertama kami bisa menerima kehadiran adeknya sebagai saudara yang kudu disayangi.

    Saat aku komen ini, bayi 8 bulanku lagi nangis, digigit pipinya ampek merah kebiruan pipinya sama kakaknya.

    Makasih Mbak tipznya.

  11. Nanie Avatar

    Jleb banget baca poin-poinnya, saya sering bilan duhh kakak pelan-pelan ngomongnya, jangan berisik mainnya, jangan lari-larian, adek jadi bangun deh. Hiks. Thanks for sharing ya mbak, suka sekali baca tips parenting seperti ini yang relate dengan kehidupan sendiri

  12. Yessi Avatar
    Yessi

    Ada rasa cemburu ya kak. Mungkin si sulung blm siap jd kakak karena masih ingin bermanja2 sama mamanya eh udh punya adik 2 lg

  13. […] menjalani hari-hari di mana Maetami mengalami sindrom big sibling blues. Enam bulan saya habiskan menghadapi naik turun emosi si sulung, sembari terus melatihnya agar tak […]

  14. […] Sibling rivalry atau persaingan antara saudara kandung lumrah terjadi sedari dulu kala. Kadang anak pertama merasa tidak mampu dibanding anak kedua, atau anak kedua dan ketiga merasa tidak sepintar kakaknya. Meski demikian masing-masing anak sesungguhnya memiliki keahlian berbeda. […]

Leave a Comment