Kalau ada yang nanya, “Gimana rasanya punya bayi kembar?” Jawabannya bisa panjang, bisa pendek, tergantung hari. Tapi kalau ditanya bagian paling seru, aku akan jawab begini, “Piring MPASI selalu bersih. Tanpa sisa. Tanpa kompromi.”
Tiga bulan sudah Twins Mainaka, si abang Rashif dan si adik Rangin, memasuki dunia MPASI, dan alhamdulillah… dua bocil ini makannya kayak mesin. Belum ada tuh istilah “nggak enak,” “nggak mau,” “eneg,” “bosan” atau drama mangap ditutup rapat seperti lem tembak. Tidak ada. Dan bagian yang bikin aku ngakak tiap hari adalah ini.
Kalau salah satu makanan masih nyisa dikit, yang satunya lagi otomatis jadi “si pembersih.” Kompak banget, kayak kerja shift. Kalau abang lelah, adik ambil alih. Kalau adik semangat makan, abang ikutan ngikut. Kembar memang punya dunia sendiri, bahasa sendiri, dan… ritme makan sendiri.
Nah, kali ini aku mau cerita tentang perjalanan MPASI mereka selama tiga bulan pertama, usia 6–8 bulan. Sekalian nostalgia juga, soalnya dulu Kakak Maetami punya cerita MPASI yang nggak kalah lucu.

Langsung 4 Bintang, Tak Ada Menu Tunggal
Dulu waktu Kakak Mae mulai MPASI, aku masih kaku banget. Serba takut. Serba ragu. Serba mikir, “Boleh nggak ya? Aman nggak ya? Ini gimana ya?”
Sekarang? Udah punya tiga anak, otomatis jam terbang meningkat, mental lebih steady, dan akhirnya metode MPASI kembar pun sedikit kubedakan dari kakaknya dulu. Tidak ada menu tunggal. Langsung menu 4 bintang.
Lengkap, ada karbohidratnya, protein hewaninya, protein nabatinya, sayurnya. Lemaknya? Ya jelas wajib. Kalau MPASI itu ibarat rumah, lemak adalah atapnya. Fungsinya nutupin semuanya supaya gizinya nggak “bocor.”
Jenis-jenis lemak yang aku kasih pun variatif. Bergantian supaya anak kenal banyak rasa, mulai dari EVOO (kembar pakai Yummy Bites), EVCO, unsalted butter, minyak sawit, santan, keju, dan kadang sedikit cream cheese. Kalau kata orang, bayi itu harus belajar makan. Tapi kembar ini kayaknya bukan belajar makan, tapi belajar menikmati hidup.




Buah Jadi 90% Snack Kembar Selama Tiga Bulan
Bunda-bunda yang follow aku di Instagram pasti sudah hafal ya, tagar #mpasimainaka #mpasimaetami. Di sana bank ide MPASI kecil-kecilan hasil eksperimen dapurku tiap hari.
Snack siang mereka 90% adalah buah. Mulai dari pear kukus, pisang cavendish, pepaya, alpukat, plum, dan… tentu saja, mangga kesayangan mereka.
Kembar itu penggemar mangga garis keras. Sampai aku mikir, “Kayaknya mereka cinta mangga dari kandungan.” Karena waktu hamil mereka, aku memang tiap hari makan mangga. Bukan craving lagi. Itu level kebutuhan emosional. Dan benar saja, sekarang kalau lihat mangga, mata mereka langsung berbinar macam lihat idola K-Pop.


Stok Kaldu, Kunci MPASI Anti Drama
Selain menu 4 bintang, ada satu rahasia dapur yang nggak boleh dilewatkan, yaitu kaldu ayam sayur. Ini penyelamat hidup. Rasanya gurih alami, aromanya bikin selera makan naik, dan mudah banget bikinnya.
Bahan-bahannya simpel, seperti wortel, buncis, tomat, seledri, daun bawang, bawang merah, bawang putih, sedikit daging ayam. Kaldu ini bisa disimpan di freezer untuk seminggu. Tinggal panaskan, campur bahan lain, selesai. Ibun pun bahagia.
Protein hewanyinya juga aku buat selalu ada stok, mulai dari udang segar, ikan, daging ayam, daging sapi cincang. Pokoknya freezer seperti mini-supermarket khusus MPASI.


Masuk 8 Bulan, Saatnya Finger Food… Meski Belum Ada Gigi
Ini bagian yang bikin banyak orang komentar. “Hah? Kok berani kasih finger food? Kan belum punya gigi?” Tenang, Bun. Gigi itu bonus. Gum strength alias kekuatan gusi juga penting. Kakak Maetami dulu usia 5,5 bulan sudah punya dua gigi seri. Kembar? Usia 8 bulan gigi masih malu-malu nongol.
Aku sih santai. Yang penting mereka makan lahap. Yang penting mereka ceria. Yang penting mereka sehat.
Finger food pertama mereka biasanya steam veggies, soft fruit, omelet lembut, bubur padat yang bisa dipegang. Dan ternyata mereka senang banget. Kadang finger food itu kayak mainan baru, tapi bisa dimakan. Kombo terbaik buat bayi.

Drama Batuk Pilek yang Mewarnai
Nah, ini sisi MPASI yang jarang ditampilkan di Instagram, yaitu bagian dramanya. Karena kembar nggak full ASI, otomatis daya tahan tubuhnya agak lebih rapuh. Hasilnya? Setiap bulan pasti ada episode batuk pilek.
Bukan sekali, kadang dua kali. Biayanya gimana? Kalau dihitung kasar, periksa dokter + obat = Rp 400 ribu sekali datang. Kalikan dua anak. Kalikan satu atau dua kali sebulan. Udah berapa, Bun? Tolong jangan dihitung sekarang. Itu bisa memancing stres.
Untung ada asuransi kantor papanya. Tapi tetap saja, yang bikin sedih itu bukan uangnya… tapi tubuh kecil mereka harus dicekokin obat kimia setiap bulan. Rasanya kayak gerimis yang turun tiap pagi. Tidak besar, tapi bikin hati basah.
Clover Honey untuk si Kembar
Sampai suatu titik aku berpikir, “Harus ada cara lain untuk bantu sistem imun mereka.” Aku pun berkonsultasi, riset, dan tentu saja… galau setengah mati. Karena memberikan madu pada bayi di bawah setahun itu sebenarnya tidak direkomendasikan. Ada risiko botulisme.
Tapi ada pengecualian, yaitu madu murni tertentu yang terbukti aman dan steril secara alami. Salah satunya adalah Clover Honey by HDI, madu impor dari New Zealand yang sudah melalui penyaringan super ketat.
Aku punya sahabat kampus yang melakukan hal serupa. Anak dia batuk pilek parah, lalu setelah rutin madu, kondisi jauh membaik. Dari situ aku makin yakin untuk mencoba.
Akhirnya aku mulai memberikan ½ sendok teh Clover Honey per hari, dicampur ke snack MPASI sejak usia 6,5 bulan. Dan ya… hasilnya cukup terasa. Frekuensi batuk pilek berkurang. Anak terasa lebih segar.
Oh ya, catatan penting, jangan pakai sendok logam untuk mengambil madu. Gunakan sendok plastik, sendok kayu, atau sendok keramik. Alasannya karena logam bisa memicu reaksi oksidasi pada madu.
Ikan Perdana: Ruam Merah Seisi Muka Abang
Kisah alergi ikan ini lucu-gemas-campur-panik. Saat pertama kali aku kasih ikan basah, Rashif langsung muncul bentol-bentol di pipi dan leher. Tapi hanya beberapa saat. Setelah diobati dan diamati, ternyata itu reaksi pertama saja. Sekarang? Lahap makan ikan macam tidak pernah punya sejarah ruam.
Telur pun begitu. Banyak ibu salah sangka bahwa sumber alergi itu kuning telur. Padahal… putih telur lah yang lebih memicu alergi. Jadi introduction pertama kembar hanya kuning telur saja. Pelan-pelan. Sabar. Tidak perlu terburu-buru.


Usia 9 Bulan Masih Puree dan Tidak Mengapa
Kalau bicara tekstur makanan, Maetami dulu usia 9 bulan sudah makan nasi lembek. Kembar? Masih puree. Masih semi-liquid. Masih tim saring. Apakah aku panik? Tidak.
Setiap anak punya timeline sendiri. Setiap anak punya kesiapan sendiri. Setiap anak punya milestone yang tidak bisa disamaratakan. Yang penting mereka makan dengan gembira. Karena bagi bayi, makanan itu bukan cuma nutrisi, tapi pengalaman hidup pertama mereka.
Tiga bulan MPASI kembar mengajarkan aku bahwa anak-anak tidak butuh ibu yang sempurna. Mereka butuh ibu yang hadir.
MPASI bukan perlombaan siapa yang paling cepat naik tekstur, siapa yang paling cepat punya gigi, siapa yang paling rapi makannya.
MPASI adalah perjalanan bersama antara ibu dan anak yang penuh tawa, belepotan, aroma kaldu, piring licin, dan rasa syukur. Makan adalah salah satu bentuk kebahagiaan paling sederhana yang Tuhan titipkan pada bayi. Dan tugasku hanyalah mendampingi mereka dengan sepenuh hati.
Kalau kamu sedang mulai perjalanan MPASI, atau berada di tengah-tengah kekacauan puree, finger food, ruam alergi, drama pilek, dan tumpahan bubur, percaya deh, kamu nggak sendirian. Semoga cerita kembar ini bisa menguatkanmu, menghiburmu, atau minimal membuatmu tersenyum hari ini.

Leave a Comment