Cara Menulis Artikel Blog Supaya Enak Dibaca

cara menulis artikel

Menulis artikel blog yang enak dibaca ternyata susah-susah gampang. Sewaktu masih bekerja sebagai jurnalis, saya mengenal beberapa aturan penulisan yang harus diterapkan ketika membuat berita (news article).

Begitu resign dan transisi menjadi full time bloger, saya menemukan aturan-aturan tersebut ternyata bisa juga diterapkan ketika menulis artikel di blog. Apa saja itu?

ATURAN PENULISAN ARTIKEL

Cara menulis artikel berita, artikel web atau blog pada dasarnya sama. Perbedaannya tidak banyak.

cara menulis artikel

1. Unsur 5W dan 1H

Artikel yang baik memenuhi kebutuhan pembaca, yaitu unsur 5W dan 1H (what, who, when, where, why, dan how). Tiga W pertama hukumnya wajib, sementara 2W terakhir bisa diabaikan, atau dilanjutkan pada informasi berikutnya dalam bentuk running news (pada artikel berita).

2. Struktur piramida terbalik

Berapa lama waktu yang kamu butuhkan untuk membaca satu artikel berita atau artikel blog? Berapa menit kamu betah berada di satu laman website sebelum memilih opsi keluar? Tentunya ini website artikel yaaa, bukan website online shopping. Kalau itu mah kamu pasti betah melototin sampai berjam-jam, apalagi pas ada diskon akhir tahun.  😆   😛 

Saya pribadi rata-rata meluangkan waktu membaca tiga menit per artikel, maksimal 5 menit atau lebih jika artikelnya menarik dan informatif.

Sejumlah riset menyebutkan seseorang rata-rata hanya membaca 20 persen dari teks di sebuah laman website. Lebih dari 55 persen orang membaca postingan blog hanya 15-20 detik saja.

Kamu yang suka BW alias blog walking coba jawab. Apakah kamu benar-benar membaca seluruh artikel yang kamu kunjungi, atau hanya satu dua paragraf awal saja, terus meloncati beberapa paragraf, kemudian langsung ke penutup? Apalagi jika list BW-nya sudah lebih dari 10 tulisan, dan kebanyakan sponsored post atau artikel buat lomba.  🙄  😉 

Inilah alasan mengapa struktur penulisan artikel sebaiknya menyerupai piramida terbalik. Informasi inti atau yang paling penting diletakkan di awal. Namanya lead atau teras artikel, biasanya diletakkan di paragraf pertama, kemudian berlanjut ke paragraf kedua.

piramida terbalik jurnalistik
Piramida terbalik jurnalistik (Foto: Grid Story Factory)

Semakin ke belakang, paragraf semakin memuat informasi tambahan yang sifatnya bisa diabaikan. Pada personal blog yang tulisannya lebih panjang, kamu bisa memberi heading dan subheading menarik, sehingga pembaca betah membaca artikelmu sampai habis.

Mengapa to the point? Tujuannya supaya pembaca bisa menangkap secara umum keseluruhan informasi, meski tidak membaca artikel dari awal sampai akhir.

Artikel populer bukan artikel ilmiah yang harus memuat pendahuluan dengan mukadimah panjang, tujuan, metodologi, pembahasan, kesimpulan, dan sebagainya.

3. Bahasa singkat, jelas, padat informasi

Artikel yang baik tidak bertele-tele. Judulnya singkat, berkisar 7-10 kata. Tidak panjang, apalagi mengalahkan sepanjang jalan kenangan.  😛 

Kalimatnya singkat-singkat, tidak beranak pinak seperti tidak ikut program KB. Paragrafnya pendek-pendek, tidak terlalu banyak baris, apalagi saingan sama barisan tentara yang mau berangkat ke medan perang.  😆 

Kamu boleh saja menulis artikel panjang, misalnya lebih dari 1.500 kata selama isinya padat informasi. Jadi, perkaya informasi yang disampaikan alih-alih membuat kalimat bertele-tele hanya demi memenuhi target jumlah kata.

Saya pribadi mengelompokkan artikel blog saya ke dalam dua bentuk. Pertama, tulisan artikel dengan kisaran 1.000-1.500 kata. Ini biasanya untuk meningkatkan performa blog di mesin pencarian Google, Yahoo, Bing, dll. Artikel ini juga berfungsi mengoptimasi SEO atau Search Engine Optimization.

Kedua, tulisan artikel dengan kisaran 300-500 kata. Saya biasanya membahas hal-hal ringan karena fungsi artikel ini untuk meningkatkan, atau minimal mempertahankan Domain Authority (DA) dan Page Authority (PA). Biar kesannya blog saya aktif dan update terus.

4. Kosakata dan kalimat sederhana

Redaktur dulu meminta saya berasumsi semua pembaca masih awam dengan berita saya. Ini membuat jurnalis dituntut pintar memilih kosakata, kalimat, diksi, dan istilah yang mudah dimengerti pembaca.

Saya seminim mungkin menggunakan istilah dalam bahasa Inggris. Selama ada padanan katanya dalam bahasa Indonesia, prioritaskan.

Lebih dari empat tahun bergulat dengan desk ekonomi makro dan mikro, saya banyak belajar mencari padanan istilah-istilah ekonomi dalam bahasa Indonesia.

Misalnya, alih-alih menuliskan cash flow untuk berita-berita investasi, saya menulis arus kas. Alih-alih menulis Non Performing Loan (NPL) untuk laporan keuangan bank, saya menulis kredit bermasalah.

Alih-alih menulis Gross Domestic Product (GDP) untuk indikator kesehatan ekonomi negara, saya menggunakan Produk Domestik Bruto (PDB).

5. Hati-hati beropini

Jurnalis dilarang beropini. Aturan baku ini harus dipatuhi. Walau pun jurnalis secara personal mendukung salah satu sisi atau pendapat, mereka tetap tidak boleh beropini.

Supaya elegan, jurnalis biasanya akan mencari narasumber yang kompeten dan diperkirakan mendukung atau sependapat dengannya.

Konsep ini tentu jauh berbeda dengan artikel web atau blog. Bloger lebih bebas beropini dibanding jurnalis karena tidak terikat kode etik jurnalistik.

Namun, sebagai bloger yang baik, kamu bisa beropini setelah memaparkan satu atau beberapa fakta, apakah itu hasil riset, penelitian, atau survei. Sumbernya juga kompeten dan bisa dipertanggungjawabkan.

Kamu bisa mengeksplorasi berbagai pendapat sekunder yang bertebaran di dunia maya untuk mendukung opinimu. Tapi ingat, pilih sumber informasi jelas, misalnya kutipan ahli dari media arus utama, jurnal penelitian, atau survei resmi lembaga tersertifikasi.

6. Dilarang plagiat

Plagiat haram hukumnya dalam penulisan artikel berita dan artikel web atau blog, kecuali bersifat advetorial. Jika menerima siaran pers, jurnalis tetap harus menulis ulang (rewrite) dengan gaya bahasa sendiri.

Republika, media tempat saya bekerja dulu sangat konsen dengan plagiarisme. Jika wartawannya ketahuan curang, misalnya copy paste berita media lain, tanpa cek ricek ke lapangan, hukuman berat menanti. Sanksinya mulai dari teguran lisan, surat peringatan, hingga dikeluarkan dari perusahaan.

Jika kamu menulis artikel blog dan ketahuan plagiat di web checker, tidak lulus copyscape, performa blogmu akan turun. Jadi, hati-hati dalam menulis artikel, apalagi yang sifatnya rewrite.

7. Perhatikan PUEBI

Penulisan artikel berita di media arus utama mengacu pada Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia (PUEBI) atau dahulu dikenal dengan istilah Ejaan yang Disempurnakan (EYD).

Artikel blog akan lebih bagus jika melakukan hal sama, berpedoman pada PUEBI, meski kamu bebas menggunakan gaya bahasa sendiri.

Bukankah bloger adalah seorang influencer? Bukankah salah satu tugas influencer adalah mengedukasi pengikut atau followers-nya?

Aturan PUEBI baru bisa sedikit dilonggarkan dalam penulisan feature atau soft news. Nah, gaya penulisan feature ini hampir mirip dengan tulisan artikel populer di blog.

FEATURE NEWS X ARTIKEL POPULER

Saat masih bekerja di Republika, minimal sekali sepekan saya menulis feature news. Jika selama ini tak banyak pembaca melirik halaman ekonomi, maka sebagai jurnalis ekonomi saya harus bisa membalikkan keadaan dengan teknik penulisan feature.

Feature bisa diolah dari berita-berita lama, kemudian ditulis ulang dengan cara kreatif, sehingga pembaca senang membacanya. Feature semakin menarik jika sifatnya human interest, dikaitkan dengan aspek-aspek kehidupan.

Lewat feature, berita inflasi yang berat menjadi lebih ringan setelah ditulis dari kacamata seorang petani cabai atau ibu rumah tangga yang berbelanja mingguan ke pasar.

Lewat feature, berita dampak kenaikan suku bunga bank menjadi human interest setelah disajikan dari kacamata nasabah berprofesi sebagai nelayan yang setiap bulannya harus mencicil utang ke bank untuk pembelian kapal tangkap ikan.

Feature memungkinkan jurnalis menyisipkan subyektivitas sebagai penulis. Meski demikian, feature tetap harus orisinil, deskriptif, informatif, sekaligus menghibur. Keseluruhan aspek ini ditempatkan sesuai porsinya agar proporsional.

Keahlian menulis feature memungkinkan saya lebih mudah menulis artikel-artikel yang sifatnya populer di blog. Artikel seperti ini sangat diminati pembaca.

TEKNIK MENULIS ARTIKEL POPULER

Menulis artikel populer itu susah-susah gampang. Mengapa susah? Jawabannya karena harus banyak latihan.

Pertama kali menulis feature, saya masih berstatus jurnalis kabar kota di Tangerang Selatan, sekitar 2011. Suatu hari saya menghabiskan waktu menulis (kebanyakan bengong) di Situ Gintung.

Redaktur meminta saya menulis feature tentang kenangan kelam warga sekitar akan peristiwa jebolnya Tanggul Situ Gintung. Musibah yang terjadi pada 2009 itu melenyapkan nyawa ratusan jiwa. Pada hari saat saya di sana, bendungan itu baru selesai direnovasi dan diresmikan Menteri Pekerjaan Umum.

Bayangkan, sejak jam 9 pagi berada di Situ Gintung, saya baru bisa mengirimkan artikel feature pukul 4 sore, sudah lewat deadline.

Saya juga pernah ditugaskan menulis kisah hidup pemulung pancing di bawah jembatan Kali Sentiong, Jakarta. Saya menghabiskan waktu tiga hari untuk mengumpulkan informasi dan menulis feature-nya.

artikel seo

Gimana sih cara menulis artikel populer untuk blog? Berikut sedikit tips dari saya.

1. Tentukan topik dan target pembaca

Setiap hari pasti ada saja hal menarik terjadi di sekitar kita. Bahan dan topik tulisan itu tak ubahnya seperti bintang bertaburan di angkasa, banyak bangetttt. Kamu tinggal tunjuk satu bintang dan kemas dalam bingkaimu semenarik mungkin.

Sumber inspirasi itu banyak, mulai dari cuitan seorang teman di Twitter, status Facebook si mantan, atau postingan foto Instagram. Kamu juga bisa riset kecil-kecilan di Google Trends atau Google Suggest.

Baca Juga: Riset Keyword dan Outline Artikel SEO

Langkah kedua tentukan target pembaca. Kamu mau nulis untuk siapa sih? Blog saya secara umum fokus di niche parenting, kesehatan keluarga, dan family travel.

Kadang saya membidik pembaca perempuan yang akan menjadi ibu. Kadang saya menargetkan pasangan suami istri. Sesekali saya membidik pembaca laki-laki (dalam hal ini suami atau calon suami).

Jika kamu sudah menentukan target pembaca, kamu akan lebih fokus menulis, misalnya mengambil sudut pandang mereka.

2. Perbanyak kalimat aktif

Dahulukan kalimat aktif dalam menulis artikel. Ini karena kalimat aktif lebih komunikatif dan seolah mengajak pembaca masuk ke dalam tulisan artikelmu.

  • Pasien lumpuh itu diperiksa dokter (Kalimat Pasif)
  • Dokter memeriksa pasien lumpuh itu (Kalimat Aktif)

3. Buat kalimat singkat

Tulis kalimat-kalimat singkat dalam artikel blog. Perhatikan tanda baca. Beri pembaca waktu untuk bernapas saat membaca artikelmu.

Kaidah keterbacaan (readability) pada WordPress misalnya, sebuah kalimat sebaiknya maksimal terdiri dari 20 kata. Jika lebih dari itu, usahakan tidak sampai seperempat tubuh tulisan. Perhatikan contoh berikut:

(Kalimat 1)

Telinga yang terus-menerus terpapar bunyi bising meningkatkan respons stres di otak manusia dan pada akhirnya memicu peradangan pembuluh darah sehingga menyebabkan masalah kesehatan serius, termasuk serangan jantung atau strok.

(Kalimat 2)

Bunyi bising di telinga dapat meningkatkan respons stress pada otak manusia. Hal ini pada akhirnya memicu peradangan pembuluh darah dan menyebabkan masalah kesehatan serius, termasuk serangan jantung atau strok.

Enakan mana? Kalimat 1 atau 2? Pembaca yang ada riwayat asma mungkin tidak nyaman jika disuruh membaca kalimat 1. Mereka lebih aman membaca kalimat 2.  😳 

4. Paragraf pendek

Jika kamu menulis artikel blog di laptop atau komputer, usahakan satu paragraf terdiri dari 2-4 baris tulisan. Jika lebih dari itu, saat pembaca membaca artikelmu di ponsel, artikelmu terlihat sangat panjang dan membosankan. Bisa-bisa pembaca langsung kabur mencari bacaan lain.

Mengapa orang-orang bisa melahap novel ratusan halaman sekaligus?

Coba lihat susunan paragraf pada novel. Pendek-pendek, bukan? Ini salah satu alasan kamu betah berlama-lama membaca novel kesayanganmu. Pemilihan font dan ukuran huruf juga diperhatikan. Jangan terlalu kecil, jangan pula terlalu besar.

Yoast SEO menyarankan satu paragraf pada meta deskripsi sebaiknya terdiri dari 150 karakter, maksimal 160 karakter.

Artikel blog jelas berbeda dengan artikel berita. Saat menulis berita, satu paragraf minimal harus terdiri dari dua kalimat. Saat menulis blog, kamu boleh membuat satu paragraf terdiri dari satu kalimat saja. Ini karena blog mendahulukan tingkat readibility sebuah tulisan.

5. Judul singkat dan lugas

Saya lebih senang memberi judul singkat, mengurangi imbuhan, dan meminimalkan kata sambung. Perlakuan ini hanya pada judul ya, bukan pada tubuh tulisan.

Perhatikan contoh berikut:

  • Bunyi Bising Picu Serangan Jantung (Judul 1)
  • Bunyi Bising Memicu Serangan Jantung (Judul 2)
  • Perpustakaan Rumah Lahirkan Generasi Sadar Baca (Judul 1)
  • Perpustakaan Rumah Melahirkan Generasi Sadar Baca (Judul 2)
  • PAUD Tumbuhkan Generasi Emas di Era Digital (Judul 1)
  • PAUD Menumbuhkan Generasi Emas di Era Digital (Judul 2)

Dari keseluruhan judul di atas, manakah yang lebih singkat dan lugas? Tentu saja judul 1.

Jika kamu memilih judul 2, tidak apa-apa, karena tidak ada yang salah dalam struktur kalimatnya. Hanya saja, judul 1 lebih menarik dan singkat.

Pada tubuh artikel, imbuhan (awalan dan atau akhiran) tidak boleh sering diabaikan. Kamu tak pernah tahu audiens atau pengunjung blog-mu dari negara mana saja.

Bisa saja ada pembaca luar yang tertarik tulisanmu dan menggunakan tools penerjemah sederhana. Artikelmu akan aneh dibaca,  bahkan menimbulkan salah tafsir karena ketiadaan imbuhan.

Saat menulis artikel blog, kamu bisa meminimalkan kata sambung. Mungkin kamu tidak sadar bahwa kata sambung, seperti yang, untuk, oleh, adalah, yaitu, bahwa sebetulnya bisa diabaikan dalam banyak kalimat. Mau tahu contohnya?

  • Generasi milenial adalah motor penggerak ekonomi kreatif saat ini. (Kalimat 1)
  • Generasi milenial motor penggerak ekonomi kreatif saat ini. (Kalimat 2)
  • Tugas yang diberikan oleh ibu guru ternyata sangat sulit. (Kalimat 1)
  • Tugas yang diberikan ibu guru ternyata sangat sulit. (Kalimat 2)

Bagaimana? Lebih sederhana kalimat 1 atau 2? Kamu pasti tahu jawabannya.

6. Sisipkan foto dan infografis

Sesungguhnya manusia fitrahnya suka akan keindahan, suka dengan sesuatu bersifat visual. Alangkah bagusnya kamu menyisipkan beberapa foto ke dalam artikel blogmu, jika perlu ditambah infografis. Teknik ini juga membuat pembaca betah berlama-lama di website kita.

7. Terapkan kaidah SEO

Poin 1-6 sebetulnya bagian dari kaidah menulis berstandar SEO. SEO ini kalau kita makan tak ubahnya seperti sambal. Orang-orang, apalagi orang Padang tidak akan afdol makan tanpa sambal  😆  😀 

Semua bloger pasti ingin tulisannya bisa diindeks oleh Google dan laman pencarian lain. Artikel bisa muncul di halaman satu alias pejwan pastinya sebuah kebanggaan.

artikel seoSalah satu artikel blog saya yang muncul di halaman satu Google. Artikel ini juga terpilih sebagai Best SEO dalam Ayoomall Blog Competition 2019.

artikel seo

Kamu tidak harus menjadi master SEO untuk memahami SEO. Sebab, secara tidak sadar kamu sudah menerapkannya dalam penulisan di blog.

Baca Juga: Konsep Dasar Artikel SEO

Jika kamu belum bisa mengikuti kaidah SEO 100 persen, ya minimal 30 persen atau 50 persennya bisa. Misalnya nih, disiplin membuat heading, subheading, beberapa kata kunci, beberapa tagar, menyisipkan internal link, edit permalink, minimal tidak mengosongkan excerpt atau deskripsi pada SEO tools.

Semoga sedikit ulasan dari saya ini bisa bermanfaat bagi yang membutuhkan. Ilmu setinggi apa pun tidak akan berguna jika kamu tidak mempraktikkannya. Yuk, upgrade terus skil menulismu. Happy writing ya temans  🙂 

Advertisements

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.